Facebook…!!!
Mati Ketawa Gaya Korea 15
|
I
|
barat pisau,
maka dia bisa berguna untuk memotong sayuran saat akan memasak, namun bisa juga
menjadi alat pembunuh. Ibarat pistol dia bisa menjadi alat untuk melindungi
diri dan keluarga dari penjahat tapi
sekaligus senjata untuk merampok. Ibarat narkoba, dia sangat berguna untuk
membantu dokter dalam proses operasi tapi sekaligus bisa menghancurkan bagi
yang menggunakannya secara salah. Begitu pula Facebook.
Facebook, media
sosial yang telah berkembang sangat pesat sejak Mark Zuckerberg menciptakannya
8 tahun yang lalu akan menjadi media sosial positif untuk kebaikan, namun
sekaligus dapat sebagai palu penghancur hubungan sosial yang sudah mapan
sebelumnya.
Facebook akan
menjadi alat positif atau negatif sepenuhnya tergantung pada si pemilik login
akun facebook tersebut. Oleh karena itu dapat dipahami bila pada akhirnya
secara alamiah ada yang mengelompokkan diri pada kategori kelompok
ketergantungan dan sebaliknya lagi ada yang masuk pada kategori kelompok
antipati, dengan spektrum yang cukup luas di antaranya.
Dikatakan
ketergantungan adalah bila dalam suatu waktu dia merasa “sakit” ketika tidak
dapat mengikuti perubahan “status” yang disampaikan teman-temannya, atau hidup
terasa ada yang hilang bila dalam kurun
waktu tertentu tidak memposting status tertentu, meskipun sekedar kata
“geraaahhh.” atau “enaknya ngapain ya…?”. Namun pada posisi diametral
sebaliknya tidak sedikit yang secara periodik menyebarkan pesan pesan
penyemangat, atau kata-kata inspiratif.
Postingan
kata-kata kosong atau kata penyemangat yang padat makna ini biasa ditayangkan
pada dinding (wall) pemilik akun sehingga siapapun yang menjadi teman si
pemilik akun tersebut seakan akan mendapat pesan atau berita tersebut. Semakin
menarik kata atau kalimat yang ditayangkan ini maka semakin panjang pula
komentar yang sahut menyahut mengikuti pesan tersebut.
Bagi kelompok
yang anti pati, facebook adalah hal yang sengaja dihindari, demi mencegah
munculnya bibit bibit kecurigaan sekecil apapun yang mungkin dampak lukanya
sangat sulit diobati sementara manfaatnya barangkali tidak sebanding dengan
resikonya. Bahwa nantinya akan dianggap kuper atau gaptek, ach peduli amat.
Namun, menjadi asing berada dalam komunitas yang hampir semuanya menggunakan
facebook sebagai sarana komunikasi dan menghibur diri menjadi resiko yang siap
dihadapi. Barangkali akan terasa seperti kambing congek disaat beberapa orang
berkumpul membicarakan segala kelucuan dan kegemasan tentang apa saja yang
ditampilkan di facebook sementara kita tidak nyambung dan selalu bertanya “ada
apa sich?”, atau “gimana gimana?” karena nggak tahu konteksnya. Sekali sekali
bertanya apa sich, bolehlah, tetapi kalau berkali kali?. Masak sich.
Untuk itu,
sebagai bagian dari upaya meningkatkan komunikasi dan berbagi kebahagiaan antar
anggota yang sudah menjadi seperti saudara ketika di negeri orang maka
kerendahan hati “komandan batalion Banseok” perlu dihargai karena telah
merelakan diri membuatkan akun atas beberapa orang yang awalnya memang benar
benar menolak. Sebagai komandan yang berpengalaman atau mungkin pernah
mengalami, maka sewajarnya bila kepada pemilik akun baru ini dipesankan nasihat
baik seperti ini, “hati-hati Mas, facebook memang akan dapat mendekatkan yang
jauh, tapi sekaligus bisa menjauhkan yang dekat”. Sungguh nasihat yang jitu yang
harus disadari oleh siapapun pemilik akun facebook, karena tentu nasihat ini
muncul bukan dari batu, tapi dari pengalaman dan pengamatan.
Sebagai media
sosial yang begitu popular dan cepat berkembang mudah dipahami bila muncul
ekses-ekses lain yang tidak diharapkan, tinggal pandai-pandai nya sipemilik
untuk mengelola ekses ini untuk sebesar besarnya kemanfaatan dia. Bagi yang
antipati sepertinya ekses inilah yang ingin dihindari, toh nggak ada “facebook
yo nggak patheken”, barangkali itu semboyannya. Sebenarnya ekses apa sich yang
menjadikan beberpa orang ini begitu anti pati?
Media sosial ini
begitu mudah pemakaiannya sehingga siapapun yang mau bergabung praktis tidak
ada hambatan yang berarti kecuali dari dalam dirinya sendiri. Menawarkan
berbagai fiture yang memang memudahkan untuk berbagai urusan sosial, mulai dari
berkomunikasi aktif pada komunitasnya, menampilkan situasi dan posisi terkini,
menampilkan foto atau video masa lalu hingga masa kini, mengenalkan profesi
diri untuk ditemukan siapapun yang mencari, hingga mencari teman yang mungkin
sudah lama hilang bahkan dalam ingatan sekalipun. Dalam urusan mencari teman,
selagi dapat dikenali namanya, atau beberapa data identitas yang pernah melekat
padanya, dan yang dicari juga sudah memiliki akun facebook maka tidak ada
alasan untuk tidak dapat ditemukan. Kalaupun sudah lupa namanya atau mungkin
tidak kenal data lainnya maka cukup dicari keterkaitan jaringannya. Melalui
jaringan pertemanan ini pula proses mencari teman yang hilang ini begitu mudah
dilakukan. Maka tidak perlu kaget bila kemudian terbesit keinginan untuk mencari
teman saat SD sekedar melihat bagaimana keadaannya sekarang, atau teman SMP
untuk mengetahui sudah kerja dan sukses dibidang apa sekarang, atau bekas pacar
waktu SMU dulu, apakah masih secantik dulu, atau siapa suami sekarang. Meskipun
sebenarnya facebook dapat dikontrol tingkat keterbukaan atau ketertutupannya,
namun seringkali kita tidak memperdulikannya sehingga tanpa disadari akan
semakin banyak teman yang masuk dalam jaringan kita.
Oleh karena itu,
sekali kita menanggapi sesuatu, atau sebaliknya, tayangan atau komentar kita
akan ditanggapi oleh orang lain maka sangat terbuka kemungkinan interaksi
komunikasi ini dapat dibaca oleh siapapun juga yang ada dalam jaringan
pertemanan itu, termasuk istri yang tentu juga menjadi “close friend” dalam
jaringan kita. Untuk hal-hal yang sifatnya normatif, atau nasihat dan pesan
positif maka hal seperti ini akan mengalir tanpa ada gejolak gangguan apapun.
Tetapi keisengan untuk larut dalam memori masa lalu dalam berkomentar, kalau
ini bersambut maka ada kemungkinan “bahasa masa kini” dengan latar belakang
“bahasa masa lalu” yang sebenarnya biasa saja bisa bernilai berbeda dan menjadi
sumber petaka.
Komentar sepele
atas tampilan foto teman masalalu apalagi bekas pacar semisal “wah, masih cantik”, yang sebenarnya
mungkin pujian biasa, atau sekedar kata basa basi tetapi bagi “close friend”
ini bisa berarti ada dunia lain yang perlu diwaspadai. Maka tidak perlu kaget
bila istri atau si “close friend” tiba-tiba saja menulis komentar di bawahnya,
“siapa ini Pa?”, seakan penegasan “jangan macam-macam ya!, atau “Hei ini
suamiku” atau “hei aku istrinya, jangan main-main ya..!”, atau kata apapun
dengan nilai dan rasa yang serupa. Kalau kejadian seperti ini terjadi seperti
“ketangkap tangan”, maka kelanjutan dari episode seperti ini sungguh dapat
diduga, akan terjadi interogasi kecil yang bila tidak dikelola dengan baik akan
berkepanjangan dan berbuah petaka.
Bagi sebagian
orang mengelola konflik seperti itu dengan mengambil jalan pintas yang tentu
beresiko. Misal, biar tidak terlalu kelihatan bohongnya maka strategi kuno
dijalankan sekedar untuk mengulur waktu dengan memberikan “password salah”, dan
sekedar menunjukkan bahwa seakan akan memang tidak ada yang disembunyikan.
Kalau benar-benar dibuka dan tentu tidak akan berhasil membuka maka jawaban
sesudahnya tentu sudah disiapkan, “maaf Ma, passwornya salah. Harusnya ada
tambahan angka atau huruf ini”, atau alasan apasaja. Tentu tidak perlu cerdas
untuk mengetahui bahwa strategi kuno ini hanya untuk mengulur waktu saja,
karena dalam proses mengulur waktu ini berbagai kemungkinan bisa terjadi misal
seluruh informasi rahasia sudah bisa dihapus dulu, sehingga ketika password
yang benar diberikan, isinya sudah bersih dari berbagai kecurigaan. Jangan
dikira istri nggak tahu akal bulus seperti ini. Mungkin benar dia nggak tau,
tapi dia tentu bisa merasakan, hanya nggak bisa membuktikan dan nggak ingin
membuktikan karena dia sendiri nggak siap kalau kecurigaannya terbukti benar.
Jadi biarin aja, asal liat suami sudah seperti ketakutan yang amat, itu sudah
cukup, karena ketakutan itu tanda sayang.
Namun dalam
kepanikan tertentu, sikap emosional istri dapat mengacaukan strategi dan akal
bulus yang sudah disiapkan, apalagi mental kita memang tidak disiapkan untuk
menghadapi kejutan kejutan seperti itu.
Sungguh hal yang
sangat tidak diharapkan, apalagi sudah jauh jauh istri didatangkan dari
Indonesia sesampai di Korea kok malah ngajak bertengkar dengan membentak
“Papaaaa… passwordnya mana?”, karena dia tahu kebohongan suaminya.
Dia hanya bisa
duduk sambil merenung, “ah facebook!!”.
Daejeon,
Juli 4 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar