Pita biru, Cliiing !!!
Mati Ketawa Gaya Korea (4)
Cliiing !!!,....sebuah bunyi ikonik denting atau semburat
suara yang memberi kesan warna suara nyaring, ceria, gembira, yang menandakan
keberhasilan. Dengan karakter seperti itu bunyi Cliiing ini sering kali dipakai
pada beberapa iklan TV untuk merangsang pembeli, seperti iklan sabun colek
jaman dulu yang dengan satu colekan berhasil membuat baju kotor jadi putih
bersih, Cliiing !!. Atau iklan mobil yang untuk mempromosikan kehebatannya
dalam hemat bahan bakar maka ikon yang digunakan adalah menjatuhkan koin receh
disertai bunyi ikonik Cliiing, cliiing, cliiing telah sanggup membawa mobil
dari Jakarta ke Bali. Atau yang lebih terkini, adalah iklan susu anak yang
dapat membuat anak jadi cerdas, dimana dalam iklan ditampilkan seorang anak
setelah minum susu tersebut tiba-tiba muncul suara ikonik, Cliiing !!!!
disertai bintang-bintang di atas kepalanya yang menandai munculnya ide
cemerlang akan sesuatu hal. Demikian pula Bank BNI, menggunakan bunyi ikonik
Cliiing itu juga untuk mengabarkan berita gembira bagi nasabahnya yang
menggunakan mobile banking sebagai penanda telah terjadi transaksi uang masuk
di rekeningnya. Tidak peduli berapa nilai yang masuk, pokoknya Cliiing !!!.
Sebagai engineer yang telah disiapkan untuk ditugaskan ke
Korea sekaligus nasabah Bank BNI, mereka telah mengalami penundaan keberangkatan
beberapa kali, yang tentu saja berpengaruh pada persiapan pribadi para
engineer, bukan saja urusan sambel pecel, rendang, dan abon, tetapi juga semangat
tim. Penundaan berkali kali ini sedikit banyak telah mengganggu pikiran
engineer. “Jadi nggak sih ini?”. Awalnya memang dipahami oleh engineer bahwa
penundaan ini disebabkan oleh hal hal teknis administratif yang memang harus
dilakukan seperti agenda screening oleh BAIS atau pembekalan oleh Menhan atau
urusan Visa, meskipun berita positifnya uang saku sudah siap dan tinggal
menunggu perintah trasfer. Namun karena setelah itu ternyata tetap masih
berlarut larut, maka wajar saja bila engineer menduga bahwa penundaan ini pasti
disebabkan oleh hal prinsip yang wilayahnya bukan di level PTDI atau KAI. Dan
benar saja ternyata bukan “hanya” sekedar urusan visa, tetapi syarat untuk
diterbitkannya Visa e-3 inilah yang menyebabkan penundaan itu. Untuk menjaga
semangat tim, CE dengan sabar terus menginformasikan setiap update perkembangan
status segala hal yang berhubungan dengan recana keberangkatan tim, sekecil
apapun.
Akhirnya satu persatu syarat-syarat tersebut dapat
diselesaikan alias urusan visa dijamin akan beres, meskipun secara fisik visa
belum ditangan alias masih dalam proses di Kedutan Korea, dan tiket masih di
agen yang semoga masih ada kursi untuk keberangkatan 62 orang. CE meyakinkan para
engineer bahwa visa dan tiket akan beres 1 hari sebelum keberangkatan tanggal
21 September 2016. Begitu yakinnya akan jadwal keberangkatan maka koper dan
isinya juga sudah mulai disiapkan. Untuk mencegah kemungkinan total loss engineer
dan juga mungkin karena ketersediaan tiket maka rombongan dibagi menjadi dua kloter
yaitu kloter jalur Garuda Jakarta-Incheon, dan kloter Garuda Jakarta-Bali-Incheon.
Sembari menyiapkan koper dan isinya, tidak terlalu jelas asbabul nuzulnya,
tiba-tiba saja datang usulan penting melalui WA untuk alasan keamanan koper.
“Pak Gatot, karena banyaknya koper tim IF-X yang masuk ke
bagasi pesawat, sebaiknya tiap koper diberi tanda pengenal misal pakai pita
atau apalah. Dan juga untuk keamanan”
Disusuli lagi dengan,
“Warna pita merah dan putih atau pita biru saja sesuai
lambang PTDI, jadi kita tahu kalau koper ada pita tersebut pasti milik tim IFX”
Kemudian ditanggapi oleh engineer lainnya sambil tersenyum,
“Pita Biru,...lambang bobotoh Persib Cak ? JJ
Nampaknya usulan ini bak gayung bersambut,
“In case koper kita tersesat ke tujuan lain, apa perlu kita
pasang name tag yang ada alamat kita di Korea?”
Ditimpali dengan komentar engineer air combat sambil
tertawa,
“Kasian cak Loyani kalau bumbu pecelnya nyasar ke Korea
Utara, ... J J J”
Atau komentar enginer konfigurasi dengan dialek jawa yang
kental,
“biyuh biyuh, ribetnya bisa ngalahin urusan naik haji J J J”
Usulan pita biru itu untuk rombongan barangkali merepresentasikan
kehati-hatian, namun sekaligus menambah kerepotan. Betapa tidak, Garuda tentu
saja sudah terbukti mempunyai sistem bagasi terstandard yang baik yang
sedemikian rupa sehingga bagasi penumpang dapat dibawa dengan selamat sampai
tujuan seiring dengan perjalanan penumpangnya. Dan tentu saja pita biru itu
tidak akan dapat mencegah kalau memang akan nyasar alias ada kesalahan
management bagasi. Kalaulah koper rombongan haji jumlahnya ratusan ribu yang
memiliki warna, ukuran dan tanda yang sama, maka masih bisa dipahami diberi
pita pembeda, tali atau apapun sebagai penanda sekedar agar memudahkan
mengambil ketika bagasi sudah dibongkar dari badan pesawat.
Seiring dengan diskusi tentang pita biru, engineer masih
menunggu satu syarat keberangkatan karena berhubungan langsung dengan hajat
hidup para engineer itu selama di Korea, yaitu kerinduan mendengar denting
suara Cliiing !!! dari HP mereka. Bisa dibayangkan bila HP 62 orang ini
berbunyi serentak maka suara gemerincing yang salingbersaut “Cling.... Cling....
Cling....” akan benar-benar menjadi penanda keberangkatan tim ini ke Korea.
Namun apa boleh buat, rindu biarlah rindu, semua harus bersabar menunggu.
Berkali kali CE harus menyabarkan anggota timnya.
Kerinduan yang hebat untuk segera diberangkatkan, bayangan
indah tentang rekening yang tumpah, serta keheningan menunggu denting Cliiing
yang tak kunjung tiba, membawa perasaan “nglangut” hingga larut, hanyut terbawa
lamunan melayang menembus jarak dan waktu, yang tiba-tiba saja telah mendudukkannya
di kursi ruang rapat KAI berbaur bersama engineer KAI di Korea. Tidak terlalu
jelas juga sebab musababnya tiba-tiba saja dia merasa duduk sebarisan dengan
Kim, Park dan Lee, terlibat
rapat serius membahas weapon system. Rapat itu kebetulan membahas
bagaimana caranya agar weapon system yang akan diinstall di KF-X/IF-X ini berfungsi
dan tepat sasaran alias tidak nyasar. Rapat ini begitu serius dan masing-masing
pihak mencoba mempertahankan argumennya. Perdebatan yang tak kunjung selesai
ini hanya membawa pada kebuntuan, hingga masing-masing pihak seperti sudah
putus asa. Dalam suasana putus asa dan sudah lelah karena berdabat tanpa
solusi, engineer PTDI ini mencoba berfikir untuk bisa berkontribusi, agar
weapon2 itu tidak nyasar. Setelah merenung beberapa saat, tiba-tiba saja
engineer ini tersenyum seindah senyumnya anak pengiklan susu di TV. Bersamaan
senyum itu muncul suara denting gemerincing “Cling...Cling...Cling” di
kepalanya sebagai tanda bahwa dia punya ide cemerlang. Dengan keyakinan tinggi
akhirnya dia beranikan diri untuk meyampaikan ide cemerlangnya. Dengan bahasa
Inggris yang jelas dia menyampaikan gagasannya.
“Mr. Kim, Mr. Park and Mr.Lee,....”
“Saya rasa tidak sulit untuk memastikan agar weapon-weapon
yang akan diinstall ini tidak nyasar”.
Mendengar engineer weapon system PTDI menjelaskan, semua
yang hadir menyimak dengan penuh harap.
Mr. Park tidak sabar menunggu. “Bagaimana caranya?”
Setelah menghela nafas beberapa tarikan, engineer PTDI ini
menjelaskan,
“Ya, Saya rasa agar weapon-weapon ini tidak nyasar, di sirip
kendali weapon weapon itu perlu di pasang pita biru”. Tentu saja engineer Korea
itu pada bengong mendengar usulan aneh itu.
“Ya, tempelkan atau ikatkan pita biru di weapon itu, saya
jamin tidak akan nyasar”.
Sambil menunggu respon dari orang-orang Korea ini, tiba-tiba
saja engineer PTDI ini dikagetkan oleh sesuatu yang menyentuh pundaknya.
“Pak ayo cepet......”
“tuh sudah ditunggu oleh pak Sukat untuk segera tanda tangan
Surat Perjanjian dan pakta Integritas di GPM !”
“Cliiing !”. Dia tersadar.
Dengan sedikit tergeragap, dia mencoba melangkahkan kaki menuju
GPM mengikuti langkah temannya yang sudah mulai meninggalkannya.
Sacheon, 4 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar