Ikat pinggang kesaktian
Mati Ketawa Gaya Korea 10
|
K
|
alau hanya untuk
mengatasi satu orang saja tidak bisa maka bukan komandan namanya. Namanya juga
komandan, pemimpin dan memang sudah dilatih untuk memimpin. Bukan hanya
disiapkan untuk memimpin satu atau dua orang tapi satu regu, satu kompi, satu
batalion, satu angkatan ataupun bahkan satu negara. Nah kalau untuk memimpin
satu negara saja sudah dibekali ilmunya maka apa susahnya memimpin satu orang.
Satu orang ini perlu dipimpin dengan cara khusus karena memang memiliki
karakter khusus. Suaranya jelas, tegas, dan berapi-api, tidak pernah ragu dan
malu untuk menyampaikan gagasannya, terlepas visible atau tidak pokoknya
sampaikan saja, agar lebih meyakinkan apa yang dia sampaikan biasanya tangannya
ikut beraksi seperti kampanyenya politisi.
Sahabat kita ini
memang agak "sakti", karena ketika musim gugur tiba, dia seperti tak
mempunyai urat dingin. Disaat perjalanan ke Daejeon, teman lainnya sudah
menggunakan jaket dan syal lengkap untuk melawan dingin, tapi sahabat kita ini
masih berani hanya berbaju lengan pendek. Keberanian dan kenekatannya ini
sangat menggelitik para komandan. Maka terlintas rencana untuk menguji
"kesaktian" dia dalam melawan hawa dingin. Perjalanan urusan di
Daejeon yang mestinya sudah selesai sebelum malam, namun dalam rangka menguji
kesaktian sahabat kita ini maka rencana pulang sedikit ditunda sekedar untuk
melihat ketahanan tubuhnya melawan dingin hanya berbekal selembar baju lengen
pendek. Tidak terlihat keluhan diwajahnya. Ledekan dan godaan teman masih bisa
dia layani dengan kata kata yang jelas. Namun itu hanya sementara, karena makin
malam udara makin dingin. Awalnya hanya telapak tangan yang saling digosokkan,
lama-lama mulai keluar masuk saku celana. Sesudah itu, dalam setiap kata yang
diucapkan selalu ada tambahan desisan. Suatu tanda bahwa dia mulai kedinginan.
Dalam
berpakaian, dia selalu rapi atau bahkan terbilang sangat rapi. Sepatu coklat
mengkilat, celana halus berseterika dengan bekas lipatan tajam di depan, baju
putih bergaris yang menjadi favoritnya, bahkan kadang dengan bangga memadukan
jas dan dasi untuk acara yang sebenarnya biasa biasa saja. Alasannya sederhana
mumpung belum dirotasi. Hanya satu hal yang membuat semua yang rapi tadi terasa
agak janggal, cacat dan mengganggu pandangan siapa saja yang melihat, yaitu ikat
pinggang nya. Urusan ikat pinggang inilah yang menjadi ujian kepemimpinan
komandan-komandan kita.
Tidak bosan
bosannya komandan teritori Jijok kita ini menasihati, "mbok ya ikat
pinggang itu diganti", kalimat yang berulang ulang disampaikan. "Ikat
pinggang sudah rapuh dan hampir putus kepala nya begitu kok masih
dipakai". Bukan karakter khusus namanya kalau dengan nasihat seperti itu
langsung menerima. "Ikat pinggang
ini bukan sembarang ikat pinggang. Ada kesaktian pada ikat pinggang ini",
begitu katanya dengan sangat menyakinkan dengan sambil tertawa. Mendengar itu komandan hanya bisa geleng
geleng kepala. "Sudah tho mas, ayo saya anter deh ke Daejeon. Mas pilih
yang bagus agar serasi dengan jas dan dasinya", begitu komandan mencoba merayu. Tapi,
"sekali tidak ya tidak".
Sebenarnya tidak ada yang tahu persis kenapa dia bener bener nggak mau
mengganti ikat pinggangnya yang sudah hampir putus itu. Sesekali sebelumnya dia
memang sempat bertanya ke teman lainnya, "Kemarin si fulan itu beli sabuk
dimana sich", "terus harganya berapa". Artinya sebenarnya dia
mulai memikirkan untuk mengganti ikat pinggang itu. Hanya kok nggak segera
diganti?.
Wah itu yang tak
seorangpun tahu alasan persisnya. Hingga
detik itu komandan masih belum berhasil melunakkan kekerasan hati sahabat kita
urusan ikat pinggang. Seperti biasanya komandan tidak pernah menyerah, hanya
perlu strategi lain. Selanjutnya dibahas dalam Rakor khusus bidang kerapian dan
ketertiban. Hadir pula komandan teritori Bansok. Komandan teritori Bansok ini lebih
taktis sarannya bahkan kalau perlu sedikit "dipaksa", "wong
tidak ada alasan yang menghambat dia untuk beli yang baru kok. Coba apa?",
begitu katanya dengan sangat meyakinkan.
Sock terapi
direncanakan. Momen yang paling tepat
untuk dilakukan eksekusi adalah didepan World food. Disaat dia terlena, maka
beberapa orang langsung menyergap. Pegang tangan, pegang kaki dan tarik ikat
pinggangya. Dia berkelonjotan sebagai tanda bahwa dia menolak diperlakukan
seperti itu. Dia memang sakti benar ternyata, meskipun sudah disergap,
dipegangi tangan dan kakinya tetep saja usaha itu gagal, karena dia berteriak
seperti seakan akan diperkosa. Tentu teriakanya menimbulkan kekacauan kecil dan
merangsang perhatian siapa saja yang sedang berlalu lalang. Gagal maning gagal maning.
Merasa usaha denga cara "kekerasan" gagal maka, dicoba lagi dengan
cara yang halus. "Ayo tho mas, itu disitu ada yang jual ikat panggang.
Yuk, aku belikan deh". Dengan langkah yang agak berat akhirnya ajakan
komandan kita ini dituruti juga. Tidak ada yang tahu kenapa dia akhirnya luluh.
Apa memang insyaf, takut "diperkosa" lagi atau lainnya?. Tidak ada
yang tahu. yang pasti sekarang sudah mau, itu sudah cukup. Setelah pilih-pilih
warna dan model yang cocok, terucap komentar,"wah,..nggak enak aku kalau
ikat pinggang aja mesti dibeliin". Dengan secepat kilat komandan membalas
komentar itu dengan cerdas,"kalau gitu bayar donk !.
Akhirnya dia
bayar sendiri ikat pinggang yang dia pakai dengan uang dia sendiri . Apakah dia
menyesal atau tidak, wah itu urusan dia sendiri. Sementara ikat pinggang baru
sudah melekat dipinggangnya, agar yang lama tidak dipakai lagi maka di depan
world food itu pula bangkai ikat pinggang yang lama di kremasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar