Sabtu, 15 Oktober 2016

Air Minum di Korea

Air Minum di Korea

Mati Ketawa Gaya Korea (7)

Menurut penelitian, kandungan air dalam tubuh manusia sekitar 50% – 80% dari berat tubuh tergantung usia. Pada bayi (80%), orang dewasa (70%), dan lanjut usia (50%), dan air tetap merupakan unsur terbanyak dalam tubuh manusia. Di manakah air yang 50 hingga 80 persen ini berada dalam tubuh kita? Air tersebut tersebar di seluruh tubuh manusia. Antara lain paru-paru (90%), darah (82%), kulit (80%), otot (75%), otak (70%), dan tulang (22%).

Peran air dalam tubuh dan kehidupan sangatlah penting, sehingga tidak satupun fungsi tubuh dapat bekerja tanpa air, diantaranya sebagai pembentuk sel dan cairan tubuh kecuali lemak, sebagai pelarut saat proses pencernaan makanan, sebagai media pengeluaran zat sisa seperti air kencing atau keringat, sebagai bantalan sehingga mata dan otak tahan goncangan dan getaran, sebagai pengatur suhu untuk menghangatkan atau mendinginkan, sebagai media transportasi pembawa O2 dan CO2 serta sebagai pelumas yang memungkinkan sendi dapat bergerak dengan baik sekaligus meredam gesekan antar sendi. Bagitu pentingnya, sehingga mustahil manusia bisa hidup tanpa air.

Tidak heran maka untuk urusan air ini engineer yang berada di negeri asing yang baru mereka kunjungi sangat concern tentang air, khususnya air minum sehari-hari.

Kebijakan publik untuk penyediaan air rumah tangga berbeda-beda untuk tiap negara, atau bahkan tiap kota. Sebut saja Bandung, urusan air rumah tangga ada yang dilayani melalui pipa PDAM, namun tidak sedikit yang mandiri menggunakan sumur galian atau bor sendiri. Perbedaan ini tentu sangat dipahami karena kebijakan tentang air itu sangat tergantung banyak hal, seperti ketersedian sumber air, tingkat ekonomi masyarakat, konsep kebijakan ketahanan, dan lain lain dan lain lain. Demikian juga di Korea. Beberapa engineer PTDI yang berkesempatan terlibat program KF-X/IF-x di fase TD di kota Daejeon tahun 2012, dapat bercerita bahwa di sana air kran yang ada di apartemen dapat langsung diminum tanpa haus di masak. Tetapi bagaimana di Sacheon? Apakah kebijakan tentang air rumah tangga sama?. Tidak ada engineer Indonesia yang dapat memastikannya, artinya harus ditanyakan ke orang Korea yang tinggal di sini. Karena orang Korea pertama yang ditemui dan berhubungan dengan urusan apartemen adalah agen bernama Mr.Haij maka ketika ditanyakan apakah air kran di apartemen bisa diminum, dia menjawab langsung,

“Yes, you can drink”, jawabnya.

Jawaban yang melegakan karena mengurangi sedikit beban kalau tiap hari atau tiap minggu harus menggotong air dari supermarket ke apartemen. Bahkan mengkonfirmasi kesamaan dengan apa yang terjadi di Daejeon. Belum lagi kelegaan berakhir, ternyata jawaban agen tadi belum selesai, dia masih melanjutkan jawabannya tanpa diminta dengan bahasa Inggris dialek korea,

“after boiled”.

“Haaaalah, sama saja ternyata.”
Tapi OK lah, paling tidak engineer tahu posisinya dan tahu cara menyikapinya. Beli dan menggotong atau masak sendiri.

Sejak saat itu pola penyelesaian urusan air minum ini berbeda-beda untuk tiap engineer, dengan latar belakang dan pertimbangannya masing-masing. Yang paling primitif adalah yang masak sendiri. Asal kran ngocor, dan gas ada maka tidak pernah ada masalah urusan air minum. Ada juga yang beli paket air kemasan botol di BI Mart yang berjarak sekitar 1 km dari apartement. Format ini juga nggak sulit, cukup duit 2650 won sudah dapat 6 botol @2 liter air. Kasulitannya barangkali hanya bagaimana mengangkutnya dari BI mart ke apartement, karena menggotong paket 6 kali 2 liter sekaligus dalam jarak sekitar 1 km agak lumayan menyita tenaga dan butuh jari, tangan dan kaki yang agak berotot.

Problem jarak ini dapat di atasi oleh engineer yang kebetulan di dekat apartemennya ada minimarket sekelas Alfa atau Indomart tetapi sedikit lebih kecil, yaitu GS25. Hanya harganya sekitar 350 won lebih mahal. 350 won lebih mahal ini signifikan atau tidak tergantung cara pandang orang itu terhadap uang dan nilai uang. Bagi yang rasional, 350 won lebih mahal tetapi tidak capek harus menggotong dari BI mart ke apartemen adalah perbedaan yang wajar.

“Ya, anggap saja ongkos becak atau ojek lah...”, argumen yang digunakan untuk meyakinkan teman lainnya. Bahwa tetep saja ada yang beli di BI mart, mungkin memang urusan berat itu tidak menjadi masalah atau sekedar sekalian beli barang lainnya.

“Urusan angkut beras, atau tebu berkilo-kilo juga nggak masalah kok, tambah kuat dan sehaaatttt...”, kilahnya.

Karena sudah terbukti di GS25 harga air cuma beda 350 won, maka engineer ini langsung memutuskan beli air di GS25 yang terletak di apartemen Hanju.

“Wah kebetulan tinggal satu nich”, katanya dalam hati sambil mengangkat 6 botol air tersebut ke meja kasir. Dia sudah tahu kalau harganya sekitar 3.000 won, maka dia tidak perlu berkata-kata lagi dengan yakin dia serahkan uang pecahan 3 lembar 1.000 won.

Tapi penjaga kasir menolak uang itu,

“Ande...ande .....”, ucap kasir sambil menyilangkan tangan tanda bahwa ini tidak bisa.

Engineer yang kebetulan baru pertama ke Korea ini, tidak dapat bertanya lebih lanjut karena dia tidak dapat berbahasa Korea dan penjualnya tidak dapat berbahasa Inggris. Namun, karena engineer ini berpandangan jangan terlalu melihat harga atau uang maka dia segera tarik uang 3.000 won yang sudah diserahkan dan menggantinya menjadi lembaran 5.000 won.

“Ah mungkin sudah naik harganya,....”, kesimpulan yang wajar. Namun, dengan uang 5.000 won itu, kasir tetap menolak dengan cara yang sama, “Ande,...ande....”.

Bingung engineer ini. Mau bertanya nggak tahu caranya, apalagi dijawab bahasa Korea tambah bingung dia. Mau berdebat nggak nyambung, mau batalin malu dan faktanya dia memang butuh air, sementara di belakangnya sudah ada beberapa orang yang ngantri mau bayar juga.

Sebagai engineer PTDI yang sudah dibekali oleh pak Dirum agar engineer duta bangsa harus bisa menjaga marwah atau kehormatan negara dan perusahaan, maka pesan Dirum tersebut diterjemahkan dengan sangat sederhana, yaitu jangan sampai memalukan, jangan sampai urusan air saja jadi masalah dan apalagi jadi tontonan orang.

“Jangan sampai bikin malu negara dan perusahaan”, begitu pikirnya. Maka segera saja dia keluarkan uang Korea lembar hijau senilai manon atau 10.000 won. Dan benar saja, ternyata uang itu langsung diambil oleh kasir, dan segera diberi 1.000 won kembalian. Paham dia sekarang, artinya harga air itu adalah 9.000 won.

Sambil jalan ke apartemen dalam hati dia yakinkan dirinya sendiri,

“Sudah, apa-apa jangan lihat uangnya......”. Kalimat itu cukup untuk mensugesti dirinya sendiri hingga air seberat tidak kurang dari 12 kg itu jadi terasa ringan dan sekaligus memberikan ketenangan batinnya.

Beberapa hari kemudian, di depan gedung KAI sambil menunggu datangnya Bus Suyang yang mengantarkan para enginner pulang, sudah biasa engineer berkumpul membahas apa saja sekedar untuk mengisi kekosongan, dan membunuh kejenuhan. Tidak jelas siapa yang memulai, hingga diskusi ringan berbelok membandingkan harga air minum.

“Kalau beli di BI mart berat dan sulit bawanya, beli aja di GS25 yang deket. Bedanya cuma 350 won kok”, seorang engineer mencoba meyakinkan temannya.

“Beda 350 won apa pak, saya kemarin beli di GS25 harganya 9000 won”. Kata engineer setengah agak sewot menyanggah penjelasan engineer sebelumnya. Beberapa orang yang kebetulan juga pernah beli air minum di GS25 serentak membantah,

“Ach masak, ....saya baru beli 2 minggu yang lalu harganya 3000 won kok !!!”, argumen yang juga didukung oleh rekan engineer lain yang juga membeli disitu.

Namun karena dia merasa membeli dengan 9000 won, maka “keukeuh” dia mengatakan bahwa harganya 9000 won. Bahkan dia ceritakan detail apa yang terjadi dan bagaimana dia membayar dikasir yang sempat ditolak karena uangnya kurang.

Mendengar ini, tidak terlalu jelas apakah niatnya benar-benar ingin menjelaskan rasionalitas harga air 9000 own ini, bahwa harga 9000 won itu wajar atau sekedar meledek.

“Ach...., mungkin merek nya beda pak, sehingga air merek yang sudah dibeli itu memang lebih mahal”, yang langsung dibantah dengan,

“Emang yang itu mereknya apa? Aku juga nggak apal merek apa yang aku beli kemarin, kayaknya sama deh”, dia masih perlu melanjutkan argumennya.

“Katakanlah beda merek, masuk akalkah harga air beda hampir 3 kali lipat?”, argumen yang tepat.

Diskusi ringan itu semakin berkembang karena semakin banyak yang ikut menimpali atau sekedar meledek.

“Kayaknya harga yang benar itu ya yang 9000 won itu. Itu air mineral yang asli buatan pabrik. Kalau yang 3000 won itu mungkin tidak asli, atau bahkan mungkin itu refill pak”, kalimat yang diucapkan sabil tersenyum. Dengan cepat dibantah,

“Halllaaaah,.... kaya di Indonesia aja.....”.

Diskusi menjadi hangat karena semua orang mencoba ikut masuk dalam topik pembicaraan air minum itu. Dengan meyakinkan, seorang enginer menyampaikan,

“Ach ya nggak mungkinlah harga air saja kok sampai segitu mahalnya, harga air yang wajar ya memang sekitar 3.000 an won itu Pak. Dimana mana di Korea juga segitu. Kalau sampek harga air kok 9000 won, .....jangan-jangan .........itu air aki pak”.

Tidak ada yang dapat membantah, tidak ada yang membenarkan atau menyalahkan penjelasan terakhir itu karena Bus Suyang sudah keburu datang. Cuma dalam hati barangkali berpikir,
“masak sich yang aku minum selama ini air aki?”.

“Aaach,.... ya nggak mungkiiiinnnn “.

Ucapnya dalam hati sambil terseyum sendiri.

Sacheon, 15 Oktober 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar