Malu bertanya, sesat di restoran…
Mati Ketawa Gaya Korea 9
|
E
|
ntah apa yang
dipikirkan oleh dua kelompok orang sebangsa yang kebetulan berada di tempat
yang sama, urusan yang sama tetapi tidak mau bertegur sapa. Gengsi apa yang ada
di dada mereka. Sekelompok adalah pemuda yang sudah berada di Korea lebih lama,
sementara kelompok lainnya para profesor dan calon profesor yang baru beberapa
hari tiba. Tidak perlu dicari siapa dan sebabnya kenapa begitu, yang lebih
penting mari coba kita lihat akibatnya.
Lain ladang lain
belalang, lain lubuk lain Ikannya. Peribahasa itu barangkali kita hafal betul,
hanya artinya yang mungkin ikut tergerus waktu. Peribahasa ini mengajarkan kita
terus mau belajar menempatkan diri dalam budaya baru dimanapun yang mungkin
kita belum kenal, apalagi di Korea ini. Keengganan belajar bisa berbahaya.
Belajar dapat dimulai dengan bertanya, untuk mengetahui yang memang belum tahu.
Kalau seorang enginer tidak mau bertanya maka resiko salah design bisa sangat
berbahaya. Kalau perwira tidak mau bertanya, salah tembak fatal akibatnya.
Kalau dosen tidak mau bertanya, beresiko salah yang efeknya berantai. Kalau
profesor tidak bertanya, mungkin memang dirasa tidak ada yang perlu ditanyakan
karena semua jawaban atas semua pertanyaan sudah ada disakunya.
Korea, adalah
negeri yang tumbuh berkembang dengan cepat karena berbagai sistem yang ada
dikembangkan untuk kemudahan pelayanan siapa saja. Namun tetep saja, dalam
bahasa dan tulisan yang kita tidak mengerti maka bertanya adalah solusi yang
paling cepat dan sederhana. Apalagi cuma urusan makan, apa susahnya bertanya.
Memang dituntut kreatif, sehingga pakai bahasa isyarat pun jadi, toh bertanya
tidak akan merendahkan harkat dan harga diri kita.
Memasuki gerai
makanan di Lotte Ria Lotte mart, tersedia empat atau lima gerai makanan yang
berbeda. Semua berbasis makanan Korea kecuali satu gerai model Amerika. Di salah
satu sisi masuk gerai-gerai tersebut terdisplay beberapa contoh makanan berupa
model imitasi yang sangat menarik karena dibuat sangat menyerupai aslinya,
sekaligus tertera berapa harganya. “Ah gampang”. Sikap yang umumnya terjadi dan
memang gampang. Pilih menu yang ada didisplay, cari kasir dan bayar, duduk
manis ntar makanan pesanan akan hadir di meja seperti yang kebanyakan terjadi
di gerai gerai makanan yang ada di Indonesia. Selesai, tinggal makan, urusan
beres.
Sementara orang
lalu lalang mengambil sendiri makanan pesanannya sesuai dengan nomer kode
pesanan yang diterima saat bayar di kasir, bapak-bapak kita ini sibuk saling
menertawakan diri karena tidak satu katapun keluar saat pesan makanan. Cuma
tunjuk, dan bayar. Pembeli adalah raja maka sudah sepantasnya mereka melayani
kita. Barangkali itu logika yang dibangun dalam benaknya. Bapak-bapak
profesor merasa sudah memilih menu,
sudah bayar dikasir, dan pilih meja yang paling strategis serta nyaman untuk
makan. Tinggal tunggu makanan datang di meja. Sementara itu, di seberang meja
yang lain sekelompok orang Indonesia lainnya sudah mulai menyantap makanan
pesanan mereka. Sepertinya tipikal orang Indonesia dimana makan sambil
ngobrolin apa saja. Tidak terasa, waktu hampir satu jam untuk makan sambil ngobrol
terlewati begitu cepat. Meskipun sudah selesai makan, kelompok ini memang
sepertinya sengaja belum berajak dari tempatnya. Tidak tahu apa yang sedang
dipikirkannya. Mungkin memang ingin santai melanjutkan obrolan yang belum
selesai, mungkin memang menunggu siapa tahu bapak-bapak yang ada di meja lain
itu perlu bantuan. Atau sengaja ingin menikmati kegelisahan orang yang sedang
kelaparan. Kebetulan yang terjadi di seberang meja lainnya adalah bapak-bapak
tadi yang hanya bisa ngobrol saja karena makanan belum ada dimeja. Melihat cara
menoleh, melongok dan mengamati sekeliling sepertinya ada kegelisahan. Sudah
sekian lama menunggu tetapi makanan pesanan kok tidak kunjung tiba. Barangkali
itu yang dibenaknya. Mau bertanya, gimana cara tanya nya. Keraguan mulai
nampak. Jangan-jangan membayar di kasir yang salah. Jangan-jangan sudah
diumumkan kalo menu yang dipesan tidak tersedia. Tapi sekali lagi, gimana
tahunya?.
Waktu terus
berjalan sementara perut sudah tidak mau diajak kompromi lagi. Dalam suasana
kegelisahan dan ketidakpastian, tiba tiba datang beberapa orang dari beberapa
gerai makanan tersebut sambil menanyakan sesuatu. Tentu dalam bahasa Korea.
“Wuahh, sudah lapar, dikasih “soal” bahasa Korea lagi”. Mesti jawab dengan apa.
Yang terjadi bingung dan bingung. Dengan bahasa isyaratpun sepertinya
bapak-bapak ini tidak paham apa maksudnya. Dalam suasana lapar kecerdasan
memang sering kali hilang. Begitu melihat tanda bukti pembayaran yang ada di
meja, petugas gerai tadi langsung menyambar tanpa bicara lagi, dan kembali lagi
membawa makanan yang sudah dipesan tadi. Sebenarnya makanan itu sudah siap
sejak satu jam yang lalu. Hanya saja bapak-bapak itu tidak tahu kalau makanan
yang dipesan diidentifikasi berupa nomer pesanan yang tertera dalam bon bukti
bayar. Nomer itulah yang akan dipanggil sebagai tanda bahwa pesanan sudah siap
dan harus diambil sendiri di masing masing gerai. Sebagai pendatang baru dan
dalam bahasa dan system yang tidak dikenali maka itulah yang terjadi. Tentu
makanan itu sudah tidak panas lagi. Begitu makanan tersaji di meja, bapak-bapak
hanya bisa saling pandang diantara mereka.
Seperti ada
bahasa penyesalan yang tidak terucap. Ada semacam pengakuan ketidak tahuan
prosedur. Sambil memegang perut, “ternyata mahal juga harga gengsi untuk bertanya”.
Sementara di
meja lainnya, hanya bisa tertawa kecil sekedar untuk tidak menyinggu perasaan
dan mungkin sambil berkata dalam hati, "Nah lu, tanya donk. Masak diem
aja". Masih nggak mau Tanya?. Siap siap lah untuk ditegur pakai bahasa
Korea lagi, karena selesai makan sudah tradisi bahwa piring dan perlengkapan
makan mesti dikembalikan sendiri ke gerai asalnya.
Daejeon,
Mei 22 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar