Minggu, 09 Oktober 2016

Pak RT dan Raja.

Pak RT dan Raja.
Mati Ketawa Gaya Korea (5)

Ketua RT dan Raja adalah dua entitas yang berbeda yang tidak saling terkait karena yang satu produk sistem administrasi negara demokrasi sedang yang lainnya merupakan produk sistem negara monarki. Bagaimana hubungan ketua RT dan Raja ini, mari kita lihat fakta dan harmoninya.
Jabatan ketua RT adalah jabatan struktural administratif terendah yang paling mulia dalam sistem negara demokrasi, karena jabatan ini bersentuhan langsung dengan segala” thethek mbengek” problematika warga atau masyarakat di lingkungan ke RT an itu. Mulai urusan, kemiskinan, sampah, jalan berlubang, gorong-gorong, pernikahan, perceraian, persengketaan keluarga atau antar tetangga, KB, kesehatan, kesejahteraan, keamanan, pencurian, perampokan, pembunuhan dan lain-lainnya yang hampir tidak sanggup untuk dituliskan semuanya selalu bermuara ke ketua RT. Seperti dapat dilihat, semua problematika hidup warga ke RT an itu kalau akhirnya jadi masalah, ujung-ujungnya pak RT lah yang harus turun tangan memberesinya, pak RT lah yang menghadapinya, bahkan dalam hal-hal tertentu pak RT lah yang harus berurusan dengan Polisi atau pengadilan untuk sebagai saksi. Jadi, ketua RT lah satu satunya jabatan yang tidak pernah diperebutkan karena begitu besar beban, tanggung jawab meskipun ada janji balasan kemuliaanNya.

Sementara itu, sebagian warga secara tidak adil meletakkan definisi ideal kepada seorang ketua RT, misal ketua RT sebagai pemimpin harus melindungi, mengayomi, menyejahterakan, menyehatkan dan melayani, tanpa mereka tahu bahwa ketua RT tidak digaji, ketua RT juga punya tanggung jawab pribadi dan keluarga. Terkadang, warga seakan tutup mata bahwa ketua RT harus berkorban waktu, tenaga, pikiran, perasaan dan bahkan kadang biaya atau resiko nyawa. Dengan segudang pengorbanan dan amalan itulah sebabnya mengapa jabatan ketua RT begitu mulia, karena dengan modal keiklasannya insyaalloh jaminannya adalah surga. Bahwa capek, kesel, kadang dongkol, itu tiketnya pak RT ke surga. (yang iklas ya pak RT.)
Dengan psikologi yang sama, urusan “bedol kampung” PTDI dari Bandung ke Sacheon Korea ini juga harus dikelola administrasi ke warga annya, agar urusan setiap warga yang ada di dalamnya terayomi, terlindungi, tersehatkan dan terlayani karena di tempat yang baru yang namanya Sacheon ini benar-benar wilayah asing yang belum pernah dikenal sebelumnya oleh warga “bedol kampung” ini. Kebetulan kloter pertama ini diberangkatkan sejumlah 62 orang, apalagi nanti dari kloter-kloter berikutnya akan berkembang menjadi 150 atau bahkan 200 orang, maka sangat perlu ditunjuk ketua-ketua RT untuk memudahkan segala urusan administrasi ke warga annya, agar tidak mengganggu tujuan pokok dari “bedol kampung” ini. Ketua-ketua RT ini lah yang akan “memantau, mengkoordinasikan dan memastikan” bahwa “warga nya” tidak sakit, tidak kesasar, tidak hilang di negeri orang, dan tidak terlambat ke kantor, disamping memastikan sekaligus mengkomunikasikan dengan agen bila ada urusan sampah, gas tidak ngalir, listrik atau lampu mati, internet macet, saluran mampet dan fasilitas lainnya. Tuh, tidak ada bedanya dengan pak RT di kampung asal kan?. Jadi, pak RT pak RT ini benar-benar mewataki ketua RT di Indonesia yang selama ini telah dikenali bersama.

Beruntung, begitu pesawat mendarat di bandara Incheon Korea, beberapa orang sudah kejatuhan “pulung atau wahyu” jabatan ketua RT. Tanpa pelantikan, mereka sudah langsung bekerja. Itulah sifat dari “pulung atau wahyu” jatuh dari langit menyusup begitu saja ke dalam hati dan tidak menunggu juklak atau sertijab, langsung melekat. Karena untuk kloter 1 ini warga disebar di 5 apartemen, maka sebanyak apartemen itulah Ketua RT nya, yaitu :

Apartemen Hae Song Vill                             Robie Tawakkal
Apartemen Woojoo Vill                               Aman Surachman
Apartemen Modern House                         Sudarto
Apartemen Jangwon Vill C                          Jufi Wisapada
Apartemen Myungpoom A/B                     Bambang Sumantri Dwi Kartika
 
Kalau Raja?
Menurut konsep negara monarki, Raja adalah penguasa dan rakyat mengakui kekuasaannya itu. Rakyat mengakui bahwa Raja lah pemilik segala sesuatu di kerajaan itu, baik wilayah, harta benda maupun manusia. Oleh karena itu terhadap Raja, rakyat dengan rela menjawab “ndherek karsa dalem” (terserah kepada kehendak raja), bahkan diamnya, tatapan matanya, senyumnya, hingga terlambat nya Raja adalah kehendak Raja yang harus dipahami. Dalam konsep ini, keagungan Raja memang dijaga untuk mempersatukan rakyat sekaligus untuk wibawa dan kehormatan kerajaan. Sebagai Raja yang besar, yang agung maka rakyat merasa perlu merawat ke agungan itu dengan cara menghormati dan melayaninya.

Di alam demokrasi yang sudah berkembang ini, keberadaan Raja lebih ditempatkan sebagai simbol ke agungan dan bukan lagi penguasa, sehingga konteks kepemilikan wilayahnya seakan hilang tetapi konteks pelayanan untuk Raja masih terus terjaga hingga sekarang. Namun demikian, di Sacheon ini ke agungan Raja juga seperti sudah hilang atau bahkan tidak diperlukan lagi, tetapi konteks pelayanannya yang tersisa dan masih dijaga. Padahal bukan maunya Raja untuk dilayani, tetapi pak RT merasa perlu melayaninya sebagai bentuk tanggung jawabnya.
Kebetulan pulalah di apartemen Myungpoom A ini tinggal seorang Raja. Sebagai Raja dia memang memiliki pesona seorang Raja, badan besar lambang kemakmuran, aura kuat sehingga siapapun tidak kuasa untuk menghindar, cara bertutur yang santun hingga semuanya tidak dapat menolak mengakui bahwa dia adalah Raja. Dia memang pantas dipanggil Raja, karena dia memang Raja. Raja sebagai pribadi yang supel, tidak mau menjaga jarak dengan sesamanya. Dia justru perlu lebih dekat apalagi dengan yang sebayanya, sehingga sebagai bentuk kerendah hatiannya maka untuk bergaul dengannya tidak perlu lagi lewat aturan atau protokol khusus.

Meskipun begitu, Raja adalah Raja, dan pak RT adalah penguasa Administratif sekaligus pengemban amanah pelayan masyarakat dimana Raja berada. Ketika waktu sudah mendekati pukul 07.00, maka sungguh terasa siapa pak RT dan siapa Raja. Sudah menjadi agenda rutin bagi pak RT untuk ngecek satu persatu siapa saja warganya yang belum turun dari apatemen, satu persatu di cek, siapa yang tidak atau belum membawa ID crad. Cukup dengan menghitung kepala, pak RT tahu lengkap tidaknya. Khusus untuk Raja, pak RT sudah meminta kepada semua warga untuk menyapa Raja dengan cara mengetuk pintunya.
Ketika Bus Suyeong merah penjemput sudah menampakkan diri dari kejauhan, pak RT selalu saja mondar mandir sambil melongok ke arah Myungpoom A. Nampak jelas kegelisahannya yang barangkali expresi dari bentuk tanggung jawabnya. Dan sebagai bentuk kesetia kawanan warga, dalam situasi seperti itu biasanya pak RT akan ditanya, “Siapa yang belum kelihatan pak?”. Dan seperti sudah hapal juga, tanpa melihatpun semua tahu yang belum datang adalah Raja. Yang terlambat adalah Raja. Dan karena yang terlambat adalah Raja, maka pak RT sebagai pelayan hanya bisa maklum, dengan sabar menunggunya, karena begitulah Raja. Namun tidak demikian dimata teman sebayanya, Raja adalah Raja, Raja adalah teman, Raja adalah sahabat. Diantara mereka sudah luntur protokol ke Raja an nya, sehingga ketika tahu bahwa Raja terlambat, tidak seperti pak RT yang hanya menunggu dengan sabar, tetapi mereka berteriak :

“Raja, Ayo Cepeeettttt ....”
Mendengar itu Raja hanya tersenyum, dan sedikit mempercepat langkah.
Begitu kaki Raja mulai di depan pintu masuk Bus, sopir bus malah membentak, “Pali Pali, pali pali...!!!.”
Seluruh warga yang sudah menunggu di dalam bus hanya bisa bersorak, “Hidup Raja....Hidup Raja....Hidup Raja...”

Sacheon, 9 Oktober 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar