Eforia Pulang 2
Mati Ketawa Gaya Korea 31
Tidak lebih dari
setengah jam sejak berangkat dari Eungubi-Ro 115Beonan-Gil, “Jong bu Cong Sa”
berhasil dicapai. Dengan sigap rombongan “pulanger” ini keluar dari mobil dan
langsung menurunkan bagasi masing-masing yang dibawa. Keren rasanya melihat
beberapa engineer melakukan perjalanan atas nama pulang sambil menyeret koper
besar dan kecil yang barangkali dapat dimaknai sebagai “keberhasilan
melaksanakan tugas”. Bahwa ada satu doctor engineer yang berbeda, maka itulah
fakta yang harus diterima. Disaat yang lain menyeret koper dengan jas casual
seperti eksektif keren yang akan melakukan perjalanan dinas, sementara bapak
doctor enginer dengan sweater berlapis jaket training semi parasit mesti
memanggul kardus coklat warna aslinya ukuran 50x60x50 centi meter kubik.
Kejadian ini mengingatkan memori seorang engineer yang berasal dari kota garam
akan masa mudanya yang sering mengamati kejadian serupa di bus AKAS jurusan
Banyuwangi-Madura. Bahwa yang muncul berikutnya adalah ledekan ledekan sebagai
bagian dan bumbu keakraban, maka hanya
berbuah tawa gembira bagi semuanya. “Tuch lihat pak, jangan jangan kardus
sampeyan itu nggak boleh dibawa karena Bus Limusin ini hanya boleh untuk Koper
aja”, atau “wah pak, kayaknya kardus sampeyan itu ntar diletakkan di bawah dan
kalau digencet pakai koper-koper besar itu, apa nggak hancur isinya!”, atau
“wah, pak..ntar kardus itu akan langsung dikirim ke Madura lho!”, sementara
bapak Doctor engineer si empunya kardus hanya senyum-senyum saja menerima
candaan teman-temannya. Atau kardus, dan isi kardus itu yang memasukkan seluruh
“barang antik” hasil buruan, tentu merupakan bagian dari eforia itu sendiri,
dan hanya sipemilik yang tahu.
Bus Airport
Limusin kali ini berisi penuh oleh penumpang, dan engineer Indonesia mendapat
tempat mengelompok di belakang. Sudah menjadi kebiasaan bagi orang Indonesia
barangkali yang dimanapun adanya, suasana begitu mudah dicairkan dengan obrolan
ringan dengan membicarakan apa saja.
Dalam tempo
sekitar 3 jam, perjalanan Daejeon-Incheon berhasil ditempuh dengan bus AIRPORT
LIMUSIN yang memang melayani jalur ini secara regular. Karena jadwal terbangnya
sebenarnya adalah pagi keesokan harinya, kecuali 1 orang yang memang terbang
malam itu, maka ke 7 orang ini mesti menginap di hotel GoGo yang sudah
dibooking. Beberapa orang memutuskan untuk menitipkan koper bawaannya ke tempat
penitipan barang di airport sekedar untuk efektifitas keesokan harinya saat
checkin, sementara sebagian lainnya tetap ingin membawanya ke hotel karena
merasa perlu untuk merekonfigurasi alias menata ulang barang barang bawaannya.
Karena banyak orang dan tempat penitipan barangnya sendiri mesti dicari maka
konsekuensinya mesti naik turun lantai dengan lift yang kapasitas angkutnya
tidak lebih dari 3 troli itu.
Incheon airport
terbilang airport yang baru, modern dan efektif. Calon penumpang dimanjakan
dengan berbagai sarana dan fasilitas yang sangat memadai, mulai wifi, checkin
counter yang nyaman dan mudah, sarana imigrasi yang cepat dan terpadu, dan
tersedia pula 2 monorel yang menghubungkan antara checkin dan boarding area.
Dari segi bangunan Incheon dibangun dengan konsep struktur rangkaian pipa
bulat, sehingga sehingga atap lengkung yang memiliki bentang tidak kurang dari
100 meter itu dapat berdiri tanpa satupun pilar penyangga ditengahnya.
Penampakan dan penonjolan struktur rangkaian pipa ini sekaligus memberikan
kesan estetik yang menarik dari konsep interior ruang besar. Sisi sisi dinding
ditutup dengan kaca-kaca bening tebal, dan untuk menambah manis dan estetisnya
maka untuk pengikat dinding kaca tebal ini maka digunakan baut-baut besar yang
ditutup dengan karet sehingga nampak seperti noktah-noktah bulat rapi berjejer
dalam jarak cukup jauh sekitar 2 hingga 3 meteran. Termasuk dinding-dinding
penutup sisi kanan dan kiri lift maupun pintu lift. Tombol pengendali lift
sendiri terpasang sebagai tiang pipa terpisah yang berada diantara dua lift
atau disisi kanan atau kiri pintu lift di dalam cabin.
Dalam proses
mencari tempat penitipan barang mau nggak mau harus naik dan turun lantai menggunakan
lift. Seperti umumnya lift maka pintunya di set untuk dapat menutup secara
secara otomatis, sehingga perlu lebih cepat untuk dapat keluar dari cabin lift
itu sebelum pintu menutup dengan sendirinya. Bila diperlukan pintu lift tetap
terbuka dalam tempo yang lebih lama maka cukup menekan tombol kendalinya baik
yang ada di dalam cabin ataupun yang di luar cabin. Dalam sekali angkut ada 2
atau 3 orang dengan 2 troly dalam lift maka untuk menjaga pintu lift tetap
terbuka maka maka salah seorang yang kebetulan berada di dekat pintu mesti
keluar duluan untuk mengontrol agar pintu lift tetap terbuka. Kebetulan
engineer senior ini tidak membawa beban troly sehingga dengan sadar dia
melompat keluar duluan untuk menekan tombol agar pintu tetap terbuka, agar seluruh
rekannya yang membawa troly dapat keluar dari cabin lift dengan leluasa. Segera
saja setelah melompat keluar sambil si engineer senior merapatkan badan ke
dinding luar sisi kiri depan lift. Dengan sigap jari tangannya segera menekan
tombol yang ada di dinding luar itu, sementara pintu lift masih tetap terbuka.
Sesaat dia merasakan keberhasilan atas usahanya menahan pintu lift agar tetap
terbuka. Namun sesaat kemudian sambil mengamati dinding sekeliling ada keraguan
tentang tombol yang dia tekan ini. Langsung saja bertanya kepada seorang
professor muda yang kebetulan baru saja mengeluarkan trolynya dari cabin lift
itu. “Pak, ini tombolnya kan?”. Dengan tanpa pikir panjang bapak professor muda
penghobi photo diri ini juga menjawab dengan jelas dan tegas “Ya!” sambil
berbaur dengan rekan engineer lainnya yang sudah ada ada di depan pintu lift
itu. Jawaban tegas professor muda ini menambah keyakinan si engineer senior
untuk menekan tombol itu lebih lama, meskipun sempat terlintas perasaan ragu
juga,
“bener kan, ini
tombolnya?”, pertanyaan yang diulang oleh engineer senior. Nampaknya pertanyaan
ini membuat professor muda itu ikut ragu juga, namun dia tidak segera menjawab,
“Iya ya, itu
tombol atau bukan ya?, ach tapi biarin aja toh akhirnya nanti keluar dari lift
juga”, mungkin itu alasan professor muda ini untuk tetap membiarkan pertanyaan
engineer senior ini. Belum sempat menjawab akhirnya rekannya yang ada di dalam
cabin lift keburu telah habis keluar. Dalam waktu yang berjalan akhirnya pintu
berpacu menutup diri berbarengan dengan laju troly terakhir yang keluar dari
cabin lift itu. Jari belum sempat dilepas, beberapa engineer lain yang
kebetulan melihat drama komedi singkat di depan pintu lift itu tak bisa menahan
tawa, karena bagaimana mungkin seorang engineer senior dan seorang professor
muda hingga tidak dapat membedakan mana tombol kendali lift dan mana baut
perekat dinding kaca airport Incheon. “Itu Baut Paakkk”, sela engineer lainnya
sambil menahan tawa.
Barangkali
memang eforia ini buah dari dampak hebat dan magisnya kata pulang yang sudah di
depan mata dan tinggal menunggu jam.
Bandung, 30 Nov
2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar