Pasukan Beruang Kutub
Mati Ketawa Gaya Korea 24
|
K
|
egagalan tim
penyusur sungai dalam menjelajahi jalur CRDC Annur beberapa minggu sebelumnya
ternyata tidak menyurutkan niat mereka untuk mengulangi dan sekaligus
memperbaiki kegagalan tersebut. Tentu kali ini persiapan yang lebih baik telah
dilakukan, dan analisis kegagalan perjalanan sebelumnya menjadi catatan penting
untuk dicegah agar tidak terjadi lagi. Benar benar karakter insinyur yang
menjadikan kegagalan adalah bagian dari proses yang kadang harus dilewati untuk
mencapai tujuan akhir yang dicita-citakan, “berhasil”. Singkat kata, tidak ada
lagi cerita tersesat dalam perjalanan ini.
Pada
minggu-minggu berikutnya, Annur masih menjadi tujuan perjalanan mereka. Namun
kali ini tidak lagi ingin ditempuh dengan jalan kaki. Bahkan variasi perjalanan
itu dibuat lebih santai, lebih nyaman, tidak tergesa-gesa sehingga diharapkan
tiba di Annur tidak terlihat terlalu capet seperti misi sebelumnya. Berangkat
dari masing-masing apartemen sengaja setelah sholat dhuhur tetapi menunda makan
siang karena mereka mengagendakan untuk makan siang bersama.
Sebenarnya di
sekitar Annur terdapat beberapa restoran yang menyajikan menu yang citarasanya
sangat mirip dengan citarasa masakan Indonesia, meskipun dengan tampilan dan
cara penyajian khas yang berbeda. Misalnya nasi goreng dengan kombinasi seafood
yang disajikan dan dimasak langsung di wajan yang ada di depan kita. Sungguh
cara penyajian yang unik. Namun sepertinya ada tantangan lain yang ada dibenak
para penyusur sungai ini. Mereka ingin menu dan citarasa berbeda, yaitu makan
seafood, di pasar seafood, yang semua bahannya mesti dipilih sendiri dari
kondisi hidup dan segar. Restoran semacam ini ada di daerah Noeun yang tidak
terlalu jauh dari World Cup Stadium tempat penyelenggaraan Piala Dunia beberapa
tahun yang lalu. Dalam tempo kurang dari 30 menit maka kawasan pasar seafood
ini sudah dapat dijangkau. Sepertinya pasar ini menjadi pusat pasar ikan di
wilayah Daejeon ditilik dari besar dan luasnya kawasan itu. Banyak produk laut
dijual disitu, mulai dari berbagai jenis ikan hingga kepiting, udang,
cumi-cumi, dan gurita. Sebagian besar dijual dalam bentuk hidup-hidup, untuk
merangsang penggemar makanan daging segar. Sebagai pusat pasar ikan, disamping
menjual ikan segar dalam bentuk kiloan untuk dibawa pulang, masing masing pedagang
tersebut juga sekaligus menyediakan semacam restoran untuk memfasilitasi para
penggemar ikan yang ingin makan di tempat.
Lagi lagi ada
kendala bahasa yang menjadi penghalang, namun sekaligus juga menjadi tantangan
untuk ditaklukan. Namanya juga tim penakluk, engineer Indonesia lagi, maka apa
saja yang menjadi tantangan mesti ditaklukkan. Dengan mengamati sejenak
perilaku para pembeli ikan yang dimasak dan dimakan di tempat maka tim penakluk
merasa tidak ada kesulitan untuk mengetahui caranya. “Ya kira-kira seperti di
Pangandaran lah!”, begitu kesimpulannya. Oleh karena itu mereka segera memilih
beberapa produk laut yang ada di situ. Kalau pengunjung lain memilih gurita,
ikan atau cumi hidup maka pilihan mereka jatuh pada se ember udang hidup. Tentang
menunya?. Mau dimasak dengan model atau rasa apa? Itu tantangan dan soal baru
yang mesti dicari tahu jawabannya. Ditunjukkannya daftar menu masakan hanya
menambah persoalan baru karena semua tersaji dalam huruf aneh yang mereka tidak
mengerti. Kalaupun bisa membacanya toh juga tidak mengerti apa artinya.
Kalaupun dijelaskan oleh yang punya, tetep saja seperti mendengarkan manusia
planet lain yang sedang berbicara, alias nggak ngerti. Maka kembali lagi,
mereka berjalan berputar-putar mengamati menu para tamu yang sedang atau yang
sudah menyelesaikan makannya di tempat itu. Akhirnya mereka terhenti pada satu
meja yang kebetulan tersaji bekas menu orang lain yang menurut mereka paling
menarik, dan pantas dicoba, dan mereka sampai pada kesimpulan untuk memilih menu
itu atas udang yang mereka sudah beli. Satu cara pesan yang unik, yaitu mereka
menarik seorang pelayan restoran itu untuk ditunjukkan dengan bahasa isyarat
bahwa mereka ingin pesanan dia diolah seperti menu yang mereka tunjuk itu. Cara
yang cerdas bagi komunitas “buta aksara ini”, dan tentu bukan kesulitan sama
sekali bagi pelayan restoran untuk mengenali jenis menu yang ditunjuk itu. Rasa
lapar semakin berat, dan perut menuntut segera diisi, sementara aroma harum
makanan hanya lewat saja karena memang makanan milik orang lain.
Tak berapa lama
sajian pembuka datang. Seperti biasa aneka kimchi dan beberapa saos pelengkap.
Tidak hanya itu, ada sesuatu yang baru yang disajikan sebagai pembuka yang
bukan termasuk kimchi, yaitu sajian irisan tipis ikan daging segar, alias
daging ikan mentah. “Waaahh, namanya juga pasar ikan, restoran ikan segar maka
menu pembukannya mesti ikan segar donk!”, kira-kira begitu mereka menyambut
menu pembuka ini. Di beberapa Negara, sajian ikan mentah bukanlah hal aneh
ataupun asing, bahkan menu seperti ini hampir menjadi santapan setiap hari.
Tetapi bagi penyusur sungai ini mungkin ini menjadi pengalaman baru. Satu
persatu mencoba menyantap ikan mentah yang disajikan. Dengan mengkombinasikan
dedauan, saus, kimchi dan beberapa lainnya yang disajikan, sebagian anggota
menunjukkan sikap bahwa dia dapat menikmati sajian daging ikan mentah ini,
meskipun tidak semua anggota dapat melahab sajian baru macam begini. Sebagai
kelompok yang solid, maka solidaritas telah dibangun. Suka nggak suka maka
dicoba untuk dilahab seperti teman-temannya. Meskipun lapar nampaknya sajian
ikan mentah ini nggak terlalu cepat habis, karena bagaimanapun mungkin hal
seperti ini masih dianggap sesuatu yang asing, sementara pelayan restoran sudah
modar mandir di meja itu. Barangkali dia mengamati kapan waktu yang tepat untuk
menyodorkan menu berikutnya. Kembali tim itu berpikir kenapa udang yang dipesan
kok nggak muncul muncul. Mereka menduga, jangan-jangan udang baru disajikan
kalau menu pembuka alias ikan mentah itu sudah habis. Maka merekapun
menyegerakan menghabiskan ikan mentah itu. Sesaat setelah ikan mentah habis,
benar saja, udang pesanan mereka datang. Tidak ada yang tahu pasti, kedatangan
udang ini memang karena sudah waktunya atau benar sesuai dugaan mereka. Ach,
itu sudah tidak penting lagi. Namun nampaknya mereka harus sedikit kecewa
karena udang yang datang adalah udang dalam kondisi persis seperti saat dibeli
tadi. Masih dalam ember dan masih hidup. “Wah apa pula ini?”, barangkali begitu
pikirnya, sambil menunggu kejutan apa lagi sesudahnya. Segera pelayan
menyiapkan wajan datar yang memang sudah tersedia di atas meja. Menaburi wajan
itu dengan garam kasar dalam kuantitas yang sangat banyak, kemudian kompor
dinyalakan. Sesaat kemudian udang hidup tadi dimasukkan ke dalam wajan tadi dan
ditutup dengan penutup bening yang terbuat dari kaca phrerex, kaca khusus tahan
panas. Proses pembunuhan sedang terjadi di depan mata, dijadikan tontonan untuk
kemudian dimakan ramai-ramai. Dalam tempo tidak terlalu lama, udang itu
berkelojotan, berlompat-lompatan, mencoba bertahan atau melawan panas yang
terus menyerang mereka. Sesuai sunahnya, udang itupun akhirnya diam, mati,
mateng, dengan diiringi perubahan warna menjadi warna merah muda yang sangat
merangsang untuk disantap. Hanya dengan tambahan saos, kimchi atau kecap asin
pun, sajian udang dan nasi ini sudah dirasa sangat lezat, apalagi bagi orang
orang yang lapar dan sudah menunggu beberapa saat. Tidak terlalu lama
menghabiskan udang, nasi dan kimchi ini. Dengan desahan tanda puas, acara makan
siang ini diakhir, untuk selanjutnya bersiap meluncur ke halte bus melanjutkan
perjalanan ke Annur.
“Wah, gitu aja
bisa kenyang sekali ya?”, ucap seorang rombongan yang kebetulan penghobi makan.
Kemudian ditimpali oleh lainnya dengan, “daging mentah tadi lama-lama kalau
dirasain bener enak juga lho, iya kan?”, komentar sekaligus pertanyaan yang
menunggu respon temannya yang berada dihadapannya, sementara yang dimintai
komentar hanya bisa memandang tanpa komentar apapun. Senyum indahnya hilang,
wajahnya menjadi kaku, sementara diperutnya pertarungan asam lambung dan segala
zat penetral sedang bertarung. Rasa sebah, mules, melilit, mual dan segala rasa
nggak enak yang bersumber dari perut nampaknya telah menyerang perutnya. Bahkan
hingga seakan-akan seluruh yang ada di perut serasa mendorong ke atas ingin
keluar lagi. Dia kuatkan hatinya untuk melawan seluruh ketidak nyamanan ini.
Bus meluncur sesuai jadwal dan rutenya, sementara sakit perut dan mualnya tidak
dapat diabaikan. Diam dan doa barangkali menjadi sugesti yang ampuh mengurangi
rasa sakitnya.
Pertahanannya
berhasil, bus telah sampai di halte Jungang No, halte terdekat dengan Annur.
Segera mereka bergegas menuju Annur. Karena saat sholat Ashar telah masuk maka
mereka satu persatu segera ambil wudlu. Giliran tiba pada sahabat kita yang
“mahal” senyum dan kebetulan sedang mengeluh tentang perutnya sesaat sepulang
dari makan siang tadi.
Kran dibuka,
posisi membungkuk untuk bersiap membasuh muka. Sesuatu yang sangat tidak dia harapkan
datang. Terjadi serangan mendadak. Perutnya sudah tak sanggup lagi menerima
beban tekanan dari makanan yang baru saja dimasukkan. Kebetulan tekanan itu
arahnya ke atas, maka dengan secapat kilat rencana wudlu dibatalkan dan mulut
serta kepala langsung berpindah menghadap jamban tempat buang air besar.
“Hooeeeekkkkkk…..hoooeeekkkk…”, seluruh isi perut seperti terkuras. Udang, dan
daging ikan mentah merebut keluar lewat mulutnya. Sementara rasa mual tak
segera hilang, artinya masih ada makanan atau benda yang dianggap asing atau
aneh oleh lambung yang masih perlu didorong keluar. Dan benar
“hoeeeeekkkkkkkkk…hoeeeekkkkkk”. Perlu beberapa saat menhadapi jamban itu untuk
benar benar yakin bahwa urusan perutnya telah berangsur membaik. Setelah dia
merasakan lebih baik, maka segera dia tuntaskan urusan di kamar mandi tersebut,
termasuk melanjutkan wudlu, dan sholat. Perasaan sesal dan lega hinggap
dipikirannya.
Kesokan harinya
kejadian ini telah menjadi hotline, bahan diskusi dan perbincangan dikantor,
hingga merangsang seorang engineer senior untuk meledek. “Daging mentah
dimakan, kayak beruang kutub aja !!”. Sejak saat itulah siapapun penggemar ikan
mentah, cumi mentah, gurita mentah, atau apapun yang berasal dari daging mentah
maka dia ledek sebagai “beruang kutub”, tidak tekecuali, tim penyusur sungai
ini, tim “beruang kutub”.
Daejeon,
November 05 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar