Jumat, 07 Oktober 2016

Eforia Pulang 5


Eforia Pulang 5

Mati Ketawa Gaya Korea 34

Pengalaman 17 bulan di Korea sungguh memberikan kenangan yang sulit dilupakan. Kombinasi kesibukan melaksanakan tugas mulai Senin sampai dengan Jum’at, berbelanja di pasar tradisional di hari Sabtu seperti ibu-ibu, atau bertualang dari gunung ke gunung, dari kota ke kota di hari Minggu sungguh meninggalkan berkas kenangan yang mungkin tidak akan pernah hilang. Berinteraksi dengan sesama engineer, doktor engineer, mayor engineer, letkol engineer hingga, kolonel engineer baik yang dari Indonesia maupun Korea menjadikan kehidupan yang lengkap penuh warna.

Dengan lamanya waktu penugasan memungkinkan setiap orang berusaha menyimpan memorinya lewat koleksi barang-barang yang menarik untuk disimpan yang bisa jadi masing-masing orang memiliki interest yang berbeda. Apapun yang menjadi interestnya maka tujuan akhir dari barang barang tersebut adalah untuk dibawa pulang ke Indonesia. Apakah hanya untuk di pajang di ruang tamu, dipakai sendiri sehari-hari, atau dibagikan ke sanak saudara sebagai oleh-oleh, itu akan sepenuhnya menjadi hak prerogative dari masing-masing orang. Oleh karena itu tidaklah mengherankan meskipun di Korea hidup sebagai “bujangan” alias tanpa keluarga tetapi memiliki barang yang cukup banyak sehingga sedikit memerlukan perhatian khusus dalam membawanya ke Indonesia, dan itu menjadi kenyataan yang ada di tengah hiruk pikuk persiapan pulang ke Indonesia.

Ada yang dapat dikatakan sangat jarang berbelanja atau berburu “barang antik” di hari Sabtu karena dia lebih tertarik untuk merekam obyek obyek tertentu lewat jepretan maut kameranya, tetapi barang yang harus dibawa pulang hampir melebihi milik engineer lainnya pada umumnya. “Itu souvenir semua Mas “, dalihnya.

Secara umum barang-barang milik para engineer ini kalau harus dimasukkan ke dalam koper ukuran sedang maka masing-masing orang akan memerlukan paling tidak 6 sampai 7 koper, padahal “awalnya” dulu saat datang cuma bawa 1 koper. Itupun setelah beberapa barang yang dianggap tidak relevan sudah di iklaskan untuk dihibahkan atau dibuang. Beruntung ada fasilitas Korean Pos Office yang memungkinkan untuk membereskan urusan pengiriman barang ini apalagi karton berbagai ukuran mulai dari yang kecil hingga yang besar berikut lakban juga disediakan dengan harga yang relatif murah, 1600 Won untuk karton ukuran terbesar. Dengan fasilitas pos ini paling tidak engineer dapat mengurangi bebannya yang harus dibawa sendiri saat terbang. Ada paling tidak sekitar 3 atau 4 karton barang yang dikirim oleh tiap engineer. Begitu banyaknya engineer Indonesia yang harus mengirimkan barang lewat pos hingga suasana di kantor Pos dalam beberapa hari itu seperti berubah menjadi Kantor Pos rasa Indonesia, karena tawa dan celoteh khas orang Indonesia.

Setelah sebagian barang dikirim lewat pos maka yang tersisa harus dioptimasi untuk masuk ke dalam koper yang nanti akan dijinjing untuk dibawa bersama saat terbang pulang. Meskipun sudah dikurangi 3 atau 4 karton, tetap saja barang yang tersisa masih cukup banyak. Memerlukan ketrampilan khusus agar seluruh barang “penting” yang tersisa dapat masuk ke dalam Koper besar, koper kabin, dan tas pungung dengan batasan maximum baggage weight yang diijinkan. Aturan maximum baggage weight ini sangat jelas, apalagi sebagai engineer perancang pesawat terbang maka pasti para engineer sangat paham artinya over weight. Menyadari batasan berat ini maka proses pengepakan barang hampir pasti terjadi seperti bermain bongkar pasang untuk mendapatkan konfigurasi optimum. Begitu selesai ditata kemudian ditimbang dan timbangan menunjukkan angka yang masih jauh dari batasan maksimalnya maka yang terjadi adalah siklus bongkar pasang periode berikutnya yang bisa jadi berulang-ulang. Belum lagi suvenier-suvenier yang tidak terlalu berat tetapi memerlukan ruang yang besar itu. “Dimasukkan koper bagasi hanya menghabiskan ruang, mau masuk kabin terlalu besar, mau dikirim pakai Pos tapi sampainya kelamaan hingga mengurangi lengkapnya rasa bahagia saat ketemu keluarga”. Barang apa dan harus dimasukkan ke koper yang mana menjadi dasar pertimbangan yang berulang ulang menuntut untuk diperhatikan. Akumulasi dari semua itu adalah koper bagasi yang seperti hamil 6 bulan, koper kabin dipress padat agar volumenya tidak mencolok, dan tas punggung yang mestinya dialokasikan untuk laptop dipaksa menerima beban tambahan demi terangkutnya semua barang dalam sekali angkut, dengan tanpa ongkos tambahan lagi.

Perjalanan pulang rombongan tanggal 26 menyisakan catatan tersendiri. Melihat salah seorang engineer menggendong tas punggung yang sudah diextend hingga menggelembung seperti “hamil 9 bulan dengan isi bayi kembar 4”, merangsang rasa kasihannya hingga menyarankannya untuk memindahkan barangnya ke dalam bagasi atau mengirimkannya lewat pos yang tentu akan jauh lebih murah dibanding resikonya meskipun mungkin akan memerlukan sedikit lebih lama waktunya. Tidak terlalu jelas kenapa dia memaksakan membawanya dengan memasukkan ke tas punggung hingga over size seperti itu. Apakah koper bagasinya terlalu kecil, atau tas bagasinya sudah over weight, tidak ada yang tahu. Yang pasti, sepertinya saran itu tidak terlalu diperhatikan karena mungkin isinya sangat “penting” dan harus segera sampai di tanah air bersamanya, apalagi beberapa temannya sudah pernah mengalami situasi seperti itu dan urusannya lancar-lancar saja.

Ketika tiba gilirannya untuk checkin, koper bagasi langsung didaftarkan dan ditimbang. Meskipun beratnya sudah sedikit diatas limit weightnya namun petugas tidak mempermasalahkannya karena sepertinya ada margin weight tertentu yang memang disediakan untuk calon penumpang yang sedikit kelebihan berat. Seperti biasanya, petugas checkin juga akan menanyakan,”apakah ada barang lainnya yang akan dicheckin kan?”. Ada sedikit keraguan untuk menjawab pertanyaan itu. “Kalau saya jawab ya, artinya tas punggung atau tas kabin harus saya checkin kan ke dalam bagasi. Padahal berat bagasiku sebelumnya sudah melebihi batasnya. Wah berapa aku harus bayar untuk kelebihan beratnya yang sangat jelas ini?”. Dengan sedikit ragu akhirnya pertanyaan inipun dijawab juga,”tidak ada”, padahal jelas dia masih membawa tas punggung yang menggelembung itu dan belum lagi tas koper kabin. Dengan selesainya urusan bagasi maka petugas segera memberikan boarding pass, dan itu menjadi akhir proses checkin di counter SQ yang terjadi pagi itu. “Beres !”, ada perasaan lega ketika proses checkin berjalan lancar.

Setelah seluruh rekannya juga telah menyelesaikan proses checkinnya maka segera saja mereka menuju gerbang masuk yang dijaga oleh petugas imigrasi. Dengan antrian yang teratur rapi, satu per satu calon penumpang di amati dan dicocokan antara data yang di passport dengan data fisiknya. Tidak terlalu lama proses itu dan calon penumpang itu dipersilakan masuk sebagai tanda bahwa data yang di passport cocok dengan data fisiknya. Proses itu terjadi kepada setiap penumpang yang akan masuk. Tidak terkecuali engineer kita ini. Dengan tas punggung menggelembung, memang sangat sulit untuk membantah bahwa tas punggung itu tidak berat, apalagi bahasa tubuh saat membawa beban itu sungguh sulit untuk mengelabuhi bahwa yang dia bawa tidak berat. Dari bahasa tubuh dan pengamatan visual, petugas imigrasi di gerbang masuk itu segera saja memanggil engineer kita dan meminta untuk menimbang berat tas punggungnya yang memang menggelembung gemuk itu. Benar saja ternyata berat beban tas punggung itu adalah 17 kg, padahal batasan barang yang diijinkan masuk ke kabin adalah 1 unit dengan berat maksimum 7 kg dan dimensi ukuran tertentu. Melihat kenyataan ini maka tak ada lagi alasan untuk dapat menolak atau membantah karena kenyataannya memang pelanggaran. Secara tegas petugas imigrasi mempersilakan engineer kita untuk kembali ke checkin counter SQ dan meminta agar tas punggung beserta isinya dimasukkan ke dalam bagasi saja. Tidak terlalu lama proses baggage checkin di counter SQ, meskipun harus bernegosiasi, kenyataannya dia harus membayar 220 ribu won dan kali ini dia benar benar nggak bisa menolak. Barangkali memang isinya adalah barang barang yang sedemikian pentingnya. Setelah tas punggung akhirnya dipaksa masuk ke bagasi, memang langkah terasa sangat ringan karena beban 17 kg telah berpindah. Namun agak sulit untuk membantah bahwa ternyata beban berat itu tidak hanya berpindah ke bagasi tetapi juga di hati sehingga senyumpun juga terasa agak berat. Maklum senyum kali ini seberat 17 kg atau senilai 220 ribu Won alias 1.98 Juta rupiah.

Serupa tapi berbeda nasib terjadi di rombongan tanggal 30 November. Kali ini koper bagasi seberat 26.5 kg berhasil checkin dengan lancar, sementara di tangan masih ada tas punggung seberat 11 kg, koper kabin seberat 16 kg, dan tas kamera berikut isinya NIKON 5100D yang counternya baru menandakan 280 jepretan. Engineer ini cukup berpengalaman menghadapi situasi seperti ini sehingga dia cukup pede. Sebenarnya ada juga sebersit keraguan dihatinya setelah mendengar kejadian 220 ribu won pada rombongan 26 November, namun sepertinya hatinya telah diteguhkan untuk menyiapkan segala resiko yang mungkin terjadi termasuk kalau harus membayar ongkos tambahan untuk bagasi. Salah satu trick yang dia gunakan adalah jangan sekali kali menampakkan sedang membawa barang yang berat. Maka langkah setenang mungkin, badan diatur setegak mungkin yang tujuannya untuk menghidari kecurigaan petugas imigrasi. Hobinya berolahraga bulutangkis sangat membantunya untuk memainkan sandiwara ini sehingga gerbang pertama imigrasi berhasil dilewati dengan mulus meskipun punggung menggendong tas, tangan kanan menggandeng koper kabin dan tangan kiri menenteng tas kamera standar. “Ach..legaaaa….”. Setelah lolos dari tahapan ini maka tidak ada hal yang perlu ditakutkan lagi karena selanjutnya praktis tidak akan ada pemeriksaan yang berarti kecuali cuma dokumen dan scaning check yang objek pemeriksaannya bukan lagi masalah urusan berat bagasi melainkan masalah konten. Urusan konten atau isi rasa rasanya semua engineer sangat paham bahwa barang berbahaya berupa narkoba, benda tajam, dan cairan dengan volume tertentu pasti tidak akan diijinkan lewat, oleh karena itu pastilah engineer ini tidaklah bertindak bodoh dengan menempatkan benda benda itu ke dalam koper dan tas yang masuk kabin. Merasa tidak memiliki benda-benda yang berbahaya itu maka dengan yakin laptop, kamera, HP, Dompet dan pasport dikeluarkan dan ditempatkan di nampan khusus untuk dilewatkan lorong skaner. Demikian juga koper kabin dan tas punggungnya, sementara badan diperiksa secara khusus dengan metal detector. Badan dan semua barang yang lewat skaner lolos dengan mudah seperti yang diduga kecuali koper kabin yang masih ditahan untuk diperiksa lebih teliti dengan cara di skan ulang. Sambil mengumpulkan kembali laptop, kamera, passport dan dompet yang telah keluar dari sarangnya masing-masing, petugas skaning masih menahan dan memerlukan waktu untuk memeriksa koper kabin. Banyaknya penumpang pagi itu membuat situasi menjadi sedikit agak panik karena 3 orang rekan serombongannya telah lolos beberapa menit sebelumnya. Tiba-tiba saja putugas meminta ijin dengan bahasa Inggris versi Korea untuk membuka koper kabin yang sudah dilakukan skan berulang ulang itu.

“Ini koper anda kan?”

“Ya tentu saja!, ada masalah ?” responya cepat.

“Ya, petugas skaner kami melihat ada sesuatu yang perlu saya pastikan bahwa itu bukan benda yang dilarang”. Tanpa menjelaskan benda apa yang dicari petugas wanita itu meneruskan permintaan berikutnya,

“Boleh saya buka ?”

Merasa tidak ada benda yang berbahaya atau yang dilarang maka tidak ada alasan atau ketakutan untuk dilakukan pemeriksaan lebih detail.

“OK, no problem !, silakan aja!”.

Koper kabin yang isi dan konfigurasinya merupakan hasil proses optimasi bongkar pasang semalaman terpaksa dibongkar dan diacak acak. Tidak sulit membayangkan bagaimana berantakan dan berhamburannya barang barang tersebut ketika petugas mencari benda yang dicurigainya. Semua benda yang tertutup atau terbungkus harus dibuka untuk dipastikan bahwa benda itu tidak berbahaya. Hingga hampir semua benda yang ada di dalam koper itu telah dikeluarkan sepertinya dia tidak menemukan benda yang dicurigainya, maka tas yang hampir kosong itu dilakukan skan ulang untuk kesekian kalinya.

“Saya harus check lagi”, katanya dengan sungguh sungguh sambil mengangkat koper itu.

Dari komunikasi dengan koleganya sepertinya benda yang dicurigai petugas itu masih ada, hanya karena dia tidak dapat menemukannya maka engineer itupun memberanikan diri untuk bertanya,

“Sebenarnya apa sich yang anda cari?”

“Waktu di skan saya melihat ada sesuatu yang dicurigai tetapi saya belum menemukannya”, begitu petugas itu menjelaskan.

“OK, kira-kira di sebelah mana benda itu”, pertanyaan engineer itu setengah agak jengkel karena waktu boarding yang semakin mepet.

“Kalau dilihat dari layar skaner, kira kira di tengah sini, makanya saya harus lihat lagi lebih teliti”.

Melihat koper yang hampir kosong dan petugas menunjukkan lokasi benda yang dicurigainya maka engineer itu segera paham apa yang mungkin dicurigai. Karena dia merasa tidak membawa benda logam maka satu satunya kemungkinanan yang pantas dicurigai adalah “sabu-sabu” atau paling tidak benda yang kalau di skan “lebih mirip seperti sabu-sabu”. Segera saja engineer itu ingat dan menunjelaskan.

“Mungkin yang sedang anda cari ada di saku belakang koper ini”.

Mendapat pejelasan itu, petugas itu seakan terkejut dan mungkin juga agak kesal karena koper itu ternyata memiliki saku belakang yang sama sekali dia tidak menduga. Tanpa buang waktu segera saja saku luar yang ada di belakang koper itu dibuka, dan apa yang dia curigai segera dia temukan, sebungkus bubuk sekitar 4-5 ons warna kuning agak oranye. Tanpa ragu-ragu dia ambil bubuk itu dan bertanya,

“Apa ini?”.

Sipemilik yang memang merasa tidak melanggar larangan tentang barang bawaan maka dengan enteng menjelaskan “itu bumbu nasi goreng, fried rice”. Tentu dia tidak kenal dengan nasi goreng, bahkan mungkin dianggap istilah yang aneh bagi orang Korea. Namun sebagai petugas yang cerdas dia segera mencari kata analoginya.

“Is it for rameyon?”, pertanyaan konfirmatif yang mengindikasikan bahwa bubuk itu adalah bumbu untuk memasak Mie di Korea.

Tanpa pikir panjang, engineer itupun meng iya kan, “Yes”, meskipun sebenarnya ada perbedaan yang mendasar antara bumbu nasi goreng dan bumbu mie.

Setelah beberapa saat petugas itu mengamati sambil mem baui bubuk itu, jawaban “Yes” yang diucapkan dengan tegas oleh engineer itu berhasil mengakhiri kecurigaan itu.

Kecurigaan selesai, barang-barang yang berantakan segera diangkat ke meja khusus untuk ditata kembali. Sungguh sulit mengulangi proses pengepakan hingga diperoleh konfigurasi optimum yang telah diperoleh semalaman dapat diulangi lagi dalam suasana agak panik karena waktu yang mepet serta lalu lalang calon penumpang yang kebetulan pagi itu cukup banyak.

Beruntung ketiga rekannya bersabar menunggu engineer yang kena “musibah” ini. Dengan sedikit dipaksakan maka semua benda berhasil masuk meskipun jangan ditanya posisi dan penempatan benda benda itu. “Pokoknya asal masuk aja”, ucapnya dalam hati. Dengan pengepakan yang asal asalan maka koper yang mestinya tidak perlu membuka resleting extension maka kali ini terpaksa resleting itu harus dibuka biar semua benda dapat masuk. “Ach legaaaa”, sambil melangkah menuju boarding area.

Jadwal boarding telah tiba beberapa menit sebelumnya, antrian calon penumpang SQ telah memanjang tanda pintu pesawat sudah dibuka. Beberapa rekannya telah melewati pintu petugas untuk masuk badan pesawat dengan lancar, sementara untuk engineer kita ini, ternyata cobaan belum selesai. Langkahnya tertahan lagi kali ini oleh petugas boarding. Dia diberhentikan oleh hal yang dia sudah duga sebelumnya, yaitu urusan koper itu. Kelegaan lolos dari gerbang imigrasi seakan sirna, sementara rekannya hanya bisa berkomenter pendek, “Wah akhirnya kena juga dia !”. Merasa sudah melakukan upaya maksimal kalau di gerbang boarding ini akhirnya tertahan lagi maka dalam hatinya diapun sudah pasrah. “Kalau harus bayar saya akan bayar”, ucapnya dalam hati untuk menentramkan hatinya.

“Anda tahu, 1 orang penumpang hanya diijinkan membawa 1 paket barang dengan ukuran dan berat seperti itu”, penjelasan petugas itu sambil menunjuk poster peringatan yang berdiri disamping gerbang boarding itu. Tentu saja dia sangat paham kalau dia dianggap melanggar karena memang dia membawa barang terlalu banyak, ada koper kabin, tas punggung dan tas kamera Nikon standar.

“Yes, so?”, engineer ini bertanya meminta penjelasan.

“Koper anda harus saya checkin kan agar masuk bagasi”, kata petugas itu sambil menarik koper dari tangan engineer itu. Dalam hitungan detik resi bagasi koper itu diberikan dan langsung ditempelkan di passport, sementara engineer kita ini masih berdiri terpaku seperti menunggu instruksi selanjutnya. Dalam hatinya terlintas, “Berapa aku mesti bayar untuk koper bagasi itu?”. Belum selesai dia berfikir, petugas itu menghampirinya karena melihat dia masih berdiri seperti menunggu. Petugas bording segera saja memintanya untuk segera masuk. “Urusan anda beres, silakan segera masuk”. Dengan sedikit agak terkejut campur heran karena urusannya selesai begitu cepat dan mudah, maka dia balik bertanya, “Ooo, beres ?.”. dengan melompat dan setengah berteriak “Woookeeee…beres…”, maka dia segera berlari menuju pintu pesawat. Tidak dihiraukannya lagi jaket, rambut dan sall nya yang berantakan. Nampaknya keberuntungan ada di pihaknya. Karena untuk kasus yang serupa dengan temannya dia tidak harus bayar se sen pun, padahal dompetnya sudah disiapkan untuk membayar, hatinya sudah disiapkan untuk iklas. Dengan tetap berlari segera dia menyusul teman temannya, sementara aroma cita rasa udara Indonesia sudah langsung menyergap alam pikirnya.

Sebenarnya dia ingin berteriak “YES, Indonesiaaaaa, Aku Pulaaaang”, sebagai bentuk puncak kepuasan batinnya setelah seluruh kesulitan yang menderanya berhasil dilewati dengan selamat tanpa harus membayar pinalti se sen pun. Hanya takut terlihat berlebihan sehingga memungkinkan muncul masalah baru maka dia hanya berteriak lirih dalam hati, “ Indonesia,…aku pulang”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar