Mati Ketawa Gaya Korea (11)
Setelah step awal ritual solat Jum’at yang namanya adzan
berhasil dilewati dengan lancar, berikutnya adalah agenda pokok sholat Jum’at
yaitu Khotbah. Kotbah ini menjadi salah satu dari rukun sholat Jum’at, yang
begitu pokok dan penting sehingga sewajarnya Kotbah ini semestinya diisi oleh
orang yang memang mumpuni di bidang itu. Meskipun penting namun agama ini tidak
ingin hal penting ini menjadi menyulitkan umatnya dalam pelaksanaannya. Maka
syarat fisiknya pun dimudahkan, yaitu cukup, khotib harus laki laki yg sudah
dewasa/baligh dan mampu serta dipercaya menjadi khotib oleh para jamaahnya.
Begitu mudahnya sehingga hampir dipastikan semua engineer laki-laki di program
IF-X di KAI ini memenuhi syarat untuk menjadi seorang Khatib sholat Jum’at,
kecuali beberapa orang yang memang memiliki kebebasan lebih saat memilih
makanan di kantin termasuk memilih menu yang mengandung “daging enak” alias
dwejigogi.
Atas dasar keyakinan akan kemudahan syarat itulah maka
kothib hari itu menyiapkan diri, karena begitu ditunjuk dia juga tidak
menemukan lagi alasan untuk dapat menolak. Dalam konteks lahiriah, bagi yang
pernah belajar ilmu drama atau teater, berdiri menjadi khotib menyampaikan
kotbah di depan jamaah, tak ubahnya sedang berperan menjadi aktor sebagai tokoh
itu. Artinya, dengan menyiapkan dan membaca naskah secukupnya, pilih sendiri
temanya, penuhi syarat dan rukun sebuah materi kotbah kemudian lafalkan, dan
hafalkan monolog atau dialognya, kemudian praktekkan di depan jamaah
seakan-akan sedang benar-benar menjadi tokoh itu. Semudah itu itu berperan
sebagai khotib.
Namun sayangnya, kotbah Jum’at bukanlah sebuah representasi
kegiatan teater atau drama. Kotbah Jum’at adalah sebuah ritual Agung bagi
muslim dalam melaksanakan kepatuhannya kepada Alloh Tuhannya, sehingga meskipun
sulit maka diupayakan semaksimal mungkin untuk dilaksanakan. Sebagai sebuah
ritual ibadah agama, makanya pelaksanaan Kotbah tidak boleh direpresentasikan
sebagai seperti sebuah kegiatan teater atau drama, yang hanya bermuara kepada
kepuasan seni rasa dan keindahan saja. Dalam kotbah melekat inheren kelurusan
niat akan ketundukan, kepatuhan, keiklasan untuk melaksanakan perintah Tuhan,
juga berisi ajakan dan nasihat kebaikan yang tentu saja sekali ajakan atau
nasihat itu diucapkan maka sekaligus melekat dan mengikat tangan, kaki dan
leher khotib yang mengucapkan. Hanya itu beratnya menjadi khotib, yaitu
tuntutan ke dalam diri sendiri untuk satunya kata dan perbuatan. Oleh karena
itu sangat dipahami kenapa ada beberapa orang yang begitu mudah menasihati,
atau “berkotbah” di grup WA (meskipun cuma copy paste), namun ketika tiba
giliran untuk menjadi khotib, seribu alasan dikeluarkan agar dapat menghindari
tugas mulia keagamaan itu.
Meskipun begitu, bagi khotib yang ditunjuk di hari itu,
karena sedari awal memang juga sudah disadari bahwa di dalam manusialah tempat
nya salah dan lupa, maka kotbah itu terjadilah. Atas segala cacat, ketidak
tepatan, ketidak konsistenan, ketidak mampuan dan ketidak sanggupannya semoga
saja Tuhan mengampuni, karana hanya permohonan maaf itulah yang pantas
dilakukan.
“Toh yang diukur dari kita adalah kelurusan niat serta
kesungguhan kita untuk agar kotbah itu benar-benar terjadi. Kalau masih salah?
Memang siapa yang memberikan kemampuan kepadaku”, katanya dalam hati untuk memotivasi
diri.
Ayat demi ayat dibaca, makna, tafsir dan pesan moral dari
ayat coba dijelaskan, begitu berhati-hatinya karena takut salah maka kalimat
apalagi bacaan ayat sama sekali tidak mampu dilagukan. Semua dibaca datar, flat
dan mungkin membosankan. Bagi sebagian jamaah yang biasanya langsung tertidur
saat kotbah Jum’at dibacakan karena terhanyut dalam keindahan bacaan khotib,
maka sangat mungkin jamaah hari itu tidak dapat tidur karena tidak ditemukan
rangkaian indah kalimat kotbahnya apalagi lagu bacaan ayatnya yang mampu
mengantarkannya untuk mengantuk.
Membaca doa di akhir kotbah juga menjadi hal yang tidak
mudah. Agar sebuah doa dapat diamini secara serentak oleh jamaah maka doa harus
dilantunkan dengan lagu dan jeda yang pas. Tanpa itu maka memahaminya saja
menjadi sulit, apalagi mengamininya, juga menjadi tidak mudah. Kalau doa hari
itu jamaah juga tidak dapat mengamini secara bersama sama, itulah kesulitan
khotib yang tidak biasa memimpin doa. Kalaulah akhirnya jamaah tidak dapat meng
amini bersama-sama, semoga saja amin nya jamaah secara siri lebih meresap dalam
hati dan mengkristal menjadi energi yang lebih mampu menembus langit untuk
menggoyang Singgasana Pemilik Langit demi terkabulnya doa.
Akhirnya, dengan ditutup sholat Jum’at 2 rakaat berjamaah,
selesailah rangkaian ibadah Jum’at hari itu. Ada perasaan lega, karena
kewajiban telah ditunaikan. Ada perasaan bahagia karena pengalaman pertama
berhasil dilewati, ada perasaan kecewa karena lidah seperti kaku dan gagu
ketika membaca ayat dan melantunkan doa.
“Namun semua itu kuserahkan padaMu wahai Sang Pemberi Ilmu
dan Penakar Kemampuanku. Yang pasti aku sudah upayakan yang terbaik yang bisa
aku lakukan”, renungan khotib dalam hati saat kembali duduk kursi kubiknya
setelah acara selesai.
Tak terlalu lama khotib dapat merenung, karena beberapa
orang tiba-tiba saja datang memberi jabat tangan dan ucapan selamat kepada
paket Khotib dan muazzinnya. Yang terjadi suasana hiruk pikuk kegembiraan di
kubik aerodinamika.
“Selamat, alhamdulillah selesai”,
“Selamat, sudah lulus... cumlaude”, Tak lengkap rasanya kalau nggak ada ucapan ledekan yang membuat suasana lebih gembira,
“Wah selamat, untung muazzinnya nggak harus bertanya.”
Semua gembira, ucapan selamat sebagai tanda bahwa tugas
telah terlaksana, bahwa yang awalnya diragukan akhirnya dilewati, bahkan yang
ditakuti akhirnya tidak terjadi, yaitu pertanyaan :
“Yang ini Hayya ‘alas-shalaah atau hayya ‘alal-falaah ?”.
Sacheon, 19 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar