DUA…!!!
Mati Ketawa Gaya Korea 19
|
S
|
ecara alamiah sedari awal memang
sangat disadari bahwa ada perbedaan mendasar antara sipil dan militer. Sipil
yang dalam konteks ini adalah para engineer sedangkan militer mencakup
komunitas perwira menengah. Komunitas sipil sering dipersepsikan tidak tegas dalam
bersikap, terlalu banyak perhitungan dan pertimbangan serta sering kali
terlambat didalam mengambil sikap atau keputusan, sementara disisi sebaliknya
militer apalagi perwira yang dipersepsikan disiplin, tegas, cermat dalam
perhitungan dan cepat atau berani dalam mengambil keputusan dan resiko.
Dalam perjalanannya baik sipil maupun
militer di program KFX/IFX ini saling berbaur, berinteraksi intens hingga lama
kelamaan yang militer menjadi seperti sipil sementara yang sipil telah menjadi
sedikit lebih “militer”. Oleh karena itu tidak kaget kalau kita sering dengar
tradisi atau kebiasaan mengucapkan “mohon ijin” atau kata “siap” sebelum
menyampaikan pendapat atau menjawab pertanyaan dimana kebiasaan ini sepenuhnya
manjadi trade marknya militer. Namun demikian, tidak terlalu jelas sebabnya
apakah bawaannya memang begitu atau karena sebab lain tetapi yang jelas sangat
dirasakan “kesipilannya” dibanding “kemiliterannya” berupa adanya kesantunan
dan kelemah lembutan dari sahabat militer kita ketika berkomunikasi dengan
sipil. Bahkan untuk sahabat kita yang satu ini barangkali kesantunan dan
kelemahlembutannya dalam bertutur kata melebihi kesantunan dan kelemah lembutan
kawan-kawan sipil pada umumnya. Saking lembut dan santunnya dalam bertutur kata
maka siapapun pasti tidak akan menduga bahwa sahabat kita ini adalah seorang
Mayor TNI AU. Hanya ketika berseragam dinas saja maka sahabat kita ini tidak
dapat sembunyi dari image militer. Apalagi sahabat kita ini lebih suka bersikap
“low profile” alias “agak pendiam” serta memang tidak suka terlalu expresif,
meskipun jangan ditanya dalam melahab setiap tugas yang dibebankannya, semua
tuntas tas tas.
Namun demikian sekali militer tetap
militer. Barangkali itu semboyan yang ditanamkan selama bertahun tahun dalam
pendidikan militernya. Gemblengan mental dan fisik selama beberapa tahun di
Akademi Militer tentu tidak akan luntur hanya karena interaksi dengan sipil
selama kurang dari setahun. Barangkali pula sikap tegas dalam sikap, berani dan
cepat dalam mengambil keputusan dan resiko ini telah menjadi butir butir sel
darah baru yang mengalir dalam dirinya selain sel darah merah dan darah putih
yang sudah ada. Sehingga tidak mungkin hilang kecuali hanya diset dalam status
silent mode. Maka dari itu pada saat yang tepat silent modenya di OFF kan, dan
sifat kebaikan militernya akan dengan mudah mengemuka. Hal ini tentu sangat
berbeda dengan yang sipil, yang begitu sulit dan rumitnya merumuskan masalah,
apalagi mengambil keputusan. Sebagi contoh ada yang mau ini mau itu, ingin si dia
atau si dia lainnya, beli ini beli itu, cek internet, tanya si A, si B, si C
hingga si Z, lakukan analisis, evaluasi, chek, analisis lagi, evaluasi lagi,
chek lagi, berputar putar berulang ulang sampai yang denger capek karena
ternyata seluruh gagasan itu tidak pernah di eksekusi.
Kisah kecil perjalanan ini barangkali
menjadi bukti betapa sekali militer tetap militer, apapun keadaannya dan apapun
tantangannya.
Sudah banyak diketahui bahwa
kehadiran para engineer baik yang sipil maupun militer yang memiliki concern
atau pengetahuan memadai tentang kamera hanya dua orang yaitu Mr.N dan Mr.A.
Oleh karena itu menjadi wajar saja kalau beliau berdua ini sering menjadi
rujukan sekaligus “juru antar dan negosiator” atau kadang sebagai “secondan”
bagi siapapun yang ingin membeli kamera. Kebetulan sekali pula beliau berdua
sangat paham seluk beluk tempat yang paling populer untuk berbelanja Kamera di
Korea ini yaitu pasar Yongsan di Seoul. Maka dari itu pada suatu akhir pekan
disusunlah rencana untuk ke Yongsan. Sudah mulai didata siapa saja yang ikut,
baik yang mau beli ataupun sekedar jalan jalan. Siapa saja yang ikut dan
diketahui ingin membeli Kamera sudah sangat dikenal siapa orangnya berdasar
dari obrolan dari kawan ke kawan. Sementara pengikut penggembira lainnya juga
sudah diketahui karena sudah menyatakan sedari awal bahwa hanya akan lihat
lihat alias jalan jalan saja. Namun demikian ada juga yang ikut dan terdaftar
di list tetapi tanpa komentar apapun apakah mau beli atau sekedar jalan jalan,
yaitu sahabat mayor kita yang santun ini. Bersama Mr.N, perjalanan Daejeon ke
Soul dengan Starek tidaklah terlalu lama. Dalam waktu kurang dari tiga jam maka
tujuan Yongsan telah dapat dicapai. Semua bertebaran berbagi berkelompok kecil
kecil sesuai misi dan kemistrynya masing-masing, dan kebetulan sahabat mayor
kita ini telah menemukan kelompok yang dirasa cocok dengannya. Ketika ketemu
salah satu toko yang menarik maka mulai terjadilah diskusi dan negosiasi yang
alot dan menarik atas suatu Merk Kamera yang menjadi bidikan salah satu peserta
perjalanan ini. Tentu saja anggota kelompok lain yang memang berencana mau beli
dan bukan sahabat mayor kita ini yang melakukan negosiasi dan diskusi karena
dia memang tidak ada tanda tanda mau beli. Sebagai barang yang terbilang tidak
murah maka kehati hatian dalam memeriksa barang, mengecek harga dan lain lain
sangat diperlukan meskipun akan berdampak pada lamanya waktu negosiasi dan
diskusi. Dalam proses yang alot dan lama itu maka selama itu pula sahabat mayor
kita ini hanya mengamati dalam diam dan sabar. Tidak terlontar sepatah katapun
baik komentar, atau pertanyaan. Dan diapun memposisikan diri sedikit di
belakang bersama teman-teman penggembira lainnya. Setelah cukup waktu,
negosiasi nampaknya berjalan baik dan mengerucut pada pengambilan keputusan
“membeli Kamera”. Dengan harga yang disepakati akhirnya diputuskan untuk
membeli Kamera dan dimintakan kamera yang baru yang bener banar masih berada
dalam kotak yang tersegel. Karena yang dipajang di Toko tersebut tidak tersedia
stok baru yang diminta maka pemilik toko minta ijin sesaat untuk mengambil
kamera baru yang akan dibeli dari gudangnya yang entah dimana. Sesaat sebelum
pemilik toko beranjak dari tempatnya, tiba tiba saja sahabat mayor kita ini
angkat tangan sambil mengucapkan sesuatu yang mengejutkan siapapun yang ada di
situ. Dia angkat tangan sambil menunjukkan dua jari serta dibarengin dengan
kata “two” alias “dua”. Tidak terlalu jelas awalnya apa yang dimaksud “dua”
itu, sehingga sahabat mayor kita ini mesti sedikit menjelaskan apa artinya
“dua” itu. Beliau yang sedari awal sama sekali tidak terlihat indikasi bahwa
akan beli kamera maka bagi kawan-kawan lainnya hampir bisa dikatakan mustahil
bila kata “dua” itu berarti membeli kamera apalagi harganya tidak murah. “Mosok
secepat itu mengambil keputusan membeli kamera dengan harga yang sangat tidak
murah”, atau “ mosok memutuskan membeli kamera kok seperti memutuskan membeli
permen saja”, mungkin itu yang terlintas dipikiran para penggembira itu. Namun
demikian seluruh asumsi dan logika ini salah sama sekali. Lagi dan lagi,
diamnya dia adalah diam militer, diam dengan perhitungan dan pengamatan penuh.
Dan pada saatnya, setelah seluruh data dan informasi yang diperlukan sudah
cukup maka tidak perlu waktu yang lama untuk memutuskan. Dengan tanpa keraguan
sedikitpun alias dengan mantab maka cukup mengatakan “two” yang artinya diapun
juga membeli kamera yang sama persis seperti yang dinegosiasikan oleh rekan dia
itu sebelumya.
Dari kejadian itu maka jelaslah
sekarang, darahnya memang militer. Kejadian tersebut juga semakin menegaskan
perbedaan yang jelas antara sipil dan militer. Yang sipil, sudah lama mau beli
tapi nggak beli beli sampai lupa apa mereknya yang akan dibeli, sementara yang
militer, cukup silent mode ON alias tidak koar koar, tidak perlu bertele tele,
meskipun dengan data yang terbatas namun begitu cocok langsung silent mode OFF,
ambil sikap, ambil keputusan. Yes, “DUA”.
Daejeon, Oktober 25 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar