Kopi 25 ribu rupiah, Pahit
lagi…
Mati Ketawa gaya Korea 4
|
P
|
enampilannya
begitu sederhana dan lugas. Tidak ada rasa ewuh pekewuh. Sesuatu yang dirasa
kurang nyaman dihatinya maka dia tidak sungkan untuk ungkapkan. Tentu dia
meniatkan agar orang tahu bahwa apa yang diucapkan itulah yang dia rasakan.
Tapi jangan sekali kali berbasa basi menawarkan apapun kalau memang tidak
meniatkan untuk memberi. Tidak ada kata basa basi baginya. Semuanya basa. Maka
wajar kalau dia berprinsip, "yang penting apa adanya bukan ada
apanya".
Sahabat kita ini
memang kehadirannya di Korea setelah enam bulan dari sejak teman-teman lainnya
menjalankan tugas. Sebagai "junior", alias pendatang baru maka tidak
ada pilihan lain kecuali harus menyesuaikan diri dengan "adat
istiadat" yang sudah dilakukan oleh pendahulunya. Termasuk di dalamnya
acara ngopi bareng setiap malam minggu di "Coffe Malik". Coffe Malik
sendiri sebenarnya adalah sebuah Caffe milik orang Korea yang kebetulan
terletak di lantai paling bawah apartemen yang ditempati pak Malik dkk.
Tinggal di
negeri orang tanpa anak dan istri dalam waktu yang lama menjalani pekerjaan
keseharian yang sering kali menjemukan dan menjenuhkan maka ngopi bareng ini
menjadi sarana melemaskan urat syaraf dan pikiran, sambil ngobrol ngalor ngidul
sesuka hati yang nggak perlu referensi, rumus atau standard apapun juga. Boleh
tertawa sepuasnya sampai nunggu ditegur yang punya Caffe adalah hal biasa. Jadi
hadir ngopi bareng ini lebih untuk melepaskan beban yang mungkin menumpuk
selama lima hari kerja.
Seperti umumnya
sebuah Cafe, tempat ini menyediakan berbagai macam jenis coffee, mulai
Americano, white mocca, black cofee, dll, dlll. Dari segi harga memang berbeda
dengan warung kopi yang ada kebanyakan di Indonesia. Kalau di warung kopi
Indonesia secangkir copy dihargai 5-10 ribu rupiah sudah dibilang mahal
(kecuali coffe yang menjual macam kopi luwak), maka di sini nggak ada pilihan
lain kecuali menerima kopi seharga mulai 3000 s/d 5000 won alias 25 ribu sampai
dengan 40 ribu rupiah. Barangkali harga yang pantas untuk sebuah Coffee. Harga
itu akan menjadi terasa mahal bila kita memang tidak pernah datang ke tempat
seperti itu.
Sahabat kita
yang baru datang ini, demi bisa masuk dalam komunitas baru secair cairnya
seakrab akrabnya maka kalau sebelumnya mungkin nggak pernah hadir di caffe
macam ini, suka nggak suka skarang harus ikut. Mungkin dia berfikir "ah
biar lancar penilaiannya, aku kan masih dinilai oleh CE". Begitu masuk di
ruang cafe, setiap yang hadir harus memesan, memilih dan membayar sendiri jenis
coffee yang disukainya. Jenis pilihan dan harga terpampang jelas di belakang
kasir. Bagi yang lain yang sudah sering hadir biasanya sudah hapal apa yang
dipesan. Tinggal ngomong bayar dan tunggu tidak terlalu lama maka kopi pesanan
sudah tersaji. Tetapi sahabat kita ini nampaknya ada kebimbangan di depan
kasir, tapi tidak tahu persis apa yang dibimbangkan. Namun tak lama kemudian
akhirnya dia sudah memutuskan dan membayar kopi yang dia pesan. Nampaknya dia
pesan kopi yang ada diurutan paling bawah.
Obrolan mulai
hangat, membicarakan berbagai hal termasuk kedunguan kita dalam mengikuti
budaya korea, atau mentertawakan kejadian di kelas bahasa korea yang selalu
saja ada bahan untuk ditertawakan. Tak lama kemudian panggilan dari kasir untuk
sahabat kita tadi datang. O…nampaknya kopi pesanan dia sudah siap. Dengan
tenang sahabat kita maju ke kasir untuk ambil kopi pesanan dia. Di sini dia
agak bimbang yang kedua kalinya. Sambil tengak-tengok seperti mencari sesuatu.
Sesekali juga menengok meja kami dan kawan-kawan seperti memastikan gelas,
ukuran dan jenis kopi yang telah kami pesan. Spertinya dia ragu, jangan-jangan
kasir ini salah panggil karena di meja kasir dia tidak melihat gelas dengan
ukuran yang serupa dengan gelas-gelas kami yang sudah pesan duluan. Di situ
hanya ada gelas kecil yang sudah terisi kopi hitam.
Dia menoleh ke
kasir dan kasir mengatakan "yes, that's your coffee". Dia masih nggak
percaya bertanya balik untuk memastikan, "is this my coffee?" Tentu
saja kasir menjawab dengan tegas Yes. Tidak terdengar jelas gumamnya, hanya
sepertinya agak kaget dan heran. Mungkin dia bertanya dalam hati, "masak
kopi seharga 25 ribu rupiah cuma sesloki gini? Pahit lagi?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar