Mati Ketawa Gaya Korea (15).
Pada dasarnya semua pekerjaan itu baik, selama ujung dari pekerjaan itu adalah kemaslahatan dan kemanfaatan. Apalagi kalau kemanfaatan dari pekerjaan itu berdampak bagi orang lain yang lebih banyak maka pekerjaan itu manjadi semakin mulia di mata Tuhan. Dan untuk kemuliaan itu tidak harus menjadi dokter, insinyur atau ahli hukum atau apapun profesi yang mentereng lainnya. Bahkan menjadi sopirpun bisa lebih mulia di mata Tuhan bila kemanfaatan profesi ini diletakkan pada tingkat keiklasan tertinggi sebagai sopir. Apalagi ini, sopir untuk melayani banyak orang, maka tersedia ruang kemulaian yang tinggi bila pemegang amanah ini melandasi pelayanannya pada ruang keiklasan hati yang tertinggi. Oleh karena itu tidak kaget bila banyak orang, meskipun dia engineer, enginer pesawat tempur lagi, merasa perlu untuk mengejar jalan surga lewat pintu amal dan keiklasan sebagai sopir. Merasa perlu untuk mengemban tugas tambahan, sebagai sopir antar jemput para engineer, alias sebagai Jobsopir.
Dalam masa penugasan para egineer Indonesia di KAI ini,
sebagian besar telah mengkonversi SIM Indonesianya tanpa test menjadi SIM Korea
grade-2. Dalam aturan SIM di Korea, pemilik Grade-2 diijinkan untuk membawa
kendaraan dengan penumpang tidak lebih dari 9 orang. Dengan pengertian ini maka
para pemegang SIM Grade-2 telah siap sebagai sopir, mengemban amanah melayani
dan mengantar teman-temannya kemanapun diperlukan. Namun, untuk pertimbangan
efisiensi biaya dan ketersediaan budget maka diperlukan mobil sekelas Starek
yang mampu mengangkut 11 orang penumpang sekaligus. Dan untuk ini diperlukan
SIM Grade-1, yang artinya pemegang Grade-2 harus mengconversinya menjadi SIM
Grade-1. Konversi Grade-2 menjadi Grade-1 memerlukan ujian praktek. Bahwa
faktanya Korea menggunakan konsep kemudi stir kiri yang berbeda dengan konsep
Indonesia yang stir kanan, tetapi itu tidak dianggap sebagai masalah yang
serius oleh calon jobsopir ini, meskipun kemudian ternyata faktor itu telah
menjadi sumber kegagalan test. Bagaimana tidak, konsep ujian SIM yang
memberikan point negatif untuk setiap kesalahan yang terjadi maka bila baru
berangkat saja sudah terjadi kesalahan bisa berabe urusan selanjutnya. Sebut
saja misalnya, maksud hati ingin menyalakan lampu riting, tetapi tangan kanan
telah bergerak reflek diluar kendali otak yang ternyata menggerakkan handle
wiper. Meskipun hal itu telah disiapkan sebaik baiknya saat latihan, namun
itulah yang terjadi saat ujian berlangsung. Karena kaget dan mungkin sedikit kecewa
maka gerakan wiper bergoyang seakan menari-nari sambil mengejek,
“Kacian deh lu, ...point -5, point -5, point -5”, seperti
ejekan burung beo yang pandai meniru itu.
Cilakanya kalimat ejekan tarian wiper itu terus terngiang di
kepala hingga mengacaukan segalanya.
Tarian wiper yang tentu saja tidak seperti goyang Inul
Daratista, telah membuat kepanikan, konsentrasi buyar, semua teori, latihan dan
pelajaran yang telah disiapkan menguap dengan cepat. Ketika tangan kanan harus
menetralkan wiper, pada saat yang sama tangan kiri harus segera menyalakan
riting tanda kendaraan memasuki jalan raya, padahal mobil sudah meraung karena
gigi sudah minta untuk dipindah ke posisi gigi 2. Sebagai engineer propulsi
yang sebenarnya sudah mahir mengedalikan APV, mestinya tidak akan ada masalah
untuk urusan mengendalikan engine mobil test ini. Bahwa yang terjadi seperti
itu, barangkali hal ini karena suasana ujian, sekali lagi ujian.
Dalam suasana panik maka pemindahan gigi tidak berjalan
sesuai rencana. Tangan seakan mati rasa, tidak peka sehingga tidak bisa
membedakan ini sudah masuk gigi 2 atau malah kembali netral. Maka yang terjadi
adalah raungan mesin yang semakin keras. Lirikan penguji hanya serasa seperti
cemoohan atas kualitas ketrampilan nyopirnya. Dan, sudah nggak tau lagi sudah
minus berapa kerugian nilainya. Semakin otak menghitung minus, maka kekacauan
semakin menjadi.
Ketika bersiap untuk berpindah jalur menuju jalur lambat, goyang wiper yang tidak diharapkan datang tanpa diundang, menari dan bergoyang. Bahkan, dijalur berikutnya, bam yang harusnya direspon dengan jalan perlahan, ditabrak saja hingga menghasilkan goncangan hebat. Barangkali ini dampak dari ketegangan dan ketakutan calon Jobsopir bila dia mengerem mendadak yang mungkin akan menyebabkan penguji terlempar ke depan, atau bahkan mesin akan mati mendadak. Penguji seperti sudah paham menghadapi situasi seperti itu, dia hanya berpegangan lebih erat ke handel yang bisa diraih dan setelah itu dia melihat papan skor elektronik untuk memberi tanda pengurangan point yang terjadi.
Pada titik ini sepertinya calon jobsopir ini sudah tidak
peduli berapa banyak kehilangan pointnya. Untuk agar tidak gagal total maka
target lulus pun harus dipinggirkan dulu, dilupakan dulu dan menyelamatkan
harga diri lebih penting. Maka target pun diubah menjadi target
finish sampai tujuan akhir test. “Meskipun nggak lulus, kalo sampai finish akan lebih
terhormat”, barangkali itu alasannya.Ketika bersiap untuk berpindah jalur menuju jalur lambat, goyang wiper yang tidak diharapkan datang tanpa diundang, menari dan bergoyang. Bahkan, dijalur berikutnya, bam yang harusnya direspon dengan jalan perlahan, ditabrak saja hingga menghasilkan goncangan hebat. Barangkali ini dampak dari ketegangan dan ketakutan calon Jobsopir bila dia mengerem mendadak yang mungkin akan menyebabkan penguji terlempar ke depan, atau bahkan mesin akan mati mendadak. Penguji seperti sudah paham menghadapi situasi seperti itu, dia hanya berpegangan lebih erat ke handel yang bisa diraih dan setelah itu dia melihat papan skor elektronik untuk memberi tanda pengurangan point yang terjadi.
Sesampai trafik light, kebetulan lampu merah menyala maka
mobil harus berhenti dan menunggu hingga lampu hijau menyala. Sesuai teori,
pada saat menunggu seperti ini maka gigi harus dinetralkan. Karena jalan memang
ada kemiringan maka wajar bila pedal rem harus ditekan. Saat lampu hijau
menyala, segera bersiap melanjutkan perjalanan menuju garis finish yang tinggal
satu atau dua kelokan lagi. Segera gigi dipindah ke posisi 1, rem dan kopling dilepas
perlahan, dan dengan cepat kaki berpindah ke gas. Namun mobil malah bergerak
mundur, dan mesin meraung.
“Walah, nggak mau masuk gigi satu lagi.....heuuuhhh”.
Dengan cepat rem di injak lagi dan tangan meraih handle gigi
untuk membetulkan dan memastikan posisi gigi 1. Berhasil telah memastikan posisi
gigi 1, mobil bergerak perlahan dan terdengar suara pemberitahuan dari audio
penguji, “this is lane for 70 km per hour...”. Calon jobsopir ini segera
memindahkan gigi ke posisi 2, namun kembali lagi mesin meraung tanda gigi belum
masuk ke gigi 2 alias masih di posisi netral. Melihat situasi berulang seperti
ini, penguji sudah tidak sabar dan segera saja meminta agar mobil dipinggirkan sambil
ditunjukkan skor yang dengan nilai itu sudah nggak mungkin lulus. Tentu saja
calon jobsopir segera turun. Selanjutnya posisi kemudi dipegang oleh penguji.
Dengan suara yang agak keras penguji sengaja menunjukkan dan mempraktekan cara
memindah gigi. Karena pakai bahasa Korea, tidak jelas kalimatnya, tidak tahu
kata katanya, yang pasti hanya dapat dipahami maknanya sebagai,
“Gini lho cara mindah gigi ituuuu !!”, Dengan setengah
membentak sambil tangan kanannya menggerakkan handel gigi ke posisi yang
diucapkan,
“Ceklak...ini SATU, Ceklak....ini DUA, ceklah......ini TIGA,
ceklak ...ini LIMA. Arasooooo ???”. Melihat dan mendengar itu dia hanya tersenyum sambil
membayangkan,
“Padahal sama seperti APV, tetapi kok sulit masukin gigi nya
ya?.”
Di bawah kendali kemudi penguji, mobil meluncur kembali ke
titik awal, dan calaon jobsopir yang gagal kali ini hanya bisa merenung,
“Wah.... nampaknya harus senasib dengan engineer fuel system......”
Sacheon, 25 Januari 2017