Jumat, 07 Oktober 2016

Pasukan Beruang Kutub


Pasukan Beruang Kutub
Mati Ketawa Gaya Korea 24

K

egagalan tim penyusur sungai dalam menjelajahi jalur CRDC Annur beberapa minggu sebelumnya ternyata tidak menyurutkan niat mereka untuk mengulangi dan sekaligus memperbaiki kegagalan tersebut. Tentu kali ini persiapan yang lebih baik telah dilakukan, dan analisis kegagalan perjalanan sebelumnya menjadi catatan penting untuk dicegah agar tidak terjadi lagi. Benar benar karakter insinyur yang menjadikan kegagalan adalah bagian dari proses yang kadang harus dilewati untuk mencapai tujuan akhir yang dicita-citakan, “berhasil”. Singkat kata, tidak ada lagi cerita tersesat dalam perjalanan ini.

Pada minggu-minggu berikutnya, Annur masih menjadi tujuan perjalanan mereka. Namun kali ini tidak lagi ingin ditempuh dengan jalan kaki. Bahkan variasi perjalanan itu dibuat lebih santai, lebih nyaman, tidak tergesa-gesa sehingga diharapkan tiba di Annur tidak terlihat terlalu capet seperti misi sebelumnya. Berangkat dari masing-masing apartemen sengaja setelah sholat dhuhur tetapi menunda makan siang karena mereka mengagendakan untuk makan siang bersama.

Sebenarnya di sekitar Annur terdapat beberapa restoran yang menyajikan menu yang citarasanya sangat mirip dengan citarasa masakan Indonesia, meskipun dengan tampilan dan cara penyajian khas yang berbeda. Misalnya nasi goreng dengan kombinasi seafood yang disajikan dan dimasak langsung di wajan yang ada di depan kita. Sungguh cara penyajian yang unik. Namun sepertinya ada tantangan lain yang ada dibenak para penyusur sungai ini. Mereka ingin menu dan citarasa berbeda, yaitu makan seafood, di pasar seafood, yang semua bahannya mesti dipilih sendiri dari kondisi hidup dan segar. Restoran semacam ini ada di daerah Noeun yang tidak terlalu jauh dari World Cup Stadium tempat penyelenggaraan Piala Dunia beberapa tahun yang lalu. Dalam tempo kurang dari 30 menit maka kawasan pasar seafood ini sudah dapat dijangkau. Sepertinya pasar ini menjadi pusat pasar ikan di wilayah Daejeon ditilik dari besar dan luasnya kawasan itu. Banyak produk laut dijual disitu, mulai dari berbagai jenis ikan hingga kepiting, udang, cumi-cumi, dan gurita. Sebagian besar dijual dalam bentuk hidup-hidup, untuk merangsang penggemar makanan daging segar. Sebagai pusat pasar ikan, disamping menjual ikan segar dalam bentuk kiloan untuk dibawa pulang, masing masing pedagang tersebut juga sekaligus menyediakan semacam restoran untuk memfasilitasi para penggemar ikan yang ingin makan di tempat.

Lagi lagi ada kendala bahasa yang menjadi penghalang, namun sekaligus juga menjadi tantangan untuk ditaklukan. Namanya juga tim penakluk, engineer Indonesia lagi, maka apa saja yang menjadi tantangan mesti ditaklukkan. Dengan mengamati sejenak perilaku para pembeli ikan yang dimasak dan dimakan di tempat maka tim penakluk merasa tidak ada kesulitan untuk mengetahui caranya. “Ya kira-kira seperti di Pangandaran lah!”, begitu kesimpulannya. Oleh karena itu mereka segera memilih beberapa produk laut yang ada di situ. Kalau pengunjung lain memilih gurita, ikan atau cumi hidup maka pilihan mereka jatuh pada se ember udang hidup. Tentang menunya?. Mau dimasak dengan model atau rasa apa? Itu tantangan dan soal baru yang mesti dicari tahu jawabannya. Ditunjukkannya daftar menu masakan hanya menambah persoalan baru karena semua tersaji dalam huruf aneh yang mereka tidak mengerti. Kalaupun bisa membacanya toh juga tidak mengerti apa artinya. Kalaupun dijelaskan oleh yang punya, tetep saja seperti mendengarkan manusia planet lain yang sedang berbicara, alias nggak ngerti. Maka kembali lagi, mereka berjalan berputar-putar mengamati menu para tamu yang sedang atau yang sudah menyelesaikan makannya di tempat itu. Akhirnya mereka terhenti pada satu meja yang kebetulan tersaji bekas menu orang lain yang menurut mereka paling menarik, dan pantas dicoba, dan mereka sampai pada kesimpulan untuk memilih menu itu atas udang yang mereka sudah beli. Satu cara pesan yang unik, yaitu mereka menarik seorang pelayan restoran itu untuk ditunjukkan dengan bahasa isyarat bahwa mereka ingin pesanan dia diolah seperti menu yang mereka tunjuk itu. Cara yang cerdas bagi komunitas “buta aksara ini”, dan tentu bukan kesulitan sama sekali bagi pelayan restoran untuk mengenali jenis menu yang ditunjuk itu. Rasa lapar semakin berat, dan perut menuntut segera diisi, sementara aroma harum makanan hanya lewat saja karena memang makanan milik orang lain.

Tak berapa lama sajian pembuka datang. Seperti biasa aneka kimchi dan beberapa saos pelengkap. Tidak hanya itu, ada sesuatu yang baru yang disajikan sebagai pembuka yang bukan termasuk kimchi, yaitu sajian irisan tipis ikan daging segar, alias daging ikan mentah. “Waaahh, namanya juga pasar ikan, restoran ikan segar maka menu pembukannya mesti ikan segar donk!”, kira-kira begitu mereka menyambut menu pembuka ini. Di beberapa Negara, sajian ikan mentah bukanlah hal aneh ataupun asing, bahkan menu seperti ini hampir menjadi santapan setiap hari. Tetapi bagi penyusur sungai ini mungkin ini menjadi pengalaman baru. Satu persatu mencoba menyantap ikan mentah yang disajikan. Dengan mengkombinasikan dedauan, saus, kimchi dan beberapa lainnya yang disajikan, sebagian anggota menunjukkan sikap bahwa dia dapat menikmati sajian daging ikan mentah ini, meskipun tidak semua anggota dapat melahab sajian baru macam begini. Sebagai kelompok yang solid, maka solidaritas telah dibangun. Suka nggak suka maka dicoba untuk dilahab seperti teman-temannya. Meskipun lapar nampaknya sajian ikan mentah ini nggak terlalu cepat habis, karena bagaimanapun mungkin hal seperti ini masih dianggap sesuatu yang asing, sementara pelayan restoran sudah modar mandir di meja itu. Barangkali dia mengamati kapan waktu yang tepat untuk menyodorkan menu berikutnya. Kembali tim itu berpikir kenapa udang yang dipesan kok nggak muncul muncul. Mereka menduga, jangan-jangan udang baru disajikan kalau menu pembuka alias ikan mentah itu sudah habis. Maka merekapun menyegerakan menghabiskan ikan mentah itu. Sesaat setelah ikan mentah habis, benar saja, udang pesanan mereka datang. Tidak ada yang tahu pasti, kedatangan udang ini memang karena sudah waktunya atau benar sesuai dugaan mereka. Ach, itu sudah tidak penting lagi. Namun nampaknya mereka harus sedikit kecewa karena udang yang datang adalah udang dalam kondisi persis seperti saat dibeli tadi. Masih dalam ember dan masih hidup. “Wah apa pula ini?”, barangkali begitu pikirnya, sambil menunggu kejutan apa lagi sesudahnya. Segera pelayan menyiapkan wajan datar yang memang sudah tersedia di atas meja. Menaburi wajan itu dengan garam kasar dalam kuantitas yang sangat banyak, kemudian kompor dinyalakan. Sesaat kemudian udang hidup tadi dimasukkan ke dalam wajan tadi dan ditutup dengan penutup bening yang terbuat dari kaca phrerex, kaca khusus tahan panas. Proses pembunuhan sedang terjadi di depan mata, dijadikan tontonan untuk kemudian dimakan ramai-ramai. Dalam tempo tidak terlalu lama, udang itu berkelojotan, berlompat-lompatan, mencoba bertahan atau melawan panas yang terus menyerang mereka. Sesuai sunahnya, udang itupun akhirnya diam, mati, mateng, dengan diiringi perubahan warna menjadi warna merah muda yang sangat merangsang untuk disantap. Hanya dengan tambahan saos, kimchi atau kecap asin pun, sajian udang dan nasi ini sudah dirasa sangat lezat, apalagi bagi orang orang yang lapar dan sudah menunggu beberapa saat. Tidak terlalu lama menghabiskan udang, nasi dan kimchi ini. Dengan desahan tanda puas, acara makan siang ini diakhir, untuk selanjutnya bersiap meluncur ke halte bus melanjutkan perjalanan ke Annur.

“Wah, gitu aja bisa kenyang sekali ya?”, ucap seorang rombongan yang kebetulan penghobi makan. Kemudian ditimpali oleh lainnya dengan, “daging mentah tadi lama-lama kalau dirasain bener enak juga lho, iya kan?”, komentar sekaligus pertanyaan yang menunggu respon temannya yang berada dihadapannya, sementara yang dimintai komentar hanya bisa memandang tanpa komentar apapun. Senyum indahnya hilang, wajahnya menjadi kaku, sementara diperutnya pertarungan asam lambung dan segala zat penetral sedang bertarung. Rasa sebah, mules, melilit, mual dan segala rasa nggak enak yang bersumber dari perut nampaknya telah menyerang perutnya. Bahkan hingga seakan-akan seluruh yang ada di perut serasa mendorong ke atas ingin keluar lagi. Dia kuatkan hatinya untuk melawan seluruh ketidak nyamanan ini. Bus meluncur sesuai jadwal dan rutenya, sementara sakit perut dan mualnya tidak dapat diabaikan. Diam dan doa barangkali menjadi sugesti yang ampuh mengurangi rasa sakitnya.

Pertahanannya berhasil, bus telah sampai di halte Jungang No, halte terdekat dengan Annur. Segera mereka bergegas menuju Annur. Karena saat sholat Ashar telah masuk maka mereka satu persatu segera ambil wudlu. Giliran tiba pada sahabat kita yang “mahal” senyum dan kebetulan sedang mengeluh tentang perutnya sesaat sepulang dari makan siang tadi.

Kran dibuka, posisi membungkuk untuk bersiap membasuh muka. Sesuatu yang sangat tidak dia harapkan datang. Terjadi serangan mendadak. Perutnya sudah tak sanggup lagi menerima beban tekanan dari makanan yang baru saja dimasukkan. Kebetulan tekanan itu arahnya ke atas, maka dengan secapat kilat rencana wudlu dibatalkan dan mulut serta kepala langsung berpindah menghadap jamban tempat buang air besar. “Hooeeeekkkkkk…..hoooeeekkkk…”, seluruh isi perut seperti terkuras. Udang, dan daging ikan mentah merebut keluar lewat mulutnya. Sementara rasa mual tak segera hilang, artinya masih ada makanan atau benda yang dianggap asing atau aneh oleh lambung yang masih perlu didorong keluar. Dan benar “hoeeeeekkkkkkkkk…hoeeeekkkkkk”. Perlu beberapa saat menhadapi jamban itu untuk benar benar yakin bahwa urusan perutnya telah berangsur membaik. Setelah dia merasakan lebih baik, maka segera dia tuntaskan urusan di kamar mandi tersebut, termasuk melanjutkan wudlu, dan sholat. Perasaan sesal dan lega hinggap dipikirannya.

Kesokan harinya kejadian ini telah menjadi hotline, bahan diskusi dan perbincangan dikantor, hingga merangsang seorang engineer senior untuk meledek. “Daging mentah dimakan, kayak beruang kutub aja !!”. Sejak saat itulah siapapun penggemar ikan mentah, cumi mentah, gurita mentah, atau apapun yang berasal dari daging mentah maka dia ledek sebagai “beruang kutub”, tidak tekecuali, tim penyusur sungai ini, tim “beruang kutub”.

Daejeon, November 05 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar