Tas Kertas
Mati Ketawa gaya Korea 18
|
U
|
rusan makan
adalah hal mendasar karena masalah mempertahankan hidup, oleh karena itu selagi
dia masih hidup maka berbagai upaya untuk bisa makan akan menjadi prioritas
yang harus ada solusinya. Apalagi hidup di negeri asing dalam hitungan waktu
yang tidak singkat, belum lagi masalah budaya, masalah menu dan rasa ikut
menjadi variable penambah masalah. Dari segi budaya misalnya apakah di Korea
ini ada tradisi sarapan? Atau, kalaupun ada mungkin bentuk dan format yangg
berbeda. Membandingkan tradisi sarapan di Korea dan di tanah air sungguh sangat
berbeda.
Di Bandung
misalnya bangun tidur jalan kaki sebentar di perempatan jalan akan mudah
mencari Bubur ayam, atau kalau tinggal di perumahan akan berkeliling penjual
bubur ayam, lontong kare, atau apapun juga. Atau di jawa timur, nasi anget
dengan lauk tempe dan pecel sudah dapat disantap ketika mataharipun belum
sempat terbit. Begitu mudahnya. Sementara di
Korea?. Mencari restoran yang buka pagi pagi sekali saja begitu sulitnya.
Apalagi di bulan
puasa. Namun demikian, ternyata problem makan bagi beberapa orang di bulan
puasa ini telah menjadi berkah dan ladang amal bagi beberapa orang lainnya.
Betapa tidak, jangan heran bila nanti ada yang bisa masuk surga hanya karena
jasa mereka sebagai “Juru Gugah”, “Juru Masak” dan “Juru Nget”. Karena
jasanyalah akhirnya ada hamba Tuhan yang berhasil menjalankan ibadah puasanya
dengan baik.
Engineer Indonesia memang diciptakan Tuhan sebagai
manusia liat dan tangguh. Problem mendasar ini begitu mudah diselesaikan dengan
berbagai variasi solusi tergantung dari sikap masing masing orang. Bahkan untuk beberapa orang sudah benar benar
berhasil beradaptasi dengan kebiasaan dan tradisi setempat. Sebut saja misal
urusan Kimci. Bagi beberapa orang keberadaan kimci adalah pelengkap yang kalau
ada sukur dan kalau nggak ada ya nggak apa-apa. Namun kemampuan adaptasi yang
hebat dari sebagian orang ini sehingga baginya keberadaan kimci sudah meningkat
dari “mubah (ada boleh, nggak ada juga nggak masalah)” menjadi “sunah (kalau
ada serasa lebih baik)”. Maka tidak kaget bila yang bersangkutan harus membeli
kimci untuk pelengkap setiap makannya. Hebatnya lagi bahkan sudah tahu ini
kimci enak, ini kurang enak, atau kalau mau beli kimci yang enak dan murahpun
sudah tahu tempatnya. “Beli disana aja, harganya sama tapi isinya lebih
banyak!”, begitu komentarnya sambil menimang Kimci yang dipajang di Lotte Mart.
Bagi yang sudah kategori “sunah kimci” ini nampaknya perlu adapatasi lagi bila
dalam waktu dekat ketika harus pulang ke tanah air, sementara keberadaan kimci
sudah hampir masuk ke kategori “wajib”.
Sekali lagi, engineer Indonesia sangat tangguh dan liat, pasti ada
solusinya. Barangkali akan cukup diganti dengan asinan Bogor.
Acara makan siang, juga menjadi indikasi betapa
apapun kondisinya, masing-masing engineer memiliki solusi yang sangat
bervariasi. Kelompok pertama adalah yang paling praktis dan simple. Lotteria,
atau beberapa restoran tradisional lain di sekitar kantor. Barangkali sudah
tidak ada lagi restoran yang belum pernah dicoba. Ada beberapa restoran
tradisional dengan menu ikan hanya melayani untuk pengunjung minimal dua orang
(karena satu ikan dibelah jadi dua) maka mau nggak mau untuk makan di situ
harus berkongsi dengan teman lain yang memiliki citarasa yang sama. Dampak
positif dari hal ini adalah adanya kedekatan, keakraban atau kekompakan.
Suasana nyaman saat makan ini terbawa juga pada saat sore sepulang kerja.
Biasanya bergerombol sambil menunggu rekan lain untuk tujuan yang sama, makan
malam.
Namun demikian, ada saja engineer yang kebetulan
baru datang dan kebetulan belum terlalu kenal seluk beluk restoran tradisional
Korea macam ini. Datang ke restoran tradisional menu ikan sendirian. Untung saja si pelayan memaklumi ketidak tahuan dan
maklum juga karena tamunya sudah kelihatan lapar, maka dilayani juga dengan
catatan ,”오늘날 수도 있습니다. 다음은 2 명이어야합니다”. Si engineer mencoba meraba kata-kata yang tentu sangat asing tersebut.
Dengen kecerdasan dia bahasa aneh yang diucapkan
dengan dibarengi isyarat tangan tersebut dia artikan sebagai “sekarang boleh,
tapi lain kali harus dua orang ya…!”. Kira kira begitu. Tentu si engineer
senyum senyum saja tanda terima kasih, sambil dalam hati berkata “dari pada gua
kelaparan?”.
Ada pula
kelompok yang sebenarnya tidak bisa atau lebih tepatnya tidak suka memasak.
Mereka mungkin berpikir, “kalau ke lotteria atau kimci terus tiap hari ya bosen
juga?”. Maka solusi kelompok ini kadang makan di rumah dan kadang ke Loteria.
Karena dasarnya emang nggak suka masak maka menu telor ceplok sudah terasa
menjadi menu sangat istimewa.
Kelompok
berikutnya adalah yang setia dengan citarasa tanah air. Kelompok ini memilih
cara masak sendiri, atau beberapa menyebutnya sebagai “home industry”. Berbekal bumbu bumbu yang sengaja dibawa dari
tanah air maka tentu citarasa tanah air
pulalah yang dihasilkan. Tinggal bahan bahan lainnya yang mesti dicari di pasar
Daejeon. Oleh karena itu tidak aneh kalau sesampai di kantor ada cerita yang
habis masak gule, pecel, lodeh, bothok daun brambang, oseng-oseng, chap chai,
sop, dll, dll yang kesemuanya adalah warna dan rasa Indonesia. Konsekuensi dari
masak sendiri ini maka hari Sabtu menjadi hari blanja blanji yang seru seperti
ibu-ibu. Berbekal tas punggung, atau tas tenteng yang disiapkan sebagai
cadangan maka para engineer perancang pesawat tempur canggih generasi 4.5
dengan dikawal mayor, letkol dan kadang kolonel harus berburu sayur mayur di
pasar Daejeon. Hampir semua kebutuhan dasar memasak dapat dicari di pasar ini
misal, wortel, kubis, jamur, brokoli, sosin, cabe merah, bawang putih, bawang
bombai, kecambah, daun bawang, terong, paprika, tempe, bakso, sosis, daging
ayam, daging kambing ataupun daging sapi, dll.
Setelah diamati cara berbelanja ini memang menggambarkan karakteristik
tiap tiap orang. Demikian juga karakteristik rekan kita yang satu ini. Rekan
kita ini berpenampilan sangat kalem, rambut selalu klimis belah samping model
tahun 80 an, baju dan celana selalu terseterika dengan lipatan yang sangat
licin. Begitu elegan. Belanja ke pasar sayur sepertinya sulit menghilangkan
penampilan ini. Hari itu sepertinya acara makan menu istimewanya. Dia belanja
daging ayam beku, sosis beku, sepotong tempe dan lain lain. Lumayan banyak dan
agak berat sepertinya. Demi penampilan maka bukan tas punggung yang
digunakannya tetapi tas besar berbahan kertas yang dipakainya yang entah dari
mana diperolehnya. Sebagai teman senasib diperantauan maka teman temannya yang
baik hati tentu megingatkan sambil menawarkan, “Mas, apa nggak jebol dengan tas
kertas macam itu, nich pakai tas kresek ini lho, biar lebih kuat!”. Nampaknya
rekan kita ini tetap teguh pada pilihannya.
Acara belanja selesai, semua berjalan menuju stasiun subway Daejeon. Bagi
yang membawa tas punggung , tidak aneh bila padanya kadang menyembul pucuk
pucuk daun bawang sehingga berhasil merasang para paparazzi untuk merekamnya
melalui jepretan mautnya. Sementara kawan kita tadi, dengan elegan dia
menenteng Tas Kertas besar berisi seluruh belanjaannya. Emang indah, tidak
terlihat sama sekali bahwa dia baru saja lepas dari kawasan sayur mayur dengan
aroma campur aduk yang tentu tidak sewangi Lotte market. Dan memang, citarasa
tas kertas ini berhasil mengelabuhi siapapun yang melihat.
Kereta hari itu cukup penuh namun dengan menunggu tidak terlalu lama ada
tempat duduk yang dapat ditempati, sementara tas kertas yang menopang seluruh
isinya ikut tergeletak dilantai. Suasana nyaman dan perasaan capek sering kali
merangsang mata untuk terpejam hingga tertidur beberapa saat sampai nanti
dibangunkan lagi ketika stasiun Jijok tiba. Tanpa disadari, selama perjalanan
ini beban yang ada di dalam tas Kertas ini tidak ikut istirahat. Paling tidak
ayam beku ini terus beraksi sendiri menjalani sunahnya sebagai air beku. Panas
yang dihasilkan oleh seluruh penumpang kereta memaksa es yang menempel pada
pembungkus ayam ini mencair, dan cairan ini melumat kertas yang ditetesinya.
Kereta telah tiba di stasiun Jijok, dengan sigap seorang rekan
membangunkan rekan lainya yang kebetulan masih tertidur. Tidak lupa kita rekan
pembawa tas kertas ini. Barangkali perasaan capeknya yang membawanya pada tidur
yang pulas diperjalanan. Pintu telah terbuka, dengan tergagap gagap karena
mendadak dibangunkan maka dia sambar tas kertas belanjaannya. Beban berat,
sentakan dan kertas yang mulai rapuh akhirnya ambrol. “Grobyak…!!!” Semua
belanjaan yang ada di dalamnya jatuh berantakan. Ayam, tempe, dan entah apa
lagi jatuh bertebaran di lantai. Kepanikan kecil terjadi karena sebagian telah
lewat keluar pintu kereta sementara pintu itu pasti akan segera menuntup lagi
karena sudah cukup lama terbuka. Sementara teman yang kebetulan masih di dalam
juga hanya tertegun sesaat seperti nggak punya ide harus berbuat apa, padahal
pintu segera menutup. Nampaknya kebekuan teman-temannya saat itu akibat
pengaruh ketenangan si pemilik barang. Meskipan barangnya berantakan di lantai,
meskipun pintu segera menutup, dia tidak ikut panik. “Habis gimana lagi?”
mungkin tiu yangterpikir. Untung saja, dimasa enjuri time semua rekan
terdekatnya seperti tersadar dari sihir. Tanpa diperintah, dengan serentak
semua yang tercecer berantakan diambil sekenanya, dan langsung lompat keluar
pintu. “Dari pada mesti terbawa ke Banseok dulu yang hanya akan buang waktu dan
tenaga”, mungkin begitu pikir teman teman nya itu.
Satu hal yang tidak disadari adalah ternyata kejadian itu diamati oleh
seorang nenek yang kebetulan duduk di dekat tempat kejadian perkara. Ternyata
ceceran belanjaan dapur dan kepanikan dari para pemuda gagah perkasa itu telah
menggelitik syaraf tawanya. Melalui jendela terlihat jelas bagaimana nenek itu
tertawa terpingkal pingkal sambil menutup bibirnya.
Itulah hebatnya orang Indonesia, dengan hal yang sepele saja telah
berhasil membuat tawa orang Korea, tidak harus dengan soju, meskipun cuma
seorang nenek-nenek.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar