Rabu, 25 Januari 2017

Engineer Jobsopir (1)

Engineer Jobsopir (1)
Mati Ketawa Gaya Korea (15).

Pada dasarnya semua pekerjaan itu baik, selama ujung dari pekerjaan itu adalah kemaslahatan dan kemanfaatan. Apalagi kalau kemanfaatan dari pekerjaan itu berdampak bagi orang lain yang lebih banyak maka pekerjaan itu manjadi semakin mulia di mata Tuhan. Dan untuk kemuliaan itu tidak harus menjadi dokter, insinyur atau ahli hukum atau apapun profesi yang mentereng lainnya. Bahkan menjadi sopirpun bisa lebih mulia di mata Tuhan bila kemanfaatan profesi ini diletakkan pada tingkat keiklasan tertinggi sebagai sopir. Apalagi ini, sopir untuk melayani banyak orang, maka tersedia ruang kemulaian yang tinggi bila pemegang amanah ini melandasi pelayanannya pada ruang keiklasan hati yang tertinggi. Oleh karena itu tidak kaget bila banyak orang, meskipun dia engineer, enginer pesawat tempur lagi, merasa perlu untuk mengejar jalan surga lewat pintu amal dan keiklasan sebagai sopir. Merasa perlu untuk mengemban tugas tambahan, sebagai sopir antar jemput para engineer, alias sebagai Jobsopir.

Dalam masa penugasan para egineer Indonesia di KAI ini, sebagian besar telah mengkonversi SIM Indonesianya tanpa test menjadi SIM Korea grade-2. Dalam aturan SIM di Korea, pemilik Grade-2 diijinkan untuk membawa kendaraan dengan penumpang tidak lebih dari 9 orang. Dengan pengertian ini maka para pemegang SIM Grade-2 telah siap sebagai sopir, mengemban amanah melayani dan mengantar teman-temannya kemanapun diperlukan. Namun, untuk pertimbangan efisiensi biaya dan ketersediaan budget maka diperlukan mobil sekelas Starek yang mampu mengangkut 11 orang penumpang sekaligus. Dan untuk ini diperlukan SIM Grade-1, yang artinya pemegang Grade-2 harus mengconversinya menjadi SIM Grade-1. Konversi Grade-2 menjadi Grade-1 memerlukan ujian praktek. Bahwa faktanya Korea menggunakan konsep kemudi stir kiri yang berbeda dengan konsep Indonesia yang stir kanan, tetapi itu tidak dianggap sebagai masalah yang serius oleh calon jobsopir ini, meskipun kemudian ternyata faktor itu telah menjadi sumber kegagalan test. Bagaimana tidak, konsep ujian SIM yang memberikan point negatif untuk setiap kesalahan yang terjadi maka bila baru berangkat saja sudah terjadi kesalahan bisa berabe urusan selanjutnya. Sebut saja misalnya, maksud hati ingin menyalakan lampu riting, tetapi tangan kanan telah bergerak reflek diluar kendali otak yang ternyata menggerakkan handle wiper. Meskipun hal itu telah disiapkan sebaik baiknya saat latihan, namun itulah yang terjadi saat ujian berlangsung. Karena kaget dan mungkin sedikit kecewa maka gerakan wiper bergoyang seakan menari-nari sambil mengejek,
“Kacian deh lu, ...point -5, point -5, point -5”, seperti ejekan burung beo yang pandai meniru itu.

Cilakanya kalimat ejekan tarian wiper itu terus terngiang di kepala hingga mengacaukan segalanya.
Tarian wiper yang tentu saja tidak seperti goyang Inul Daratista, telah membuat kepanikan, konsentrasi buyar, semua teori, latihan dan pelajaran yang telah disiapkan menguap dengan cepat. Ketika tangan kanan harus menetralkan wiper, pada saat yang sama tangan kiri harus segera menyalakan riting tanda kendaraan memasuki jalan raya, padahal mobil sudah meraung karena gigi sudah minta untuk dipindah ke posisi gigi 2. Sebagai engineer propulsi yang sebenarnya sudah mahir mengedalikan APV, mestinya tidak akan ada masalah untuk urusan mengendalikan engine mobil test ini. Bahwa yang terjadi seperti itu, barangkali hal ini karena suasana ujian, sekali lagi ujian.

Dalam suasana panik maka pemindahan gigi tidak berjalan sesuai rencana. Tangan seakan mati rasa, tidak peka sehingga tidak bisa membedakan ini sudah masuk gigi 2 atau malah kembali netral. Maka yang terjadi adalah raungan mesin yang semakin keras. Lirikan penguji hanya serasa seperti cemoohan atas kualitas ketrampilan nyopirnya. Dan, sudah nggak tau lagi sudah minus berapa kerugian nilainya. Semakin otak menghitung minus, maka kekacauan semakin menjadi. 
Ketika bersiap untuk berpindah jalur menuju jalur lambat, goyang wiper yang tidak diharapkan datang tanpa diundang, menari dan bergoyang. Bahkan, dijalur berikutnya, bam yang harusnya direspon dengan jalan perlahan, ditabrak saja hingga menghasilkan goncangan hebat. Barangkali ini dampak dari ketegangan dan ketakutan calon Jobsopir bila dia mengerem mendadak yang mungkin akan menyebabkan penguji terlempar ke depan, atau bahkan mesin akan mati mendadak. Penguji seperti sudah paham menghadapi situasi seperti itu, dia hanya berpegangan lebih erat ke handel yang bisa diraih dan setelah itu dia melihat papan skor elektronik untuk memberi tanda pengurangan point yang terjadi.
Pada titik ini sepertinya calon jobsopir ini sudah tidak peduli berapa banyak kehilangan pointnya. Untuk agar tidak gagal total maka target lulus pun harus dipinggirkan dulu, dilupakan dulu dan menyelamatkan harga diri lebih penting. Maka target pun diubah menjadi target finish sampai tujuan akhir test. “Meskipun nggak lulus, kalo sampai finish akan lebih terhormat”, barangkali itu alasannya.

Sesampai trafik light, kebetulan lampu merah menyala maka mobil harus berhenti dan menunggu hingga lampu hijau menyala. Sesuai teori, pada saat menunggu seperti ini maka gigi harus dinetralkan. Karena jalan memang ada kemiringan maka wajar bila pedal rem harus ditekan. Saat lampu hijau menyala, segera bersiap melanjutkan perjalanan menuju garis finish yang tinggal satu atau dua kelokan lagi. Segera gigi dipindah ke posisi 1, rem dan kopling dilepas perlahan, dan dengan cepat kaki berpindah ke gas. Namun mobil malah bergerak mundur, dan mesin meraung.
“Walah, nggak mau masuk gigi satu lagi.....heuuuhhh”.

Dengan cepat rem di injak lagi dan tangan meraih handle gigi untuk membetulkan dan memastikan posisi gigi 1. Berhasil telah memastikan posisi gigi 1, mobil bergerak perlahan dan terdengar suara pemberitahuan dari audio penguji, “this is lane for 70 km per hour...”. Calon jobsopir ini segera memindahkan gigi ke posisi 2, namun kembali lagi mesin meraung tanda gigi belum masuk ke gigi 2 alias masih di posisi netral. Melihat situasi berulang seperti ini, penguji sudah tidak sabar dan segera saja meminta agar mobil dipinggirkan sambil ditunjukkan skor yang dengan nilai itu sudah nggak mungkin lulus. Tentu saja calon jobsopir segera turun. Selanjutnya posisi kemudi dipegang oleh penguji. Dengan suara yang agak keras penguji sengaja menunjukkan dan mempraktekan cara memindah gigi. Karena pakai bahasa Korea, tidak jelas kalimatnya, tidak tahu kata katanya, yang pasti hanya dapat dipahami maknanya sebagai,
“Gini lho cara mindah gigi ituuuu !!”, Dengan setengah membentak sambil tangan kanannya menggerakkan handel gigi ke posisi yang diucapkan,

“Ceklak...ini SATU, Ceklak....ini DUA, ceklah......ini TIGA, ceklak ...ini LIMA. Arasooooo ???”. Melihat dan mendengar itu dia hanya tersenyum sambil membayangkan,
“Padahal sama seperti APV, tetapi kok sulit masukin gigi nya ya?.”

Di bawah kendali kemudi penguji, mobil meluncur kembali ke titik awal, dan calaon jobsopir yang gagal kali ini hanya bisa merenung,
“Wah.... nampaknya harus senasib dengan engineer fuel system......”

Sacheon, 25 Januari 2017

Rabu, 18 Januari 2017

Semangat Ruh Brewirabumi

Semangat Ruh Brewirabumi
Mati Ketawa Gaya Korea (14).

Minak Jinggo, yang bagi masyarakat sekarang lebih dikenal hanya sebagai merek rokok kretek, padahal sebenarnya Minak Jinggo adalah nama tokoh besar sejarah awal Majapahit untuk wilayah ujung Jawa timur, yaitu Blambangan atau sekarang lebih dikenal sebagai kota Banyuwangi. Di wilayah Banyuwangi, hampir tidak ada yang tidak kenal nama ini. Menurut berbagai sumber Minak Jinggo adalah pemuda tampan yang sekaligus Adipati Blambangan yang memiliki nama asli Brewirabumi. Sebagai adipati dia sangat piawai menggerakkan rakyatnya, karena tanpa itu mustahil rakyatnya menyokong kepemimpinannya. Sebelum menjadi adipati, ketokohan Brewirabumi bersinar ketika berhasil memenangi sayembara dari Ratu Majapahit saat itu yaitu membunuh pemberotak yang sakti mandra guna yang bernama Kebo Marcuet. Sayangnya keberhasilan Brewirabumi ini harus dibayar mahal dengan kerusakan wajah dan hilangnya ketampanannya tapi tidak ketegasan dan keberaniannya. Kalau akhirnya dia dicatat sejarah sebagai pemberontak, hal ini lebih disebabkan oleh ingkarnya Ratu Majapahit untuk memenuhi janjinya menerima pinangan Brewirabumi ketika dia berhasil memenagi sayembara.

Ketika Brewirabumi sebagai adipati, dan berhasil mengalahkan Kebo Marcuet yang sakti, maka dapat dibayangkan bahwa dia pastilah pemuda yang gagah, tegap, trampil dan tegas serta lugas ketika berbicara. Bahkan ketika dia berhadapan langsung dengan Kebo Marcuet, barangkali kemampuan komunikasi dan diplomasinya menjadi salah satu faktor keberhasilan meruntuhkan keyakinan dan semangat Kebo Marcuet sehingga bisa dikalahkan.
Membayangkan tokoh Brewirabumi yang hidup di jaman Majapahit tentulah sungguh tidak mudah. Ketika waktu telah berjalan cukup lama dan dinamika budaya bergeser, namun tidak berlebihan bila karakteristik suatu kaum dapat diraba dengan kaum yang tertinggal saat ini, meskipun tentu ada distorsi disana sini. Melihat watak-wataknya, karakteristiknya, atau fisiknya, barangkali, sekali lagi barangkali Brewirabumi akan mirip seperti pemuda Banyuwangi saat ini yaitu memiliki wajah dengan karakter keras, kumis lebat dan mata bersinar, dan tentu cerdas dan tegas.

Karakter kepemimpinan tegas dan lugas Brewirabumi ini sepertinya terbawa hingga ke Sacheon Korea. Meskipun dalam hal-hal tertentu nampak muncul seperti karakter pemberontak, padahal sama sekali tidak. Semua itu dilakukan Brewirabumi karena membela hak yang mestinya dia dapatkan. Bahkan ditimbang dengan seksama, apa yang dilakukan di Sacheon ini semata mata memperjuangkan hak rakyatnya, hak warganya atas segala apa yang sudah dijanjikan. Dan semua ini adalah amanah yang melekat di pundaknya. Bahwa sebenarnya memang ada kepentingan dia juga, maka itu sungguh tidak nampak dalam pidatonya saat diberi kesempatan menyampaikan uneg-unegnya dalam suatu kesempatan.
Sebut saja urusan HP. Tidak terbantahkan bahwa dalam penugasan ke Korea ini perusahaan merasa perlu untuk membuat perjanjian dengan karyawannya sendiri demi agar dapat dipegang komitmentnya. Dan untuk itu perusahaan juga berjanji akan memberikan beberapa fasilitas demi kelancaran pelaksanaan tugas, salah satunya adalah HP.  Dikarenakan satu dan lain hal ternyata eksekusi masalah HP ini tidak sesuai seperti yang diharapkan. Karena ini akan berdampak pada kesejahteraan rakyatnya maka dalam forum dewan perwakilan rakyat di Sacheon ini, engineer yang memiliki jiwa, ruh dan semangat Brewirabumi ini seperti mendapat kesempatan untuk memperjuangkan kepentingan warganya sekaligus meneguhkan ke Brewirabumi annya. Dalam forum perwakilan yang terhormat itu, pihak managemen telah mencoba menjelaskan situasi dan berbagai alternatif solusinya, namun sepertinya tidak cocok dengan harapan. Ruh Bewirabumi yang melekat pada perwakilan Apartemen Modern House ini seakan bangkit, berargumentasi panjang lebar, jelas dan tegas menyampaikan yang intinya adalah mohon warga diijinkan untuk tidak mengambil hak atas HP itu karena berdampak pada kewajiban iuran atas pemakaian HP itu. Bahkan diyakinkan oleh dia bahwa kalau warga tidak mengambil hak atas HP itu akan membantu mengurangi pengeluaran perusahaan.  

Namun tidak demikian logika managemen. Anggaran yang sudah direncanakan harus dibelanjakan sesuai dengan rencana, bahwa akhirnya kurang maka perlu dicari sulusinya dengan tetap berpedoman pada kuantitas dan kualitas yang disebutkan dalam surat keputusan perusahaan. Alasan lainnya adalah karena ini menyangkut faktor keamanan yang harus dipenuhi oleh setiap karyawan yang masuk di KAI dimana untuk itu memerlukan HP dengan spesifikasi yang dapat diinstall software pengatur keamanan (MDM). Penjelasan manageman ini tidak cukup dapat melunakkan hati engineer titisan Minak Jinggo ini.
“Coba dibayangkan, saya sudah punya 3 buah HP meskipun second tapi ini sudah memenuhi syarat untuk dapat di install MDM karena saya belinya juga di Korea. Masak saya harus punya 4 buah?”, begitu dia memulai argumennya.

“Dan lagian kalau iuran bulanan untuk pulsanya segitu, itu kalau dihitung-hitung dalam setahun sudah bisa tuk beli HP baru”
“Lha ini gimana, sudah iuranannya segitu, eeee...Hpnya gak bis dimiliki. Capek deh....”
Argumen wakil Apartemen Modern House ini sebenarnya masuk akal dan jelas, sejelas seperti Minak Jinggo menuntut janji Ratu Suhita (Kencono Wungu), tetapi tetap saja managemen memohon dengan sangat pengertian seluruh warga demi kelangsungan program yang masih akan lama berjalan. Mendengarkan penjelasan ini dia hanya bergumam,

“Wong ide ini untuk mengurangi beban perusahaan kok malah ditolak...”
Perdebatan masalah HP ini terus saling bersahut dan memang hati titisan Minak Jinggo ini tidak gampang luruh. Dalam situasi setengah deadlock itu munculah ide triki tingkat tinggi, barangkali seperti trik diplomasi Damarwulan ketika mengalahkan dan mematahkan perlawanan Brewirabumi ini terhadap Majapahit. Tiba-tiba salah seorang yang hadir angkat tangan untuk urun bicara,
“Bapak-bapak, kalau kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, sebenarnya argumen dari rekan perwakilan Apartemen Modern House ini sungguh baik dan perlu dipertimbangkan. Karena sungguh mulia niatan warga Apartemen Modern House untuk membantu meringankan beban perusahaan”

Sesaat wakil Apartemen Modern House ini sumringah karena mendapat sokongan pendapat yang sesuai dengan usulannya.
“Bahwa wakil Apartemen Modern House mengusulkan untuk tidak mengambil hak atas HP yang disediakan perusahaan, saya kira itu bisa dibenarkan dan sebaiknya dipenuhi saja. Toh hanya itu yang dituntutnya kan?. Dengan demikian dia bahagia, karena harapannya dipenuhi”.

Semua terdiam sambil melirik respon bapak managemen atas sokongan pendapat ini. Sebelum akhir, argumen ini dipertegas lagi.
“Jadi menurut saya, penuhi saja usulannya, biarkan HP untuk beliau tidak diambil kalau memang beliau nggak mau ambil ........”

Seakan semua diam karena mencoba menebak apa akhir kalimatnya.
“Hanya,......... kalau iurannya ya tetep harus dibayar”
“Kan beliau hanya tidak ingin ambil HP nya tho?.” 
“Gimana bapak-bapak, semua setuju kan ?”
Sontak semua tertawa tanda setuju, kecuali satu orang terdiam karena sepertinya ruh Brewirabumi yang sudah pergi entah kemana. 

Sacheon, 18 Januari 2017

Minggu, 15 Januari 2017

여보세요 (Yeoboseyo)


여보세요 (Yeoboseyo)
Mati Ketawa Gaya Korea (13) 
 
Ketika dering panggilan telepon HP berbunyi dari nomor yang tidak dikenal, tak biasanya terjadi kepanikan kecil. Kali ini terjadi di kubik Air Vehicle Design. Panik karena tidak tahu dari siapa, apa yang akan ditanyakan apalagi harus menjawab. Dan lagi, sungguh takut untuk diabaikan kalau kalau itu telpon penting. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi karena setelah beberapa bulan berada di Korea, data pribadi alias nomor HP sudah mulai bertebaran misal ke Kantor Imigrasi dan Woori bank. Dalam situasi seperti ini, solusi cepat dan cerdas segera dipilih yaitu memberikan ke temen Korea yang kebetulan menjadi perwakilan di kubik yang ada. Setelah menunggu sesaat komunikasi engineer Korea dengan si penelepon, segera saja berondongan pertanyaan muncul dari si empunya HP.
“What happen?”
“Where is the call from?” Atau
“What he asked?”
Kali ini dijawab sederhana,
“It is no problem”.
Dijawab begitu si pemilik HP juga tidak terlalu memaksa untuk minta penjelasan lebih jauh. Dengan berjalannya waktu, aktifitas engineer Indonesia di Korea juga semakin luas. Misal sudah memiliki akun Woori bank, sudah menjadi member G Market, sudah bisa order Taxi, sudah berani beli barang secara online, dan lain sebagainya. Kemajuan yang sewajarnya. Ketika pada kesempatan lain ada panggilan telepon HP berdering lagi, kepanikan kecil berulang. Situasi kepanikan yang sama. Hanya sayangnya kali ini tidak ada engineer Korea yang stanby di tempat. Maka harus dicari siapa yang paling pas dimandati untuk menjawab telepon itu. Kebetulan, dari pengamatan keseharian, yang dianggap paling intens telah belajar bahasa Korea, telah mempraktekkan bahasa Korea hingga dialek dan cengkok cengkoknya secara pas adalah engineer configuration design. Kalau kita hanya mendengar suaranya, pasti kita tidak tahu bahwa itu diucapkan oleh gadis periang asal Palembang, bukan orang Korea. Maka ketika HP itu diberikan, tanpa canggung segera saja terjadi komunikasi dalam bahasa Korea dengan dialek yang sungguh Korea.
“Yeoboseyo ?”, begitu gadis itu memulai komunikasi.
Sesaat kemudian, dia mendengarkan dengan sungguh sungguh apa yang diucapkan oleh si penelepon sambil sesekali mengucapkan
“Ne...” “Ne ...” “Ne...”
Setelah mendengarkan dengan seksama, sesaat kemudian segera saja dibalas,
“Jonen, hanggug mal jalmo teo.”
Mendengar jawaban itu, sepertinya si penelepon masih berusaha untuk menjelaskan maksudnya, sementara si penerima hanya “Ne...”, “Ne....”, “Ne .....” dan diikuti dengan kalimat serupa dengan sedikit penegasan,
“Jonen, hanggug mal jalmo teo”
Sesaat kemudian,
“Gamsa hamnida”, tanda bahwa komunikasi itu berakhir.
Segera saja pemilik HP menghampiri sambil bertanya,
“Siapa tadi?, apa yang ditanyakan?”
Namun, engineer gadis itu dengan enteng menjawab,
“Nggak tau pak?. Wong saya juga nggak ngerti dia ngomong apa.”
“Halah...begitu?”, Si pemilik HP hanya bisa maklum dan mahfum. Ternyata baru segitu level bahasa Koreanya. Meskipun begitu, itu tetep sebuah prestasi karena bermodalkan Yeoboseyo sudah berani menjawab telepon.
Nampaknya itu bukan hal yang terakhir terjadi, dan selalu saja gadis periang itulah yang menjadi pilihan untuk membantu menjawab setiap ada telopon tak dikenal yang masuk ke HP. Begitu seringnya, hingga engineer dari kubik lain seakan hafal kalimat dialog yang diucapkan,
“1. Yeoboseyo...”
“2. Ne...ne..ne...”
“3. Jonen Hanggug mal jalmo teo”
“4. Gamsahamnida”
Empat kalimat dialog yang gampang diingat oleh engineer dari kubik lain.
Waktu berjalan, kejadian serupa terjadi, tetapi sepertinya kali ini adalah panggilan telepon untuk engineer gadis itu sendiri. Ketika komunikasi akan dimulai, engineer kubik lain sudah mulai menghitung dan menebak kalimat dialog,
Kalimat pertama, “1. Yeoboseyo...”, “nah benarkan? “
Berikutnya, “2. Ne... ne...ne....”, “hehehe tuh kan? “
Begitu kalimat dialog ke 3, semua menduga akan muncul “Jonen hanggug mal jalmo teo.”, tetapi ternyata bukan.
“Wah ada kemajuan nich...”, semua mencoba membatin. Kelimat berikutnya yang muncul adalah,
“pekeji?... pekeji?...”
Dibarengi dengan, “Ne..Ne..Ne..”
Disambut komentar tak terucap dari para penguping,
“Wah sudah bisa bertanya, berarti sudah tau apa yang diomongkan si penelepon ya?”, para penguping segera mengekstrapolasi situasi komunikasi kemampuan berbahasa Korea gadis engineer ini. Tidak berhenti disitu dialognya, dilanjutkan dengan,
“Muni codenen yug gong gong pal ibnida”, kalimat yang dialeknya diucapkan dalam bahasa Korea yang sungguh pas ditelinga.
Terus,
“Ne..ne..ne..”
“Gamsa hamnida”.
Penasaaran akan kalimat baru yang muncul dalam kalimat dialog, segera saja ditanyakan langsung.
“Wah kok beda?, Muni kodenen dan seterusnya tadi apa artinya?”
Seperti biasa, gadis periang ini menjawab seperti gemericik air pancuran, segar,
“Ooo itu lho pak...”
“Saya order barang, dan dia mau ngirim paketnya”
Langsung disambar dengan pertanyaan berikutnya,
“Kok tau kalau itu mau kirim paket?”
Dijelaskan, “Makanya saya tanya ke dia, pekeji, pekeji?”
Masih agak bingung, “kok pekeji jadi paket?”
Dengan tertawa dijelaskan lagi
“Itu dari bahasa Inggris pak, mereka dikit dikit juga tahu bahasa Inggris meskipun bunyi beda dengan yang kita kenal selama ini. Pekeji itu packedge paaaaaakkk...”
“Woalah.....lha kalau muni kodenen?”
Dengan enteng dijawab, “Kita kan sering pakai lift pak, begitu kita dengar kata ‘muni’ di lift, ternyata pintu mbuka atau nutup. Ya aku kira-kira aja bahwa muni itu pintu”,
Masih penasaran, “trus...?”
“kalau kodenen itu kode, jadi pokoknya aku ngarang aja. Karena mau ngomong kode pintu, ya bgitu itu keluarnya, muni kodenen”
“terus pokoknya harus ditutup dengan kata ibnida, ...hehehehe”, logika bahasa yang sungguh sedrhana.
“yang penting dia ngertikan, pak?”
“ya..ya..ya betul”, komentar si penanya.
“lha terus Jonen hanggug mal jalmo teo itu apa?”
“Aku nggak bisa ngomong bahasa Korea”
Woalah.....
Sacheon, 15 Januari 2017

Senin, 09 Januari 2017


Tarian Satir untuk Ritaa Samaria
Mati Ketawa Gaya Korea (12)

Sebagai seorang gadis, sebenarnya biasa-biasa saja. Bahkan, barangkali terbilang kalah cantik dibandingkan Ayu Ting Ting ataupun Ayu Wandira. Meskipun tidak terlalu cantik, Ritaa Samaria ini sangat menarik. Dia terkenal, karenanya banyak pemuda hingga dari berbagai bangsa terus saja berusaha untuk berkenalan dengannya, pingin menggandengnya dan sekaligus mengundangnya untuk mendapatkan sekedar tanda tangannya. Tetapi Ritaa gadis yang tegas, tidak luwes, teguh pendirian, dan tidak mudah dirayu, sehingga terkesan kaku. Karena sikap dan sifatnya itu barangkali yang menyebabkan sulit ketemu jodoh. Kebetulan Ritaa diberi anugrah umur panjang, bahkan hingga beberapa generasi berganti, dia tetap hidup, tetap menarik dan tetap diingini oleh banyak pemuda. Berjalannya waktu, dia sering berganti nama seiring dengan pemuda mana yang kira-kira sedang mendekatinya. Kebetulan saja yang sedang mendekatinya saat ini adalah pemuda-pemuda dari Indonesia yang sedang di Korea, maka dia mengenalkan diri sebagai Ritaa, ya Ritaa Samaria. Entah esok atau lusa, dia berganti nama menjadi apa lagi.
Ritaa adalah anak dari keluarga Sam, atau orang-orang lebih sering memanggilnya paman Sam, dan paman Sam kebetulan tinggal agak jauh, yang bagi orang Indonesia jaraknya dapat diukur sejauh antara antara siang dan malam. Sebagai keluarga kaya, paman Sam memang berhasil mendidik anak-anaknya untuk pinter dan maju. Sebut saja, William Edward Boim yang pada tahun 1916 yang secara radikal berbekal bisnis penebang kayu berubah menjadi pabrik pesawat. Generasi adik adiknya yang lahir berikutnya juga tidak kalah hebatnya, sebut saja misalnya, si MakDonnell dan Doglas tahun 1967, Nurtop, Guruman 1994, Martin 1995, dan seterusnya hingga Bill Gates, dan Steve Jobs yang mencoba membuat tiruan sederhana dari otak manusia.

Kehebatan anak-anaknya ini sedikit banyak menyebabkan keangkuhan dan kejumawan paman Sam sebagai orang tua semakin bertambah. Meskipun paman Sam lebih sering angkuh, arogan dan jumawa ke tetangga tetangga jauhnya, tetapi tetep saja semua orang mengakui bahwa keberadaan paman Sam tidak dapat diabaikan dan bahkan pada titik tertentu dibutuhkan untuk keseimbangan. Dalam beberapa hal malah harus tetep menjaga berhubungan baik dengan keluarga paman Sam ini demi mendapatkan kemanfaatan yang lebih luas.
Adiknya, Martin, ya Martin Marietta, entah anak yang keberapa ini, meskipun terlahir belakangan dia dianugerahi kemampuan membuat barang yang berfungsi sebagai perisai langit. Dengan ilmu dan kemampuannya maka langit akan sulit untuk ditembus oleh senjata apapun. Sebagai anak pintar dan berotak bisnis, maka dia jual ilmunya, dia jual perisai langitnya, untuk kebahagiaan dan kemakmuran keluarganya sendiri. Martin tentu gembira kalau ada tetangganya yang ingin memakai hasil karyanya, dan membeli kemampuannya. Dengan begitu, Martin akan mendapatkan uang sendiri.

Tapi tidak demikian sang Bapak. Paman Sam tentu tidak ingin superioritasnya terganggu, dominasinya terancam maka dia tidak dengan mudah mengijinkan Martin untuk menjual kemampuannya, kecuali masih tetap dalam kendalinya. Membebaskan Martin untuk menjual tanpa kendalinya akan sama dengan bunuh diri. Pada saat yang sama, kebetulan paman Sam berkepentingan mencarikan jodoh Ritaa. Oleh karena itu, paman Sam merasa perlu menyaratkan secara paket bahwa siapa saja yang mau membeli kemampuan atau keahlian anak-anaknya, harus sekaligus berani melamar Ritaa dan harus mendapatkan anggukan persetujuan dari Ritaa. Dengan begitu maka semua tetap berada dalam kendali paman Sam. Tanpa Ritaa?. Jangan harap Martin atau siapapun juga anaknya berani melepas ilmunya.
Sementara itu, sudah 3 purnama lamanya. Tidak kurang dari 60 orang pemuda, sebut saja, Darto, Sumaro, Kartiko, Yudono, Sutrimo, Subyarto, Raharjo, Supadmoputro, Wisopodo, Budiono, Wibisono, Nugroho, Kareviantoro, Birawono, Prasetyo, Santoso, Suryanto, Suyanto, Warsito dan lain lainnya penasaran termangu menunggu seperti apa Ritaa Samaria. Seanggun atau seangkuh siapa Ritaa Samaria. Sehebat apa dia sehingga hanya gara-gara Ritaa tak kunjung datang, tapi dampaknya mengacaukan banyak rencana dan acara. Namun, tetap saja. Tak ada satupun yang dapat memastikan kapan Ritaa tiba. Tetapi pemuda-pemuda itu rela, oleh karena itu maka mereka membuat panggung sendiri, menari sendiri, bertepuk tangan sendiri, dan menggembirakan hati sendiri. Ketika sudah capek menari, sambil merenung mereka bergumam,

“Oh Ritaa, when will you come”
Siapa tahu, dengan tarian dan tepuk tangan penggembira hati ini, energinya dapat dikirimkan lewat langit, frequensinya dapat digetarkan lewat laut hingga dapat menggerakkan hati Ritaa untuk segera datang.

Sacheon, 5 Januari 2017