Jumat, 18 November 2016

Khotib dan Muazzin sholat Jum’at (2)

Khotib dan Muazzin sholat Jum’at (2)
Mati Ketawa Gaya Korea (11)

Setelah step awal ritual solat Jum’at yang namanya adzan berhasil dilewati dengan lancar, berikutnya adalah agenda pokok sholat Jum’at yaitu Khotbah. Kotbah ini menjadi salah satu dari rukun sholat Jum’at, yang begitu pokok dan penting sehingga sewajarnya Kotbah ini semestinya diisi oleh orang yang memang mumpuni di bidang itu. Meskipun penting namun agama ini tidak ingin hal penting ini menjadi menyulitkan umatnya dalam pelaksanaannya. Maka syarat fisiknya pun dimudahkan, yaitu cukup, khotib harus laki laki yg sudah dewasa/baligh dan mampu serta dipercaya menjadi khotib oleh para jamaahnya. Begitu mudahnya sehingga hampir dipastikan semua engineer laki-laki di program IF-X di KAI ini memenuhi syarat untuk menjadi seorang Khatib sholat Jum’at, kecuali beberapa orang yang memang memiliki kebebasan lebih saat memilih makanan di kantin termasuk memilih menu yang mengandung “daging enak” alias dwejigogi.
Atas dasar keyakinan akan kemudahan syarat itulah maka kothib hari itu menyiapkan diri, karena begitu ditunjuk dia juga tidak menemukan lagi alasan untuk dapat menolak. Dalam konteks lahiriah, bagi yang pernah belajar ilmu drama atau teater, berdiri menjadi khotib menyampaikan kotbah di depan jamaah, tak ubahnya sedang berperan menjadi aktor sebagai tokoh itu. Artinya, dengan menyiapkan dan membaca naskah secukupnya, pilih sendiri temanya, penuhi syarat dan rukun sebuah materi kotbah kemudian lafalkan, dan hafalkan monolog atau dialognya, kemudian praktekkan di depan jamaah seakan-akan sedang benar-benar menjadi tokoh itu. Semudah itu itu berperan sebagai khotib.

Namun sayangnya, kotbah Jum’at bukanlah sebuah representasi kegiatan teater atau drama. Kotbah Jum’at adalah sebuah ritual Agung bagi muslim dalam melaksanakan kepatuhannya kepada Alloh Tuhannya, sehingga meskipun sulit maka diupayakan semaksimal mungkin untuk dilaksanakan. Sebagai sebuah ritual ibadah agama, makanya pelaksanaan Kotbah tidak boleh direpresentasikan sebagai seperti sebuah kegiatan teater atau drama, yang hanya bermuara kepada kepuasan seni rasa dan keindahan saja. Dalam kotbah melekat inheren kelurusan niat akan ketundukan, kepatuhan, keiklasan untuk melaksanakan perintah Tuhan, juga berisi ajakan dan nasihat kebaikan yang tentu saja sekali ajakan atau nasihat itu diucapkan maka sekaligus melekat dan mengikat tangan, kaki dan leher khotib yang mengucapkan. Hanya itu beratnya menjadi khotib, yaitu tuntutan ke dalam diri sendiri untuk satunya kata dan perbuatan. Oleh karena itu sangat dipahami kenapa ada beberapa orang yang begitu mudah menasihati, atau “berkotbah” di grup WA (meskipun cuma copy paste), namun ketika tiba giliran untuk menjadi khotib, seribu alasan dikeluarkan agar dapat menghindari tugas mulia keagamaan itu.
Meskipun begitu, bagi khotib yang ditunjuk di hari itu, karena sedari awal memang juga sudah disadari bahwa di dalam manusialah tempat nya salah dan lupa, maka kotbah itu terjadilah. Atas segala cacat, ketidak tepatan, ketidak konsistenan, ketidak mampuan dan ketidak sanggupannya semoga saja Tuhan mengampuni, karana hanya permohonan maaf itulah yang pantas dilakukan. 

“Toh yang diukur dari kita adalah kelurusan niat serta kesungguhan kita untuk agar kotbah itu benar-benar terjadi. Kalau masih salah? Memang siapa yang memberikan kemampuan kepadaku”, katanya dalam hati untuk memotivasi diri.
Ayat demi ayat dibaca, makna, tafsir dan pesan moral dari ayat coba dijelaskan, begitu berhati-hatinya karena takut salah maka kalimat apalagi bacaan ayat sama sekali tidak mampu dilagukan. Semua dibaca datar, flat dan mungkin membosankan. Bagi sebagian jamaah yang biasanya langsung tertidur saat kotbah Jum’at dibacakan karena terhanyut dalam keindahan bacaan khotib, maka sangat mungkin jamaah hari itu tidak dapat tidur karena tidak ditemukan rangkaian indah kalimat kotbahnya apalagi lagu bacaan ayatnya yang mampu mengantarkannya untuk mengantuk. 

Membaca doa di akhir kotbah juga menjadi hal yang tidak mudah. Agar sebuah doa dapat diamini secara serentak oleh jamaah maka doa harus dilantunkan dengan lagu dan jeda yang pas. Tanpa itu maka memahaminya saja menjadi sulit, apalagi mengamininya, juga menjadi tidak mudah. Kalau doa hari itu jamaah juga tidak dapat mengamini secara bersama sama, itulah kesulitan khotib yang tidak biasa memimpin doa. Kalaulah akhirnya jamaah tidak dapat meng amini bersama-sama, semoga saja amin nya jamaah secara siri lebih meresap dalam hati dan mengkristal menjadi energi yang lebih mampu menembus langit untuk menggoyang Singgasana Pemilik Langit demi terkabulnya doa.
Akhirnya, dengan ditutup sholat Jum’at 2 rakaat berjamaah, selesailah rangkaian ibadah Jum’at hari itu. Ada perasaan lega, karena kewajiban telah ditunaikan. Ada perasaan bahagia karena pengalaman pertama berhasil dilewati, ada perasaan kecewa karena lidah seperti kaku dan gagu ketika membaca ayat dan melantunkan doa. 

“Namun semua itu kuserahkan padaMu wahai Sang Pemberi Ilmu dan Penakar Kemampuanku. Yang pasti aku sudah upayakan yang terbaik yang bisa aku lakukan”, renungan khotib dalam hati saat kembali duduk kursi kubiknya setelah acara selesai.
Tak terlalu lama khotib dapat merenung, karena beberapa orang tiba-tiba saja datang memberi jabat tangan dan ucapan selamat kepada paket Khotib dan muazzinnya. Yang terjadi suasana hiruk pikuk kegembiraan di kubik aerodinamika.

“Selamat, alhamdulillah selesai”,
“Selamat, sudah lulus... cumlaude”,

Tak lengkap rasanya kalau nggak ada ucapan ledekan yang membuat suasana lebih gembira,

“Wah selamat, untung muazzinnya nggak harus bertanya.”
Semua gembira, ucapan selamat sebagai tanda bahwa tugas telah terlaksana, bahwa yang awalnya diragukan akhirnya dilewati, bahkan yang ditakuti akhirnya tidak terjadi, yaitu pertanyaan :

“Yang ini Hayya ‘alas-shalaah atau hayya ‘alal-falaah ?”.
Sacheon, 19 November 2016

Minggu, 13 November 2016

Khotib dan Muazzin sholat Jumat (1)

Khotib dan Muazzin sholat Jumat (1)
Mati Ketawa Gaya Korea (10)
Ting Tung
“Assalamu ‘alaikum Wr.Wb.”
“Bersama ini kami sampaikan kepada bapak-bapak kaum muslimin”
“bahwa jadwal sholat Jumat, 11 November 2016 dilaksanakan di KAI jam .......................”
“Sebagai Kotib dan Imam adalah Bpk ...........”
“Muazzin Bpk ................................................”
Dan seterusnya hingga,
“Demikian disampaikan, atas perhatiannya diucapkan jazakumullah khairan katsira.”

Pagi itu Kamis, 10 November 2016 jam 06.00 waktu Korea, notifikasi WA berbunyi di Grup mengabarkan pesan pengumuman tentang persiapan sholat Jum’at bagi engineer IF-X muslim di KAI Sacheon untuk keesokan harinya. Pesan itu tak lain dan tak bukan dari datang dari “Ketua DKM IF-X KAI”, sebutan untuk engineer yang diembani masalah kegiatan keagama Islam an ini. Sebagai ketua DKM di lingkungan engineer IF-X di KAI, dia tidak dipilih melalui mekanisme demokrasi, tetapi tidak ada yang dapat membantah bahwa Tuhan telah menggerakkan hati setiap engineer untuk menyetujui, mengakui dan menisbatkan dia bahwa dialah yang paling pas dan pantas mengemban amanah mulia itu, yaitu “menjaga akidah umat”.
Dan baginya, hal itu bukanlah seperti jabatan dalam pengertian organisasi modern, tetapi ini adalah pengorbanan, pengabdian, ladang amal, dan jihad dalam pengertian panggilan hati untuk memperjuangkan terpenuhinya kesempatan beribadah bagi seluruh muslim dan muslimat engineeer IF-X di KAI dalam lingkungan yang sangat sulit untuk dapat terlaksana dengan sempurna. Oleh karena itu tanpa disadari, dia bukan lagi hanya sebagai “ketua DKM”, tetapi lebih seperti Kyai, sebutan ulama di tanah Jawa.
Kyai tidak pernah ada skepnya, tidak pernah ada pelantikannya, dan seorang kyai memang lahir begitu saja di masyarakat, karena titel kyai yang melekat kepada seseorang adalah pengakuan masyarakat atas tingkat kualitas tertentu yang telah dicapai seseorang dalam menjawab, membela, bersikap dan berpihak atas segala suatu yang ada di masyarakat, dengan merujuk pada kemampuannya menterjemahkan makna kandungan kitab suci melalui contoh-contoh Rasulnya. Kyai yakni seseorang yang mumpuni amaliah dhohir dan batinnya. Begitu tingginya karisma seorang kyai maka wajar saja kalau ucapannya diikuti, nasihatnya dituruti, tafsir hukumnya dipatuhi dan keputusannya diakui. Semua patuh, tak ada yang menolak, tak ada yang perlu dibantah.
Demikian pulalah yang terjadi di KAI, ketika umat agak bingung mencari rujukan pelaksanaan ibadah wajib dalam menyikapi aturan kerja di KAI yang ketat serta ruang ibadah yang sempit, maka dia tampil memenuhi harapan umat. Jika Kyai pada umumnya dikenali dengan gelungan Imamah yang tersemat dikepala, maka Kyai IF-X ini dikenali dari rasa manfaat & keberadaanya dengan menyampaikan hukum yang ditunggu umat dalam menyikapi keterbatasan tempat dan waktu, beserta dalil dan rujukannya.

“...................................................................”
“Oleh karena itu, karena Rasul membenarkan apa yang dilakukan sahabat ketika sedang musafir yang bahkan diriwayatkan menjamak untuk waktu 6 bulan maka menjamak sholat kita ini dibenarkan. Ada dasarnya dan hadits nya shohih”, begitu DKM menjelaskan suatu ketika.
Semua lega, karena ada dalil yang dirujuk shahih alias benar. Dan begitulah ciri kyai, karenanya memang pantas disebut kyai.
Ketika pengumuman itu akhirnya di release (di WA) maka hal itu dapat dipandang sebagai sebuah keputusan. Karena sudah diputuskan, artinya menjadi tidak elok untuk atas nama persatuan umat kalau keputusan itu harus ditentang. Padahal, tidak ada yang tahu calon khotib yang diumumkan itu sudah ditanya atau belum kesanggupannya, mampu atau tidak, ada halangan atau tidak, dan lain-lain. Dan “ketua DKM” juga tidak tahu betapa takutnya calon khotib ini untuk menyampaikan kotbah agama, karena calon khotib ini sangat sadar akan keterbatasannya, yang bahkan belum pernah sekalipun berdiri di mimbar untuk berkotbah masalah agama.
“Iqro 3 aja belum lulus lho, kok disuruh jadi Khotib”, begitu keluhnya dalam hati.
“Kalau disuruh ngomong masalah aerodinamika pesawat terbang, atau ngomong tentang raket dan teknologi raket badminton, 2 atau 3 jam ayoo aja, nopoblem, tapi ini disuruh ngomong masalah nilai kandungan kitab suci yang aku sendiri mungkin mungkin belum sanggup melakukannya, apalagi mengajak orang lain. Dan harus memimpin doa lagi. Jadi gimana ini?”. Begitu, calon khotib merenungi pengumuman di WA pagi itu.
Memang suatu ketika calon khotib ini pernah menyampaikan ke DKM,
“kalau sekiranya memang sudah tidak ada lagi yang mau untuk menjadi khotib sholat Jum’at, bolehlah saya ditunjuk, demi tetap terselenggarakannya sholat Jum’at. Tapi coba cari lainnya dululah, carilah sampai bener bener sudah nggak ada yang mau dengan alasan apapun. Kalau itu terjadi maka bolehlah saya.”. Kesanggupan yang didasari keadaan dimana kalau memang ini sudah menjadi pilihan terakhir atau tidak ada pilihan lain lagi, maka prasyarat kemampuan dan kesempurnaan menjadi tidak terlalu penting alias asal syarat dan rukunnya terpenuhi maka itu cukup dan syah sholat Jum’at itu. Dengan demikian, tak ada rotan akarpun jadilah dan yang terjadi maka terjadilah. Kenyataannya dia sudah ditunjuk hari itu. Demi terlaksananya kegiatan wajib umat Islam ini, sekaligus bentuk penghormatan kepada DKM yang telah berikhtiar sekuat tenaga hingga memutuskan, menunjuk dan menganggap mampu untuk calon khotib ini, maka calon khotib ini tidak menolak pengumuman itu. Dia pun berikhtiar, sekuat tenaga dan tentu berdoa semoga Alloh juga ridlo.
Ketika jam nya tiba, barangkali yang paling tegang di hari Jum’at itu adalah ketua DKM ini, karena dialah yang paling bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan ibadah sholat Jum’at hari itu. Semua jamaah tahunya beres aja. Mereka tidak tahu betapa sulitnya DKM menyiapkan agenda sholat Jum’at dalam konteks perangkatnya. Kalau kegiatan sholat Jum’at minggu-minggu sebelumnya DKM cukup tenang, itu karena perangkat yang telah disiapkan yaitu khotib dan muazin nya memang sudah terbukti mumpuni untuk mengisi posisi itu. Tetapi hari Jum’at ini agak berbeda. DKM menunjuknya tanpa konfirmasi kesanggupan dari yang ditunjuk. Kalau hari itu DKM mungkin terlihat agak tegang dan gelisah saat khotib mulai duduk dikursi, mohon itu dipahami sebagai bentuk pertanggung jawaban dia, demi keberlangsungan dan kelancarannya.
Waktu berjalan, hari sudah semakin siang, jam menunjukkan waktu untuk melaksanakan kewajiban sholat dzuhur sudah memasuki kota Sacheon. Kegelisahan pertama adalah ketika muazzin mulai berdiri dan menyerukan kumandang adzan tanda dimulainya ibadah Jum’at. Sambil sedikit menahan nafas, DKM melirik muazzin yang sedang berdiri.
Ibadah sholat Ju'mat selalu diawali dengan kumandang seruan adzan oleh muazzin. Sebenarnya tidak sulit menghafalkan kalimat adzan ini, tetapi dalam kondisi tertentu apalagi bila tidak fokus maka kemampuan dan ingatan seseorang bisa berubah 180 derajat saat pengumandangan berlangsung. Demam panggung kata banyak orang.
“Allohu Akbar Allohu Akbar”
Dua kali seruan awal adzan berhasil berkumandang di ruang terbatas gedung KAI lt 4 dengan lancar.
“Asyhadu an laa illaaha illallaah.”
“Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.”
Menginjak kalimat seruan kedua, alhamdulillah tidak salah, demikian juga kalimat seruan yang ke tiga, alhamdulillah lancar. Masing-masing kalimat itu berhasil diseru ulangkan dua kali. Tetapi problemnya bukan di situ. Menginjak pada kalimat seruan yang ke 4 ini jantung DKM mulai relatif berdegub lebih cepat. DKM yang telah berpengalaman dengan berbagai macam kalangan, tidak ingin kesalahan serupa terjadi lagi di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya saat ini kala penyeruan kalimat adzan yang ke 4 ini, karena bagaimanapun dialah yang telah menunjuk muazzin kelahiran Surabaya ini.
Dalam keadaan tidak fokus (misal sambil mikir, sudah mau jadi muazin gini apa akan berpengaruh terhadap skenario rotasi ya J ) dan ditambah demam panggung, maka kalimat adzan ke 4 bisa kebalik balik dengan kalimat yang ke 5. Oleh karena itu untuk antisipasi, DKM mesti menyempatkan mengangkat wajah sedikit sambil mencoba menatap wajah muazzin dari samping, sekedar berjaga-jaga, menyiapkan diri menyambut pertanyaan kalau-kalau, sekali lagi kalau-kalau muazzin harus bertanya karena terjadi mis orientasi, kehilangan fokus atau apapun alasannya sehingga ketika akan masuk ke kalimat adzan yang ke 4, informasi dari otak ke lidah macet cet. Ketika macet, pengalaman DKM biasanya muazzin akan bertanya,
“Yang ini Hayya ......., Hayya ..... Hayya ‘alas-shalaah atau hayya ‘alal-falaah ?”.
Semakin lama jeda antar kalimat ini, semakin keras degub jantung DKM karena muazzin tidak segera mengumandangkan kalimat ke 4 ini. Sampai disini, DKM memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa yang akan ia lakukan jika hal itu terjadi, demi adzan yang dikumandangkan tetap sesuai tatanan Figh atau hukum Islam.
Dan beruntung, berkat doa DKM, ketakutannya tidak terjadi. Lafal adzan ke 4 ke 5 hingga akhir dapat diselesaikan muazzin dengan lancar dan tartil. Muazzin tidak sampai harus bertanya,
“Ini hayya ‘alas shallah atau hayya ‘alal-fallah”. DKM lega.

Alhamdulillah, satu step terlewati dengan lancar. Paling tidak, degub jantung DKM dapat kembali normal.
Hanya saja urusannya belum selesai.
“Khotibnya gimana nich ?”, bisiknya dalam hati.

Sacheon, 13 November 2016

Minggu, 06 November 2016

Ikan Buntal

Ikan Buntal
Mati Ketawa Gaya Korea (9)

Sebuah kebijakan dibuat oleh managemen tujuan utamanya adalah untuk tercapainya target yang ingin dicapai. Termasuk di dalam kebijakan itu adalah komponen SDM pendukung yang menjadi komponen penting mencapai target yang diinginkan. Untuk SDM sebagai komponen dasar maka gaji diamankan, uang saku dicukupkan, apartemen dinyamankan, transport disediakan dan karena akan lama bertugas maka keluarga dipertimbangkan untuk dihadirkan. Sungguh kebijakan yang menjadi impian engineer-engineer PTDI dalam bertugas.

Oya, bagaimana dengan makan,
“Jangan khawatir, untuk kalian akan disediakan makan 3 kali sehari yaitu makan pagi, makan siang dan makan malam”, begitu Kadiv Managemen Program meyakinkan para engineer yang akan berangkat waktu itu.

“Kalian akan makan dengan kualitas yang sama dengan engineer KAI mulai Senin hingga Jumat”. Penjelasan yang disambut senyuman seluruh engineer sambil berbisik-bisik,
“lha, terus uang sakunya bisa utuh donk ?”. Bisikan yang tidak perlu jawaban karena masing-masing engineer sudah larut angan-angan atas penjelasan pak Kadiv.

“Ya, tentu makanan menu Korea?”, begitu penegasan pak Kadiv.
Mendengar bahwa 3 kali sehari disediakan makan dinas oleh KAI, tentu yang terbayang adalah kimci. Sebagian besar hanya penasaran, “seperti apa sich rasanya kimci?”, atau “Bahannya apa?”.

Sebagai engineer tangguh, mereka sudah siap melaksanakan tugas dengan resiko apapun. Bahwa nanti akan harus makan menu asing yang belum pernah dilihat sekalipun pokoknya tugas siap dilaksanakan.
“Sehari 3 kali, makan menu Korea terus?, ya noproblem. Siap laksanakan”. Jawaban tegas tanda kesiapan yang mantab.
Hanya beberapa orang yang kebetulan juga punya kemampuan masak sendiri, meskipun sekedar masak mie instant, menu sambel pecel, abon atau rendang, sedikit berlagak,
“wah, kreatifitasku memasak menjadi nggak berguna donk, kecuali hanya untuk Sabtu dan Minggu”. Namun demikian ternyata bagi yang tidak pandai atau tidak hobie memasak juga memiliki keluhan lain meskipun sudah disediakan makan 3 kali sehari dan uang saku yang cukup.

“Dulu waktu di Daejeon, semua engineernya laki-laki dan sering ada undangan makan, tapi sekarang, ada banyak ibu-ibu nya tapi nggak pernah sekalipun ada yang ngundang makan.... heeeeuuuuhhh “, begitu keluhnya.
Meskipun uang saku disediakan cukup, makan disiapkan cukup, bahwa ada yang di hari libur masih memancing ikan di sungai atau pantai Sacheon atau Samcheonpo, itu jangan dilihat sebagai upaya penghematan. Lebih tepatnya itu sekedar hobie untuk membunuh waktu. Bahwa dapat ikan yang dapat dimasak, itu alhamdulillah.

Memancing memang hobie yang menarik dan memerlukan ketrampilan khusus dan kesabaran luar biasa. Duduk berlama-lama sambil menunggu ikan-ikan untuk memakan cacing atau umpan yang di dalamnya diselipkan mata kail membutuhkan keahlian khusus dan kesabaran ekstra. Meskipun udara musim gugur yang dingin, duduk berlama-lama di bibir pantai dilakukan demi sebuah hobie, sambil mengamati keindahan pantai Samcheonpo dan berharap agar ikan-ikan itu tidak terlalu pintar sehingga segara melahap umpan yang dipasang. Dan benar, para ahli mancing maniak itu memang jauh lebih pintar dari ikan-ikan itu. Ikan-ikan itu ketipu. Mereka mengira bahwa umpan itu adalah makanan yang diciptakan Tuhan untuk mereka yang memang hanya bisa makan dari sesuatu yang tergenang air itu. Dia tidak punya pilihan lain, dia tidak dapat memilih menu, dia hanya makan apa yang dia temukan. Bahwa ketika dia menemukan makanan kemudian di dalam ada mata kailnya, sungguh dia tidak pernah diberi tahu tentang itu, dia tidak mungkin berfikir untuk itu. Jadi pemancing maniak itu benar, dengan modal kesabaran pasti akan dapat ikan.
Tengah hari, beberapa hobies pemancing maniak sudah unjuk kebolehan dalam keahliannya memancing ikan, di luar negeri lagi. 1 ikan di dapat. Kebahagiaannya atas umpannya yang disantap ikan dia tunjukkan ke sahabat-sahabat nya melalui media sosial WhatsAap. Tiba-tiba saja muncul notifikasi WA tanda ada sesuatu yang masuk via WA,

“ting tung”, munculah foto engineer muda dengan hasil tangkapan ikan yang difoto nampak seakan besar dan panjang yang setara dengan besar dan panjang lengannya si pemancing. Tak berselang lama setelah itu, muncul lagi notifikasi yang mengindikasikan bahwa dia seperti berlomba dengan rekannya sesama pemancing.
“Kalah eui 3-0”.
Bagi yang tidak hobi memancing, dipamerin keberhasilan seperti ini hanya bisa meledek,
“Ikan teri juga bisa gede lho kalo kameranya bagus”, atau
“Panjangnya berapa mm?”, pertanyaan menggelikan pertanda bahwa mereka meragukan ikan yang diperoleh sebesar seperti foto yang ditunjukkan.
“Sepertinya 100 mm”, ledekan lain yang menduga bahwa ikan yg diperoleh cuma kecil.
Seiring dengan itu, foto-foto lain bermunculan untuk perolehan ikan-ikan berikutnya.
“Skor 4-0”
“Sudah ahli sich, jadi 5-0 deh”
“Skor 5-1”
Ledekan bertubi-tubi pun bermuculan silih berganti,
“Tangannya tukang mancing pada kuat-kuat, eeeee”, atau
“Bawa ikan segede itu kayak ringan sekali ya..... :) “, atau
“Mata pancingnya kok guuedeee banget yaaaa ?”, ledekan yang intinya menandakan bahwa besarnya ikan hanya karena efek kamera, ukuran yang di foto tidak menggambarkan ukuran sebenarnya.

Si pemancing tidak mau bertubi-tubi jadi bahan ledekan, dan akhirnya membela diri,
“Buat nangkap ikan gede pancingnya juga harus gede paaakkk...”

Tiba-tiba saja ketika mereka selesai, skor memancing sudah lompat menjadi
“Skor akhir 16-5”, tanda bahwa perolehan mereka hari ini cukup banyak.

Melihat sahabatnya kalah, bukan dibantu dibelain malah diledek skalian,
“Ojo wani kalah...”
“Gampang, .. beli di passar Sacheon”
“Se keranjang... dijamin menang”

Ledekan yang sebenarnya menandakan bahwa dia nggak paham filosofi memancing. Kebahagiaan ahli mancing bukan terletak pada ikannya yang dibawa pulang, tetapi kepuasannya terletak pada kebahagiaannya saat umpannya dimakan oleh ikan, saat matakailnya ditarik kuat oleh ikan, saat ikan-ikan itu tertipu oleh rekayasa yang dia ciptakan. Itulah filosofi pemancing. Jadi kalau ikan hanya dapat dari beli di pasar, apa hebatnya. Tidak ada sama sekali pikiran itu bagi ahli memancing sejati.
Ledek meledek tidak berhenti disitu.
“Percuma,... Mancing dapat banyak  tapi gak dimasak”
“Percuma, sudah dimasak banyak tapi tidak dibagi, haram kalau tetangganya cuma dapat bau asapnya saja #fatwa kyai Jajag”.

Selang beberapa saat, muncul video yang menunjukkan penampakan ikan buntal yang sedang menggembungkan perutnya, disertai pesan,
“buntal lagi buntal lagi..”, pertanda bahwa dari sekian banyak ikan yang ditangkap hari ini, kebanyakan dari mereka adalah ikan buntal atau orang Jepang menyebut ikan fugu.

Ikan buntal yang dalam bahasa Jepang disebut ikan fugu yang artinya babi sungai adalah jenis ikan khas Jepang yang dikenal sangat beracun dan mematikan. Ikan fugu merupakan jenis hewan vertebrata paling mematikan di dunia setelah golden poison frog (kodok emas beracun). Karena racunnya yang sangat berbahaya, ikan fugu ini hanya boleh diolah oleh koki profesional yang telah memiliki sertifikat dari Departemen Kesehatan Jepang serta telah mengikuti pelatihan khusus kaitannya dengan pengolahan ikan fugu.
Bagian ikan fugu yang paling beracun adalah hati, telur serta saluran pencernaanya. Tapi bahkan bagian daging pun bisa beracun jika dalam pengolahannya tidak benar dan terkontaminasi oleh bagian organ dalam. Daging fugu yang terkontaminasi akan berakibat kematian bagi yang mengkonsumsinya. Zat racun yang terkandung dalam ikan fugu ini bernama Tetrodotoksin. Dosis tetrodotoksin sebanyak 2 mg sudah mampu untuk membunuh manusia. Tetrodotoksin pada ikan fugu akan bereaksi dalam tubuh sekitar kurang dari setengah jam. Oleh karenanya, di restoran Jepang, untuk menjamin keamanan sajian yang dihidangkan, koki yang mengolah ikan fugu akan mencicipinya masakannya terlebih dahulu setengah jam sebelum disajikan pada konsumen.

Sayangnya, racun pada ikan fugu belum ada penangkalnya (antidote) dan lagi daging ikan fugu yang tercemar racun tidak akan hilang meskipun sudah dimasak.

Melihat begitu bahayanya mengkonsumsi ikan buntal mestinya tidak semudah itu bagi engineer PTDI untuk memakannya. Sepertinya si pemancing sudah tahu bahwa ikan buntal ini berbahaya, karena dia menantang keberanian rekan lainya sekedar untuk dijadikan test case,

“Bapak serius mau makan?. Kebetulan ini kita butuh voluntier nich. Kalau setelah bapak makan dan beberapa hari gak apa-apa, baru berikutnya kita yang makan”
Tidak hanya ikan buntal yang didapat hari ini ternyata, ada ikan purba juga, meskipun ternyata para engineer lebih suka mengkonsumsi, ikan tempe, dan ikan tahu.

Diujung akhir tentang postingan mancing memancing mucul foto, ikan yang sudah digoreng, tidak dijelaskan ikan apa itu, disertai pesan di bawahnya ,
“Sudah testimoni dari bapak-bapak tetangga sebelah. Enak katanya !!!”

Tetapi si pemberi ikan masih memberi catatan tambahan,
“Tinggal nunggu reaksinya, lihat besok masih ngantor atau nggak J

Waaahh, ikan buntal telah mendapat calon korban.

Mestinya sebelum memberikan ikan itu, kepada bapak-bapak voluntir itu diberikan kertas untuk menuliskan surat wasiat dulu, karena makan ikan itu memang berbahaya.
Semoga saja yang digoreng dan dimakan itu bukan ikan buntal atau ikan fugu. Atau, semoga saja mereka tidak tahu bahwa itu sebenarnya bukan ikan buntal alias  hanya ikan yang mirip ikan buntal.
Dan semoga, besok pagi masih bisa berjabat tangan dengan bapak-bapak voluntir pemakan “ikan buntal” , karena tandanya mereka telah selamat.

아침 식사를가요

Sacheon, 6 Oktober 2016

Kamis, 03 November 2016

Simulasi ke Gimhae International Airport, Busan.

Simulasi ke Gimhae International Airport, Busan.

Simulasi ini dilakukan semata untuk menyambut atau menjemput keluarga yang mungkin akan berkunjung ke Korea via Gimhae International Airport. Penerbangan Air Asia dari Indonesia atau Kuala lumpur kebetulan jadwal kedatangan umumnya sekita jam 8.30 WK kecuali ada satu hari dalam seminggu jadwal kedatangan jam 6.10. Katakanlah pesawat landing jam 8.30, dengan asumsi proses keimigrasian dan bagasi sekitar 1 jam maka keluarga akan sudah keluar dari gerbang kedatangan sekitar jam 9.30. Agar keluarga tidak terlalu lama menunggu, maka penjemputan harus disesuaikan. Bagi kita yang tinggal di Sacheon, ada beberapa pilihan :

1.       Carter Taxi. Belum di coba, tetapi ada info bahwa pemilik Warung Indonesia (Mbak Ana) di Samcheonpo memiliki pelanggan sopir taxi yang lumayan dapat berkomuniksi  dengan bahasa Indonesia. Ini nomor kontak Bu ana : +821044421295. Berapa ongkosnya, silakan kontak sendiri.

2.       Menginap semalam di Busan agar esok harinya pagi-pagi sekali sudah standby di Gimhae Airport. Di sekitar terminal Sasang atau di sekitar rumah makan “Rindu Kampung” banyak penginapan yang dapat dipakai. Melalui AGODA internet dapat dilihat banyak hotel dengan tarip dibawah 50.000 KRW per orang permalam di sekitar Sasang, atau kalau jeli mungkin dapat diperoleh hotel atau guesthouse dengan tarip di bawah 25.000 KRW per orang per malam.

3.       Pilihan ketiga naik bus dari Sacheon pakai trip pertama dari terminal Sacheon.

Nah option ketiga inilah yang akan kami share dengan teman-teman yang kebetulan tinggal di Sacheon.

Berangkat dari apartement Myeong Poom A habis subuh, jam 5.30 WK. Udara sangat dingin tentu, tapi niat yang kuat untuk menjemput keluarga mengalahkan suhu dingin yang menusuk tulang. Perjalanan pertama menuju ke terminal Sacheon. Jam segitu tentu belum ada Bus kota yang lewat. Kalau nggak mau capek cukup panggil taxi pakai program aplikasi android. Tapi, kalau gaptek memakai jasa teknologi android, pilihannya adalah jalan kaki sebelum mobil dinas disediakan.

Berangkat jam 5.30 pagi, masih gelap, 9 orang berangkat dari apartemen Myeong Poom A menuju terminal Sacheon. Dengan langkah cepat, seperti lomba jalan cepat, perjalanan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 35-40 menit. Dengan demikian sampai di terminal Sacheon masih sempat naik bus trip pertama ke Busan yaitu Jam 6.25 WK. Kalau jadwal jam 6.25 tidak terkejar maka dapat menunggu jadwal berikutnya yaitu jam 7.10 WK.

Beli tiket langsung di loket terminal, dan siapkan uang 8000 KRW untuk menebus tiketnya.

Karena capek, tidak dapat cerita perjalanan dari Sacheon ke Busan, tau-tau bus sudah siap-siap masuk terminal Sasang, Busan. Karena tidak macet, Sacheon Sasang ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam 20 menit. Jalan sebentar untuk orientasi lingkungan terminal, kemudian keluar terminal menuju perempatan jalan, diseberang jalan sudah akan kelihatan stasiun atau halte LRT (Light Rail Transit), demikian pula rail way nya yang berada di atas. Dari terminal Sasang, untuk mencapai halte LRT Sasang dengan jalan kaki butuh waktu tidak lebih dari 5 menit. Cukup dekat kok.

Karena hari itu ada festival maka sebelum naik ke halte LRT disempatkan dulu mejeng, sekedar menghargai panitia yang sudah bersusah payah menyiapkan aneka bunga berbagai bentuk yang bagus itu.

 


Festival di sebelah terminal Sasang

 


Festival di sebelah terminal Sasang, di belakang terlihat Halte LRT

 
Festival di sebelah terminal Sasang, di belakang terlihat Halte LRT
 
 
Perempatan Terminal Sasang dan di belakang terlihat Halte LRT Sasang

Untuk naik ke lantai atas halte LRT cukup menyiapkan T-Money (1200 KRW), atau uang Cash 1200 KRW. Tidak perlu takut salah naik karena begitu masuk halte sudah akan disambut petunjuk arah menuju Gimhae airport

 


Mejeng dulu di Halte LRT Sasang

Gerbong LRT setara dengan 3 bus kota yang dijejer kebelakang dengan kursi yang menempel di jedela, sementara bagian tengah kosong disiapkan untuk penumpang berdiri. Rel LRT disediakan ganda sehingga dapat melayani  arah bolak balik. LRT dioperasikan secara otomatis, kaarena selama perjalanan tidak terlihat masinis atau sopir yang mengendalikan. Cuma ada satu orang perempuan yang bertugas seperti mengontrol atau mambantu penumpang yang memerlukan bantuan.

 

Orang Korea paham bahwa kursi itu memang disiapkan untuk para senior citizen. Maka kalau dua orang ini duduk di situ maka tidak akan diprotes.

Frequensi LRT lewat Sasang menuju Gimhae airport lumayan sering (setiap 6 menit) sehingga tidak perlu khawatir. Naik LRT menuju arah Gwaebeop Renecite setelah melewati 2 halte dalam waktu kurang dari 10 menit sudah akan sampai di airport.


Light Rail Transit Map jurusan Gimhae airport.

Keluar halte LRT Gimhae airport sudah akan langsung terlihat pesawat berjejer. Jalan sedikit menyusuri trotoar akan ketemu gerbang airport baik untuk kedatangan maupun keberangkatan.

Airport Sasang tidak sebesar Soekarno Hatta, Changi ataupun Incheon sehingga begitu masuk gerbang Gimhae International Airport tidak sulit mencari pintu kedatangan maupun keberangakatan. Juga untuk orang Indonesia yang barangkali mencari Checkin counter Airasia juga tidak sulit. Hanya saja bandara ini lumayan padat oleh calon penumpang. Di sekeliling pintu kedatangan atau keberangkatan juga ada beberapa toko sekelas GS25 ataupun toko makanan, sehingga barangkali saja kita agak terlambat menjemput maka sambil menunggu saudara kita yang akan dijemput dapat saja membeli makanan yang dijual disitu.

Apabila terpaksanya kita tidak dapat menjemput dengan alasan apapun, maka dengan panduan sederhana juga tidak terlalu sulit untuk perjalanan dari Gimhae menuju terminal Sasang. Keluar bandara sudah ada petunjuk untuk menuju Sasang atau kota lain. Untuk menuju Sasang terminal bus, paling tidak ada 3 cara yaitu :

Naik LRT, rasanya ini yang paling mudah. Cukup mengikuti petunjuk arah menuju halte LRT dengan jalan kaki, bayar tiket masuk halte LRT dengan T-Money atao uang cash 1200 KRW.

 

Keluar bandara Gimhae, petunjuk arah naik LRT atau Bus.

Mangkuti petunjuk tersebut untuk menuju halte LRT maka akan ditemui gerbang LRT Gimhae airport seperti ini.

Option kedua menggunakan Bus dan option ketiga menggunakan taxi.

 


Pintu masuk Halte LRT Gimhae

 

 Pintu masuk LRT Gimhae.

Menuju Sasang Bus terminal dengan LRT, maka LRT akan bergerak ke arah halte Seobusan Yutogjigu.

Seperti halnya saat berangkat menuju bandara, maka perjalanan balik ini juga memerlukan waktu kurang dari 10 menit. Setelah sampai Sasang, kalau langsung mau ke Sacheon Sacheon dapat segera langsung masuk terminal. Ada petunjuk dalam bahasa Korea loket untuk tujuan Sacheon. Kalau kesulitan, disitu ada bagian informasi yang dapat berbahas Inggris. Namun kalau langsung mau jalan-jalan ke pusat kota Busan misalnya maka lewat terminal atau dapat juga langsung lewat jalan penyeberangan bawah tanah yang ada di perempatan Sasang ada petunjuk arah menuju kereta bawah tanah Line 2.



Map subway Busan Line 1, 2 dan 3.

Dari Sasang untuk menuju Line 2 dapat bertanya kepada petugas yang ada atau kadang kala ada volunter (anak sekolah semacam kegiatan pramuka kali) yang dapat membantu menunjukkan. Untuk menuju pusat kota, Busan Station, maka harus berganti dari Line 2 ke Line 1. Dari Sasang, dengan Line 2 melewati 7 stasion dan turun di stasiun Seomyeon. Dari Seomyeon berpindah kereta Line 1. Dari Line 2 untuk berganti ke Line 1, maka harus berjalan melewati beberapa puluh buah anak tangga. Berpindah Line ini tidak ada biaya tambahan apalagi bila menggunakan T-Money. Pastikan naik Line 1 yang menuju arah Beonaegol karena kereta yang bergerak ke arah itulah yang menuju ke Busan Stasion. Untuk sampai di Busan Stasiun dari Seomyeon harus meliwati 5 stasiun. Sesampai di Busan Stasiun maka begitu keluar akan langsung berada di tempat terbuka semacam alun-alun.

Dari alun-alun Busan barangkali akan berwisata menyusuri Busan menggunakan City Tour Bus maka di samping alun-alun inilah Bus City tour menunggu penumpang.

Selamat menyusuri Busan.

 


Airmancur tanpa kolam

 


Mejeng dulu di depan Busan Yog (Stasiun Busan), stasiun untuk KTX

 


Busan City Tour Bus

 
 

Busan City Tour Bus
 

 

Sabtu, 29 Oktober 2016

Kesholehan Engineer IF-X.

Kesholehan Engineer IF-X.
Mati Ketawa Gaya Korea (8)

Kata sholeh secara etimologis artinya bagus atau baik. Tentu, sesuatu itu dikatakan bagus atau baik karena memenuhi kriteria nilai tertentu dimana nilai mutlak yang dapat dijadikan rujukan kebenarannya adalah kitab suci agama. Kitab suci menjelaskan melalui ayat-ayatnya beberapa tanda atau ciri-ciri kesholehan seseorang, namun dari sekian banyak ciri-ciri kesholehan itu, secara singkat dapat dikerucutkan pada nilai “kebaikan dengan kedalaman makna dan pengamalan Ilmu".

Kesholehan seseorang biasanya akan nampak ketika dia berada dalam kondisi ketidak pastian, situasi yang sulit ataupun saat menghadapi cobaan dan masalah hidup yang mendera nya. Situasi seperti inilah yang sering membedakan mana yang sholeh dan mana yang bukan. Memang, sampai kiamat tidak akan ada alat ukur “kesholehan meter” di dunia, karena nilai mutlak kesholehan seseorang hanya ada di genggaman Yang Maha Memberi Hidup, namun manusia diberi kemampuan untuk sekedar meraba kesholehan seseorang serta merasakan kemanfaatnya.

Dalam menakar kebutuhan hidup, orang yang sholeh juga seperti manusia pada umumnya. Dia punya cita-cita, harapan dan keinginan-keinginan untuk mensejahterakan diri dan keluarga, membahagiakan anak dan istri, memuliakan orang tua, dan masih ada 1001 harapan dan keinginan yang baik, karena memang itulah salah satu makna kesholehan dalam konteks keluarga. Bukan orang sholeh yang tidak berusaha mensejahterakan keluarga, bukan orang sholeh yang tidak memuliakan orang tua, dan sebaginya dan sebagainya.
Apa yang dilakukan oleh engineer PTDI meninggalkan keluarga pergi jauh ke Korea ini juga bagian dari kesholehan itu sendiri. Kesabaran dan kesetiaan mengikuti proses yang ikut menyita energi akhirnya berbuah pada waktunya. Semua pihak paham bahwa proses negosiasi antara Indonesia dan Korea untuk program KF-X/IF-X ini tidak mudah, sehingga wajar untuk sampai pada kata sepakat memerlukan waktu yang tidak sebentar, namun di sisi akar rumput level engineer akan terasa terombang ambing dalam ketidak pastian.

Akhirnya, tiba jugalah waktunya. Begitu jadwal keberangkatan ke Korea ini sudah ditentukan, maka para engineer bergegas mempersiapkan diri sebaik baiknya. Karena merupakan perjalanan yang tidak sebentar, untuk segala sesuatu yang selama ini menjadi tanggung jawabnya, maka mau nggak mau harus segera dibereskan atau didelegasikan urusannya. Kalau dia merupakan bendahara Masjid, maka seluruh laporan keuangan berikut dana yang dipegang harus segera diserah terimakan kepada penggantinya. Kalau dia seorang pengurus RT atau RW maka segera diserah terimakan jabatannya. Kalau dia seorang supervisor atau manager, nah kalau yang itu terserah pada perusahaan, kapan mau mengambilnya.

Yang tidak kalah penting adalah urusan rumah. Kalau ada talang bocor yang bila hujan tiba cuma diselesaikan dengan menadahkan ember di bawahnya, maka kali ini harus dibereskan sebelum berangkat. Bila ada pompa air sumur yang kadang ngadat, maka harus segera diganti untuk memastikan keluarga tidak ditinggalkan dalam kesulitan karena air. Bila ada genteng yang melorot, bila ada lampu yang mati, bila ada motor atau mobil yang perlu diservis, dan semua bila, bila dan bila yang mungkin terjadi, telah diantisipasi dengan membereskannya sebelum berangkat. Singkat kata, semua hal yang mampu dipikirkan untuk diselesaikan maka segera dibereskan. Bisa dikatakan, hal ini tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan peziarah Haji, memastikan kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungannya terpenuhi semasa dia pergi.
Itu untuk urusan yang akan ditinggalkan di rumah. Bagaimana dengan persiapan dia sendiri, perlengkapan dia sendiri atau bekal dia sendiri untuk perjalanan dan hidup di Korea yang “hanya” 1 atau 2 tahun. Sudah cukupkah? Sudah lengkapkah? atau sudah dipersiapkankah?. Maka apapun yang perlu dibawa akan dibawa, mulai sambel pecel, rendang, abon, mie instant, beras, saos, kecap, sambal trasi, layah dan ulegannya, aneka bumbu, minyak kayu putih, madu, aneka obat mulai obat masuk angin, sakit gigi, obat batuk, hingga pusing, baju/celana kerja, sepatu, jaket musim panas, musim dingin, dan lain-lain, dan lain-lain. Tidak lupa harus pamit ke orang tua, kerabat dan tetangga.

Semua sadar, setelah 1 atau 2 tahun penugasan di Korea ini, mereka masih akan pulang dan bertemu kembali dengan orang-orang yang disayanginya. Seluruh perhatian dan hiruk pikuk yang heboh ini dilakukan atas nama persiapan perjalanan yang 1 atau 2 tahun dan pada saatnya masih akan kembali. Untuk perjalanan yang jadwal berangkatnya sudah ditentukan dan sesudahnya masih akan kembali saja begitu hebat persiapannya, begitu teliti perhitungannya, dan begitu rapi pertimbangan dan antisipasinya, pertanyaannya adalah sebegitu hebat jugakah persiapan kita untuk “perjalanan panjang lainnya yang pasti akan terjadi”? yang jadwal berangkat bisa hari ini, besok pagi atau lusa nanti? Sebuah perjalanan panjang abadi dan pasti tidak kembali. Sudah cukup kah persiapan dan bekal untuk perjalanan abadi ini?

Pertanyaan hakiki yang merupakan ekspresi dari kejernihan hati engineer yang sholeh. Pemaknaan hakikat peristiwa atau kejadian yang muncul ketika langkah menapaki jalan pulang menuju gerbang PTDI. Kesholehannya telah mampu memaknai persiapan perjalanan ke Korea ini dengan penuh hikmah. Dia benar, kita sering tidak pandai dalam memaknai kejadian, bukankah segala yang terjadi pada kita dan terhadap kita ini bukanlah sebuah kebetulan? Semua telah sesuai rencanaNya, semua pasti ada makna dan maksudNya. Dan engineer kita yang sholeh ini telah mengingatkan hal tersebut dengan sangat santunnya.
Kesholehannya juga tercermin dari kehati-hatiannya dalam bertutur, dalam menjaga sikap, dan tentu saja menyembunyikan “aib”. Begitu berhati-hatinya dia sehingga untuk sebuah “aib” ini maka dia harus berpesan kepada sahabat-sahabatnya untuk tidak menceritakan kepada siapapun, apalagi ke penghuni apartemen Myeong Poom A.

“Jangan bilang-bilang ya, malu aku. Kalo diceritain ntar ditulis”, begitu pesannya.
Hanya saja sepertinya engineer sholeh ini lupa bahwa “aib” nya itu dapat menjadi sedekah kegembiraan atau hiburan untuk yang lainnya.

Memang ini sebenarnya bukan “aib” dalam pengertian yang berdampak dosa kepadanya, tetapi ini hanya sekedar sesuatu kesalahan interpretasi atas sesuatu yang dibeli. Sekali-lagi, begitu berhati-hatinya engineer sholeh ini maka dia tidak ingin ada orang lain yang tahu. Tetapi semua juga tahu, ini bukan “aib” dalam pengertian yang sebenarnya dan bukan pula dosa, ini sekedar kekeliruan kecil yang umum dan biasa terjadi bagi siapa saja yang tiba-tiba saja menjadi buta huruf di negeri yang bernama Korea ini. Kalaulah dia berhasil menyimpan “aib” itu, tetapi siapa yang menjamin bahwa dinding bus Suyeong itu tidak akan bercerita. Jadi, tidak ada tempat tuk bersembunyi. Kalaulah di Daejeon dulu ada episode “beli minyak goreng dapat cuka”, maka di Sacheon ada episode lain yaitu “beli buku catatan dapat kwitansi”.
“Pak Asep perlu kwitasi, ada nich 3 bendel?.....”.

Sacheon, 28 Oktober 2016

Sabtu, 15 Oktober 2016

Air Minum di Korea

Air Minum di Korea

Mati Ketawa Gaya Korea (7)

Menurut penelitian, kandungan air dalam tubuh manusia sekitar 50% – 80% dari berat tubuh tergantung usia. Pada bayi (80%), orang dewasa (70%), dan lanjut usia (50%), dan air tetap merupakan unsur terbanyak dalam tubuh manusia. Di manakah air yang 50 hingga 80 persen ini berada dalam tubuh kita? Air tersebut tersebar di seluruh tubuh manusia. Antara lain paru-paru (90%), darah (82%), kulit (80%), otot (75%), otak (70%), dan tulang (22%).

Peran air dalam tubuh dan kehidupan sangatlah penting, sehingga tidak satupun fungsi tubuh dapat bekerja tanpa air, diantaranya sebagai pembentuk sel dan cairan tubuh kecuali lemak, sebagai pelarut saat proses pencernaan makanan, sebagai media pengeluaran zat sisa seperti air kencing atau keringat, sebagai bantalan sehingga mata dan otak tahan goncangan dan getaran, sebagai pengatur suhu untuk menghangatkan atau mendinginkan, sebagai media transportasi pembawa O2 dan CO2 serta sebagai pelumas yang memungkinkan sendi dapat bergerak dengan baik sekaligus meredam gesekan antar sendi. Bagitu pentingnya, sehingga mustahil manusia bisa hidup tanpa air.

Tidak heran maka untuk urusan air ini engineer yang berada di negeri asing yang baru mereka kunjungi sangat concern tentang air, khususnya air minum sehari-hari.

Kebijakan publik untuk penyediaan air rumah tangga berbeda-beda untuk tiap negara, atau bahkan tiap kota. Sebut saja Bandung, urusan air rumah tangga ada yang dilayani melalui pipa PDAM, namun tidak sedikit yang mandiri menggunakan sumur galian atau bor sendiri. Perbedaan ini tentu sangat dipahami karena kebijakan tentang air itu sangat tergantung banyak hal, seperti ketersedian sumber air, tingkat ekonomi masyarakat, konsep kebijakan ketahanan, dan lain lain dan lain lain. Demikian juga di Korea. Beberapa engineer PTDI yang berkesempatan terlibat program KF-X/IF-x di fase TD di kota Daejeon tahun 2012, dapat bercerita bahwa di sana air kran yang ada di apartemen dapat langsung diminum tanpa haus di masak. Tetapi bagaimana di Sacheon? Apakah kebijakan tentang air rumah tangga sama?. Tidak ada engineer Indonesia yang dapat memastikannya, artinya harus ditanyakan ke orang Korea yang tinggal di sini. Karena orang Korea pertama yang ditemui dan berhubungan dengan urusan apartemen adalah agen bernama Mr.Haij maka ketika ditanyakan apakah air kran di apartemen bisa diminum, dia menjawab langsung,

“Yes, you can drink”, jawabnya.

Jawaban yang melegakan karena mengurangi sedikit beban kalau tiap hari atau tiap minggu harus menggotong air dari supermarket ke apartemen. Bahkan mengkonfirmasi kesamaan dengan apa yang terjadi di Daejeon. Belum lagi kelegaan berakhir, ternyata jawaban agen tadi belum selesai, dia masih melanjutkan jawabannya tanpa diminta dengan bahasa Inggris dialek korea,

“after boiled”.

“Haaaalah, sama saja ternyata.”
Tapi OK lah, paling tidak engineer tahu posisinya dan tahu cara menyikapinya. Beli dan menggotong atau masak sendiri.

Sejak saat itu pola penyelesaian urusan air minum ini berbeda-beda untuk tiap engineer, dengan latar belakang dan pertimbangannya masing-masing. Yang paling primitif adalah yang masak sendiri. Asal kran ngocor, dan gas ada maka tidak pernah ada masalah urusan air minum. Ada juga yang beli paket air kemasan botol di BI Mart yang berjarak sekitar 1 km dari apartement. Format ini juga nggak sulit, cukup duit 2650 won sudah dapat 6 botol @2 liter air. Kasulitannya barangkali hanya bagaimana mengangkutnya dari BI mart ke apartement, karena menggotong paket 6 kali 2 liter sekaligus dalam jarak sekitar 1 km agak lumayan menyita tenaga dan butuh jari, tangan dan kaki yang agak berotot.

Problem jarak ini dapat di atasi oleh engineer yang kebetulan di dekat apartemennya ada minimarket sekelas Alfa atau Indomart tetapi sedikit lebih kecil, yaitu GS25. Hanya harganya sekitar 350 won lebih mahal. 350 won lebih mahal ini signifikan atau tidak tergantung cara pandang orang itu terhadap uang dan nilai uang. Bagi yang rasional, 350 won lebih mahal tetapi tidak capek harus menggotong dari BI mart ke apartemen adalah perbedaan yang wajar.

“Ya, anggap saja ongkos becak atau ojek lah...”, argumen yang digunakan untuk meyakinkan teman lainnya. Bahwa tetep saja ada yang beli di BI mart, mungkin memang urusan berat itu tidak menjadi masalah atau sekedar sekalian beli barang lainnya.

“Urusan angkut beras, atau tebu berkilo-kilo juga nggak masalah kok, tambah kuat dan sehaaatttt...”, kilahnya.

Karena sudah terbukti di GS25 harga air cuma beda 350 won, maka engineer ini langsung memutuskan beli air di GS25 yang terletak di apartemen Hanju.

“Wah kebetulan tinggal satu nich”, katanya dalam hati sambil mengangkat 6 botol air tersebut ke meja kasir. Dia sudah tahu kalau harganya sekitar 3.000 won, maka dia tidak perlu berkata-kata lagi dengan yakin dia serahkan uang pecahan 3 lembar 1.000 won.

Tapi penjaga kasir menolak uang itu,

“Ande...ande .....”, ucap kasir sambil menyilangkan tangan tanda bahwa ini tidak bisa.

Engineer yang kebetulan baru pertama ke Korea ini, tidak dapat bertanya lebih lanjut karena dia tidak dapat berbahasa Korea dan penjualnya tidak dapat berbahasa Inggris. Namun, karena engineer ini berpandangan jangan terlalu melihat harga atau uang maka dia segera tarik uang 3.000 won yang sudah diserahkan dan menggantinya menjadi lembaran 5.000 won.

“Ah mungkin sudah naik harganya,....”, kesimpulan yang wajar. Namun, dengan uang 5.000 won itu, kasir tetap menolak dengan cara yang sama, “Ande,...ande....”.

Bingung engineer ini. Mau bertanya nggak tahu caranya, apalagi dijawab bahasa Korea tambah bingung dia. Mau berdebat nggak nyambung, mau batalin malu dan faktanya dia memang butuh air, sementara di belakangnya sudah ada beberapa orang yang ngantri mau bayar juga.

Sebagai engineer PTDI yang sudah dibekali oleh pak Dirum agar engineer duta bangsa harus bisa menjaga marwah atau kehormatan negara dan perusahaan, maka pesan Dirum tersebut diterjemahkan dengan sangat sederhana, yaitu jangan sampai memalukan, jangan sampai urusan air saja jadi masalah dan apalagi jadi tontonan orang.

“Jangan sampai bikin malu negara dan perusahaan”, begitu pikirnya. Maka segera saja dia keluarkan uang Korea lembar hijau senilai manon atau 10.000 won. Dan benar saja, ternyata uang itu langsung diambil oleh kasir, dan segera diberi 1.000 won kembalian. Paham dia sekarang, artinya harga air itu adalah 9.000 won.

Sambil jalan ke apartemen dalam hati dia yakinkan dirinya sendiri,

“Sudah, apa-apa jangan lihat uangnya......”. Kalimat itu cukup untuk mensugesti dirinya sendiri hingga air seberat tidak kurang dari 12 kg itu jadi terasa ringan dan sekaligus memberikan ketenangan batinnya.

Beberapa hari kemudian, di depan gedung KAI sambil menunggu datangnya Bus Suyang yang mengantarkan para enginner pulang, sudah biasa engineer berkumpul membahas apa saja sekedar untuk mengisi kekosongan, dan membunuh kejenuhan. Tidak jelas siapa yang memulai, hingga diskusi ringan berbelok membandingkan harga air minum.

“Kalau beli di BI mart berat dan sulit bawanya, beli aja di GS25 yang deket. Bedanya cuma 350 won kok”, seorang engineer mencoba meyakinkan temannya.

“Beda 350 won apa pak, saya kemarin beli di GS25 harganya 9000 won”. Kata engineer setengah agak sewot menyanggah penjelasan engineer sebelumnya. Beberapa orang yang kebetulan juga pernah beli air minum di GS25 serentak membantah,

“Ach masak, ....saya baru beli 2 minggu yang lalu harganya 3000 won kok !!!”, argumen yang juga didukung oleh rekan engineer lain yang juga membeli disitu.

Namun karena dia merasa membeli dengan 9000 won, maka “keukeuh” dia mengatakan bahwa harganya 9000 won. Bahkan dia ceritakan detail apa yang terjadi dan bagaimana dia membayar dikasir yang sempat ditolak karena uangnya kurang.

Mendengar ini, tidak terlalu jelas apakah niatnya benar-benar ingin menjelaskan rasionalitas harga air 9000 own ini, bahwa harga 9000 won itu wajar atau sekedar meledek.

“Ach...., mungkin merek nya beda pak, sehingga air merek yang sudah dibeli itu memang lebih mahal”, yang langsung dibantah dengan,

“Emang yang itu mereknya apa? Aku juga nggak apal merek apa yang aku beli kemarin, kayaknya sama deh”, dia masih perlu melanjutkan argumennya.

“Katakanlah beda merek, masuk akalkah harga air beda hampir 3 kali lipat?”, argumen yang tepat.

Diskusi ringan itu semakin berkembang karena semakin banyak yang ikut menimpali atau sekedar meledek.

“Kayaknya harga yang benar itu ya yang 9000 won itu. Itu air mineral yang asli buatan pabrik. Kalau yang 3000 won itu mungkin tidak asli, atau bahkan mungkin itu refill pak”, kalimat yang diucapkan sabil tersenyum. Dengan cepat dibantah,

“Halllaaaah,.... kaya di Indonesia aja.....”.

Diskusi menjadi hangat karena semua orang mencoba ikut masuk dalam topik pembicaraan air minum itu. Dengan meyakinkan, seorang enginer menyampaikan,

“Ach ya nggak mungkinlah harga air saja kok sampai segitu mahalnya, harga air yang wajar ya memang sekitar 3.000 an won itu Pak. Dimana mana di Korea juga segitu. Kalau sampek harga air kok 9000 won, .....jangan-jangan .........itu air aki pak”.

Tidak ada yang dapat membantah, tidak ada yang membenarkan atau menyalahkan penjelasan terakhir itu karena Bus Suyang sudah keburu datang. Cuma dalam hati barangkali berpikir,
“masak sich yang aku minum selama ini air aki?”.

“Aaach,.... ya nggak mungkiiiinnnn “.

Ucapnya dalam hati sambil terseyum sendiri.

Sacheon, 15 Oktober 2016.

Jumat, 14 Oktober 2016

Rindu Sambel Goreng Kentang.

Rindu Sambel Goreng Kentang.
Mati Ketawa Gaya Korea (6)

Sambel goreng kentang, siapa sih orang Indonesia yang tidak kenal dengan jenis makanan ini. Meskipun tidak populer, makanan ini hampir tidak pernah absen dalam acara hajatan-hajatan khususnya di wilayah Jawa. Dalam perjalanannya, sesuai selera dan citarasa, penampilan sambel goreng ini juga berkembang menjadi beberapa varian dengan hanya menambahkan beberapa bahan, seperti hati ampela, atau “krecek” yang menjadi sebutan orang Jogja untuk olahan kulit lembu, atau petai dan kacang kapri sebagi pemanis penampilan. Namun tetap saja, apapun tambahan aksesorisnya, namanya tidak berubah yaitu tetap sambel goreng kentang.
Makanan ini berbahan dasar kentang yang diiris iris menjadi sebentuk balok-balok kecil dengan bumbu cabe merah, bawang putih, bawang merah, merica, dan tidak lupa santan. Seringnya makanan ini disajikan dalam kondisi agak kesat alias kuah santannya yang sudah tinggal sedikit karena menguap saat proses pemasakan.

Sebagai makanan utama saat hajatan, sambel goreng kentang sudah biasa disajikan berdampingan dengan empal daging, sop atau soto, rolade, oseng jagung muda, dan krupuk udang. Ketika sambel goreng kentang disajikan masih hangat maka kombinasi warna merah kekuningan dengan taburan irisan petai atau kacang kapri sungguh merangsang selera untuk tidak melewatkannya. Gurih pedas sedang, dan lembut saat dikunyah, rasa yang sudah melekat dalam memori siapapun. Sambel goreng kentang, tak mungkin lupa wujud dan rasanya.

Karena makanan ini memang khas Indonesia, maka sungguh tidak mudah mendapatkannya ketika kita sudah berada di luar negeri. Indonesia, meskipun kaya akan berbagai jenis makanan yang beraneka ragam, namun Indonesia bukanlah negara expansif dalam hal kuliner. Kalaupun ada mungkin hanya satu dua restoran yang menjual makanan Indonesia di kota-kota besar di luar negeri. Sebut saja sate, rendang padang, atau nasi goreng dan bukan sambel goreng kentang.
Sungguh berbeda dengan negara lain seperti Jepang lewat Hokka Bento atau Hanamasa dengan Teppanyaki dan Terriyaki, China lewat Bakpao, Bakcang, Ifumie, Phuyunghai, dan Bebek Peking, sementara Itali lewat Pizza nya. Terlepas terkenal atau tidak, sambel goreng kentang sudah terlanjur melekat dalam memori lidah setiap orang Indonesia, sehingga siapapun sulit untuk tidak merindukannya.

Engineer-engineer perancang pesawat tempur Indonesia ini belumlah genap satu bulan di Korea. Untuk menjamin kesehatan asupan makanan mereka, perusahaan telah mengupayakan agar mereka diberi fasilitas makan 3 kali sehari dengan kualitas sama persis dengan counter part mereka engineer dari KAI. Dengan menu yang sama, dari kantin yang sama, juru masak yang sama maka dipastikan apa yang engineer Indonesia makan akan sama kualitas dan tingkat gizinya dengan apa yang dimakan engineer KAI. Kantin ini berada di lokasi KAI, dan mayoritas orang yang makan di kantin itu tentu saja orang KAI, maka wajar saja bila yang disajikan adalah menu dan citarasa Korea. Untuk memberikan keleluasaan engineer memilih, kantin selalu menyediakan 2 paket pilihan menu, atau bahkan dalam beberapa hari tertentu ada menu pilihan ke 3 dengan jumlah yang sangat terbatas.

Pagi hari mulai jam 07.00 WK sudah disiapkan sarapan dengan salah satu menu misalnya sandwich, sup cream, salad dan susu sebagai penyempurna sarapan. Kemudian siang dan sore disajikan secara bergantian paket-paket menu seperti, nasi, sayur, tahu, dengan lauk ikan atau ayam goreng atau daging cincang atau dwaeji gogi alias “daging enak” alias daging babi. Sebagai pelengkapnya aneka sup, rumpu laut cincang plus kimchi. Tentu saja, semua itu disajikan dalam cita rasa Korea, misal sup yang flat alias kurang asin, sayur yang cenderung asam, dan kimci sebagai ”stempel” bahwa itu menu style Korea. Untuk mencegah agar engineer muslim tidak menyantap dwaeji gogi, maka KAI dengan bijaksana memberi tanda berupa huruf berwarna merah dengan background kuning yang kontras atau menempelkan tulisan jelas “PORK” pada menu yang mengandung dwaejigogi. Namun demikian, bagi engineer Indonesia yang bukan muslim, seringnya justru yang bertanda merah itulah yang dicari, “Habis enak sich..”, begitu kilahnya.
Sehari dua hari engineer Indonesia bergembira 3 kali sehari lidah mereka bersentuhan dengan menu Korea. Kebetulan juga engineer Indonesia ini adalah engineer yang tangguh yang sudah digembleng untuk siap survive dalam menghadapi aneka makanan yang mungkin sangat asing di lidah sekalipun. Apapun yang disajikan akan habis tandas dilahap demi kepatuhan dan kewajiban menjaga kesehatan. Ya demi kesehatan, tidak lebih dan tidak kurang. Tidak ada alasan mereka makan untuk memanjakan lidah karena engineer-engineer ini sejak dari Bandung memang “disetup” untuk berjuang, bukan bertamasya.

Kepatuhan akan kewajiban menjaga kesehatan demi berhasilnya tugas dan tercapainya misi adalah sesuatu yang dilakukan dengan sadar, sehingga perasaan, atau rasa apapun atas makanan itu enak tidak enak, suka nggak suka maka tetap saja harus dimakan. Meskipun disadari bahwa makan biar sehat demi tugas dan misi, namun hal itu tetap saja tidak mampu menghapus memori dan kerinduan akan makanan Indonesia.
“Makan sich makan, karena kan harus makan, tapi kapan bisa makan rawon, gule dan nasi Padang lagi”. Perasaan rindu akan makanan-makanan ini adalah kerinduan yang serupa dengan kerinduan kepada orang-orang yang kita cintai. Sebuah rasa rindu yang semakin lama ditinggalkan semakin kuat dirindukan.

Ketika jam makan telah tiba, kantin KAI menerapkan aturan tepat waktu, artinya semua engineer siapapun juga diijinkan makan setelah waktunya tiba. Tanpa pemberitahuan sebelumnya atau tanpa agenda khusus, jangan harap bisa dilayani kalau belum jam 12.00 WK. Semua harus menunggu jadwal jamnya, yaitu jam 12.00 WK Tet.
Atas nama tertib makan, tidak pernah terlihat sekalipun ada engineer bergerombol menunggu di depan pintu kantin untuk makan siang. Jadi selama belum lewat jam 12.00 WK, kantin terlihat begitu lengang dengan kursi hijau dan meja berderet-deret tertata rapi. Yang terlihat hanyalah beberapa orang koki dan staf restaurant yang berlalu lalang menyiapkan menu ke dalam "angkringan" yang telah disediakan.  Namun ketika jam makan tiba, secara bergelombang engineer akan berbaris rapi dalam dua jalur sesuai menu pilihan. Dalam hitungan menit, ruangan yang tadinya lengang langsung penuh dengan riuh rendah engineer-engineer yang makan.

Urusan tertib dan patuh aturan, orang Indonesia lah jagonya. Dimanapun orang Indonesia berada di luar negeri, mereka pasti menjadi warga teladan dalam kepatuhan, baik ketepatan waktu, ketertiban lalulintas maupun sosial. Demikian pula saat akan makan, tidak ada sekalipun terlihat engineer Indonesia bergerombol menunggu di depan kantin. Kalaupun terjadi, paling beberapa orang berhenti sejenak di depan papan menu sekedar memastikan mana menu merah yang mengandung “daging enak” alias dwaeji gogi dan mana yang bukan. Tidak terlalu penting membaca menunya apa, karena terjemahan bahasa Korea ke bahasa Inggris seringnya terdengar meleset dan aneh, sehingga kurang berguna juga untuk membacanya. “Pokoknya yang halal..”, begitu argumennya.
Sambil berbaris tertib sesuai jalur mengikuti antrean yang panjang, dari kejauhan sudah terlihat makanan yang disajikan sesuai menu hari itu. Beberapa orang bahkan dari jauh sudah mengamati dengan sungguh-sungguh makanan apa yang telah tersaji saat itu. Menu hari itu sepertinya agak berbeda. Engineer Indonesia ini nampak sumringah karena ada obat rindu tanah air yang disajikan, sambel goreng kentang.

“Wah,...Sambel goreng kentang...”, engineer yang kebetulan berada di depan setengah berbisik sambil menoleh ke rekan-rekan yang mengikutinya. Kata sambel goreng kentang yang diucapkan ini seakan seperti tetes air dimusim kemarau. Begitu indah, begitu dirindukan, sehingga begitu mendengar sambil ditunjuk fakta sambel goreng kentang di depan mata maka yang ada hanya perasaan yang gembira, perasaan untuk segera mencicipinya.
Tak berapa lama satu persatu engineer ini sudah berhadapan dengan menu yang dirindui. Nasi hangat diambil secukupnya, sambel goreng kentang diambil melebihi porsi dari yang biasanya, kimci tak lupa sebagai pelengkap, rumput laut cincang, dan mengambil semangkok sup sambil jalan menuju meja. Tentu saja sambel goreng kentang ini menjadi obyek pertama yang akan disantap.

Dan benar saja, sendok langsung bergerak menyusup pada sambel goreng kentang yang teronggok seperti gunung kecil di atas nampan. Dengan cepat, sambel goreng kentang sudah berpindah di depan mulut yang sudah siap untuk melahap. Dengan sungguh-sungguh coba diresapi nikmatnya sambel goreng kentang yang sudah dirindukan. Kalau ada sedikit keraguan paling hanya perasaan, “apakah rasanya akan seperti aslinya yang di Indonesia ya?”.
Euforia menyantap sambal goreng kentang hanya bertahan sesaat. Yang terjadi maka terjadilah, kunyahan pertama memberikan kekagetan luar biasa. Imaginasi rasa lembut gurih sambel goreng kentang telah berubah menjadi rasa kres dan asem. Kerongkongan seperti tercekat, rahang seperti kaku, akibat kekagetan dan kebingungan yang bersatu di dalam mulut.

“Asem tenan,..... apa ini..?”, keluhnya dalam hati. Namun dia tidak sendiri karena teman sebelahnya juga merasakan kekagetan yang sama. Tidak sopan memuntahkan apa yang sudah masuk di mulut, maka dengan sangat terpaksa “sambel goreng kentang” kres rasa asam itu harus terus dikunyah dan dikunyah untuk secepatnya ditelan. Sambil mata mengernyit karena asamnya “sambel goreng kentang” kres itu, naluri rasa penasarannya menuntun tangan untuk meneliti lebih detil apa dan kenapa “sambel goreng kentang” ini kok berasa kres dan asam.
Tidak lama untuk tahu jawabannya. “Sambel goreng kentang” yang tersaji hari itu bukanlah sambel goreng kentang seperti yang dibayangkan. Makanan itu adalah sejenis kimci berbahan dasar lobak segar yang dipotong seukuran kubik kecil dan dibumbui cabe, bawang putih dan lain-lain. Bagi orang Indonesia yang belum pernah melihat makanan ini, apalagi ditambah “penyakit rindu” maka pasti akan benar-benar menyangka bahwa itu adalah sambel goreng kentang.

Kalau sudah begitu, terus gimana urusan atas “sambel goreng kentang” yang sudah terlanjur diambil segunung kecil ini?
Dengan wajah kecut kecewa dijawab dengan singkat, “buang saja”.

Sacheon, 14 Oktober 2016