Eforia Pulang 5
Mati Ketawa Gaya Korea 34
Pengalaman 17
bulan di Korea sungguh memberikan kenangan yang sulit dilupakan. Kombinasi
kesibukan melaksanakan tugas mulai Senin sampai dengan Jum’at, berbelanja di
pasar tradisional di hari Sabtu seperti ibu-ibu, atau bertualang dari gunung ke
gunung, dari kota ke kota di hari Minggu sungguh meninggalkan berkas kenangan
yang mungkin tidak akan pernah hilang. Berinteraksi dengan sesama engineer,
doktor engineer, mayor engineer, letkol engineer hingga, kolonel engineer baik
yang dari Indonesia maupun Korea menjadikan kehidupan yang lengkap penuh warna.
Dengan lamanya
waktu penugasan memungkinkan setiap orang berusaha menyimpan memorinya lewat
koleksi barang-barang yang menarik untuk disimpan yang bisa jadi masing-masing
orang memiliki interest yang berbeda.
Apapun yang menjadi interestnya maka tujuan akhir dari barang barang tersebut
adalah untuk dibawa pulang ke Indonesia. Apakah hanya untuk di pajang di ruang
tamu, dipakai sendiri sehari-hari, atau dibagikan ke sanak saudara sebagai
oleh-oleh, itu akan sepenuhnya menjadi hak prerogative
dari masing-masing orang. Oleh karena itu tidaklah mengherankan meskipun di
Korea hidup sebagai “bujangan” alias tanpa keluarga tetapi memiliki barang yang
cukup banyak sehingga sedikit memerlukan perhatian khusus dalam membawanya ke
Indonesia, dan itu menjadi kenyataan yang ada di tengah hiruk pikuk persiapan
pulang ke Indonesia.
Ada yang dapat
dikatakan sangat jarang berbelanja atau berburu “barang antik” di hari Sabtu
karena dia lebih tertarik untuk merekam obyek obyek tertentu lewat jepretan
maut kameranya, tetapi barang yang harus dibawa pulang hampir melebihi milik
engineer lainnya pada umumnya. “Itu souvenir semua Mas “, dalihnya.
Secara umum
barang-barang milik para engineer ini kalau harus dimasukkan ke dalam koper
ukuran sedang maka masing-masing orang akan memerlukan paling tidak 6 sampai 7
koper, padahal “awalnya” dulu saat datang cuma bawa 1 koper. Itupun setelah
beberapa barang yang dianggap tidak relevan sudah di iklaskan untuk dihibahkan
atau dibuang. Beruntung ada fasilitas Korean Pos Office yang memungkinkan untuk
membereskan urusan pengiriman barang ini apalagi karton berbagai ukuran mulai
dari yang kecil hingga yang besar berikut lakban juga disediakan dengan harga
yang relatif murah, 1600 Won untuk karton ukuran terbesar. Dengan fasilitas pos
ini paling tidak engineer dapat mengurangi bebannya yang harus dibawa sendiri
saat terbang. Ada paling tidak sekitar 3 atau 4 karton barang yang dikirim oleh
tiap engineer. Begitu banyaknya engineer Indonesia yang harus mengirimkan
barang lewat pos hingga suasana di kantor Pos dalam beberapa hari itu seperti
berubah menjadi Kantor Pos rasa Indonesia, karena tawa dan celoteh khas orang
Indonesia.
Setelah sebagian
barang dikirim lewat pos maka yang tersisa harus dioptimasi untuk masuk ke
dalam koper yang nanti akan dijinjing untuk dibawa bersama saat terbang pulang.
Meskipun sudah dikurangi 3 atau 4 karton, tetap saja barang yang tersisa masih
cukup banyak. Memerlukan ketrampilan khusus agar seluruh barang “penting” yang
tersisa dapat masuk ke dalam Koper besar, koper kabin, dan tas pungung dengan
batasan maximum baggage weight yang
diijinkan. Aturan maximum baggage weight
ini sangat jelas, apalagi sebagai engineer perancang pesawat terbang maka pasti
para engineer sangat paham artinya over
weight. Menyadari batasan berat ini maka proses pengepakan barang hampir
pasti terjadi seperti bermain bongkar pasang untuk mendapatkan konfigurasi
optimum. Begitu selesai ditata kemudian ditimbang dan timbangan menunjukkan angka
yang masih jauh dari batasan maksimalnya maka yang terjadi adalah siklus
bongkar pasang periode berikutnya yang bisa jadi berulang-ulang. Belum lagi
suvenier-suvenier yang tidak terlalu berat tetapi memerlukan ruang yang besar
itu. “Dimasukkan koper bagasi hanya menghabiskan ruang, mau masuk kabin terlalu
besar, mau dikirim pakai Pos tapi sampainya kelamaan hingga mengurangi
lengkapnya rasa bahagia saat ketemu keluarga”. Barang apa dan harus dimasukkan
ke koper yang mana menjadi dasar pertimbangan yang berulang ulang menuntut
untuk diperhatikan. Akumulasi dari semua itu adalah koper bagasi yang seperti
hamil 6 bulan, koper kabin dipress padat agar volumenya tidak mencolok, dan tas
punggung yang mestinya dialokasikan untuk laptop dipaksa menerima beban tambahan
demi terangkutnya semua barang dalam sekali angkut, dengan tanpa ongkos
tambahan lagi.
Perjalanan
pulang rombongan tanggal 26 menyisakan catatan tersendiri. Melihat salah
seorang engineer menggendong tas punggung yang sudah diextend hingga menggelembung
seperti “hamil 9 bulan dengan isi bayi kembar 4”, merangsang rasa kasihannya
hingga menyarankannya untuk memindahkan barangnya ke dalam bagasi atau
mengirimkannya lewat pos yang tentu akan jauh lebih murah dibanding resikonya
meskipun mungkin akan memerlukan sedikit lebih lama waktunya. Tidak terlalu
jelas kenapa dia memaksakan membawanya dengan memasukkan ke tas punggung hingga
over size seperti itu. Apakah koper bagasinya terlalu kecil, atau tas bagasinya
sudah over weight, tidak ada yang tahu. Yang pasti, sepertinya saran itu tidak
terlalu diperhatikan karena mungkin isinya sangat “penting” dan harus segera
sampai di tanah air bersamanya, apalagi beberapa temannya sudah pernah
mengalami situasi seperti itu dan urusannya lancar-lancar saja.
Ketika tiba
gilirannya untuk checkin, koper bagasi langsung didaftarkan dan ditimbang.
Meskipun beratnya sudah sedikit diatas limit weightnya namun petugas tidak
mempermasalahkannya karena sepertinya ada margin weight tertentu yang memang
disediakan untuk calon penumpang yang sedikit kelebihan berat. Seperti
biasanya, petugas checkin juga akan menanyakan,”apakah ada barang lainnya yang
akan dicheckin kan?”. Ada sedikit keraguan untuk menjawab pertanyaan itu.
“Kalau saya jawab ya, artinya tas punggung atau tas kabin harus saya checkin
kan ke dalam bagasi. Padahal berat bagasiku sebelumnya sudah melebihi batasnya.
Wah berapa aku harus bayar untuk kelebihan beratnya yang sangat jelas ini?”.
Dengan sedikit ragu akhirnya pertanyaan inipun dijawab juga,”tidak ada”, padahal
jelas dia masih membawa tas punggung yang menggelembung itu dan belum lagi tas
koper kabin. Dengan selesainya urusan bagasi maka petugas segera memberikan
boarding pass, dan itu menjadi akhir proses checkin di counter SQ yang terjadi
pagi itu. “Beres !”, ada perasaan lega ketika proses checkin berjalan lancar.
Setelah seluruh
rekannya juga telah menyelesaikan proses checkinnya maka segera saja mereka
menuju gerbang masuk yang dijaga oleh petugas imigrasi. Dengan antrian yang
teratur rapi, satu per satu calon penumpang di amati dan dicocokan antara data
yang di passport dengan data fisiknya. Tidak terlalu lama proses itu dan calon
penumpang itu dipersilakan masuk sebagai tanda bahwa data yang di passport
cocok dengan data fisiknya. Proses itu terjadi kepada setiap penumpang yang
akan masuk. Tidak terkecuali engineer kita ini. Dengan tas punggung
menggelembung, memang sangat sulit untuk membantah bahwa tas punggung itu tidak
berat, apalagi bahasa tubuh saat membawa beban itu sungguh sulit untuk
mengelabuhi bahwa yang dia bawa tidak berat. Dari bahasa tubuh dan pengamatan
visual, petugas imigrasi di gerbang masuk itu segera saja memanggil engineer
kita dan meminta untuk menimbang berat tas punggungnya yang memang
menggelembung gemuk itu. Benar saja ternyata berat beban tas punggung itu
adalah 17 kg, padahal batasan barang yang diijinkan masuk ke kabin adalah 1
unit dengan berat maksimum 7 kg dan dimensi ukuran tertentu. Melihat kenyataan
ini maka tak ada lagi alasan untuk dapat menolak atau membantah karena kenyataannya
memang pelanggaran. Secara tegas petugas imigrasi mempersilakan engineer kita
untuk kembali ke checkin counter SQ dan meminta agar tas punggung beserta
isinya dimasukkan ke dalam bagasi saja. Tidak terlalu lama proses baggage checkin di counter SQ, meskipun
harus bernegosiasi, kenyataannya dia harus membayar 220 ribu won dan kali ini
dia benar benar nggak bisa menolak. Barangkali memang isinya adalah barang
barang yang sedemikian pentingnya. Setelah tas punggung akhirnya dipaksa masuk
ke bagasi, memang langkah terasa sangat ringan karena beban 17 kg telah
berpindah. Namun agak sulit untuk membantah bahwa ternyata beban berat itu
tidak hanya berpindah ke bagasi tetapi juga di hati sehingga senyumpun juga
terasa agak berat. Maklum senyum kali ini seberat 17 kg atau senilai 220 ribu
Won alias 1.98 Juta rupiah.
Serupa tapi
berbeda nasib terjadi di rombongan tanggal 30 November. Kali ini koper bagasi
seberat 26.5 kg berhasil checkin dengan lancar, sementara di tangan masih ada
tas punggung seberat 11 kg, koper kabin seberat 16 kg, dan tas kamera berikut
isinya NIKON 5100D yang counternya baru menandakan 280 jepretan. Engineer ini
cukup berpengalaman menghadapi situasi seperti ini sehingga dia cukup pede.
Sebenarnya ada juga sebersit keraguan dihatinya setelah mendengar kejadian 220
ribu won pada rombongan 26 November, namun sepertinya hatinya telah diteguhkan
untuk menyiapkan segala resiko yang mungkin terjadi termasuk kalau harus
membayar ongkos tambahan untuk bagasi. Salah satu trick yang dia gunakan adalah
jangan sekali kali menampakkan sedang membawa barang yang berat. Maka langkah
setenang mungkin, badan diatur setegak mungkin yang tujuannya untuk menghidari
kecurigaan petugas imigrasi. Hobinya berolahraga bulutangkis sangat membantunya
untuk memainkan sandiwara ini sehingga gerbang pertama imigrasi berhasil
dilewati dengan mulus meskipun punggung menggendong
tas, tangan kanan menggandeng koper
kabin dan tangan kiri menenteng tas
kamera standar. “Ach..legaaaa….”. Setelah lolos dari tahapan ini maka tidak ada
hal yang perlu ditakutkan lagi karena selanjutnya praktis tidak akan ada
pemeriksaan yang berarti kecuali cuma dokumen dan scaning check yang objek
pemeriksaannya bukan lagi masalah urusan berat bagasi melainkan masalah konten.
Urusan konten atau isi rasa rasanya semua engineer sangat paham bahwa barang
berbahaya berupa narkoba, benda tajam, dan cairan dengan volume tertentu pasti
tidak akan diijinkan lewat, oleh karena itu pastilah engineer ini tidaklah
bertindak bodoh dengan menempatkan benda benda itu ke dalam koper dan tas yang
masuk kabin. Merasa tidak memiliki benda-benda yang berbahaya itu maka dengan
yakin laptop, kamera, HP, Dompet dan pasport dikeluarkan dan ditempatkan di
nampan khusus untuk dilewatkan lorong skaner. Demikian juga koper kabin dan tas
punggungnya, sementara badan diperiksa secara khusus dengan metal detector.
Badan dan semua barang yang lewat skaner lolos dengan mudah seperti yang diduga
kecuali koper kabin yang masih ditahan untuk diperiksa lebih teliti dengan cara
di skan ulang. Sambil mengumpulkan kembali laptop, kamera, passport dan dompet
yang telah keluar dari sarangnya masing-masing, petugas skaning masih menahan
dan memerlukan waktu untuk memeriksa koper kabin. Banyaknya penumpang pagi itu
membuat situasi menjadi sedikit agak panik karena 3 orang rekan serombongannya
telah lolos beberapa menit sebelumnya. Tiba-tiba saja putugas meminta ijin
dengan bahasa Inggris versi Korea untuk membuka koper kabin yang sudah
dilakukan skan berulang ulang itu.
“Ini koper anda
kan?”
“Ya tentu saja!,
ada masalah ?” responya cepat.
“Ya, petugas
skaner kami melihat ada sesuatu yang perlu saya pastikan bahwa itu bukan benda
yang dilarang”. Tanpa menjelaskan benda apa yang dicari petugas wanita itu
meneruskan permintaan berikutnya,
“Boleh saya buka
?”
Merasa tidak ada
benda yang berbahaya atau yang dilarang maka tidak ada alasan atau ketakutan
untuk dilakukan pemeriksaan lebih detail.
“OK, no problem
!, silakan aja!”.
Koper kabin yang
isi dan konfigurasinya merupakan hasil proses optimasi bongkar pasang semalaman
terpaksa dibongkar dan diacak acak. Tidak sulit membayangkan bagaimana
berantakan dan berhamburannya barang barang tersebut ketika petugas mencari
benda yang dicurigainya. Semua benda yang tertutup atau terbungkus harus dibuka
untuk dipastikan bahwa benda itu tidak berbahaya. Hingga hampir semua benda
yang ada di dalam koper itu telah dikeluarkan sepertinya dia tidak menemukan
benda yang dicurigainya, maka tas yang hampir kosong itu dilakukan skan ulang
untuk kesekian kalinya.
“Saya harus
check lagi”, katanya dengan sungguh sungguh sambil mengangkat koper itu.
Dari komunikasi
dengan koleganya sepertinya benda yang dicurigai petugas itu masih ada, hanya
karena dia tidak dapat menemukannya maka engineer itupun memberanikan diri
untuk bertanya,
“Sebenarnya apa
sich yang anda cari?”
“Waktu di skan
saya melihat ada sesuatu yang dicurigai tetapi saya belum menemukannya”, begitu
petugas itu menjelaskan.
“OK, kira-kira
di sebelah mana benda itu”, pertanyaan engineer itu setengah agak jengkel
karena waktu boarding yang semakin mepet.
“Kalau dilihat
dari layar skaner, kira kira di tengah sini, makanya saya harus lihat lagi
lebih teliti”.
Melihat koper
yang hampir kosong dan petugas menunjukkan lokasi benda yang dicurigainya maka
engineer itu segera paham apa yang mungkin dicurigai. Karena dia merasa tidak
membawa benda logam maka satu satunya kemungkinanan yang pantas dicurigai
adalah “sabu-sabu” atau paling tidak benda yang kalau di skan “lebih mirip
seperti sabu-sabu”. Segera saja engineer itu ingat dan menunjelaskan.
“Mungkin yang
sedang anda cari ada di saku belakang koper ini”.
Mendapat
pejelasan itu, petugas itu seakan terkejut dan mungkin juga agak kesal karena
koper itu ternyata memiliki saku belakang yang sama sekali dia tidak menduga.
Tanpa buang waktu segera saja saku luar yang ada di belakang koper itu dibuka,
dan apa yang dia curigai segera dia temukan, sebungkus bubuk sekitar 4-5 ons
warna kuning agak oranye. Tanpa ragu-ragu dia ambil bubuk itu dan bertanya,
“Apa ini?”.
Sipemilik yang
memang merasa tidak melanggar larangan tentang barang bawaan maka dengan enteng
menjelaskan “itu bumbu nasi goreng, fried rice”. Tentu dia tidak kenal dengan
nasi goreng, bahkan mungkin dianggap istilah yang aneh bagi orang Korea. Namun
sebagai petugas yang cerdas dia segera mencari kata analoginya.
“Is it for
rameyon?”, pertanyaan konfirmatif yang mengindikasikan bahwa bubuk itu adalah
bumbu untuk memasak Mie di Korea.
Tanpa pikir
panjang, engineer itupun meng iya kan, “Yes”, meskipun sebenarnya ada perbedaan
yang mendasar antara bumbu nasi goreng dan bumbu mie.
Setelah beberapa
saat petugas itu mengamati sambil mem baui bubuk itu, jawaban “Yes” yang
diucapkan dengan tegas oleh engineer itu berhasil mengakhiri kecurigaan itu.
Kecurigaan
selesai, barang-barang yang berantakan segera diangkat ke meja khusus untuk
ditata kembali. Sungguh sulit mengulangi proses pengepakan hingga diperoleh
konfigurasi optimum yang telah diperoleh semalaman dapat diulangi lagi dalam
suasana agak panik karena waktu yang mepet serta lalu lalang calon penumpang
yang kebetulan pagi itu cukup banyak.
Beruntung ketiga
rekannya bersabar menunggu engineer yang kena “musibah” ini. Dengan sedikit
dipaksakan maka semua benda berhasil masuk meskipun jangan ditanya posisi dan
penempatan benda benda itu. “Pokoknya asal masuk aja”, ucapnya dalam hati.
Dengan pengepakan yang asal asalan maka koper yang mestinya tidak perlu membuka
resleting extension maka kali ini terpaksa resleting itu harus dibuka biar
semua benda dapat masuk. “Ach legaaaa”, sambil melangkah menuju boarding area.
Jadwal boarding
telah tiba beberapa menit sebelumnya, antrian calon penumpang SQ telah
memanjang tanda pintu pesawat sudah dibuka. Beberapa rekannya telah melewati
pintu petugas untuk masuk badan pesawat dengan lancar, sementara untuk engineer
kita ini, ternyata cobaan belum selesai. Langkahnya tertahan lagi kali ini oleh
petugas boarding. Dia diberhentikan oleh hal yang dia sudah duga sebelumnya,
yaitu urusan koper itu. Kelegaan lolos dari gerbang imigrasi seakan sirna, sementara
rekannya hanya bisa berkomenter pendek, “Wah akhirnya kena juga dia !”. Merasa
sudah melakukan upaya maksimal kalau di gerbang boarding ini akhirnya tertahan
lagi maka dalam hatinya diapun sudah pasrah. “Kalau harus bayar saya akan
bayar”, ucapnya dalam hati untuk menentramkan hatinya.
“Anda tahu, 1
orang penumpang hanya diijinkan membawa 1 paket barang dengan ukuran dan berat
seperti itu”, penjelasan petugas itu sambil menunjuk poster peringatan yang
berdiri disamping gerbang boarding itu. Tentu saja dia sangat paham kalau dia
dianggap melanggar karena memang dia membawa barang terlalu banyak, ada koper
kabin, tas punggung dan tas kamera Nikon standar.
“Yes, so?”,
engineer ini bertanya meminta penjelasan.
“Koper anda
harus saya checkin kan agar masuk bagasi”, kata petugas itu sambil menarik
koper dari tangan engineer itu. Dalam hitungan detik resi bagasi koper itu
diberikan dan langsung ditempelkan di passport, sementara engineer kita ini
masih berdiri terpaku seperti menunggu instruksi selanjutnya. Dalam hatinya
terlintas, “Berapa aku mesti bayar untuk koper bagasi itu?”. Belum selesai dia
berfikir, petugas itu menghampirinya karena melihat dia masih berdiri seperti menunggu.
Petugas bording segera saja memintanya untuk segera masuk. “Urusan anda beres,
silakan segera masuk”. Dengan sedikit agak terkejut campur heran karena
urusannya selesai begitu cepat dan mudah, maka dia balik bertanya, “Ooo, beres
?.”. dengan melompat dan setengah berteriak “Woookeeee…beres…”, maka dia segera
berlari menuju pintu pesawat. Tidak dihiraukannya lagi jaket, rambut dan sall
nya yang berantakan. Nampaknya keberuntungan ada di pihaknya. Karena untuk
kasus yang serupa dengan temannya dia tidak harus bayar se sen pun, padahal
dompetnya sudah disiapkan untuk membayar, hatinya sudah disiapkan untuk iklas.
Dengan tetap berlari segera dia menyusul teman temannya, sementara aroma cita
rasa udara Indonesia sudah langsung menyergap alam pikirnya.
Sebenarnya dia ingin
berteriak “YES, Indonesiaaaaa, Aku Pulaaaang”, sebagai bentuk puncak kepuasan
batinnya setelah seluruh kesulitan yang menderanya berhasil dilewati dengan
selamat tanpa harus membayar pinalti se sen pun. Hanya takut terlihat
berlebihan sehingga memungkinkan muncul masalah baru maka dia hanya berteriak
lirih dalam hati, “ Indonesia,…aku pulang”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar