Jumat, 07 Oktober 2016

Kopi 25 ribu rupiah, Pahit lagi…


Kopi 25 ribu rupiah, Pahit lagi…
Mati Ketawa gaya Korea 4

P

enampilannya begitu sederhana dan lugas. Tidak ada rasa ewuh pekewuh. Sesuatu yang dirasa kurang nyaman dihatinya maka dia tidak sungkan untuk ungkapkan. Tentu dia meniatkan agar orang tahu bahwa apa yang diucapkan itulah yang dia rasakan. Tapi jangan sekali kali berbasa basi menawarkan apapun kalau memang tidak meniatkan untuk memberi. Tidak ada kata basa basi baginya. Semuanya basa. Maka wajar kalau dia berprinsip, "yang penting apa adanya bukan ada apanya".

Sahabat kita ini memang kehadirannya di Korea setelah enam bulan dari sejak teman-teman lainnya menjalankan tugas. Sebagai "junior", alias pendatang baru maka tidak ada pilihan lain kecuali harus menyesuaikan diri dengan "adat istiadat" yang sudah dilakukan oleh pendahulunya. Termasuk di dalamnya acara ngopi bareng setiap malam minggu di "Coffe Malik". Coffe Malik sendiri sebenarnya adalah sebuah Caffe milik orang Korea yang kebetulan terletak di lantai paling bawah apartemen yang ditempati pak Malik dkk.

Tinggal di negeri orang tanpa anak dan istri dalam waktu yang lama menjalani pekerjaan keseharian yang sering kali menjemukan dan menjenuhkan maka ngopi bareng ini menjadi sarana melemaskan urat syaraf dan pikiran, sambil ngobrol ngalor ngidul sesuka hati yang nggak perlu referensi, rumus atau standard apapun juga. Boleh tertawa sepuasnya sampai nunggu ditegur yang punya Caffe adalah hal biasa. Jadi hadir ngopi bareng ini lebih untuk melepaskan beban yang mungkin menumpuk selama lima hari kerja.

Seperti umumnya sebuah Cafe, tempat ini menyediakan berbagai macam jenis coffee, mulai Americano, white mocca, black cofee, dll, dlll. Dari segi harga memang berbeda dengan warung kopi yang ada kebanyakan di Indonesia. Kalau di warung kopi Indonesia secangkir copy dihargai 5-10 ribu rupiah sudah dibilang mahal (kecuali coffe yang menjual macam kopi luwak), maka di sini nggak ada pilihan lain kecuali menerima kopi seharga mulai 3000 s/d 5000 won alias 25 ribu sampai dengan 40 ribu rupiah. Barangkali harga yang pantas untuk sebuah Coffee. Harga itu akan menjadi terasa mahal bila kita memang tidak pernah datang ke tempat seperti itu.

Sahabat kita yang baru datang ini, demi bisa masuk dalam komunitas baru secair cairnya seakrab akrabnya maka kalau sebelumnya mungkin nggak pernah hadir di caffe macam ini, suka nggak suka skarang harus ikut. Mungkin dia berfikir "ah biar lancar penilaiannya, aku kan masih dinilai oleh CE". Begitu masuk di ruang cafe, setiap yang hadir harus memesan, memilih dan membayar sendiri jenis coffee yang disukainya. Jenis pilihan dan harga terpampang jelas di belakang kasir. Bagi yang lain yang sudah sering hadir biasanya sudah hapal apa yang dipesan. Tinggal ngomong bayar dan tunggu tidak terlalu lama maka kopi pesanan sudah tersaji. Tetapi sahabat kita ini nampaknya ada kebimbangan di depan kasir, tapi tidak tahu persis apa yang dibimbangkan. Namun tak lama kemudian akhirnya dia sudah memutuskan dan membayar kopi yang dia pesan. Nampaknya dia pesan kopi yang ada diurutan paling bawah.

Obrolan mulai hangat, membicarakan berbagai hal termasuk kedunguan kita dalam mengikuti budaya korea, atau mentertawakan kejadian di kelas bahasa korea yang selalu saja ada bahan untuk ditertawakan. Tak lama kemudian panggilan dari kasir untuk sahabat kita tadi datang. O…nampaknya kopi pesanan dia sudah siap. Dengan tenang sahabat kita maju ke kasir untuk ambil kopi pesanan dia. Di sini dia agak bimbang yang kedua kalinya. Sambil tengak-tengok seperti mencari sesuatu. Sesekali juga menengok meja kami dan kawan-kawan seperti memastikan gelas, ukuran dan jenis kopi yang telah kami pesan. Spertinya dia ragu, jangan-jangan kasir ini salah panggil karena di meja kasir dia tidak melihat gelas dengan ukuran yang serupa dengan gelas-gelas kami yang sudah pesan duluan. Di situ hanya ada gelas kecil yang sudah terisi kopi hitam.

Dia menoleh ke kasir dan kasir mengatakan "yes, that's your coffee". Dia masih nggak percaya bertanya balik untuk memastikan, "is this my coffee?" Tentu saja kasir menjawab dengan tegas Yes. Tidak terdengar jelas gumamnya, hanya sepertinya agak kaget dan heran. Mungkin dia bertanya dalam hati, "masak kopi seharga 25 ribu rupiah cuma sesloki gini? Pahit lagi?"

 Daejeon, Mei 16 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar