Jumat, 07 Oktober 2016

Pita biru, Cliiing !!!


Pita biru, Cliiing !!!

Mati Ketawa Gaya Korea (4)

Cliiing !!!,....sebuah bunyi ikonik denting atau semburat suara yang memberi kesan warna suara nyaring, ceria, gembira, yang menandakan keberhasilan. Dengan karakter seperti itu bunyi Cliiing ini sering kali dipakai pada beberapa iklan TV untuk merangsang pembeli, seperti iklan sabun colek jaman dulu yang dengan satu colekan berhasil membuat baju kotor jadi putih bersih, Cliiing !!. Atau iklan mobil yang untuk mempromosikan kehebatannya dalam hemat bahan bakar maka ikon yang digunakan adalah menjatuhkan koin receh disertai bunyi ikonik Cliiing, cliiing, cliiing telah sanggup membawa mobil dari Jakarta ke Bali. Atau yang lebih terkini, adalah iklan susu anak yang dapat membuat anak jadi cerdas, dimana dalam iklan ditampilkan seorang anak setelah minum susu tersebut tiba-tiba muncul suara ikonik, Cliiing !!!! disertai bintang-bintang di atas kepalanya yang menandai munculnya ide cemerlang akan sesuatu hal. Demikian pula Bank BNI, menggunakan bunyi ikonik Cliiing itu juga untuk mengabarkan berita gembira bagi nasabahnya yang menggunakan mobile banking sebagai penanda telah terjadi transaksi uang masuk di rekeningnya. Tidak peduli berapa nilai yang masuk, pokoknya Cliiing !!!.

Sebagai engineer yang telah disiapkan untuk ditugaskan ke Korea sekaligus nasabah Bank BNI, mereka telah mengalami penundaan keberangkatan beberapa kali, yang tentu saja berpengaruh pada persiapan pribadi para engineer, bukan saja urusan sambel pecel, rendang, dan abon, tetapi juga semangat tim. Penundaan berkali kali ini sedikit banyak telah mengganggu pikiran engineer. “Jadi nggak sih ini?”. Awalnya memang dipahami oleh engineer bahwa penundaan ini disebabkan oleh hal hal teknis administratif yang memang harus dilakukan seperti agenda screening oleh BAIS atau pembekalan oleh Menhan atau urusan Visa, meskipun berita positifnya uang saku sudah siap dan tinggal menunggu perintah trasfer. Namun karena setelah itu ternyata tetap masih berlarut larut, maka wajar saja bila engineer menduga bahwa penundaan ini pasti disebabkan oleh hal prinsip yang wilayahnya bukan di level PTDI atau KAI. Dan benar saja ternyata bukan “hanya” sekedar urusan visa, tetapi syarat untuk diterbitkannya Visa e-3 inilah yang menyebabkan penundaan itu. Untuk menjaga semangat tim, CE dengan sabar terus menginformasikan setiap update perkembangan status segala hal yang berhubungan dengan recana keberangkatan tim, sekecil apapun.

Akhirnya satu persatu syarat-syarat tersebut dapat diselesaikan alias urusan visa dijamin akan beres, meskipun secara fisik visa belum ditangan alias masih dalam proses di Kedutan Korea, dan tiket masih di agen yang semoga masih ada kursi untuk keberangkatan 62 orang. CE meyakinkan para engineer bahwa visa dan tiket akan beres 1 hari sebelum keberangkatan tanggal 21 September 2016. Begitu yakinnya akan jadwal keberangkatan maka koper dan isinya juga sudah mulai disiapkan. Untuk mencegah kemungkinan total loss engineer dan juga mungkin karena ketersediaan tiket maka rombongan dibagi menjadi dua kloter yaitu kloter jalur Garuda Jakarta-Incheon, dan kloter Garuda Jakarta-Bali-Incheon. Sembari menyiapkan koper dan isinya, tidak terlalu jelas asbabul nuzulnya, tiba-tiba saja datang usulan penting melalui WA untuk alasan keamanan koper.

“Pak Gatot, karena banyaknya koper tim IF-X yang masuk ke bagasi pesawat, sebaiknya tiap koper diberi tanda pengenal misal pakai pita atau apalah. Dan juga untuk keamanan”

Disusuli lagi dengan,

“Warna pita merah dan putih atau pita biru saja sesuai lambang PTDI, jadi kita tahu kalau koper ada pita tersebut pasti milik tim IFX”

Kemudian ditanggapi oleh engineer lainnya sambil tersenyum,

“Pita Biru,...lambang bobotoh Persib Cak ? JJ

Nampaknya usulan ini bak gayung bersambut,

“In case koper kita tersesat ke tujuan lain, apa perlu kita pasang name tag yang ada alamat kita di Korea?”

Ditimpali dengan komentar engineer air combat sambil tertawa,

“Kasian cak Loyani kalau bumbu pecelnya nyasar ke Korea Utara, ... J J J

Atau komentar enginer konfigurasi dengan dialek jawa yang kental,

“biyuh biyuh, ribetnya bisa ngalahin urusan naik haji J J J

Usulan pita biru itu untuk rombongan barangkali merepresentasikan kehati-hatian, namun sekaligus menambah kerepotan. Betapa tidak, Garuda tentu saja sudah terbukti mempunyai sistem bagasi terstandard yang baik yang sedemikian rupa sehingga bagasi penumpang dapat dibawa dengan selamat sampai tujuan seiring dengan perjalanan penumpangnya. Dan tentu saja pita biru itu tidak akan dapat mencegah kalau memang akan nyasar alias ada kesalahan management bagasi. Kalaulah koper rombongan haji jumlahnya ratusan ribu yang memiliki warna, ukuran dan tanda yang sama, maka masih bisa dipahami diberi pita pembeda, tali atau apapun sebagai penanda sekedar agar memudahkan mengambil ketika bagasi sudah dibongkar dari badan pesawat.

Seiring dengan diskusi tentang pita biru, engineer masih menunggu satu syarat keberangkatan karena berhubungan langsung dengan hajat hidup para engineer itu selama di Korea, yaitu kerinduan mendengar denting suara Cliiing !!! dari HP mereka. Bisa dibayangkan bila HP 62 orang ini berbunyi serentak maka suara gemerincing yang salingbersaut “Cling.... Cling.... Cling....” akan benar-benar menjadi penanda keberangkatan tim ini ke Korea. Namun apa boleh buat, rindu biarlah rindu, semua harus bersabar menunggu. Berkali kali CE harus menyabarkan anggota timnya.

Kerinduan yang hebat untuk segera diberangkatkan, bayangan indah tentang rekening yang tumpah, serta keheningan menunggu denting Cliiing yang tak kunjung tiba, membawa perasaan “nglangut” hingga larut, hanyut terbawa lamunan melayang menembus jarak dan waktu, yang tiba-tiba saja telah mendudukkannya di kursi ruang rapat KAI berbaur bersama engineer KAI di Korea. Tidak terlalu jelas juga sebab musababnya tiba-tiba saja dia merasa duduk sebarisan dengan Kim, Park dan Lee, terlibat rapat serius membahas weapon system. Rapat itu kebetulan membahas bagaimana caranya agar weapon system yang akan diinstall di KF-X/IF-X ini berfungsi dan tepat sasaran alias tidak nyasar. Rapat ini begitu serius dan masing-masing pihak mencoba mempertahankan argumennya. Perdebatan yang tak kunjung selesai ini hanya membawa pada kebuntuan, hingga masing-masing pihak seperti sudah putus asa. Dalam suasana putus asa dan sudah lelah karena berdabat tanpa solusi, engineer PTDI ini mencoba berfikir untuk bisa berkontribusi, agar weapon2 itu tidak nyasar. Setelah merenung beberapa saat, tiba-tiba saja engineer ini tersenyum seindah senyumnya anak pengiklan susu di TV. Bersamaan senyum itu muncul suara denting gemerincing “Cling...Cling...Cling” di kepalanya sebagai tanda bahwa dia punya ide cemerlang. Dengan keyakinan tinggi akhirnya dia beranikan diri untuk meyampaikan ide cemerlangnya. Dengan bahasa Inggris yang jelas dia menyampaikan gagasannya.

“Mr. Kim, Mr. Park and Mr.Lee,....”

“Saya rasa tidak sulit untuk memastikan agar weapon-weapon yang akan diinstall ini tidak nyasar”.

Mendengar engineer weapon system PTDI menjelaskan, semua yang hadir menyimak dengan penuh harap.

Mr. Park tidak sabar menunggu. “Bagaimana caranya?”

Setelah menghela nafas beberapa tarikan, engineer PTDI ini menjelaskan,

“Ya, Saya rasa agar weapon-weapon ini tidak nyasar, di sirip kendali weapon weapon itu perlu di pasang pita biru”. Tentu saja engineer Korea itu pada bengong mendengar usulan aneh itu.

“Ya, tempelkan atau ikatkan pita biru di weapon itu, saya jamin tidak akan nyasar”.

Sambil menunggu respon dari orang-orang Korea ini, tiba-tiba saja engineer PTDI ini dikagetkan oleh sesuatu yang menyentuh pundaknya.

“Pak ayo cepet......”

“tuh sudah ditunggu oleh pak Sukat untuk segera tanda tangan Surat Perjanjian dan pakta Integritas di GPM !”

“Cliiing !”. Dia tersadar.

Dengan sedikit tergeragap, dia mencoba melangkahkan kaki menuju GPM mengikuti langkah temannya yang sudah mulai meninggalkannya.

Sacheon, 4 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar