Jumat, 07 Oktober 2016

Tas Kertas


Tas Kertas
Mati Ketawa gaya Korea 18

U

rusan makan adalah hal mendasar karena masalah mempertahankan hidup, oleh karena itu selagi dia masih hidup maka berbagai upaya untuk bisa makan akan menjadi prioritas yang harus ada solusinya. Apalagi hidup di negeri asing dalam hitungan waktu yang tidak singkat, belum lagi masalah budaya, masalah menu dan rasa ikut menjadi variable penambah masalah. Dari segi budaya misalnya apakah di Korea ini ada tradisi sarapan? Atau, kalaupun ada mungkin bentuk dan format yangg berbeda. Membandingkan tradisi sarapan di Korea dan di tanah air sungguh sangat berbeda.

Di Bandung misalnya bangun tidur jalan kaki sebentar di perempatan jalan akan mudah mencari Bubur ayam, atau kalau tinggal di perumahan akan berkeliling penjual bubur ayam, lontong kare, atau apapun juga. Atau di jawa timur, nasi anget dengan lauk tempe dan pecel sudah dapat disantap ketika mataharipun belum sempat terbit. Begitu mudahnya. Sementara di  Korea?. Mencari restoran yang buka pagi pagi sekali saja begitu sulitnya.

Apalagi di bulan puasa. Namun demikian, ternyata problem makan bagi beberapa orang di bulan puasa ini telah menjadi berkah dan ladang amal bagi beberapa orang lainnya. Betapa tidak, jangan heran bila nanti ada yang bisa masuk surga hanya karena jasa mereka sebagai “Juru Gugah”, “Juru Masak” dan “Juru Nget”. Karena jasanyalah akhirnya ada hamba Tuhan yang berhasil menjalankan ibadah puasanya dengan baik.

Engineer Indonesia memang diciptakan Tuhan sebagai manusia liat dan tangguh. Problem mendasar ini begitu mudah diselesaikan dengan berbagai variasi solusi tergantung dari sikap masing masing orang.  Bahkan untuk beberapa orang sudah benar benar berhasil beradaptasi dengan kebiasaan dan tradisi setempat. Sebut saja misal urusan Kimci. Bagi beberapa orang keberadaan kimci adalah pelengkap yang kalau ada sukur dan kalau nggak ada ya nggak apa-apa. Namun kemampuan adaptasi yang hebat dari sebagian orang ini sehingga baginya keberadaan kimci sudah meningkat dari “mubah (ada boleh, nggak ada juga nggak masalah)” menjadi “sunah (kalau ada serasa lebih baik)”. Maka tidak kaget bila yang bersangkutan harus membeli kimci untuk pelengkap setiap makannya. Hebatnya lagi bahkan sudah tahu ini kimci enak, ini kurang enak, atau kalau mau beli kimci yang enak dan murahpun sudah tahu tempatnya. “Beli disana aja, harganya sama tapi isinya lebih banyak!”, begitu komentarnya sambil menimang Kimci yang dipajang di Lotte Mart. Bagi yang sudah kategori “sunah kimci” ini nampaknya perlu adapatasi lagi bila dalam waktu dekat ketika harus pulang ke tanah air, sementara keberadaan kimci sudah hampir masuk ke kategori “wajib”.  Sekali lagi, engineer Indonesia sangat tangguh dan liat, pasti ada solusinya. Barangkali akan cukup diganti dengan asinan Bogor.

Acara makan siang, juga menjadi indikasi betapa apapun kondisinya, masing-masing engineer memiliki solusi yang sangat bervariasi. Kelompok pertama adalah yang paling praktis dan simple. Lotteria, atau beberapa restoran tradisional lain di sekitar kantor. Barangkali sudah tidak ada lagi restoran yang belum pernah dicoba. Ada beberapa restoran tradisional dengan menu ikan hanya melayani untuk pengunjung minimal dua orang (karena satu ikan dibelah jadi dua) maka mau nggak mau untuk makan di situ harus berkongsi dengan teman lain yang memiliki citarasa yang sama. Dampak positif dari hal ini adalah adanya kedekatan, keakraban atau kekompakan. Suasana nyaman saat makan ini terbawa juga pada saat sore sepulang kerja. Biasanya bergerombol sambil menunggu rekan lain untuk tujuan yang sama, makan malam.

Namun demikian, ada saja engineer yang kebetulan baru datang dan kebetulan belum terlalu kenal seluk beluk restoran tradisional Korea macam ini. Datang ke restoran tradisional menu ikan sendirian. Untung saja si pelayan memaklumi ketidak tahuan dan maklum juga karena tamunya sudah kelihatan lapar, maka dilayani juga dengan catatan ,”오늘날 수도 있습니다. 다음은 2 명이어야합니다”. Si engineer mencoba meraba kata-kata yang tentu sangat asing tersebut. Dengen kecerdasan dia bahasa aneh yang diucapkan dengan dibarengi isyarat tangan tersebut dia artikan sebagai “sekarang boleh, tapi lain kali harus dua orang ya…!”. Kira kira begitu. Tentu si engineer senyum senyum saja tanda terima kasih, sambil dalam hati berkata “dari pada gua kelaparan?”.

Ada pula kelompok yang sebenarnya tidak bisa atau lebih tepatnya tidak suka memasak. Mereka mungkin berpikir, “kalau ke lotteria atau kimci terus tiap hari ya bosen juga?”. Maka solusi kelompok ini kadang makan di rumah dan kadang ke Loteria. Karena dasarnya emang nggak suka masak maka menu telor ceplok sudah terasa menjadi menu sangat istimewa.

Kelompok berikutnya adalah yang setia dengan citarasa tanah air. Kelompok ini memilih cara masak sendiri, atau beberapa menyebutnya sebagai “home industry”.  Berbekal bumbu bumbu yang sengaja dibawa dari tanah air maka tentu citarasa tanah air pulalah yang dihasilkan. Tinggal bahan bahan lainnya yang mesti dicari di pasar Daejeon. Oleh karena itu tidak aneh kalau sesampai di kantor ada cerita yang habis masak gule, pecel, lodeh, bothok daun brambang, oseng-oseng, chap chai, sop, dll, dll yang kesemuanya adalah warna dan rasa Indonesia. Konsekuensi dari masak sendiri ini maka hari Sabtu menjadi hari blanja blanji yang seru seperti ibu-ibu. Berbekal tas punggung, atau tas tenteng yang disiapkan sebagai cadangan maka para engineer perancang pesawat tempur canggih generasi 4.5 dengan dikawal mayor, letkol dan kadang kolonel harus berburu sayur mayur di pasar Daejeon. Hampir semua kebutuhan dasar memasak dapat dicari di pasar ini misal, wortel, kubis, jamur, brokoli, sosin, cabe merah, bawang putih, bawang bombai, kecambah, daun bawang, terong, paprika, tempe, bakso, sosis, daging ayam, daging kambing ataupun daging sapi, dll.

Setelah diamati cara berbelanja ini memang menggambarkan karakteristik tiap tiap orang. Demikian juga karakteristik rekan kita yang satu ini. Rekan kita ini berpenampilan sangat kalem, rambut selalu klimis belah samping model tahun 80 an, baju dan celana selalu terseterika dengan lipatan yang sangat licin. Begitu elegan. Belanja ke pasar sayur sepertinya sulit menghilangkan penampilan ini. Hari itu sepertinya acara makan menu istimewanya. Dia belanja daging ayam beku, sosis beku, sepotong tempe dan lain lain. Lumayan banyak dan agak berat sepertinya. Demi penampilan maka bukan tas punggung yang digunakannya tetapi tas besar berbahan kertas yang dipakainya yang entah dari mana diperolehnya. Sebagai teman senasib diperantauan maka teman temannya yang baik hati tentu megingatkan sambil menawarkan, “Mas, apa nggak jebol dengan tas kertas macam itu, nich pakai tas kresek ini lho, biar lebih kuat!”. Nampaknya rekan kita ini tetap teguh pada pilihannya.

Acara belanja selesai, semua berjalan menuju stasiun subway Daejeon. Bagi yang membawa tas punggung , tidak aneh bila padanya kadang menyembul pucuk pucuk daun bawang sehingga berhasil merasang para paparazzi untuk merekamnya melalui jepretan mautnya. Sementara kawan kita tadi, dengan elegan dia menenteng Tas Kertas besar berisi seluruh belanjaannya. Emang indah, tidak terlihat sama sekali bahwa dia baru saja lepas dari kawasan sayur mayur dengan aroma campur aduk yang tentu tidak sewangi Lotte market. Dan memang, citarasa tas kertas ini berhasil mengelabuhi siapapun yang melihat.

Kereta hari itu cukup penuh namun dengan menunggu tidak terlalu lama ada tempat duduk yang dapat ditempati, sementara tas kertas yang menopang seluruh isinya ikut tergeletak dilantai. Suasana nyaman dan perasaan capek sering kali merangsang mata untuk terpejam hingga tertidur beberapa saat sampai nanti dibangunkan lagi ketika stasiun Jijok tiba. Tanpa disadari, selama perjalanan ini beban yang ada di dalam tas Kertas ini tidak ikut istirahat. Paling tidak ayam beku ini terus beraksi sendiri menjalani sunahnya sebagai air beku. Panas yang dihasilkan oleh seluruh penumpang kereta memaksa es yang menempel pada pembungkus ayam ini mencair, dan cairan ini melumat kertas yang ditetesinya.

Kereta telah tiba di stasiun Jijok, dengan sigap seorang rekan membangunkan rekan lainya yang kebetulan masih tertidur. Tidak lupa kita rekan pembawa tas kertas ini. Barangkali perasaan capeknya yang membawanya pada tidur yang pulas diperjalanan. Pintu telah terbuka, dengan tergagap gagap karena mendadak dibangunkan maka dia sambar tas kertas belanjaannya. Beban berat, sentakan dan kertas yang mulai rapuh akhirnya ambrol. “Grobyak…!!!” Semua belanjaan yang ada di dalamnya jatuh berantakan. Ayam, tempe, dan entah apa lagi jatuh bertebaran di lantai. Kepanikan kecil terjadi karena sebagian telah lewat keluar pintu kereta sementara pintu itu pasti akan segera menuntup lagi karena sudah cukup lama terbuka. Sementara teman yang kebetulan masih di dalam juga hanya tertegun sesaat seperti nggak punya ide harus berbuat apa, padahal pintu segera menutup. Nampaknya kebekuan teman-temannya saat itu akibat pengaruh ketenangan si pemilik barang. Meskipan barangnya berantakan di lantai, meskipun pintu segera menutup, dia tidak ikut panik. “Habis gimana lagi?” mungkin tiu yangterpikir. Untung saja, dimasa enjuri time semua rekan terdekatnya seperti tersadar dari sihir. Tanpa diperintah, dengan serentak semua yang tercecer berantakan diambil sekenanya, dan langsung lompat keluar pintu. “Dari pada mesti terbawa ke Banseok dulu yang hanya akan buang waktu dan tenaga”, mungkin begitu pikir teman teman nya itu.

Satu hal yang tidak disadari adalah ternyata kejadian itu diamati oleh seorang nenek yang kebetulan duduk di dekat tempat kejadian perkara. Ternyata ceceran belanjaan dapur dan kepanikan dari para pemuda gagah perkasa itu telah menggelitik syaraf tawanya. Melalui jendela terlihat jelas bagaimana nenek itu tertawa terpingkal pingkal sambil menutup bibirnya.

Itulah hebatnya orang Indonesia, dengan hal yang sepele saja telah berhasil membuat tawa orang Korea, tidak harus dengan soju, meskipun cuma seorang nenek-nenek.

 Daejeon, Oktober 21 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar