Jumat, 07 Oktober 2016

Eforia Pulang 3


Eforia Pulang 3

Mati Ketawa Gaya Korea 32

Ada pesan dasar dalam dunia perdagangan, kalau ada yang menawarkan barang atau jasa dengan harga yang sangat murah dibandingkan dengan harga pasaran pada umumnya maka berhati hatilah. Kalau ada yang menawarkan barang atau jasa dengan cara yang sangat menarik, sangat memikat, memberi kesan manfaat atau keuntungan yang sangat besar dengan cara yang sangat mudah, maka berhati hatilah.

Jam telah mendekati pukul 7 pagi waktu Incheon, saatnya untuk melakukan checkin penerbangan Incheon-Changi dan Changi-Sukarno Hatta. Untuk jadual penerbangan pukul 09.00 maka waktu 2 jam yang tersedia terasa sangat mepet. Dalam dunia marketing kadangkala kesempitan waktu seperti ini memang sengaja dimanfaatkan atau dikondisikan oleh si penjual agar seseorang harus mengambil keputusan cepat yang cenderung tergesa-gesa, yang beresiko pada kerugian akibat ketidak hati hatian atau luput mempertimbangkan beberapa hal. Demikian pula yang terjadi di counter Money Changer di Incheon Airport. Yang sering terjadi di beberapa money changer, nilai kurs disajikan dari dua sisi “JUAL” dan “BELI”, namun untuk yang di Incheon airport ini yang tersaji hanya sisi “BELI”, yang dalam konteks jual dan beli mata uang ini, kata “BELI” didefinisikan sebagai konsumen membeli mata uang Won dengan menggunakan mata uang negaranya. Karena nilai kurs dari sisi “JUAL”nya tidak ditampilkan maka sebagai engineer hal tersebut tidak dianggap sebagai masalah karena dia sudah terbiasa bekerja menggunakan kata asumsi dan prediksi berdasarkan pengalaman empirisnya. Di belakang simbol bendera merah-putih, tertulis dengan jelas di monitor besar di counter itu satu baris INDONESIA => 13.05 yang segera dipahami sebagai 1 Won = Rp. 13.05 karena tidak mungkin data itu diartikan sebagai Rp 1 = 13.05 Won, karena dia tahu kisaran nilai kurs 1 won akan sekitar 8 -9 rupiah. Kalaupun meleset paling kesalahan terletak pada persepsi tentang difinisi BELI yang ternyata adalah JUAL yang biasanya perbedaan nilai kurs JUAL dan BELI tidaklah terlalu besar, yang untuk Won ke Rupiah cuma dalam kisaran 0.2 sampai dengan 0.5 saja. Tampilan INDONESIA = 13.05 ini begitu menariknya hingga dalam waktu yang terbilang sangat mepet menjelang waktu checkin berhasil merangsang syaraf bisnis engineer senior untuk melongok, mengechek dan memastikan bahwa apa yang ditampilkan di counter itu adalah benar. Dengan persepsi yang dimiliki selama ini tentang money changer maka segera saja dia meyakini bahwa INDONESIA=13.05 ini tentu sangat menarik. Memang sangat menarik namun untuk beberapa engineer lainnya hal tersebut masih diragukan, meskipun tidak jelas dasar dan letak sumber keraguannya.

“Kalaupun ternyata dari Won ke Rupiah di counter itu ternyata harus status Jual, kalau 1 Won akan di hargai Rp 10,- tetep saja nilai yang bagus lho. Coba aja lihat di internet, pasti paling banter 1 Won = Rp. 8.5 !”, begitu engineer senior ini meyakinkan diri sekaligus meyakinkan engineer lainnya. Dan betul, nilai kurs di Internet saat itu 1 Won = Rp 8.8 untuk JUAL dan 8.5 untuk BELI. Karena tidak ada koreksi, atau upaya mencegah dari rekan-rekannya atas situasi itu maka segera saja disiapkan sisa uang Won nya untuk ditukarkan dengan rupiah, mata uang negerinya. 2 Juta won telah disiapkan. Belum selesai lady counter menghitung nilai rupiah yang akan diperoleh, segera saja dia tambahkan 200 ribu won lagi hasil merogoh saku tas nya sehingga total ada 2.2 Juta Won.

Dengan cepat lady counter menunjukkan nilai rupiah yang akan diterima atas sejumlah won yang sudah diserahkan. Melalui kalkulator ditunjukkan angka Rp. 16.858.000,-. Melihat angka itu engineer senior sedikit terdiam. Otak engineeringnya segera bekerja menghitung dengan cepat, saraf naluri bisnisnya segera merasakan. “Kalau 2 juta saja mestinya dapat paling tidak 26 Juta rupiah, apalagi 2.2 juta, pasti lebih deh. Wah sepertinya ada yang salah nich !!”, kesimpulan yang melintas di memori otaknya. Untuk itu segera dia minta hitungannya di check lagi, “Bisa tolong dicheck lagi?”, ucapnya secara halus dalam bahasa Inggris yang fasih. Memahami adanya keraguan bagi engineer senior maka segera saja lady counter menghitung ulang dengan mencacat di atas kertas agar si engineer senior juga sekaligus dapat melihat dan mengetahui prosesnya. Dengan bahasa Inggris aksen Korea dijelaskan prosesnya.

“Kurs nya 13.05 artinya untuk 100 rupiah anda akan dapat 13.05 won”.

Sampai di sini dia mulai paham masalahnya tetapi dia membiarkannya agar lady counter menyelesaikan penjelasannya itu.

“Karena anda menukar Won ke rupiah maka hitungannya tinggal dibalik 2.2 Juta Won kali 100 dibagi 13.05”

“Hasilnya adalah 16.858.000 rupiah.”.

Penjelasan yang sederhana dan mudah dimengerti, hanya hasilnya yang tidak sesuai dengan yang diharapkan karena kesalahan persepsi tentang INDONESIA = 13.05 itu.

Selesai mendengar penjelasan itu lady counter langsung saja melanjutkan pertanyaan berikutnya, “Anda Paham?”.

Kali ini dengan sigap jelas dan tegas di jawab, “NO, CANCEL”.

Tanpa ba bi bu uang Won yang sudah diserahkan diminta balik, dimasukkan ke dalam tas lagi, langsung balik kanan menunju SQ Checkin counter, sementara engineer lainnya yang mengamati kejadian itu sungguh tidak berani tertawa, karena kejadian itu menimpa engineer senior yang sering berhemat dalam menyampaikan pendapat atau ucapan. Bahwa dalam hati mungkin para engineer itu tertawa cekikian melihat engineer senior yang tergoda oleh nilai Kurs, semua memakluminya sebagai dampak dari eforia pulang. Untung saja, engineer senior memang pantas disebut senior atas kehati hatiannya di masa injury time sehingga tidak sampai masuk lubang perangkap kurs yang menggiurkan itu.
                 Bandung, 2 Desember 2012.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar