Mati Ketawa Gaya Korea (5)
Ketua RT dan Raja adalah dua entitas yang berbeda yang tidak
saling terkait karena yang satu produk sistem administrasi negara demokrasi sedang
yang lainnya merupakan produk sistem negara monarki. Bagaimana hubungan ketua
RT dan Raja ini, mari kita lihat fakta dan harmoninya.
Jabatan ketua RT adalah jabatan struktural administratif terendah
yang paling mulia dalam sistem negara demokrasi, karena jabatan ini bersentuhan
langsung dengan segala” thethek mbengek” problematika warga atau masyarakat di
lingkungan ke RT an itu. Mulai urusan, kemiskinan, sampah, jalan berlubang, gorong-gorong,
pernikahan, perceraian, persengketaan keluarga atau antar tetangga, KB, kesehatan,
kesejahteraan, keamanan, pencurian, perampokan, pembunuhan dan lain-lainnya
yang hampir tidak sanggup untuk dituliskan semuanya selalu bermuara ke ketua RT.
Seperti dapat dilihat, semua problematika hidup warga ke RT an itu kalau
akhirnya jadi masalah, ujung-ujungnya pak RT lah yang harus turun tangan memberesinya,
pak RT lah yang menghadapinya, bahkan dalam hal-hal tertentu pak RT lah yang harus
berurusan dengan Polisi atau pengadilan untuk sebagai saksi. Jadi, ketua RT lah
satu satunya jabatan yang tidak pernah diperebutkan karena begitu besar beban,
tanggung jawab meskipun ada janji balasan kemuliaanNya.
Sementara itu, sebagian warga secara tidak adil meletakkan definisi
ideal kepada seorang ketua RT, misal ketua RT sebagai pemimpin harus melindungi,
mengayomi, menyejahterakan, menyehatkan dan melayani, tanpa mereka tahu bahwa ketua
RT tidak digaji, ketua RT juga punya tanggung jawab pribadi dan keluarga. Terkadang,
warga seakan tutup mata bahwa ketua RT harus berkorban waktu, tenaga, pikiran,
perasaan dan bahkan kadang biaya atau resiko nyawa. Dengan segudang pengorbanan
dan amalan itulah sebabnya mengapa jabatan ketua RT begitu mulia, karena dengan
modal keiklasannya insyaalloh jaminannya adalah surga. Bahwa capek, kesel,
kadang dongkol, itu tiketnya pak RT ke surga. (yang iklas ya pak RT.)
Dengan psikologi yang sama, urusan “bedol kampung” PTDI dari
Bandung ke Sacheon Korea ini juga harus dikelola administrasi ke warga annya, agar
urusan setiap warga yang ada di dalamnya terayomi, terlindungi, tersehatkan dan
terlayani karena di tempat yang baru yang namanya Sacheon ini benar-benar
wilayah asing yang belum pernah dikenal sebelumnya oleh warga “bedol kampung”
ini. Kebetulan kloter pertama ini diberangkatkan sejumlah 62 orang, apalagi nanti
dari kloter-kloter berikutnya akan berkembang menjadi 150 atau bahkan 200
orang, maka sangat perlu ditunjuk ketua-ketua RT untuk memudahkan segala urusan
administrasi ke warga annya, agar tidak mengganggu tujuan pokok dari “bedol
kampung” ini. Ketua-ketua RT ini lah yang akan “memantau, mengkoordinasikan dan
memastikan” bahwa “warga nya” tidak sakit, tidak kesasar, tidak hilang di
negeri orang, dan tidak terlambat ke kantor, disamping memastikan sekaligus mengkomunikasikan
dengan agen bila ada urusan sampah, gas tidak ngalir, listrik atau lampu mati,
internet macet, saluran mampet dan fasilitas lainnya. Tuh, tidak ada bedanya
dengan pak RT di kampung asal kan?. Jadi, pak RT pak RT ini benar-benar mewataki
ketua RT di Indonesia yang selama ini telah dikenali bersama. Beruntung, begitu pesawat mendarat di bandara Incheon Korea, beberapa orang sudah kejatuhan “pulung atau wahyu” jabatan ketua RT. Tanpa pelantikan, mereka sudah langsung bekerja. Itulah sifat dari “pulung atau wahyu” jatuh dari langit menyusup begitu saja ke dalam hati dan tidak menunggu juklak atau sertijab, langsung melekat. Karena untuk kloter 1 ini warga disebar di 5 apartemen, maka sebanyak apartemen itulah Ketua RT nya, yaitu :
Apartemen Hae Song Vill Robie Tawakkal
Apartemen Woojoo Vill Aman Surachman
Apartemen Modern House Sudarto
Apartemen Jangwon Vill C Jufi Wisapada
Apartemen Myungpoom A/B Bambang Sumantri Dwi Kartika
Kalau Raja?
Menurut konsep negara monarki, Raja adalah penguasa dan rakyat
mengakui kekuasaannya itu. Rakyat mengakui bahwa Raja lah pemilik segala
sesuatu di kerajaan itu, baik wilayah, harta benda maupun manusia. Oleh karena
itu terhadap Raja, rakyat dengan rela menjawab “ndherek karsa dalem” (terserah kepada kehendak raja), bahkan
diamnya, tatapan matanya, senyumnya, hingga terlambat nya Raja adalah kehendak Raja
yang harus dipahami. Dalam konsep ini, keagungan Raja memang dijaga untuk
mempersatukan rakyat sekaligus untuk wibawa dan kehormatan kerajaan. Sebagai
Raja yang besar, yang agung maka rakyat merasa perlu merawat ke agungan itu
dengan cara menghormati dan melayaninya.
Di alam demokrasi yang sudah berkembang ini, keberadaan Raja
lebih ditempatkan sebagai simbol ke agungan dan bukan lagi penguasa, sehingga
konteks kepemilikan wilayahnya seakan hilang tetapi konteks pelayanan untuk Raja
masih terus terjaga hingga sekarang. Namun demikian, di Sacheon ini ke agungan
Raja juga seperti sudah hilang atau bahkan tidak diperlukan lagi, tetapi konteks
pelayanannya yang tersisa dan masih dijaga. Padahal bukan maunya Raja untuk dilayani,
tetapi pak RT merasa perlu melayaninya sebagai bentuk tanggung jawabnya.
Kebetulan pulalah di apartemen Myungpoom A ini tinggal seorang
Raja. Sebagai Raja dia memang memiliki pesona seorang Raja, badan besar lambang
kemakmuran, aura kuat sehingga siapapun tidak kuasa untuk menghindar, cara
bertutur yang santun hingga semuanya tidak dapat menolak mengakui bahwa dia
adalah Raja. Dia memang pantas dipanggil Raja, karena dia memang Raja. Raja
sebagai pribadi yang supel, tidak mau menjaga jarak dengan sesamanya. Dia justru
perlu lebih dekat apalagi dengan yang sebayanya, sehingga sebagai bentuk kerendah
hatiannya maka untuk bergaul dengannya tidak perlu lagi lewat aturan atau protokol
khusus.
Meskipun begitu, Raja adalah Raja, dan pak RT adalah penguasa
Administratif sekaligus pengemban amanah pelayan masyarakat dimana Raja berada.
Ketika waktu sudah mendekati pukul 07.00, maka sungguh terasa siapa pak RT dan
siapa Raja. Sudah menjadi agenda rutin bagi pak RT untuk ngecek satu persatu
siapa saja warganya yang belum turun dari apatemen, satu persatu di cek, siapa
yang tidak atau belum membawa ID crad. Cukup dengan menghitung kepala, pak RT
tahu lengkap tidaknya. Khusus untuk Raja, pak RT sudah meminta kepada semua warga
untuk menyapa Raja dengan cara mengetuk pintunya.
Ketika Bus Suyeong merah penjemput sudah menampakkan diri
dari kejauhan, pak RT selalu saja mondar mandir sambil melongok ke arah Myungpoom
A. Nampak jelas kegelisahannya yang barangkali expresi dari bentuk tanggung
jawabnya. Dan sebagai bentuk kesetia kawanan warga, dalam situasi seperti itu biasanya
pak RT akan ditanya, “Siapa yang belum kelihatan pak?”. Dan seperti sudah hapal
juga, tanpa melihatpun semua tahu yang belum datang adalah Raja. Yang terlambat
adalah Raja. Dan karena yang terlambat adalah Raja, maka pak RT sebagai pelayan
hanya bisa maklum, dengan sabar menunggunya, karena begitulah Raja. Namun tidak
demikian dimata teman sebayanya, Raja adalah Raja, Raja adalah teman, Raja
adalah sahabat. Diantara mereka sudah luntur protokol ke Raja an nya, sehingga ketika
tahu bahwa Raja terlambat, tidak seperti pak RT yang hanya menunggu dengan sabar, tetapi
mereka berteriak :
“Raja, Ayo Cepeeettttt ....”
Mendengar itu Raja hanya tersenyum, dan sedikit mempercepat
langkah.
Begitu kaki Raja mulai di depan pintu masuk Bus, sopir bus
malah membentak, “Pali Pali, pali pali...!!!.”
Seluruh warga yang sudah menunggu di dalam bus hanya bisa bersorak, “Hidup
Raja....Hidup Raja....Hidup Raja...”
Sacheon, 9 Oktober 2016.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar