Jumat, 07 Oktober 2016

Hwa Jang Sil


Hwa Jang Sil
Mati Ketawa Gaya Korea 12

K

orea, sebagai sebuah negara telah berbenah dalam banyak hal paling tidak dalam hal ketertiban dan kebersihan. Dalam hal ketertiban, aturan dibuat, sistem dikembangkan untuk dipatuhi bersama. Hal ini cukup terasa di jalan raya dimana sangat jarang ditemui polisi lalulintas berjaga dipinggir jalan atau perempatan. Sangat jarang ditemui polisi lalu lintas berpatroli sekedar memastikan lalulintas berjalan lancar. Bukan berarti tidak ada masalah atau tidak ada yang melanggar, namun sepertinya pelanggaran yang ada tidaklah krusial atau sampai pada tingkat yang membahayakan, disamping prosentase kejadiannya terbilang kecil sehingga secara umum tidak perlu tindakan khusus apalagi operasi khusus.

Dalam hal kebersihan, pemerintah sangat peduli akan terciptanya lingkungan yang bersih, nyaman dan sehat. Maka tidaklah mengherankan bila taman-taman kota ditata sedemikian rupa sehingga siapapun yang ada disitu merasa nyaman. Kursi panjang permanen tertata dalam jumlah yang sangat memadai, tetumbuhan terpangkas rapi, bunga bungan tertata indah dan jalan lintasan untuk pejalan kaki tersedia dalam rangkaian tatanan balok paving blok. Tempat sampah memang tidak selalu tersedia diruang publik terbuka namun bukan berarti boleh membuang sampah dimana saja. Tanpa tempat sampah di ruang publik terbuka, taman tetep bersih karena masayarakat sudah sampai tingkat sadar akan kebersihan sehingga siapapn kalaupun harus menyisakan sampah dalam setiap aktifitasnya diruang publik maka mereka sendiri akan membawa pulang sampah tersebut untuk dibuang ditempat yang semestinya.

Apalagi urusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, urusan buang air besar dan kecil. Tersedia toilet, alias Hwa Jang sil dengan fasilitas yang cukup mudah dijangkau dan bersih. Berabenya urusan ini akan menjadi petaka, dan nampaknya pemerintah sangat menyadari hal ini. Dimanapun anda berada, di subway, stasiun kereta api, terminal bus, rest area, di taman taman kota bahkan di lorong bawah tanah yang memang dimanfaatkan untuk pertokoan hampir pasti disediakan toilet umum yang bersih. Apalagi di supermarket atau kantor pemerintah, fasilitas toiletnya sudah seperti standart hotel berbintang. Terawat, bersih, rapi dan tak jarang wangi. Korea yang mayoritas bukan muslim maka kalau urusan toilet ini tidak berbasis air maka sungguh dimaklumi. Namun demikian, ketersediaan tisu sebagai pengganti air dapat dibilang lebih dari cukup, baik kualitas maupun kuantitas. Di fasilitas umum hampir tidak pernah terlambat supply.

Sudah dengan fasilitas yang mudah dijangkau, bersih dan tisu yang cukup namun bagi orang Indonesia yang terbiasa berbasis air maka ketersediaan tisu ini masih dirasa kurang nyaman. Kurang sreg kalau sehabis buang air kecil tidak dibilas dengan air, meskipun sudah menghabiskan tisu 1 roll. "gimana ya, kalau tidak dibilas dengan air, rasanya masih kurang sreg gitu", komentar salah seorang yang mungkin cukup mewakili perasaan anggota komunitas lainya.

Namun demikian bukan orang Indonesia namanya kalau menghadapi situasi seperti ini tanpa punya alternatif solusi. Seseorang memberi saran, "kalau kurang sreg, maka ambil tisu, agak banyak. Terus tisu tersebut dibasahi dari kran wastafel. Nah kan bisa untuk bisa untuk mbilas tuh !".

Sementara yang lain menyarankan, "mending pilih tempat buang air kecilnya yang deket wastafel, sehingga dengan sedikit bergeser tangan bisa menjangkau kran wastafel. Mudah kan?". "Iya kalau nggak ada orang lain, kalau ada orang gimana. Kopat kapit donk!. Emang mesti nunggu hingga orang lain pergi?", begitu sanggah yang lainnya.

Ternyata, urusan bilas membilas di toilet ini ada yang diam-diam mempraktekkan "teknik menipu kecanggihan teknologi" buang air kecil di toilet ini. Di tempat yang cukup bagus seperti di rest area, supermarket, kantor dll, tempat buang air kecil yang tersedia berjejer cukup banyak dan sudah menggunakan sensor penyiraman otomatis. Tidak ada tombol pengatur yang bisa dipencet. Semua serba otomatis. Sesor ini bekerja dengan mengidentifikasi obyek yang datang dan cukup dekat dengan sensor tersebut untuk selanjutnya memerintahkan kran mengucurkan airnya dalam tempo waktu tertentu. Setting seperti ini nampaknya diset untuk sekedar mencegah agar air kencing tidak menempel di diding tempat buang air kecil tersebut. Tentang orangnya?. Pakailah tisu. Dengan konsep tersebut maka dapat dipastikan air akan mengucur ketika orang baru memulai proses buang air kecil, dan berhenti secara otomatis ketika buang air kecil selesai. Dalam situasi seperti ini maka dapat dipastikan air penyiram tersebut tidak dapat dimanfaatkan untuk membilas karena kran keburu mati saat buang air baru selesai atau malah belum selesai.

Bukan orang Indonesia namanya kalau akan kalah dengan kecanggihan teknologi seperti itu. "Kalau kau mau mengalir ketika aku berdiri disitu, maka kau akan kutipu", begitu kira kira apa yang ada dipikiran. "Aku akan pura-pura pergi padahal tidak. Cuma kesamping dikit. Mata sensormu nggak bisa melirik kan?. Bener juga logika dia. Dengan mundur dan agak bergeser kesamping sedikit kemudian maju lagi seakan akan seperti orang yang baru datang maka kran akan mengucur dengan sendirinya. Nah, air tersebutlah yang digunakan untuk membilas. "Kutipu kau!!!". Teriaknya dalam hati.

Keberhasilan ini memang menyelesaikan masalah, namun menimbulkan keheranan bagi orang Korea sendiri. Barangkali mereka berpikir,"kenapa orang ini buang air kok maju mundur kesamping maju lagi. Bahkan kadang mesti berulang ulang?". Tetapi barangkali ini adalah cara yang paling efektif untuk mencari dan membedakan mana yang orang Korea dan mana yang orang Indoonesia tanpa berteriak ketika semua berjejer di depan toilet buang air kecil. "Pasti yang buang air kecil sambil menari itu adalah orang Indonesia".

 Daejeon, Mei 28 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar