Jumat, 07 Oktober 2016

Potong Rambut…


Potong Rambut…
Mati Ketawa Gaya Korea 14

S

ahabat kita ini memang kehadirannya di Korea setelah enam bulan dari sejak teman-teman lainnya menjalankan tugas. Sebagai "junior", alias pendatang baru maka tidak ada pilihan lain kecuali harus Rambut adalah mahkota. Berkat kata mutiara inilah maka berbagai turunan bisnis dari kata rambut ini berkembang begitu luas dari yang paling canggih hingga yang paling ecek-ecek dalam kurun waktu yang tak pernah ada jemunya. Artinya selagi ada manusia maka bisnis urusan rambut pasti ada.  Yang paling canggih tentu bagaimana menumbuhkan suburkan rambut yang sudah enggan tumbuh lagi, seperti yang dilakukan pesepak bola tersohor dari Inggris, Roney. Dia sampai harus merogoh kocek milyaran rupiah demi mahkotanya yang rontok itu. Sementara urusan bisnis rambut yang paling sederhana adalah potong rambut.

Bagi beberapa orang, urusan rambut ini begitu pentingnya hingga tak bosan bosannya mengingatkan dengan menjadikan diri sebagai “polisi rambut” untuk menegur siapa saja yang rambutnya sudah acak acakan sehingga harus segera dipotong. Acak acakan, atas standar apa?. “Pokoknya cukur !, biar lebih rapi”, cuma itu argumennya. Begitu penting dan seriusnya urusan rambut ini bahkan sampai sampai dia mesti merepotkan diri dengan membeli alat cukur rambut. Hal ini sungguh dipahami karena pertumbuhan rambut juga tidak dapat dicegah. Setelah sekian bulan menjalani tugas di luar negeri maka bukan hal yang aneh bila variasi bentuk dan panjang rambut sangat bermacam-macam. Ada yang gondrong, ada yang kribo, ada yang tetep klimis, ada yang semakin  “terang”, ada yang kadang “terang”, kadang “gelap” berganti-ganti tergantung musim gajian, namun ada juga yang semakin “menyilaukan” bila terkena cahaya matahari.

Ada yang memang enggan dipotong dengan alasan “ach ntar setelah dipotong gue jadi bego”, sekedar alasan untuk menolak saran untuk dipotong dengan meminjam analogi kisah “Samson and Delila”. Yang pasti, jangan kaget bila banyak orang Indonesia yang bekerja di Korea ini memiliki rambut gondrong. Beberapa teman menyebutkan bahwa rambut gondrong itu tanda exsistensi mereka seiring dengan lamanya mereka tinggal di korea. Semakin lama maka semakin gondrong, meskipun tidak ada yang tahu persis alasan kenapa mereka enggan potong rambut.

Di negeri asing seperti Korea dimana bagi sebagian orang Indonesia yang bahasa komunikasi masih menjadi kendala maka potong rambut di tempat potong komersial atau salon hanya akan membangkitkan rasa takut ketika akan harus menyampaikan model potongan rambut yang diharapkan. Oke katakanlah ada gambar, dan bisa memilih model potongan, kalau ternyata masih kepanjangan atau terlalu pendek , atau mesti dibegini atau dibegitukan, gimana ngomongnya. Namun demikian di sebagian orang lainnya, kesulitan bahasa ini sama sekali tidak menyurutkan niat apalagi takut untuk dipotong di salon, bahkan bisa jadi rambut yang terbilang masih cukup pendek dan rapipun kalau perlu dipotong tiap minggu. Barangkali memang ada magnet magnet yang membangkitkan memori sehingga memberi kesan nyaman dan damai akibat sentuhan-sentuhan tangan ahli potongnya.

Tentu bukan sembarang salon tetapi mesti memilih salon yang memiliki simbol berupa media lampion berputar yang biasanya terletak di depan kiosnya. Kalau salah memilih salon mungkin tidak terasa sensasinya alias sama saja seperti dipotong oleh pak Dedi Juneldi atau Pak Azhar. Bahkan mungkin lebih baik dipotong oleh pak Dedi dan pak Azhar, karena kurang kurang dikit gampang ngomongnya dan bagus servisenya. Kalaupun masih ada yang salah, besok atau lusa masih bisa diperbaiki, masih ada garansi katanya.

Jangan salah mengerti, salon yang dipilih ini adalah benar-benar salon, salon yang menjual jasa potong rambut untuk pelanggan pria maupun wanita bukan salon++ yang mungkin sering menjadi berita miring di Koran Jakarta. Bagi yang belum berpengalaman potong rambut di salon, biasanya sebelumnya dia mencari referensi ke teman lain yang sudah sering potong rambut di salon. Pertanyaan dasar, “kamu potong disalon mana?”, dan “berapa ongkos nya”. Info lebih detail yang dicari adalah gimana caranya pesan potongan model rambut. “Ach gampang, tinggal tunjuk saja gambar model yang ada disana”. Begitu kira kira tip jitu potong rambut di salon. Berangkat dengan tip jitu datanglah seseorang  ke salon yang ditunjukkan. “Anyong Haseo!!!” Sambutan standar dalam budaya Korea. Langsung duduk dan langsung menunjuk model potongan rambut yang diminta sesuai gambar terpampang. Tidak tahu karena memang salah pengertian atau ada alasan lain si pelayan potong rambut justru menunjuk gambar potongan rambut lain. Terjadi komunikasi dan perdebatan dalam bahasa yang saling tidak dimengerti antara pelanggan dan pelayan dengan jari saling berebut tunjuk, meskipun sambil tertawa. Pelanggan ngotot minta gambar pilihannya sementara si pelayan menunjuk gambar lainnya. Permintaan pelanggan jelas ingin dipotong model itu, tetapi respon pelayan yang tidak dipahami alasannya. Dia menunjuk gambar lain ini bisa jadi karena,”eeee..kepalu lu tuch nggak cocok kalau dipotong model itu”, atau, ”teman-teman mu yang dari Indonesia biasanya model ini lho!”. Tidak pernah tahu alasan persisnya, hanya begitu keluar salon rambut sudah rapi terpotong dengan model 123. 1 cm bagian bawah, 2 cm bagian tengah dan 3 cm bagian atas. Standar baku model rambut siswa militer (di Korea kalii!!).

Beberapa orang sudah sangat mengenal model potongan rambut yang cocok dan nyaman untuk dia dan sayangnya model itu tidak ada di dalam database foto-foto yang di salon. Tetapi teman kita ini cukup cerdas. Kebetulan dia masih menyimpan beberapa pas foto yang biasa untuk mengurus passport atau dokumen lainnya. Dengan membawa foto itu maka tanpa katapun pelayan tahu maksudnya.

Bagi pelanggan tertentu, pemilihan salonnya juga menjadi lebih spesifik lagi. Bukan salon sembarangan. Tidak cukup salon yang hanya bisa motong rambut tetapi mesti juga yang bisa me”muda”kan penampilan atau paling tidak me”nyamar”kan umur. Hal ini terpaksa dilakukan karena dalam umur yang sudah berjalan masih ada “misi-misi” sampingan yang belum berhasil dicapai. Bahwa usahanya berat dan ongkosnya tidak murah, Ooo noproblem. Keberhasilan misi itu jauh lebih bernilai dari sekedar ongkos yang mahal. Dengan kemampuan komunikasi bahasa Korea yang bisa dibilang nol terlalu beresiko bila ke salon yang mahal tanpa penterjemah untuk menyampaikan model potongan rambut, warna cat rambut, ongkos, dan booking waktunya. Bahwa untuk itu mesti meminta bantuan orang Korea, ya harus dilakukan demi penampilan. Maka tidak heran bila karena umumnya tekanan tugas berat ini berdampak pada perubahan warna rambut yang sebelumnya hitam kelam menjadi penuh salju, tetapi untuk beberapa orang ini hal tersebut tidak berlaku alias rambut mereka sama sekali tidak kelihatan pernah atau sedang dimakan usia. Strategi penyamaran yang bagus.

Kalau sebagian ada yang sekuat tenaga melawan umur yang ditunjukkan oleh warna rambut, di sisi seberang lainnya ada pula yang tidak peduli dengan rambut yang semakin lebat memutih. Meskipun rambut mereka putih lebat seperti habis diguyur hujan salju, mereka tetep saja percaya diri. Hingga panggilan “kakek” dari si Joni pun tak menyurutkan rasa percaya diri mereka.

Minggu minggu ini kebetulan adalah hari yang sibuk untuk mempersiapkan agenda SRR nomor 2. SRR itu dapat diibaratkan seperti hari ujian setelah menempuh waktu belajar yang cukup lama. Jadi persiapan untuk keberhasilan SRR ini juga mesti dilakukan sebaik baiknya. Mulai dari materi, format dan tampilan presentasi, cara ngomong yang mesti dilatih, pemilihan pakaian, dan tak lupa kerapian rambut. Bagi beberapa orang yang ditunjuk sebagai penyaji, ke “pede” an mereka presentasi juga dipengaruhi oleh tingkat kerapian rambut mereka. Maka wajar saja bila saat menjelang presentasi ini beberapa orang seperti menyengaja untuk potong rambut bersama-sama. Sebagian tetep percaya ke salon sementara lainnya masih pede pada sentuhan tangan juru pangkas teman sendiri.

Yang ke salon, kebetulan adalah pribadi yang tenang dan rambut yang selalu kelihatan rapi dan mengkilat dalam kesehariannya. Sepertinya dia cukup rajin menggunakan pomade semacam vaselin khusus yang membuat rambut terlihat hitam, licin, lebat dan mengkilat. Dari stadar kerapian dia maka wajar saja kalau dia memilih ke salon.  Tidak ada yang tahu apakah sebelumnya dia pernah pergi ke salon atau tidak. Kebutuhan untuk segera rapi demi persiapan SRR maka dengan ditemani dia meluncur ke salon yang direkomendasikan. Kebetulan pelanggan tidak banyak sehingga datang langsung duduk di kursi “pesakitan”. Pilihan model sudah ditunjuk dan pelayan paham apa yang dimaksud. Tanpa perdebatan lagi eksekusi segera dilakukan. Sudah sewajarnya bila pelayan meraba, memegang, dan meremas rambut untuk persiapan dan pengenalan rambut. Namun ada sedikit respon yang aneh dari pelayan sambil melihat tangan sehabis memegang rambut tersebut. Tanpa berpikir lebih lama pelayan langsung mempersilakan pelanggan tersebut  untuk menuju tempat cuci rambut alias kramas. Terjadi sedikit kebingunan bagi pelanggan kita ini. Dia merasa hanya ingin potong rambut tetapi kenapa disuruh ke tempat kramas. Dia bayangkan bahwa kramas akan dilakukan setelah selesai potong rambut. Atau sekedar untuk membasahi rambut?. Ternyata tidak, rambut harus dicuci. Dengan bahasa isyarat tertentu ditegaskan bahwa rambut dia mesti dicuci terlebih dahulu karena pelayan merasa tidak nyaman memotong rambut yang lengket. Tidak terjelaskan kenapa rambut itu lengket. Smoga saja pelayan tidak berfikir bahwa rambut itu lengket begitu karena sudah terlalu lama tidak dicuci. Selanjutnya tidak ada pilihan lain kecuali “oke kramas dulu”.

Bagi yang tidak mau ke salon, memilih potong rambut “borongan”. Cukup janjian ketemu di salah satu kamar di apartemen. Ternyata telah ada beberapa orang yang menyiapkan diri untuk potong rambut. Tentu yang didahulukan adalah yang paling senior dan yang akan presentasi. Tidak ada permintaan khusus tentang model rambut, potong potong potong beres. Sepertinya juru pangkas sudah hafal betul tipe rambut dan bentuk kepala si senior ini sehingga proses potong berlangsung cepat, tanpa komplain.

Korban berikutnya juga dipilih yang ternyata diberi tugas untuk menyiapkan makan siang sesudah acara potong rambut ini. Untuk yang ini proses potongnya malah lebih cepat dan sederhana karena hanya 1 model yang cocok untuknya. Ratakan dan sisakan 1 cm saja, beres.

Kesulitan mulai datang ketika korban berikutnya mulai duduk. Rambutnya yang ikal, tipis dan dibeberapa bagian sudah nampak seperti ladang gersang dan tumbuhan yang agak jarang sehingga agak menyulitkan juru pangkas untuk memberikan potongan bentuk rambut terbaiknya. Namun proses potong rambut tetep berjalan sesuai dengan interpretasi kerapian dan keindahan yang dimiliki juru pangkas. Dari obrolan yang berlangsung terungkap bahwa selama ini dia merasa tidak ada tukang cukur yang cocok memotong rambutnya, dan hanya istrinyalah yang bisa memotong rambutnya sesuai harapannya. Barangkali sejak itulah keraguan mulai muncul dalam diri juru pangkas. Masih dicoba dipandang dari berbagai sisi, siapa tahu ada bentuk yang pas yang bisa diikuti. Tetapi karena rasa ragu sudah begitu menyelimuti diri maka muncul perasaan takut salah kalau tetep diteruskan. Takutnya semakin dipotong, semakin nggak jelas bentuknya. Akhirnya sesi potong rambut dia diselesaikan secepatnya atau dianggap selesai saja. Memang akhirnya, seperti tidak telihat jelas apakah dia sudah dipotong atau belum. Apakah memang dia belum dipotong karena keraguan juru pangkasnya, atau memeng tipe rambutnya yang begitu sehingga dipangkas atau tidak sama saja tidak kelihatan bedanya?. Barangkali model rambut 123, cocok untuk nya.

 Daejeon, Juni 17 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar