Jumat, 07 Oktober 2016

Ikat pinggang kesaktian


Ikat pinggang kesaktian
Mati Ketawa Gaya Korea 10

K

alau hanya untuk mengatasi satu orang saja tidak bisa maka bukan komandan namanya. Namanya juga komandan, pemimpin dan memang sudah dilatih untuk memimpin. Bukan hanya disiapkan untuk memimpin satu atau dua orang tapi satu regu, satu kompi, satu batalion, satu angkatan ataupun bahkan satu negara. Nah kalau untuk memimpin satu negara saja sudah dibekali ilmunya maka apa susahnya memimpin satu orang. Satu orang ini perlu dipimpin dengan cara khusus karena memang memiliki karakter khusus. Suaranya jelas, tegas, dan berapi-api, tidak pernah ragu dan malu untuk menyampaikan gagasannya, terlepas visible atau tidak pokoknya sampaikan saja, agar lebih meyakinkan apa yang dia sampaikan biasanya tangannya ikut beraksi seperti kampanyenya politisi.

Sahabat kita ini memang agak "sakti", karena ketika musim gugur tiba, dia seperti tak mempunyai urat dingin. Disaat perjalanan ke Daejeon, teman lainnya sudah menggunakan jaket dan syal lengkap untuk melawan dingin, tapi sahabat kita ini masih berani hanya berbaju lengan pendek. Keberanian dan kenekatannya ini sangat menggelitik para komandan. Maka terlintas rencana untuk menguji "kesaktian" dia dalam melawan hawa dingin. Perjalanan urusan di Daejeon yang mestinya sudah selesai sebelum malam, namun dalam rangka menguji kesaktian sahabat kita ini maka rencana pulang sedikit ditunda sekedar untuk melihat ketahanan tubuhnya melawan dingin hanya berbekal selembar baju lengen pendek. Tidak terlihat keluhan diwajahnya. Ledekan dan godaan teman masih bisa dia layani dengan kata kata yang jelas. Namun itu hanya sementara, karena makin malam udara makin dingin. Awalnya hanya telapak tangan yang saling digosokkan, lama-lama mulai keluar masuk saku celana. Sesudah itu, dalam setiap kata yang diucapkan selalu ada tambahan desisan. Suatu tanda bahwa dia mulai kedinginan.

Dalam berpakaian, dia selalu rapi atau bahkan terbilang sangat rapi. Sepatu coklat mengkilat, celana halus berseterika dengan bekas lipatan tajam di depan, baju putih bergaris yang menjadi favoritnya, bahkan kadang dengan bangga memadukan jas dan dasi untuk acara yang sebenarnya biasa biasa saja. Alasannya sederhana mumpung belum dirotasi. Hanya satu hal yang membuat semua yang rapi tadi terasa agak janggal, cacat dan mengganggu pandangan siapa saja yang melihat, yaitu ikat pinggang nya. Urusan ikat pinggang inilah yang menjadi ujian kepemimpinan komandan-komandan kita.

Tidak bosan bosannya komandan teritori Jijok kita ini menasihati, "mbok ya ikat pinggang itu diganti", kalimat yang berulang ulang disampaikan. "Ikat pinggang sudah rapuh dan hampir putus kepala nya begitu kok masih dipakai". Bukan karakter khusus namanya kalau dengan nasihat seperti itu langsung menerima.  "Ikat pinggang ini bukan sembarang ikat pinggang. Ada kesaktian pada ikat pinggang ini", begitu katanya dengan sangat menyakinkan dengan sambil tertawa.  Mendengar itu komandan hanya bisa geleng geleng kepala. "Sudah tho mas, ayo saya anter deh ke Daejeon. Mas pilih yang bagus agar serasi dengan jas dan dasinya",  begitu komandan mencoba merayu. Tapi, "sekali tidak ya tidak".  Sebenarnya tidak ada yang tahu persis kenapa dia bener bener nggak mau mengganti ikat pinggangnya yang sudah hampir putus itu. Sesekali sebelumnya dia memang sempat bertanya ke teman lainnya, "Kemarin si fulan itu beli sabuk dimana sich", "terus harganya berapa". Artinya sebenarnya dia mulai memikirkan untuk mengganti ikat pinggang itu. Hanya kok nggak segera diganti?.

Wah itu yang tak seorangpun tahu alasan persisnya.  Hingga detik itu komandan masih belum berhasil melunakkan kekerasan hati sahabat kita urusan ikat pinggang. Seperti biasanya komandan tidak pernah menyerah, hanya perlu strategi lain. Selanjutnya dibahas dalam Rakor khusus bidang kerapian dan ketertiban. Hadir pula komandan teritori Bansok. Komandan teritori Bansok ini lebih taktis sarannya bahkan kalau perlu sedikit "dipaksa", "wong tidak ada alasan yang menghambat dia untuk beli yang baru kok. Coba apa?", begitu katanya dengan sangat meyakinkan.

Sock terapi direncanakan. Momen  yang paling tepat untuk dilakukan eksekusi adalah didepan World food. Disaat dia terlena, maka beberapa orang langsung menyergap. Pegang tangan, pegang kaki dan tarik ikat pinggangya. Dia berkelonjotan sebagai tanda bahwa dia menolak diperlakukan seperti itu. Dia memang sakti benar ternyata, meskipun sudah disergap, dipegangi tangan dan kakinya tetep saja usaha itu gagal, karena dia berteriak seperti seakan akan diperkosa. Tentu teriakanya menimbulkan kekacauan kecil dan merangsang perhatian siapa saja yang sedang berlalu lalang. Gagal maning gagal maning. Merasa usaha denga cara "kekerasan" gagal maka, dicoba lagi dengan cara yang halus. "Ayo tho mas, itu disitu ada yang jual ikat panggang. Yuk, aku belikan deh". Dengan langkah yang agak berat akhirnya ajakan komandan kita ini dituruti juga. Tidak ada yang tahu kenapa dia akhirnya luluh. Apa memang insyaf, takut "diperkosa" lagi atau lainnya?. Tidak ada yang tahu. yang pasti sekarang sudah mau, itu sudah cukup. Setelah pilih-pilih warna dan model yang cocok, terucap komentar,"wah,..nggak enak aku kalau ikat pinggang aja mesti dibeliin". Dengan secepat kilat komandan membalas komentar itu dengan cerdas,"kalau gitu bayar donk !.

Akhirnya dia bayar sendiri ikat pinggang yang dia pakai dengan uang dia sendiri . Apakah dia menyesal atau tidak, wah itu urusan dia sendiri. Sementara ikat pinggang baru sudah melekat dipinggangnya, agar yang lama tidak dipakai lagi maka di depan world food itu pula bangkai ikat pinggang yang lama di kremasi.

 Daejeon, Mei 23 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar