Jumat, 07 Oktober 2016

Eforia Pulang 2


Eforia Pulang 2

Mati Ketawa Gaya Korea 31

Tidak lebih dari setengah jam sejak berangkat dari Eungubi-Ro 115Beonan-Gil, “Jong bu Cong Sa” berhasil dicapai. Dengan sigap rombongan “pulanger” ini keluar dari mobil dan langsung menurunkan bagasi masing-masing yang dibawa. Keren rasanya melihat beberapa engineer melakukan perjalanan atas nama pulang sambil menyeret koper besar dan kecil yang barangkali dapat dimaknai sebagai “keberhasilan melaksanakan tugas”. Bahwa ada satu doctor engineer yang berbeda, maka itulah fakta yang harus diterima. Disaat yang lain menyeret koper dengan jas casual seperti eksektif keren yang akan melakukan perjalanan dinas, sementara bapak doctor enginer dengan sweater berlapis jaket training semi parasit mesti memanggul kardus coklat warna aslinya ukuran 50x60x50 centi meter kubik. Kejadian ini mengingatkan memori seorang engineer yang berasal dari kota garam akan masa mudanya yang sering mengamati kejadian serupa di bus AKAS jurusan Banyuwangi-Madura. Bahwa yang muncul berikutnya adalah ledekan ledekan sebagai bagian dan bumbu keakraban, maka hanya berbuah tawa gembira bagi semuanya. “Tuch lihat pak, jangan jangan kardus sampeyan itu nggak boleh dibawa karena Bus Limusin ini hanya boleh untuk Koper aja”, atau “wah pak, kayaknya kardus sampeyan itu ntar diletakkan di bawah dan kalau digencet pakai koper-koper besar itu, apa nggak hancur isinya!”, atau “wah, pak..ntar kardus itu akan langsung dikirim ke Madura lho!”, sementara bapak Doctor engineer si empunya kardus hanya senyum-senyum saja menerima candaan teman-temannya. Atau kardus, dan isi kardus itu yang memasukkan seluruh “barang antik” hasil buruan, tentu merupakan bagian dari eforia itu sendiri, dan hanya sipemilik yang tahu.

Bus Airport Limusin kali ini berisi penuh oleh penumpang, dan engineer Indonesia mendapat tempat mengelompok di belakang. Sudah menjadi kebiasaan bagi orang Indonesia barangkali yang dimanapun adanya, suasana begitu mudah dicairkan dengan obrolan ringan dengan membicarakan apa saja.

Dalam tempo sekitar 3 jam, perjalanan Daejeon-Incheon berhasil ditempuh dengan bus AIRPORT LIMUSIN yang memang melayani jalur ini secara regular. Karena jadwal terbangnya sebenarnya adalah pagi keesokan harinya, kecuali 1 orang yang memang terbang malam itu, maka ke 7 orang ini mesti menginap di hotel GoGo yang sudah dibooking. Beberapa orang memutuskan untuk menitipkan koper bawaannya ke tempat penitipan barang di airport sekedar untuk efektifitas keesokan harinya saat checkin, sementara sebagian lainnya tetap ingin membawanya ke hotel karena merasa perlu untuk merekonfigurasi alias menata ulang barang barang bawaannya. Karena banyak orang dan tempat penitipan barangnya sendiri mesti dicari maka konsekuensinya mesti naik turun lantai dengan lift yang kapasitas angkutnya tidak lebih dari 3 troli itu.

Incheon airport terbilang airport yang baru, modern dan efektif. Calon penumpang dimanjakan dengan berbagai sarana dan fasilitas yang sangat memadai, mulai wifi, checkin counter yang nyaman dan mudah, sarana imigrasi yang cepat dan terpadu, dan tersedia pula 2 monorel yang menghubungkan antara checkin dan boarding area. Dari segi bangunan Incheon dibangun dengan konsep struktur rangkaian pipa bulat, sehingga sehingga atap lengkung yang memiliki bentang tidak kurang dari 100 meter itu dapat berdiri tanpa satupun pilar penyangga ditengahnya. Penampakan dan penonjolan struktur rangkaian pipa ini sekaligus memberikan kesan estetik yang menarik dari konsep interior ruang besar. Sisi sisi dinding ditutup dengan kaca-kaca bening tebal, dan untuk menambah manis dan estetisnya maka untuk pengikat dinding kaca tebal ini maka digunakan baut-baut besar yang ditutup dengan karet sehingga nampak seperti noktah-noktah bulat rapi berjejer dalam jarak cukup jauh sekitar 2 hingga 3 meteran. Termasuk dinding-dinding penutup sisi kanan dan kiri lift maupun pintu lift. Tombol pengendali lift sendiri terpasang sebagai tiang pipa terpisah yang berada diantara dua lift atau disisi kanan atau kiri pintu lift di dalam cabin.

Dalam proses mencari tempat penitipan barang mau nggak mau harus naik dan turun lantai menggunakan lift. Seperti umumnya lift maka pintunya di set untuk dapat menutup secara secara otomatis, sehingga perlu lebih cepat untuk dapat keluar dari cabin lift itu sebelum pintu menutup dengan sendirinya. Bila diperlukan pintu lift tetap terbuka dalam tempo yang lebih lama maka cukup menekan tombol kendalinya baik yang ada di dalam cabin ataupun yang di luar cabin. Dalam sekali angkut ada 2 atau 3 orang dengan 2 troly dalam lift maka untuk menjaga pintu lift tetap terbuka maka maka salah seorang yang kebetulan berada di dekat pintu mesti keluar duluan untuk mengontrol agar pintu lift tetap terbuka. Kebetulan engineer senior ini tidak membawa beban troly sehingga dengan sadar dia melompat keluar duluan untuk menekan tombol agar pintu tetap terbuka, agar seluruh rekannya yang membawa troly dapat keluar dari cabin lift dengan leluasa. Segera saja setelah melompat keluar sambil si engineer senior merapatkan badan ke dinding luar sisi kiri depan lift. Dengan sigap jari tangannya segera menekan tombol yang ada di dinding luar itu, sementara pintu lift masih tetap terbuka. Sesaat dia merasakan keberhasilan atas usahanya menahan pintu lift agar tetap terbuka. Namun sesaat kemudian sambil mengamati dinding sekeliling ada keraguan tentang tombol yang dia tekan ini. Langsung saja bertanya kepada seorang professor muda yang kebetulan baru saja mengeluarkan trolynya dari cabin lift itu. “Pak, ini tombolnya kan?”. Dengan tanpa pikir panjang bapak professor muda penghobi photo diri ini juga menjawab dengan jelas dan tegas “Ya!” sambil berbaur dengan rekan engineer lainnya yang sudah ada ada di depan pintu lift itu. Jawaban tegas professor muda ini menambah keyakinan si engineer senior untuk menekan tombol itu lebih lama, meskipun sempat terlintas perasaan ragu juga,

“bener kan, ini tombolnya?”, pertanyaan yang diulang oleh engineer senior. Nampaknya pertanyaan ini membuat professor muda itu ikut ragu juga, namun dia tidak segera menjawab,

“Iya ya, itu tombol atau bukan ya?, ach tapi biarin aja toh akhirnya nanti keluar dari lift juga”, mungkin itu alasan professor muda ini untuk tetap membiarkan pertanyaan engineer senior ini. Belum sempat menjawab akhirnya rekannya yang ada di dalam cabin lift keburu telah habis keluar. Dalam waktu yang berjalan akhirnya pintu berpacu menutup diri berbarengan dengan laju troly terakhir yang keluar dari cabin lift itu. Jari belum sempat dilepas, beberapa engineer lain yang kebetulan melihat drama komedi singkat di depan pintu lift itu tak bisa menahan tawa, karena bagaimana mungkin seorang engineer senior dan seorang professor muda hingga tidak dapat membedakan mana tombol kendali lift dan mana baut perekat dinding kaca airport Incheon. “Itu Baut Paakkk”, sela engineer lainnya sambil menahan tawa.

Barangkali memang eforia ini buah dari dampak hebat dan magisnya kata pulang yang sudah di depan mata dan tinggal menunggu jam.

Bandung, 30 Nov 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar