Tarian Satir untuk Ritaa
Samaria
Mati Ketawa Gaya Korea (12)
Sebagai seorang gadis, sebenarnya biasa-biasa saja. Bahkan,
barangkali terbilang kalah cantik dibandingkan Ayu Ting Ting ataupun Ayu
Wandira. Meskipun tidak terlalu cantik, Ritaa Samaria ini sangat menarik. Dia
terkenal, karenanya banyak pemuda hingga dari berbagai bangsa terus saja
berusaha untuk berkenalan dengannya, pingin menggandengnya dan sekaligus
mengundangnya untuk mendapatkan sekedar tanda tangannya. Tetapi Ritaa gadis
yang tegas, tidak luwes, teguh pendirian, dan tidak mudah dirayu, sehingga
terkesan kaku. Karena sikap dan sifatnya itu barangkali yang menyebabkan sulit
ketemu jodoh. Kebetulan Ritaa diberi anugrah umur panjang, bahkan hingga
beberapa generasi berganti, dia tetap hidup, tetap menarik dan tetap diingini
oleh banyak pemuda. Berjalannya waktu, dia sering berganti nama seiring dengan
pemuda mana yang kira-kira sedang mendekatinya. Kebetulan saja yang sedang
mendekatinya saat ini adalah pemuda-pemuda dari Indonesia yang sedang di Korea,
maka dia mengenalkan diri sebagai Ritaa, ya Ritaa Samaria. Entah esok atau
lusa, dia berganti nama menjadi apa lagi.
Ritaa adalah anak dari keluarga Sam, atau orang-orang lebih
sering memanggilnya paman Sam, dan paman Sam kebetulan tinggal agak jauh, yang
bagi orang Indonesia jaraknya dapat diukur sejauh antara antara siang dan
malam. Sebagai keluarga kaya, paman Sam memang berhasil mendidik anak-anaknya
untuk pinter dan maju. Sebut saja, William Edward Boim yang pada tahun 1916
yang secara radikal berbekal bisnis penebang kayu berubah menjadi pabrik
pesawat. Generasi adik adiknya yang lahir berikutnya juga tidak kalah hebatnya,
sebut saja misalnya, si MakDonnell dan Doglas tahun 1967, Nurtop, Guruman 1994,
Martin 1995, dan seterusnya hingga Bill Gates, dan Steve Jobs yang mencoba
membuat tiruan sederhana dari otak manusia.
Kehebatan anak-anaknya ini sedikit banyak menyebabkan
keangkuhan dan kejumawan paman Sam sebagai orang tua semakin bertambah. Meskipun
paman Sam lebih sering angkuh, arogan dan jumawa ke tetangga tetangga jauhnya,
tetapi tetep saja semua orang mengakui bahwa keberadaan paman Sam tidak dapat
diabaikan dan bahkan pada titik tertentu dibutuhkan untuk keseimbangan. Dalam
beberapa hal malah harus tetep menjaga berhubungan baik dengan keluarga paman
Sam ini demi mendapatkan kemanfaatan yang lebih luas.
Adiknya, Martin, ya Martin Marietta, entah anak yang
keberapa ini, meskipun terlahir belakangan dia dianugerahi kemampuan membuat
barang yang berfungsi sebagai perisai langit. Dengan ilmu dan kemampuannya maka
langit akan sulit untuk ditembus oleh senjata apapun. Sebagai anak pintar dan
berotak bisnis, maka dia jual ilmunya, dia jual perisai langitnya, untuk
kebahagiaan dan kemakmuran keluarganya sendiri. Martin tentu gembira kalau ada
tetangganya yang ingin memakai hasil karyanya, dan membeli kemampuannya. Dengan
begitu, Martin akan mendapatkan uang sendiri.
Tapi tidak demikian sang Bapak. Paman Sam tentu tidak ingin
superioritasnya terganggu, dominasinya terancam maka dia tidak dengan mudah
mengijinkan Martin untuk menjual kemampuannya, kecuali masih tetap dalam
kendalinya. Membebaskan Martin untuk menjual tanpa kendalinya akan sama dengan
bunuh diri. Pada saat yang sama, kebetulan paman Sam berkepentingan mencarikan jodoh
Ritaa. Oleh karena itu, paman Sam merasa perlu menyaratkan secara paket bahwa
siapa saja yang mau membeli kemampuan atau keahlian anak-anaknya, harus sekaligus
berani melamar Ritaa dan harus mendapatkan anggukan persetujuan dari Ritaa. Dengan
begitu maka semua tetap berada dalam kendali paman Sam. Tanpa Ritaa?. Jangan
harap Martin atau siapapun juga anaknya berani melepas ilmunya.
Sementara itu, sudah 3 purnama lamanya. Tidak kurang dari 60
orang pemuda, sebut saja, Darto, Sumaro, Kartiko, Yudono, Sutrimo, Subyarto,
Raharjo, Supadmoputro, Wisopodo, Budiono, Wibisono, Nugroho, Kareviantoro,
Birawono, Prasetyo, Santoso, Suryanto, Suyanto, Warsito dan lain lainnya
penasaran termangu menunggu seperti apa Ritaa Samaria. Seanggun atau seangkuh
siapa Ritaa Samaria. Sehebat apa dia sehingga hanya gara-gara Ritaa tak kunjung
datang, tapi dampaknya mengacaukan banyak rencana dan acara. Namun, tetap saja.
Tak ada satupun yang dapat memastikan kapan Ritaa tiba. Tetapi pemuda-pemuda itu
rela, oleh karena itu maka mereka membuat panggung sendiri, menari sendiri,
bertepuk tangan sendiri, dan menggembirakan hati sendiri. Ketika sudah capek
menari, sambil merenung mereka bergumam,
“Oh Ritaa, when will you come”
Siapa tahu, dengan tarian dan tepuk tangan penggembira hati
ini, energinya dapat dikirimkan lewat langit, frequensinya dapat digetarkan
lewat laut hingga dapat menggerakkan hati Ritaa untuk segera datang.
Sacheon, 5 Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar