Annur juga di samping sungai…
Mati Ketawa Gaya Korea 22
|
B
|
erada di negeri orang dalam bilangan waktu berbulan
bulan tanpa kehadiran keluarga dituntut untuk mampu mengelola waktu agar tidak
terjadi kejenuhan yang akan berdampak mengganggu produktifas pekerjaan. Bentuk
dan cara masing masing individu dalam mengelola waktu ini sangat bervariasi,
ada yang sangat puas dengan mendaki dari gunung ke gunung, ada yang cukup
berkumpul, ngobrol sambil ngopi, ada yang menyenangi mengunjungi pasar yang itu
itu juga, ada yang suka jalan jalan ke mall atau supermarket, ada yang cukup
puas kalau bisa tidur seharian di apartemen, ada yang suka sepakbola,
badminton, jogging, dan ada pula yang mengukur panjangnya sungai dengan cara
menyusurinya.
Agak aneh sepertinya, kegiatan kok menyusuri sungai,
berulang ulang lagi. Namun jangan salah, menyusuri sungai di Korea khususnya di
Kota Daejeon (mungkin juga di kota lainnya) sangat berbeda apalagi dibandingkan
dengan sungai sungai di tanah air yang masih begitu “alami”. Sungai sungai yang
ada di Korea begitu lebar dan bersih airnya, tidak ada sampah yang menggenang,
bahkan ikan pun begitu leluasa berenang kesana kemari serta burung bangau
sering singgah untuk beristirahat tanpa takut diganggu. Sungai di Korea umumnya
memang lebar lebar, dan di sisi kanan maupun kiri sungai itu masih tersedia
tanah yang juga tidak kalah lebarnya sebelum akhirnya dibatasi oleh jalan raya.
Terdapat beberapa anak sungai bercabang cabang di Daejeon yang akhirnya
bermuara ke satu sungai terbesar yaitu Gapcheon Stream.
Sungai maupun tanah di kanan kirinya juga ditata
sedemikian baiknya dan tak lupa selalu ada jalur atau track sekitar 1,5-2 meter
untuk penghobi bersepeda ataupun jalan kaki, sehingga benar benar dapat menjadi
sarana wisata keluarga. Jalur sepeda atau jalan kaki yang benar benar rata dan
terawat dengan baik, sambung menyambung dari sungai satu ke sungai lainnya. Tak
jarang pula di tempat tertentu disediakan fasilitas olah raga untuk umum
termasuk disediakan fasilitas atau alat seperti yang ada di gymnasium body
building. Bahkan sungai yang kebetulan berada dan membelah kota Daejeon atau
tepatnya di Jungangno dibangun jembatan dengan arsitektur modern yang artistik
dan tak lupa untuk sarana hiburan warganya di tengah sungai dibangun
instalasi air mancur yang dapat menari disertai tata pencahayaan yang indah
untuk ditampilkan di malam hari.
Semua fasilitas itu disediakan oleh Negara secara
gratis. Dalam 10 tahun terakhir memang pemerintah Korea sangat concern tentang
perbaikan kualitas dan penataan sungai sehingga menjadi seperti sekarang ini,
seperti diinformasikan oleh pengurus Mushola Annur yang terletak di Kota
Daejeon. Pengurus ini sangat paham perubahan situasi sungainya karena Annur
sendiri terletak di pertokoan lantai 3 dan kebetulan pula berada disamping
sungai besar di Daejeon. Konon beberapa tahun yang lalu sebelum ditata, sungai
ini begitu kotor, kumuh dan penuh sampah. Barangkali itulah sebabnya ongkos
sewa ruangan untuk Mushola Annur ini begitu murah waktu itu. Sekarang semua
berubah total.
Dengan kondisi dan fasilitas seperti itu maka tidak
perlu kaget dan dipandang aneh bila ada yang mengelompokkan diri sebagai
penyusur sungai sebagai media pengisi waktunya. Sarana rekreasi yang sehat dan
murah.
Kelompok ini terdiri dari beberapa orang engineer
dan engineer militer, sebuah kombinasi yang bagus. Sesuatu yang menyangkut
urusan orientasi ruang, ataupun territory maka keberadaan engineer militer ini
tentu sangat diandalkan. Meskipun keberadaan kedua orang engineer militer ini
berlatar belakang angkatan laut namun tetep saja pengetahuan mereka tentang
orientasi ruang sangat diperlukan, meskipun mungkin sempat diragukan, “emang
peta laut sama seperti peta darat?”. Bahwa mereka terbiasa membaca peta laut
yang tidak ada marka fisiknya maka itu tidak jadi soal. Pokoknya mereka pernah
belajar membaca peta, titik. Apalagi selama di Korea ini mereka dilengkapi HP
yang memiliki fasilitas GPS. Tidak ada alasan lagi untuk tidak dapat mencapai
tempat tertentu yang dituju.
Pada satu hari libur yang cerah tim sudah
merencanakan, untuk melakukan perjalanan menyusuri sungai antara kantor CRDC di
Jijok yang kebetulan juga berada disamping sungai menuju Mushola Annur di
Daejeon yang juga disamping sungai. Jarak kedua tempat itu tidak kurang dari 20
kilo meter. Peta sudah dilihat, rencana sudah disusun, keyakinan sudah bulat,
“CRDC di samping sungai, Annur juga di samping sungai, masak nggak ketemu.
Pasti ketemu!”. Logika penyemangat yang sangat sederhana.
Perjalanan dimulai, dengan kecepatan standar pejalan
kaki yang kira kira 5 km/jam maka diharapkan dalam 4 – 5 jam Annur sudah akan
dapat dicapai. Suasana ceria, sendau gurau disertai beberapa kali berhenti
sekedar untuk menikmati apasaja yang pantas dinikmati. Tanpa terasa hari
semakin siang dan matahari semakin tinggi. Dengan udara yang semakin panas maka
keinginan untuk secepatnya sampai di tujuan menjadi hal yang sangat wajar.
Tetapi ada hukum alam yang berbunyi “ketergesaan melupakan kehati hatian,
percaya diri yang berlebih sering berbuah kelengahan”. Keyakinan yang
berlebihan akan jalur yang merasa sudah dihapalkan, berbuah jadi masalah.
Sementara GPS sebagai alat bantu canggih dianggap merepotkan karena untuk
melihatnya dengan jelas dalam cahaya terik matahari perlu mencari tempat yang
teduh yang kebetulan tidak mudah harus dicari.
Dengan demikian setiap kali ketemu persimpangan
sungai maka pilihan arah berikutnya lebih ditentukan berdasar intusi.
Perjalanan telah melampaui target waktu yang
direncanakan tetapi tujuan belum ada tanda tanda akan sampai. Keraguan mulai
muncul, “Jangan jangan salah arah ya?”, itu yang terpikirkan. Sementara
sebagian lainnya masih meyakini bahwa berdasar logika yang dia bangun sendiri
pilihan jalurnya mestinya sudah tepat. Satu hal yang tak terbantahkan adalah
kalau memang pilihan jalur sudah benar maka dalam kurun waktu perjalanan yang sudah
dilewati mestinya Annur sebagai tujuan sudah dapat dicapai. Bahwa kenyataannya
sekarang belum sampai bahkan mereka tidak tahu posisi sedang ada dimana, maka
sudah sewajarnya bila mereka harus mempercayakan alat canggih yang dibawa,
yaitu GPS. Sebelum kesalahan ini berlarut larut, maka dicarilah tempat yang
agak teduh untuk melihat dimana posisi mereka saat itu. Ternyata keraguan
mereka benar. Mereka telah mengambil pilihan yang salah saat bertemu pada
beberapa persimpangan sungai sebelumnya. Sementara hari semakin panas dan
mereka sudah terlampau jauh “tersesat” maka pilihan yang paling bijak adalah
tidak perlu malu dengan membatalkan rencana jalan kaki dan mencari halte
terdekat untuk mencari Bus. Annur tetap menjadi tujuan, agar kegagalan
prosesnya dapat sedikit tertutupi dan terobati. Sesampai di Annur rasa capek
yang amat sangat merangsang tuan rumah untuk bertanya, dan jawaban sekenanyalah
yang keluar, “ya tadi tersesat karena mencoba jalan kaki dari Jijok”.
Atas jawaban itu hanya kernyitan alis mata respon
yang muncul sebagai tanda keheranan “Jijok Daejoen, Jalan kaki?”
CRDC memang di samping sungai, dan Annur juga
disamping sungai, so?
Daejeon,
Oktober 31 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar