Satu UntukSemua…!!!
Mati Ketawa Gaya Korea 8
|
M
|
embangun
kerjasama tim sungguh upaya yang tidak mudah karena menyangkut karakter,
kebiasaan dan jiwa manusia yang berbeda beda. Kesulitan ini menjadi lebih sulit
ketika melibatkan dua bangsa, dua kepentingan, dua budaya, bahasa dan huruf
yang sangat berbeda. Seluruh perbedaan ini sungguh sangat tidak mendukung
proses komunikasi yangg menjadi pijakan dasar kerjasama. Kesamaannya cuma satu
yaitu sama sama dari Asia yang tidak banyak membantu dalam urusan ini.
Adalah tugas
pokok dari Direktur program untuk memastikan agar proses kerjasama ini dapat
berjalan sesuai waktu dan target yang direncanakan. Bahwa kenyataannnya ada
perbedaan yang begitu menyolok itulah "soal" yang harus diselesaikan
dan tidak boleh dijadikan alasan untuk gagal. Bisa, harus bisa dan pasti bisa,
hal senada yang digelorakan oleh motivator Kang Bebet ketika pembekalan dahulu.
Sebagai contoh
perbedaan itu adalah tradisi minum Soju yang sudah sangat biasa dilakukan orang
korea dalam berbagai kesempatan seperti makan siang, makan malam bahkan disela-sela
kegiatan bersama. Bukan Korea kalau
tidak ada Soju. Bigitu kira kira slogannya. Saking mentradisinya bahkan
dianggap aneh bila orang korea tidak mampu minum soju. Mabuk karena soju
sepulang kerja misalnya juga dianggap bukan hal negatif. Saking keranjingannya
dengan Soju maka upaya untuk mengajak engineer Indonesia makan dan minum
bersama tak bosan bosannya mereka lakukan. Konon hanya dengan Soju mereka
merasa bisa melepaskan beban apapun sehingga bisa bicara lepas dan tertawa
sepuasnya.
Tentu berbeda
sama sekali dengan kebiasaan orang Indonesia. Secara umum, orang Indonesia
tidak minum minuman keras (Soju). Bagi orang Indonesia beban berat akan terasa
lebih ringan cukup dengan tertawa dan untuk tertawa tidak perlu Soju. Cukup
undang minum kopi bersama di Caffe, saling berganti cerita, pulang otot rahang
dan perut sudah akan capek, dan sapu tangan basah karena tertawa.
Dengan perbedaan
yang begitu mendasar seperti itu maka tantangan besar yang harus dilakukan
program direktur yang kebetulan penghobi Soju adalah mengakrabkan tim yang dia
pimpin yang merupakan gabungan dua bangsa berbeda ini, dan itu tidak bisa
ditawar lagi.
Apapun caranya,
harus diupayakan. Berbagai cara dan kesempatan dicoba dilakukan untuk
mencairkan suasana, menghangatkan komunikasi, menyingkirkan barier barier
imaginer, menghilangkan perasaan saling curiga bila ada, dan menyatukan visi
dan tujuan bersama.
Satu kegiatan
yang sifatnya agak besar karena melibatkan hampir seluruh anggota CRDC tidak
terkecuali vendor dan supplier adalah Jiri mountain climb. Mendaki gunung Jiri
yang letaknya sekitar dua Jam arah selatan dari Daejeon. Gunung ini sebenarnya
tidak terlalu tinggi. Dengan puncak yang 1440 m dari permukaan laut tentu tidak
seberapa tinggi dibanding dengan puncak gunung-gunung yang ada di Indonesia.
Namun medan, lintasan dan kesiapan stamina peserta menjadikan yang
"cuma" 1440 meter ini menjadi seperti terasa 5000 meter atau 500
meter. Bagi yang merasakan seperti 5000 meter maka jangan kaget kalau perjalanan
belum juga lewat separo mata sudah mulai berkunang-kunang, kaki gemetar dan
kram hingga membayangkan akan datang
helicopter yang akan menjemputnya. Bahkan untuk peserta yang targetnya sudah
didiscount 75 % pun, masih banyak yang hampir hampir tidak sampai tujuan.
Terlihat dari tarikan nafas dan pertanyaan setiap sampai pada step
pemberhentian. "Apakah tujuanannya disini". Dr.Lee Program direktur
yang kebetulan mendengar dengan cerdik menjawab, "no, we need 5 menit
more, over there", sambil menunjuk bukit terdekat. Meskipun yang terjadi
adalah masih perlu lima menit lagi dan lagi setiap ketemu bukit
pemberhentian. "Waduuuhhhh, ...aku
berhenti disini saja, sudah nggak kuat aku", kesah bagi beberapa orang
dengan wajah memelas. Untung ada anak muda Indonesia yang sabar membimbing dan
menemani dengan slogan "alon-alon waton kelakon (pelan-pelan asal
sampai)".
Dengan diselingi
transaksi pinjam meminjam tongkat, titip menitip ransel, ahirnya puncak 1440
meter barhasil dijangkau oleh semua peserta. Bukan batu bertumpuk itu yang akan
ditaklukkan, tetapi kebersamaan mencapai puncak itu yang coba diikatkan.
Sesampai di puncak, pada sesi phota photo ria, yang tadinya berwajah memelas
tampil di depan seakan lupa apa yang terjadi sebelumnya.
Matahari mulai
tergelincir menuju senja, cadangan energi di dalam darah sudah habis terkuras.
Saatnya makan malam tiba. Ini satu satunya acara makan malam yang berjudul
workshop. Diberi judul apapun hakikatnya sama, makan malam tradisi Korea. Nasi
tersaji hangat dalam mangkuk besi tertutup, sup jamur dan ikan terhidang dalam
mangkuk panas menggoda, tidak lupa belasan jenis kimci khas Korea daerah sisi
Selatan tersebar tertata memenuhi meja. Di sisi bagian meja tertentu terlihat
jelas botol putih untuk Makole yaitu sejenis air tape dan botol hijau untuk Soju.
Dalam situasi ini sering kali terjadi “kegentingan kecil” perebutan wilayah
teritory. Ada yang memilih tempat duduk dengan melihat siapa dulu yang sudah
ada disitu, sekedar untuk memastikan keseimbangan pertarungan. Ada yang melihat
dari sisi kasta, seperti "wah meja ini hanya untuk para
"raja"". Atau sekedar berlindung untuk terbebas dari keharusan
menolak tawaran Soju yang pasti akan datang. Dalam konteks kegiatan kebersamaan
maka menolak tawaran soju memerlukan strategi agar hakikat kebersamaannya tetep
terjaga dan tidak menimbulkan ketersinggungan. Untuk prajurit, hampir tidak ada
alasan untuk bisa menolak, bahkan dalam acara seperti ini keberadaan prajurit
benar-benar menjadi "pelindung" bagi yang bukan prajurit. Dengan
tradisi saling menuangkan Soju ke dalam gelas kecil dan minum bersama sambil
melingkar silangkan tangan dianggap sebagai pembabtisan sebagai teman,
kesetiaan dan kebersamaan. Dan “sang
prajurit” telah melaksanakan tugasnya dengan tuntas tas. Untuk yang kelas
pemula, maka ditawarkan Makole yang bagi orang Indonesia tak ubahnya seperti
air tape hanya beda nama. Manis rasanya. Dangan cara yang serupa, Dr.Lee
berkeliling mengunjungi meja ke meja sambil memegang botol putih itu. Gelas
diisi Makole diangkat bersama sama, saling didekat dan sentuhkan, dan bersama
sama mengucapkan slogan KFX/IFX, "Satu untuk Semua". Meskipun warna
suara Dr.Lee berbeda, namun masih cukup jelas apa yang diucapkan. Tidak berapa
lama Makole di gelas sudah berpindah ke mulut masing masing. Pada level ini
selalu saja ada pemain sandiwara yang cukup mahir dengan berpura pura minum
ataupun menjadi pemain sulap yang tiba-tiba bisa merubah Makole menjadi
airputih., bagaimana caranya Dr.Lee sebagai peminum Soju sejati, minum satu,
dua atau bahkan beberapa botol tidak akan mempengaruhi kesadarannya, apalagi
cuma Makole. Demi kebersamaan yang dia yakini, sebagai Direktur dia rela
mengunjungi meja ke meja. Dalam suasana riang dan tertawa, sampailah Dr.Lee ke
salah satu meja Indonesia lainnya. Di meja ini tidak ada yang pernah
bersentuhan dengan Soju. Kalau Makole bolehlah, sekedar untuk menghormati
Direktur, barangkali begitulah yang ada dibenak mereka. Beberapa orang mulai
menyiapkan gelas kecil sebagai bentuk kesiapan penghormatan. Namun ketika yang
di tangan Dr.Lee berubah menjadi sebuah botol berisi carian bening berwarna
agak kekuningan seperti bensin, wah ini bener bener seperti terjadinya gol di
masa injuri time. Sangat mengejutkan, dan tidak ada skenario lagi untuk
menghindar atau menolak. Dr.Lee sangat tahu keterkejutan ini, atau barangkali
dia memang ingin membuat kejutan karena selama ini sering ditolak. Yang pasti
sekarang ada persoalan yang harus dihadapi, terima atau menolak. Semuanya tahu,
tidak ada alasan untuk bisa menerima minuman itu, tetapi semua seperti "sepakat"
tidak ada celah untuk bisa menolak. Dengan sabarnya Dr.Lee menuangkan isi botol
itu pelan-pelan ke dalam gelas yang sudah disiapkan, barangkali seperti setan
yang sedang membimbing ke jalan kesesatan. Masing-masing gelas diisi sekitar dua
atau tiga sendok makan. Bersama aroma khas Alkohol yang keluar, dari mulut
Dr.Lee terucap ajakan untuk mengucapkan "Satu Untuk Semua". Seperti
tradisi sebelumnya, gelas diangkat sentuhkan bersama sambil mengucap "Satu
Untuk Semua". Dr.Lee menegak dengan tandas puas, beberapa orang yang lebih
cerdas menemukan cara untuk menghindar dengan sandiwara yang bagus, namun ada
satu orang yang kebetulan berdampingan langsung dengan Dr.Lee benar benar
menghadapi jalan buntu. No wayout. Tidak bisa berpikir lebih lama lagi, maka
yang ada di gelas langsung ditenggak sambil dicoba dirasakan "seperti apa
sich rasanya?". Ternyata, yang dituang tadi adalah Wiski kelas nomer
wahid. Meskipun cuma dua atau tiga sendok makan, tetapi seperti mengandung
listrik 1000 watt. Begitu menyentuh lidah bagian dalam dan belum lagi masuk
tenggorokan, serasa ada aliran listrik yang menyengat ujung saraf di segala
arah, ke ubun-ubun, pipi, telinga dan mata. Belum cukup, sengatan itu seakan
mengikat lobang tenggorokan dan pernafasan sekaligus. Yang terjadi selanjutnya
adalah sulit bernafas dan kombinasi nggak jelas antara batuk dan bersin.
Kejadian hanya jadi tontonan dan tertawaan.
Semakin berusaha
untuk tarik nafas, yang diperoleh malah batuk yang tak berkesudahan. Sementara
bagi si korban, wajah merah, telinga merah dan mata merah akan menjadi saksi
harga yang harus dibayar atas nama "SATU UNTUK SEMUA"
Daejeon,
Mei 19 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar