Jumat, 07 Oktober 2016

Malu bertanya, sesat di restoran…


Malu bertanya, sesat di restoran…
Mati Ketawa Gaya Korea 9

E

ntah apa yang dipikirkan oleh dua kelompok orang sebangsa yang kebetulan berada di tempat yang sama, urusan yang sama tetapi tidak mau bertegur sapa. Gengsi apa yang ada di dada mereka. Sekelompok adalah pemuda yang sudah berada di Korea lebih lama, sementara kelompok lainnya para profesor dan calon profesor yang baru beberapa hari tiba. Tidak perlu dicari siapa dan sebabnya kenapa begitu, yang lebih penting mari coba kita lihat akibatnya.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain Ikannya. Peribahasa itu barangkali kita hafal betul, hanya artinya yang mungkin ikut tergerus waktu. Peribahasa ini mengajarkan kita terus mau belajar menempatkan diri dalam budaya baru dimanapun yang mungkin kita belum kenal, apalagi di Korea ini. Keengganan belajar bisa berbahaya. Belajar dapat dimulai dengan bertanya, untuk mengetahui yang memang belum tahu. Kalau seorang enginer tidak mau bertanya maka resiko salah design bisa sangat berbahaya. Kalau perwira tidak mau bertanya, salah tembak fatal akibatnya. Kalau dosen tidak mau bertanya, beresiko salah yang efeknya berantai. Kalau profesor tidak bertanya, mungkin memang dirasa tidak ada yang perlu ditanyakan karena semua jawaban atas semua pertanyaan sudah ada disakunya.

Korea, adalah negeri yang tumbuh berkembang dengan cepat karena berbagai sistem yang ada dikembangkan untuk kemudahan pelayanan siapa saja. Namun tetep saja, dalam bahasa dan tulisan yang kita tidak mengerti maka bertanya adalah solusi yang paling cepat dan sederhana. Apalagi cuma urusan makan, apa susahnya bertanya. Memang dituntut kreatif, sehingga pakai bahasa isyarat pun jadi, toh bertanya tidak akan merendahkan harkat dan harga diri kita.

Memasuki gerai makanan di Lotte Ria Lotte mart, tersedia empat atau lima gerai makanan yang berbeda. Semua berbasis makanan Korea kecuali satu gerai model Amerika. Di salah satu sisi masuk gerai-gerai tersebut terdisplay beberapa contoh makanan berupa model imitasi yang sangat menarik karena dibuat sangat menyerupai aslinya, sekaligus tertera berapa harganya. “Ah gampang”. Sikap yang umumnya terjadi dan memang gampang. Pilih menu yang ada didisplay, cari kasir dan bayar, duduk manis ntar makanan pesanan akan hadir di meja seperti yang kebanyakan terjadi di gerai gerai makanan yang ada di Indonesia. Selesai, tinggal makan, urusan beres.

Sementara orang lalu lalang mengambil sendiri makanan pesanannya sesuai dengan nomer kode pesanan yang diterima saat bayar di kasir, bapak-bapak kita ini sibuk saling menertawakan diri karena tidak satu katapun keluar saat pesan makanan. Cuma tunjuk, dan bayar. Pembeli adalah raja maka sudah sepantasnya mereka melayani kita. Barangkali itu logika yang dibangun dalam benaknya. Bapak-bapak profesor  merasa sudah memilih menu, sudah bayar dikasir, dan pilih meja yang paling strategis serta nyaman untuk makan. Tinggal tunggu makanan datang di meja. Sementara itu, di seberang meja yang lain sekelompok orang Indonesia lainnya sudah mulai menyantap makanan pesanan mereka. Sepertinya tipikal orang Indonesia dimana makan sambil ngobrolin apa saja. Tidak terasa, waktu hampir satu jam untuk makan sambil ngobrol terlewati begitu cepat. Meskipun sudah selesai makan, kelompok ini memang sepertinya sengaja belum berajak dari tempatnya. Tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya. Mungkin memang ingin santai melanjutkan obrolan yang belum selesai, mungkin memang menunggu siapa tahu bapak-bapak yang ada di meja lain itu perlu bantuan. Atau sengaja ingin menikmati kegelisahan orang yang sedang kelaparan. Kebetulan yang terjadi di seberang meja lainnya adalah bapak-bapak tadi yang hanya bisa ngobrol saja karena makanan belum ada dimeja. Melihat cara menoleh, melongok dan mengamati sekeliling sepertinya ada kegelisahan. Sudah sekian lama menunggu tetapi makanan pesanan kok tidak kunjung tiba. Barangkali itu yang dibenaknya. Mau bertanya, gimana cara tanya nya. Keraguan mulai nampak. Jangan-jangan membayar di kasir yang salah. Jangan-jangan sudah diumumkan kalo menu yang dipesan tidak tersedia. Tapi sekali lagi, gimana tahunya?.

Waktu terus berjalan sementara perut sudah tidak mau diajak kompromi lagi. Dalam suasana kegelisahan dan ketidakpastian, tiba tiba datang beberapa orang dari beberapa gerai makanan tersebut sambil menanyakan sesuatu. Tentu dalam bahasa Korea. “Wuahh, sudah lapar, dikasih “soal” bahasa Korea lagi”. Mesti jawab dengan apa. Yang terjadi bingung dan bingung. Dengan bahasa isyaratpun sepertinya bapak-bapak ini tidak paham apa maksudnya. Dalam suasana lapar kecerdasan memang sering kali hilang. Begitu melihat tanda bukti pembayaran yang ada di meja, petugas gerai tadi langsung menyambar tanpa bicara lagi, dan kembali lagi membawa makanan yang sudah dipesan tadi. Sebenarnya makanan itu sudah siap sejak satu jam yang lalu. Hanya saja bapak-bapak itu tidak tahu kalau makanan yang dipesan diidentifikasi berupa nomer pesanan yang tertera dalam bon bukti bayar. Nomer itulah yang akan dipanggil sebagai tanda bahwa pesanan sudah siap dan harus diambil sendiri di masing masing gerai. Sebagai pendatang baru dan dalam bahasa dan system yang tidak dikenali maka itulah yang terjadi. Tentu makanan itu sudah tidak panas lagi. Begitu makanan tersaji di meja, bapak-bapak hanya bisa saling pandang diantara mereka.

Seperti ada bahasa penyesalan yang tidak terucap. Ada semacam pengakuan ketidak tahuan prosedur. Sambil memegang perut, “ternyata mahal juga harga gengsi untuk bertanya”.

Sementara di meja lainnya, hanya bisa tertawa kecil sekedar untuk tidak menyinggu perasaan dan mungkin sambil berkata dalam hati, "Nah lu, tanya donk. Masak diem aja". Masih nggak mau Tanya?. Siap siap lah untuk ditegur pakai bahasa Korea lagi, karena selesai makan sudah tradisi bahwa piring dan perlengkapan makan mesti dikembalikan sendiri ke gerai asalnya.

Daejeon, Mei 22 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar