Sofa Komando Kebesaran
Mati Ketawa Gaya Korea 13
|
S
|
ebagai duta
negara, maka saya harap kita semua bisa menjaga kehormatan Negara kita. Jangan
bikin malu di negeri orang, begitu pesan penting yang CE sampaikan disela sela
pertemuan rutin. Pesan CE tsb didorong oleh berita bahwa ada yang merasa
"menemukan" sesuatu di pinggir jalan depan apartemen tetangga. Barang
tersebut masih bagus dan kebetulan sudah berada di luar dalam beberapa hari,
sepertinya dibuang. Selidik punya selidik, dengan bertanya kesan kemari
diperoleh informasi status A1 alias valid bahwa status barang seperti itu
adalah Free, bebas, gratis. Siapa saja boleh ambil kalau merasa perlu.
Bagi orang Korea
yang secara ekonomi lebih baik dan mapan, sudah biasa hidup berpindah dari satu
apartemen ke apartemen lainnya mengikuti kemana pekerjaan berada. Kebiasaan
berpindah ini membawa konsekuensi tidak semua barang yang pernah dimiliki bisa
dibawa ke apartemen yang baru. Meskipun masih cukup bagus maka selusinya
ditinggal alias dibuang. Maka sering dijumpai ada meja, rak, kursi, spring bed,
TV, perabot, dll ada dipinggir jalan, tidak terjaga, terbuka dan seakan
mempersilakan siapa saja boleh memanfaatkannya. Tentu bukan lagi barang baru,
tetapi barang yang masih sangat pantas untuk dapat digunakan lagi.
Mendengar
penjelasan singkat dan jelas dari CE tersebut maka tidak ada pilihan lain
kecuali patuh, meskipun tetep saja ada upaya bawah tanah alias diam diam
mencoba untuk tetep “mengoleksi” barang tersebut. "Wah..sayang, masih
bagus lho. Aku perlu rak itu untuk laptopku dari pada pakai laptop di meja
makan, repot", begitu alasan yang dibangun secara meyakinkan untuk
mendapatkan dukungan dari teman lain yang dimintai pertolongan. Hingga akhirnya
rak itu hilang dari tempatnya tidak ada yang tahu pasti apakah karena barang
itu sudah benar-benar berpindah ke apartemen teman kita tadi atau sudah
diangkut oleh tukang sampah yang sekaligus pengelolah barang-barang seperti
itu. Paling tidak pesan CE masih dihormati terbukti tidak ada kabar apapun
tentang kisah yang berkembang tentang rak itu.
Negeri Korea
yang secara tradisional, perabot berbasis tanpa meja dan kursi alias dilantai
dengan alas karpet, maka keberadaan rak kecil atau kursi menjadi sesuatu yang
sangat berguna untuk sandaran punggung bagi orang Indonesia yang terbiasa duduk
di kursi bersandaran.
Pada suatu pagi
yang cerah, secara begelombang engineer Indonesia bergerak menuju kantor,
berjalan menyusuri trotoar yang berada disamping sungai. Disamping sebagai
trotoar, maka dia juga sekaligus sebagai trak jalur sepeda. Maka tidak aneh
ketika mendekati jembatan, trek jalur sepeda tersebut dibuat bercabang yang
salah satunya turun ke arah lorong di bawah jembatan dan sejajar dengan sungai
untuk muncul kembali diseberang jembatan itu sendiri. Semua ini dibuat untuk
keselamatan pengendara sepeda semata.
Dalam lintasan
perjalanan para engineer ini, kebetulan ada teronggok bertumpuk beberapa barang
yang nampaknya barang-barang yang mungkin dari segi model sudah harus segera
diganti dengan barang yang baru untuk kenyamanan pelayanan bagi pelanggannya.
Barang-barang tersebut ada diseberang rumah makan besar “Lao Wang”. Beberapa
barang terbungkus kardus atau plastik seperti berbagai jenis perabot dapur,
namun yang paling “merangsang” adalah adanya sebuah sofa besar, berlapis kulit,
dengan busa yang masih empuk melempuh dan kenyal di seluruh permukaannya,
lengkap dengan bantalan busanya yang biasanya untuk menambah kenyamanan saat
duduk.
Melihat
kondisinya yang terbilang masih cukup bagus maka beberapa orang malah sudah
membidik untuk membawa pulang malam hari sepulang kantor. Barangkali masih ada
perasaan malu. Beberapa yang lain masih ragu-ragu meskipun juga punya
ketertarikan yang sama, namun nasihat CE menjadi semacam tuah pantangan untuk merealisasikan
keinginannya.
Sungguh Sofa
yang selalu menggoda setiap kali melihatnya. “Kok belum ada yang ambil ya?”,
begitu komentar dalam hati. Namun sepertinya semua pada mahfum bila sofa ini
tidak cepat hilang dari tempatnya, karena memang kenyataannya sofa itu cukup
besar dan berat. Dapat dipastikan sofa ini tidak akan mampu diangkat oleh hanya
satu orang, artinya kalau ada yang tertarik maka dia mesti berkolaborasi dengan
teman lain untuk mengangkatnya.
Ketika sofa tsb
dalam beberapa hari masih ada ditempatnya maka dapat dipastikan bahwa sofa tsb
memang dibuang oleh pemiliknya. Semakin lama sofa itu ada ditempatnya maka
semakin besar pula rangsangan para “kolektor” untuk memilikinya, memindahkannya
dan menguasainya. Komentar-komentar mulai muncul, obrolan dan pancingan sengaja
dilepaskan untuk mengetahui respon dan sekaligus untuk menarik benang pembatas
yang jelas “siapa kawan dan siapa lawan”.
Ketika beberapa
orang masih sibuk mencari dukungan, menyusun strategi untuk mengambil dan
memilih waktu yang tepat namun ada yang
diam-diam sudah menyiapkan aksi.
Situasi berkembang
sangat cepat. Informasi intelegent kualifikasi A1 diperoleh yaitu ada
kompetitor yang sudah berencana pulang kantor mengambil bantalan sofa nya saja
karena hanya itu yang diperlukan dan untuk itu tidak perlu upaya yang berat.
Bagi competitor lain yang kebetulan ahli strategi, begitu mendengar info A1 ini
maka dia mesti memanfaatkan info itu sebesar besarnya untuk keberhasilan
misinya.
Dilakukan
analisis cepat, secepat software VLAERO. “Kalau sofa tanpa bantalannya, terus
apa artinya. Sofa tidak berguna, cacat”. Begitu gumamnya dalam hati. Namun
logika ini dia coba balik, “kalau aku bisa ambil bantalan itu lebih dulu, maka
aku yakin tak ada lagi yang berniat untuk ambil sofanya”. Tiba tiba dia merasa
punya solusi “OK, target operasi mesti diamankan dan kelengkapan target operasi
mesti diambil lebih dulu, sekaligus untuk melumpuhkan mental “lawan” ”
Sungguh analisis
yang tepat dan jitu, urusan sofa bisa kapan aja, yang penting bantalannya dulu,
daripada kalah cepat. ”Toh kalau mengambil bantalan sofa saja, hal yang sangat
gampang karena sangat ringan. Tapi dampak akibat hilangnya bantalan sofa ini
pasti akan merontokkan niat para competitor”, ucap batinnya meyakinkan diri.
Sebelum niat
competitor dilaksanakan maka si ahli strategi telah menghilang 1 jam sebelum
pulang kantor. Diam diam dia melesat secepat maneuver Hawk untuk mengamankan
bantalan sofa. Suatu aksi yang tak pernah terpikirkan oleh competitor lainnya.
Esok paginya
diskusi di kantor mulai menghangat dengan pokok bahasan dua bantalan sofa yang telah tidak berada ditempatnya, alias
lenyap. Dan benar, hilangnya bantalan sofa itu telah meruntuhkan semangat para
kompetitor lainnya. “Wah kalah cepet euiii..!”, atau “waduh, sebenarnya siang
tadi mau saya bawa langsung, telat,..telat”, dengan nada kesal kesal kelakar,
atau “siapa ya,…kayaknya ini pasti dari
yang sektor timur”. Komentar-komentar ini menjadi bahan diskusi yang menarik,
dan pak CE hanya bisa tersenyum karena kenekadan anak buahnya. Jelas terlihat
betapa pengambilan bantalan sofa itu bukanlah hal kebetulan, tetapi benar benar
bagian dari strategi sekaligus “silent operation” yang sukses hingga nggak
ketahuan.
Setelah urusan
bantalan beres maka segera dibuat juklak operasi pengambilan sofa nya. Hari H
dan jam D nya sudah ditentukan dan saatnya eksekusi tiba. Untuk memastikan
keberhasilan operasi maka strategi disusun. Bahkan urusan kesiapan fisik juga
tidak lepas dari perhatian. Ketika jam mendekati Jam D, “Mas, ayo kita ke
Lotte. Makan dulu”. Makan, hal sepele yang bisa mengacaukan operasi bila tidak
diperhatikan. Kayaknya si ahli strategi tahu bahwa anggotanya terlalu lemah
bila tidak diajak makan dulu. Sebenarnya, urusan di Lotte malam itu tidak
melulu urusan makan, namun ada yang lebih penting yaitu briefing, indoktrinasi,
atau apapun istilahnya, pokoknya bermuara pada keteguhan hati untuk siap
menghadapi resiko apapun. Selesai makan
jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Jalan mulai sepi dan dingin meskipun
di “Lao Wang” masih ada saja yang keluar masuk restoran itu.
Strategi mulai
dijalankan sesuai saat briefing. Sambil berjalan beriringan posisi depan
belakang sejarak panjang sofa itu, komando diucapkan dengan jelas dan tegas,
“INGAT mas, itu sofa nya, kita pegang dan LANGSUNG angkat. Jalan lurus ke depan
dan wajah agak menoleh serong ke kiri. Jangan hiraukan apapun sesudah itu. SIAP
?”. “SIAP”, balasan yang tidak kalah tegasnya.
Membawa barang
yang memang sudah dibuang di Korea adalah hal yang sah sah saja, sehingga tidak
perlu takut dituduh mencuri atau apapun juga. Namun, justru sikap buang wajah
serong kiri karena Lao Wang ada di kanan inilah yang memberi kesan seperti
“pencuri” yang ketakutan. Namun perintah komando sudah dilepaskan. Kata kata
komando itu begitu jelas dan sugestif, sehingga bagi yang dikomandoi seperti
tidak ada waktu untuk memikirkannya apalagi mencerna perintah itu. Yang ada
hanya siap laksanakan, apapun resikonya.
Sesuai juklak,
begitu tangan benar-benar sudah memegang sofa terdengar perintah, “KOMANDO
!!!!!”. Perintah “Komando” ini ibarat tombol peluncur Rudal nuklir yang sudah
ditekan dan tidak bisa di batalkan. Harus jalan dan nggak boleh mundur apalagi
batal. Bahwa, ternyata sofa itu beratnya bukan main, hal yang tak terduga
sebelumnya. Namun, tidak ada kata mundur, harus jalan. Seperti langkah
prajurit, tegap dan cepat. Sugesti komando itu benar-benar menjadi energi
tambahan sehingga sofa itu bisa terangkat, hingga berjalan cukup cepat.
Tiba-tiba saja,
tidak jelas alasannya, kedua orang itu membawa sofa tersebut berjalan arah
serong kiri dan turun menyusuri jalur sepeda yang melewati lorong bawah
jembatan. Padahal untuk ke apartemennya, mereka mesti menyeberangi sungai dan
jalur sepeda itu jelas tidak menyeberangi sungai. Sungguh strategi yang tidak
dimengerti. Menyadari ada kesalahan oparasional yang tidak sesuai dengan
juklak, sofa diletakkan pelan-pelan, sesudahnya baru terasa seluruh energi yang
tersimpan dalam otot menjadi hilang, musnah, lemah dan lunglai. Yang tersisa
hanya rasa capek yang amat sangat. Sementara perjalanan sofa belum lagi
melewati 50 meter dari titik asal, kini posisi ada di bawah lagi. Perasaan
salah, berat dan masih jauh inilah yang nampaknya menjadi beban tambahan yang
semakin memberatkan. Mereka hanya bisa saling pandang penyesalan tanpa sepatah
katapun terucap. Yang ada hanya kesah. “Heeeeeeehhhhhh”.
Meskipun udara
dingin awal musim gugur sudah mulai terasa, namun tetap saja tidak mampu
menahan cucuran keringat yang menetes bersama dengusan nafas yang berpacu
bersama semburan kerak nikotin. Dalam suasana capek, namun tidak ada alasan untuk
berlama-lama istirahat. Semakin lama maka rasa malu yang ada menjadi semakin
tak tertanggungkan. Apalagi kalau sampai ada “Paparazi gadungan” yang menangkap
momen konyol yang “mengenaskan” itu, wah sangat berbahaya. Masak strategi yang
bagus harus gagal karena salah jalan?. Memalukan.
Karena sudah
terlanjur maka harus dituntaskan, pantang batal dengan “menarik tuas Ejection
seat”. Jiwa komando memang sudah terlanjur menyatu dalam darahnya. Sofa berat
itupun harus diangkat balik, arah balik keluar jalur sepeda dan menanjak ke
atas lagi untuk menyeberangi jembatan menuju pemberhentian akhir. Apartemen.
Kesalahan
operasional ketika memilih belok kiri ke jalur sepeda itu benar-benar
merontokkan mental sipil yang dikarbit menjadi prajurit militer malam itu.
Rontoknya mental hanya akan menghasilkan kekalahan demi kekalahan. Dan gerakan
perpindahan Sofa itupun menjadi sangat lambat karena rasa capek yang semakin
bertambah. Barangkali hanya karena supply sugesti spirit “Komando”, yang
menjadikannya Sofa itu tetap bergerak. Setiap 20 meter berhenti, 20 meter
berhenti, bahkan harus meliuk-liuk seperti bergerilya memilih jalur sepi alias
gang sempit belakang apartemen orang untuk sekedar menghindar dari paparazi dan
penglihatan orang lain.
Ketika sofa
akhirnya sampai di halaman apartemen sendiri, mucul perasaan lega, meskipun
tetep saja ada rasa was was kalau ditanya pemilik apartemen, “Sofa nya bagus
sekali, beli dari mana?”. Sungguh sulit menjawabnya, karena kalau hasil beli,
pasti barang berat seperti itu akan di antar sampai masuk kamar. Juga, masak
kalau diantar malam-malam gini?. Wah, pokoknya sulit menjawabnya. Untuk
menghindari hal itu maka sofa mesti segera dimasukkan ke kamar.
Ternyata urusan
memasukkan tidak semudah yang dibayangkan. Tidak seperti di Indonesia dimana
setiap rumah memiliki pintu yang lebar, namun apartemen ini hanya memiliki satu pintu utama dan tidak
terlalu lebar alias pas-pasan. Dalam suasana capek, logika dan akal seperti
beku. Tidak mau disuruh mikir. Dalam situasi genting seperti itu, untung ada
dua orang professor yang juga tinggal di apartemen itu. Untuk misi operasi itu
nampaknya jasa pikiran dua orang profesor ini yang berhasil menuntaskannya.
Energi yang tersisa benar benar diperas untuk memutar dan menggeser hingga Sofa
itu berhasil bersandar di pemberhentian terakhir yang diharapkan, kamar sepuluh
kali!
“Spirit Komando
memang mampu mengalahkan medan yang berat dan sulit, namun kesabaran dua
professor itu yang menjadikan misi itu selesai tuntas”, ucapnya menerawang
sambil duduk di sofa komando kebesaran yang empuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar