Jumat, 07 Oktober 2016

Suminah





Suminah
 
Mati ketawa gaya korea 29
  

 
Kehadirannya memang tidak sejak awal digulirkannya progam ini, karena dia hadir menggantikan Nona Olivia, koleganya yang mengundurkan diri dan melanjutkan karier di tempat lain. Meskipun bergabung di tengah program yang sedang berjalan, dia cukup cepat beradaptasi, dan penampilannya berhasil menyita perhatian beberapa engineer khususnya yang berstatus bujangan atau yang “merasa” bujangan. Ditempatkannya dia sebagai staf internasional collaboration tidak membuatnya canggung, apalagi di posisi ini mau nggak mau dia harus berinteraksi dengan para engineer berkulit sawo matang ini. Sebagai gadis muda Korea asli, calon pramugari yang belum ketemu airliner yang cocok dengannya, dengan bekal kemampuan berbahasa Inggris yang memadai, dia terbilang paling menarik diantara 7 atau 8 orang gadis Korea yang terlibat di program ini. Dengan wajah cantik khas Korea, wajah oval dengan dagu meruncing, rambut lurus kemerahan serta badan langsing dengan tinggi badan yang sedang-sedang saja barangkali bernilai di atas 8 untuk ukuran kecantikan jaman sekarang. Kaca mata frame lebar yang dipakainya sekedar untuk menyeimbangkan matanya yang agak sipit sehingga menjadi pelengkap kecantikannya. Dengan semua itu, maka tak heran bila hampir tiap hari ada saja “urusan” yang “memaksa” engineer Indonesia untuk merasa perlu berkomunikasi dengan dia.

Namanya An Soo Min (안수민 dibaca An Su Min), nama yang tidak mudah pengucapannya bagi lidah orang Indonesia karena pembacaan atau penyebutan nama itu yang memang benar benar dibaca per potong sesuai suku katanya. Apalagi dalam nama Korea, nama tersebut suku kata pertama dibaca atau diletakkan di belakang sehingga dibaca Soo (dibaca Su), Min, An. Dua suku nama Min An yang mesti dibaca terpisah sedikit menyulitkan lidah untuk menekuknya. Tentu kesulitan kecil ini harus di atasi, dibereskan, dan dicairkan agar tidak menjadi kendala yang berkelanjutan. Adalah manager internasional collaboration yang berinisiatif untuk membereskannya, kebetulan memang Soo Min An ini adalah counterpart manager internasional collaboration juga.

“Namamu itu sulit dibaca oleh orang Indonesia”, begitu pak manager membuka pembicaraan. Mendengar penjelasan singkat pak manager, tentu Soo Min hanya senyum senyum saja memaklumi, karena mau diapakan lagi wong namanya memang begitu. Tetapi bukan manager namanya kalau urusan cemeng kayak gini nggak bisa diselesaikan.

“Dah gini aja, biar counterpart yang duduk di belakangmu itu dan para engineer ku tidak kesulitan menyebut namamu maka aku panggil kamu Suminah saja ya?”. Dan Soo Min yang hanya senyum-senyum saja tidak menolak dianggap sebagai tanda menyetujui. Padahal dia tidak tahu bahwa “Suminah” adalah nama yang sudah hampir punah di negeri asalnya, karena pemakaian nama ini memberikan kesan “ndeso”, tidak keren, dan tidak high class. Kalau dia tahu sejarah dan nilai dari nama “Suminah” ini di negeri asalnya barangkali dia akan menolak dipanggil dengan panggilan Suminah itu. Tapi untung dia tidak bertanya sedetail itu. Sejak saat itulah oleh pak Manager namanya diubah dan di “baptis” menjadi “Suminah”.

Posisi mejanya memang ditempatkan di posisi lalu lalang para engineer. Dengan meja menghadap ke lorong jalan maka siapapun yang lewat mungkin akan menyempatkan diri untuk sekedar melirik sambil lewat. Tentu saja dia cuek bebek sambil menyibukkan diri dalam urusan dia sendiri. Di kubiknya dia ditemani oleh counter partnya seorang engineer Indonesia, lebih tepatnya seorang Mayor Enginer TNI AU. Engineer ini juga datang belakangan, tetapi bekal dan pengalaman dia merantau sejak dari tanah para “tulang” hingga tanah “kawulo Sultan” untuk mengejar program Masternya menjadikan proses interaksinya dengan counterpart Koreanya yang cantik ini juga menjadi lancar-lancar saja. Apalagi latar belakang militernya pasti mengajarkan bagaimana cara dan stretegi mengenali, menghadapi, memanfaatkan hingga menaklukkan siapa saja untuk kepentingan tugas yang diembannya. Untungnya engineer kita ini cukup santun sehingga hanya kepentingan tugasnyalah yang didahulukan, karena hingga hampir detik terakhir penugasan dia di Korea praktis tidak terdengar isu apapun dalam interaksinya dengan Suminah, padahal kalau mau dia berada di posisi yang paling memungkinkan untuk itu. Bahwa kepentingan pribadinya tidak kelihatan, bisa saja ini buah nasihat dari komandannya yang selalu mengontrolnya. Atau begitu canggih dan rapatnya dia menyimpan rahasia?. Ach, pandangan yang terlalu mengada-ada.

Sebagai gadis yang cantik, Suminah sendiri sangat sadar diri kalau banyak orang mungkin ingin mendekatinya. Baik yang kulit kuning, hingga kulit coklat sawo matang. Meskipun begitu, dia tahu diri, dan tidak ingin membuat situasi yang sudah baik dan kondusif ini menjadi lebih buruk, oleh karena itu dia sangat mengharap permakluman dari siapa saja yang pernah dia tolak untuk undangan makan siang atau undangan urusan pribadi apapun. Bahwa urusan makan siang bareng seperti ini akhirnya malah sering dilakukan dengan kolega Mayor engineer satu kubiknya, ya jangan sakit hati. Itu memang rejekinya. Bagaimanapun, sebagai wanita dalam usia matang yang belum genap 30 tahun, dia juga sangat membuka diri untuk hadirnya pangeran yang mau datang dengan membawa pedang Ksatria di pinggang sambil berlutut dan mengucapkan kata-kata sakti,

”I love you, Will you marry me?”.

Dalam selang waktu keterlibatannya, paling tidak tercatat dalam sejarah betapa hal kecil yang dia ucapkan telah bisa membuat engineer Indonesia menjadi kelimpungan. Masih hangat dalam ingatan, betapa ucapan “Merry Christmast, Sir”, yang bikin kelimpungan itu, atau suaranya yang gemerincing ketika berbicara yang mungkin membuat panas dingin bagi engineer senior yang ada di kubik seberang terdekatnya, atau doktor engineer yang “terpaksa” harus sliwar sliwer di depannya demi mendapatkan peluang untuk sekedar say Hello.

Sebagai doktor engineer yang kebetulan juga “sebenar benarnya bujangan” karena dulu “pernah” berpengalaman sebagai bujangan maka kehadiran Suminah di lingkungan CRDC ini menjadi semacam berkah dari langit yang dianggap sebagai peluang. “Ach siapa tahu dia mau”, argumennya ketika beberapa kolega menggodanya.

Saat sebelum berangkat ke Korea pimpinan institusinya memberikan wejangan dan pesan khusus penuh isyarat dan makna yang sebenarnya lebih ditujukan untuk koleganya yang juga bujangan dan masih muda,

“Kalian berangkat berempat, kalau bisa pulang sudah ber lima lho ya!”, ucap bijak bapak pimpinan sebagai orang tua. Namun demikian karena dia juga merasa dalam status yang sama, maka pesan baik ini sedikit dia koreksi, “Bukan berlima pak, tapi ber enam”. Dengan sedikit mengernyitkan alis, akhirnya bapak pimpinan tahu apa yang dimaksud, “yaaaa betuuul, kalian balik ber enam, hehehehe”, sambil melirik doktor muda koleganya dan hanya disambut tawa oleh semuanya.

Berbekal pesan dan wejangan bapak pimpinan inilah bapak doktor engineer ini harus berusaha ekstra agar kepulangannya akhir November ini benar benar dapat membahagiakan siapa saja termasuk bapak pemimpin. Akan menjadi keberhasilan ganda bila fase TD ini disamping menghasilkan konfigurasi dasar pesawat tempur yang diinginkan, juga sekaligus membawa pulang sambil menyunting bunga “Cerry Korea” yang cantik jelita. Bahwa itu tentu sangat tidak mudah, rasanya itu jelas telah mereka pahami sebelumnya. “Lha wong menyatukan KORUT KORSEL saja selama ini belum pernah berhasil kok, ini malah mau menyatukan dua bangsa yang sangat jauh, berbeda kultur, bahasa, huruf, dan cita rasanya”, komentar rekannya yang sedikit meragukan. Tetapi sepertinya mereka meyakini satu hal, “kalau Tuhan berkehendak, siapa yang bisa menghalangi?”, suatu kalimat pamungkas penyokong semangat yang luar biasa.

Sebagai doktor engineer yang sudah tidak muda lagi tentu dia sangat tahu diri, dan dia tidak ingin bersaing dengan koleganya sendiri sesuai warning yang dia dengar saat menghadap pimpinannya dulu, oleh karena itu dalam persahabatan dan “persaingan” itu sepertinya mereka di posisi tahu sama tahu alias menggunakan kaidah “satu guru satu ilmu jangan saling mengganggu”. Paling itu kalau dilihat dari dampaknya yang adem ayem saja, sepertinya pedoman itu benar benar disepakati dan dipatuhi oleh mereka. Bahwa konon akhirnya koleganya bukan lagi menjadi pesaingnya lagi, itu lebih disebabkan oleh selera dan cita rasa yang berbeda atas gadis yang diidamkannya. Konon radar koleganya itu sedang membidik sasaran lain yang lebih “jinak”, lebih lugu dan mungkin yang lebih bercitarasa Indonesia meskipun berkulit kuning, kira kira begitulah dan itu tidak dimiliki oleh Suminah, sementara doktor engineer kita ini tetap fokus ke Suminah sang promadona. Sepertinya dia lupa bahwa sebenarnya dia juga bersaing dengan puluhan atau ratusan pemuda Korea dengan berbagai kelebihannya masing-masing. Barangkali dia juga lupa bahwa menyunting gadis Korea secantik Suminah ini tentu akan memerlukan DOC (Direct Operating Cost) dan Maintenance Cost yang tinggi. Belum lagi harus belajar bahasa Korea, yang ketika di kelas bahasa Dr.Sin dahulu dia termasuk kelompok Play group yang sulit naik kelas. Sanggupkah?. Ach, pokoknya maju terus.

Dalam waktu yang sudah semakin mepet, maka strategi disusun, rencana dirancang, waktu dipilih, kalimat dirangkai.

Strategi disusun menjadi rencana aksi, waktu dipilih pada jam akhir pulang kerja agar batas waktu dinas tidak menjadi kendala. Dengan pengalaman pernah tinggal di Eropa yang cukup lama maka tidak perlu diragukan lagi bahwa tentu kalimat “proposal bernuasa bunga warna pink” yang dirangkai adalah kalimat kalimat tingkat tinggi yang diharapkan memiliki daya magis untuk menarik Suminah memenuhi harapannya.

Jam D yang direncanakan tiba, seperti remaja belasan tahun yang masih coba-coba PDKT, jantung serasa dag dig dug beredegub kencang, kaki maju mundur antara iya dan tidak, tetapi hati sudah melambung membayangkan kejadian sesudahnya. Akumulasi dari semua itu menjadi suatu eksekusi aksi yang acak acakan yang mungkin terasa hambar dan tidak meyakinkan.

“Em…em….ehm… Hay..”.

Seperti yang diduga, sebuah kalimat pembuka yang hambar, meskipun tetep disambut dengan sesungging senyuman, serta balasan suara gemerincingnya “Hay..”. Mendapat balasan tawar seperti itu menjadikan kalimat indah yang sudah dirangkai hancur berantakan. Namun demikian, karena target sudah terlanjur di “lock”, maka “senjata AIM 120 Amraam” yang sudah disiapkan harus diluncurkan, tidak peduli posisi dan “sikap pesawat” yang ada. Bahwa pesawat sudah hampir stall tidak peduli. Pokoknya “tembak”.

“Have you got any free time this evening?”.

Tidak terlalu jelas apakah yang ditanya tahu maksud dan arah dari pertanyaan itu atau tidak, tetapi pertanyaan itu tetap dijawab dengan bonus senyuman juga,

“No, I have to work”. Jawab singkat padat dan jelas.

Mendengar jawaban negatif tidak menjadikannya surut apalagi mundur.

“May we go for dinner, after work?”.

Yang diajak kali ini memberi respon lebih menarik dengan jawaban yang sungguh seperti jinak-jinak merpati. Seperti mau tapi nggak mau.

“Oh, I like it but sorry I can not”, laval Inggris dengan rasa Korea.

Tidak terlalu jelas apakah jawaban itu artinya penolakan halus atau karena dia benar benar sibuk. Atau memang dia sedang menguji kesungguhan dan kesabarannya, sungguh sulit menfasirkannya. Yang pasti jawaban ini benar benar seperti di “lock” balik, dimatikan. Semangatnya hilang, keyakinannya lumpuh hingga tak ada lagi kreasi atau inisiatif untuk meneruskan usahanya. Merasa usahanya tidak akan berhasil maka segera saja dia menutup pembicaraan.

Sambil berjalan dikuatkan hatinya untuk tidak terlihat sedih. Dia sudah cukup berpengalaman menghadapi situasi seperti itu, namun dalam “dunia kecil” di lantai 2 CRDC maka terlalu mudah bagi rekan-rekannya untuk menebak apa yang terjadi. “Dunia kecil” para engineer ini begitu cair, segala hal seserius apapun akan begitu mudah jadi bahan obrolan bahkan dijadikan bahan guyonan maka kegagalan ajakan kencan sore itu mudah sekali menjadi bahan obrolan yang sekaligus dipelesetkan menjadi guyonan, dan ledekan.

“Sudahlah pak, cari alternative lain aja pak, ya option lain seperti halnya kalau nggak cocok pakai engine F404 ya ganti saja dengan EJ200”, saran rekan lainnya yang kebetulan option pemilihan engine saat itu menjadi topik bahasan yang lagi hangat. Karena penasaran maka dengan antusias dia menanggapi,

“emang ada lagi?”.

“Wow ada…”, jawaban rekannya penuh semangat.

“Siapa..siapa.. ?”, sambil penasaran

“Em.. ehm..Itu lho yang di kubiknya management system”, rekannya menjelaskan.

Dengan sedikit menerawang sambil mencari,

“Gadis yang mana ya?”, ucapnya dalam hati.

Setelah sesaat merenung dan merasa tahu gadis yang dimaksud maka sontak dia berteriak,

“Si geblek ya !, Halaahh … Gila apa ?”. Ucapnya dengan agak bersungut yang langsung disambut gelak tawa kawan kawannya.

 Daejeon Nov 23, 2012
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar