Jumat, 07 Oktober 2016

Dan Tuhanpun hanya mampu terkekeh…


Dan Tuhanpun hanya mampu terkekeh…
Mati Ketawa Gaya Korea 17
kenangan khusus untuk Letkol Pnb. Marda Sarjono (Almarhum)

S

alah satu agenda lain disamping melaksanakan tugas perancangan pesawat tempur adalah mengunjungi lembaga-lembaga yang dirasa akan berguna menunjang program KFX/IFX ini. Setelah sebelumnya mengunjungi beberapa industri di Korea seperti KAI, KAL, LIG, Hyundai dan Samsung Tech Wing, kali ini kunjungan dilaksanakan ke lembaga penelitian dan pengembangan, yaitu KIMM (Korean Institute of Machinery and Materials).

Setiap kali ada kunjungan tentu akan disambut dengan kegembiraan oleh seluruh anggota Balitbang yang ada di CRDC karena alasan yang sederhana yaitu rilex sejenak meninggalkan kejenuhan kerja, jalan-jalan ke tempat lain yang mungkin menarik dan hampir pasti akan ditutup dengan jamuan makan siang atau makan malam.

Namun pada saatnya kegembiraan seperti ini tidak dapat dirasakan oleh orang yang secara struktural ditugasi untuk memimpin dan “mengasuh” para staff ini. Alih alih kegembiraan bahkah kadang hingga rasa malu yang dirasakan. Bagaimana tidak malu, setiap kali kunjungan sudah menjadi kebiasaan perusahaan atau lembaga di Korea yang selalu memberikan souvenir atau kenang kenangan sekecil atau sesederhana apapun kepada tamunya yang berkunjung, seluruhnya. Bahkan untuk level pimpinan, suvenier yang diberikan tentu lebih bernilai dan diserahkan secara formal di akhir forum perkenalan. Pada situasi seperti inilah kekikukan, rasa bersalah hingga rasa malu muncul. “Masak sich kita nggak menyiapkan sama sekali?”, keluhnya. Untuk menjaga martabat, kohormatan dan kesetaraan dalam berhubungan maka sudah semestinya juga disiapkan souvenir balasan bila tuan rumah akan memberikan souvenir. Sebuah etika persahabatan yang umum dan wajar, sehingga kalau sampai ada yang mengingatkan “if you have some thing gift, you can give. But if not, it’s OK” itupun sebenarnya juga ucapan yang sangat wajar.  Tetapi masalahnya bahwa sudah jelas tidak ada souvenir yang dibawa, itu juga sebuah kenyataan, sehingga kalau akhirnya muncul pertanyaan seperti itu bagi yang sudah terlanjur malu, serba salah dan lain sebagainya ini maka pertanyaan itu bisa berubah nilai dan rasa menjadi sindiran. “Kurang asem…., sudah jelas kita nggak bawa souvenir masih juga ditanyain”, gumam komandan international collaboration yang benar-benar merasa malu. Bagi seorang komandan yang baik, kepekaan seperti ini menandakan bahwa ada tanggung jawab yang diemban dan harus dilaksanakan, yaitu menjaga martabat dan kehormatan bangsa. Kalau situasi seperti ini tidak menimbulkan rasa apa apa, maka bisa jadi justru menjadi aneh untuk seorang komandan.  Sedangkan bagi para staf, bisa jadi nggak tahu perang batin yang berkecamuk dihati komandan.

Bisa jadi yang dipikir oleh para staf lebih terorientasi pada materi yang disajikan dan acara sesi terakhir sebelum pulang.

Sepertinya sudah jamak di Korea ini bagi perusahaan atau lembaga untuk menjamu tamu apalagi tamunya ini hadir mewakili Negara, maka bentuk jamuannya pasti bukan jamuan sembarangan. KIMM sebagai lembaga yang terbilang maju dan berhasil tentu tidak ingin kebesaran namanya terdistorsi oleh tamunya hanya karena urusan jamuan maka dalam kunjungan kali ini KIMM membawa engineer-engineer dari Indonesia ini ke salah satu restoran terbaik yang ada di Daejeon ini. Ditunjukkan dari besarnya restoran, menu dan pilihan sajian yang begitu lengkap dan banyak bahkan terbilang sangat banyak. Berbagai menu berbasis hasil laut disajikan mulai dari rumput laut, kerang, daging ikan salmon segar, kepiting, udang, gurita, cumi dll, dll. Sushi yang khas Jepang juga tersaji. Bagi yang menyukai daging bebek, ayam dan sapi tentu mudah dicari. Dan bagi penyuka “daging enak” malah sangat mudah mendapatkannya. Belum lagi desert, salad, pudding, buah dan aneka minuman mulai teh, kopi, cola, juice, bir, hingga soju. Telah disediakan ruangan khusus untuk jamuan ini. Seluruh yang diundang telah menempatkan diri sesuai jabatannya dan sesuai “ketangguhan”nya. Komandan international collaboration sudah sewajarnya tampil di depan semeja bersama dengan counter partnya Dr.Kim, Dr.Lee program direktur dari ADD, dan Direktur KIMM. Chief Eng Indonesia yang sudah “berpengalaman” sudah tahu dimana tempat yang aman agar terbebas dari “syetan”. Sekretaris KIMM belum ada yang menemani dan beberapa professor ITB memiliki naluri yang tepat bahwa merekalah yang paling pas untuk posisi itu, sementara beberapa prajurit TNI AU, sesuai fungsinya sebagai “pelindung rakyat” menyebar di beberapa meja.

Sepatah dua patah kata sambutan yang mewakili masing-masing institusi berlangsung singkat, sehingga acara makan tidak perlu menunggu terlalu lama. Setelah ada aba dipersilakan, seluruh yang hadir bertebaran untuk mencicipi menu apa yang akan disantap pertama kali sesuai selera masing-masing. Kembali ke meja sambil saling membandingkan menu-menu yang dibawa kalau kebetulan berbeda hal yang biasa. Pertanyaan kecil sesudahnya terjadi seperti untuk yang kesekian kalinya. “itu apa sich?”, “itu bebek bakar ya, dimana ambilnya?”, “lho aku nyari minuman itu kok nggak ada ya?”, dst dst. Ritual antara meja duduk dan meja menu ini dapat terjadi berkali kali sesuai dengan selera dan kapasitas perutnya. Kapasitas perut ini tidak sebanding dengan volume badan. Yang badannya besar belum tentu makannya lebih banyak, atau sebaliknya yang kurus atau kecil belum tentu lebih sedikit. Oleh karena itu prosesi wira wiri ini akan berlangsung cukup lama.

Bagi meja para pemimpin, sepertinya yang disantap tidak sebanyak apa yang disantap para staf. Tidak ada yang tahu persis kenapa begitu. Apakah menjaga gengsi, atau faktor usia, atau sekedar menjaga image bahwa pemimpin itu makan nya tidak boleh terlalu banyak sehingga menimbulkan kesan seperti orang kelaparan, atau sebenarnya ada “acara lain” yang ingin disegerakan khususnya bagi para pemimpin Korea itu, yaitu Soju.

Para enginer Indonesia sangat tahu bahwa acara terakhir setelah makan adalah minum soju, oleh karena itu bagi beberapa orang begitu mengetahui acara minum soju ini dimulai maka mereka terus menyibukkan diri di ruang makanan dan nggak balik balik seolah olah masih mencari makanan atau minuman yang perlu dicicipi. Pedahal mereka itu sudah bolak balik antara meja duduk dan meja sajian berkali kali. Sangat mudah ditebak bahwa mereka sekedar menghindar untuk tawaran soju yang kadang memang sulit dihindari. Bagi para pemimpin Balitbang yang tergabung dalam meja pemimpin, melihat sebagian staf sudah mulai hilang dari tempat duduk maka semakin tidak ada alasan baginya untuk menghilang juga. “Masak para staf sudah menghilang, komandannya juga ikut menghilang?” barangkali itu yang ada dibenak komandan. Suka nggak suka, enak nggak enak, jiwa prajuritnya seakan ditantang untuk menyelesaikan masalah, yaitu soju. Solusinya satu dan mantab sesuai karakternya, Hadapi !!!.

Kesanggupan komandan dan kerendahan hatinya untuk mau memposisikan diri di posisi itu sekedar untuk menjaga hubungan baik tugas dan kerjasama antara Indonesia dengan Korea yang sedang berlangsung ini, apresiasinya memang perlu ditempatkan pada posisi yang proporsional. Bagi orang Korea, kesanggupan tamu tamu untuk menemani minum soju ini memang berdampak pada kepercayaan dan persahabatan yang pada akhirnya akan berdampak pada kelancaran komunikasi program.

Setelah meja para pemimpin sudah melewati proses minum soju bersama maka teropong mengarah ke meja meja lain yaitu para staf. Berapa staf mengira ketika prosesi minum soju di meja pimpinan ini sudah tuntas maka acara selesai dan segera pulang.  Dengan anggapan itu mereka kembali ke meja masing masing. Namun yang terjadi selanjutnya ternyata tidak demikian. Dengan alasan apapun acara dibuat agar seluruh yang hadir ikut minum Soju. Apakah demi persahabatan, apakah demi menghormati tradisi atau alasan apapun juga pokoknya semua mesti kebagian Soju. Sebagai “kehormatan” dan mungkin dianggap sebagai institusi yang merepresentasikan “keberanian dan ketangguhan” maka Dr.Lee memanggil wakil dari TNI AU untuk ke depan melakukan toast bareng minum soju bersamanya. Tidak ada pilihan lain, pilot penerbang paling senior di CRDC yang harus tampil ke depan mewakili institusinya sekaligus “melindungi” teman temannya. Nampak jelas ada keenganan untuk berdiri, tapi lagi-lagi tidak bisa menghindar. “One shoot” demikian Dr.Lee menyemangati dan langsung disambut tepuk tangan. Bahwa sesudahnya pilot kita ini langsung ke kamar mandi untuk menetralkan efeknya dengan cara menguras isi perutnya, itu urusan lain. Yang jelas tugas sudah dilaksanakan. Titik.

Tanpa jeda waktu yang terlalu lama, Dr.Kim sambil tersenyum memutar badannya dari tempat duduknya sehingga arah tertuju ke salah satu meja yang ada di pojok. Senyum Dr.Kim ke arah teman-teman yang duduk di meja pojok ini disambut tawa karena itu artinya firasat buruk bagi mereka, sementara yang benar-benar tidak sanggup menghadapinya pilihannya hanya satu, lari. Dr.Kim seakan tahu bahwa pasti akan ada penolakan, namun dia juga tidak ingin ada penolakan. Dengan sedikit triki psikologi dia membujuk teman-teman yang ada di meja itu untuk mau menemaninya minum soju. Tentu spontan smua menolak. “Noooo !!!!”. Dia tidak menyerah, dengan setengah mengiba, “Kawan, di tanganku ada sebotol Soju. Ini harus habis. Kalau kalian tak mau menemaniku maka artinya aku harus menghabiskannya sendiri dan itu artinya mungkin besok pagi saya akan mati. Jadi bantu aku agar aku tidak mati besok pagi”. Sungguh rayuan gombal. Tapi karena jelas nggak bisa ditolak kecuali ditinggal lari maka hanya prajuritlah yang sanggup mengatasi situasi sulit ini. Sesuai sumpahnya sebagai pelindung rakyat maka prajurit maju menyelesaikan masalah. Sesloki soju sudah ada di tangan. Terlihat ada sedikit keraguan dihatinya, karena dia mungkin berfikir,”masak melindungi rakyat dari urusan soju gini?”. Tapi itu tidak dapat terlalu lama karena Dr.Kim setengah memaksanya untuk segera menegaknya sekali tegak, “one shoot”, sementara teman lainnya bersorak kegirangan karena merasa urusan soju akan segera selesai karena sudah diwakili oleh prajurit ini. Tanpa berpikir panjang toh sudah tidak ada waktu untuk menolak lagi. Dengan menyebut nama Tuhannya, akhirnya dia menegak sesloki soju itu hingga tandas bersama sama Dr.Kim. Penyebutan nama Tuhannya selagi dia akan minum soju sunggu terasa janggal dan aneh sehingga hanya membangkitkan tawa bagi yang melihat. Tawa yang sejadi jadinya. Barangkali yang ada dibenaknya adalah semacam permohonan maaf bahwa bila pada akhirnya dia “terpaksa” harus minum soju adalah benar benar karena dia tidak bisa lari, tidak bisa menghindar atau kalaupun bisa menghindar pasti rakyatnya yang celaka. Dia tidak menginginkan itu terjadi.

Dikira urusan soju selesai karena sudah ada perwakilan yang menemaninya tapi Dr.Kim masih berdalih, botol kecil itu masih belum habis maka masing masing harus kebagian. Yang terjadi maka terjadilah. Sekarang ganti si prajurit yang tertawa terbahak bahak karena kenyataannya bukan hanya dia sendiri yang jadi korban. Gelas sloki sudah berpindah ke rakyat yang duduk di sebelah kanan prajuit. Dr.Kim dengan sigap mengisi sloki kecil itu. Suasana begitu riuh tawa karena akhirnya semua kebagian harus ikut minum. Tetapi ada kenakalan bagi rekan yang kebetulan mendapat giliran untuk minum kali ini. Dia memang menunjukkan seakan akan siap meminum isi sloki itu, namun dalam suansa yang begitu riuh dan cenderung gaduh itu siapa yang bisa mengamati dengan jelas bagaimana cara dia minum. Didekatkannya sloki penuh soju itu ke depan bibirnya, dan bibirpun juga sudah menyiapkan diri menyambut sloki yang datang itu. Namun, dalam jarak hanya beberapa millimeter sebelum sloki benar benar menyentuh bibir, sloki tersebut sudah dituangkan. Dengan baju batik gelap yang dipakainya maka tumpahan soju yang membasahi bajunya itu tidak akan begitu kelihatan karena selanjutnya gelas sloki yang sudah kosong itulah yang benar benar menempel dibibirnya seakan akan dia benar-benar meminumnya. Dr.Kim tidak begitu melihat “kecurangan” ini, tetapi “korban lain” yang duduk disampingnya tentu melihat dengan jelas kalau dia tidak meminumnya, tetapi menumpahkannya. “Kecurangan” ini menjadi tontonan yang menggelikan dan membangkitkan tawa tiada habisnya. Kok ada ada saja triknya untuk menghindari soju, hanya sayang, triknya ketahuan. Mengetahui bahwa ternyata dia “curang” maka prosesi minum soju dia harus diulang. Kali ini dengan soju se sloki penuh. Kali ini semua mengamati termasuk Dr.Kim sehingga menjadi lebih sulit bagi dia untuk membuat tipuan lagi.

Berikutnya giliran jatuh pada teman yang duduk di sebelahnya. Karena semua sudah kebagian maka tidak ada alasan untuk menghindar lagi apalagi dapat dianggap “disersi” alias tidak solider. Menang atau kalah hadapi bareng, minum atau tidak sudah diputuskan dan hadapi bareng. Setelah saling tuang dengan Dr.Kim maka tidak ada waktu lagi untuk tidak segera minum. Namun ada pergolakan yang ada di batinnya. Kalau makole bolehlah, tapi ini Soju, minuman asing yang belum pernah tau. Ada semacam penolakan dibatinnya, tapi sudah terlanjur bersepakat untuk menghadapi bareng. Pantang disersi dan pantang berkhianat. Melihat situasinya serta merasakan apa yang ada di batinnya maka dia mencoba meminta belas kasihan pada Tuhannya. “Ya Tuhan maafkan aku, aku terpaksa, aku dipaksa !”. Ibaan yang sangat jelas terucap dan hanya menjadi tertawaan saja. Bahkan, siapapun yang mendengar pasti akan ikut tertawa hingga prajurit yang sudah menjalankan “tugasnya” sampai harus terguling-guling tertawa melihat cara temannya mengiba pada Tuhannya.

Dia mengiba dan dia mencoba minta dispensasi kepada Tuhannya karena dia merasa ada pada situasi yang agak sulit menghindarinya. Padahal, semuanya tahu bahwa Tuhannya juga tidak tidur. “Lu aja yang dari tadi menunggu dipaksa oleh Dr.Kim, emang Aku nggak tahu?”, barangkali itu komentar Tuhan sambil terkekeh melihat ibaan dan akal-akalan anak manusia ini.

 Daejeon, Juli 8 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar