Pembalasan yang sempurna
Mati Ketawa Gaya Korea 28
Tidak banyak yang tahu bahwa apa yang dipandang umum sebagai sesuatu yang memalukan ini sebenarnya adalah anugrah yang luar biasa. Ini menyangkut urusan proses pencernaan makanan. Sungguh tidak dapat dibayangkan bila proses penceranaan makanan yang terjadi di lambung manusia ini tidak difasilitasi dengan mekanisme pembuangan gas ekses produk pencernaan makanan ini. Perut kembung, sebah, dan bahkan bisa membawa kematian. Oleh karena itu sudah sewajarnya setiap orang dapat memandang proses pembuangan gas buang sisa proses pencernaan alias (maaf) kentut ini sebagai hal yang sehat dan patut dihormati, karena betapa banyak orang yang terpaksa harus membayar mahal dengan pergi ke dokter sekedar untuk membuat agar bisa kentut.
Urusan bau itu tergantung dari apa yang dimakan, sementara bunyinya tergantung jenis “knalpot”nya, apakah masih orisinil atau sudah diganti dengan yang Racing. Untuk yang masih orisinil seperti yang dimiliki oleh yang berusia muda biasanya system kontrolnya masih bekerja cukup baik. Artinya bila gas sudah memberi signal untuk dikeluarkan sementara masih dalam kondisi sholat maka dengan mengatur nya sedemikian rupa sehingga proses pembuangan itu dapat ditunda sesaat. Sementara untuk engineer senior yang sudah agak sepuh ini dimana mungkin katup katup nya sudah agak longgar sehingga seringkali agak sulit dikendalikan. Begitu terasa ada signal, nggak peduli ada dimana, sedang bersama siapa, tahu tahu “Pret..Pret..Pret…”, bahkan kadangkala sedikit diberi irama, “Pret..pret..preteteteeeetttt”. Bahwa proses itu harus berbunyi, atau terpaksa di “bunyi” kan apalagi dengan irama, barangkali itulah kenikmatannya bagi para orang tua yang berhasil mengeluarkan kentutnya. “Ach legaaaaaa “, begitu ekpresi yang terucap tidak peduli seluruh teman yang ada di dekatnya marah, berteriak ataupun ngomel. “Lho kentut ini anugrah lho. Coba rasain kalau kamu nggak bisa kentut!”, pembelaan yang biasa dia lakukan.
Namun demikian paling tidak dari urusan kentut inilah salah satu ukuran kesejatian persahabatan benar benar dapat dilihat dan diukur. Hanya sahabat sejati yang bisa menerima dirinya dikentuti berkali kali, bahkan dengan sengaja tetapi tidak pernah terlintas niat untuk meninggalkan ataupun memutuskan tali persahabatan. Bahwa setiap kali dikentuti dengan sengaja, setiap kali pula protes dengan ngomel, tetapi setiap kali pula hanya bisa ngomel sambil tertawa. “Wuaaahhh, ini orang datang datang Cuma kentut!. Kenapa nggak kentutnya tadi waktu masih disana tuh, waktu nggak ada orang !”. Omelan yang hanya dibalas dengan senyuman kepuasan sambil celetukan, “Kalau nggak ada orang kan nggak ada yang dengarin!”.
Demikian pula seperti saat kegiatan mendaki gunung. Semua temannya membantunya, menyokongnya dari belakang agar dia kuat, bahkan dalam kondisi menanjak sehingga dia harus merangkak. Bahwa tiba tiba ada “bom” yang diledakkan, apa nggak bikin kalang kabut bagi yang ada di bawahnya. Begitu seringnya kejadian itu hingga akhirnya semua hanya bisa memakluminya. Wah memang sebenar benarnya sahabat mereka itu.
Kejadian kentut di lingkungan sahabat atau teman seperti yang terjadi selama ini sudah dapat diduga hanya akan berdampak pada omelan protes yang dilanjutkan dengan tawa. Kejadian yang berulang untuk kesekian kalinya ini hingga sepertinya membuat engineer senior ini memang merasa paling nyaman kalau bisa kentut dilingkungan teman temannya. Begitu nyamannya sehingga dimanapun dia pergi selagi ada teman temannya maka nggak perlu memberi tanda atau signal tahu-tahu “prĂȘt ..pret..pretetetetetet”. Tetapi, kejadian kali ini sedikit agak berbeda. Rencana perjalanan ke Daejeon Market mengharuskan mereka menggunakan kereta bawah tanah. Saat memasuki gerbang stasiun maka setiap calon penumpang mesti menempelkan kartu T-money sebagai tanda membayar. Seperti biasanya, engineer senior yang memang agak sepuh ini juga masuk berbarengan dengan teman temannya. Tentu dia merasa nyaman. Satu per satu temannya sudah masuk, dan dia sedikit tertinggal tanpa tahu kenapa. Tapi ini bukan masalah karena dia sudah terbiasa menggunakan kartu itu. Setiap keberhasilan pembayaran dengan kartu T-Money ini maka mesin akan memberi tanda berupa melodi suara burung. “Cit cit cu it cit cit cit cit cit“, sekaligus calon penumpang dapat masuk dengan leluasa. Suara itu muncul setiap kali ada calon penumpang yang berhasil membayar dengan T-Money itu. Namun sedikit keanehan terjadi. Kali ini suara kicauan burung itu tiba tiba berubah menjadi suara kodok kegencet “prĂȘt..pret.pretetetetetet”. Bagi teman temannya yang sudah masuk dan hafal dengan suara itu hanya biasa tertawa terbahak bahak, sementara calon penumpang lain yang kebetulan orang Korea yang ada didekatnya tentu kaget dan terbengong bengong. “Sejak kapan suara signal tanda bayar T-Maney diganti dengan suara kodok kegencet?”, barangkali itu yang terlintas dipikiran orang Korea itu, meskipun akhirnya sadar dan tersenyum lucu sambil melihat ada seorang dengan kulit agak gelap yang senyum-senyum sendiri di dekatnya.
Hari berganti dan kedekatan persahabatan mereka semakin erat tetapi urusan kentut menjadi pokok bahasan yang tidak pernah berhenti. Setiap kali menerima serangan kentut dari enginer senior ini maka setiap kali pula terpikir untuk membalasnya, tetapi bagaimana caranya wong produk gas ini memang tipikal tiap tiap orang.Tidak bisa dirancang kapan akan keluarnya, oleh karena itu tidak semua orang mudah memproduksi gas kentut itu. Namun demikian niat untuk membalas ini terus dipendam menunggu momentum yang tepat.
Akhirnya momen pembalasan itu datang juga. Pada suatu perjalanan pulang menuju apartemen, engineer senior penebar “bom” ini kebetulan satu arah dengan sahabat karibnya seorang professor muda dan seorang leader engineer yang dipanggil “tulang” oleh keponakannya. Sudah lama kedua orang ini menunggu momentum pembalasan, hanya belum kesampaian saja. Kebetulan pula saat itu mereka merasakan signal yang sama dari perut mereka masing masing. Maka aksi segera dilakukan secepatnya sebelum momentumnya lewat. Tanpa skenario sepertinya mereka langsung sepakat. Yang satu menggandeng dari sebelah kiri sementara bapak professor muda menggandeng dari sebelah kanan. Tanpa pikir panjang serangan balasan segera dilakukan, dengan Canon caliber 200 mm. Kali ini dari sisi kiri, “BRET..BRET…BREEETTTTT”. Betapa terkejutnya si penebar “bom” ketika dia sendiri di “bom”. Mendapat serangan balasan mendadak seperti serangan kilat Hitler jaman PD II dulu, dia sama sekali tidak menduga sehingga tidak ada persiapan untuk menangkal atau membalas balik. “Sialan luch, kentutin orang tua !!!”, respon kilatnya. Belum sempat mencerna apa yang terjadi, serangan berikutnya dari sisi kanan, “BROOTTT, BROOTT, BROOOTTT”,.kali ini berganti caliber yang lebih besar, Canon 400 mm. Dengan tangan tergandeng kanan dan kiri praktis dia nggak bisa kemana mana, sementara di pengirim Bom terpingkal pingkal menunjukkan kepuasannya. Akhirnya sepanjang perjalanan ini hanya di isi tawa dan omelan yang muncul silih berganti. Ketika mereka telah sampai di apartemen yang dituju, tawa mereka berakhir dan ditutup dengan kalimat penutup “Benar benar pembalasan yang sempurna”. Kali ini hanya dibalas dengan senyum kecut dan ucapan lirih “ Kurang ajar !”.
Daejeon, Nov 23, 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar