Dan Tuhanpun hanya mampu terkekeh…
Mati Ketawa Gaya Korea 17
kenangan khusus untuk Letkol Pnb. Marda Sarjono (Almarhum)
|
S
|
alah satu agenda
lain disamping melaksanakan tugas perancangan pesawat tempur adalah mengunjungi
lembaga-lembaga yang dirasa akan berguna menunjang program KFX/IFX ini. Setelah
sebelumnya mengunjungi beberapa industri di Korea seperti KAI, KAL, LIG, Hyundai
dan Samsung Tech Wing, kali ini kunjungan dilaksanakan ke lembaga penelitian
dan pengembangan, yaitu KIMM (Korean Institute of Machinery and Materials).
Setiap kali ada
kunjungan tentu akan disambut dengan kegembiraan oleh seluruh anggota Balitbang
yang ada di CRDC karena alasan yang sederhana yaitu rilex sejenak meninggalkan
kejenuhan kerja, jalan-jalan ke tempat lain yang mungkin menarik dan hampir
pasti akan ditutup dengan jamuan makan siang atau makan malam.
Namun pada
saatnya kegembiraan seperti ini tidak dapat dirasakan oleh orang yang secara
struktural ditugasi untuk memimpin dan “mengasuh” para staff ini. Alih alih
kegembiraan bahkah kadang hingga rasa malu yang dirasakan. Bagaimana tidak
malu, setiap kali kunjungan sudah menjadi kebiasaan perusahaan atau lembaga di
Korea yang selalu memberikan souvenir atau kenang kenangan sekecil atau
sesederhana apapun kepada tamunya yang berkunjung, seluruhnya. Bahkan untuk
level pimpinan, suvenier yang diberikan tentu lebih bernilai dan diserahkan
secara formal di akhir forum perkenalan. Pada situasi seperti inilah kekikukan,
rasa bersalah hingga rasa malu muncul. “Masak sich kita nggak menyiapkan sama
sekali?”, keluhnya. Untuk menjaga martabat, kohormatan dan kesetaraan dalam
berhubungan maka sudah semestinya juga disiapkan souvenir balasan bila tuan
rumah akan memberikan souvenir. Sebuah etika persahabatan yang umum dan wajar,
sehingga kalau sampai ada yang mengingatkan “if you have some thing gift, you
can give. But if not, it’s OK” itupun sebenarnya juga ucapan yang sangat
wajar. Tetapi masalahnya bahwa sudah
jelas tidak ada souvenir yang dibawa, itu juga sebuah kenyataan, sehingga kalau
akhirnya muncul pertanyaan seperti itu bagi yang sudah terlanjur malu, serba
salah dan lain sebagainya ini maka pertanyaan itu bisa berubah nilai dan rasa
menjadi sindiran. “Kurang asem…., sudah jelas kita nggak bawa souvenir masih
juga ditanyain”, gumam komandan international collaboration yang benar-benar
merasa malu. Bagi seorang komandan yang baik, kepekaan seperti ini menandakan
bahwa ada tanggung jawab yang diemban dan harus dilaksanakan, yaitu menjaga
martabat dan kehormatan bangsa. Kalau situasi seperti ini tidak menimbulkan
rasa apa apa, maka bisa jadi justru menjadi aneh untuk seorang komandan. Sedangkan bagi para staf, bisa jadi nggak
tahu perang batin yang berkecamuk dihati komandan.
Bisa jadi yang
dipikir oleh para staf lebih terorientasi pada materi yang disajikan dan acara
sesi terakhir sebelum pulang.
Sepertinya sudah
jamak di Korea ini bagi perusahaan atau lembaga untuk menjamu tamu apalagi
tamunya ini hadir mewakili Negara, maka bentuk jamuannya pasti bukan jamuan
sembarangan. KIMM sebagai lembaga yang terbilang maju dan berhasil tentu tidak
ingin kebesaran namanya terdistorsi oleh tamunya hanya karena urusan jamuan
maka dalam kunjungan kali ini KIMM membawa engineer-engineer dari Indonesia ini
ke salah satu restoran terbaik yang ada di Daejeon ini. Ditunjukkan dari
besarnya restoran, menu dan pilihan sajian yang begitu lengkap dan banyak
bahkan terbilang sangat banyak. Berbagai menu berbasis hasil laut disajikan
mulai dari rumput laut, kerang, daging ikan salmon segar, kepiting, udang,
gurita, cumi dll, dll. Sushi yang khas Jepang juga tersaji. Bagi yang menyukai
daging bebek, ayam dan sapi tentu mudah dicari. Dan bagi penyuka “daging enak”
malah sangat mudah mendapatkannya. Belum lagi desert, salad, pudding, buah dan
aneka minuman mulai teh, kopi, cola, juice, bir, hingga soju. Telah disediakan
ruangan khusus untuk jamuan ini. Seluruh yang diundang telah menempatkan diri
sesuai jabatannya dan sesuai “ketangguhan”nya. Komandan international
collaboration sudah sewajarnya tampil di depan semeja bersama dengan counter
partnya Dr.Kim, Dr.Lee program direktur dari ADD, dan Direktur KIMM. Chief Eng
Indonesia yang sudah “berpengalaman” sudah tahu dimana tempat yang aman agar
terbebas dari “syetan”. Sekretaris KIMM belum ada yang menemani dan beberapa
professor ITB memiliki naluri yang tepat bahwa merekalah yang paling pas untuk
posisi itu, sementara beberapa prajurit TNI AU, sesuai fungsinya sebagai
“pelindung rakyat” menyebar di beberapa meja.
Sepatah dua
patah kata sambutan yang mewakili masing-masing institusi berlangsung singkat,
sehingga acara makan tidak perlu menunggu terlalu lama. Setelah ada aba
dipersilakan, seluruh yang hadir bertebaran untuk mencicipi menu apa yang akan
disantap pertama kali sesuai selera masing-masing. Kembali ke meja sambil
saling membandingkan menu-menu yang dibawa kalau kebetulan berbeda hal yang
biasa. Pertanyaan kecil sesudahnya terjadi seperti untuk yang kesekian kalinya.
“itu apa sich?”, “itu bebek bakar ya, dimana ambilnya?”, “lho aku nyari minuman
itu kok nggak ada ya?”, dst dst. Ritual antara meja duduk dan meja menu ini
dapat terjadi berkali kali sesuai dengan selera dan kapasitas perutnya.
Kapasitas perut ini tidak sebanding dengan volume badan. Yang badannya besar
belum tentu makannya lebih banyak, atau sebaliknya yang kurus atau kecil belum
tentu lebih sedikit. Oleh karena itu prosesi wira wiri ini akan berlangsung
cukup lama.
Bagi meja para
pemimpin, sepertinya yang disantap tidak sebanyak apa yang disantap para staf.
Tidak ada yang tahu persis kenapa begitu. Apakah menjaga gengsi, atau faktor
usia, atau sekedar menjaga image bahwa pemimpin itu makan nya tidak boleh
terlalu banyak sehingga menimbulkan kesan seperti orang kelaparan, atau
sebenarnya ada “acara lain” yang ingin disegerakan khususnya bagi para pemimpin
Korea itu, yaitu Soju.
Para enginer
Indonesia sangat tahu bahwa acara terakhir setelah makan adalah minum soju, oleh
karena itu bagi beberapa orang begitu mengetahui acara minum soju ini dimulai
maka mereka terus menyibukkan diri di ruang makanan dan nggak balik balik
seolah olah masih mencari makanan atau minuman yang perlu dicicipi. Pedahal
mereka itu sudah bolak balik antara meja duduk dan meja sajian berkali kali.
Sangat mudah ditebak bahwa mereka sekedar menghindar untuk tawaran soju yang
kadang memang sulit dihindari. Bagi para pemimpin Balitbang yang tergabung
dalam meja pemimpin, melihat sebagian staf sudah mulai hilang dari tempat duduk
maka semakin tidak ada alasan baginya untuk menghilang juga. “Masak para staf
sudah menghilang, komandannya juga ikut menghilang?” barangkali itu yang ada
dibenak komandan. Suka nggak suka, enak nggak enak, jiwa prajuritnya seakan
ditantang untuk menyelesaikan masalah, yaitu soju. Solusinya satu dan mantab
sesuai karakternya, Hadapi !!!.
Kesanggupan
komandan dan kerendahan hatinya untuk mau memposisikan diri di posisi itu
sekedar untuk menjaga hubungan baik tugas dan kerjasama antara Indonesia dengan
Korea yang sedang berlangsung ini, apresiasinya memang perlu ditempatkan pada
posisi yang proporsional. Bagi orang Korea, kesanggupan tamu tamu untuk
menemani minum soju ini memang berdampak pada kepercayaan dan persahabatan yang
pada akhirnya akan berdampak pada kelancaran komunikasi program.
Setelah meja
para pemimpin sudah melewati proses minum soju bersama maka teropong mengarah
ke meja meja lain yaitu para staf. Berapa staf mengira ketika prosesi minum
soju di meja pimpinan ini sudah tuntas maka acara selesai dan segera pulang. Dengan anggapan itu mereka kembali ke meja
masing masing. Namun yang terjadi selanjutnya ternyata tidak demikian. Dengan
alasan apapun acara dibuat agar seluruh yang hadir ikut minum Soju. Apakah demi
persahabatan, apakah demi menghormati tradisi atau alasan apapun juga pokoknya
semua mesti kebagian Soju. Sebagai “kehormatan” dan mungkin dianggap sebagai
institusi yang merepresentasikan “keberanian dan ketangguhan” maka Dr.Lee
memanggil wakil dari TNI AU untuk ke depan melakukan toast bareng minum soju
bersamanya. Tidak ada pilihan lain, pilot penerbang paling senior di CRDC yang
harus tampil ke depan mewakili institusinya sekaligus “melindungi” teman
temannya. Nampak jelas ada keenganan untuk berdiri, tapi lagi-lagi tidak bisa
menghindar. “One shoot” demikian Dr.Lee menyemangati dan langsung disambut
tepuk tangan. Bahwa sesudahnya pilot kita ini langsung ke kamar mandi untuk
menetralkan efeknya dengan cara menguras isi perutnya, itu urusan lain. Yang
jelas tugas sudah dilaksanakan. Titik.
Tanpa jeda waktu
yang terlalu lama, Dr.Kim sambil tersenyum memutar badannya dari tempat
duduknya sehingga arah tertuju ke salah satu meja yang ada di pojok. Senyum
Dr.Kim ke arah teman-teman yang duduk di meja pojok ini disambut tawa karena
itu artinya firasat buruk bagi mereka, sementara yang benar-benar tidak sanggup
menghadapinya pilihannya hanya satu, lari. Dr.Kim seakan tahu bahwa pasti akan
ada penolakan, namun dia juga tidak ingin ada penolakan. Dengan sedikit triki
psikologi dia membujuk teman-teman yang ada di meja itu untuk mau menemaninya
minum soju. Tentu spontan smua menolak. “Noooo !!!!”. Dia tidak menyerah,
dengan setengah mengiba, “Kawan, di tanganku ada sebotol Soju. Ini harus habis.
Kalau kalian tak mau menemaniku maka artinya aku harus menghabiskannya sendiri
dan itu artinya mungkin besok pagi saya akan mati. Jadi bantu aku agar aku
tidak mati besok pagi”. Sungguh rayuan gombal. Tapi karena jelas nggak bisa
ditolak kecuali ditinggal lari maka hanya prajuritlah yang sanggup mengatasi
situasi sulit ini. Sesuai sumpahnya sebagai pelindung rakyat maka prajurit maju
menyelesaikan masalah. Sesloki soju sudah ada di tangan. Terlihat ada sedikit
keraguan dihatinya, karena dia mungkin berfikir,”masak melindungi rakyat dari
urusan soju gini?”. Tapi itu tidak dapat terlalu lama karena Dr.Kim setengah
memaksanya untuk segera menegaknya sekali tegak, “one shoot”, sementara teman
lainnya bersorak kegirangan karena merasa urusan soju akan segera selesai
karena sudah diwakili oleh prajurit ini. Tanpa berpikir panjang toh sudah tidak
ada waktu untuk menolak lagi. Dengan menyebut nama Tuhannya, akhirnya dia
menegak sesloki soju itu hingga tandas bersama sama Dr.Kim. Penyebutan nama
Tuhannya selagi dia akan minum soju sunggu terasa janggal dan aneh sehingga
hanya membangkitkan tawa bagi yang melihat. Tawa yang sejadi jadinya.
Barangkali yang ada dibenaknya adalah semacam permohonan maaf bahwa bila pada
akhirnya dia “terpaksa” harus minum soju adalah benar benar karena dia tidak
bisa lari, tidak bisa menghindar atau kalaupun bisa menghindar pasti rakyatnya
yang celaka. Dia tidak menginginkan itu terjadi.
Dikira urusan
soju selesai karena sudah ada perwakilan yang menemaninya tapi Dr.Kim masih
berdalih, botol kecil itu masih belum habis maka masing masing harus kebagian.
Yang terjadi maka terjadilah. Sekarang ganti si prajurit yang tertawa terbahak
bahak karena kenyataannya bukan hanya dia sendiri yang jadi korban. Gelas sloki
sudah berpindah ke rakyat yang duduk di sebelah kanan prajuit. Dr.Kim dengan
sigap mengisi sloki kecil itu. Suasana begitu riuh tawa karena akhirnya semua
kebagian harus ikut minum. Tetapi ada kenakalan bagi rekan yang kebetulan
mendapat giliran untuk minum kali ini. Dia memang menunjukkan seakan akan siap
meminum isi sloki itu, namun dalam suansa yang begitu riuh dan cenderung gaduh
itu siapa yang bisa mengamati dengan jelas bagaimana cara dia minum.
Didekatkannya sloki penuh soju itu ke depan bibirnya, dan bibirpun juga sudah
menyiapkan diri menyambut sloki yang datang itu. Namun, dalam jarak hanya
beberapa millimeter sebelum sloki benar benar menyentuh bibir, sloki tersebut
sudah dituangkan. Dengan baju batik gelap yang dipakainya maka tumpahan soju
yang membasahi bajunya itu tidak akan begitu kelihatan karena selanjutnya gelas
sloki yang sudah kosong itulah yang benar benar menempel dibibirnya seakan akan
dia benar-benar meminumnya. Dr.Kim tidak begitu melihat “kecurangan” ini,
tetapi “korban lain” yang duduk disampingnya tentu melihat dengan jelas kalau
dia tidak meminumnya, tetapi menumpahkannya. “Kecurangan” ini menjadi tontonan
yang menggelikan dan membangkitkan tawa tiada habisnya. Kok ada ada saja
triknya untuk menghindari soju, hanya sayang, triknya ketahuan. Mengetahui
bahwa ternyata dia “curang” maka prosesi minum soju dia harus diulang. Kali ini
dengan soju se sloki penuh. Kali ini semua mengamati termasuk Dr.Kim sehingga
menjadi lebih sulit bagi dia untuk membuat tipuan lagi.
Berikutnya
giliran jatuh pada teman yang duduk di sebelahnya. Karena semua sudah kebagian
maka tidak ada alasan untuk menghindar lagi apalagi dapat dianggap “disersi”
alias tidak solider. Menang atau kalah hadapi bareng, minum atau tidak sudah
diputuskan dan hadapi bareng. Setelah saling tuang dengan Dr.Kim maka tidak ada
waktu lagi untuk tidak segera minum. Namun ada pergolakan yang ada di batinnya.
Kalau makole bolehlah, tapi ini Soju, minuman asing yang belum pernah tau. Ada
semacam penolakan dibatinnya, tapi sudah terlanjur bersepakat untuk menghadapi
bareng. Pantang disersi dan pantang berkhianat. Melihat situasinya serta
merasakan apa yang ada di batinnya maka dia mencoba meminta belas kasihan pada
Tuhannya. “Ya Tuhan maafkan aku, aku terpaksa, aku dipaksa !”. Ibaan yang
sangat jelas terucap dan hanya menjadi tertawaan saja. Bahkan, siapapun yang
mendengar pasti akan ikut tertawa hingga prajurit yang sudah menjalankan
“tugasnya” sampai harus terguling-guling tertawa melihat cara temannya mengiba
pada Tuhannya.
Dia mengiba dan
dia mencoba minta dispensasi kepada Tuhannya karena dia merasa ada pada situasi
yang agak sulit menghindarinya. Padahal, semuanya tahu bahwa Tuhannya juga
tidak tidur. “Lu aja yang dari tadi menunggu dipaksa oleh Dr.Kim, emang Aku
nggak tahu?”, barangkali itu komentar Tuhan sambil terkekeh melihat ibaan dan
akal-akalan anak manusia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar