Minggu, 01 April 2018

이것은 강아지 복장 입니다.

Mati Ketawa Gaya Korea (16).
이것은 강아지 복장 입니다.
(Igosen gang-aji bogjang ibnida)
Setiap masa memang punya ceritanya sendiri. Tetapi, dalam setiap masa itu pula ada keserupaan kisah, oleh karena itu tidak berlebihan bila banyak orang mengatakan bahwa sejarah selalu berulang. Kejadian dan kisah berulang, hanya saja dalam level varian dan tokohnya saja yang mungkin berbeda, tetapi hakekat kejadiaannya serupa.
Problematika sekelompok manusia yang hidup di negeri asing, tidak peduli meskipun levelnya engineer pesawat tempur, selalu diawali dengan menghadapi problem bahasa. Tidak episode Daejeon, tidak pula episode Sacheon. Kalau di episode Daejoen ada dikenal dengan kisah “tragedi telur kecut” sebagai akibat salah menafsirkan atau lebih tepatnya gagal membedakan antara minyak goreng dan cuka. Atau kisah tragedi “Pelembab Istimewa”, lagi-lagi kegagalan membaca yang berakibat kesalahan manafsirkan fungsi yang seharusnya body wash dikira pelembab.
Engineer, apalagi engineer high tech pesawat tempur, sebagai manusia analitis sangat menyadari problematika bahasa ini, sehingga prediksi masalah yang akan muncul sudah diantisipasi. Biar nggak kesulitan bahasa maka ikut kursus khusus bahasa. Ya bahasa Korea. Meskipun intensitasnya cuma seminggu sekali, dirasa lumayan untuk modal dasar bersosialisasi di Korea, paling tidak untuk memenuhi kebutuhan dasar, yaitu komunikasi di toko atau Pasar.
Sebagai engineer yang sangat logic, segalanya dianalisis secara logic. Dengan berbekal modal kursus bahasa seminggu sekali sudah sudah dirasa cukup untuk modal bersosialisasi di pasar atau toko, karena memang konsep dasar belajar bahasa apapun adalah litle learn much use, alias sedikit sedikit saja belajarnya, tetapi banyak-banyaklah praktek menggunakannya, itu akan lebih efektif. Kira-kira itulah nasihat para ahli yang berpengalaman dalam proses pembelajaran bahasa.
Begitu semangatnya belajar bahasa maka nasihat much use ini diterapkan disetiap waktu. Ketemu spanduk, dibaca, ketemu nama toko, dieja, ketemu selebaran dibaca. Seperti anak TK atau SD yang baru mengenal huruf dan kata. Bahkan begitu semangatnya merasa perlu membawa selebaran ke rumah sekedar untuk melancarkan proses membaca.
Beberapa lembar dan suku kata sederhana berhasil dieja dan dibaca dengan lancar, meskipun jangan ditanya artinya.
“Wah sudah lumayan...ternyata nggak begitu sulit huruf hurufnya”, bisiknya dalam hati. Namun kegembiraan kecil ini terhenti ketika dia memulai suatu lembaran baru yang memang isinya hanya tulisan hanggul, tidak ada gambar maupun angka sama sekali. Sesaat terdiam untuk mencoba mengeja kata-kata yang ada. Tetapi pikirannya macet, memorinya buntu. Lembar yang dia pegang tidak berhasil dibaca satu katapun. Penasaran, karena dia sangat mengenal bahwa itu huruf hanggul tetapi kenapa tidak dapat dibaca. Rasa penasaran itu hilang berubah menjadi rasa geli hingga tertawa sendiri ketika dia mencoba memutar 180 derajat lembar yang dia pegang itu. Sambil tertawa sendiri dia menyadari bahwa lembar yang dia baca ternyata tulisannya terbalik.
“Wah kayak dagelan srimulat aja....”, bisiknya dalam hati sambil mengingat dagelan Srimulat.
Beruntung, kejadian itu dihadapinya sendiri, tidak ada khalayak yang ikut menertawakannya. Akan beda rasanya kalau hal seperti itu terjadi dihadapan orang lain atau khalayak ramai, misal di toko.
Sebagai engineer muda yang baru memiliki bayi atau anak kecil, maka wajar saja bila seluruh kegembiraan selama ditugaskan di Korea ini diekpresikan untuk sang anak. Apapun yang kira-kira cocok atau bagus untuk anak, maka pasti akan dibeli, toh harganya tidak seberapa. Beautifull Store menjadi obyek tujuan wisata shopping bagi beberapa engineer muda khususnya yang baru memiliki anak. Banyak macam mulai baju bayi, mainan, dan berbagai hal dapat dibeli dengan harga relatif murah dibanding toko-toko lainnya. Dalam setiap kunjungan di toko tersebut hampir selalu ada yang dapat dibeli. Karena memang menarik dan murah. Beautiful Store Gimhae relatif besar, paling tidak lebih besar dari yang di Jinju, sehingga barang yang dipajang juga relatif lebih banyak dan lebih bervariasi. Hampir semua kebutuhan keluarga ada di situ, mulai urusan baju, mainan, perlengkapan berkebun, perabot rumah tangga hingga perlengkapan untuk binatang piaraan. Semua ada.
Begitu masuk, sebagai bentuk kecintaan pada anak dan keluarga maka engineer muda ini segera mencari apapun yang cocok untuk buah hatinya, anaknya yang masih kecil. Setelah keliling-keliling menyusuri lorong toko Beautiful Store, perhatiannya tertarik pada tumpukan baju dengan warna ceria dan bentuk yang lucu.
“Wah baju ini lucu sekali,.... pasti si kecil lucu sekali dengan baju ini..”, begitu bisiknya dalam hati. Dari pada diambil orang maka langsung saja dimasukan ke dalam keranjang belanja. Tidak berhenti disitu, keranjangnya bertambah semakin penuh karena ada barang lain yang tidak kalah menariknya, seperti kaos, mainan anak, dll.
Setelah dirasa cukup, atau lebih tepatnya tidak ada yang menarik lagi, maka dia bergegas menuju kasir. Dengan sabar dan gembira membayangkan kegembiraan anaknya dengan baju baru yang lucu, dia berbaris mengikuti antrian di kasir. Ketika tiba gilirannya maka seperti biasa isi keranjang dikeluarkan satu persatu untuk dicatat melalui bar code yang ada. Lancar, karena memang tidak ada barang yang aneh. Namun sesaat kasir menghentikan pencatatannya sambil memperhatikan baju anak yang dipegangnya. Sesekali dia melirik si engineer muda mungkin untuk memastikan apa dia benar-benar ingin membeli baju anak itu. Untuk tidak mengecewakan pelanggannya maka kasir segera bertanya dalam bahasa Korea yang lugas.
강아지 있어요?? (gang-aji isseoyo?)
Engineer muda ini meskipun sudah kursus bahasa Korea seminggu sekali nampaknya nggak paham apa yang ditanyakan kasir ini. Agak gelalapan juga. Untuk lebih meyakinkan pertanyaannya, kasir kemudian menjelaskan lebih detil lagi sambil mengangkat baju itu, dan.......... tetep dengan bahasa Korea.
이것은 강아지 복장 입니다. (Igosen gang-aji bogjang ibnida.)
Nampaknya engineer muda ini tetep nggak paham juga apa maksud pertanyaannya. Kasirpun akhirnya terpaksa menggunakan jurus komunikasi terakhir yaitu bahasa isyarat. Yang dilakukan kasir adalah menekuk kedua pergelangan tangannya ke depan, mengangkat di samping dada, kemudian dipertegas dengan suara :
“guk..guk ...guk... “
Dari sini engineer muda ini baru paham. Sambil tertawa cepat-cepat dia bayar yang sudah dicatat dan segera mengengembalikan baju anak anjing itu ditempatnya. Kasir dan orang Korea yang melihat hanya tersenyum geli melihat kekeliruan engineer elektrik pesawat tempur IFX ini. Hanya engineer itu sendiri yang tak habis habisnya tertawa sendiri karena membayangkan anaknya yang lucu akan memakai baju anak anjing.
“Guk...guk...guk.... “
Suara itu barangkali yang selalu terngiang di kepala si engineer muda sambil membayangkan anaknya yang lucu tertawa gembira.
Sacheon 1 April 2018
Note :
강아지 있어요?? : Kamu punya anak anjing?
이것은 강아지 복장 입니다.: ini baju anak anjing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar