Minggu, 01 April 2018

이것은 강아지 복장 입니다.

Mati Ketawa Gaya Korea (16).
이것은 강아지 복장 입니다.
(Igosen gang-aji bogjang ibnida)
Setiap masa memang punya ceritanya sendiri. Tetapi, dalam setiap masa itu pula ada keserupaan kisah, oleh karena itu tidak berlebihan bila banyak orang mengatakan bahwa sejarah selalu berulang. Kejadian dan kisah berulang, hanya saja dalam level varian dan tokohnya saja yang mungkin berbeda, tetapi hakekat kejadiaannya serupa.
Problematika sekelompok manusia yang hidup di negeri asing, tidak peduli meskipun levelnya engineer pesawat tempur, selalu diawali dengan menghadapi problem bahasa. Tidak episode Daejeon, tidak pula episode Sacheon. Kalau di episode Daejoen ada dikenal dengan kisah “tragedi telur kecut” sebagai akibat salah menafsirkan atau lebih tepatnya gagal membedakan antara minyak goreng dan cuka. Atau kisah tragedi “Pelembab Istimewa”, lagi-lagi kegagalan membaca yang berakibat kesalahan manafsirkan fungsi yang seharusnya body wash dikira pelembab.
Engineer, apalagi engineer high tech pesawat tempur, sebagai manusia analitis sangat menyadari problematika bahasa ini, sehingga prediksi masalah yang akan muncul sudah diantisipasi. Biar nggak kesulitan bahasa maka ikut kursus khusus bahasa. Ya bahasa Korea. Meskipun intensitasnya cuma seminggu sekali, dirasa lumayan untuk modal dasar bersosialisasi di Korea, paling tidak untuk memenuhi kebutuhan dasar, yaitu komunikasi di toko atau Pasar.
Sebagai engineer yang sangat logic, segalanya dianalisis secara logic. Dengan berbekal modal kursus bahasa seminggu sekali sudah sudah dirasa cukup untuk modal bersosialisasi di pasar atau toko, karena memang konsep dasar belajar bahasa apapun adalah litle learn much use, alias sedikit sedikit saja belajarnya, tetapi banyak-banyaklah praktek menggunakannya, itu akan lebih efektif. Kira-kira itulah nasihat para ahli yang berpengalaman dalam proses pembelajaran bahasa.
Begitu semangatnya belajar bahasa maka nasihat much use ini diterapkan disetiap waktu. Ketemu spanduk, dibaca, ketemu nama toko, dieja, ketemu selebaran dibaca. Seperti anak TK atau SD yang baru mengenal huruf dan kata. Bahkan begitu semangatnya merasa perlu membawa selebaran ke rumah sekedar untuk melancarkan proses membaca.
Beberapa lembar dan suku kata sederhana berhasil dieja dan dibaca dengan lancar, meskipun jangan ditanya artinya.
“Wah sudah lumayan...ternyata nggak begitu sulit huruf hurufnya”, bisiknya dalam hati. Namun kegembiraan kecil ini terhenti ketika dia memulai suatu lembaran baru yang memang isinya hanya tulisan hanggul, tidak ada gambar maupun angka sama sekali. Sesaat terdiam untuk mencoba mengeja kata-kata yang ada. Tetapi pikirannya macet, memorinya buntu. Lembar yang dia pegang tidak berhasil dibaca satu katapun. Penasaran, karena dia sangat mengenal bahwa itu huruf hanggul tetapi kenapa tidak dapat dibaca. Rasa penasaran itu hilang berubah menjadi rasa geli hingga tertawa sendiri ketika dia mencoba memutar 180 derajat lembar yang dia pegang itu. Sambil tertawa sendiri dia menyadari bahwa lembar yang dia baca ternyata tulisannya terbalik.
“Wah kayak dagelan srimulat aja....”, bisiknya dalam hati sambil mengingat dagelan Srimulat.
Beruntung, kejadian itu dihadapinya sendiri, tidak ada khalayak yang ikut menertawakannya. Akan beda rasanya kalau hal seperti itu terjadi dihadapan orang lain atau khalayak ramai, misal di toko.
Sebagai engineer muda yang baru memiliki bayi atau anak kecil, maka wajar saja bila seluruh kegembiraan selama ditugaskan di Korea ini diekpresikan untuk sang anak. Apapun yang kira-kira cocok atau bagus untuk anak, maka pasti akan dibeli, toh harganya tidak seberapa. Beautifull Store menjadi obyek tujuan wisata shopping bagi beberapa engineer muda khususnya yang baru memiliki anak. Banyak macam mulai baju bayi, mainan, dan berbagai hal dapat dibeli dengan harga relatif murah dibanding toko-toko lainnya. Dalam setiap kunjungan di toko tersebut hampir selalu ada yang dapat dibeli. Karena memang menarik dan murah. Beautiful Store Gimhae relatif besar, paling tidak lebih besar dari yang di Jinju, sehingga barang yang dipajang juga relatif lebih banyak dan lebih bervariasi. Hampir semua kebutuhan keluarga ada di situ, mulai urusan baju, mainan, perlengkapan berkebun, perabot rumah tangga hingga perlengkapan untuk binatang piaraan. Semua ada.
Begitu masuk, sebagai bentuk kecintaan pada anak dan keluarga maka engineer muda ini segera mencari apapun yang cocok untuk buah hatinya, anaknya yang masih kecil. Setelah keliling-keliling menyusuri lorong toko Beautiful Store, perhatiannya tertarik pada tumpukan baju dengan warna ceria dan bentuk yang lucu.
“Wah baju ini lucu sekali,.... pasti si kecil lucu sekali dengan baju ini..”, begitu bisiknya dalam hati. Dari pada diambil orang maka langsung saja dimasukan ke dalam keranjang belanja. Tidak berhenti disitu, keranjangnya bertambah semakin penuh karena ada barang lain yang tidak kalah menariknya, seperti kaos, mainan anak, dll.
Setelah dirasa cukup, atau lebih tepatnya tidak ada yang menarik lagi, maka dia bergegas menuju kasir. Dengan sabar dan gembira membayangkan kegembiraan anaknya dengan baju baru yang lucu, dia berbaris mengikuti antrian di kasir. Ketika tiba gilirannya maka seperti biasa isi keranjang dikeluarkan satu persatu untuk dicatat melalui bar code yang ada. Lancar, karena memang tidak ada barang yang aneh. Namun sesaat kasir menghentikan pencatatannya sambil memperhatikan baju anak yang dipegangnya. Sesekali dia melirik si engineer muda mungkin untuk memastikan apa dia benar-benar ingin membeli baju anak itu. Untuk tidak mengecewakan pelanggannya maka kasir segera bertanya dalam bahasa Korea yang lugas.
강아지 있어요?? (gang-aji isseoyo?)
Engineer muda ini meskipun sudah kursus bahasa Korea seminggu sekali nampaknya nggak paham apa yang ditanyakan kasir ini. Agak gelalapan juga. Untuk lebih meyakinkan pertanyaannya, kasir kemudian menjelaskan lebih detil lagi sambil mengangkat baju itu, dan.......... tetep dengan bahasa Korea.
이것은 강아지 복장 입니다. (Igosen gang-aji bogjang ibnida.)
Nampaknya engineer muda ini tetep nggak paham juga apa maksud pertanyaannya. Kasirpun akhirnya terpaksa menggunakan jurus komunikasi terakhir yaitu bahasa isyarat. Yang dilakukan kasir adalah menekuk kedua pergelangan tangannya ke depan, mengangkat di samping dada, kemudian dipertegas dengan suara :
“guk..guk ...guk... “
Dari sini engineer muda ini baru paham. Sambil tertawa cepat-cepat dia bayar yang sudah dicatat dan segera mengengembalikan baju anak anjing itu ditempatnya. Kasir dan orang Korea yang melihat hanya tersenyum geli melihat kekeliruan engineer elektrik pesawat tempur IFX ini. Hanya engineer itu sendiri yang tak habis habisnya tertawa sendiri karena membayangkan anaknya yang lucu akan memakai baju anak anjing.
“Guk...guk...guk.... “
Suara itu barangkali yang selalu terngiang di kepala si engineer muda sambil membayangkan anaknya yang lucu tertawa gembira.
Sacheon 1 April 2018
Note :
강아지 있어요?? : Kamu punya anak anjing?
이것은 강아지 복장 입니다.: ini baju anak anjing.

Rabu, 25 Januari 2017

Engineer Jobsopir (1)

Engineer Jobsopir (1)
Mati Ketawa Gaya Korea (15).

Pada dasarnya semua pekerjaan itu baik, selama ujung dari pekerjaan itu adalah kemaslahatan dan kemanfaatan. Apalagi kalau kemanfaatan dari pekerjaan itu berdampak bagi orang lain yang lebih banyak maka pekerjaan itu manjadi semakin mulia di mata Tuhan. Dan untuk kemuliaan itu tidak harus menjadi dokter, insinyur atau ahli hukum atau apapun profesi yang mentereng lainnya. Bahkan menjadi sopirpun bisa lebih mulia di mata Tuhan bila kemanfaatan profesi ini diletakkan pada tingkat keiklasan tertinggi sebagai sopir. Apalagi ini, sopir untuk melayani banyak orang, maka tersedia ruang kemulaian yang tinggi bila pemegang amanah ini melandasi pelayanannya pada ruang keiklasan hati yang tertinggi. Oleh karena itu tidak kaget bila banyak orang, meskipun dia engineer, enginer pesawat tempur lagi, merasa perlu untuk mengejar jalan surga lewat pintu amal dan keiklasan sebagai sopir. Merasa perlu untuk mengemban tugas tambahan, sebagai sopir antar jemput para engineer, alias sebagai Jobsopir.

Dalam masa penugasan para egineer Indonesia di KAI ini, sebagian besar telah mengkonversi SIM Indonesianya tanpa test menjadi SIM Korea grade-2. Dalam aturan SIM di Korea, pemilik Grade-2 diijinkan untuk membawa kendaraan dengan penumpang tidak lebih dari 9 orang. Dengan pengertian ini maka para pemegang SIM Grade-2 telah siap sebagai sopir, mengemban amanah melayani dan mengantar teman-temannya kemanapun diperlukan. Namun, untuk pertimbangan efisiensi biaya dan ketersediaan budget maka diperlukan mobil sekelas Starek yang mampu mengangkut 11 orang penumpang sekaligus. Dan untuk ini diperlukan SIM Grade-1, yang artinya pemegang Grade-2 harus mengconversinya menjadi SIM Grade-1. Konversi Grade-2 menjadi Grade-1 memerlukan ujian praktek. Bahwa faktanya Korea menggunakan konsep kemudi stir kiri yang berbeda dengan konsep Indonesia yang stir kanan, tetapi itu tidak dianggap sebagai masalah yang serius oleh calon jobsopir ini, meskipun kemudian ternyata faktor itu telah menjadi sumber kegagalan test. Bagaimana tidak, konsep ujian SIM yang memberikan point negatif untuk setiap kesalahan yang terjadi maka bila baru berangkat saja sudah terjadi kesalahan bisa berabe urusan selanjutnya. Sebut saja misalnya, maksud hati ingin menyalakan lampu riting, tetapi tangan kanan telah bergerak reflek diluar kendali otak yang ternyata menggerakkan handle wiper. Meskipun hal itu telah disiapkan sebaik baiknya saat latihan, namun itulah yang terjadi saat ujian berlangsung. Karena kaget dan mungkin sedikit kecewa maka gerakan wiper bergoyang seakan menari-nari sambil mengejek,
“Kacian deh lu, ...point -5, point -5, point -5”, seperti ejekan burung beo yang pandai meniru itu.

Cilakanya kalimat ejekan tarian wiper itu terus terngiang di kepala hingga mengacaukan segalanya.
Tarian wiper yang tentu saja tidak seperti goyang Inul Daratista, telah membuat kepanikan, konsentrasi buyar, semua teori, latihan dan pelajaran yang telah disiapkan menguap dengan cepat. Ketika tangan kanan harus menetralkan wiper, pada saat yang sama tangan kiri harus segera menyalakan riting tanda kendaraan memasuki jalan raya, padahal mobil sudah meraung karena gigi sudah minta untuk dipindah ke posisi gigi 2. Sebagai engineer propulsi yang sebenarnya sudah mahir mengedalikan APV, mestinya tidak akan ada masalah untuk urusan mengendalikan engine mobil test ini. Bahwa yang terjadi seperti itu, barangkali hal ini karena suasana ujian, sekali lagi ujian.

Dalam suasana panik maka pemindahan gigi tidak berjalan sesuai rencana. Tangan seakan mati rasa, tidak peka sehingga tidak bisa membedakan ini sudah masuk gigi 2 atau malah kembali netral. Maka yang terjadi adalah raungan mesin yang semakin keras. Lirikan penguji hanya serasa seperti cemoohan atas kualitas ketrampilan nyopirnya. Dan, sudah nggak tau lagi sudah minus berapa kerugian nilainya. Semakin otak menghitung minus, maka kekacauan semakin menjadi. 
Ketika bersiap untuk berpindah jalur menuju jalur lambat, goyang wiper yang tidak diharapkan datang tanpa diundang, menari dan bergoyang. Bahkan, dijalur berikutnya, bam yang harusnya direspon dengan jalan perlahan, ditabrak saja hingga menghasilkan goncangan hebat. Barangkali ini dampak dari ketegangan dan ketakutan calon Jobsopir bila dia mengerem mendadak yang mungkin akan menyebabkan penguji terlempar ke depan, atau bahkan mesin akan mati mendadak. Penguji seperti sudah paham menghadapi situasi seperti itu, dia hanya berpegangan lebih erat ke handel yang bisa diraih dan setelah itu dia melihat papan skor elektronik untuk memberi tanda pengurangan point yang terjadi.
Pada titik ini sepertinya calon jobsopir ini sudah tidak peduli berapa banyak kehilangan pointnya. Untuk agar tidak gagal total maka target lulus pun harus dipinggirkan dulu, dilupakan dulu dan menyelamatkan harga diri lebih penting. Maka target pun diubah menjadi target finish sampai tujuan akhir test. “Meskipun nggak lulus, kalo sampai finish akan lebih terhormat”, barangkali itu alasannya.

Sesampai trafik light, kebetulan lampu merah menyala maka mobil harus berhenti dan menunggu hingga lampu hijau menyala. Sesuai teori, pada saat menunggu seperti ini maka gigi harus dinetralkan. Karena jalan memang ada kemiringan maka wajar bila pedal rem harus ditekan. Saat lampu hijau menyala, segera bersiap melanjutkan perjalanan menuju garis finish yang tinggal satu atau dua kelokan lagi. Segera gigi dipindah ke posisi 1, rem dan kopling dilepas perlahan, dan dengan cepat kaki berpindah ke gas. Namun mobil malah bergerak mundur, dan mesin meraung.
“Walah, nggak mau masuk gigi satu lagi.....heuuuhhh”.

Dengan cepat rem di injak lagi dan tangan meraih handle gigi untuk membetulkan dan memastikan posisi gigi 1. Berhasil telah memastikan posisi gigi 1, mobil bergerak perlahan dan terdengar suara pemberitahuan dari audio penguji, “this is lane for 70 km per hour...”. Calon jobsopir ini segera memindahkan gigi ke posisi 2, namun kembali lagi mesin meraung tanda gigi belum masuk ke gigi 2 alias masih di posisi netral. Melihat situasi berulang seperti ini, penguji sudah tidak sabar dan segera saja meminta agar mobil dipinggirkan sambil ditunjukkan skor yang dengan nilai itu sudah nggak mungkin lulus. Tentu saja calon jobsopir segera turun. Selanjutnya posisi kemudi dipegang oleh penguji. Dengan suara yang agak keras penguji sengaja menunjukkan dan mempraktekan cara memindah gigi. Karena pakai bahasa Korea, tidak jelas kalimatnya, tidak tahu kata katanya, yang pasti hanya dapat dipahami maknanya sebagai,
“Gini lho cara mindah gigi ituuuu !!”, Dengan setengah membentak sambil tangan kanannya menggerakkan handel gigi ke posisi yang diucapkan,

“Ceklak...ini SATU, Ceklak....ini DUA, ceklah......ini TIGA, ceklak ...ini LIMA. Arasooooo ???”. Melihat dan mendengar itu dia hanya tersenyum sambil membayangkan,
“Padahal sama seperti APV, tetapi kok sulit masukin gigi nya ya?.”

Di bawah kendali kemudi penguji, mobil meluncur kembali ke titik awal, dan calaon jobsopir yang gagal kali ini hanya bisa merenung,
“Wah.... nampaknya harus senasib dengan engineer fuel system......”

Sacheon, 25 Januari 2017

Rabu, 18 Januari 2017

Semangat Ruh Brewirabumi

Semangat Ruh Brewirabumi
Mati Ketawa Gaya Korea (14).

Minak Jinggo, yang bagi masyarakat sekarang lebih dikenal hanya sebagai merek rokok kretek, padahal sebenarnya Minak Jinggo adalah nama tokoh besar sejarah awal Majapahit untuk wilayah ujung Jawa timur, yaitu Blambangan atau sekarang lebih dikenal sebagai kota Banyuwangi. Di wilayah Banyuwangi, hampir tidak ada yang tidak kenal nama ini. Menurut berbagai sumber Minak Jinggo adalah pemuda tampan yang sekaligus Adipati Blambangan yang memiliki nama asli Brewirabumi. Sebagai adipati dia sangat piawai menggerakkan rakyatnya, karena tanpa itu mustahil rakyatnya menyokong kepemimpinannya. Sebelum menjadi adipati, ketokohan Brewirabumi bersinar ketika berhasil memenangi sayembara dari Ratu Majapahit saat itu yaitu membunuh pemberotak yang sakti mandra guna yang bernama Kebo Marcuet. Sayangnya keberhasilan Brewirabumi ini harus dibayar mahal dengan kerusakan wajah dan hilangnya ketampanannya tapi tidak ketegasan dan keberaniannya. Kalau akhirnya dia dicatat sejarah sebagai pemberontak, hal ini lebih disebabkan oleh ingkarnya Ratu Majapahit untuk memenuhi janjinya menerima pinangan Brewirabumi ketika dia berhasil memenagi sayembara.

Ketika Brewirabumi sebagai adipati, dan berhasil mengalahkan Kebo Marcuet yang sakti, maka dapat dibayangkan bahwa dia pastilah pemuda yang gagah, tegap, trampil dan tegas serta lugas ketika berbicara. Bahkan ketika dia berhadapan langsung dengan Kebo Marcuet, barangkali kemampuan komunikasi dan diplomasinya menjadi salah satu faktor keberhasilan meruntuhkan keyakinan dan semangat Kebo Marcuet sehingga bisa dikalahkan.
Membayangkan tokoh Brewirabumi yang hidup di jaman Majapahit tentulah sungguh tidak mudah. Ketika waktu telah berjalan cukup lama dan dinamika budaya bergeser, namun tidak berlebihan bila karakteristik suatu kaum dapat diraba dengan kaum yang tertinggal saat ini, meskipun tentu ada distorsi disana sini. Melihat watak-wataknya, karakteristiknya, atau fisiknya, barangkali, sekali lagi barangkali Brewirabumi akan mirip seperti pemuda Banyuwangi saat ini yaitu memiliki wajah dengan karakter keras, kumis lebat dan mata bersinar, dan tentu cerdas dan tegas.

Karakter kepemimpinan tegas dan lugas Brewirabumi ini sepertinya terbawa hingga ke Sacheon Korea. Meskipun dalam hal-hal tertentu nampak muncul seperti karakter pemberontak, padahal sama sekali tidak. Semua itu dilakukan Brewirabumi karena membela hak yang mestinya dia dapatkan. Bahkan ditimbang dengan seksama, apa yang dilakukan di Sacheon ini semata mata memperjuangkan hak rakyatnya, hak warganya atas segala apa yang sudah dijanjikan. Dan semua ini adalah amanah yang melekat di pundaknya. Bahwa sebenarnya memang ada kepentingan dia juga, maka itu sungguh tidak nampak dalam pidatonya saat diberi kesempatan menyampaikan uneg-unegnya dalam suatu kesempatan.
Sebut saja urusan HP. Tidak terbantahkan bahwa dalam penugasan ke Korea ini perusahaan merasa perlu untuk membuat perjanjian dengan karyawannya sendiri demi agar dapat dipegang komitmentnya. Dan untuk itu perusahaan juga berjanji akan memberikan beberapa fasilitas demi kelancaran pelaksanaan tugas, salah satunya adalah HP.  Dikarenakan satu dan lain hal ternyata eksekusi masalah HP ini tidak sesuai seperti yang diharapkan. Karena ini akan berdampak pada kesejahteraan rakyatnya maka dalam forum dewan perwakilan rakyat di Sacheon ini, engineer yang memiliki jiwa, ruh dan semangat Brewirabumi ini seperti mendapat kesempatan untuk memperjuangkan kepentingan warganya sekaligus meneguhkan ke Brewirabumi annya. Dalam forum perwakilan yang terhormat itu, pihak managemen telah mencoba menjelaskan situasi dan berbagai alternatif solusinya, namun sepertinya tidak cocok dengan harapan. Ruh Bewirabumi yang melekat pada perwakilan Apartemen Modern House ini seakan bangkit, berargumentasi panjang lebar, jelas dan tegas menyampaikan yang intinya adalah mohon warga diijinkan untuk tidak mengambil hak atas HP itu karena berdampak pada kewajiban iuran atas pemakaian HP itu. Bahkan diyakinkan oleh dia bahwa kalau warga tidak mengambil hak atas HP itu akan membantu mengurangi pengeluaran perusahaan.  

Namun tidak demikian logika managemen. Anggaran yang sudah direncanakan harus dibelanjakan sesuai dengan rencana, bahwa akhirnya kurang maka perlu dicari sulusinya dengan tetap berpedoman pada kuantitas dan kualitas yang disebutkan dalam surat keputusan perusahaan. Alasan lainnya adalah karena ini menyangkut faktor keamanan yang harus dipenuhi oleh setiap karyawan yang masuk di KAI dimana untuk itu memerlukan HP dengan spesifikasi yang dapat diinstall software pengatur keamanan (MDM). Penjelasan manageman ini tidak cukup dapat melunakkan hati engineer titisan Minak Jinggo ini.
“Coba dibayangkan, saya sudah punya 3 buah HP meskipun second tapi ini sudah memenuhi syarat untuk dapat di install MDM karena saya belinya juga di Korea. Masak saya harus punya 4 buah?”, begitu dia memulai argumennya.

“Dan lagian kalau iuran bulanan untuk pulsanya segitu, itu kalau dihitung-hitung dalam setahun sudah bisa tuk beli HP baru”
“Lha ini gimana, sudah iuranannya segitu, eeee...Hpnya gak bis dimiliki. Capek deh....”
Argumen wakil Apartemen Modern House ini sebenarnya masuk akal dan jelas, sejelas seperti Minak Jinggo menuntut janji Ratu Suhita (Kencono Wungu), tetapi tetap saja managemen memohon dengan sangat pengertian seluruh warga demi kelangsungan program yang masih akan lama berjalan. Mendengarkan penjelasan ini dia hanya bergumam,

“Wong ide ini untuk mengurangi beban perusahaan kok malah ditolak...”
Perdebatan masalah HP ini terus saling bersahut dan memang hati titisan Minak Jinggo ini tidak gampang luruh. Dalam situasi setengah deadlock itu munculah ide triki tingkat tinggi, barangkali seperti trik diplomasi Damarwulan ketika mengalahkan dan mematahkan perlawanan Brewirabumi ini terhadap Majapahit. Tiba-tiba salah seorang yang hadir angkat tangan untuk urun bicara,
“Bapak-bapak, kalau kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, sebenarnya argumen dari rekan perwakilan Apartemen Modern House ini sungguh baik dan perlu dipertimbangkan. Karena sungguh mulia niatan warga Apartemen Modern House untuk membantu meringankan beban perusahaan”

Sesaat wakil Apartemen Modern House ini sumringah karena mendapat sokongan pendapat yang sesuai dengan usulannya.
“Bahwa wakil Apartemen Modern House mengusulkan untuk tidak mengambil hak atas HP yang disediakan perusahaan, saya kira itu bisa dibenarkan dan sebaiknya dipenuhi saja. Toh hanya itu yang dituntutnya kan?. Dengan demikian dia bahagia, karena harapannya dipenuhi”.

Semua terdiam sambil melirik respon bapak managemen atas sokongan pendapat ini. Sebelum akhir, argumen ini dipertegas lagi.
“Jadi menurut saya, penuhi saja usulannya, biarkan HP untuk beliau tidak diambil kalau memang beliau nggak mau ambil ........”

Seakan semua diam karena mencoba menebak apa akhir kalimatnya.
“Hanya,......... kalau iurannya ya tetep harus dibayar”
“Kan beliau hanya tidak ingin ambil HP nya tho?.” 
“Gimana bapak-bapak, semua setuju kan ?”
Sontak semua tertawa tanda setuju, kecuali satu orang terdiam karena sepertinya ruh Brewirabumi yang sudah pergi entah kemana. 

Sacheon, 18 Januari 2017

Minggu, 15 Januari 2017

여보세요 (Yeoboseyo)


여보세요 (Yeoboseyo)
Mati Ketawa Gaya Korea (13) 
 
Ketika dering panggilan telepon HP berbunyi dari nomor yang tidak dikenal, tak biasanya terjadi kepanikan kecil. Kali ini terjadi di kubik Air Vehicle Design. Panik karena tidak tahu dari siapa, apa yang akan ditanyakan apalagi harus menjawab. Dan lagi, sungguh takut untuk diabaikan kalau kalau itu telpon penting. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi karena setelah beberapa bulan berada di Korea, data pribadi alias nomor HP sudah mulai bertebaran misal ke Kantor Imigrasi dan Woori bank. Dalam situasi seperti ini, solusi cepat dan cerdas segera dipilih yaitu memberikan ke temen Korea yang kebetulan menjadi perwakilan di kubik yang ada. Setelah menunggu sesaat komunikasi engineer Korea dengan si penelepon, segera saja berondongan pertanyaan muncul dari si empunya HP.
“What happen?”
“Where is the call from?” Atau
“What he asked?”
Kali ini dijawab sederhana,
“It is no problem”.
Dijawab begitu si pemilik HP juga tidak terlalu memaksa untuk minta penjelasan lebih jauh. Dengan berjalannya waktu, aktifitas engineer Indonesia di Korea juga semakin luas. Misal sudah memiliki akun Woori bank, sudah menjadi member G Market, sudah bisa order Taxi, sudah berani beli barang secara online, dan lain sebagainya. Kemajuan yang sewajarnya. Ketika pada kesempatan lain ada panggilan telepon HP berdering lagi, kepanikan kecil berulang. Situasi kepanikan yang sama. Hanya sayangnya kali ini tidak ada engineer Korea yang stanby di tempat. Maka harus dicari siapa yang paling pas dimandati untuk menjawab telepon itu. Kebetulan, dari pengamatan keseharian, yang dianggap paling intens telah belajar bahasa Korea, telah mempraktekkan bahasa Korea hingga dialek dan cengkok cengkoknya secara pas adalah engineer configuration design. Kalau kita hanya mendengar suaranya, pasti kita tidak tahu bahwa itu diucapkan oleh gadis periang asal Palembang, bukan orang Korea. Maka ketika HP itu diberikan, tanpa canggung segera saja terjadi komunikasi dalam bahasa Korea dengan dialek yang sungguh Korea.
“Yeoboseyo ?”, begitu gadis itu memulai komunikasi.
Sesaat kemudian, dia mendengarkan dengan sungguh sungguh apa yang diucapkan oleh si penelepon sambil sesekali mengucapkan
“Ne...” “Ne ...” “Ne...”
Setelah mendengarkan dengan seksama, sesaat kemudian segera saja dibalas,
“Jonen, hanggug mal jalmo teo.”
Mendengar jawaban itu, sepertinya si penelepon masih berusaha untuk menjelaskan maksudnya, sementara si penerima hanya “Ne...”, “Ne....”, “Ne .....” dan diikuti dengan kalimat serupa dengan sedikit penegasan,
“Jonen, hanggug mal jalmo teo”
Sesaat kemudian,
“Gamsa hamnida”, tanda bahwa komunikasi itu berakhir.
Segera saja pemilik HP menghampiri sambil bertanya,
“Siapa tadi?, apa yang ditanyakan?”
Namun, engineer gadis itu dengan enteng menjawab,
“Nggak tau pak?. Wong saya juga nggak ngerti dia ngomong apa.”
“Halah...begitu?”, Si pemilik HP hanya bisa maklum dan mahfum. Ternyata baru segitu level bahasa Koreanya. Meskipun begitu, itu tetep sebuah prestasi karena bermodalkan Yeoboseyo sudah berani menjawab telepon.
Nampaknya itu bukan hal yang terakhir terjadi, dan selalu saja gadis periang itulah yang menjadi pilihan untuk membantu menjawab setiap ada telopon tak dikenal yang masuk ke HP. Begitu seringnya, hingga engineer dari kubik lain seakan hafal kalimat dialog yang diucapkan,
“1. Yeoboseyo...”
“2. Ne...ne..ne...”
“3. Jonen Hanggug mal jalmo teo”
“4. Gamsahamnida”
Empat kalimat dialog yang gampang diingat oleh engineer dari kubik lain.
Waktu berjalan, kejadian serupa terjadi, tetapi sepertinya kali ini adalah panggilan telepon untuk engineer gadis itu sendiri. Ketika komunikasi akan dimulai, engineer kubik lain sudah mulai menghitung dan menebak kalimat dialog,
Kalimat pertama, “1. Yeoboseyo...”, “nah benarkan? “
Berikutnya, “2. Ne... ne...ne....”, “hehehe tuh kan? “
Begitu kalimat dialog ke 3, semua menduga akan muncul “Jonen hanggug mal jalmo teo.”, tetapi ternyata bukan.
“Wah ada kemajuan nich...”, semua mencoba membatin. Kelimat berikutnya yang muncul adalah,
“pekeji?... pekeji?...”
Dibarengi dengan, “Ne..Ne..Ne..”
Disambut komentar tak terucap dari para penguping,
“Wah sudah bisa bertanya, berarti sudah tau apa yang diomongkan si penelepon ya?”, para penguping segera mengekstrapolasi situasi komunikasi kemampuan berbahasa Korea gadis engineer ini. Tidak berhenti disitu dialognya, dilanjutkan dengan,
“Muni codenen yug gong gong pal ibnida”, kalimat yang dialeknya diucapkan dalam bahasa Korea yang sungguh pas ditelinga.
Terus,
“Ne..ne..ne..”
“Gamsa hamnida”.
Penasaaran akan kalimat baru yang muncul dalam kalimat dialog, segera saja ditanyakan langsung.
“Wah kok beda?, Muni kodenen dan seterusnya tadi apa artinya?”
Seperti biasa, gadis periang ini menjawab seperti gemericik air pancuran, segar,
“Ooo itu lho pak...”
“Saya order barang, dan dia mau ngirim paketnya”
Langsung disambar dengan pertanyaan berikutnya,
“Kok tau kalau itu mau kirim paket?”
Dijelaskan, “Makanya saya tanya ke dia, pekeji, pekeji?”
Masih agak bingung, “kok pekeji jadi paket?”
Dengan tertawa dijelaskan lagi
“Itu dari bahasa Inggris pak, mereka dikit dikit juga tahu bahasa Inggris meskipun bunyi beda dengan yang kita kenal selama ini. Pekeji itu packedge paaaaaakkk...”
“Woalah.....lha kalau muni kodenen?”
Dengan enteng dijawab, “Kita kan sering pakai lift pak, begitu kita dengar kata ‘muni’ di lift, ternyata pintu mbuka atau nutup. Ya aku kira-kira aja bahwa muni itu pintu”,
Masih penasaran, “trus...?”
“kalau kodenen itu kode, jadi pokoknya aku ngarang aja. Karena mau ngomong kode pintu, ya bgitu itu keluarnya, muni kodenen”
“terus pokoknya harus ditutup dengan kata ibnida, ...hehehehe”, logika bahasa yang sungguh sedrhana.
“yang penting dia ngertikan, pak?”
“ya..ya..ya betul”, komentar si penanya.
“lha terus Jonen hanggug mal jalmo teo itu apa?”
“Aku nggak bisa ngomong bahasa Korea”
Woalah.....
Sacheon, 15 Januari 2017

Senin, 09 Januari 2017


Tarian Satir untuk Ritaa Samaria
Mati Ketawa Gaya Korea (12)

Sebagai seorang gadis, sebenarnya biasa-biasa saja. Bahkan, barangkali terbilang kalah cantik dibandingkan Ayu Ting Ting ataupun Ayu Wandira. Meskipun tidak terlalu cantik, Ritaa Samaria ini sangat menarik. Dia terkenal, karenanya banyak pemuda hingga dari berbagai bangsa terus saja berusaha untuk berkenalan dengannya, pingin menggandengnya dan sekaligus mengundangnya untuk mendapatkan sekedar tanda tangannya. Tetapi Ritaa gadis yang tegas, tidak luwes, teguh pendirian, dan tidak mudah dirayu, sehingga terkesan kaku. Karena sikap dan sifatnya itu barangkali yang menyebabkan sulit ketemu jodoh. Kebetulan Ritaa diberi anugrah umur panjang, bahkan hingga beberapa generasi berganti, dia tetap hidup, tetap menarik dan tetap diingini oleh banyak pemuda. Berjalannya waktu, dia sering berganti nama seiring dengan pemuda mana yang kira-kira sedang mendekatinya. Kebetulan saja yang sedang mendekatinya saat ini adalah pemuda-pemuda dari Indonesia yang sedang di Korea, maka dia mengenalkan diri sebagai Ritaa, ya Ritaa Samaria. Entah esok atau lusa, dia berganti nama menjadi apa lagi.
Ritaa adalah anak dari keluarga Sam, atau orang-orang lebih sering memanggilnya paman Sam, dan paman Sam kebetulan tinggal agak jauh, yang bagi orang Indonesia jaraknya dapat diukur sejauh antara antara siang dan malam. Sebagai keluarga kaya, paman Sam memang berhasil mendidik anak-anaknya untuk pinter dan maju. Sebut saja, William Edward Boim yang pada tahun 1916 yang secara radikal berbekal bisnis penebang kayu berubah menjadi pabrik pesawat. Generasi adik adiknya yang lahir berikutnya juga tidak kalah hebatnya, sebut saja misalnya, si MakDonnell dan Doglas tahun 1967, Nurtop, Guruman 1994, Martin 1995, dan seterusnya hingga Bill Gates, dan Steve Jobs yang mencoba membuat tiruan sederhana dari otak manusia.

Kehebatan anak-anaknya ini sedikit banyak menyebabkan keangkuhan dan kejumawan paman Sam sebagai orang tua semakin bertambah. Meskipun paman Sam lebih sering angkuh, arogan dan jumawa ke tetangga tetangga jauhnya, tetapi tetep saja semua orang mengakui bahwa keberadaan paman Sam tidak dapat diabaikan dan bahkan pada titik tertentu dibutuhkan untuk keseimbangan. Dalam beberapa hal malah harus tetep menjaga berhubungan baik dengan keluarga paman Sam ini demi mendapatkan kemanfaatan yang lebih luas.
Adiknya, Martin, ya Martin Marietta, entah anak yang keberapa ini, meskipun terlahir belakangan dia dianugerahi kemampuan membuat barang yang berfungsi sebagai perisai langit. Dengan ilmu dan kemampuannya maka langit akan sulit untuk ditembus oleh senjata apapun. Sebagai anak pintar dan berotak bisnis, maka dia jual ilmunya, dia jual perisai langitnya, untuk kebahagiaan dan kemakmuran keluarganya sendiri. Martin tentu gembira kalau ada tetangganya yang ingin memakai hasil karyanya, dan membeli kemampuannya. Dengan begitu, Martin akan mendapatkan uang sendiri.

Tapi tidak demikian sang Bapak. Paman Sam tentu tidak ingin superioritasnya terganggu, dominasinya terancam maka dia tidak dengan mudah mengijinkan Martin untuk menjual kemampuannya, kecuali masih tetap dalam kendalinya. Membebaskan Martin untuk menjual tanpa kendalinya akan sama dengan bunuh diri. Pada saat yang sama, kebetulan paman Sam berkepentingan mencarikan jodoh Ritaa. Oleh karena itu, paman Sam merasa perlu menyaratkan secara paket bahwa siapa saja yang mau membeli kemampuan atau keahlian anak-anaknya, harus sekaligus berani melamar Ritaa dan harus mendapatkan anggukan persetujuan dari Ritaa. Dengan begitu maka semua tetap berada dalam kendali paman Sam. Tanpa Ritaa?. Jangan harap Martin atau siapapun juga anaknya berani melepas ilmunya.
Sementara itu, sudah 3 purnama lamanya. Tidak kurang dari 60 orang pemuda, sebut saja, Darto, Sumaro, Kartiko, Yudono, Sutrimo, Subyarto, Raharjo, Supadmoputro, Wisopodo, Budiono, Wibisono, Nugroho, Kareviantoro, Birawono, Prasetyo, Santoso, Suryanto, Suyanto, Warsito dan lain lainnya penasaran termangu menunggu seperti apa Ritaa Samaria. Seanggun atau seangkuh siapa Ritaa Samaria. Sehebat apa dia sehingga hanya gara-gara Ritaa tak kunjung datang, tapi dampaknya mengacaukan banyak rencana dan acara. Namun, tetap saja. Tak ada satupun yang dapat memastikan kapan Ritaa tiba. Tetapi pemuda-pemuda itu rela, oleh karena itu maka mereka membuat panggung sendiri, menari sendiri, bertepuk tangan sendiri, dan menggembirakan hati sendiri. Ketika sudah capek menari, sambil merenung mereka bergumam,

“Oh Ritaa, when will you come”
Siapa tahu, dengan tarian dan tepuk tangan penggembira hati ini, energinya dapat dikirimkan lewat langit, frequensinya dapat digetarkan lewat laut hingga dapat menggerakkan hati Ritaa untuk segera datang.

Sacheon, 5 Januari 2017

Jumat, 18 November 2016

Khotib dan Muazzin sholat Jum’at (2)

Khotib dan Muazzin sholat Jum’at (2)
Mati Ketawa Gaya Korea (11)

Setelah step awal ritual solat Jum’at yang namanya adzan berhasil dilewati dengan lancar, berikutnya adalah agenda pokok sholat Jum’at yaitu Khotbah. Kotbah ini menjadi salah satu dari rukun sholat Jum’at, yang begitu pokok dan penting sehingga sewajarnya Kotbah ini semestinya diisi oleh orang yang memang mumpuni di bidang itu. Meskipun penting namun agama ini tidak ingin hal penting ini menjadi menyulitkan umatnya dalam pelaksanaannya. Maka syarat fisiknya pun dimudahkan, yaitu cukup, khotib harus laki laki yg sudah dewasa/baligh dan mampu serta dipercaya menjadi khotib oleh para jamaahnya. Begitu mudahnya sehingga hampir dipastikan semua engineer laki-laki di program IF-X di KAI ini memenuhi syarat untuk menjadi seorang Khatib sholat Jum’at, kecuali beberapa orang yang memang memiliki kebebasan lebih saat memilih makanan di kantin termasuk memilih menu yang mengandung “daging enak” alias dwejigogi.
Atas dasar keyakinan akan kemudahan syarat itulah maka kothib hari itu menyiapkan diri, karena begitu ditunjuk dia juga tidak menemukan lagi alasan untuk dapat menolak. Dalam konteks lahiriah, bagi yang pernah belajar ilmu drama atau teater, berdiri menjadi khotib menyampaikan kotbah di depan jamaah, tak ubahnya sedang berperan menjadi aktor sebagai tokoh itu. Artinya, dengan menyiapkan dan membaca naskah secukupnya, pilih sendiri temanya, penuhi syarat dan rukun sebuah materi kotbah kemudian lafalkan, dan hafalkan monolog atau dialognya, kemudian praktekkan di depan jamaah seakan-akan sedang benar-benar menjadi tokoh itu. Semudah itu itu berperan sebagai khotib.

Namun sayangnya, kotbah Jum’at bukanlah sebuah representasi kegiatan teater atau drama. Kotbah Jum’at adalah sebuah ritual Agung bagi muslim dalam melaksanakan kepatuhannya kepada Alloh Tuhannya, sehingga meskipun sulit maka diupayakan semaksimal mungkin untuk dilaksanakan. Sebagai sebuah ritual ibadah agama, makanya pelaksanaan Kotbah tidak boleh direpresentasikan sebagai seperti sebuah kegiatan teater atau drama, yang hanya bermuara kepada kepuasan seni rasa dan keindahan saja. Dalam kotbah melekat inheren kelurusan niat akan ketundukan, kepatuhan, keiklasan untuk melaksanakan perintah Tuhan, juga berisi ajakan dan nasihat kebaikan yang tentu saja sekali ajakan atau nasihat itu diucapkan maka sekaligus melekat dan mengikat tangan, kaki dan leher khotib yang mengucapkan. Hanya itu beratnya menjadi khotib, yaitu tuntutan ke dalam diri sendiri untuk satunya kata dan perbuatan. Oleh karena itu sangat dipahami kenapa ada beberapa orang yang begitu mudah menasihati, atau “berkotbah” di grup WA (meskipun cuma copy paste), namun ketika tiba giliran untuk menjadi khotib, seribu alasan dikeluarkan agar dapat menghindari tugas mulia keagamaan itu.
Meskipun begitu, bagi khotib yang ditunjuk di hari itu, karena sedari awal memang juga sudah disadari bahwa di dalam manusialah tempat nya salah dan lupa, maka kotbah itu terjadilah. Atas segala cacat, ketidak tepatan, ketidak konsistenan, ketidak mampuan dan ketidak sanggupannya semoga saja Tuhan mengampuni, karana hanya permohonan maaf itulah yang pantas dilakukan. 

“Toh yang diukur dari kita adalah kelurusan niat serta kesungguhan kita untuk agar kotbah itu benar-benar terjadi. Kalau masih salah? Memang siapa yang memberikan kemampuan kepadaku”, katanya dalam hati untuk memotivasi diri.
Ayat demi ayat dibaca, makna, tafsir dan pesan moral dari ayat coba dijelaskan, begitu berhati-hatinya karena takut salah maka kalimat apalagi bacaan ayat sama sekali tidak mampu dilagukan. Semua dibaca datar, flat dan mungkin membosankan. Bagi sebagian jamaah yang biasanya langsung tertidur saat kotbah Jum’at dibacakan karena terhanyut dalam keindahan bacaan khotib, maka sangat mungkin jamaah hari itu tidak dapat tidur karena tidak ditemukan rangkaian indah kalimat kotbahnya apalagi lagu bacaan ayatnya yang mampu mengantarkannya untuk mengantuk. 

Membaca doa di akhir kotbah juga menjadi hal yang tidak mudah. Agar sebuah doa dapat diamini secara serentak oleh jamaah maka doa harus dilantunkan dengan lagu dan jeda yang pas. Tanpa itu maka memahaminya saja menjadi sulit, apalagi mengamininya, juga menjadi tidak mudah. Kalau doa hari itu jamaah juga tidak dapat mengamini secara bersama sama, itulah kesulitan khotib yang tidak biasa memimpin doa. Kalaulah akhirnya jamaah tidak dapat meng amini bersama-sama, semoga saja amin nya jamaah secara siri lebih meresap dalam hati dan mengkristal menjadi energi yang lebih mampu menembus langit untuk menggoyang Singgasana Pemilik Langit demi terkabulnya doa.
Akhirnya, dengan ditutup sholat Jum’at 2 rakaat berjamaah, selesailah rangkaian ibadah Jum’at hari itu. Ada perasaan lega, karena kewajiban telah ditunaikan. Ada perasaan bahagia karena pengalaman pertama berhasil dilewati, ada perasaan kecewa karena lidah seperti kaku dan gagu ketika membaca ayat dan melantunkan doa. 

“Namun semua itu kuserahkan padaMu wahai Sang Pemberi Ilmu dan Penakar Kemampuanku. Yang pasti aku sudah upayakan yang terbaik yang bisa aku lakukan”, renungan khotib dalam hati saat kembali duduk kursi kubiknya setelah acara selesai.
Tak terlalu lama khotib dapat merenung, karena beberapa orang tiba-tiba saja datang memberi jabat tangan dan ucapan selamat kepada paket Khotib dan muazzinnya. Yang terjadi suasana hiruk pikuk kegembiraan di kubik aerodinamika.

“Selamat, alhamdulillah selesai”,
“Selamat, sudah lulus... cumlaude”,

Tak lengkap rasanya kalau nggak ada ucapan ledekan yang membuat suasana lebih gembira,

“Wah selamat, untung muazzinnya nggak harus bertanya.”
Semua gembira, ucapan selamat sebagai tanda bahwa tugas telah terlaksana, bahwa yang awalnya diragukan akhirnya dilewati, bahkan yang ditakuti akhirnya tidak terjadi, yaitu pertanyaan :

“Yang ini Hayya ‘alas-shalaah atau hayya ‘alal-falaah ?”.
Sacheon, 19 November 2016

Minggu, 13 November 2016

Khotib dan Muazzin sholat Jumat (1)

Khotib dan Muazzin sholat Jumat (1)
Mati Ketawa Gaya Korea (10)
Ting Tung
“Assalamu ‘alaikum Wr.Wb.”
“Bersama ini kami sampaikan kepada bapak-bapak kaum muslimin”
“bahwa jadwal sholat Jumat, 11 November 2016 dilaksanakan di KAI jam .......................”
“Sebagai Kotib dan Imam adalah Bpk ...........”
“Muazzin Bpk ................................................”
Dan seterusnya hingga,
“Demikian disampaikan, atas perhatiannya diucapkan jazakumullah khairan katsira.”

Pagi itu Kamis, 10 November 2016 jam 06.00 waktu Korea, notifikasi WA berbunyi di Grup mengabarkan pesan pengumuman tentang persiapan sholat Jum’at bagi engineer IF-X muslim di KAI Sacheon untuk keesokan harinya. Pesan itu tak lain dan tak bukan dari datang dari “Ketua DKM IF-X KAI”, sebutan untuk engineer yang diembani masalah kegiatan keagama Islam an ini. Sebagai ketua DKM di lingkungan engineer IF-X di KAI, dia tidak dipilih melalui mekanisme demokrasi, tetapi tidak ada yang dapat membantah bahwa Tuhan telah menggerakkan hati setiap engineer untuk menyetujui, mengakui dan menisbatkan dia bahwa dialah yang paling pas dan pantas mengemban amanah mulia itu, yaitu “menjaga akidah umat”.
Dan baginya, hal itu bukanlah seperti jabatan dalam pengertian organisasi modern, tetapi ini adalah pengorbanan, pengabdian, ladang amal, dan jihad dalam pengertian panggilan hati untuk memperjuangkan terpenuhinya kesempatan beribadah bagi seluruh muslim dan muslimat engineeer IF-X di KAI dalam lingkungan yang sangat sulit untuk dapat terlaksana dengan sempurna. Oleh karena itu tanpa disadari, dia bukan lagi hanya sebagai “ketua DKM”, tetapi lebih seperti Kyai, sebutan ulama di tanah Jawa.
Kyai tidak pernah ada skepnya, tidak pernah ada pelantikannya, dan seorang kyai memang lahir begitu saja di masyarakat, karena titel kyai yang melekat kepada seseorang adalah pengakuan masyarakat atas tingkat kualitas tertentu yang telah dicapai seseorang dalam menjawab, membela, bersikap dan berpihak atas segala suatu yang ada di masyarakat, dengan merujuk pada kemampuannya menterjemahkan makna kandungan kitab suci melalui contoh-contoh Rasulnya. Kyai yakni seseorang yang mumpuni amaliah dhohir dan batinnya. Begitu tingginya karisma seorang kyai maka wajar saja kalau ucapannya diikuti, nasihatnya dituruti, tafsir hukumnya dipatuhi dan keputusannya diakui. Semua patuh, tak ada yang menolak, tak ada yang perlu dibantah.
Demikian pulalah yang terjadi di KAI, ketika umat agak bingung mencari rujukan pelaksanaan ibadah wajib dalam menyikapi aturan kerja di KAI yang ketat serta ruang ibadah yang sempit, maka dia tampil memenuhi harapan umat. Jika Kyai pada umumnya dikenali dengan gelungan Imamah yang tersemat dikepala, maka Kyai IF-X ini dikenali dari rasa manfaat & keberadaanya dengan menyampaikan hukum yang ditunggu umat dalam menyikapi keterbatasan tempat dan waktu, beserta dalil dan rujukannya.

“...................................................................”
“Oleh karena itu, karena Rasul membenarkan apa yang dilakukan sahabat ketika sedang musafir yang bahkan diriwayatkan menjamak untuk waktu 6 bulan maka menjamak sholat kita ini dibenarkan. Ada dasarnya dan hadits nya shohih”, begitu DKM menjelaskan suatu ketika.
Semua lega, karena ada dalil yang dirujuk shahih alias benar. Dan begitulah ciri kyai, karenanya memang pantas disebut kyai.
Ketika pengumuman itu akhirnya di release (di WA) maka hal itu dapat dipandang sebagai sebuah keputusan. Karena sudah diputuskan, artinya menjadi tidak elok untuk atas nama persatuan umat kalau keputusan itu harus ditentang. Padahal, tidak ada yang tahu calon khotib yang diumumkan itu sudah ditanya atau belum kesanggupannya, mampu atau tidak, ada halangan atau tidak, dan lain-lain. Dan “ketua DKM” juga tidak tahu betapa takutnya calon khotib ini untuk menyampaikan kotbah agama, karena calon khotib ini sangat sadar akan keterbatasannya, yang bahkan belum pernah sekalipun berdiri di mimbar untuk berkotbah masalah agama.
“Iqro 3 aja belum lulus lho, kok disuruh jadi Khotib”, begitu keluhnya dalam hati.
“Kalau disuruh ngomong masalah aerodinamika pesawat terbang, atau ngomong tentang raket dan teknologi raket badminton, 2 atau 3 jam ayoo aja, nopoblem, tapi ini disuruh ngomong masalah nilai kandungan kitab suci yang aku sendiri mungkin mungkin belum sanggup melakukannya, apalagi mengajak orang lain. Dan harus memimpin doa lagi. Jadi gimana ini?”. Begitu, calon khotib merenungi pengumuman di WA pagi itu.
Memang suatu ketika calon khotib ini pernah menyampaikan ke DKM,
“kalau sekiranya memang sudah tidak ada lagi yang mau untuk menjadi khotib sholat Jum’at, bolehlah saya ditunjuk, demi tetap terselenggarakannya sholat Jum’at. Tapi coba cari lainnya dululah, carilah sampai bener bener sudah nggak ada yang mau dengan alasan apapun. Kalau itu terjadi maka bolehlah saya.”. Kesanggupan yang didasari keadaan dimana kalau memang ini sudah menjadi pilihan terakhir atau tidak ada pilihan lain lagi, maka prasyarat kemampuan dan kesempurnaan menjadi tidak terlalu penting alias asal syarat dan rukunnya terpenuhi maka itu cukup dan syah sholat Jum’at itu. Dengan demikian, tak ada rotan akarpun jadilah dan yang terjadi maka terjadilah. Kenyataannya dia sudah ditunjuk hari itu. Demi terlaksananya kegiatan wajib umat Islam ini, sekaligus bentuk penghormatan kepada DKM yang telah berikhtiar sekuat tenaga hingga memutuskan, menunjuk dan menganggap mampu untuk calon khotib ini, maka calon khotib ini tidak menolak pengumuman itu. Dia pun berikhtiar, sekuat tenaga dan tentu berdoa semoga Alloh juga ridlo.
Ketika jam nya tiba, barangkali yang paling tegang di hari Jum’at itu adalah ketua DKM ini, karena dialah yang paling bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan ibadah sholat Jum’at hari itu. Semua jamaah tahunya beres aja. Mereka tidak tahu betapa sulitnya DKM menyiapkan agenda sholat Jum’at dalam konteks perangkatnya. Kalau kegiatan sholat Jum’at minggu-minggu sebelumnya DKM cukup tenang, itu karena perangkat yang telah disiapkan yaitu khotib dan muazin nya memang sudah terbukti mumpuni untuk mengisi posisi itu. Tetapi hari Jum’at ini agak berbeda. DKM menunjuknya tanpa konfirmasi kesanggupan dari yang ditunjuk. Kalau hari itu DKM mungkin terlihat agak tegang dan gelisah saat khotib mulai duduk dikursi, mohon itu dipahami sebagai bentuk pertanggung jawaban dia, demi keberlangsungan dan kelancarannya.
Waktu berjalan, hari sudah semakin siang, jam menunjukkan waktu untuk melaksanakan kewajiban sholat dzuhur sudah memasuki kota Sacheon. Kegelisahan pertama adalah ketika muazzin mulai berdiri dan menyerukan kumandang adzan tanda dimulainya ibadah Jum’at. Sambil sedikit menahan nafas, DKM melirik muazzin yang sedang berdiri.
Ibadah sholat Ju'mat selalu diawali dengan kumandang seruan adzan oleh muazzin. Sebenarnya tidak sulit menghafalkan kalimat adzan ini, tetapi dalam kondisi tertentu apalagi bila tidak fokus maka kemampuan dan ingatan seseorang bisa berubah 180 derajat saat pengumandangan berlangsung. Demam panggung kata banyak orang.
“Allohu Akbar Allohu Akbar”
Dua kali seruan awal adzan berhasil berkumandang di ruang terbatas gedung KAI lt 4 dengan lancar.
“Asyhadu an laa illaaha illallaah.”
“Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.”
Menginjak kalimat seruan kedua, alhamdulillah tidak salah, demikian juga kalimat seruan yang ke tiga, alhamdulillah lancar. Masing-masing kalimat itu berhasil diseru ulangkan dua kali. Tetapi problemnya bukan di situ. Menginjak pada kalimat seruan yang ke 4 ini jantung DKM mulai relatif berdegub lebih cepat. DKM yang telah berpengalaman dengan berbagai macam kalangan, tidak ingin kesalahan serupa terjadi lagi di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya saat ini kala penyeruan kalimat adzan yang ke 4 ini, karena bagaimanapun dialah yang telah menunjuk muazzin kelahiran Surabaya ini.
Dalam keadaan tidak fokus (misal sambil mikir, sudah mau jadi muazin gini apa akan berpengaruh terhadap skenario rotasi ya J ) dan ditambah demam panggung, maka kalimat adzan ke 4 bisa kebalik balik dengan kalimat yang ke 5. Oleh karena itu untuk antisipasi, DKM mesti menyempatkan mengangkat wajah sedikit sambil mencoba menatap wajah muazzin dari samping, sekedar berjaga-jaga, menyiapkan diri menyambut pertanyaan kalau-kalau, sekali lagi kalau-kalau muazzin harus bertanya karena terjadi mis orientasi, kehilangan fokus atau apapun alasannya sehingga ketika akan masuk ke kalimat adzan yang ke 4, informasi dari otak ke lidah macet cet. Ketika macet, pengalaman DKM biasanya muazzin akan bertanya,
“Yang ini Hayya ......., Hayya ..... Hayya ‘alas-shalaah atau hayya ‘alal-falaah ?”.
Semakin lama jeda antar kalimat ini, semakin keras degub jantung DKM karena muazzin tidak segera mengumandangkan kalimat ke 4 ini. Sampai disini, DKM memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa yang akan ia lakukan jika hal itu terjadi, demi adzan yang dikumandangkan tetap sesuai tatanan Figh atau hukum Islam.
Dan beruntung, berkat doa DKM, ketakutannya tidak terjadi. Lafal adzan ke 4 ke 5 hingga akhir dapat diselesaikan muazzin dengan lancar dan tartil. Muazzin tidak sampai harus bertanya,
“Ini hayya ‘alas shallah atau hayya ‘alal-fallah”. DKM lega.

Alhamdulillah, satu step terlewati dengan lancar. Paling tidak, degub jantung DKM dapat kembali normal.
Hanya saja urusannya belum selesai.
“Khotibnya gimana nich ?”, bisiknya dalam hati.

Sacheon, 13 November 2016