Jumat, 07 Oktober 2016

Annur juga di samping sungai…


Annur juga di samping sungai…
Mati Ketawa Gaya Korea 22

B

erada di negeri orang dalam bilangan waktu berbulan bulan tanpa kehadiran keluarga dituntut untuk mampu mengelola waktu agar tidak terjadi kejenuhan yang akan berdampak mengganggu produktifas pekerjaan. Bentuk dan cara masing masing individu dalam mengelola waktu ini sangat bervariasi, ada yang sangat puas dengan mendaki dari gunung ke gunung, ada yang cukup berkumpul, ngobrol sambil ngopi, ada yang menyenangi mengunjungi pasar yang itu itu juga, ada yang suka jalan jalan ke mall atau supermarket, ada yang cukup puas kalau bisa tidur seharian di apartemen, ada yang suka sepakbola, badminton, jogging, dan ada pula yang mengukur panjangnya sungai dengan cara menyusurinya.

Agak aneh sepertinya, kegiatan kok menyusuri sungai, berulang ulang lagi. Namun jangan salah, menyusuri sungai di Korea khususnya di Kota Daejeon (mungkin juga di kota lainnya) sangat berbeda apalagi dibandingkan dengan sungai sungai di tanah air yang masih begitu “alami”. Sungai sungai yang ada di Korea begitu lebar dan bersih airnya, tidak ada sampah yang menggenang, bahkan ikan pun begitu leluasa berenang kesana kemari serta burung bangau sering singgah untuk beristirahat tanpa takut diganggu. Sungai di Korea umumnya memang lebar lebar, dan di sisi kanan maupun kiri sungai itu masih tersedia tanah yang juga tidak kalah lebarnya sebelum akhirnya dibatasi oleh jalan raya. Terdapat beberapa anak sungai bercabang cabang di Daejeon yang akhirnya bermuara ke satu sungai terbesar yaitu Gapcheon Stream.

Sungai maupun tanah di kanan kirinya juga ditata sedemikian baiknya dan tak lupa selalu ada jalur atau track sekitar 1,5-2 meter untuk penghobi bersepeda ataupun jalan kaki, sehingga benar benar dapat menjadi sarana wisata keluarga. Jalur sepeda atau jalan kaki yang benar benar rata dan terawat dengan baik, sambung menyambung dari sungai satu ke sungai lainnya. Tak jarang pula di tempat tertentu disediakan fasilitas olah raga untuk umum termasuk disediakan fasilitas atau alat seperti yang ada di gymnasium body building. Bahkan sungai yang kebetulan berada dan membelah kota Daejeon atau tepatnya di Jungangno dibangun jembatan dengan arsitektur modern yang artistik dan tak lupa untuk sarana hiburan warganya di tengah  sungai dibangun instalasi air mancur yang dapat menari disertai tata pencahayaan yang indah untuk ditampilkan di malam hari.

Semua fasilitas itu disediakan oleh Negara secara gratis. Dalam 10 tahun terakhir memang pemerintah Korea sangat concern tentang perbaikan kualitas dan penataan sungai sehingga menjadi seperti sekarang ini, seperti diinformasikan oleh pengurus Mushola Annur yang terletak di Kota Daejeon. Pengurus ini sangat paham perubahan situasi sungainya karena Annur sendiri terletak di pertokoan lantai 3 dan kebetulan pula berada disamping sungai besar di Daejeon. Konon beberapa tahun yang lalu sebelum ditata, sungai ini begitu kotor, kumuh dan penuh sampah. Barangkali itulah sebabnya ongkos sewa ruangan untuk Mushola Annur ini begitu murah waktu itu. Sekarang semua berubah total.

Dengan kondisi dan fasilitas seperti itu maka tidak perlu kaget dan dipandang aneh bila ada yang mengelompokkan diri sebagai penyusur sungai sebagai media pengisi waktunya. Sarana rekreasi yang sehat dan murah.

Kelompok ini terdiri dari beberapa orang engineer dan engineer militer, sebuah kombinasi yang bagus. Sesuatu yang menyangkut urusan orientasi ruang, ataupun territory maka keberadaan engineer militer ini tentu sangat diandalkan. Meskipun keberadaan kedua orang engineer militer ini berlatar belakang angkatan laut namun tetep saja pengetahuan mereka tentang orientasi ruang sangat diperlukan, meskipun mungkin sempat diragukan, “emang peta laut sama seperti peta darat?”. Bahwa mereka terbiasa membaca peta laut yang tidak ada marka fisiknya maka itu tidak jadi soal. Pokoknya mereka pernah belajar membaca peta, titik. Apalagi selama di Korea ini mereka dilengkapi HP yang memiliki fasilitas GPS. Tidak ada alasan lagi untuk tidak dapat mencapai tempat tertentu yang dituju.

Pada satu hari libur yang cerah tim sudah merencanakan, untuk melakukan perjalanan menyusuri sungai antara kantor CRDC di Jijok yang kebetulan juga berada disamping sungai menuju Mushola Annur di Daejeon yang juga disamping sungai. Jarak kedua tempat itu tidak kurang dari 20 kilo meter. Peta sudah dilihat, rencana sudah disusun, keyakinan sudah bulat, “CRDC di samping sungai, Annur juga di samping sungai, masak nggak ketemu. Pasti ketemu!”. Logika penyemangat yang sangat sederhana.

Perjalanan dimulai, dengan kecepatan standar pejalan kaki yang kira kira 5 km/jam maka diharapkan dalam 4 – 5 jam Annur sudah akan dapat dicapai. Suasana ceria, sendau gurau disertai beberapa kali berhenti sekedar untuk menikmati apasaja yang pantas dinikmati. Tanpa terasa hari semakin siang dan matahari semakin tinggi. Dengan udara yang semakin panas maka keinginan untuk secepatnya sampai di tujuan menjadi hal yang sangat wajar. Tetapi ada hukum alam yang berbunyi “ketergesaan melupakan kehati hatian, percaya diri yang berlebih sering berbuah kelengahan”. Keyakinan yang berlebihan akan jalur yang merasa sudah dihapalkan, berbuah jadi masalah. Sementara GPS sebagai alat bantu canggih dianggap merepotkan karena untuk melihatnya dengan jelas dalam cahaya terik matahari perlu mencari tempat yang teduh yang kebetulan tidak mudah harus dicari.

Dengan demikian setiap kali ketemu persimpangan sungai maka pilihan arah berikutnya lebih ditentukan berdasar intusi.

Perjalanan telah melampaui target waktu yang direncanakan tetapi tujuan belum ada tanda tanda akan sampai. Keraguan mulai muncul, “Jangan jangan salah arah ya?”, itu yang terpikirkan. Sementara sebagian lainnya masih meyakini bahwa berdasar logika yang dia bangun sendiri pilihan jalurnya mestinya sudah tepat. Satu hal yang tak terbantahkan adalah kalau memang pilihan jalur sudah benar maka dalam kurun waktu perjalanan yang sudah dilewati mestinya Annur sebagai tujuan sudah dapat dicapai. Bahwa kenyataannya sekarang belum sampai bahkan mereka tidak tahu posisi sedang ada dimana, maka sudah sewajarnya bila mereka harus mempercayakan alat canggih yang dibawa, yaitu GPS. Sebelum kesalahan ini berlarut larut, maka dicarilah tempat yang agak teduh untuk melihat dimana posisi mereka saat itu. Ternyata keraguan mereka benar. Mereka telah mengambil pilihan yang salah saat bertemu pada beberapa persimpangan sungai sebelumnya. Sementara hari semakin panas dan mereka sudah terlampau jauh “tersesat” maka pilihan yang paling bijak adalah tidak perlu malu dengan membatalkan rencana jalan kaki dan mencari halte terdekat untuk mencari Bus. Annur tetap menjadi tujuan, agar kegagalan prosesnya dapat sedikit tertutupi dan terobati. Sesampai di Annur rasa capek yang amat sangat merangsang tuan rumah untuk bertanya, dan jawaban sekenanyalah yang keluar, “ya tadi tersesat karena mencoba jalan kaki dari Jijok”.

Atas jawaban itu hanya kernyitan alis mata respon yang muncul sebagai tanda keheranan “Jijok Daejoen, Jalan kaki?”

CRDC memang di samping sungai, dan Annur juga disamping sungai, so?

Daejeon, Oktober 31 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar