Jumat, 07 Oktober 2016

Mr Banana...


Mr Banana...
Mati Ketawa Gaya Korea 2
 
M
engikuti pelajaran "wajib" bahasa Korea sungguh menjadi hal yang menyenangkan, paling tidak awalnya, karena disana menjadi sarana menghibur diri, menyaksikan kami saling menertawakan diri akibat ketidak fasihan, ketidak cakapan dan segala kesulitan mengikuti pelajaran bahasa Korea. Pada pertemuan yang kesekian sebagian besar dari kami sudah mulai dapat membaca meskipun masih sulit untuk mengucapkannya maupun mengartikannya. Tapi lumayanlah, paling tidak kalau ditunjuk oleh guru "Dr.Sin" sudah bisa membaca meskipun masih terbata-bata.
Dr.Sin adalah guru bahasa kami yang sangat bersemangat dalam mengajar kami, dan beliau pandai membuat suasana di kelas menjadi hidup kalau tidak mau disebut rame. Agar murid-muridnya bener-bener menyimak maka sudah biasa beliau mempergilirkan sesuka hati beliau siapa yang mesti membaca. Kebetulan saat itu kami dikenalkan membaca beberapa kata dalam bahasa korea. Seperti anak TK, disamping kalimat yang tertulis dalam bahasa korea, meskipun agak jauh ada petunjuk gambar yang menandakan nama benda yang digambar itu.
Sambil menunjuk salah satu kalimat yang tertulis di Slide, Dr.Sin mulai menunjukkan "kekuasaannya", dengan menunjuk salah satu muridnya, “Ya Ali”. Dengan lancar Ali membaca :"Igosen saguaida", kalimat yang menunjukkan arti "ini apel". Semua tepuk tangan. Murid berikutnya ditunjuk, "Igosen ceksangida", penunjukan untuk kalimat "ini meja". Karena sifat penunjukkan yang acak ini menyebabkan siapa saja yang nggak siap menjadi deg-degan.
Yang terjadi maka terjadilah, sedari awal H yang memang agak kurang semangat mengikuti palajaran ini, barangkali hanya karena slidaritas saja dia memaksakan diri untuk hadir. Dan akhirnya dia kebagian penunjukkan Dr.Sin. “Yes You !”, sambil menunjuk H. H bediri dengan agak ragu, kikuk, dan sedikit gugup karena spertinya dia nggak siap untuk membaca kalimat yang ditunjuk oleh Dr.Sin. Dr.Sin menunjuk satu kalimat dimana benda yang disebutkan memiliki dua suku kata. Karena sudah terlanjur ditunjuk dan sudah berdiri maka dia harus membaca. Tapi apa yang harus dibaca wong masih belum kenal huruf hurufnya.
Percampuran antara kegugupan, celotehan/godaan teman dan keinginan untuk segera duduk, akhirnya H membaca dengan keras. "Igosen Bananaida". Sontak seluruh murid dan guru tertawa nggak ada habisnya hingga menguras airmata. Bagaimana mungkin dua suku kata "gudu" dibaca "banana" yang tiga suku. Sungguh kengawuran yang sangat nekad. Atas kenekatannya itu selanjutnya rekan kita ini diberi nama Mr.Banana dan menjadi murid kesayangan Dr.Sin. Hanya sayangnya, Mr.Banana tidak cukup kuat niat untuk melanjutkan kelas bahasanya, bahkan ajakan Dr.Sin untuk tetap bergabungpun tidak mampu menggoyahkan niat Mr.Banana untuk berhenti. “Where is Mr.Banana?”, begitulah setiap kali Dr.Sin memulai kelasnya.
 Daejeon, Mei 14 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar