Jumat, 07 Oktober 2016

Prambanan, ibukota DCI


Prambanan, ibukota DCI

Mati Ketawa Gaya Korea (3)

Dalam persiapan pelaksanaan SRR IF-X ke 2 di PTDI tahun 2016, para penyaji sempat mengernyitkan alis mata ketika membaca undangan rehearsal yang menyebutkan tempat di Ruang Prambanan DCI, gedung GPT LT 2 PTDI. Para penyaji yang umumnya senior sangat paham seluk beluk GPT Lt2, tetapi ketika disebutkan nama Ruang Prambanan maka sempat memunculkan sedikit keraguaan. “Ruang mana ini?”, demikian gumamnya. Memang munculnya ruang Prambanan ini tidak lepas pergeseran pusat kegiatan DCI yang kebetulan serupa dengan sejarah kecamatan Prambanan yang terletak di perbatasan Jogja dan Jawa Tengah itu.

Prambanan adalah candi Hindu terbesar dan termegah yang pernah dibangun di Jawa. Pembangunan candi Hindu ini dimulai oleh Rakai Pikatan sekitar tahun 850 Masehi dimana pada masa itu telah berdiri tegak candi Buddha Borobudur di Magelang dan juga candi Sewu yang tak jauh dari Prambanan. Secara berkelanjutan pembangunan disempurnakan dan diperluas oleh Raja Lokapala dan raja Balitung Maha Sambu. Sementara para sejarawan menduga bahwa ibukota atau keraton kerajaan Mataram Hindu ini terletak disuatu tempat di dekat Prambanan di Dataran Kewu.

Disamping sebagai pusat pemerintahan, Prambanan juga menjadi pusat kegiatan agama Hindu, budaya dan ekonomi. Ditandai dengan banyak digelarnya upacara-upacara penting kerajaan di masa itu dimana melibatkan banyak pendeta brahmana. Sebagai pusat budaya dan ekonomi, maka dapat dibayangkan tingkat kemakmuran masyarakatnya pada masa itu dibanding tempat lain. Sikap religius dan kemakmuran ini yang memungkinkan tumbuhnya tidak kurang dari 25 candi di sekitar Prambanan, seperti Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi Sari, Candi Sambisari dll. Membayangkan kemakmuran Prambanan pada masa sebagai ibukota, maka membayangkan masyarakat yang aktif, candi2 yang ramai dikunjungi, pasar-pasar yang hidup, makanan dan minuman yang tersedia cukup, transportasi yang lancar, dan kesan ramainya sebuah kehidupan ibukota.

Sekitar tahun 930-an, ibu kota kerajaan Mataram hindu ini dipindah ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok, yang mendirikan Wangsa Isyana. Penyebab kepindahan pusat kekuasaan ini tidak diketahui secara pasti. Bisa karena dampak letusan hebat gunung Merapi, tetapi juga tidak tertutup kemungkinan karena peperangan dan perebutan kekuasaan. Setelah perpindahan ibu kota itu, Prambanan mulai telantar dan tidak terawat. Tidak terkecuali Candi Candinya dan masyarakatnya, sehingga seiring waktu Prambanan menjadi semakin terpinggirkan dan pelan-pelan namun pasti candi candi yang megah sebagai simbol kejayaan dan kemakmuran masa itu ini mulai rusak dan runtuh.

Mencoba membayangkan kemunduran kemakmuran masyarakat Prambanan yang terjadi sekitar 1000 tahun yang lalu sebagai akibat berpindahnya ibu kota, barangkali dapat dirasakan atau dianalogikan seperti yang terjadi di gedung lama GPT LT 2, khususnya di ruang Design Center Indonesia (DCI). Ruang DCI ini dibangun dengan kemegahan dan kenyamanan tersendiri. Dinding kusam dan pilar beton disulap menjadi dinding tekstur kayu, lantai ubin retak atau pecah diganti dengan lantai kayu parquet, dinding pembantas dibangun berbasis kaca, untuk dapat masuk harus lolos dari screening finger print, ruang kerja disekat dalam skala kubikal dimana komputer kerja tersedia berlebih lengkap denga meja kursinya, udara gerah digelontor dengan AC penyejuk yang sangat memadai, dan tak lupa kopi, teh siap seduh dan gula diruang-ruang rapat disajikan berlebih serta tak pernah absen kehadirannya. Belum lagi kalau ada tamu-tamu agung yang hadir untuk berkunjung, maka dapat dipastikan sajian makanan, minuman dan buah-buahan yang melimpah pasti akan ikut dirasakan oleh penghuninya. Bagi penghuni ruangan ini, kemakmuran DCI ini hanya dilihat dari aspek yang tak jauh dari itu, dan sesederhana itulah yang dirasakan oleh engineer perancang pesawat tempur canggih ini.

Tidak kurang dari 2 tahun ruang DCI gedung lama itu menjadi “ibukota” managemen dan kegiatan percancangan pesawat tempur IF-X, dan tentu selama itu pulalah kemakmuran atas nama kopi, teh,  gula, lain2 disupply dan disajikan tanpa perlu menunggu tamu agung datang.

Waktu terus berjalan, dan memang dirasakan tidak cukup memadai ruangan sekecil itu disiapkan untuk mengelola proyek bernilai trilyunan, apalagi harus digabung dengan kegiatan engineer yang memang ruhnya berbeda dengan ruh management. Oleh karena itu, harus disiapkan ruang baru khusus untuk managemen, yang itu artinya “ibukota” kegiatan proyek KF-X/IF-X ini harus segera disiapkan yang baru dan dipindah.

Kepindahan “ibukota” DCI ini tentu menggembirakan karena ruangan “ibu kota” yang baru lebih lega, ruang rapatnya lebih lengkap, serta ruangan-ruangan para “mentri” nya juga jauh lebih baik dari yang ada sebelumnya. Konsekuensi kepindahan “ibukota” ini maka secara otomatis pusat kegiatan ceremonial atau upacara kalau ada tamu agung juga ikut berpindah. Singkat kata pusat keramaian ikut berbindah. Seiring dengan bergesernya pusat keramaian ini maka secara perlahan namun pasti juga ikut bergeser kemakmuran yang dirasakan engineer DCI gedung lama. Kalaulah sebelumnya sungguh tidak sulit mencari sekedar teh atau kopi untuk melawan kantuk, maka untuk sekarang sekedar mencari air putihpun kadang tidak tersedia.

Ini hanya sekedar cerita tentang kopi, teh dan gula yang menjadi ukuran kemakmuran engineer DCI, namun dari cerita kopi teh dan gula ini sepertinya kita dapat merasakan bagaimana dan apa yang dirasakan oleh masyarakat Prambanan masa itu akibat ditinggal karena berpindah “ibu kota”.

Oh Prambanan, nasibmu.

Bandung, 7 September 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar