Suminah
Mati ketawa gaya korea 29
Kehadirannya memang tidak sejak awal
digulirkannya progam ini, karena dia hadir menggantikan Nona Olivia, koleganya
yang mengundurkan diri dan melanjutkan karier di tempat lain. Meskipun
bergabung di tengah program yang sedang berjalan, dia cukup cepat beradaptasi,
dan penampilannya berhasil menyita perhatian beberapa engineer khususnya yang
berstatus bujangan atau yang “merasa” bujangan. Ditempatkannya dia sebagai staf
internasional collaboration tidak membuatnya canggung, apalagi di posisi ini
mau nggak mau dia harus berinteraksi dengan para engineer berkulit sawo matang
ini. Sebagai gadis muda Korea asli, calon pramugari yang belum ketemu airliner
yang cocok dengannya, dengan bekal kemampuan berbahasa Inggris yang memadai,
dia terbilang paling menarik diantara 7 atau 8 orang gadis Korea yang terlibat
di program ini. Dengan wajah cantik khas Korea, wajah oval dengan dagu
meruncing, rambut lurus kemerahan serta badan langsing dengan tinggi badan yang
sedang-sedang saja barangkali bernilai di atas 8 untuk ukuran kecantikan jaman
sekarang. Kaca mata frame lebar yang dipakainya sekedar untuk menyeimbangkan
matanya yang agak sipit sehingga menjadi pelengkap kecantikannya. Dengan semua
itu, maka tak heran bila hampir tiap hari ada saja “urusan” yang “memaksa”
engineer Indonesia untuk merasa perlu berkomunikasi dengan dia.
Namanya An Soo Min (안수민 dibaca An Su Min), nama yang tidak mudah pengucapannya
bagi lidah orang Indonesia karena pembacaan atau penyebutan nama itu yang
memang benar benar dibaca per potong sesuai suku katanya. Apalagi dalam nama
Korea, nama tersebut suku kata pertama dibaca atau diletakkan di belakang
sehingga dibaca Soo (dibaca Su), Min, An. Dua suku nama Min An yang mesti
dibaca terpisah sedikit menyulitkan lidah untuk menekuknya. Tentu kesulitan
kecil ini harus di atasi, dibereskan, dan dicairkan agar tidak menjadi kendala
yang berkelanjutan. Adalah manager internasional collaboration yang
berinisiatif untuk membereskannya, kebetulan memang Soo Min An ini adalah
counterpart manager internasional collaboration juga.
“Namamu itu sulit dibaca oleh orang
Indonesia”, begitu pak manager membuka pembicaraan. Mendengar penjelasan
singkat pak manager, tentu Soo Min hanya senyum senyum saja memaklumi, karena
mau diapakan lagi wong namanya memang begitu. Tetapi bukan manager namanya
kalau urusan cemeng kayak gini nggak bisa diselesaikan.
“Dah gini aja, biar counterpart yang
duduk di belakangmu itu dan para engineer ku tidak kesulitan menyebut namamu
maka aku panggil kamu Suminah saja ya?”. Dan Soo Min yang hanya senyum-senyum
saja tidak menolak dianggap sebagai tanda menyetujui. Padahal dia tidak tahu bahwa
“Suminah” adalah nama yang sudah hampir punah di negeri asalnya, karena
pemakaian nama ini memberikan kesan “ndeso”, tidak keren, dan tidak high class.
Kalau dia tahu sejarah dan nilai dari nama “Suminah” ini di negeri asalnya
barangkali dia akan menolak dipanggil dengan panggilan Suminah itu. Tapi untung
dia tidak bertanya sedetail itu. Sejak saat itulah oleh pak Manager namanya
diubah dan di “baptis” menjadi “Suminah”.
Posisi mejanya memang ditempatkan di
posisi lalu lalang para engineer. Dengan meja menghadap ke lorong jalan maka
siapapun yang lewat mungkin akan menyempatkan diri untuk sekedar melirik sambil
lewat. Tentu saja dia cuek bebek sambil menyibukkan diri dalam urusan dia
sendiri. Di kubiknya dia ditemani oleh counter partnya seorang engineer Indonesia,
lebih tepatnya seorang Mayor Enginer TNI AU. Engineer ini juga datang
belakangan, tetapi bekal dan pengalaman dia merantau sejak dari tanah para
“tulang” hingga tanah “kawulo Sultan” untuk mengejar program Masternya
menjadikan proses interaksinya dengan counterpart Koreanya yang cantik ini juga
menjadi lancar-lancar saja. Apalagi latar belakang militernya pasti mengajarkan
bagaimana cara dan stretegi mengenali, menghadapi, memanfaatkan hingga
menaklukkan siapa saja untuk kepentingan tugas yang diembannya. Untungnya
engineer kita ini cukup santun sehingga hanya kepentingan tugasnyalah yang
didahulukan, karena hingga hampir detik terakhir penugasan dia di Korea praktis
tidak terdengar isu apapun dalam interaksinya dengan Suminah, padahal kalau mau
dia berada di posisi yang paling memungkinkan untuk itu. Bahwa kepentingan
pribadinya tidak kelihatan, bisa saja ini buah nasihat dari komandannya yang
selalu mengontrolnya. Atau begitu canggih dan rapatnya dia menyimpan rahasia?.
Ach, pandangan yang terlalu mengada-ada.
Sebagai gadis yang cantik, Suminah
sendiri sangat sadar diri kalau banyak orang mungkin ingin mendekatinya. Baik
yang kulit kuning, hingga kulit coklat sawo matang. Meskipun begitu, dia tahu
diri, dan tidak ingin membuat situasi yang sudah baik dan kondusif ini menjadi
lebih buruk, oleh karena itu dia sangat mengharap permakluman dari siapa saja
yang pernah dia tolak untuk undangan makan siang atau undangan urusan pribadi
apapun. Bahwa urusan makan siang bareng seperti ini akhirnya malah sering
dilakukan dengan kolega Mayor engineer satu kubiknya, ya jangan sakit hati. Itu
memang rejekinya. Bagaimanapun, sebagai wanita dalam usia matang yang belum
genap 30 tahun, dia juga sangat membuka diri untuk hadirnya pangeran yang mau
datang dengan membawa pedang Ksatria di pinggang sambil berlutut dan
mengucapkan kata-kata sakti,
”I love you,
Will you marry me?”.
Dalam selang waktu keterlibatannya,
paling tidak tercatat dalam sejarah betapa hal kecil yang dia ucapkan telah
bisa membuat engineer Indonesia menjadi kelimpungan. Masih hangat dalam
ingatan, betapa ucapan “Merry Christmast, Sir”, yang bikin kelimpungan itu,
atau suaranya yang gemerincing ketika berbicara yang mungkin membuat panas
dingin bagi engineer senior yang ada di kubik seberang terdekatnya, atau doktor
engineer yang “terpaksa” harus sliwar sliwer di depannya demi mendapatkan
peluang untuk sekedar say Hello.
Sebagai doktor engineer yang
kebetulan juga “sebenar benarnya bujangan” karena dulu “pernah” berpengalaman
sebagai bujangan maka kehadiran Suminah di lingkungan CRDC ini menjadi semacam
berkah dari langit yang dianggap sebagai peluang. “Ach siapa tahu dia mau”,
argumennya ketika beberapa kolega menggodanya.
Saat sebelum berangkat ke Korea
pimpinan institusinya memberikan wejangan dan pesan khusus penuh isyarat dan
makna yang sebenarnya lebih ditujukan untuk koleganya yang juga bujangan dan
masih muda,
“Kalian berangkat berempat, kalau
bisa pulang sudah ber lima lho ya!”, ucap bijak bapak pimpinan sebagai orang
tua. Namun demikian karena dia juga merasa dalam status yang sama, maka pesan
baik ini sedikit dia koreksi, “Bukan berlima pak, tapi ber enam”. Dengan
sedikit mengernyitkan alis, akhirnya bapak pimpinan tahu apa yang dimaksud,
“yaaaa betuuul, kalian balik ber enam, hehehehe”, sambil melirik doktor muda
koleganya dan hanya disambut tawa oleh semuanya.
Berbekal pesan dan wejangan bapak
pimpinan inilah bapak doktor engineer ini harus berusaha ekstra agar
kepulangannya akhir November ini benar benar dapat membahagiakan siapa saja termasuk
bapak pemimpin. Akan menjadi keberhasilan ganda bila fase TD ini disamping
menghasilkan konfigurasi dasar pesawat tempur yang diinginkan, juga sekaligus
membawa pulang sambil menyunting bunga “Cerry Korea” yang cantik jelita. Bahwa
itu tentu sangat tidak mudah, rasanya itu jelas telah mereka pahami sebelumnya.
“Lha wong menyatukan KORUT KORSEL saja selama ini belum pernah berhasil kok,
ini malah mau menyatukan dua bangsa yang sangat jauh, berbeda kultur, bahasa,
huruf, dan cita rasanya”, komentar rekannya yang sedikit meragukan. Tetapi
sepertinya mereka meyakini satu hal, “kalau Tuhan berkehendak, siapa yang bisa
menghalangi?”, suatu kalimat pamungkas penyokong semangat yang luar biasa.
Sebagai doktor engineer yang sudah
tidak muda lagi tentu dia sangat tahu diri, dan dia tidak ingin bersaing dengan
koleganya sendiri sesuai warning yang dia dengar saat menghadap pimpinannya
dulu, oleh karena itu dalam persahabatan dan “persaingan” itu sepertinya mereka
di posisi tahu sama tahu alias menggunakan kaidah “satu guru satu ilmu jangan
saling mengganggu”. Paling itu kalau dilihat dari dampaknya yang adem ayem
saja, sepertinya pedoman itu benar benar disepakati dan dipatuhi oleh mereka.
Bahwa konon akhirnya koleganya bukan lagi menjadi pesaingnya lagi, itu lebih
disebabkan oleh selera dan cita rasa yang berbeda atas gadis yang diidamkannya.
Konon radar koleganya itu sedang membidik sasaran lain yang lebih “jinak”,
lebih lugu dan mungkin yang lebih bercitarasa Indonesia meskipun berkulit
kuning, kira kira begitulah dan itu tidak dimiliki oleh Suminah, sementara
doktor engineer kita ini tetap fokus ke Suminah sang promadona. Sepertinya dia lupa bahwa sebenarnya dia juga
bersaing dengan puluhan atau ratusan pemuda Korea dengan berbagai kelebihannya
masing-masing. Barangkali dia juga lupa bahwa menyunting gadis Korea secantik
Suminah ini tentu akan memerlukan DOC (Direct Operating Cost) dan Maintenance
Cost yang tinggi. Belum lagi harus belajar bahasa Korea, yang ketika di kelas
bahasa Dr.Sin dahulu dia termasuk kelompok Play group yang sulit naik kelas.
Sanggupkah?. Ach, pokoknya maju terus.
Dalam waktu yang sudah semakin mepet,
maka strategi disusun, rencana dirancang, waktu dipilih, kalimat dirangkai.
Strategi disusun menjadi rencana
aksi, waktu dipilih pada jam akhir pulang kerja agar batas waktu dinas tidak
menjadi kendala. Dengan pengalaman pernah tinggal di Eropa yang cukup lama maka
tidak perlu diragukan lagi bahwa tentu kalimat “proposal bernuasa bunga warna
pink” yang dirangkai adalah kalimat kalimat tingkat tinggi yang diharapkan
memiliki daya magis untuk menarik Suminah memenuhi harapannya.
Jam D yang direncanakan tiba, seperti
remaja belasan tahun yang masih coba-coba PDKT, jantung serasa dag dig dug
beredegub kencang, kaki maju mundur antara iya dan tidak, tetapi hati sudah
melambung membayangkan kejadian sesudahnya. Akumulasi dari semua itu menjadi
suatu eksekusi aksi yang acak acakan yang mungkin terasa hambar dan tidak
meyakinkan.
“Em…em….ehm… Hay..”.
Seperti yang diduga, sebuah kalimat
pembuka yang hambar, meskipun tetep disambut dengan sesungging senyuman, serta
balasan suara gemerincingnya “Hay..”. Mendapat balasan tawar seperti itu
menjadikan kalimat indah yang sudah dirangkai hancur berantakan. Namun
demikian, karena target sudah terlanjur di “lock”, maka “senjata AIM 120
Amraam” yang sudah disiapkan harus diluncurkan, tidak peduli posisi dan “sikap
pesawat” yang ada. Bahwa pesawat sudah hampir stall tidak peduli. Pokoknya
“tembak”.
“Have you got any free time this
evening?”.
Tidak terlalu jelas apakah yang
ditanya tahu maksud dan arah dari pertanyaan itu atau tidak, tetapi pertanyaan
itu tetap dijawab dengan bonus senyuman juga,
“No, I have to work”. Jawab singkat
padat dan jelas.
Mendengar jawaban negatif tidak
menjadikannya surut apalagi mundur.
“May we go for dinner, after work?”.
Yang diajak kali ini memberi respon
lebih menarik dengan jawaban yang sungguh seperti jinak-jinak merpati. Seperti
mau tapi nggak mau.
“Oh, I like it but sorry I can not”,
laval Inggris dengan rasa Korea.
Tidak terlalu jelas apakah jawaban
itu artinya penolakan halus atau karena dia benar benar sibuk. Atau memang dia
sedang menguji kesungguhan dan kesabarannya, sungguh sulit menfasirkannya. Yang
pasti jawaban ini benar benar seperti di “lock” balik, dimatikan. Semangatnya
hilang, keyakinannya lumpuh hingga tak ada lagi kreasi atau inisiatif untuk
meneruskan usahanya. Merasa usahanya tidak akan berhasil maka segera saja dia
menutup pembicaraan.
Sambil berjalan dikuatkan hatinya
untuk tidak terlihat sedih. Dia sudah cukup berpengalaman menghadapi situasi
seperti itu, namun dalam “dunia kecil” di lantai 2 CRDC maka terlalu mudah bagi
rekan-rekannya untuk menebak apa yang terjadi. “Dunia kecil” para engineer ini
begitu cair, segala hal seserius apapun akan begitu mudah jadi bahan obrolan
bahkan dijadikan bahan guyonan maka kegagalan ajakan kencan sore itu mudah
sekali menjadi bahan obrolan yang sekaligus dipelesetkan menjadi guyonan, dan
ledekan.
“Sudahlah pak, cari alternative lain
aja pak, ya option lain seperti halnya kalau nggak cocok pakai engine F404 ya
ganti saja dengan EJ200”, saran rekan lainnya yang kebetulan option pemilihan
engine saat itu menjadi topik bahasan yang lagi hangat. Karena penasaran maka dengan
antusias dia menanggapi,
“emang ada lagi?”.
“Wow ada…”, jawaban rekannya penuh
semangat.
“Siapa..siapa.. ?”, sambil penasaran
“Em.. ehm..Itu lho yang di kubiknya
management system”, rekannya menjelaskan.
Dengan sedikit menerawang sambil
mencari,
“Gadis yang mana ya?”, ucapnya dalam
hati.
Setelah sesaat merenung dan merasa
tahu gadis yang dimaksud maka sontak dia berteriak,
“Si geblek ya !, Halaahh … Gila apa
?”. Ucapnya dengan agak bersungut yang langsung disambut gelak tawa kawan
kawannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar