Jumat, 07 Oktober 2016

Sofa Komando Kebesaran


Sofa Komando Kebesaran
Mati Ketawa Gaya Korea 13

S

ebagai duta negara, maka saya harap kita semua bisa menjaga kehormatan Negara kita. Jangan bikin malu di negeri orang, begitu pesan penting yang CE sampaikan disela sela pertemuan rutin. Pesan CE tsb didorong oleh berita bahwa ada yang merasa "menemukan" sesuatu di pinggir jalan depan apartemen tetangga. Barang tersebut masih bagus dan kebetulan sudah berada di luar dalam beberapa hari, sepertinya dibuang. Selidik punya selidik, dengan bertanya kesan kemari diperoleh informasi status A1 alias valid bahwa status barang seperti itu adalah Free, bebas, gratis. Siapa saja boleh ambil kalau merasa perlu.

Bagi orang Korea yang secara ekonomi lebih baik dan mapan, sudah biasa hidup berpindah dari satu apartemen ke apartemen lainnya mengikuti kemana pekerjaan berada. Kebiasaan berpindah ini membawa konsekuensi tidak semua barang yang pernah dimiliki bisa dibawa ke apartemen yang baru. Meskipun masih cukup bagus maka selusinya ditinggal alias dibuang. Maka sering dijumpai ada meja, rak, kursi, spring bed, TV, perabot, dll ada dipinggir jalan, tidak terjaga, terbuka dan seakan mempersilakan siapa saja boleh memanfaatkannya. Tentu bukan lagi barang baru, tetapi barang yang masih sangat pantas untuk dapat digunakan lagi.

Mendengar penjelasan singkat dan jelas dari CE tersebut maka tidak ada pilihan lain kecuali patuh, meskipun tetep saja ada upaya bawah tanah alias diam diam mencoba untuk tetep “mengoleksi” barang tersebut. "Wah..sayang, masih bagus lho. Aku perlu rak itu untuk laptopku dari pada pakai laptop di meja makan, repot", begitu alasan yang dibangun secara meyakinkan untuk mendapatkan dukungan dari teman lain yang dimintai pertolongan. Hingga akhirnya rak itu hilang dari tempatnya tidak ada yang tahu pasti apakah karena barang itu sudah benar-benar berpindah ke apartemen teman kita tadi atau sudah diangkut oleh tukang sampah yang sekaligus pengelolah barang-barang seperti itu. Paling tidak pesan CE masih dihormati terbukti tidak ada kabar apapun tentang kisah yang berkembang tentang rak itu.

Negeri Korea yang secara tradisional, perabot berbasis tanpa meja dan kursi alias dilantai dengan alas karpet, maka keberadaan rak kecil atau kursi menjadi sesuatu yang sangat berguna untuk sandaran punggung bagi orang Indonesia yang terbiasa duduk di kursi bersandaran.

Pada suatu pagi yang cerah, secara begelombang engineer Indonesia bergerak menuju kantor, berjalan menyusuri trotoar yang berada disamping sungai. Disamping sebagai trotoar, maka dia juga sekaligus sebagai trak jalur sepeda. Maka tidak aneh ketika mendekati jembatan, trek jalur sepeda tersebut dibuat bercabang yang salah satunya turun ke arah lorong di bawah jembatan dan sejajar dengan sungai untuk muncul kembali diseberang jembatan itu sendiri. Semua ini dibuat untuk keselamatan pengendara sepeda semata.

Dalam lintasan perjalanan para engineer ini, kebetulan ada teronggok bertumpuk beberapa barang yang nampaknya barang-barang yang mungkin dari segi model sudah harus segera diganti dengan barang yang baru untuk kenyamanan pelayanan bagi pelanggannya. Barang-barang tersebut ada diseberang rumah makan besar “Lao Wang”. Beberapa barang terbungkus kardus atau plastik seperti berbagai jenis perabot dapur, namun yang paling “merangsang” adalah adanya sebuah sofa besar, berlapis kulit, dengan busa yang masih empuk melempuh dan kenyal di seluruh permukaannya, lengkap dengan bantalan busanya yang biasanya untuk menambah kenyamanan saat duduk.

Melihat kondisinya yang terbilang masih cukup bagus maka beberapa orang malah sudah membidik untuk membawa pulang malam hari sepulang kantor. Barangkali masih ada perasaan malu. Beberapa yang lain masih ragu-ragu meskipun juga punya ketertarikan yang sama, namun nasihat CE menjadi  semacam tuah pantangan untuk merealisasikan keinginannya.

Sungguh Sofa yang selalu menggoda setiap kali melihatnya. “Kok belum ada yang ambil ya?”, begitu komentar dalam hati. Namun sepertinya semua pada mahfum bila sofa ini tidak cepat hilang dari tempatnya, karena memang kenyataannya sofa itu cukup besar dan berat. Dapat dipastikan sofa ini tidak akan mampu diangkat oleh hanya satu orang, artinya kalau ada yang tertarik maka dia mesti berkolaborasi dengan teman lain untuk mengangkatnya.

Ketika sofa tsb dalam beberapa hari masih ada ditempatnya maka dapat dipastikan bahwa sofa tsb memang dibuang oleh pemiliknya. Semakin lama sofa itu ada ditempatnya maka semakin besar pula rangsangan para “kolektor” untuk memilikinya, memindahkannya dan menguasainya. Komentar-komentar mulai muncul, obrolan dan pancingan sengaja dilepaskan untuk mengetahui respon dan sekaligus untuk menarik benang pembatas yang jelas “siapa kawan dan siapa lawan”.

Ketika beberapa orang masih sibuk mencari dukungan, menyusun strategi untuk mengambil dan memilih waktu yang tepat  namun ada yang diam-diam sudah menyiapkan aksi.

Situasi berkembang sangat cepat. Informasi intelegent kualifikasi A1 diperoleh yaitu ada kompetitor yang sudah berencana pulang kantor mengambil bantalan sofa nya saja karena hanya itu yang diperlukan dan untuk itu tidak perlu upaya yang berat. Bagi competitor lain yang kebetulan ahli strategi, begitu mendengar info A1 ini maka dia mesti memanfaatkan info itu sebesar besarnya untuk keberhasilan misinya.

Dilakukan analisis cepat, secepat software VLAERO. “Kalau sofa tanpa bantalannya, terus apa artinya. Sofa tidak berguna, cacat”. Begitu gumamnya dalam hati. Namun logika ini dia coba balik, “kalau aku bisa ambil bantalan itu lebih dulu, maka aku yakin tak ada lagi yang berniat untuk ambil sofanya”. Tiba tiba dia merasa punya solusi “OK, target operasi mesti diamankan dan kelengkapan target operasi mesti diambil lebih dulu, sekaligus untuk melumpuhkan mental “lawan” ”

Sungguh analisis yang tepat dan jitu, urusan sofa bisa kapan aja, yang penting bantalannya dulu, daripada kalah cepat. ”Toh kalau mengambil bantalan sofa saja, hal yang sangat gampang karena sangat ringan. Tapi dampak akibat hilangnya bantalan sofa ini pasti akan merontokkan niat para competitor”, ucap batinnya meyakinkan diri.

Sebelum niat competitor dilaksanakan maka si ahli strategi telah menghilang 1 jam sebelum pulang kantor. Diam diam dia melesat secepat maneuver Hawk untuk mengamankan bantalan sofa. Suatu aksi yang tak pernah terpikirkan oleh competitor lainnya.

Esok paginya diskusi di kantor mulai menghangat dengan pokok bahasan dua bantalan sofa  yang telah tidak berada ditempatnya, alias lenyap. Dan benar, hilangnya bantalan sofa itu telah meruntuhkan semangat para kompetitor lainnya. “Wah kalah cepet euiii..!”, atau “waduh, sebenarnya siang tadi mau saya bawa langsung, telat,..telat”, dengan nada kesal kesal kelakar, atau  “siapa ya,…kayaknya ini pasti dari yang sektor timur”. Komentar-komentar ini menjadi bahan diskusi yang menarik, dan pak CE hanya bisa tersenyum karena kenekadan anak buahnya. Jelas terlihat betapa pengambilan bantalan sofa itu bukanlah hal kebetulan, tetapi benar benar bagian dari strategi sekaligus “silent operation” yang sukses hingga nggak ketahuan.

Setelah urusan bantalan beres maka segera dibuat juklak operasi pengambilan sofa nya. Hari H dan jam D nya sudah ditentukan dan saatnya eksekusi tiba. Untuk memastikan keberhasilan operasi maka strategi disusun. Bahkan urusan kesiapan fisik juga tidak lepas dari perhatian. Ketika jam mendekati Jam D, “Mas, ayo kita ke Lotte. Makan dulu”. Makan, hal sepele yang bisa mengacaukan operasi bila tidak diperhatikan. Kayaknya si ahli strategi tahu bahwa anggotanya terlalu lemah bila tidak diajak makan dulu. Sebenarnya, urusan di Lotte malam itu tidak melulu urusan makan, namun ada yang lebih penting yaitu briefing, indoktrinasi, atau apapun istilahnya, pokoknya bermuara pada keteguhan hati untuk siap menghadapi  resiko apapun. Selesai makan jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Jalan mulai sepi dan dingin meskipun di “Lao Wang” masih ada saja yang keluar masuk restoran itu.

Strategi mulai dijalankan sesuai saat briefing. Sambil berjalan beriringan posisi depan belakang sejarak panjang sofa itu, komando diucapkan dengan jelas dan tegas, “INGAT mas, itu sofa nya, kita pegang dan LANGSUNG angkat. Jalan lurus ke depan dan wajah agak menoleh serong ke kiri. Jangan hiraukan apapun sesudah itu. SIAP ?”. “SIAP”, balasan yang tidak kalah tegasnya.

Membawa barang yang memang sudah dibuang di Korea adalah hal yang sah sah saja, sehingga tidak perlu takut dituduh mencuri atau apapun juga. Namun, justru sikap buang wajah serong kiri karena Lao Wang ada di kanan inilah yang memberi kesan seperti “pencuri” yang ketakutan. Namun perintah komando sudah dilepaskan. Kata kata komando itu begitu jelas dan sugestif, sehingga bagi yang dikomandoi seperti tidak ada waktu untuk memikirkannya apalagi mencerna perintah itu. Yang ada hanya siap laksanakan, apapun resikonya.

Sesuai juklak, begitu tangan benar-benar sudah memegang sofa terdengar perintah, “KOMANDO !!!!!”. Perintah “Komando” ini ibarat tombol peluncur Rudal nuklir yang sudah ditekan dan tidak bisa di batalkan. Harus jalan dan nggak boleh mundur apalagi batal. Bahwa, ternyata sofa itu beratnya bukan main, hal yang tak terduga sebelumnya. Namun, tidak ada kata mundur, harus jalan. Seperti langkah prajurit, tegap dan cepat. Sugesti komando itu benar-benar menjadi energi tambahan sehingga sofa itu bisa terangkat, hingga berjalan cukup cepat.

Tiba-tiba saja, tidak jelas alasannya, kedua orang itu membawa sofa tersebut berjalan arah serong kiri dan turun menyusuri jalur sepeda yang melewati lorong bawah jembatan. Padahal untuk ke apartemennya, mereka mesti menyeberangi sungai dan jalur sepeda itu jelas tidak menyeberangi sungai. Sungguh strategi yang tidak dimengerti. Menyadari ada kesalahan oparasional yang tidak sesuai dengan juklak, sofa diletakkan pelan-pelan, sesudahnya baru terasa seluruh energi yang tersimpan dalam otot menjadi hilang, musnah, lemah dan lunglai. Yang tersisa hanya rasa capek yang amat sangat. Sementara perjalanan sofa belum lagi melewati 50 meter dari titik asal, kini posisi ada di bawah lagi. Perasaan salah, berat dan masih jauh inilah yang nampaknya menjadi beban tambahan yang semakin memberatkan. Mereka hanya bisa saling pandang penyesalan tanpa sepatah katapun terucap. Yang ada hanya kesah. “Heeeeeeehhhhhh”.

Meskipun udara dingin awal musim gugur sudah mulai terasa, namun tetap saja tidak mampu menahan cucuran keringat yang menetes bersama dengusan nafas yang berpacu bersama semburan kerak nikotin. Dalam suasana capek, namun tidak ada alasan untuk berlama-lama istirahat. Semakin lama maka rasa malu yang ada menjadi semakin tak tertanggungkan. Apalagi kalau sampai ada “Paparazi gadungan” yang menangkap momen konyol yang “mengenaskan” itu, wah sangat berbahaya. Masak strategi yang bagus harus gagal karena salah jalan?. Memalukan.

Karena sudah terlanjur maka harus dituntaskan, pantang batal dengan “menarik tuas Ejection seat”. Jiwa komando memang sudah terlanjur menyatu dalam darahnya. Sofa berat itupun harus diangkat balik, arah balik keluar jalur sepeda dan menanjak ke atas lagi untuk menyeberangi jembatan menuju pemberhentian akhir. Apartemen.

Kesalahan operasional ketika memilih belok kiri ke jalur sepeda itu benar-benar merontokkan mental sipil yang dikarbit menjadi prajurit militer malam itu. Rontoknya mental hanya akan menghasilkan kekalahan demi kekalahan. Dan gerakan perpindahan Sofa itupun menjadi sangat lambat karena rasa capek yang semakin bertambah. Barangkali hanya karena supply sugesti spirit “Komando”, yang menjadikannya Sofa itu tetap bergerak. Setiap 20 meter berhenti, 20 meter berhenti, bahkan harus meliuk-liuk seperti bergerilya memilih jalur sepi alias gang sempit belakang apartemen orang untuk sekedar menghindar dari paparazi dan penglihatan orang lain.

Ketika sofa akhirnya sampai di halaman apartemen sendiri, mucul perasaan lega, meskipun tetep saja ada rasa was was kalau ditanya pemilik apartemen, “Sofa nya bagus sekali, beli dari mana?”. Sungguh sulit menjawabnya, karena kalau hasil beli, pasti barang berat seperti itu akan di antar sampai masuk kamar. Juga, masak kalau diantar malam-malam gini?. Wah, pokoknya sulit menjawabnya. Untuk menghindari hal itu maka sofa mesti segera dimasukkan ke kamar.

Ternyata urusan memasukkan tidak semudah yang dibayangkan. Tidak seperti di Indonesia dimana setiap rumah memiliki pintu yang lebar, namun apartemen ini  hanya memiliki satu pintu utama dan tidak terlalu lebar alias pas-pasan. Dalam suasana capek, logika dan akal seperti beku. Tidak mau disuruh mikir. Dalam situasi genting seperti itu, untung ada dua orang professor yang juga tinggal di apartemen itu. Untuk misi operasi itu nampaknya jasa pikiran dua orang profesor ini yang berhasil menuntaskannya. Energi yang tersisa benar benar diperas untuk memutar dan menggeser hingga Sofa itu berhasil bersandar di pemberhentian terakhir yang diharapkan, kamar sepuluh kali!

“Spirit Komando memang mampu mengalahkan medan yang berat dan sulit, namun kesabaran dua professor itu yang menjadikan misi itu selesai tuntas”, ucapnya menerawang sambil duduk di sofa komando kebesaran yang empuk.

 Daejeon, Mei 5 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar