Mr Banana...
Mati Ketawa Gaya Korea 2
|
M
|
engikuti
pelajaran "wajib" bahasa Korea sungguh menjadi hal yang menyenangkan,
paling tidak awalnya, karena disana menjadi sarana menghibur diri, menyaksikan
kami saling menertawakan diri akibat ketidak fasihan, ketidak cakapan dan
segala kesulitan mengikuti pelajaran bahasa Korea. Pada pertemuan yang kesekian
sebagian besar dari kami sudah mulai dapat membaca meskipun masih sulit untuk
mengucapkannya maupun mengartikannya. Tapi lumayanlah, paling tidak kalau
ditunjuk oleh guru "Dr.Sin" sudah bisa membaca meskipun masih terbata-bata.
Dr.Sin adalah
guru bahasa kami yang sangat bersemangat dalam mengajar kami, dan beliau pandai
membuat suasana di kelas menjadi hidup kalau tidak mau disebut rame. Agar
murid-muridnya bener-bener menyimak maka sudah biasa beliau mempergilirkan
sesuka hati beliau siapa yang mesti membaca. Kebetulan saat itu kami dikenalkan
membaca beberapa kata dalam bahasa korea. Seperti anak TK, disamping kalimat
yang tertulis dalam bahasa korea, meskipun agak jauh ada petunjuk gambar yang
menandakan nama benda yang digambar itu.
Sambil menunjuk
salah satu kalimat yang tertulis di Slide, Dr.Sin mulai menunjukkan
"kekuasaannya", dengan menunjuk salah satu muridnya, “Ya Ali”. Dengan
lancar Ali membaca :"Igosen saguaida", kalimat yang menunjukkan arti
"ini apel". Semua tepuk tangan. Murid berikutnya ditunjuk,
"Igosen ceksangida", penunjukan untuk kalimat "ini meja".
Karena sifat penunjukkan yang acak ini menyebabkan siapa saja yang nggak siap
menjadi deg-degan.
Yang terjadi
maka terjadilah, sedari awal H yang memang agak kurang semangat mengikuti
palajaran ini, barangkali hanya karena slidaritas saja dia memaksakan diri
untuk hadir. Dan akhirnya dia kebagian penunjukkan Dr.Sin. “Yes You !”, sambil
menunjuk H. H bediri dengan agak ragu, kikuk, dan sedikit gugup karena
spertinya dia nggak siap untuk membaca kalimat yang ditunjuk oleh Dr.Sin.
Dr.Sin menunjuk satu kalimat dimana benda yang disebutkan memiliki dua suku
kata. Karena sudah terlanjur ditunjuk dan sudah berdiri maka dia harus membaca.
Tapi apa yang harus dibaca wong masih belum kenal huruf hurufnya.
Percampuran
antara kegugupan, celotehan/godaan teman dan keinginan untuk segera duduk,
akhirnya H membaca dengan keras. "Igosen Bananaida". Sontak seluruh
murid dan guru tertawa nggak ada habisnya hingga menguras airmata. Bagaimana
mungkin dua suku kata "gudu" dibaca "banana" yang tiga
suku. Sungguh kengawuran yang sangat nekad. Atas kenekatannya itu selanjutnya
rekan kita ini diberi nama Mr.Banana dan menjadi murid kesayangan Dr.Sin. Hanya
sayangnya, Mr.Banana tidak cukup kuat niat untuk melanjutkan kelas bahasanya,
bahkan ajakan Dr.Sin untuk tetap bergabungpun tidak mampu menggoyahkan niat
Mr.Banana untuk berhenti. “Where is Mr.Banana?”, begitulah setiap kali Dr.Sin
memulai kelasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar