Senin, 09 Januari 2017


Tarian Satir untuk Ritaa Samaria
Mati Ketawa Gaya Korea (12)

Sebagai seorang gadis, sebenarnya biasa-biasa saja. Bahkan, barangkali terbilang kalah cantik dibandingkan Ayu Ting Ting ataupun Ayu Wandira. Meskipun tidak terlalu cantik, Ritaa Samaria ini sangat menarik. Dia terkenal, karenanya banyak pemuda hingga dari berbagai bangsa terus saja berusaha untuk berkenalan dengannya, pingin menggandengnya dan sekaligus mengundangnya untuk mendapatkan sekedar tanda tangannya. Tetapi Ritaa gadis yang tegas, tidak luwes, teguh pendirian, dan tidak mudah dirayu, sehingga terkesan kaku. Karena sikap dan sifatnya itu barangkali yang menyebabkan sulit ketemu jodoh. Kebetulan Ritaa diberi anugrah umur panjang, bahkan hingga beberapa generasi berganti, dia tetap hidup, tetap menarik dan tetap diingini oleh banyak pemuda. Berjalannya waktu, dia sering berganti nama seiring dengan pemuda mana yang kira-kira sedang mendekatinya. Kebetulan saja yang sedang mendekatinya saat ini adalah pemuda-pemuda dari Indonesia yang sedang di Korea, maka dia mengenalkan diri sebagai Ritaa, ya Ritaa Samaria. Entah esok atau lusa, dia berganti nama menjadi apa lagi.
Ritaa adalah anak dari keluarga Sam, atau orang-orang lebih sering memanggilnya paman Sam, dan paman Sam kebetulan tinggal agak jauh, yang bagi orang Indonesia jaraknya dapat diukur sejauh antara antara siang dan malam. Sebagai keluarga kaya, paman Sam memang berhasil mendidik anak-anaknya untuk pinter dan maju. Sebut saja, William Edward Boim yang pada tahun 1916 yang secara radikal berbekal bisnis penebang kayu berubah menjadi pabrik pesawat. Generasi adik adiknya yang lahir berikutnya juga tidak kalah hebatnya, sebut saja misalnya, si MakDonnell dan Doglas tahun 1967, Nurtop, Guruman 1994, Martin 1995, dan seterusnya hingga Bill Gates, dan Steve Jobs yang mencoba membuat tiruan sederhana dari otak manusia.

Kehebatan anak-anaknya ini sedikit banyak menyebabkan keangkuhan dan kejumawan paman Sam sebagai orang tua semakin bertambah. Meskipun paman Sam lebih sering angkuh, arogan dan jumawa ke tetangga tetangga jauhnya, tetapi tetep saja semua orang mengakui bahwa keberadaan paman Sam tidak dapat diabaikan dan bahkan pada titik tertentu dibutuhkan untuk keseimbangan. Dalam beberapa hal malah harus tetep menjaga berhubungan baik dengan keluarga paman Sam ini demi mendapatkan kemanfaatan yang lebih luas.
Adiknya, Martin, ya Martin Marietta, entah anak yang keberapa ini, meskipun terlahir belakangan dia dianugerahi kemampuan membuat barang yang berfungsi sebagai perisai langit. Dengan ilmu dan kemampuannya maka langit akan sulit untuk ditembus oleh senjata apapun. Sebagai anak pintar dan berotak bisnis, maka dia jual ilmunya, dia jual perisai langitnya, untuk kebahagiaan dan kemakmuran keluarganya sendiri. Martin tentu gembira kalau ada tetangganya yang ingin memakai hasil karyanya, dan membeli kemampuannya. Dengan begitu, Martin akan mendapatkan uang sendiri.

Tapi tidak demikian sang Bapak. Paman Sam tentu tidak ingin superioritasnya terganggu, dominasinya terancam maka dia tidak dengan mudah mengijinkan Martin untuk menjual kemampuannya, kecuali masih tetap dalam kendalinya. Membebaskan Martin untuk menjual tanpa kendalinya akan sama dengan bunuh diri. Pada saat yang sama, kebetulan paman Sam berkepentingan mencarikan jodoh Ritaa. Oleh karena itu, paman Sam merasa perlu menyaratkan secara paket bahwa siapa saja yang mau membeli kemampuan atau keahlian anak-anaknya, harus sekaligus berani melamar Ritaa dan harus mendapatkan anggukan persetujuan dari Ritaa. Dengan begitu maka semua tetap berada dalam kendali paman Sam. Tanpa Ritaa?. Jangan harap Martin atau siapapun juga anaknya berani melepas ilmunya.
Sementara itu, sudah 3 purnama lamanya. Tidak kurang dari 60 orang pemuda, sebut saja, Darto, Sumaro, Kartiko, Yudono, Sutrimo, Subyarto, Raharjo, Supadmoputro, Wisopodo, Budiono, Wibisono, Nugroho, Kareviantoro, Birawono, Prasetyo, Santoso, Suryanto, Suyanto, Warsito dan lain lainnya penasaran termangu menunggu seperti apa Ritaa Samaria. Seanggun atau seangkuh siapa Ritaa Samaria. Sehebat apa dia sehingga hanya gara-gara Ritaa tak kunjung datang, tapi dampaknya mengacaukan banyak rencana dan acara. Namun, tetap saja. Tak ada satupun yang dapat memastikan kapan Ritaa tiba. Tetapi pemuda-pemuda itu rela, oleh karena itu maka mereka membuat panggung sendiri, menari sendiri, bertepuk tangan sendiri, dan menggembirakan hati sendiri. Ketika sudah capek menari, sambil merenung mereka bergumam,

“Oh Ritaa, when will you come”
Siapa tahu, dengan tarian dan tepuk tangan penggembira hati ini, energinya dapat dikirimkan lewat langit, frequensinya dapat digetarkan lewat laut hingga dapat menggerakkan hati Ritaa untuk segera datang.

Sacheon, 5 Januari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar