Eforia Pulang 3
Mati Ketawa Gaya Korea 32
Ada pesan dasar
dalam dunia perdagangan, kalau ada yang menawarkan barang atau jasa dengan
harga yang sangat murah dibandingkan dengan harga pasaran pada umumnya maka
berhati hatilah. Kalau ada yang menawarkan barang atau jasa dengan cara yang
sangat menarik, sangat memikat, memberi kesan manfaat atau keuntungan yang
sangat besar dengan cara yang sangat mudah, maka berhati hatilah.
Jam telah
mendekati pukul 7 pagi waktu Incheon, saatnya untuk melakukan checkin
penerbangan Incheon-Changi dan Changi-Sukarno Hatta. Untuk jadual penerbangan
pukul 09.00 maka waktu 2 jam yang tersedia terasa sangat mepet. Dalam dunia
marketing kadangkala kesempitan waktu seperti ini memang sengaja dimanfaatkan
atau dikondisikan oleh si penjual agar seseorang harus mengambil keputusan
cepat yang cenderung tergesa-gesa, yang beresiko pada kerugian akibat ketidak
hati hatian atau luput mempertimbangkan beberapa hal. Demikian pula yang
terjadi di counter Money Changer di Incheon Airport. Yang sering terjadi di
beberapa money changer, nilai kurs disajikan dari dua sisi “JUAL” dan “BELI”,
namun untuk yang di Incheon airport ini yang tersaji hanya sisi “BELI”, yang
dalam konteks jual dan beli mata uang ini, kata “BELI” didefinisikan sebagai
konsumen membeli mata uang Won dengan menggunakan mata uang negaranya. Karena
nilai kurs dari sisi “JUAL”nya tidak ditampilkan maka sebagai engineer hal
tersebut tidak dianggap sebagai masalah karena dia sudah terbiasa bekerja
menggunakan kata asumsi dan prediksi berdasarkan pengalaman empirisnya. Di
belakang simbol bendera merah-putih, tertulis dengan jelas di monitor besar di
counter itu satu baris INDONESIA => 13.05 yang segera dipahami sebagai 1 Won
= Rp. 13.05 karena tidak mungkin data itu diartikan sebagai Rp 1 = 13.05 Won,
karena dia tahu kisaran nilai kurs 1 won akan sekitar 8 -9 rupiah. Kalaupun
meleset paling kesalahan terletak pada persepsi tentang difinisi BELI yang
ternyata adalah JUAL yang biasanya perbedaan nilai kurs JUAL dan BELI tidaklah
terlalu besar, yang untuk Won ke Rupiah cuma dalam kisaran 0.2 sampai dengan
0.5 saja. Tampilan INDONESIA = 13.05 ini begitu menariknya hingga dalam waktu
yang terbilang sangat mepet menjelang waktu checkin berhasil merangsang syaraf
bisnis engineer senior untuk melongok, mengechek dan memastikan bahwa apa yang
ditampilkan di counter itu adalah benar. Dengan persepsi yang dimiliki selama
ini tentang money changer maka segera saja dia meyakini bahwa INDONESIA=13.05
ini tentu sangat menarik. Memang sangat menarik namun untuk beberapa engineer
lainnya hal tersebut masih diragukan, meskipun tidak jelas dasar dan letak
sumber keraguannya.
“Kalaupun
ternyata dari Won ke Rupiah di counter itu ternyata harus status Jual, kalau 1
Won akan di hargai Rp 10,- tetep saja nilai yang bagus lho. Coba aja lihat di
internet, pasti paling banter 1 Won = Rp. 8.5 !”, begitu engineer senior ini
meyakinkan diri sekaligus meyakinkan engineer lainnya. Dan betul, nilai kurs di
Internet saat itu 1 Won = Rp 8.8 untuk JUAL dan 8.5 untuk BELI. Karena tidak
ada koreksi, atau upaya mencegah dari rekan-rekannya atas situasi itu maka
segera saja disiapkan sisa uang Won nya untuk ditukarkan dengan rupiah, mata
uang negerinya. 2 Juta won telah disiapkan. Belum selesai lady counter
menghitung nilai rupiah yang akan diperoleh, segera saja dia tambahkan 200 ribu
won lagi hasil merogoh saku tas nya sehingga total ada 2.2 Juta Won.
Dengan cepat
lady counter menunjukkan nilai rupiah yang akan diterima atas sejumlah won yang
sudah diserahkan. Melalui kalkulator ditunjukkan angka Rp. 16.858.000,-.
Melihat angka itu engineer senior sedikit terdiam. Otak engineeringnya segera
bekerja menghitung dengan cepat, saraf naluri bisnisnya segera merasakan.
“Kalau 2 juta saja mestinya dapat paling tidak 26 Juta rupiah, apalagi 2.2
juta, pasti lebih deh. Wah sepertinya ada yang salah nich !!”, kesimpulan yang
melintas di memori otaknya. Untuk itu segera dia minta hitungannya di check
lagi, “Bisa tolong dicheck lagi?”, ucapnya secara halus dalam bahasa Inggris
yang fasih. Memahami adanya keraguan bagi engineer senior maka segera saja lady
counter menghitung ulang dengan mencacat di atas kertas agar si engineer senior
juga sekaligus dapat melihat dan mengetahui prosesnya. Dengan bahasa Inggris
aksen Korea dijelaskan prosesnya.
“Kurs nya 13.05
artinya untuk 100 rupiah anda akan dapat 13.05 won”.
Sampai di sini
dia mulai paham masalahnya tetapi dia membiarkannya agar lady counter menyelesaikan
penjelasannya itu.
“Karena anda
menukar Won ke rupiah maka hitungannya tinggal dibalik 2.2 Juta Won kali 100
dibagi 13.05”
“Hasilnya adalah
16.858.000 rupiah.”.
Penjelasan yang
sederhana dan mudah dimengerti, hanya hasilnya yang tidak sesuai dengan yang
diharapkan karena kesalahan persepsi tentang INDONESIA = 13.05 itu.
Selesai
mendengar penjelasan itu lady counter langsung saja melanjutkan pertanyaan
berikutnya, “Anda Paham?”.
Kali ini dengan
sigap jelas dan tegas di jawab, “NO, CANCEL”.
Tanpa ba bi bu
uang Won yang sudah diserahkan diminta balik, dimasukkan ke dalam tas lagi,
langsung balik kanan menunju SQ Checkin counter, sementara engineer lainnya
yang mengamati kejadian itu sungguh tidak berani tertawa, karena kejadian itu
menimpa engineer senior yang sering berhemat dalam menyampaikan pendapat atau
ucapan. Bahwa dalam hati mungkin para engineer itu tertawa cekikian melihat
engineer senior yang tergoda oleh nilai Kurs, semua memakluminya sebagai dampak
dari eforia pulang. Untung saja, engineer senior memang pantas disebut senior
atas kehati hatiannya di masa injury time sehingga tidak sampai masuk lubang
perangkap kurs yang menggiurkan itu.
Bandung, 2 Desember 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar