Jumat, 07 Oktober 2016

Telur Korea kok rasanya agak kecut ya...


Telur Korea kok rasanya agak kecut ya...
Mati Ketawa Gaya Korea-1

M

enjalani tugas di negeri dengan kultur yang berbeda memang tidak segampang yang dibayangkan. Apalagi dinegeri yang masih setia menggunakan huruf-huruf tradisionalnya seperti Korea ini. Disamping itu kesetiaan rakyat Korea dalam menggunakan bahasanya juga masih sangat kuat sehingga mengajak berkomunikasi dengan bahasa Inggris menjadi hal yang sia sia, karena mereka akan ngerti. Seluruh info, nama jalan, nama toko, petunjuk di supermarket persis semua menggunakan huruf Hangul Korea. Belum sempat belajar, belum mengenal, belum tahu caranya bertanya tapi kehidupan tidak bisa ditunda hanya karena belum mengenal huruf maupun bahasanya. Singkat kata urusan makan harus ada solusi secepatnya.

Sedari awal juga diketahui bahwa Korea ini negeri yang mayorintas tidak beragama Islam, sehingga urusan halal haram menjadi perhatian bagi para engineer dari Indonesia ini. Oleh karena itu tidak berlebihan pilihan para engineer ini bila untuk sementara pilihan masak sendiri yang kehalalannya bisa dijamin. Tentu tidak salah pula bila mengagendakan program penghematan juga. Dengan masak sendiri maka uang saku yang bisa dihemat akan semakin banyak dan halalnya terjamin. Begitu logikanya.

Sungguh beruntung, disamping gedung tempat kerja ini berdiri megah Supermarket Besar, Lotte Mart yang menyediakan berbagai keperluan termasuk kebutuhan masak dan makan. Urusan makan tidak mengenal pendidikan, ataupun pangkat, semua perlu makan. Dasar otak engeneer, pantang gagal hanya karena urusan huruf Hangul. Kalaupun nggak tahu hurufnya masak nggak kenal barangnya. “Apa sich susahnya kalau cuma nyari minyak goreng dan telur?”. Itulah logika engineer baik yang dosen, tentara maupun insinyur. Pilihan minyak goreng dan telur adalah pilihan cerdas seorang engineer. Simple, mudah dan halal. Maka perburuan awalpun dilakukan. Masuk Lotte mart langsung menuju ke blok makanan khususnya telur. Ambil telur satu box isi 10 butir. “Ah gampang”. Selanjutnya tinggal cari minyak goreng.

Ada banyak pilihan minyak goreng baik volume, merk maupun harga. Kebiasaan engeener menghitung segala sesuatunya pun dipraktekkan dalam memilih minyak goreng ini. Sambil melihat salah satu merk, “ah ini yang bagus, bening, volume besar dan harganya jauh lebih murah dibanding merk yang lainnya”, analisis yang tepat. Beres urusan belanja. Pulang, masak nasi dan goreng telur maka kehidupan bisa dilanjutkan. Si engeener pun sambil senyum-senyum siap memasak. Masak nasi gampang dengan rice cooker. Tinggal masak telur ceplok, pengalaman pertama memasak di negeri gingseng.

Wajan dipanasi, telur disiapkan dan tuang minyak goreng secukupnya. Ketika menuang minyak goreng pertama ini si engineer agak kaget, sambil berpikir, “lho kok minyak goreng Korea agak encer ya? Tapi ah nggak apa-apa mungkin saja bahannya yang beda. Orang Korea kan peduli kesehatan, pasti ini minyak goreng yang lebih bagus dari yang ada di Indonesia karena encer, kolesterolnya lebih sedikit”, begitu pikirnya. Maka dia tidak pedulikan lagi keenceran minyak goreng tersebut. Namun keterkejutan berikutnya muncul juga, ketika wajan mulai panas, minyak goreng yang dituang tadi kok meledak ledak, hingga memercik kemana mana. Si engineer masih berpikir positif, ah mungkin apinya terlalu panas. Maka dia kurangi sedikit panas apinya. Tapi keterkejutan berikutnya muncul lagi. “Kok minyaknya cepet habis ya?” Tanpa pikir panjang ditambah lagi aja, toh murah. Dari pada minyak keburu habis lagi maka telurpun langsung diceplok dan dimasukkan ke dalam penggorengan yang masih banyak minyaknya. Lega rasanya. Tinggal nunggu sebentar akan langsung mateng. Dugaan si engineer benar, telur cukup mateng bersamaan dengan habisnya minyak goreng.

“OK time for dinner”, ucapnya dengan riang. Hari bahagia, hari pertama di Korea makan hasil karya sendiri. Keberhasilan yang perlu dirayakan. Nasi anget sudah siap, telur sudah mateng, tambah saos, wah mantab. Sendokan pertama coba dinikmati senikmat nikmatnya, karena ini karya besar.

Namun tanpa disadari keterkejutan besar sedang dimulai. Kepuasan berhasil memasak seakan hilang ketika merasakan telur yang telah dimasak kok rasanya asem alias kecut. Dia nggak habis pikir kenapa. Dia sudah merasa melewati seluruh proses memasak dengan benar. Dia masih berpikir positif, ah mungkin telur Korea emang begitu rasanya, kecut. Maka apapun rasanya dia lanjutkan makan hingga habis, meskipun rasa kecutnya makin menjadi-jadi.

Karena masih penasaran jangan-jangan emang telur yang dia pilih saat digoreng yang bermasalah maka dicoba lagi esok paginya untuk sarapan. Dia lakukan cara dan prosedur yang sama. Namun ternyata dia mendapatkan hasil yang sama, sambil menyimpulkan telur korea kecut.

Sambil agak kesal karena sarapan telur kecut, si engineer harus kekantor melanjutkan pekerjaan. Selama dikantor tentu dia masih penasaran antara percaya telur Korea rasanya kecut dengan keraguan cara masaknya. Maka keesokan harinya akhirnya terjadilah obrolan sesama engineer tentang pengalaman pertama masak di Korea. Tak lupa si engineer menceritakan pengalaman telur kecutnya. Beberapa teman terkejut setengah tidak percaya, “masak  iya telor kok kecut?”. Maka investigasipun dilakukan mulai dimana dia ambil telur dan merk apa minyak yang dia beli. Investigasi ini akhirnya memberikan titik terang kenapa telurnya rasanya kecut. Lote mart mengelompokkan minyak goreng, minyak zaitun, dan asam cuka (vinegar) pada rak yang berjejer berdampingan tanpa pembatas yang jelas. Semua petunjuk barang menggunakan bahasa korea. Termasuk nama atau merk barang. Nampaknya engineer kita ini memilih minyak goreng yang volumenya besar tetapi harganya murah, tapi dia nggak tahu bahwa yang dia ambil adalah asam cuka. Di jajaran rak itu minyak goreng dan asam cuka semua disajikan dalam warna kuning bening yang sama persis dengan warna minyak goreng.

Mendengar penjelasan hasil investigasi ini, si engineer hanya bisa tersenyum kecut, sekecut telur gorengnya yang kecut, sambil berpikir sebotol asam cuka yang sudah terlanjur dibeli, “bisa untuk apa ya?” ah dasar otak engineer

Daejeon, Mei 13 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar