Eforia Pulang 4
Mati Ketawa Gaya Korea 33
Pulang, selalu
membahagiakan siapa saja apalagi sudah cukup lama meninggalkan tanah air tanpa
kunjungan istri sekalipun. Dengan perasan rindu yang menumpuk, maka begitu hari
H jadwal pulang tiba maka tak ada lagi kesedihan. Segala hal disikapi dengan
keceriaan. Urusan mengangkat koper bawaan yang besar dan berat hanya dilewati
dengan canda ceria. Biaya tambahan yang muncul untuk cicilan HP di bulan
terakhir yang harus tetep dibayar meskipun tidak menggunakannya juga dianggap
sepele. Apalagi harus membayar barang inventaris yang dilelang, meskipun
jatuhnya akan lebih mahal karena harus bayar ongkos bagasinya yang besar,
itupun sungguh dianggap enteng. Misalnya hasil lelang untuk gitar, bahwa selama
ini belum pernah pegang gitar apalagi memainkannya, bahwa jari jemari belum
tentu dapat mencakup semua dawai gitar, bahwa urusan membawanya juga rumit dan
memerlukan ongkos yang tidak murah, maka semua itu atas nama pulang dapat
dipandang sebagai “enjoy saja”.
Namun, untuk
perasaan di “fait accompli” urusan kontrak apartement yang sudah dianggap beres
memang agak sulit untuk menghindar dari perasaan kecewa, karena sisa tagihan
dan seluruh kewajiban sudah dibayar, bahkan sudah ada surat pernyataan bahwa
urusan apartemen telah beres. “nich lihat, bukti bahwa urusan aparemen sudah
beres, sudah saya bayar, dan sudah ada tandan tangan dia. Kalau masih ada yang
nggak beres mestinya dia katakan saat saya masih ada disitu kan?”,
penjelasannya dengan sedikit agak emosional. Kalau pun hal tersebut disampaikan
sebelum urusan apartemen dianggap beres mungkin segala sesuatunya masih bisa
didiskusikan atau diperdebatkan paling tidak. Barangkali yang membuat bener
bener hati terasa dongkol adalah ketika hati sudah diposisikan pada tingkat
kegembiraan tertinggi karena segala urusan beres dan perjalanan menuju pulang
sudah benar benar tinggal menghitung jam, kaki sudah melangkah di lantai
Airport Incheon, tiba-tiba bandul hati harus berayun di sisi seberang menjadi
kesedihan karena datangnya sms yang dititipkan. “Pak, uangnya jangan dirupiahkan
semua dulu”,. Begitu penerima sms meneruskan pesan dari Daejeon. Tanpa curiga
langsung dibalas, “Kenapa, ada apa?”. Dijelaskan dengan singkat, datar dan
padat, “Dipan (tempat tidur model Korea) apartemen Bapak rusak dan yang punya
minta diganti”. Dengan hati yang dicoba ditenang-tenangkan, hal tersebut
direspon dengan penuh kesabaran.
Dalam situasi
seperti ini sungguh tak ada yang dapat dilakukan, bahkan teman temannyapun tak
ada yang bisa membantu. Kartu SIM sudah dikembalikan, komunikasi ke perwakilan
yang masih ada di CRDC sungguh sulit dilakukan. Satu satunya cara meringankan
bebannya adalah mencoba memberikan support psikologis, “Sudahlah, mau gimana
lagi. Toh itu sudah terlanjur dibayar. Kalau di iklaskan ntar akan diganti yang
lebih besar kok pak!”, nasihat klise yang kalau benar benar meyakininya bukan
hal mustahil akan terjadi.
Karena jadwal
penerbangannya masih untuk keesokan pagi harinya maka obrolan malam itu di
hotel GoGo Incheon sering kali berputar putar urusan “fait accompli” pemilik
apartemen itu yang merugikan itu. “Ini bukan urusan 230 ribu won nya, tapi saya
merasa dihinakan”, begitu keluhnya. “Kalau memang itu kesalahan saya, pasti
saya bayar, 500 ribu won pun akan saya bayar!. Lha ini, waktu diperiksa di
depan saya semua dianggap beres, eeeee… setelah saya pergi kok baru di claim,
minta diganti baru lagi!. Apa nggak gila itu !! Padahal dipan itu waktu saya
datang memang sudah reyot”. Teman teman lain yang ada disitu hanya bisa
mendengarkan seluruh kesahnya, untuk ikut menyerap seluruh kekecewaannya. Untuk
agar tidak terlalu larut dalam kesedihan maka sesekali saja diselingi dengan
ledekan untuk mencairkan suasana. “Lho pak, sampeyan kan satu satunya engineer
yang tidak ditengok oleh istri tho?. Nggak masuk akal rasanya kalau dipan itu
bisa rusak parah”. Seperti mendapat dukungan maka komentar lain muncul “Lha
iya, wong engineer lain ada yang dikunjungi istrinya sampai 3 kali saja tidak
ada complain atau masalah tentang dipan, apalagi yang temanten baru itu yang
dikunjungi istrinya juga tidak ada masalah tentang dipan, lha kok sampayan bisa
gitu ya…!, emang sampeyan ngapain aja di dipan itu”. Langsung disamber dengan
komentar, “emang aku lompat lompat di dipan itu !”, yang langsung disambut tawa
oleh semuanya yang ada.
Yang lain menimpali,
“OK, sampeyan memang tidak dikunjungi istri, tetapi jangan jangan engineer
sebelah kamarmu yang berbadan besar itu yang sering tidur bersamamu di dipanmu
itu”, komentar yang disertai lirik dan aksen genit menggoda seakan akan ada
hubungan “special” antara dia dengan engineer berbadan besar itu. Tapi komentar
itu hanya disambut tawa karena itu adalah hal yang mustahil dapat terjadi
padanya.
“Sudahlah pak,
tidur sana !.. sudah hampir jam 10 lho. Besok harus bangun pagi karena jam 6.30
tepat kita akan di antar ke airport. Jangan telat. Terus, sebelum itu aku akan
masak indomie untuk sampeyan. Makanya urusan dipan nggak usah dipikirin lagi”.
Tawaran manis penutup malam itu yang hanya disambut senyuman.
Semua beranjak
ke peraduan masung-masing. Beberapa orang sudah langsung terlelap begitu kepala
menempel di bantal, bahkan begitu khusuk dan lelapnya tidur hingga tak terlalu
lama suara “mesin gergaji” meraung-raung di ruangan hotel itu yang bila
dihitung durasinya mungkin sudah dapat dihasilkan beberapa gelondong kayu hutan
yang berhasil di potong. “Ghrorrr…….…ghrorrrrrr…..” Namun begitu, tetep saja ada yang masih
merasakan eforia pulang ini seperti anak kecil yang akan melakukan perjalanan
wisata keesokan harinya, dimana semakin dekat hari H perjalanan maka mata
semakin sulit untuk dipejamkan. Pikiran sudah melayang kemana mana membayangkan
indahnya suasana pulang bertemu dengan istri, anak, saudara dan tetanggga di
tanah air. Kegembiraan dapat pulang sambil membagikan oleh oleh terindah dalam
hidupnya. Dalam suasana mata yang sulit dipejamkan ini maka alaternatif lain
yang dapat dilakukan adalah membuka Laptop, mambaca apasaja yang bisa dibaca,
menulis apa saja yang bisa ditulis, hingga membiarkan mata capek dengan
sendirinya. Berada di lantai 10 Gogo Hotel, saat itu terasa suasana malam yang
sepi di Incheon kecuali kerlap kerlip lampu di pesawat tanda lalu lalang
pesawat berbadan besar yang mulai landing secara periodik, serta suara “gergaji
mesin” yang maraung-raung secara teratur dalam irama yang khas. Dalam irama
teratur raungan “gergaji mesin” itu sesekali berhenti ketika dia berubah posisi
tidur. Begitu terjadi berulang-ulang.
Pada suatu
ketika, raungan “gergaji mesin” ini berhenti sesaat tetapi disertai dengan
suara atau ucapan yang tidak begitu jelas maknanya hanya sangat terasa bahwa
itu adalah yang diucapkan itu memiliki warna seperti sedang mengomelin
seseorang. Mengingat apa yang terjadi padanya sebelum tidur maka mungkin saja
omelan yang terbawa dalam mimpi itu adalah omelan atas kasus dipan
apartemennya. “Gherhmhrrmmohh….moh!”, “Heeehhhh…!”. Berulang ulang omelan itu
muncul, hingga membangkitkan perasan geli bagi yang kebetulan belum tidur atau
sudah bangun lebih awal. Apakah benar dia bermimpi sedang mengomelin seseorang,
atau dia ngomel tentang urusan dipannya, sungguh tidak ada yang tahu. Bahkan
saat dikonfirmasikan ketika dia sudah bangun, diapun tidak dapat berkomentar
apa apa, kecuali “aku ngelindur ya ?”, “emang aku ngomong apa?”. Yang
menyaksikan kejadian itu menjawab, “sampeyan sedang memarahi si dia ya !”. yang
hanya dibalas dengan senyuman karena indomie hangat dengan aroma sedap khas
Indonesia sudah tersaji dihadapannya menuntut untuk segera disantap agar
mangkoknya dapat segera dipakai teman berikutnya.
Bandung, 11 Desember 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar