FATWA HARAM SAMBEL
PECEL (KYAI JAJAG BANYUWANGI)
Mati Ketawa Gaya Korea (2)
Puncak kebahagiaan seorang penari adalah ketika diundang
untuk menari disuatu acara resmi, puncak kebahagiaan seorang pendekar adalah
ketika datang perintah raja untuk menangkap perampok pengacau kerajaan, dan
puncak kebahagiaan prajurit sejati adalah ketika datang panggilan tugas negara untuk
berperang melawan musuh. Demikian pula barangkali pancaran kebahagiaan seorang
insinyur perancang pesawat terbang. Mata berbinar dan suara renyah yang pecah
setelah mendengarkan penjelasan dari KADIV Management Program tentang
“kepastian” keberangkatan penugasan mereka, apalagi uang saku yang akan
diterima juga sudah didefinitifkan. “Wah, sudah berani bayar DP Sienta nich”,
bisik seseorang yang duduk dari baris belakang.
Lengkap sudah info yang ditunggu.
Dengan pengumuman itu artinya hanya tersedia waktu yang
sangat terbatas untuk persiapan segala sesuatunya. Meskipun uang saku belum
diberikan tetapi seluruh perlengkapan dan perbekalan pribadi harus disiapkan
seawal mungkin demi kelancaran selama penugasan di Korea, agar jangan
mengecewakan, agar jangan sampai dirotasi sebelum jadwal.
Koper perlu dipilih yang cukup besar, baju hangat perlu
disiapkan untuk menyambut musim semi dan winter yang sangat dingin, mie instant
sebagai solusi cepat obat rindu tidak boleh sampai lupa, aneka bumbu dan lauk
juga perlu disiapkan sebanyak yang bisa dibawa. Tidak lupa sambel pecel dan
rendang harus disiapkan sebanyak yang bisa dibuat dan dibawa demi mencegah
munculnya penyakit rindu tanah air yang bisa bikin berabe.
Waktu terus berjalan dan agenda yang sudah direncanakan
harus dilaksanakan, yaitu Pembekalan Engineer oleh Mentri Pertahanan di gedung
Urip Sumohardjo Kemenhan Jakarta. Tanggal 3 Agustus 2016 dan jam sudah
mendekati pukul 14.00, untuk efektifitas waktu beberapa orang setelah makan
siang di PKSN malah sudah langsung standby dan tidak balik ke GPT. Ketika 2 Bus
yang akan mengangkut engineer sudah terlihat standby on position, pada pukul 13.15 wib tiba-tiba ada pesan muncul
di WA : “Rekan2 ysh, Mohon standby dulu
di tempat masing2. Ada perkembangan baru yang bisa berpengaruh untuk acara kita
besok. Mohon pengertian dan kesabarannya. Wassalam.”
Dalam kurun waktu sekitar setengah jam sesudahnya seakan
semua diam. Tidak ada pesan saling bersahut yang muncul di WA seperti biasanya.
Masing-masing engineer mencoba menterjemahkan makna dari pesan WA itu.
Pada pukul 13.44 melalui WA juga muncul lagi pesan definitif
bahwa agenda pembekalan di Kemhan tetep jalan sesuai rencana.
“Insya Alloh kita
berangkat ke Kemhan Jkt hari ini jam 15.00. Rekan2 kumpul didepan Jam 14.30.”
Sepertinya berita susulannya yang muncul sesudah itu yang nampaknya
makna dari pesan pertama yang sedari tadi dicoba diraba oleh para engineer.
“Keberangkatan ke
Korea hampir dipastikan mundur, karena proses VISA E-3 tidak bisa dipercepat.”
Jelas sudah, rencana berangkan tanggal 9 Agustus akan lewat,
dan engineer akan menyikapi dengan caranya masing-masing.
“Standby di warung
dulu deh ...”, komentar engineer senior air
combat system.
Ada juga yang tetep positif seperti, “Yg penting ke Jakartanya gak diundur kan?”
Namun ada juga yang mengkonfirmasi persiapan bekal, “Saya tadi pagi ambil rendang. Sudah terlanjur
dipesan.”
Disahut dengan ledekan, “Baju
putih, dasi hitam dan rendang bisa di reinburse kok mbak J”.
Bagi senior engineer ataupun engineer yang senior, berita
seperti ini tidak lagi mengejutkan, bahkan yang lebih dari itupun sudah biasa
didengar atau dialami. Mereka semua tangguh, tidak terlalu terpengaruh dengan keputusan
semacam ini. Karena, sudah sampai bandara tetapi disuruh balik karena penugasan
yang bersangkutan dibatalkan/ditunda karena alasan apapun sudah pernah terjadi
dan engineer menyikapinya dengan biasa biasa saja. Jadi, hanya ketika yang
bersangkutan sudah duduk di seat pesawatlah ukuran penugasan seseorang benar2
akan terjadi alias tidak ditunda atau dibatalkan.
Pembatalan ataupun penundaan penugasan dalam suatu intitusi
apapun dan dengan alasan apapun adalah hal biasa dan normal. Tetapi
implikasinya yang nampaknya bisa jadi sangat serius bagi engineer khususnya
urusan rendang dan sambel pecel.
Rendang dan
sambel pecel sungguh harum sedap aromanya, namun ketika aroma rendang dan sambel
pecel itu gagal ikut terbang sesuai jadwal maka urusan expired date nya bisa jadi masalah. Belum lagi volumenya yang sangat
mungkin tidak sedikit. Yang pasti harus dicari solusinya. Urusan rendang dan
sambel pecel ini sempat menjadi isu hot di beberapa pertemuan persiapan
KF-X/IF-X. Saran-saran pun muncul,
“dah, dibagi dikantor aja. Pasti habis
deh..”,
atau saran
lain, “tuk botram dikantor juga ok
kok...”.
Saran seperti
ini adalah baik dan wajar untuk agar menjadi “berkah” dan sekaligus mencegah
“dosa”, karena pengalaman serupa tetapi dalam kisah yang berbeda pernah terjadi
di Korea. Ketika dalam satu apartemen seseorang membawa sambel pecel yang cukup
banyak, karena dipakai untuk sendiri maka bisa dibayangkan sambel pecel itu
akan sangat lama habisnya. Namun, disisi lainya, tetangganya sesama engineer yang
kebetulan “seorang kyai” (hanya karena sering mendalilkan ayat) lebih sering
hanya mendengar cerita tentang betapa nikmatnya sambel pecel dan disertai godaan
harumnya sambel pecel yang menyelinap lewat celah pintu kamar apartemen. Cerita
yang terus berulang karena selagi sambel pecel itu masih ada maka cerita harum
aroma sambel pecel pun juga pasti masih akan terus terdengar. Untuk mencegah
“dosa” yang berlanjut maka dalam satu forum diskusi informal “sang kyai” menyampaikan
sebuah dalil tentang haramnya sambel pecel.
“sambel pecel itu terbuat dari bahan2
yang saya yakin halal, prosesnyapun saya yakin halal, dan hingga jadipun pasti
tidak akan terkontaminasi dengan bahan bahan yang dapat membuatnya menjadi
haram. Namun demikian........”, sesaat kyai Jajag menghela nafas, sementara yang lain menunggu, apa
yang akan diucapkan selanjutnya.
“Namun demikian, kalaulah seseorang
memiliki sambel pecel cukup banyak untuk ukuran dirinya sendiri, sementara tetangganya
hanya kebagian aromanya saja, maka sambel pecel yang halal itu akan bisa
berubah menjadi HARAM “, fatwa Kyai Jajag sambil tersenyum.
Semua yang
hadir hanya bisa tertawa tanpa mampu membantah dalil itu, sementara si empunya
sambel pecel hanya tersenyum yang mungkin sebagai tanda bahwa tergerak hatinya
untuk segera berbagi sambel pecelnya.
Berkaca pada
pengalaman itu maka perlu direnungkan oleh pemilik Rendang dan sambel pecel,
sebelum benar-benar expired. Sebab kalau kemudian terdengar berita bahwa
rendang dan sambel pecel itu akan expired maka patut diyakini bahwa akan keluar
“fatwa kyai Jajag” edisi Agustus 2016, “Adalah
“Haram” bagi siapa saja yang membiarkan rendang dan Sambel pecelnya expired, tanpa
sempat membagikannya, padahal teman-temannya sudah mengingatkannya.”
Sanggupkah
anda menanggungnya?
Bandung, 17 Agustus 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar