Prambanan, ibukota DCI
Mati Ketawa Gaya Korea (3)
Dalam persiapan pelaksanaan SRR
IF-X ke 2 di PTDI tahun 2016, para penyaji sempat mengernyitkan alis mata
ketika membaca undangan rehearsal yang menyebutkan tempat di Ruang Prambanan
DCI, gedung GPT LT 2 PTDI. Para penyaji yang umumnya senior sangat paham seluk
beluk GPT Lt2, tetapi ketika disebutkan nama Ruang Prambanan maka sempat
memunculkan sedikit keraguaan. “Ruang mana ini?”, demikian gumamnya. Memang munculnya
ruang Prambanan ini tidak lepas pergeseran pusat kegiatan DCI yang kebetulan
serupa dengan sejarah kecamatan Prambanan yang terletak di perbatasan Jogja dan
Jawa Tengah itu.
Prambanan adalah candi Hindu
terbesar dan termegah yang pernah dibangun di Jawa. Pembangunan candi Hindu ini
dimulai oleh Rakai Pikatan sekitar tahun 850 Masehi dimana pada masa itu telah
berdiri tegak candi Buddha Borobudur di Magelang
dan juga candi Sewu yang tak jauh dari Prambanan. Secara berkelanjutan
pembangunan disempurnakan dan diperluas oleh Raja Lokapala dan raja Balitung Maha Sambu. Sementara para sejarawan menduga bahwa ibukota atau keraton kerajaan
Mataram Hindu ini terletak disuatu tempat di dekat Prambanan di Dataran Kewu.
Disamping sebagai pusat pemerintahan, Prambanan juga
menjadi pusat kegiatan agama Hindu, budaya dan ekonomi. Ditandai dengan banyak
digelarnya upacara-upacara penting kerajaan di masa itu dimana melibatkan
banyak pendeta brahmana. Sebagai pusat budaya dan ekonomi, maka dapat
dibayangkan tingkat kemakmuran masyarakatnya pada masa itu dibanding tempat
lain. Sikap religius dan kemakmuran ini yang memungkinkan tumbuhnya tidak
kurang dari 25 candi di sekitar Prambanan, seperti Candi Kalasan, Candi
Plaosan, Candi Sari, Candi Sambisari dll. Membayangkan kemakmuran Prambanan
pada masa sebagai ibukota, maka membayangkan masyarakat yang aktif, candi2 yang
ramai dikunjungi, pasar-pasar yang hidup, makanan dan minuman yang tersedia
cukup, transportasi yang lancar, dan kesan ramainya sebuah kehidupan ibukota.
Sekitar tahun 930-an, ibu kota kerajaan Mataram hindu ini
dipindah ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok, yang mendirikan Wangsa Isyana. Penyebab
kepindahan pusat kekuasaan ini tidak diketahui secara pasti. Bisa karena dampak
letusan hebat gunung Merapi, tetapi juga tidak tertutup kemungkinan karena
peperangan dan perebutan kekuasaan. Setelah perpindahan ibu kota itu, Prambanan
mulai telantar dan tidak terawat. Tidak terkecuali Candi Candinya dan
masyarakatnya, sehingga seiring waktu Prambanan menjadi semakin terpinggirkan
dan pelan-pelan namun pasti candi candi yang megah sebagai simbol kejayaan dan
kemakmuran masa itu ini mulai rusak dan runtuh.
Mencoba membayangkan kemunduran kemakmuran masyarakat
Prambanan yang terjadi sekitar 1000 tahun yang lalu sebagai akibat berpindahnya
ibu kota, barangkali dapat dirasakan atau dianalogikan seperti yang terjadi di
gedung lama GPT LT 2, khususnya di ruang Design Center Indonesia (DCI). Ruang
DCI ini dibangun dengan kemegahan dan kenyamanan tersendiri. Dinding kusam dan
pilar beton disulap menjadi dinding tekstur kayu, lantai ubin retak atau pecah
diganti dengan lantai kayu parquet, dinding pembantas dibangun berbasis kaca,
untuk dapat masuk harus lolos dari screening finger print, ruang kerja disekat
dalam skala kubikal dimana komputer kerja tersedia berlebih lengkap denga meja
kursinya, udara gerah digelontor dengan AC penyejuk yang sangat memadai, dan
tak lupa kopi, teh siap seduh dan gula diruang-ruang rapat disajikan berlebih
serta tak pernah absen kehadirannya. Belum lagi kalau ada tamu-tamu agung yang
hadir untuk berkunjung, maka dapat dipastikan sajian makanan, minuman dan
buah-buahan yang melimpah pasti akan ikut dirasakan oleh penghuninya. Bagi
penghuni ruangan ini, kemakmuran DCI ini hanya dilihat dari aspek yang tak jauh
dari itu, dan sesederhana itulah yang dirasakan oleh engineer perancang pesawat
tempur canggih ini.
Tidak kurang dari 2 tahun ruang DCI gedung lama itu
menjadi “ibukota” managemen dan kegiatan percancangan pesawat tempur IF-X, dan
tentu selama itu pulalah kemakmuran atas nama kopi, teh, gula, lain2 disupply dan disajikan tanpa
perlu menunggu tamu agung datang.
Waktu terus berjalan, dan memang dirasakan tidak cukup
memadai ruangan sekecil itu disiapkan untuk mengelola proyek bernilai trilyunan,
apalagi harus digabung dengan kegiatan engineer yang memang ruhnya berbeda
dengan ruh management. Oleh karena itu, harus disiapkan ruang baru khusus untuk
managemen, yang itu artinya “ibukota” kegiatan proyek KF-X/IF-X ini harus segera
disiapkan yang baru dan dipindah.
Kepindahan “ibukota” DCI ini tentu menggembirakan karena
ruangan “ibu kota” yang baru lebih lega, ruang rapatnya lebih lengkap, serta
ruangan-ruangan para “mentri” nya juga jauh lebih baik dari yang ada
sebelumnya. Konsekuensi kepindahan “ibukota” ini maka secara otomatis pusat
kegiatan ceremonial atau upacara kalau ada tamu agung juga ikut berpindah.
Singkat kata pusat keramaian ikut berbindah. Seiring dengan bergesernya pusat
keramaian ini maka secara perlahan namun pasti juga ikut bergeser kemakmuran
yang dirasakan engineer DCI gedung lama. Kalaulah sebelumnya sungguh tidak
sulit mencari sekedar teh atau kopi untuk melawan kantuk, maka untuk sekarang
sekedar mencari air putihpun kadang tidak tersedia.
Ini hanya sekedar cerita tentang kopi, teh dan gula yang
menjadi ukuran kemakmuran engineer DCI, namun dari cerita kopi teh dan gula ini
sepertinya kita dapat merasakan bagaimana dan apa yang dirasakan oleh
masyarakat Prambanan masa itu akibat ditinggal karena berpindah “ibu kota”.
Oh Prambanan, nasibmu.
Bandung, 7 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar