Jumat, 18 November 2016

Khotib dan Muazzin sholat Jum’at (2)

Khotib dan Muazzin sholat Jum’at (2)
Mati Ketawa Gaya Korea (11)

Setelah step awal ritual solat Jum’at yang namanya adzan berhasil dilewati dengan lancar, berikutnya adalah agenda pokok sholat Jum’at yaitu Khotbah. Kotbah ini menjadi salah satu dari rukun sholat Jum’at, yang begitu pokok dan penting sehingga sewajarnya Kotbah ini semestinya diisi oleh orang yang memang mumpuni di bidang itu. Meskipun penting namun agama ini tidak ingin hal penting ini menjadi menyulitkan umatnya dalam pelaksanaannya. Maka syarat fisiknya pun dimudahkan, yaitu cukup, khotib harus laki laki yg sudah dewasa/baligh dan mampu serta dipercaya menjadi khotib oleh para jamaahnya. Begitu mudahnya sehingga hampir dipastikan semua engineer laki-laki di program IF-X di KAI ini memenuhi syarat untuk menjadi seorang Khatib sholat Jum’at, kecuali beberapa orang yang memang memiliki kebebasan lebih saat memilih makanan di kantin termasuk memilih menu yang mengandung “daging enak” alias dwejigogi.
Atas dasar keyakinan akan kemudahan syarat itulah maka kothib hari itu menyiapkan diri, karena begitu ditunjuk dia juga tidak menemukan lagi alasan untuk dapat menolak. Dalam konteks lahiriah, bagi yang pernah belajar ilmu drama atau teater, berdiri menjadi khotib menyampaikan kotbah di depan jamaah, tak ubahnya sedang berperan menjadi aktor sebagai tokoh itu. Artinya, dengan menyiapkan dan membaca naskah secukupnya, pilih sendiri temanya, penuhi syarat dan rukun sebuah materi kotbah kemudian lafalkan, dan hafalkan monolog atau dialognya, kemudian praktekkan di depan jamaah seakan-akan sedang benar-benar menjadi tokoh itu. Semudah itu itu berperan sebagai khotib.

Namun sayangnya, kotbah Jum’at bukanlah sebuah representasi kegiatan teater atau drama. Kotbah Jum’at adalah sebuah ritual Agung bagi muslim dalam melaksanakan kepatuhannya kepada Alloh Tuhannya, sehingga meskipun sulit maka diupayakan semaksimal mungkin untuk dilaksanakan. Sebagai sebuah ritual ibadah agama, makanya pelaksanaan Kotbah tidak boleh direpresentasikan sebagai seperti sebuah kegiatan teater atau drama, yang hanya bermuara kepada kepuasan seni rasa dan keindahan saja. Dalam kotbah melekat inheren kelurusan niat akan ketundukan, kepatuhan, keiklasan untuk melaksanakan perintah Tuhan, juga berisi ajakan dan nasihat kebaikan yang tentu saja sekali ajakan atau nasihat itu diucapkan maka sekaligus melekat dan mengikat tangan, kaki dan leher khotib yang mengucapkan. Hanya itu beratnya menjadi khotib, yaitu tuntutan ke dalam diri sendiri untuk satunya kata dan perbuatan. Oleh karena itu sangat dipahami kenapa ada beberapa orang yang begitu mudah menasihati, atau “berkotbah” di grup WA (meskipun cuma copy paste), namun ketika tiba giliran untuk menjadi khotib, seribu alasan dikeluarkan agar dapat menghindari tugas mulia keagamaan itu.
Meskipun begitu, bagi khotib yang ditunjuk di hari itu, karena sedari awal memang juga sudah disadari bahwa di dalam manusialah tempat nya salah dan lupa, maka kotbah itu terjadilah. Atas segala cacat, ketidak tepatan, ketidak konsistenan, ketidak mampuan dan ketidak sanggupannya semoga saja Tuhan mengampuni, karana hanya permohonan maaf itulah yang pantas dilakukan. 

“Toh yang diukur dari kita adalah kelurusan niat serta kesungguhan kita untuk agar kotbah itu benar-benar terjadi. Kalau masih salah? Memang siapa yang memberikan kemampuan kepadaku”, katanya dalam hati untuk memotivasi diri.
Ayat demi ayat dibaca, makna, tafsir dan pesan moral dari ayat coba dijelaskan, begitu berhati-hatinya karena takut salah maka kalimat apalagi bacaan ayat sama sekali tidak mampu dilagukan. Semua dibaca datar, flat dan mungkin membosankan. Bagi sebagian jamaah yang biasanya langsung tertidur saat kotbah Jum’at dibacakan karena terhanyut dalam keindahan bacaan khotib, maka sangat mungkin jamaah hari itu tidak dapat tidur karena tidak ditemukan rangkaian indah kalimat kotbahnya apalagi lagu bacaan ayatnya yang mampu mengantarkannya untuk mengantuk. 

Membaca doa di akhir kotbah juga menjadi hal yang tidak mudah. Agar sebuah doa dapat diamini secara serentak oleh jamaah maka doa harus dilantunkan dengan lagu dan jeda yang pas. Tanpa itu maka memahaminya saja menjadi sulit, apalagi mengamininya, juga menjadi tidak mudah. Kalau doa hari itu jamaah juga tidak dapat mengamini secara bersama sama, itulah kesulitan khotib yang tidak biasa memimpin doa. Kalaulah akhirnya jamaah tidak dapat meng amini bersama-sama, semoga saja amin nya jamaah secara siri lebih meresap dalam hati dan mengkristal menjadi energi yang lebih mampu menembus langit untuk menggoyang Singgasana Pemilik Langit demi terkabulnya doa.
Akhirnya, dengan ditutup sholat Jum’at 2 rakaat berjamaah, selesailah rangkaian ibadah Jum’at hari itu. Ada perasaan lega, karena kewajiban telah ditunaikan. Ada perasaan bahagia karena pengalaman pertama berhasil dilewati, ada perasaan kecewa karena lidah seperti kaku dan gagu ketika membaca ayat dan melantunkan doa. 

“Namun semua itu kuserahkan padaMu wahai Sang Pemberi Ilmu dan Penakar Kemampuanku. Yang pasti aku sudah upayakan yang terbaik yang bisa aku lakukan”, renungan khotib dalam hati saat kembali duduk kursi kubiknya setelah acara selesai.
Tak terlalu lama khotib dapat merenung, karena beberapa orang tiba-tiba saja datang memberi jabat tangan dan ucapan selamat kepada paket Khotib dan muazzinnya. Yang terjadi suasana hiruk pikuk kegembiraan di kubik aerodinamika.

“Selamat, alhamdulillah selesai”,
“Selamat, sudah lulus... cumlaude”,

Tak lengkap rasanya kalau nggak ada ucapan ledekan yang membuat suasana lebih gembira,

“Wah selamat, untung muazzinnya nggak harus bertanya.”
Semua gembira, ucapan selamat sebagai tanda bahwa tugas telah terlaksana, bahwa yang awalnya diragukan akhirnya dilewati, bahkan yang ditakuti akhirnya tidak terjadi, yaitu pertanyaan :

“Yang ini Hayya ‘alas-shalaah atau hayya ‘alal-falaah ?”.
Sacheon, 19 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar