Jumat, 07 Oktober 2016

Umat Nabi Musa


Umat Nabi Musa
Mati Ketawa Gaya Korea (1)

Mengikuti rapat atau diskusi para cedekia dan orang2 pintar di PTDI yang akan di kirim ke KOREA, seakan mangajak kita untuk mengambil pelajaran akan kisah nabi Musa ribuan tahun yang lalu dalam menghadapi umatnya. Sudah biasa dan wajar bahwa orang2 pintar itu kritis dan teliti dalam menghadapi sesuatu sehingga mereka masih merasa perlu untuk bertanya. Bahwa itu berdampak mempersulit diri, nah itu yang barangkali tidak difikirkan.

Alkisah.

Pada zaman zaman Bani Israil hiduplah sorang hartawan yang kekayaannya luar biasa berlimpah. Namun, ia tak satu pun memiliki anak yang akan mewarisi harta tersebut. Alhasil, banyak kerabat yang menginginkan dan menanti kematiannya untuk mendapatkan warisan. Pada suatu ketika sang hartawan ditemukan tewas di depan sebuah rumah penduduk.

Asumsi-asumsi pun bermunculan. Ada yang bilang, sang kerabat yang menemukanlah yang membunuhnya. Yang lain mengatakan, si pemilik rumah yang didepannya ditemukan jasad si hartawanlah pelakunya. Di tengah keributan tersebut, datang seorang salih yang cerdas. Ia pun menengahi warga. “Mengapa kalian berkelahi? Bukankah di antara kita ada Musa, sang rasul Allah? Mari kita tanyakan perihal ini kepada beliau,” ujarnya. Maka, mereka pun segera berbondong-bondong menemui Musa.

Mendengar kisah dari penduduk desa, Nabi Musa segera memanjatkan doa. Ia memohon wahyu dari Allah agar menunjukkan rahasia di balik kematian sang hartawan. Maka, Allah pun memerintahkan Musa agar menyuruh umatnya menyembelih seekor sapi.

Mendengar perintah itu mereka berujar, “Hai Musa, apakah kau ingin menjadikan kami bahan ejekan?”.

Nabi Musa pun dengan sabar menjawab, “Aku berlindung dari Allah agar aku tak termasuk orang-orang yang bodoh. Aku berlindung kepada Allah untuk tidak mengatakan sesuatu yang bukan firman-Nya,” ujar Musa. Belum lagi umat nabi musa menyembelih korban malah bertanya lagi kepada nabi Musa, “Beri kami spesifikasi, berapa usia sapi itu?”.

Musa pun menjawab, “Tidak muda, tidak pula tua, melainkan pertengahan saja. Kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepada kalian,” .

Kemudian mereka bertanya lagi, “Apa warna sapi itu?”.

Dijawab nabi Musa, “Warnanya kuning tua, setiap kali orang memandangnya maka akan senang melihatnya,”

Kemudian mereka bertanya lagi dan lagi, “Beri tahu kami bagaimana kondisi sapi itu sehingga kami dapat mencarinya,”

“Sapi itu tak pernah digunakan untuk membajak sawah atau memberi air bagi tanaman. Sapi itu pun sangat bersih, tidak memiliki cacat,” ujar Musa.

Semakin banyak bertanya, mereka justru semakin sulit mendapatkan sapi itu. Andai mereka menurut saat perintah pertama, mereka bebas memilih sapi manapun. Semakin mereka bertanya, makin sulit mendapatkan sapi yang dimaksud.

Situasi yang dihadapi nabi Musa seakan berulang ribuan tahun sesudahnya di PTDI, tentu dengan intensitas yang jauh lebih rendah misal untuk urusan rekening, token, bus, kursi bus, dan baju.

Sebut saja urusan baju, ketika sudah ditetapkan pakai baju putih dan dasi, ada saja yang bertanya, “lengan pendek atau panjang”. Dengan sabar dijawab, “lengan panjang”. Ditanya lagi,” dasinya warna apa”, dijawab, “warna hitam”. Ditanya lagi, “Boleh nggak dasi kupu2?” “Boleh nggak dasi hitam tapi bercorak?”

Beruntung CE yang bertanggung jawab menjawab cukup bijaksana sehingga tidak harus menjawab semua pertanyaan-pertanyaan tersebut. Coba kalau semua pertanyaan tersebut dijawab dan hasilnya adalah “baju putih, lengan panjang, dasi panjang, hitam dan tidak bercorak”, apa yang terjadi. Yang punya baju putih tapi lengan pendek maka harus beli lagi lengan panjang. Yang belum punya dasi hitam harus beli lagi dasi hitam. Yang sudah punya hitam bercorak, harus beli lagi yang polos. Dan tentu semua itu menjadi semakin menyulitkan. Kesulitan ini tentu tidak akan terjadi bila tidak ada pertanyaan2 itu.

Dan beruntungnya lagi ternyata yang ditetapkan bukan baju putih, lengan panjang, dasi panjang, hitam dan tidak bercorak, tetapi BAJU BATIK.

Mendengar penjelasan bahwa diputuskan pakai baju batik, mari kita membayangkan pertanyaan2 apa lagi yang muncul. Jangan-jangan, “Pakai Kopiah nggak ?”.

Bandung, 2 Agustus 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar