Jumat, 07 Oktober 2016

Fatwa Haram Sambel Pecel (Kyai Jajag Banyuwangi)


FATWA HARAM SAMBEL PECEL (KYAI JAJAG BANYUWANGI)

Mati Ketawa Gaya Korea (2)

Puncak kebahagiaan seorang penari adalah ketika diundang untuk menari disuatu acara resmi, puncak kebahagiaan seorang pendekar adalah ketika datang perintah raja untuk menangkap perampok pengacau kerajaan, dan puncak kebahagiaan prajurit sejati adalah ketika datang panggilan tugas negara untuk berperang melawan musuh. Demikian pula barangkali pancaran kebahagiaan seorang insinyur perancang pesawat terbang. Mata berbinar dan suara renyah yang pecah setelah mendengarkan penjelasan dari KADIV Management Program tentang “kepastian” keberangkatan penugasan mereka, apalagi uang saku yang akan diterima juga sudah didefinitifkan. “Wah, sudah berani bayar DP Sienta nich”, bisik seseorang yang duduk dari baris belakang.

Lengkap sudah info yang ditunggu.

Dengan pengumuman itu artinya hanya tersedia waktu yang sangat terbatas untuk persiapan segala sesuatunya. Meskipun uang saku belum diberikan tetapi seluruh perlengkapan dan perbekalan pribadi harus disiapkan seawal mungkin demi kelancaran selama penugasan di Korea, agar jangan mengecewakan, agar jangan sampai dirotasi sebelum jadwal.

Koper perlu dipilih yang cukup besar, baju hangat perlu disiapkan untuk menyambut musim semi dan winter yang sangat dingin, mie instant sebagai solusi cepat obat rindu tidak boleh sampai lupa, aneka bumbu dan lauk juga perlu disiapkan sebanyak yang bisa dibawa. Tidak lupa sambel pecel dan rendang harus disiapkan sebanyak yang bisa dibuat dan dibawa demi mencegah munculnya penyakit rindu tanah air yang bisa bikin berabe.

Waktu terus berjalan dan agenda yang sudah direncanakan harus dilaksanakan, yaitu Pembekalan Engineer oleh Mentri Pertahanan di gedung Urip Sumohardjo Kemenhan Jakarta. Tanggal 3 Agustus 2016 dan jam sudah mendekati pukul 14.00, untuk efektifitas waktu beberapa orang setelah makan siang di PKSN malah sudah langsung standby dan tidak balik ke GPT. Ketika 2 Bus yang akan mengangkut engineer sudah terlihat standby on position, pada pukul 13.15 wib tiba-tiba ada pesan muncul di WA : “Rekan2 ysh, Mohon standby dulu di tempat masing2. Ada perkembangan baru yang bisa berpengaruh untuk acara kita besok. Mohon pengertian dan kesabarannya. Wassalam.”

Dalam kurun waktu sekitar setengah jam sesudahnya seakan semua diam. Tidak ada pesan saling bersahut yang muncul di WA seperti biasanya. Masing-masing engineer mencoba menterjemahkan makna dari pesan WA itu.

Pada pukul 13.44 melalui WA juga muncul lagi pesan definitif bahwa agenda pembekalan di Kemhan tetep jalan sesuai rencana.

“Insya Alloh kita berangkat ke Kemhan Jkt hari ini jam 15.00. Rekan2 kumpul didepan Jam 14.30.”

Sepertinya berita susulannya yang muncul sesudah itu yang nampaknya makna dari pesan pertama yang sedari tadi dicoba diraba oleh para engineer.

“Keberangkatan ke Korea hampir dipastikan mundur, karena proses VISA E-3 tidak bisa dipercepat.”

Jelas sudah, rencana berangkan tanggal 9 Agustus akan lewat, dan engineer akan menyikapi dengan caranya masing-masing.

“Standby di warung dulu deh ...”, komentar engineer senior air combat system.

Ada juga yang tetep positif seperti, “Yg penting ke Jakartanya gak diundur kan?”

Namun ada juga yang mengkonfirmasi persiapan bekal, “Saya tadi pagi ambil rendang. Sudah terlanjur dipesan.”

Disahut dengan ledekan, “Baju putih, dasi hitam dan rendang bisa di reinburse kok mbak J”.

Bagi senior engineer ataupun engineer yang senior, berita seperti ini tidak lagi mengejutkan, bahkan yang lebih dari itupun sudah biasa didengar atau dialami. Mereka semua tangguh, tidak terlalu terpengaruh dengan keputusan semacam ini. Karena, sudah sampai bandara tetapi disuruh balik karena penugasan yang bersangkutan dibatalkan/ditunda karena alasan apapun sudah pernah terjadi dan engineer menyikapinya dengan biasa biasa saja. Jadi, hanya ketika yang bersangkutan sudah duduk di seat pesawatlah ukuran penugasan seseorang benar2 akan terjadi alias tidak ditunda atau dibatalkan.

Pembatalan ataupun penundaan penugasan dalam suatu intitusi apapun dan dengan alasan apapun adalah hal biasa dan normal. Tetapi implikasinya yang nampaknya bisa jadi sangat serius bagi engineer khususnya urusan rendang dan sambel pecel.

Rendang dan sambel pecel sungguh harum sedap aromanya, namun ketika aroma rendang dan sambel pecel itu gagal ikut terbang sesuai jadwal maka urusan expired date nya bisa jadi masalah. Belum lagi volumenya yang sangat mungkin tidak sedikit. Yang pasti harus dicari solusinya. Urusan rendang dan sambel pecel ini sempat menjadi isu hot di beberapa pertemuan persiapan KF-X/IF-X. Saran-saran pun muncul,

“dah, dibagi dikantor aja. Pasti habis deh..”,

atau saran lain, “tuk botram dikantor juga ok kok...”.

Saran seperti ini adalah baik dan wajar untuk agar menjadi “berkah” dan sekaligus mencegah “dosa”, karena pengalaman serupa tetapi dalam kisah yang berbeda pernah terjadi di Korea. Ketika dalam satu apartemen seseorang membawa sambel pecel yang cukup banyak, karena dipakai untuk sendiri maka bisa dibayangkan sambel pecel itu akan sangat lama habisnya. Namun, disisi lainya, tetangganya sesama engineer yang kebetulan “seorang kyai” (hanya karena sering mendalilkan ayat) lebih sering hanya mendengar cerita tentang betapa nikmatnya sambel pecel dan disertai godaan harumnya sambel pecel yang menyelinap lewat celah pintu kamar apartemen. Cerita yang terus berulang karena selagi sambel pecel itu masih ada maka cerita harum aroma sambel pecel pun juga pasti masih akan terus terdengar. Untuk mencegah “dosa” yang berlanjut maka dalam satu forum diskusi informal “sang kyai” menyampaikan sebuah dalil tentang haramnya sambel pecel.

“sambel pecel itu terbuat dari bahan2 yang saya yakin halal, prosesnyapun saya yakin halal, dan hingga jadipun pasti tidak akan terkontaminasi dengan bahan bahan yang dapat membuatnya menjadi haram. Namun demikian........”, sesaat kyai Jajag menghela nafas, sementara yang lain menunggu, apa yang akan diucapkan selanjutnya.

“Namun demikian, kalaulah seseorang memiliki sambel pecel cukup banyak untuk ukuran dirinya sendiri, sementara tetangganya hanya kebagian aromanya saja, maka sambel pecel yang halal itu akan bisa berubah menjadi HARAM “, fatwa Kyai Jajag sambil tersenyum.

Semua yang hadir hanya bisa tertawa tanpa mampu membantah dalil itu, sementara si empunya sambel pecel hanya tersenyum yang mungkin sebagai tanda bahwa tergerak hatinya untuk segera berbagi sambel pecelnya.

Berkaca pada pengalaman itu maka perlu direnungkan oleh pemilik Rendang dan sambel pecel, sebelum benar-benar expired. Sebab kalau kemudian terdengar berita bahwa rendang dan sambel pecel itu akan expired maka patut diyakini bahwa akan keluar “fatwa kyai Jajag” edisi Agustus 2016, “Adalah “Haram” bagi siapa saja yang membiarkan rendang dan Sambel pecelnya expired, tanpa sempat membagikannya, padahal teman-temannya sudah mengingatkannya.”

Sanggupkah anda menanggungnya?

Bandung, 17 Agustus 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar