Pelembab Istimewa…
Mati Ketawa Gaya Korea 23
|
S
|
eorang muslim
yang baik akan selalu berusaha untuk membangun silaturahmi, dimanapun mereka
berada. Tidak terkecuali di Korea ini. Di negeri yang mayoritas penduduknya
tidak beragama Islam ini maka mencari dan bersilaturahmi dengan saudara seiman
menjadi sesuatu yang menantang dan menarik untuk diketemukan. Disamping
ditugaskan oleh dinas sebagai engineer pesawat terbang, namun di waktu luang
secara pribadi ada beberapa orang yang memang memiliki semangat untuk
berkomunikasi dan membangun silaturahmi dengan saudara-saudara muslimnya tidak
peduli berasal dari Negara atau ras mana mereka.
Di kota yang
relatif terbuka seperti Daejeon ini, apalagi sudah banyak mahasiswa ataupun
pekerja Indonesia yang sudah datang sebelumnya maka tidak terlalu sulit untuk
mencari atau menemui komunitas saudara-saudara muslim sekedar untuk
silaturahmi, membangun persahabatan, menjalin persaudaraan.
Komunitas muslim
di Daejeon ini masih didominasi oleh para pendatang, baik para pekerja maupun
mahasiswa yang sedang mengambil studi di berbagai universitas seperti di Kaist
ataupun Chungnam University. Dengan penggerak mahasiswa, yang umumnya sedang
mengambil program master ataupun doctor maka komunikasi dengan sesama muslim
pendatang relatif tidak banyak kendala bahasa. Melalui teman mahasiswa juga
beberapa engineer berhasil menemukan komunitas muslim yang kebetulan merupakan
gabungan dari berbagai Negara. Itulah yang memang dicari.
Sebagai lembaga
dakwah, komunitas ini juga membuka lebar-lebar atas kunjungan dari manapun
juga. Entah mengambil tradisi dari mana, dalam kunjungan dan pertemuan pertama
ini beberapa engineer kita ini mendapatkan paket bingkisan semacam bingkisan
selamat datang. Tentu bergembira mendapatkan bingkisan itu. Bingkisan ini
terdiri dari empat macam, ada yang berupa tube, ada yang berupa botol, dan yang
pasti semua menggunakan Merk dengan huruf dan penjelasan berbahasa Korea. Namun
demikian manusia sebagai homo sapien (manusia berpikir) makatidak akan sulit
untuk belajar dari pengalaman dan keadaan. Dengan melihat bentuk tabungnya,
model kemasannya, serta mencium aromanya biasanya sudah cukup untuk
mengidentifikasi apa benda yang sedang diamatinya. Yang dikemas dalam tube
dengan aroma dan warna yang khas dapat dia pastikan sebagai pasta gigi atau
odol, meskipun dia nggak tahu merk nya. Dua botol lain yang agak besar dan
gepeng dengan warna yang berbeda dia kenali sebagai sampo dan conditionernya,
sementara yang satu botol lagi dia merasa belum pernah mengenalnya. Botol ini
relatif lebih besar dari botol lainnya, dengan ada mekanisme tekan untuk
mengeluarkan isinya. Ketika dicoba diperiksa, ternyata isinya berupa cairan
kental dengan aroma tertentu yang berbeda dengan sampo ataupun odol. Meskipun
dia belum mengenalnya tetapi tidak ada penolakan dari syaraf perasa dan perabanya.
Dia mulai mengamati, kemudian menduga dan selanjutnya mencoba agar dapat
memastikannya. Dia ambil setetes, kemudian dia oleskan pada sebagian permukaan
tangannya. Sesaat dia merasakan kulitnya jadi halus dan lembab. Karena hari itu
adalah hari menjelang musim gugur maka dari hasil experiemen singkatnya itu dia
menduga, kemudian meyakini bahwa itu adalah pelembab.
“Wah, untung ini
ada pelembab. Pengurus komunitas muslim itu baik sekali. Dia tahu yang kita
butuhkan. Kebetulan kok lupa nggak bawa dari Indonesia. Kayaknya dia memang
sudah pengalaman di sini”, gumamnya sebagai bentuk rasa syukurnya.
Sejak saat itu
maka cairan “pelembab” itu dia gunakan sehari-hari untuk membaluri tubuhnya.
Sesuai dengan keyakinannya maka kelembaban kulit yang diharapkan dia peroleh.
Hal ini menambah keyakinannya bahwa analisisnya sebagai homo sapien dapat
diandalkan. Apalagi bila tiba saat mandi. Ketika dia mulai mengguyur tubuhnya
kemudian dia gosok-gosok permukaan kulitnya maka dia merasakan bahwa kulitnya
menjadi terasa sangat halus.
“Wah, ini memang
pelembab super, Pelembab Istimewa. Disamping sebagai pelembab, juga sekaligus
mengandung bahan menghaluskan kulit”. Kejadian ini membuat dia semakin rajin
menggunakan “pelembab” itu.
Hari terus
berjalan, musim gugur semakin dingin, maka semakin sering pula “pelembab” itu
membaluri tubuhnya. Sementara itu dalam rentang waktu yang terus berjalan, dia
mulai merasakan tanda-tanda aneh dikulitnya. Rasa gatal mulia menyerang dan
dibarengi dengan munculnya bintik-bintik merah. Awalnya dia abaikan saja, dan
dia menggaruk ringan seperti biasanya kalau kegatalan muncul. Tidak terlintas
sedikitpun bahwa sumber masalahnya adalah “pelembab” itu. Justru yang terpikir
adalah alergi musim dingin, karena ada beberapa tipe kulit tertentu yang memang
alergi terhadap musim dingin. Oleh karena itu maka pemakaian “pelembab” itupun
tidak terpikir untuk dihentikan.
Hari berbilang
menjadi minggu dan minggu berganti bulan, dan akhirnya sampailah di bulan ke
17, akhir penugasan di Korea ini. Stok cadangan“pelembab” itu menjadi semakin
menipis. Keluhan gatalnya tidak pernah hilang, dan keluhan kulit gatal ini dia
simpan sendiri kerena itu adalah rahasia pribadi, tidak pernah diceritakan
kepada siapapun.
“Malu maluin ah,
keluhan kok kulit gatal. Ntar malah dikira ongkos air bulanan yang kecil ini
karena nggak pernah mandi”.
Tidak diketahui
bagaimana awalnya dan siapa yang memulainya, sambil menunggu saat sholat tiba
terjadi diskusi ringan di Mushola CRDC, dan tanpa sadar diskusi berbelok ke
bingkisan selamat datang yang dulu diberikan oleh pengurus komunitas muslim
Daejeon yang ditemuinya. Ceritapun bersambut karena kebetulan hadir juga
koleganya yang sama-sama menerima bingkisan itu. Ada yang menimpali,
“odolku sudah
habis beberapa bulan yang lalu”, atau
“sampo dan
kondisionernya yang awet karena rambuku kan cenderung pendek sehingga tidak
menuntut konsumsi sampo dan conditioner yang terlalu banyak”.
Ketika koleganya
bercerita tentang botol ke 4, botol besar yang berisi cairan kental, dia hanya
diam sambil berpikir. Dia mencoba menganalisa setiap kalimat cerita dari
koleganya itu, karena setiap kalimat yang diceritakan yang berhubungan dengan
botol keempat itu konteks dan penggunaannya jauh berbeda dengan yang dia
lakukan. Koleganya bercerita bahwa botol keempat itu dia letakkan di kamar
mandi agar lebih mudah dijangkau saat diperlukan karena kepantasan pemakaiannya
memang hanya di kamar mandi. Hampir setiap mandi dia gunakan cairan botol itu.
Artinya dia tidak pernah menggunakan cairan itu sesudah mandi. Kesimpulan dia
atas cerita terakhir ini betul-betul menjadi seperti palu hakim yang sedang
menjatuhkan vonis kepada terdakwa, “KAMU SALAH”. Bagaimana mungkin koleganya
hanya menggunakan isi botol itu saat mandi saja dan tidak pernah menggunakan
sesudah mandi?
“Kayaknya ada
yang salah ini, tapi siapa yang salah ini sebenarnya? Saya yang salah
penggunaan atau dia yang salah?”, itu yang terlintas, sementara koleganya
meneruskan cerita.
Hasil
analisisnya dan rasa penasarannyalah yang menghentikan cerita koleganya itu.
“Lho Pak, botol
yang itu kok dipakainya hanya pas mandi saja, emangnya botol itu apa sich?.”,
selanya. Tentu ganti koleganya yang agak terkejut atas interupsi pertanyaan
itu. Dia bukan terkejut karena interupsinya, tetapi terkejut dengan
pertanyaannya, karena bingkisan itu sudah diterima lebih dari setahun yang lalu
dan sekarang kok baru ditanyakan apa isinya. Maka wajar saja kalau koleganya
justru balik bertanya, “lho emang kamu kira apa itu?”.
Dengan jujur dia
menjawab, “Lho itu kan cairan “pelembab”?, aku memakainya tiap hari kok”.
Sontak koleganya
itu tertawa terpingkal-pingkal tiada habisnya hingga hampir membatalkan
kesanggupannya untuk menjadi imam saat sholat wajib tiba.
“Lho pak,
bagaimana mengira kalau itu pelembab? itu ka nada tulisannya !”
Dibalas,
“Tulisan yang mana?”
“Itu, yang
tulisan dalam bahasa Korea itu !”.
Dari titik ini
nampaknya mulai terang permasalahannya. Dia tidak tahu karena dia tidak
membaca, lebih tepatnya karena dia tidak bisa membaca. Kemudian dijelaskan oleh
koleganya,
“Itu tuch pak,
tulisannya emang dalam huruf Korea, tetapi bunyinya seperti bahasa Inggris, itu
BODDI WEOSHE paaakkk”.
“lha dalah…”.
Dia hanya bisa memandang koleganya dengan penuh menyesalan, sementara kolega
dan semua yang ada di mushola itu tertawa terbahak bahak.
Akhirnya dia
menyadari kesalahannya, “kayaknya ini sumber kegatalan diseluruh tubuhku selama
ini”.
Saat sholat
telah tiba, dia segera berdiri,
“Woalah Body
wash, Body wash, kirain pelembab !!”, gumamnya sambil sambil disambut tawa
seluruh jamaah yang sudah menunggu, sementara koleganya, masih belum bisa
berhenti tertawa membayangkan kepolosan temannya itu. Hanya karena sholat harus
segera dimulai maka tawapun berhenti. Namun demikian, sepertinya sholat hari
itu tidak begitu khusuk karena mungkin saat memimpin sholat, imamnya masih
belum bisa menahan tawa. “cekickickcikck”
Daejeon,
November 01 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar