Mati Ketawa Gaya Korea (8)
Kata sholeh secara etimologis artinya bagus atau baik. Tentu, sesuatu itu dikatakan bagus atau baik karena memenuhi kriteria nilai tertentu dimana nilai mutlak yang dapat dijadikan rujukan kebenarannya adalah kitab suci agama. Kitab suci menjelaskan melalui ayat-ayatnya beberapa tanda atau ciri-ciri kesholehan seseorang, namun dari sekian banyak ciri-ciri kesholehan itu, secara singkat dapat dikerucutkan pada nilai “kebaikan dengan kedalaman makna dan pengamalan Ilmu".
Kesholehan seseorang biasanya akan nampak ketika dia berada dalam kondisi ketidak pastian, situasi yang sulit ataupun saat menghadapi cobaan dan masalah hidup yang mendera nya. Situasi seperti inilah yang sering membedakan mana yang sholeh dan mana yang bukan. Memang, sampai kiamat tidak akan ada alat ukur “kesholehan meter” di dunia, karena nilai mutlak kesholehan seseorang hanya ada di genggaman Yang Maha Memberi Hidup, namun manusia diberi kemampuan untuk sekedar meraba kesholehan seseorang serta merasakan kemanfaatnya.
Dalam menakar kebutuhan hidup, orang yang sholeh juga
seperti manusia pada umumnya. Dia punya cita-cita, harapan dan keinginan-keinginan untuk mensejahterakan diri dan keluarga, membahagiakan anak dan
istri, memuliakan orang tua, dan masih ada 1001 harapan dan keinginan yang
baik, karena memang itulah salah satu makna kesholehan dalam konteks keluarga.
Bukan orang sholeh yang tidak berusaha mensejahterakan keluarga, bukan orang
sholeh yang tidak memuliakan orang tua, dan sebaginya dan sebagainya.
Apa yang dilakukan oleh engineer PTDI meninggalkan keluarga
pergi jauh ke Korea ini juga bagian dari kesholehan itu sendiri. Kesabaran dan
kesetiaan mengikuti proses yang ikut menyita energi akhirnya berbuah pada
waktunya. Semua pihak paham bahwa proses negosiasi antara Indonesia dan Korea
untuk program KF-X/IF-X ini tidak mudah, sehingga wajar untuk sampai pada kata
sepakat memerlukan waktu yang tidak sebentar, namun di sisi akar rumput level
engineer akan terasa terombang ambing dalam ketidak pastian. Akhirnya, tiba jugalah waktunya. Begitu jadwal keberangkatan ke Korea ini sudah ditentukan, maka para engineer bergegas mempersiapkan diri sebaik baiknya. Karena merupakan perjalanan yang tidak sebentar, untuk segala sesuatu yang selama ini menjadi tanggung jawabnya, maka mau nggak mau harus segera dibereskan atau didelegasikan urusannya. Kalau dia merupakan bendahara Masjid, maka seluruh laporan keuangan berikut dana yang dipegang harus segera diserah terimakan kepada penggantinya. Kalau dia seorang pengurus RT atau RW maka segera diserah terimakan jabatannya. Kalau dia seorang supervisor atau manager, nah kalau yang itu terserah pada perusahaan, kapan mau mengambilnya.
Yang tidak kalah penting adalah urusan rumah. Kalau ada
talang bocor yang bila hujan tiba cuma diselesaikan dengan menadahkan ember di
bawahnya, maka kali ini harus dibereskan sebelum berangkat. Bila ada pompa air
sumur yang kadang ngadat, maka harus segera diganti untuk memastikan
keluarga tidak ditinggalkan dalam kesulitan karena air. Bila ada genteng yang
melorot, bila ada lampu yang mati, bila ada motor atau mobil yang perlu
diservis, dan semua bila, bila dan bila yang mungkin terjadi, telah
diantisipasi dengan membereskannya sebelum berangkat. Singkat kata, semua hal
yang mampu dipikirkan untuk diselesaikan maka segera dibereskan. Bisa
dikatakan, hal ini tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan peziarah Haji, memastikan
kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungannya terpenuhi semasa dia pergi.
Itu untuk urusan yang akan ditinggalkan di rumah. Bagaimana
dengan persiapan dia sendiri, perlengkapan dia sendiri atau bekal dia sendiri
untuk perjalanan dan hidup di Korea yang “hanya” 1 atau 2 tahun. Sudah
cukupkah? Sudah lengkapkah? atau sudah dipersiapkankah?. Maka
apapun yang perlu dibawa akan dibawa, mulai sambel pecel, rendang, abon, mie
instant, beras, saos, kecap, sambal trasi, layah dan ulegannya, aneka bumbu, minyak kayu
putih, madu, aneka obat mulai obat masuk angin, sakit gigi, obat batuk, hingga
pusing, baju/celana kerja, sepatu, jaket musim panas, musim dingin, dan lain-lain, dan
lain-lain. Tidak lupa harus pamit ke orang tua, kerabat dan tetangga.
Semua sadar, setelah 1 atau 2 tahun penugasan di Korea ini, mereka masih
akan pulang dan bertemu kembali dengan orang-orang yang disayanginya. Seluruh
perhatian dan hiruk pikuk yang heboh ini dilakukan atas nama persiapan
perjalanan yang 1 atau 2 tahun dan pada saatnya masih akan kembali. Untuk
perjalanan yang jadwal berangkatnya sudah ditentukan dan sesudahnya masih akan kembali
saja begitu hebat persiapannya, begitu teliti perhitungannya, dan begitu rapi
pertimbangan dan antisipasinya, pertanyaannya adalah sebegitu hebat jugakah
persiapan kita untuk “perjalanan panjang lainnya yang pasti akan terjadi”? yang
jadwal berangkat bisa hari ini, besok pagi atau lusa nanti? Sebuah perjalanan
panjang abadi dan pasti tidak kembali. Sudah cukup kah persiapan dan bekal untuk
perjalanan abadi ini?
Pertanyaan hakiki yang merupakan ekspresi dari kejernihan
hati engineer yang sholeh. Pemaknaan hakikat peristiwa atau kejadian yang
muncul ketika langkah menapaki jalan pulang menuju gerbang PTDI. Kesholehannya telah
mampu memaknai persiapan perjalanan ke Korea ini dengan penuh hikmah. Dia
benar, kita sering tidak pandai dalam memaknai kejadian, bukankah segala yang
terjadi pada kita dan terhadap kita ini bukanlah sebuah kebetulan? Semua telah sesuai
rencanaNya, semua pasti ada makna dan maksudNya. Dan engineer kita yang sholeh
ini telah mengingatkan hal tersebut dengan sangat santunnya.
Kesholehannya juga tercermin dari kehati-hatiannya dalam
bertutur, dalam menjaga sikap, dan tentu saja menyembunyikan “aib”. Begitu
berhati-hatinya dia sehingga untuk sebuah “aib” ini maka dia harus berpesan
kepada sahabat-sahabatnya untuk tidak menceritakan kepada siapapun, apalagi ke
penghuni apartemen Myeong Poom A.
“Jangan bilang-bilang ya, malu aku. Kalo diceritain ntar ditulis”, begitu pesannya.
Hanya saja sepertinya engineer sholeh ini lupa bahwa
“aib” nya itu dapat menjadi sedekah kegembiraan atau hiburan untuk yang lainnya.
Memang ini sebenarnya bukan “aib” dalam pengertian yang
berdampak dosa kepadanya, tetapi ini hanya sekedar sesuatu kesalahan
interpretasi atas sesuatu yang dibeli. Sekali-lagi, begitu berhati-hatinya
engineer sholeh ini maka dia tidak ingin ada orang lain yang tahu. Tetapi semua
juga tahu, ini bukan “aib” dalam pengertian yang sebenarnya dan bukan pula dosa,
ini sekedar kekeliruan kecil yang umum dan biasa terjadi bagi siapa saja yang
tiba-tiba saja menjadi buta huruf di negeri yang bernama Korea ini. Kalaulah
dia berhasil menyimpan “aib” itu, tetapi siapa yang menjamin bahwa dinding bus Suyeong itu tidak akan bercerita. Jadi, tidak ada tempat tuk bersembunyi. Kalaulah di
Daejeon dulu ada episode “beli minyak goreng dapat cuka”, maka di Sacheon ada
episode lain yaitu “beli buku catatan dapat kwitansi”.
“Pak Asep perlu kwitasi, ada nich 3 bendel?.....”.
Sacheon, 28 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar