Jumat, 07 Oktober 2016

Pelembab Istimewa…


Pelembab Istimewa…
Mati Ketawa Gaya Korea 23

S

eorang muslim yang baik akan selalu berusaha untuk membangun silaturahmi, dimanapun mereka berada. Tidak terkecuali di Korea ini. Di negeri yang mayoritas penduduknya tidak beragama Islam ini maka mencari dan bersilaturahmi dengan saudara seiman menjadi sesuatu yang menantang dan menarik untuk diketemukan. Disamping ditugaskan oleh dinas sebagai engineer pesawat terbang, namun di waktu luang secara pribadi ada beberapa orang yang memang memiliki semangat untuk berkomunikasi dan membangun silaturahmi dengan saudara-saudara muslimnya tidak peduli berasal dari Negara atau ras mana mereka.

Di kota yang relatif terbuka seperti Daejeon ini, apalagi sudah banyak mahasiswa ataupun pekerja Indonesia yang sudah datang sebelumnya maka tidak terlalu sulit untuk mencari atau menemui komunitas saudara-saudara muslim sekedar untuk silaturahmi, membangun persahabatan, menjalin persaudaraan.

Komunitas muslim di Daejeon ini masih didominasi oleh para pendatang, baik para pekerja maupun mahasiswa yang sedang mengambil studi di berbagai universitas seperti di Kaist ataupun Chungnam University. Dengan penggerak mahasiswa, yang umumnya sedang mengambil program master ataupun doctor maka komunikasi dengan sesama muslim pendatang relatif tidak banyak kendala bahasa. Melalui teman mahasiswa juga beberapa engineer berhasil menemukan komunitas muslim yang kebetulan merupakan gabungan dari berbagai Negara. Itulah yang memang dicari.

Sebagai lembaga dakwah, komunitas ini juga membuka lebar-lebar atas kunjungan dari manapun juga. Entah mengambil tradisi dari mana, dalam kunjungan dan pertemuan pertama ini beberapa engineer kita ini mendapatkan paket bingkisan semacam bingkisan selamat datang. Tentu bergembira mendapatkan bingkisan itu. Bingkisan ini terdiri dari empat macam, ada yang berupa tube, ada yang berupa botol, dan yang pasti semua menggunakan Merk dengan huruf dan penjelasan berbahasa Korea. Namun demikian manusia sebagai homo sapien (manusia berpikir) makatidak akan sulit untuk belajar dari pengalaman dan keadaan. Dengan melihat bentuk tabungnya, model kemasannya, serta mencium aromanya biasanya sudah cukup untuk mengidentifikasi apa benda yang sedang diamatinya. Yang dikemas dalam tube dengan aroma dan warna yang khas dapat dia pastikan sebagai pasta gigi atau odol, meskipun dia nggak tahu merk nya. Dua botol lain yang agak besar dan gepeng dengan warna yang berbeda dia kenali sebagai sampo dan conditionernya, sementara yang satu botol lagi dia merasa belum pernah mengenalnya. Botol ini relatif lebih besar dari botol lainnya, dengan ada mekanisme tekan untuk mengeluarkan isinya. Ketika dicoba diperiksa, ternyata isinya berupa cairan kental dengan aroma tertentu yang berbeda dengan sampo ataupun odol. Meskipun dia belum mengenalnya tetapi tidak ada penolakan dari syaraf perasa dan perabanya. Dia mulai mengamati, kemudian menduga dan selanjutnya mencoba agar dapat memastikannya. Dia ambil setetes, kemudian dia oleskan pada sebagian permukaan tangannya. Sesaat dia merasakan kulitnya jadi halus dan lembab. Karena hari itu adalah hari menjelang musim gugur maka dari hasil experiemen singkatnya itu dia menduga, kemudian meyakini bahwa itu adalah pelembab.

“Wah, untung ini ada pelembab. Pengurus komunitas muslim itu baik sekali. Dia tahu yang kita butuhkan. Kebetulan kok lupa nggak bawa dari Indonesia. Kayaknya dia memang sudah pengalaman di sini”, gumamnya sebagai bentuk rasa syukurnya.

Sejak saat itu maka cairan “pelembab” itu dia gunakan sehari-hari untuk membaluri tubuhnya. Sesuai dengan keyakinannya maka kelembaban kulit yang diharapkan dia peroleh. Hal ini menambah keyakinannya bahwa analisisnya sebagai homo sapien dapat diandalkan. Apalagi bila tiba saat mandi. Ketika dia mulai mengguyur tubuhnya kemudian dia gosok-gosok permukaan kulitnya maka dia merasakan bahwa kulitnya menjadi terasa sangat halus.

“Wah, ini memang pelembab super, Pelembab Istimewa. Disamping sebagai pelembab, juga sekaligus mengandung bahan menghaluskan kulit”. Kejadian ini membuat dia semakin rajin menggunakan “pelembab” itu.

Hari terus berjalan, musim gugur semakin dingin, maka semakin sering pula “pelembab” itu membaluri tubuhnya. Sementara itu dalam rentang waktu yang terus berjalan, dia mulai merasakan tanda-tanda aneh dikulitnya. Rasa gatal mulia menyerang dan dibarengi dengan munculnya bintik-bintik merah. Awalnya dia abaikan saja, dan dia menggaruk ringan seperti biasanya kalau kegatalan muncul. Tidak terlintas sedikitpun bahwa sumber masalahnya adalah “pelembab” itu. Justru yang terpikir adalah alergi musim dingin, karena ada beberapa tipe kulit tertentu yang memang alergi terhadap musim dingin. Oleh karena itu maka pemakaian “pelembab” itupun tidak terpikir untuk dihentikan.

Hari berbilang menjadi minggu dan minggu berganti bulan, dan akhirnya sampailah di bulan ke 17, akhir penugasan di Korea ini. Stok cadangan“pelembab” itu menjadi semakin menipis. Keluhan gatalnya tidak pernah hilang, dan keluhan kulit gatal ini dia simpan sendiri kerena itu adalah rahasia pribadi, tidak pernah diceritakan kepada siapapun.

“Malu maluin ah, keluhan kok kulit gatal. Ntar malah dikira ongkos air bulanan yang kecil ini karena nggak pernah mandi”.

Tidak diketahui bagaimana awalnya dan siapa yang memulainya, sambil menunggu saat sholat tiba terjadi diskusi ringan di Mushola CRDC, dan tanpa sadar diskusi berbelok ke bingkisan selamat datang yang dulu diberikan oleh pengurus komunitas muslim Daejeon yang ditemuinya. Ceritapun bersambut karena kebetulan hadir juga koleganya yang sama-sama menerima bingkisan itu. Ada yang menimpali,

“odolku sudah habis beberapa bulan yang lalu”, atau

“sampo dan kondisionernya yang awet karena rambuku kan cenderung pendek sehingga tidak menuntut konsumsi sampo dan conditioner yang terlalu banyak”.

Ketika koleganya bercerita tentang botol ke 4, botol besar yang berisi cairan kental, dia hanya diam sambil berpikir. Dia mencoba menganalisa setiap kalimat cerita dari koleganya itu, karena setiap kalimat yang diceritakan yang berhubungan dengan botol keempat itu konteks dan penggunaannya jauh berbeda dengan yang dia lakukan. Koleganya bercerita bahwa botol keempat itu dia letakkan di kamar mandi agar lebih mudah dijangkau saat diperlukan karena kepantasan pemakaiannya memang hanya di kamar mandi. Hampir setiap mandi dia gunakan cairan botol itu. Artinya dia tidak pernah menggunakan cairan itu sesudah mandi. Kesimpulan dia atas cerita terakhir ini betul-betul menjadi seperti palu hakim yang sedang menjatuhkan vonis kepada terdakwa, “KAMU SALAH”. Bagaimana mungkin koleganya hanya menggunakan isi botol itu saat mandi saja dan tidak pernah menggunakan sesudah mandi?

“Kayaknya ada yang salah ini, tapi siapa yang salah ini sebenarnya? Saya yang salah penggunaan atau dia yang salah?”, itu yang terlintas, sementara koleganya meneruskan cerita.

Hasil analisisnya dan rasa penasarannyalah yang menghentikan cerita koleganya itu.

“Lho Pak, botol yang itu kok dipakainya hanya pas mandi saja, emangnya botol itu apa sich?.”, selanya. Tentu ganti koleganya yang agak terkejut atas interupsi pertanyaan itu. Dia bukan terkejut karena interupsinya, tetapi terkejut dengan pertanyaannya, karena bingkisan itu sudah diterima lebih dari setahun yang lalu dan sekarang kok baru ditanyakan apa isinya. Maka wajar saja kalau koleganya justru balik bertanya, “lho emang kamu kira apa itu?”.

Dengan jujur dia menjawab, “Lho itu kan cairan “pelembab”?, aku memakainya tiap hari kok”.

Sontak koleganya itu tertawa terpingkal-pingkal tiada habisnya hingga hampir membatalkan kesanggupannya untuk menjadi imam saat sholat wajib tiba.

“Lho pak, bagaimana mengira kalau itu pelembab? itu ka nada tulisannya !”

Dibalas, “Tulisan yang mana?”

“Itu, yang tulisan dalam bahasa Korea itu !”.

Dari titik ini nampaknya mulai terang permasalahannya. Dia tidak tahu karena dia tidak membaca, lebih tepatnya karena dia tidak bisa membaca. Kemudian dijelaskan oleh koleganya,

“Itu tuch pak, tulisannya emang dalam huruf Korea, tetapi bunyinya seperti bahasa Inggris, itu BODDI WEOSHE paaakkk”.

“lha dalah…”. Dia hanya bisa memandang koleganya dengan penuh menyesalan, sementara kolega dan semua yang ada di mushola itu tertawa terbahak bahak.

Akhirnya dia menyadari kesalahannya, “kayaknya ini sumber kegatalan diseluruh tubuhku selama ini”.

Saat sholat telah tiba, dia segera berdiri,

“Woalah Body wash, Body wash, kirain pelembab !!”, gumamnya sambil sambil disambut tawa seluruh jamaah yang sudah menunggu, sementara koleganya, masih belum bisa berhenti tertawa membayangkan kepolosan temannya itu. Hanya karena sholat harus segera dimulai maka tawapun berhenti. Namun demikian, sepertinya sholat hari itu tidak begitu khusuk karena mungkin saat memimpin sholat, imamnya masih belum bisa menahan tawa. “cekickickcikck”

Daejeon, November 01 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar