Air Minum di Korea
Mati Ketawa Gaya Korea (7)Menurut penelitian, kandungan air dalam tubuh manusia sekitar 50% – 80% dari berat tubuh tergantung usia. Pada bayi (80%), orang dewasa (70%), dan lanjut usia (50%), dan air tetap merupakan unsur terbanyak dalam tubuh manusia. Di manakah air yang 50 hingga 80 persen ini berada dalam tubuh kita? Air tersebut tersebar di seluruh tubuh manusia. Antara lain paru-paru (90%), darah (82%), kulit (80%), otot (75%), otak (70%), dan tulang (22%).
Peran air dalam tubuh dan kehidupan sangatlah penting,
sehingga tidak satupun fungsi tubuh dapat bekerja tanpa air, diantaranya sebagai
pembentuk sel dan cairan tubuh kecuali lemak, sebagai pelarut saat proses
pencernaan makanan, sebagai media pengeluaran zat sisa seperti air kencing atau
keringat, sebagai bantalan sehingga mata dan otak tahan goncangan dan getaran, sebagai
pengatur suhu untuk menghangatkan atau mendinginkan, sebagai media transportasi
pembawa O2 dan CO2 serta sebagai pelumas yang memungkinkan sendi dapat bergerak
dengan baik sekaligus meredam gesekan antar sendi. Bagitu pentingnya, sehingga
mustahil manusia bisa hidup tanpa air.
Tidak heran maka untuk urusan air ini engineer yang
berada di negeri asing yang baru mereka kunjungi sangat concern tentang air,
khususnya air minum sehari-hari.
Kebijakan publik untuk penyediaan air rumah tangga
berbeda-beda untuk tiap negara, atau bahkan tiap kota. Sebut saja Bandung,
urusan air rumah tangga ada yang dilayani melalui pipa PDAM, namun tidak
sedikit yang mandiri menggunakan sumur galian atau bor sendiri. Perbedaan ini tentu
sangat dipahami karena kebijakan tentang air itu sangat tergantung banyak hal,
seperti ketersedian sumber air, tingkat ekonomi masyarakat, konsep kebijakan
ketahanan, dan lain lain dan lain lain. Demikian juga di Korea. Beberapa
engineer PTDI yang berkesempatan terlibat program KF-X/IF-x di fase TD di kota
Daejeon tahun 2012, dapat bercerita bahwa di sana air kran yang ada di
apartemen dapat langsung diminum tanpa haus di masak. Tetapi bagaimana di
Sacheon? Apakah kebijakan tentang air rumah tangga sama?. Tidak ada engineer
Indonesia yang dapat memastikannya, artinya harus ditanyakan ke orang Korea
yang tinggal di sini. Karena orang Korea pertama yang ditemui dan berhubungan
dengan urusan apartemen adalah agen bernama Mr.Haij maka ketika ditanyakan
apakah air kran di apartemen bisa diminum, dia menjawab langsung,
“Yes, you can drink”, jawabnya.
Jawaban yang melegakan karena mengurangi sedikit beban
kalau tiap hari atau tiap minggu harus menggotong air dari supermarket ke
apartemen. Bahkan mengkonfirmasi kesamaan dengan apa yang terjadi di Daejeon. Belum
lagi kelegaan berakhir, ternyata jawaban agen tadi belum selesai, dia masih
melanjutkan jawabannya tanpa diminta dengan bahasa Inggris dialek korea,
“after boiled”.
“Haaaalah, sama saja ternyata.”
Tapi OK lah, paling tidak
engineer tahu posisinya dan tahu cara menyikapinya. Beli dan menggotong atau
masak sendiri.
Sejak saat itu pola penyelesaian urusan air minum ini
berbeda-beda untuk tiap engineer, dengan latar belakang dan pertimbangannya
masing-masing. Yang paling primitif adalah yang masak sendiri. Asal kran
ngocor, dan gas ada maka tidak pernah ada masalah urusan air minum. Ada juga
yang beli paket air kemasan botol di BI Mart yang berjarak sekitar 1 km dari
apartement. Format ini juga nggak sulit, cukup duit 2650 won sudah dapat 6
botol @2 liter air. Kasulitannya barangkali hanya bagaimana mengangkutnya dari
BI mart ke apartement, karena menggotong paket 6 kali 2 liter sekaligus dalam
jarak sekitar 1 km agak lumayan menyita tenaga dan butuh jari, tangan dan kaki
yang agak berotot.
Problem jarak ini dapat di atasi oleh engineer yang
kebetulan di dekat apartemennya ada minimarket sekelas Alfa atau Indomart
tetapi sedikit lebih kecil, yaitu GS25. Hanya harganya sekitar 350 won lebih
mahal. 350 won lebih mahal ini signifikan atau tidak tergantung cara pandang
orang itu terhadap uang dan nilai uang. Bagi yang rasional, 350 won lebih mahal
tetapi tidak capek harus menggotong dari BI mart ke apartemen adalah perbedaan
yang wajar.
“Ya, anggap saja ongkos becak atau ojek lah...”, argumen
yang digunakan untuk meyakinkan teman lainnya. Bahwa tetep saja ada yang beli
di BI mart, mungkin memang urusan berat itu tidak menjadi masalah atau sekedar
sekalian beli barang lainnya.
“Urusan angkut beras, atau tebu berkilo-kilo juga nggak
masalah kok, tambah kuat dan sehaaatttt...”, kilahnya.
Karena sudah terbukti di GS25 harga air cuma beda 350
won, maka engineer ini langsung memutuskan beli air di GS25 yang terletak di
apartemen Hanju.
“Wah kebetulan tinggal satu nich”, katanya dalam hati sambil
mengangkat 6 botol air tersebut ke meja kasir. Dia sudah tahu kalau harganya
sekitar 3.000 won, maka dia tidak perlu berkata-kata lagi dengan yakin dia
serahkan uang pecahan 3 lembar 1.000 won.
Tapi penjaga kasir menolak uang itu,
“Ande...ande .....”, ucap kasir sambil menyilangkan
tangan tanda bahwa ini tidak bisa.
Engineer yang kebetulan baru pertama ke Korea ini, tidak
dapat bertanya lebih lanjut karena dia tidak dapat berbahasa Korea dan
penjualnya tidak dapat berbahasa Inggris. Namun, karena engineer ini
berpandangan jangan terlalu melihat harga atau uang maka dia segera tarik uang
3.000 won yang sudah diserahkan dan menggantinya menjadi lembaran 5.000 won.
“Ah mungkin sudah naik harganya,....”, kesimpulan yang
wajar. Namun, dengan uang 5.000 won itu, kasir tetap menolak dengan cara yang
sama, “Ande,...ande....”.
Bingung engineer ini. Mau bertanya nggak tahu caranya, apalagi
dijawab bahasa Korea tambah bingung dia. Mau berdebat nggak nyambung, mau
batalin malu dan faktanya dia memang butuh air, sementara di belakangnya sudah
ada beberapa orang yang ngantri mau bayar juga.
Sebagai engineer PTDI yang sudah dibekali oleh pak Dirum
agar engineer duta bangsa harus bisa menjaga marwah atau kehormatan negara dan
perusahaan, maka pesan Dirum tersebut diterjemahkan dengan sangat sederhana, yaitu
jangan sampai memalukan, jangan sampai urusan air saja jadi masalah dan apalagi
jadi tontonan orang.
“Jangan sampai bikin malu negara dan perusahaan”, begitu
pikirnya. Maka segera saja dia keluarkan uang Korea lembar hijau senilai manon
atau 10.000 won. Dan benar saja, ternyata uang itu langsung diambil oleh kasir,
dan segera diberi 1.000 won kembalian. Paham dia sekarang, artinya harga air
itu adalah 9.000 won.
Sambil jalan ke apartemen dalam hati dia yakinkan dirinya
sendiri,
“Sudah, apa-apa jangan lihat uangnya......”. Kalimat itu
cukup untuk mensugesti dirinya sendiri hingga air seberat tidak kurang dari 12
kg itu jadi terasa ringan dan sekaligus memberikan ketenangan batinnya.
Beberapa hari kemudian, di depan gedung KAI sambil
menunggu datangnya Bus Suyang yang mengantarkan para enginner pulang, sudah
biasa engineer berkumpul membahas apa saja sekedar untuk mengisi kekosongan,
dan membunuh kejenuhan. Tidak jelas siapa yang memulai, hingga diskusi ringan
berbelok membandingkan harga air minum.
“Kalau beli di BI mart berat dan sulit bawanya, beli aja
di GS25 yang deket. Bedanya cuma 350 won kok”, seorang engineer mencoba
meyakinkan temannya.
“Beda 350 won apa pak, saya kemarin beli di GS25 harganya
9000 won”. Kata engineer setengah agak sewot menyanggah penjelasan engineer
sebelumnya. Beberapa orang yang kebetulan juga pernah beli air minum di GS25
serentak membantah,
“Ach masak, ....saya baru beli 2 minggu yang lalu
harganya 3000 won kok !!!”, argumen yang juga didukung oleh rekan engineer lain
yang juga membeli disitu.
Namun karena dia merasa membeli dengan 9000 won, maka “keukeuh”
dia mengatakan bahwa harganya 9000 won. Bahkan dia ceritakan detail apa yang
terjadi dan bagaimana dia membayar dikasir yang sempat ditolak karena uangnya
kurang.
Mendengar ini, tidak terlalu jelas apakah niatnya
benar-benar ingin menjelaskan rasionalitas harga air 9000 own ini, bahwa harga
9000 won itu wajar atau sekedar meledek.
“Ach...., mungkin merek nya beda pak, sehingga air merek yang
sudah dibeli itu memang lebih mahal”, yang langsung dibantah dengan,
“Emang yang itu mereknya apa? Aku juga nggak apal merek
apa yang aku beli kemarin, kayaknya sama deh”, dia masih perlu melanjutkan argumennya.
“Katakanlah beda merek, masuk akalkah harga air beda
hampir 3 kali lipat?”, argumen yang tepat.
Diskusi ringan itu semakin berkembang karena semakin
banyak yang ikut menimpali atau sekedar meledek.
“Kayaknya harga yang benar itu ya yang 9000 won itu. Itu
air mineral yang asli buatan pabrik. Kalau yang 3000 won itu mungkin tidak
asli, atau bahkan mungkin itu refill pak”, kalimat yang diucapkan sabil
tersenyum. Dengan cepat dibantah,
“Halllaaaah,.... kaya di Indonesia aja.....”.
Diskusi menjadi hangat karena semua orang mencoba ikut
masuk dalam topik pembicaraan air minum itu. Dengan meyakinkan, seorang enginer
menyampaikan,
“Ach ya nggak mungkinlah harga air saja kok sampai segitu
mahalnya, harga air yang wajar ya memang sekitar 3.000 an won itu Pak. Dimana
mana di Korea juga segitu. Kalau sampek harga air kok 9000 won, .....jangan-jangan
.........itu air aki pak”.
Tidak ada yang dapat membantah, tidak ada yang membenarkan
atau menyalahkan penjelasan terakhir itu karena Bus Suyang sudah keburu datang.
Cuma dalam hati barangkali berpikir,
“masak sich yang aku minum selama ini air aki?”. “Aaach,.... ya nggak mungkiiiinnnn “.
Ucapnya dalam hati sambil terseyum sendiri.
Sacheon, 15 Oktober 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar