Jumat, 07 Oktober 2016

Satu UntukSemua…!!!


Satu UntukSemua…!!!

Mati Ketawa Gaya Korea 8
 
M
embangun kerjasama tim sungguh upaya yang tidak mudah karena menyangkut karakter, kebiasaan dan jiwa manusia yang berbeda beda. Kesulitan ini menjadi lebih sulit ketika melibatkan dua bangsa, dua kepentingan, dua budaya, bahasa dan huruf yang sangat berbeda. Seluruh perbedaan ini sungguh sangat tidak mendukung proses komunikasi yangg menjadi pijakan dasar kerjasama. Kesamaannya cuma satu yaitu sama sama dari Asia yang tidak banyak membantu dalam urusan ini.
Adalah tugas pokok dari Direktur program untuk memastikan agar proses kerjasama ini dapat berjalan sesuai waktu dan target yang direncanakan. Bahwa kenyataannnya ada perbedaan yang begitu menyolok itulah "soal" yang harus diselesaikan dan tidak boleh dijadikan alasan untuk gagal. Bisa, harus bisa dan pasti bisa, hal senada yang digelorakan oleh motivator Kang Bebet ketika pembekalan dahulu.
Sebagai contoh perbedaan itu adalah tradisi minum Soju yang sudah sangat biasa dilakukan orang korea dalam berbagai kesempatan seperti makan siang, makan malam bahkan disela-sela kegiatan bersama.  Bukan Korea kalau tidak ada Soju. Bigitu kira kira slogannya. Saking mentradisinya bahkan dianggap aneh bila orang korea tidak mampu minum soju. Mabuk karena soju sepulang kerja misalnya juga dianggap bukan hal negatif. Saking keranjingannya dengan Soju maka upaya untuk mengajak engineer Indonesia makan dan minum bersama tak bosan bosannya mereka lakukan. Konon hanya dengan Soju mereka merasa bisa melepaskan beban apapun sehingga bisa bicara lepas dan tertawa sepuasnya.
Tentu berbeda sama sekali dengan kebiasaan orang Indonesia. Secara umum, orang Indonesia tidak minum minuman keras (Soju). Bagi orang Indonesia beban berat akan terasa lebih ringan cukup dengan tertawa dan untuk tertawa tidak perlu Soju. Cukup undang minum kopi bersama di Caffe, saling berganti cerita, pulang otot rahang dan perut sudah akan capek, dan sapu tangan basah karena tertawa.
Dengan perbedaan yang begitu mendasar seperti itu maka tantangan besar yang harus dilakukan program direktur yang kebetulan penghobi Soju adalah mengakrabkan tim yang dia pimpin yang merupakan gabungan dua bangsa berbeda ini, dan itu tidak bisa ditawar lagi.
Apapun caranya, harus diupayakan. Berbagai cara dan kesempatan dicoba dilakukan untuk mencairkan suasana, menghangatkan komunikasi, menyingkirkan barier barier imaginer, menghilangkan perasaan saling curiga bila ada, dan menyatukan visi dan tujuan bersama.
Satu kegiatan yang sifatnya agak besar karena melibatkan hampir seluruh anggota CRDC tidak terkecuali vendor dan supplier adalah Jiri mountain climb. Mendaki gunung Jiri yang letaknya sekitar dua Jam arah selatan dari Daejeon. Gunung ini sebenarnya tidak terlalu tinggi. Dengan puncak yang 1440 m dari permukaan laut tentu tidak seberapa tinggi dibanding dengan puncak gunung-gunung yang ada di Indonesia. Namun medan, lintasan dan kesiapan stamina peserta menjadikan yang "cuma" 1440 meter ini menjadi seperti terasa 5000 meter atau 500 meter. Bagi  yang merasakan seperti  5000 meter maka jangan kaget kalau perjalanan belum juga lewat separo mata sudah mulai berkunang-kunang, kaki gemetar dan kram hingga membayangkan akan  datang helicopter yang akan menjemputnya. Bahkan untuk peserta yang targetnya sudah didiscount 75 % pun, masih banyak yang hampir hampir tidak sampai tujuan. Terlihat dari tarikan nafas dan pertanyaan setiap sampai pada step pemberhentian. "Apakah tujuanannya disini". Dr.Lee Program direktur yang kebetulan mendengar dengan cerdik menjawab, "no, we need 5 menit more, over there", sambil menunjuk bukit terdekat. Meskipun yang terjadi adalah masih perlu lima menit lagi dan lagi setiap ketemu bukit pemberhentian.  "Waduuuhhhh, ...aku berhenti disini saja, sudah nggak kuat aku", kesah bagi beberapa orang dengan wajah memelas. Untung ada anak muda Indonesia yang sabar membimbing dan menemani dengan slogan "alon-alon waton kelakon (pelan-pelan asal sampai)".
Dengan diselingi transaksi pinjam meminjam tongkat, titip menitip ransel, ahirnya puncak 1440 meter barhasil dijangkau oleh semua peserta. Bukan batu bertumpuk itu yang akan ditaklukkan, tetapi kebersamaan mencapai puncak itu yang coba diikatkan. Sesampai di puncak, pada sesi phota photo ria, yang tadinya berwajah memelas tampil di depan seakan lupa apa yang terjadi sebelumnya.
Matahari mulai tergelincir menuju senja, cadangan energi di dalam darah sudah habis terkuras. Saatnya makan malam tiba. Ini satu satunya acara makan malam yang berjudul workshop. Diberi judul apapun hakikatnya sama, makan malam tradisi Korea. Nasi tersaji hangat dalam mangkuk besi tertutup, sup jamur dan ikan terhidang dalam mangkuk panas menggoda, tidak lupa belasan jenis kimci khas Korea daerah sisi Selatan tersebar tertata memenuhi meja. Di sisi bagian meja tertentu terlihat jelas botol putih untuk Makole yaitu sejenis air tape dan botol hijau untuk Soju. Dalam situasi ini sering kali terjadi “kegentingan kecil” perebutan wilayah teritory. Ada yang memilih tempat duduk dengan melihat siapa dulu yang sudah ada disitu, sekedar untuk memastikan keseimbangan pertarungan. Ada yang melihat dari sisi kasta, seperti "wah meja ini hanya untuk para "raja"". Atau sekedar berlindung untuk terbebas dari keharusan menolak tawaran Soju yang pasti akan datang. Dalam konteks kegiatan kebersamaan maka menolak tawaran soju memerlukan strategi agar hakikat kebersamaannya tetep terjaga dan tidak menimbulkan ketersinggungan. Untuk prajurit, hampir tidak ada alasan untuk bisa menolak, bahkan dalam acara seperti ini keberadaan prajurit benar-benar menjadi "pelindung" bagi yang bukan prajurit. Dengan tradisi saling menuangkan Soju ke dalam gelas kecil dan minum bersama sambil melingkar silangkan tangan dianggap sebagai pembabtisan sebagai teman, kesetiaan dan kebersamaan.  Dan “sang prajurit” telah melaksanakan tugasnya dengan tuntas tas. Untuk yang kelas pemula, maka ditawarkan Makole yang bagi orang Indonesia tak ubahnya seperti air tape hanya beda nama. Manis rasanya. Dangan cara yang serupa, Dr.Lee berkeliling mengunjungi meja ke meja sambil memegang botol putih itu. Gelas diisi Makole diangkat bersama sama, saling didekat dan sentuhkan, dan bersama sama mengucapkan slogan KFX/IFX, "Satu untuk Semua". Meskipun warna suara Dr.Lee berbeda, namun masih cukup jelas apa yang diucapkan. Tidak berapa lama Makole di gelas sudah berpindah ke mulut masing masing. Pada level ini selalu saja ada pemain sandiwara yang cukup mahir dengan berpura pura minum ataupun menjadi pemain sulap yang tiba-tiba bisa merubah Makole menjadi airputih., bagaimana caranya Dr.Lee sebagai peminum Soju sejati, minum satu, dua atau bahkan beberapa botol tidak akan mempengaruhi kesadarannya, apalagi cuma Makole. Demi kebersamaan yang dia yakini, sebagai Direktur dia rela mengunjungi meja ke meja. Dalam suasana riang dan tertawa, sampailah Dr.Lee ke salah satu meja Indonesia lainnya. Di meja ini tidak ada yang pernah bersentuhan dengan Soju. Kalau Makole bolehlah, sekedar untuk menghormati Direktur, barangkali begitulah yang ada dibenak mereka. Beberapa orang mulai menyiapkan gelas kecil sebagai bentuk kesiapan penghormatan. Namun ketika yang di tangan Dr.Lee berubah menjadi sebuah botol berisi carian bening berwarna agak kekuningan seperti bensin, wah ini bener bener seperti terjadinya gol di masa injuri time. Sangat mengejutkan, dan tidak ada skenario lagi untuk menghindar atau menolak. Dr.Lee sangat tahu keterkejutan ini, atau barangkali dia memang ingin membuat kejutan karena selama ini sering ditolak. Yang pasti sekarang ada persoalan yang harus dihadapi, terima atau menolak. Semuanya tahu, tidak ada alasan untuk bisa menerima minuman itu, tetapi semua seperti "sepakat" tidak ada celah untuk bisa menolak. Dengan sabarnya Dr.Lee menuangkan isi botol itu pelan-pelan ke dalam gelas yang sudah disiapkan, barangkali seperti setan yang sedang membimbing ke jalan kesesatan. Masing-masing gelas diisi sekitar dua atau tiga sendok makan. Bersama aroma khas Alkohol yang keluar, dari mulut Dr.Lee terucap ajakan untuk mengucapkan "Satu Untuk Semua". Seperti tradisi sebelumnya, gelas diangkat sentuhkan bersama sambil mengucap "Satu Untuk Semua". Dr.Lee menegak dengan tandas puas, beberapa orang yang lebih cerdas menemukan cara untuk menghindar dengan sandiwara yang bagus, namun ada satu orang yang kebetulan berdampingan langsung dengan Dr.Lee benar benar menghadapi jalan buntu. No wayout. Tidak bisa berpikir lebih lama lagi, maka yang ada di gelas langsung ditenggak sambil dicoba dirasakan "seperti apa sich rasanya?". Ternyata, yang dituang tadi adalah Wiski kelas nomer wahid. Meskipun cuma dua atau tiga sendok makan, tetapi seperti mengandung listrik 1000 watt. Begitu menyentuh lidah bagian dalam dan belum lagi masuk tenggorokan, serasa ada aliran listrik yang menyengat ujung saraf di segala arah, ke ubun-ubun, pipi, telinga dan mata. Belum cukup, sengatan itu seakan mengikat lobang tenggorokan dan pernafasan sekaligus. Yang terjadi selanjutnya adalah sulit bernafas dan kombinasi nggak jelas antara batuk dan bersin. Kejadian hanya jadi tontonan dan tertawaan.
Semakin berusaha untuk tarik nafas, yang diperoleh malah batuk yang tak berkesudahan. Sementara bagi si korban, wajah merah, telinga merah dan mata merah akan menjadi saksi harga yang harus dibayar atas nama "SATU UNTUK SEMUA"
Daejeon, Mei 19 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar