Jumat, 14 Oktober 2016

Rindu Sambel Goreng Kentang.

Rindu Sambel Goreng Kentang.
Mati Ketawa Gaya Korea (6)

Sambel goreng kentang, siapa sih orang Indonesia yang tidak kenal dengan jenis makanan ini. Meskipun tidak populer, makanan ini hampir tidak pernah absen dalam acara hajatan-hajatan khususnya di wilayah Jawa. Dalam perjalanannya, sesuai selera dan citarasa, penampilan sambel goreng ini juga berkembang menjadi beberapa varian dengan hanya menambahkan beberapa bahan, seperti hati ampela, atau “krecek” yang menjadi sebutan orang Jogja untuk olahan kulit lembu, atau petai dan kacang kapri sebagi pemanis penampilan. Namun tetap saja, apapun tambahan aksesorisnya, namanya tidak berubah yaitu tetap sambel goreng kentang.
Makanan ini berbahan dasar kentang yang diiris iris menjadi sebentuk balok-balok kecil dengan bumbu cabe merah, bawang putih, bawang merah, merica, dan tidak lupa santan. Seringnya makanan ini disajikan dalam kondisi agak kesat alias kuah santannya yang sudah tinggal sedikit karena menguap saat proses pemasakan.

Sebagai makanan utama saat hajatan, sambel goreng kentang sudah biasa disajikan berdampingan dengan empal daging, sop atau soto, rolade, oseng jagung muda, dan krupuk udang. Ketika sambel goreng kentang disajikan masih hangat maka kombinasi warna merah kekuningan dengan taburan irisan petai atau kacang kapri sungguh merangsang selera untuk tidak melewatkannya. Gurih pedas sedang, dan lembut saat dikunyah, rasa yang sudah melekat dalam memori siapapun. Sambel goreng kentang, tak mungkin lupa wujud dan rasanya.

Karena makanan ini memang khas Indonesia, maka sungguh tidak mudah mendapatkannya ketika kita sudah berada di luar negeri. Indonesia, meskipun kaya akan berbagai jenis makanan yang beraneka ragam, namun Indonesia bukanlah negara expansif dalam hal kuliner. Kalaupun ada mungkin hanya satu dua restoran yang menjual makanan Indonesia di kota-kota besar di luar negeri. Sebut saja sate, rendang padang, atau nasi goreng dan bukan sambel goreng kentang.
Sungguh berbeda dengan negara lain seperti Jepang lewat Hokka Bento atau Hanamasa dengan Teppanyaki dan Terriyaki, China lewat Bakpao, Bakcang, Ifumie, Phuyunghai, dan Bebek Peking, sementara Itali lewat Pizza nya. Terlepas terkenal atau tidak, sambel goreng kentang sudah terlanjur melekat dalam memori lidah setiap orang Indonesia, sehingga siapapun sulit untuk tidak merindukannya.

Engineer-engineer perancang pesawat tempur Indonesia ini belumlah genap satu bulan di Korea. Untuk menjamin kesehatan asupan makanan mereka, perusahaan telah mengupayakan agar mereka diberi fasilitas makan 3 kali sehari dengan kualitas sama persis dengan counter part mereka engineer dari KAI. Dengan menu yang sama, dari kantin yang sama, juru masak yang sama maka dipastikan apa yang engineer Indonesia makan akan sama kualitas dan tingkat gizinya dengan apa yang dimakan engineer KAI. Kantin ini berada di lokasi KAI, dan mayoritas orang yang makan di kantin itu tentu saja orang KAI, maka wajar saja bila yang disajikan adalah menu dan citarasa Korea. Untuk memberikan keleluasaan engineer memilih, kantin selalu menyediakan 2 paket pilihan menu, atau bahkan dalam beberapa hari tertentu ada menu pilihan ke 3 dengan jumlah yang sangat terbatas.

Pagi hari mulai jam 07.00 WK sudah disiapkan sarapan dengan salah satu menu misalnya sandwich, sup cream, salad dan susu sebagai penyempurna sarapan. Kemudian siang dan sore disajikan secara bergantian paket-paket menu seperti, nasi, sayur, tahu, dengan lauk ikan atau ayam goreng atau daging cincang atau dwaeji gogi alias “daging enak” alias daging babi. Sebagai pelengkapnya aneka sup, rumpu laut cincang plus kimchi. Tentu saja, semua itu disajikan dalam cita rasa Korea, misal sup yang flat alias kurang asin, sayur yang cenderung asam, dan kimci sebagai ”stempel” bahwa itu menu style Korea. Untuk mencegah agar engineer muslim tidak menyantap dwaeji gogi, maka KAI dengan bijaksana memberi tanda berupa huruf berwarna merah dengan background kuning yang kontras atau menempelkan tulisan jelas “PORK” pada menu yang mengandung dwaejigogi. Namun demikian, bagi engineer Indonesia yang bukan muslim, seringnya justru yang bertanda merah itulah yang dicari, “Habis enak sich..”, begitu kilahnya.
Sehari dua hari engineer Indonesia bergembira 3 kali sehari lidah mereka bersentuhan dengan menu Korea. Kebetulan juga engineer Indonesia ini adalah engineer yang tangguh yang sudah digembleng untuk siap survive dalam menghadapi aneka makanan yang mungkin sangat asing di lidah sekalipun. Apapun yang disajikan akan habis tandas dilahap demi kepatuhan dan kewajiban menjaga kesehatan. Ya demi kesehatan, tidak lebih dan tidak kurang. Tidak ada alasan mereka makan untuk memanjakan lidah karena engineer-engineer ini sejak dari Bandung memang “disetup” untuk berjuang, bukan bertamasya.

Kepatuhan akan kewajiban menjaga kesehatan demi berhasilnya tugas dan tercapainya misi adalah sesuatu yang dilakukan dengan sadar, sehingga perasaan, atau rasa apapun atas makanan itu enak tidak enak, suka nggak suka maka tetap saja harus dimakan. Meskipun disadari bahwa makan biar sehat demi tugas dan misi, namun hal itu tetap saja tidak mampu menghapus memori dan kerinduan akan makanan Indonesia.
“Makan sich makan, karena kan harus makan, tapi kapan bisa makan rawon, gule dan nasi Padang lagi”. Perasaan rindu akan makanan-makanan ini adalah kerinduan yang serupa dengan kerinduan kepada orang-orang yang kita cintai. Sebuah rasa rindu yang semakin lama ditinggalkan semakin kuat dirindukan.

Ketika jam makan telah tiba, kantin KAI menerapkan aturan tepat waktu, artinya semua engineer siapapun juga diijinkan makan setelah waktunya tiba. Tanpa pemberitahuan sebelumnya atau tanpa agenda khusus, jangan harap bisa dilayani kalau belum jam 12.00 WK. Semua harus menunggu jadwal jamnya, yaitu jam 12.00 WK Tet.
Atas nama tertib makan, tidak pernah terlihat sekalipun ada engineer bergerombol menunggu di depan pintu kantin untuk makan siang. Jadi selama belum lewat jam 12.00 WK, kantin terlihat begitu lengang dengan kursi hijau dan meja berderet-deret tertata rapi. Yang terlihat hanyalah beberapa orang koki dan staf restaurant yang berlalu lalang menyiapkan menu ke dalam "angkringan" yang telah disediakan.  Namun ketika jam makan tiba, secara bergelombang engineer akan berbaris rapi dalam dua jalur sesuai menu pilihan. Dalam hitungan menit, ruangan yang tadinya lengang langsung penuh dengan riuh rendah engineer-engineer yang makan.

Urusan tertib dan patuh aturan, orang Indonesia lah jagonya. Dimanapun orang Indonesia berada di luar negeri, mereka pasti menjadi warga teladan dalam kepatuhan, baik ketepatan waktu, ketertiban lalulintas maupun sosial. Demikian pula saat akan makan, tidak ada sekalipun terlihat engineer Indonesia bergerombol menunggu di depan kantin. Kalaupun terjadi, paling beberapa orang berhenti sejenak di depan papan menu sekedar memastikan mana menu merah yang mengandung “daging enak” alias dwaeji gogi dan mana yang bukan. Tidak terlalu penting membaca menunya apa, karena terjemahan bahasa Korea ke bahasa Inggris seringnya terdengar meleset dan aneh, sehingga kurang berguna juga untuk membacanya. “Pokoknya yang halal..”, begitu argumennya.
Sambil berbaris tertib sesuai jalur mengikuti antrean yang panjang, dari kejauhan sudah terlihat makanan yang disajikan sesuai menu hari itu. Beberapa orang bahkan dari jauh sudah mengamati dengan sungguh-sungguh makanan apa yang telah tersaji saat itu. Menu hari itu sepertinya agak berbeda. Engineer Indonesia ini nampak sumringah karena ada obat rindu tanah air yang disajikan, sambel goreng kentang.

“Wah,...Sambel goreng kentang...”, engineer yang kebetulan berada di depan setengah berbisik sambil menoleh ke rekan-rekan yang mengikutinya. Kata sambel goreng kentang yang diucapkan ini seakan seperti tetes air dimusim kemarau. Begitu indah, begitu dirindukan, sehingga begitu mendengar sambil ditunjuk fakta sambel goreng kentang di depan mata maka yang ada hanya perasaan yang gembira, perasaan untuk segera mencicipinya.
Tak berapa lama satu persatu engineer ini sudah berhadapan dengan menu yang dirindui. Nasi hangat diambil secukupnya, sambel goreng kentang diambil melebihi porsi dari yang biasanya, kimci tak lupa sebagai pelengkap, rumput laut cincang, dan mengambil semangkok sup sambil jalan menuju meja. Tentu saja sambel goreng kentang ini menjadi obyek pertama yang akan disantap.

Dan benar saja, sendok langsung bergerak menyusup pada sambel goreng kentang yang teronggok seperti gunung kecil di atas nampan. Dengan cepat, sambel goreng kentang sudah berpindah di depan mulut yang sudah siap untuk melahap. Dengan sungguh-sungguh coba diresapi nikmatnya sambel goreng kentang yang sudah dirindukan. Kalau ada sedikit keraguan paling hanya perasaan, “apakah rasanya akan seperti aslinya yang di Indonesia ya?”.
Euforia menyantap sambal goreng kentang hanya bertahan sesaat. Yang terjadi maka terjadilah, kunyahan pertama memberikan kekagetan luar biasa. Imaginasi rasa lembut gurih sambel goreng kentang telah berubah menjadi rasa kres dan asem. Kerongkongan seperti tercekat, rahang seperti kaku, akibat kekagetan dan kebingungan yang bersatu di dalam mulut.

“Asem tenan,..... apa ini..?”, keluhnya dalam hati. Namun dia tidak sendiri karena teman sebelahnya juga merasakan kekagetan yang sama. Tidak sopan memuntahkan apa yang sudah masuk di mulut, maka dengan sangat terpaksa “sambel goreng kentang” kres rasa asam itu harus terus dikunyah dan dikunyah untuk secepatnya ditelan. Sambil mata mengernyit karena asamnya “sambel goreng kentang” kres itu, naluri rasa penasarannya menuntun tangan untuk meneliti lebih detil apa dan kenapa “sambel goreng kentang” ini kok berasa kres dan asam.
Tidak lama untuk tahu jawabannya. “Sambel goreng kentang” yang tersaji hari itu bukanlah sambel goreng kentang seperti yang dibayangkan. Makanan itu adalah sejenis kimci berbahan dasar lobak segar yang dipotong seukuran kubik kecil dan dibumbui cabe, bawang putih dan lain-lain. Bagi orang Indonesia yang belum pernah melihat makanan ini, apalagi ditambah “penyakit rindu” maka pasti akan benar-benar menyangka bahwa itu adalah sambel goreng kentang.

Kalau sudah begitu, terus gimana urusan atas “sambel goreng kentang” yang sudah terlanjur diambil segunung kecil ini?
Dengan wajah kecut kecewa dijawab dengan singkat, “buang saja”.

Sacheon, 14 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar