Hwa Jang Sil
Mati Ketawa Gaya Korea 12
|
K
|
orea, sebagai
sebuah negara telah berbenah dalam banyak hal paling tidak dalam hal ketertiban
dan kebersihan. Dalam hal ketertiban, aturan dibuat, sistem dikembangkan untuk
dipatuhi bersama. Hal ini cukup terasa di jalan raya dimana sangat jarang
ditemui polisi lalulintas berjaga dipinggir jalan atau perempatan. Sangat
jarang ditemui polisi lalu lintas berpatroli sekedar memastikan lalulintas
berjalan lancar. Bukan berarti tidak ada masalah atau tidak ada yang melanggar,
namun sepertinya pelanggaran yang ada tidaklah krusial atau sampai pada tingkat
yang membahayakan, disamping prosentase kejadiannya terbilang kecil sehingga
secara umum tidak perlu tindakan khusus apalagi operasi khusus.
Dalam hal
kebersihan, pemerintah sangat peduli akan terciptanya lingkungan yang bersih,
nyaman dan sehat. Maka tidaklah mengherankan bila taman-taman kota ditata
sedemikian rupa sehingga siapapun yang ada disitu merasa nyaman. Kursi panjang
permanen tertata dalam jumlah yang sangat memadai, tetumbuhan terpangkas rapi,
bunga bungan tertata indah dan jalan lintasan untuk pejalan kaki tersedia dalam
rangkaian tatanan balok paving blok. Tempat sampah memang tidak selalu tersedia
diruang publik terbuka namun bukan berarti boleh membuang sampah dimana saja.
Tanpa tempat sampah di ruang publik terbuka, taman tetep bersih karena
masayarakat sudah sampai tingkat sadar akan kebersihan sehingga siapapn
kalaupun harus menyisakan sampah dalam setiap aktifitasnya diruang publik maka
mereka sendiri akan membawa pulang sampah tersebut untuk dibuang ditempat yang
semestinya.
Apalagi urusan
yang menyangkut hajat hidup orang banyak, urusan buang air besar dan kecil.
Tersedia toilet, alias Hwa Jang sil dengan fasilitas yang cukup mudah dijangkau
dan bersih. Berabenya urusan ini akan menjadi petaka, dan nampaknya pemerintah
sangat menyadari hal ini. Dimanapun anda berada, di subway, stasiun kereta api,
terminal bus, rest area, di taman taman kota bahkan di lorong bawah tanah yang
memang dimanfaatkan untuk pertokoan hampir pasti disediakan toilet umum yang
bersih. Apalagi di supermarket atau kantor pemerintah, fasilitas toiletnya
sudah seperti standart hotel berbintang. Terawat, bersih, rapi dan tak jarang
wangi. Korea yang mayoritas bukan muslim maka kalau urusan toilet ini tidak
berbasis air maka sungguh dimaklumi. Namun demikian, ketersediaan tisu sebagai
pengganti air dapat dibilang lebih dari cukup, baik kualitas maupun kuantitas.
Di fasilitas umum hampir tidak pernah terlambat supply.
Sudah dengan
fasilitas yang mudah dijangkau, bersih dan tisu yang cukup namun bagi orang
Indonesia yang terbiasa berbasis air maka ketersediaan tisu ini masih dirasa
kurang nyaman. Kurang sreg kalau sehabis buang air kecil tidak dibilas dengan
air, meskipun sudah menghabiskan tisu 1 roll. "gimana ya, kalau tidak dibilas
dengan air, rasanya masih kurang sreg gitu", komentar salah seorang yang
mungkin cukup mewakili perasaan anggota komunitas lainya.
Namun demikian
bukan orang Indonesia namanya kalau menghadapi situasi seperti ini tanpa punya
alternatif solusi. Seseorang memberi saran, "kalau kurang sreg, maka ambil
tisu, agak banyak. Terus tisu tersebut dibasahi dari kran wastafel. Nah kan
bisa untuk bisa untuk mbilas tuh !".
Sementara yang
lain menyarankan, "mending pilih tempat buang air kecilnya yang deket
wastafel, sehingga dengan sedikit bergeser tangan bisa menjangkau kran
wastafel. Mudah kan?". "Iya kalau nggak ada orang lain, kalau ada
orang gimana. Kopat kapit donk!. Emang mesti nunggu hingga orang lain
pergi?", begitu sanggah yang lainnya.
Ternyata, urusan
bilas membilas di toilet ini ada yang diam-diam mempraktekkan "teknik
menipu kecanggihan teknologi" buang air kecil di toilet ini. Di tempat
yang cukup bagus seperti di rest area, supermarket, kantor dll, tempat buang
air kecil yang tersedia berjejer cukup banyak dan sudah menggunakan sensor
penyiraman otomatis. Tidak ada tombol pengatur yang bisa dipencet. Semua serba
otomatis. Sesor ini bekerja dengan mengidentifikasi obyek yang datang dan cukup
dekat dengan sensor tersebut untuk selanjutnya memerintahkan kran mengucurkan
airnya dalam tempo waktu tertentu. Setting seperti ini nampaknya diset untuk
sekedar mencegah agar air kencing tidak menempel di diding tempat buang air
kecil tersebut. Tentang orangnya?. Pakailah tisu. Dengan konsep tersebut maka
dapat dipastikan air akan mengucur ketika orang baru memulai proses buang air
kecil, dan berhenti secara otomatis ketika buang air kecil selesai. Dalam
situasi seperti ini maka dapat dipastikan air penyiram tersebut tidak dapat
dimanfaatkan untuk membilas karena kran keburu mati saat buang air baru selesai
atau malah belum selesai.
Bukan orang
Indonesia namanya kalau akan kalah dengan kecanggihan teknologi seperti itu.
"Kalau kau mau mengalir ketika aku berdiri disitu, maka kau akan
kutipu", begitu kira kira apa yang ada dipikiran. "Aku akan pura-pura
pergi padahal tidak. Cuma kesamping dikit. Mata sensormu nggak bisa melirik
kan?. Bener juga logika dia. Dengan mundur dan agak bergeser kesamping sedikit
kemudian maju lagi seakan akan seperti orang yang baru datang maka kran akan
mengucur dengan sendirinya. Nah, air tersebutlah yang digunakan untuk membilas.
"Kutipu kau!!!". Teriaknya dalam hati.
Keberhasilan ini
memang menyelesaikan masalah, namun menimbulkan keheranan bagi orang Korea
sendiri. Barangkali mereka berpikir,"kenapa orang ini buang air kok maju
mundur kesamping maju lagi. Bahkan kadang mesti berulang ulang?". Tetapi
barangkali ini adalah cara yang paling efektif untuk mencari dan membedakan
mana yang orang Korea dan mana yang orang Indoonesia tanpa berteriak ketika
semua berjejer di depan toilet buang air kecil. "Pasti yang buang air
kecil sambil menari itu adalah orang Indonesia".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar