Jumat, 07 Oktober 2016

Facebook…!!!


Facebook…!!!
Mati Ketawa Gaya Korea 15

I

barat pisau, maka dia bisa berguna untuk memotong sayuran saat akan memasak, namun bisa juga menjadi alat pembunuh. Ibarat pistol dia bisa menjadi alat untuk melindungi diri dan keluarga dari penjahat  tapi sekaligus senjata untuk merampok. Ibarat narkoba, dia sangat berguna untuk membantu dokter dalam proses operasi tapi sekaligus bisa menghancurkan bagi yang menggunakannya secara salah. Begitu pula Facebook.

Facebook, media sosial yang telah berkembang sangat pesat sejak Mark Zuckerberg menciptakannya 8 tahun yang lalu akan menjadi media sosial positif untuk kebaikan, namun sekaligus dapat sebagai palu penghancur hubungan sosial yang sudah mapan sebelumnya.

Facebook akan menjadi alat positif atau negatif sepenuhnya tergantung pada si pemilik login akun facebook tersebut. Oleh karena itu dapat dipahami bila pada akhirnya secara alamiah ada yang mengelompokkan diri pada kategori kelompok ketergantungan dan sebaliknya lagi ada yang masuk pada kategori kelompok antipati, dengan spektrum yang cukup luas di antaranya.

Dikatakan ketergantungan adalah bila dalam suatu waktu dia merasa “sakit” ketika tidak dapat mengikuti perubahan “status” yang disampaikan teman-temannya, atau hidup terasa  ada yang hilang bila dalam kurun waktu tertentu tidak memposting status tertentu, meskipun sekedar kata “geraaahhh.” atau “enaknya ngapain ya…?”. Namun pada posisi diametral sebaliknya tidak sedikit yang secara periodik menyebarkan pesan pesan penyemangat, atau kata-kata inspiratif.

Postingan kata-kata kosong atau kata penyemangat yang padat makna ini biasa ditayangkan pada dinding (wall) pemilik akun sehingga siapapun yang menjadi teman si pemilik akun tersebut seakan akan mendapat pesan atau berita tersebut. Semakin menarik kata atau kalimat yang ditayangkan ini maka semakin panjang pula komentar yang sahut menyahut mengikuti pesan tersebut.

Bagi kelompok yang anti pati, facebook adalah hal yang sengaja dihindari, demi mencegah munculnya bibit bibit kecurigaan sekecil apapun yang mungkin dampak lukanya sangat sulit diobati sementara manfaatnya barangkali tidak sebanding dengan resikonya. Bahwa nantinya akan dianggap kuper atau gaptek, ach peduli amat. Namun, menjadi asing berada dalam komunitas yang hampir semuanya menggunakan facebook sebagai sarana komunikasi dan menghibur diri menjadi resiko yang siap dihadapi. Barangkali akan terasa seperti kambing congek disaat beberapa orang berkumpul membicarakan segala kelucuan dan kegemasan tentang apa saja yang ditampilkan di facebook sementara kita tidak nyambung dan selalu bertanya “ada apa sich?”, atau “gimana gimana?” karena nggak tahu konteksnya. Sekali sekali bertanya apa sich, bolehlah, tetapi kalau berkali kali?. Masak sich.

Untuk itu, sebagai bagian dari upaya meningkatkan komunikasi dan berbagi kebahagiaan antar anggota yang sudah menjadi seperti saudara ketika di negeri orang maka kerendahan hati “komandan batalion Banseok” perlu dihargai karena telah merelakan diri membuatkan akun atas beberapa orang yang awalnya memang benar benar menolak. Sebagai komandan yang berpengalaman atau mungkin pernah mengalami, maka sewajarnya bila kepada pemilik akun baru ini dipesankan nasihat baik seperti ini, “hati-hati Mas, facebook memang akan dapat mendekatkan yang jauh, tapi sekaligus bisa menjauhkan yang dekat”. Sungguh nasihat yang jitu yang harus disadari oleh siapapun pemilik akun facebook, karena tentu nasihat ini muncul bukan dari batu, tapi dari pengalaman dan pengamatan.

Sebagai media sosial yang begitu popular dan cepat berkembang mudah dipahami bila muncul ekses-ekses lain yang tidak diharapkan, tinggal pandai-pandai nya sipemilik untuk mengelola ekses ini untuk sebesar besarnya kemanfaatan dia. Bagi yang antipati sepertinya ekses inilah yang ingin dihindari, toh nggak ada “facebook yo nggak patheken”, barangkali itu semboyannya. Sebenarnya ekses apa sich yang menjadikan beberpa orang ini begitu anti pati?

Media sosial ini begitu mudah pemakaiannya sehingga siapapun yang mau bergabung praktis tidak ada hambatan yang berarti kecuali dari dalam dirinya sendiri. Menawarkan berbagai fiture yang memang memudahkan untuk berbagai urusan sosial, mulai dari berkomunikasi aktif pada komunitasnya, menampilkan situasi dan posisi terkini, menampilkan foto atau video masa lalu hingga masa kini, mengenalkan profesi diri untuk ditemukan siapapun yang mencari, hingga mencari teman yang mungkin sudah lama hilang bahkan dalam ingatan sekalipun. Dalam urusan mencari teman, selagi dapat dikenali namanya, atau beberapa data identitas yang pernah melekat padanya, dan yang dicari juga sudah memiliki akun facebook maka tidak ada alasan untuk tidak dapat ditemukan. Kalaupun sudah lupa namanya atau mungkin tidak kenal data lainnya maka cukup dicari keterkaitan jaringannya. Melalui jaringan pertemanan ini pula proses mencari teman yang hilang ini begitu mudah dilakukan. Maka tidak perlu kaget bila kemudian terbesit keinginan untuk mencari teman saat SD sekedar melihat bagaimana keadaannya sekarang, atau teman SMP untuk mengetahui sudah kerja dan sukses dibidang apa sekarang, atau bekas pacar waktu SMU dulu, apakah masih secantik dulu, atau siapa suami sekarang. Meskipun sebenarnya facebook dapat dikontrol tingkat keterbukaan atau ketertutupannya, namun seringkali kita tidak memperdulikannya sehingga tanpa disadari akan semakin banyak teman yang masuk dalam jaringan kita.

Oleh karena itu, sekali kita menanggapi sesuatu, atau sebaliknya, tayangan atau komentar kita akan ditanggapi oleh orang lain maka sangat terbuka kemungkinan interaksi komunikasi ini dapat dibaca oleh siapapun juga yang ada dalam jaringan pertemanan itu, termasuk istri yang tentu juga menjadi “close friend” dalam jaringan kita. Untuk hal-hal yang sifatnya normatif, atau nasihat dan pesan positif maka hal seperti ini akan mengalir tanpa ada gejolak gangguan apapun. Tetapi keisengan untuk larut dalam memori masa lalu dalam berkomentar, kalau ini bersambut maka ada kemungkinan “bahasa masa kini” dengan latar belakang “bahasa masa lalu” yang sebenarnya biasa saja bisa bernilai berbeda dan menjadi sumber petaka.

Komentar sepele atas tampilan foto teman masalalu apalagi bekas pacar  semisal “wah, masih cantik”, yang sebenarnya mungkin pujian biasa, atau sekedar kata basa basi tetapi bagi “close friend” ini bisa berarti ada dunia lain yang perlu diwaspadai. Maka tidak perlu kaget bila istri atau si “close friend” tiba-tiba saja menulis komentar di bawahnya, “siapa ini Pa?”, seakan penegasan “jangan macam-macam ya!, atau “Hei ini suamiku” atau “hei aku istrinya, jangan main-main ya..!”, atau kata apapun dengan nilai dan rasa yang serupa. Kalau kejadian seperti ini terjadi seperti “ketangkap tangan”, maka kelanjutan dari episode seperti ini sungguh dapat diduga, akan terjadi interogasi kecil yang bila tidak dikelola dengan baik akan berkepanjangan dan berbuah petaka.

Bagi sebagian orang mengelola konflik seperti itu dengan mengambil jalan pintas yang tentu beresiko. Misal, biar tidak terlalu kelihatan bohongnya maka strategi kuno dijalankan sekedar untuk mengulur waktu dengan memberikan “password salah”, dan sekedar menunjukkan bahwa seakan akan memang tidak ada yang disembunyikan. Kalau benar-benar dibuka dan tentu tidak akan berhasil membuka maka jawaban sesudahnya tentu sudah disiapkan, “maaf Ma, passwornya salah. Harusnya ada tambahan angka atau huruf ini”, atau alasan apasaja. Tentu tidak perlu cerdas untuk mengetahui bahwa strategi kuno ini hanya untuk mengulur waktu saja, karena dalam proses mengulur waktu ini berbagai kemungkinan bisa terjadi misal seluruh informasi rahasia sudah bisa dihapus dulu, sehingga ketika password yang benar diberikan, isinya sudah bersih dari berbagai kecurigaan. Jangan dikira istri nggak tahu akal bulus seperti ini. Mungkin benar dia nggak tau, tapi dia tentu bisa merasakan, hanya nggak bisa membuktikan dan nggak ingin membuktikan karena dia sendiri nggak siap kalau kecurigaannya terbukti benar. Jadi biarin aja, asal liat suami sudah seperti ketakutan yang amat, itu sudah cukup, karena ketakutan itu tanda sayang.

Namun dalam kepanikan tertentu, sikap emosional istri dapat mengacaukan strategi dan akal bulus yang sudah disiapkan, apalagi mental kita memang tidak disiapkan untuk menghadapi kejutan kejutan seperti itu.

Sungguh hal yang sangat tidak diharapkan, apalagi sudah jauh jauh istri didatangkan dari Indonesia sesampai di Korea kok malah ngajak bertengkar dengan membentak “Papaaaa… passwordnya mana?”, karena dia tahu kebohongan suaminya.

Dia hanya bisa duduk sambil merenung, “ah facebook!!”.


Daejeon, Juli 4 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar