Jumat, 07 Oktober 2016

Eforia Pulang 4


Eforia Pulang 4

Mati Ketawa Gaya Korea 33

Pulang, selalu membahagiakan siapa saja apalagi sudah cukup lama meninggalkan tanah air tanpa kunjungan istri sekalipun. Dengan perasan rindu yang menumpuk, maka begitu hari H jadwal pulang tiba maka tak ada lagi kesedihan. Segala hal disikapi dengan keceriaan. Urusan mengangkat koper bawaan yang besar dan berat hanya dilewati dengan canda ceria. Biaya tambahan yang muncul untuk cicilan HP di bulan terakhir yang harus tetep dibayar meskipun tidak menggunakannya juga dianggap sepele. Apalagi harus membayar barang inventaris yang dilelang, meskipun jatuhnya akan lebih mahal karena harus bayar ongkos bagasinya yang besar, itupun sungguh dianggap enteng. Misalnya hasil lelang untuk gitar, bahwa selama ini belum pernah pegang gitar apalagi memainkannya, bahwa jari jemari belum tentu dapat mencakup semua dawai gitar, bahwa urusan membawanya juga rumit dan memerlukan ongkos yang tidak murah, maka semua itu atas nama pulang dapat dipandang sebagai “enjoy saja”.

Namun, untuk perasaan di “fait accompli” urusan kontrak apartement yang sudah dianggap beres memang agak sulit untuk menghindar dari perasaan kecewa, karena sisa tagihan dan seluruh kewajiban sudah dibayar, bahkan sudah ada surat pernyataan bahwa urusan apartemen telah beres. “nich lihat, bukti bahwa urusan aparemen sudah beres, sudah saya bayar, dan sudah ada tandan tangan dia. Kalau masih ada yang nggak beres mestinya dia katakan saat saya masih ada disitu kan?”, penjelasannya dengan sedikit agak emosional. Kalau pun hal tersebut disampaikan sebelum urusan apartemen dianggap beres mungkin segala sesuatunya masih bisa didiskusikan atau diperdebatkan paling tidak. Barangkali yang membuat bener bener hati terasa dongkol adalah ketika hati sudah diposisikan pada tingkat kegembiraan tertinggi karena segala urusan beres dan perjalanan menuju pulang sudah benar benar tinggal menghitung jam, kaki sudah melangkah di lantai Airport Incheon, tiba-tiba bandul hati harus berayun di sisi seberang menjadi kesedihan karena datangnya sms yang dititipkan. “Pak, uangnya jangan dirupiahkan semua dulu”,. Begitu penerima sms meneruskan pesan dari Daejeon. Tanpa curiga langsung dibalas, “Kenapa, ada apa?”. Dijelaskan dengan singkat, datar dan padat, “Dipan (tempat tidur model Korea) apartemen Bapak rusak dan yang punya minta diganti”. Dengan hati yang dicoba ditenang-tenangkan, hal tersebut direspon dengan penuh kesabaran.

Dalam situasi seperti ini sungguh tak ada yang dapat dilakukan, bahkan teman temannyapun tak ada yang bisa membantu. Kartu SIM sudah dikembalikan, komunikasi ke perwakilan yang masih ada di CRDC sungguh sulit dilakukan. Satu satunya cara meringankan bebannya adalah mencoba memberikan support psikologis, “Sudahlah, mau gimana lagi. Toh itu sudah terlanjur dibayar. Kalau di iklaskan ntar akan diganti yang lebih besar kok pak!”, nasihat klise yang kalau benar benar meyakininya bukan hal mustahil akan terjadi.

Karena jadwal penerbangannya masih untuk keesokan pagi harinya maka obrolan malam itu di hotel GoGo Incheon sering kali berputar putar urusan “fait accompli” pemilik apartemen itu yang merugikan itu. “Ini bukan urusan 230 ribu won nya, tapi saya merasa dihinakan”, begitu keluhnya. “Kalau memang itu kesalahan saya, pasti saya bayar, 500 ribu won pun akan saya bayar!. Lha ini, waktu diperiksa di depan saya semua dianggap beres, eeeee… setelah saya pergi kok baru di claim, minta diganti baru lagi!. Apa nggak gila itu !! Padahal dipan itu waktu saya datang memang sudah reyot”. Teman teman lain yang ada disitu hanya bisa mendengarkan seluruh kesahnya, untuk ikut menyerap seluruh kekecewaannya. Untuk agar tidak terlalu larut dalam kesedihan maka sesekali saja diselingi dengan ledekan untuk mencairkan suasana. “Lho pak, sampeyan kan satu satunya engineer yang tidak ditengok oleh istri tho?. Nggak masuk akal rasanya kalau dipan itu bisa rusak parah”. Seperti mendapat dukungan maka komentar lain muncul “Lha iya, wong engineer lain ada yang dikunjungi istrinya sampai 3 kali saja tidak ada complain atau masalah tentang dipan, apalagi yang temanten baru itu yang dikunjungi istrinya juga tidak ada masalah tentang dipan, lha kok sampayan bisa gitu ya…!, emang sampeyan ngapain aja di dipan itu”. Langsung disamber dengan komentar, “emang aku lompat lompat di dipan itu !”, yang langsung disambut tawa oleh semuanya yang ada.

Yang lain menimpali, “OK, sampeyan memang tidak dikunjungi istri, tetapi jangan jangan engineer sebelah kamarmu yang berbadan besar itu yang sering tidur bersamamu di dipanmu itu”, komentar yang disertai lirik dan aksen genit menggoda seakan akan ada hubungan “special” antara dia dengan engineer berbadan besar itu. Tapi komentar itu hanya disambut tawa karena itu adalah hal yang mustahil dapat terjadi padanya.

“Sudahlah pak, tidur sana !.. sudah hampir jam 10 lho. Besok harus bangun pagi karena jam 6.30 tepat kita akan di antar ke airport. Jangan telat. Terus, sebelum itu aku akan masak indomie untuk sampeyan. Makanya urusan dipan nggak usah dipikirin lagi”. Tawaran manis penutup malam itu yang hanya disambut senyuman.

Semua beranjak ke peraduan masung-masing. Beberapa orang sudah langsung terlelap begitu kepala menempel di bantal, bahkan begitu khusuk dan lelapnya tidur hingga tak terlalu lama suara “mesin gergaji” meraung-raung di ruangan hotel itu yang bila dihitung durasinya mungkin sudah dapat dihasilkan beberapa gelondong kayu hutan yang berhasil di potong. “Ghrorrr…….…ghrorrrrrr…..”  Namun begitu, tetep saja ada yang masih merasakan eforia pulang ini seperti anak kecil yang akan melakukan perjalanan wisata keesokan harinya, dimana semakin dekat hari H perjalanan maka mata semakin sulit untuk dipejamkan. Pikiran sudah melayang kemana mana membayangkan indahnya suasana pulang bertemu dengan istri, anak, saudara dan tetanggga di tanah air. Kegembiraan dapat pulang sambil membagikan oleh oleh terindah dalam hidupnya. Dalam suasana mata yang sulit dipejamkan ini maka alaternatif lain yang dapat dilakukan adalah membuka Laptop, mambaca apasaja yang bisa dibaca, menulis apa saja yang bisa ditulis, hingga membiarkan mata capek dengan sendirinya. Berada di lantai 10 Gogo Hotel, saat itu terasa suasana malam yang sepi di Incheon kecuali kerlap kerlip lampu di pesawat tanda lalu lalang pesawat berbadan besar yang mulai landing secara periodik, serta suara “gergaji mesin” yang maraung-raung secara teratur dalam irama yang khas. Dalam irama teratur raungan “gergaji mesin” itu sesekali berhenti ketika dia berubah posisi tidur. Begitu terjadi berulang-ulang.

Pada suatu ketika, raungan “gergaji mesin” ini berhenti sesaat tetapi disertai dengan suara atau ucapan yang tidak begitu jelas maknanya hanya sangat terasa bahwa itu adalah yang diucapkan itu memiliki warna seperti sedang mengomelin seseorang. Mengingat apa yang terjadi padanya sebelum tidur maka mungkin saja omelan yang terbawa dalam mimpi itu adalah omelan atas kasus dipan apartemennya. “Gherhmhrrmmohh….moh!”, “Heeehhhh…!”. Berulang ulang omelan itu muncul, hingga membangkitkan perasan geli bagi yang kebetulan belum tidur atau sudah bangun lebih awal. Apakah benar dia bermimpi sedang mengomelin seseorang, atau dia ngomel tentang urusan dipannya, sungguh tidak ada yang tahu. Bahkan saat dikonfirmasikan ketika dia sudah bangun, diapun tidak dapat berkomentar apa apa, kecuali “aku ngelindur ya ?”, “emang aku ngomong apa?”. Yang menyaksikan kejadian itu menjawab, “sampeyan sedang memarahi si dia ya !”. yang hanya dibalas dengan senyuman karena indomie hangat dengan aroma sedap khas Indonesia sudah tersaji dihadapannya menuntut untuk segera disantap agar mangkoknya dapat segera dipakai teman berikutnya.

Bandung, 11 Desember 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar