Potong Rambut…
Mati Ketawa Gaya Korea 14
|
S
|
ahabat kita ini
memang kehadirannya di Korea setelah enam bulan dari sejak teman-teman lainnya
menjalankan tugas. Sebagai "junior", alias pendatang baru maka tidak
ada pilihan lain kecuali harus Rambut adalah mahkota. Berkat kata mutiara
inilah maka berbagai turunan bisnis dari kata rambut ini berkembang begitu luas
dari yang paling canggih hingga yang paling ecek-ecek dalam kurun waktu yang
tak pernah ada jemunya. Artinya selagi ada manusia maka bisnis urusan rambut
pasti ada. Yang paling canggih tentu
bagaimana menumbuhkan suburkan rambut yang sudah enggan tumbuh lagi, seperti
yang dilakukan pesepak bola tersohor dari Inggris, Roney. Dia sampai harus
merogoh kocek milyaran rupiah demi mahkotanya yang rontok itu. Sementara urusan
bisnis rambut yang paling sederhana adalah potong rambut.
Bagi beberapa
orang, urusan rambut ini begitu pentingnya hingga tak bosan bosannya
mengingatkan dengan menjadikan diri sebagai “polisi rambut” untuk menegur siapa
saja yang rambutnya sudah acak acakan sehingga harus segera dipotong. Acak
acakan, atas standar apa?. “Pokoknya cukur !, biar lebih rapi”, cuma itu
argumennya. Begitu penting dan seriusnya urusan rambut ini bahkan sampai sampai
dia mesti merepotkan diri dengan membeli alat cukur rambut. Hal ini sungguh
dipahami karena pertumbuhan rambut juga tidak dapat dicegah. Setelah sekian
bulan menjalani tugas di luar negeri maka bukan hal yang aneh bila variasi
bentuk dan panjang rambut sangat bermacam-macam. Ada yang gondrong, ada yang
kribo, ada yang tetep klimis, ada yang semakin
“terang”, ada yang kadang “terang”, kadang “gelap” berganti-ganti
tergantung musim gajian, namun ada juga yang semakin “menyilaukan” bila terkena
cahaya matahari.
Ada yang memang
enggan dipotong dengan alasan “ach ntar setelah dipotong gue jadi bego”,
sekedar alasan untuk menolak saran untuk dipotong dengan meminjam analogi kisah
“Samson and Delila”. Yang pasti, jangan kaget bila banyak orang Indonesia yang
bekerja di Korea ini memiliki rambut gondrong. Beberapa teman menyebutkan bahwa
rambut gondrong itu tanda exsistensi mereka seiring dengan lamanya mereka
tinggal di korea. Semakin lama maka semakin gondrong, meskipun tidak ada yang
tahu persis alasan kenapa mereka enggan potong rambut.
Di negeri asing
seperti Korea dimana bagi sebagian orang Indonesia yang bahasa komunikasi masih
menjadi kendala maka potong rambut di tempat potong komersial atau salon hanya
akan membangkitkan rasa takut ketika akan harus menyampaikan model potongan
rambut yang diharapkan. Oke katakanlah ada gambar, dan bisa memilih model
potongan, kalau ternyata masih kepanjangan atau terlalu pendek , atau mesti
dibegini atau dibegitukan, gimana ngomongnya. Namun demikian di sebagian orang
lainnya, kesulitan bahasa ini sama sekali tidak menyurutkan niat apalagi takut
untuk dipotong di salon, bahkan bisa jadi rambut yang terbilang masih cukup
pendek dan rapipun kalau perlu dipotong tiap minggu. Barangkali memang ada
magnet magnet yang membangkitkan memori sehingga memberi kesan nyaman dan damai
akibat sentuhan-sentuhan tangan ahli potongnya.
Tentu bukan
sembarang salon tetapi mesti memilih salon yang memiliki simbol berupa media
lampion berputar yang biasanya terletak di depan kiosnya. Kalau salah memilih
salon mungkin tidak terasa sensasinya alias sama saja seperti dipotong oleh pak
Dedi Juneldi atau Pak Azhar. Bahkan mungkin lebih baik dipotong oleh pak Dedi
dan pak Azhar, karena kurang kurang dikit gampang ngomongnya dan bagus
servisenya. Kalaupun masih ada yang salah, besok atau lusa masih bisa
diperbaiki, masih ada garansi katanya.
Jangan salah
mengerti, salon yang dipilih ini adalah benar-benar salon, salon yang menjual
jasa potong rambut untuk pelanggan pria maupun wanita bukan salon++ yang
mungkin sering menjadi berita miring di Koran Jakarta. Bagi yang belum
berpengalaman potong rambut di salon, biasanya sebelumnya dia mencari referensi
ke teman lain yang sudah sering potong rambut di salon. Pertanyaan dasar, “kamu
potong disalon mana?”, dan “berapa ongkos nya”. Info lebih detail yang dicari
adalah gimana caranya pesan potongan model rambut. “Ach gampang, tinggal tunjuk
saja gambar model yang ada disana”. Begitu kira kira tip jitu potong rambut di
salon. Berangkat dengan tip jitu datanglah seseorang ke salon yang ditunjukkan. “Anyong Haseo!!!”
Sambutan standar dalam budaya Korea. Langsung duduk dan langsung menunjuk model
potongan rambut yang diminta sesuai gambar terpampang. Tidak tahu karena memang
salah pengertian atau ada alasan lain si pelayan potong rambut justru menunjuk
gambar potongan rambut lain. Terjadi komunikasi dan perdebatan dalam bahasa
yang saling tidak dimengerti antara pelanggan dan pelayan dengan jari saling
berebut tunjuk, meskipun sambil tertawa. Pelanggan ngotot minta gambar
pilihannya sementara si pelayan menunjuk gambar lainnya. Permintaan pelanggan
jelas ingin dipotong model itu, tetapi respon pelayan yang tidak dipahami
alasannya. Dia menunjuk gambar lain ini bisa jadi karena,”eeee..kepalu lu tuch
nggak cocok kalau dipotong model itu”, atau, ”teman-teman mu yang dari
Indonesia biasanya model ini lho!”. Tidak pernah tahu alasan persisnya, hanya
begitu keluar salon rambut sudah rapi terpotong dengan model 123. 1 cm bagian
bawah, 2 cm bagian tengah dan 3 cm bagian atas. Standar baku model rambut siswa
militer (di Korea kalii!!).
Beberapa orang
sudah sangat mengenal model potongan rambut yang cocok dan nyaman untuk dia dan
sayangnya model itu tidak ada di dalam database foto-foto yang di salon. Tetapi
teman kita ini cukup cerdas. Kebetulan dia masih menyimpan beberapa pas foto
yang biasa untuk mengurus passport atau dokumen lainnya. Dengan membawa foto
itu maka tanpa katapun pelayan tahu maksudnya.
Bagi pelanggan
tertentu, pemilihan salonnya juga menjadi lebih spesifik lagi. Bukan salon
sembarangan. Tidak cukup salon yang hanya bisa motong rambut tetapi mesti juga
yang bisa me”muda”kan penampilan atau paling tidak me”nyamar”kan umur. Hal ini
terpaksa dilakukan karena dalam umur yang sudah berjalan masih ada “misi-misi”
sampingan yang belum berhasil dicapai. Bahwa usahanya berat dan ongkosnya tidak
murah, Ooo noproblem. Keberhasilan misi itu jauh lebih bernilai dari sekedar
ongkos yang mahal. Dengan kemampuan komunikasi bahasa Korea yang bisa dibilang
nol terlalu beresiko bila ke salon yang mahal tanpa penterjemah untuk
menyampaikan model potongan rambut, warna cat rambut, ongkos, dan booking
waktunya. Bahwa untuk itu mesti meminta bantuan orang Korea, ya harus dilakukan
demi penampilan. Maka tidak heran bila karena umumnya tekanan tugas berat ini
berdampak pada perubahan warna rambut yang sebelumnya hitam kelam menjadi penuh
salju, tetapi untuk beberapa orang ini hal tersebut tidak berlaku alias rambut
mereka sama sekali tidak kelihatan pernah atau sedang dimakan usia. Strategi
penyamaran yang bagus.
Kalau sebagian
ada yang sekuat tenaga melawan umur yang ditunjukkan oleh warna rambut, di sisi
seberang lainnya ada pula yang tidak peduli dengan rambut yang semakin lebat
memutih. Meskipun rambut mereka putih lebat seperti habis diguyur hujan salju,
mereka tetep saja percaya diri. Hingga panggilan “kakek” dari si Joni pun tak
menyurutkan rasa percaya diri mereka.
Minggu minggu
ini kebetulan adalah hari yang sibuk untuk mempersiapkan agenda SRR nomor 2.
SRR itu dapat diibaratkan seperti hari ujian setelah menempuh waktu belajar
yang cukup lama. Jadi persiapan untuk keberhasilan SRR ini juga mesti dilakukan
sebaik baiknya. Mulai dari materi, format dan tampilan presentasi, cara ngomong
yang mesti dilatih, pemilihan pakaian, dan tak lupa kerapian rambut. Bagi
beberapa orang yang ditunjuk sebagai penyaji, ke “pede” an mereka presentasi
juga dipengaruhi oleh tingkat kerapian rambut mereka. Maka wajar saja bila saat
menjelang presentasi ini beberapa orang seperti menyengaja untuk potong rambut
bersama-sama. Sebagian tetep percaya ke salon sementara lainnya masih pede pada
sentuhan tangan juru pangkas teman sendiri.
Yang ke salon,
kebetulan adalah pribadi yang tenang dan rambut yang selalu kelihatan rapi dan
mengkilat dalam kesehariannya. Sepertinya dia cukup rajin menggunakan pomade
semacam vaselin khusus yang membuat rambut terlihat hitam, licin, lebat dan
mengkilat. Dari stadar kerapian dia maka wajar saja kalau dia memilih ke
salon. Tidak ada yang tahu apakah
sebelumnya dia pernah pergi ke salon atau tidak. Kebutuhan untuk segera rapi
demi persiapan SRR maka dengan ditemani dia meluncur ke salon yang
direkomendasikan. Kebetulan pelanggan tidak banyak sehingga datang langsung
duduk di kursi “pesakitan”. Pilihan model sudah ditunjuk dan pelayan paham apa
yang dimaksud. Tanpa perdebatan lagi eksekusi segera dilakukan. Sudah
sewajarnya bila pelayan meraba, memegang, dan meremas rambut untuk persiapan
dan pengenalan rambut. Namun ada sedikit respon yang aneh dari pelayan sambil
melihat tangan sehabis memegang rambut tersebut. Tanpa berpikir lebih lama
pelayan langsung mempersilakan pelanggan tersebut untuk menuju tempat cuci rambut alias kramas.
Terjadi sedikit kebingunan bagi pelanggan kita ini. Dia merasa hanya ingin
potong rambut tetapi kenapa disuruh ke tempat kramas. Dia bayangkan bahwa
kramas akan dilakukan setelah selesai potong rambut. Atau sekedar untuk
membasahi rambut?. Ternyata tidak, rambut harus dicuci. Dengan bahasa isyarat
tertentu ditegaskan bahwa rambut dia mesti dicuci terlebih dahulu karena
pelayan merasa tidak nyaman memotong rambut yang lengket. Tidak terjelaskan
kenapa rambut itu lengket. Smoga saja pelayan tidak berfikir bahwa rambut itu
lengket begitu karena sudah terlalu lama tidak dicuci. Selanjutnya tidak ada
pilihan lain kecuali “oke kramas dulu”.
Bagi yang tidak
mau ke salon, memilih potong rambut “borongan”. Cukup janjian ketemu di salah
satu kamar di apartemen. Ternyata telah ada beberapa orang yang menyiapkan diri
untuk potong rambut. Tentu yang didahulukan adalah yang paling senior dan yang
akan presentasi. Tidak ada permintaan khusus tentang model rambut, potong
potong potong beres. Sepertinya juru pangkas sudah hafal betul tipe rambut dan
bentuk kepala si senior ini sehingga proses potong berlangsung cepat, tanpa
komplain.
Korban
berikutnya juga dipilih yang ternyata diberi tugas untuk menyiapkan makan siang
sesudah acara potong rambut ini. Untuk yang ini proses potongnya malah lebih
cepat dan sederhana karena hanya 1 model yang cocok untuknya. Ratakan dan
sisakan 1 cm saja, beres.
Kesulitan mulai
datang ketika korban berikutnya mulai duduk. Rambutnya yang ikal, tipis dan
dibeberapa bagian sudah nampak seperti ladang gersang dan tumbuhan yang agak
jarang sehingga agak menyulitkan juru pangkas untuk memberikan potongan bentuk
rambut terbaiknya. Namun proses potong rambut tetep berjalan sesuai dengan
interpretasi kerapian dan keindahan yang dimiliki juru pangkas. Dari obrolan
yang berlangsung terungkap bahwa selama ini dia merasa tidak ada tukang cukur
yang cocok memotong rambutnya, dan hanya istrinyalah yang bisa memotong
rambutnya sesuai harapannya. Barangkali sejak itulah keraguan mulai muncul
dalam diri juru pangkas. Masih dicoba dipandang dari berbagai sisi, siapa tahu
ada bentuk yang pas yang bisa diikuti. Tetapi karena rasa ragu sudah begitu
menyelimuti diri maka muncul perasaan takut salah kalau tetep diteruskan.
Takutnya semakin dipotong, semakin nggak jelas bentuknya. Akhirnya sesi potong
rambut dia diselesaikan secepatnya atau dianggap selesai saja. Memang akhirnya,
seperti tidak telihat jelas apakah dia sudah dipotong atau belum. Apakah memang
dia belum dipotong karena keraguan juru pangkasnya, atau memeng tipe rambutnya
yang begitu sehingga dipangkas atau tidak sama saja tidak kelihatan bedanya?.
Barangkali model rambut 123, cocok untuk nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar