Sabtu, 29 Oktober 2016

Kesholehan Engineer IF-X.

Kesholehan Engineer IF-X.
Mati Ketawa Gaya Korea (8)

Kata sholeh secara etimologis artinya bagus atau baik. Tentu, sesuatu itu dikatakan bagus atau baik karena memenuhi kriteria nilai tertentu dimana nilai mutlak yang dapat dijadikan rujukan kebenarannya adalah kitab suci agama. Kitab suci menjelaskan melalui ayat-ayatnya beberapa tanda atau ciri-ciri kesholehan seseorang, namun dari sekian banyak ciri-ciri kesholehan itu, secara singkat dapat dikerucutkan pada nilai “kebaikan dengan kedalaman makna dan pengamalan Ilmu".

Kesholehan seseorang biasanya akan nampak ketika dia berada dalam kondisi ketidak pastian, situasi yang sulit ataupun saat menghadapi cobaan dan masalah hidup yang mendera nya. Situasi seperti inilah yang sering membedakan mana yang sholeh dan mana yang bukan. Memang, sampai kiamat tidak akan ada alat ukur “kesholehan meter” di dunia, karena nilai mutlak kesholehan seseorang hanya ada di genggaman Yang Maha Memberi Hidup, namun manusia diberi kemampuan untuk sekedar meraba kesholehan seseorang serta merasakan kemanfaatnya.

Dalam menakar kebutuhan hidup, orang yang sholeh juga seperti manusia pada umumnya. Dia punya cita-cita, harapan dan keinginan-keinginan untuk mensejahterakan diri dan keluarga, membahagiakan anak dan istri, memuliakan orang tua, dan masih ada 1001 harapan dan keinginan yang baik, karena memang itulah salah satu makna kesholehan dalam konteks keluarga. Bukan orang sholeh yang tidak berusaha mensejahterakan keluarga, bukan orang sholeh yang tidak memuliakan orang tua, dan sebaginya dan sebagainya.
Apa yang dilakukan oleh engineer PTDI meninggalkan keluarga pergi jauh ke Korea ini juga bagian dari kesholehan itu sendiri. Kesabaran dan kesetiaan mengikuti proses yang ikut menyita energi akhirnya berbuah pada waktunya. Semua pihak paham bahwa proses negosiasi antara Indonesia dan Korea untuk program KF-X/IF-X ini tidak mudah, sehingga wajar untuk sampai pada kata sepakat memerlukan waktu yang tidak sebentar, namun di sisi akar rumput level engineer akan terasa terombang ambing dalam ketidak pastian.

Akhirnya, tiba jugalah waktunya. Begitu jadwal keberangkatan ke Korea ini sudah ditentukan, maka para engineer bergegas mempersiapkan diri sebaik baiknya. Karena merupakan perjalanan yang tidak sebentar, untuk segala sesuatu yang selama ini menjadi tanggung jawabnya, maka mau nggak mau harus segera dibereskan atau didelegasikan urusannya. Kalau dia merupakan bendahara Masjid, maka seluruh laporan keuangan berikut dana yang dipegang harus segera diserah terimakan kepada penggantinya. Kalau dia seorang pengurus RT atau RW maka segera diserah terimakan jabatannya. Kalau dia seorang supervisor atau manager, nah kalau yang itu terserah pada perusahaan, kapan mau mengambilnya.

Yang tidak kalah penting adalah urusan rumah. Kalau ada talang bocor yang bila hujan tiba cuma diselesaikan dengan menadahkan ember di bawahnya, maka kali ini harus dibereskan sebelum berangkat. Bila ada pompa air sumur yang kadang ngadat, maka harus segera diganti untuk memastikan keluarga tidak ditinggalkan dalam kesulitan karena air. Bila ada genteng yang melorot, bila ada lampu yang mati, bila ada motor atau mobil yang perlu diservis, dan semua bila, bila dan bila yang mungkin terjadi, telah diantisipasi dengan membereskannya sebelum berangkat. Singkat kata, semua hal yang mampu dipikirkan untuk diselesaikan maka segera dibereskan. Bisa dikatakan, hal ini tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan peziarah Haji, memastikan kebutuhan orang-orang yang menjadi tanggungannya terpenuhi semasa dia pergi.
Itu untuk urusan yang akan ditinggalkan di rumah. Bagaimana dengan persiapan dia sendiri, perlengkapan dia sendiri atau bekal dia sendiri untuk perjalanan dan hidup di Korea yang “hanya” 1 atau 2 tahun. Sudah cukupkah? Sudah lengkapkah? atau sudah dipersiapkankah?. Maka apapun yang perlu dibawa akan dibawa, mulai sambel pecel, rendang, abon, mie instant, beras, saos, kecap, sambal trasi, layah dan ulegannya, aneka bumbu, minyak kayu putih, madu, aneka obat mulai obat masuk angin, sakit gigi, obat batuk, hingga pusing, baju/celana kerja, sepatu, jaket musim panas, musim dingin, dan lain-lain, dan lain-lain. Tidak lupa harus pamit ke orang tua, kerabat dan tetangga.

Semua sadar, setelah 1 atau 2 tahun penugasan di Korea ini, mereka masih akan pulang dan bertemu kembali dengan orang-orang yang disayanginya. Seluruh perhatian dan hiruk pikuk yang heboh ini dilakukan atas nama persiapan perjalanan yang 1 atau 2 tahun dan pada saatnya masih akan kembali. Untuk perjalanan yang jadwal berangkatnya sudah ditentukan dan sesudahnya masih akan kembali saja begitu hebat persiapannya, begitu teliti perhitungannya, dan begitu rapi pertimbangan dan antisipasinya, pertanyaannya adalah sebegitu hebat jugakah persiapan kita untuk “perjalanan panjang lainnya yang pasti akan terjadi”? yang jadwal berangkat bisa hari ini, besok pagi atau lusa nanti? Sebuah perjalanan panjang abadi dan pasti tidak kembali. Sudah cukup kah persiapan dan bekal untuk perjalanan abadi ini?

Pertanyaan hakiki yang merupakan ekspresi dari kejernihan hati engineer yang sholeh. Pemaknaan hakikat peristiwa atau kejadian yang muncul ketika langkah menapaki jalan pulang menuju gerbang PTDI. Kesholehannya telah mampu memaknai persiapan perjalanan ke Korea ini dengan penuh hikmah. Dia benar, kita sering tidak pandai dalam memaknai kejadian, bukankah segala yang terjadi pada kita dan terhadap kita ini bukanlah sebuah kebetulan? Semua telah sesuai rencanaNya, semua pasti ada makna dan maksudNya. Dan engineer kita yang sholeh ini telah mengingatkan hal tersebut dengan sangat santunnya.
Kesholehannya juga tercermin dari kehati-hatiannya dalam bertutur, dalam menjaga sikap, dan tentu saja menyembunyikan “aib”. Begitu berhati-hatinya dia sehingga untuk sebuah “aib” ini maka dia harus berpesan kepada sahabat-sahabatnya untuk tidak menceritakan kepada siapapun, apalagi ke penghuni apartemen Myeong Poom A.

“Jangan bilang-bilang ya, malu aku. Kalo diceritain ntar ditulis”, begitu pesannya.
Hanya saja sepertinya engineer sholeh ini lupa bahwa “aib” nya itu dapat menjadi sedekah kegembiraan atau hiburan untuk yang lainnya.

Memang ini sebenarnya bukan “aib” dalam pengertian yang berdampak dosa kepadanya, tetapi ini hanya sekedar sesuatu kesalahan interpretasi atas sesuatu yang dibeli. Sekali-lagi, begitu berhati-hatinya engineer sholeh ini maka dia tidak ingin ada orang lain yang tahu. Tetapi semua juga tahu, ini bukan “aib” dalam pengertian yang sebenarnya dan bukan pula dosa, ini sekedar kekeliruan kecil yang umum dan biasa terjadi bagi siapa saja yang tiba-tiba saja menjadi buta huruf di negeri yang bernama Korea ini. Kalaulah dia berhasil menyimpan “aib” itu, tetapi siapa yang menjamin bahwa dinding bus Suyeong itu tidak akan bercerita. Jadi, tidak ada tempat tuk bersembunyi. Kalaulah di Daejeon dulu ada episode “beli minyak goreng dapat cuka”, maka di Sacheon ada episode lain yaitu “beli buku catatan dapat kwitansi”.
“Pak Asep perlu kwitasi, ada nich 3 bendel?.....”.

Sacheon, 28 Oktober 2016

Sabtu, 15 Oktober 2016

Air Minum di Korea

Air Minum di Korea

Mati Ketawa Gaya Korea (7)

Menurut penelitian, kandungan air dalam tubuh manusia sekitar 50% – 80% dari berat tubuh tergantung usia. Pada bayi (80%), orang dewasa (70%), dan lanjut usia (50%), dan air tetap merupakan unsur terbanyak dalam tubuh manusia. Di manakah air yang 50 hingga 80 persen ini berada dalam tubuh kita? Air tersebut tersebar di seluruh tubuh manusia. Antara lain paru-paru (90%), darah (82%), kulit (80%), otot (75%), otak (70%), dan tulang (22%).

Peran air dalam tubuh dan kehidupan sangatlah penting, sehingga tidak satupun fungsi tubuh dapat bekerja tanpa air, diantaranya sebagai pembentuk sel dan cairan tubuh kecuali lemak, sebagai pelarut saat proses pencernaan makanan, sebagai media pengeluaran zat sisa seperti air kencing atau keringat, sebagai bantalan sehingga mata dan otak tahan goncangan dan getaran, sebagai pengatur suhu untuk menghangatkan atau mendinginkan, sebagai media transportasi pembawa O2 dan CO2 serta sebagai pelumas yang memungkinkan sendi dapat bergerak dengan baik sekaligus meredam gesekan antar sendi. Bagitu pentingnya, sehingga mustahil manusia bisa hidup tanpa air.

Tidak heran maka untuk urusan air ini engineer yang berada di negeri asing yang baru mereka kunjungi sangat concern tentang air, khususnya air minum sehari-hari.

Kebijakan publik untuk penyediaan air rumah tangga berbeda-beda untuk tiap negara, atau bahkan tiap kota. Sebut saja Bandung, urusan air rumah tangga ada yang dilayani melalui pipa PDAM, namun tidak sedikit yang mandiri menggunakan sumur galian atau bor sendiri. Perbedaan ini tentu sangat dipahami karena kebijakan tentang air itu sangat tergantung banyak hal, seperti ketersedian sumber air, tingkat ekonomi masyarakat, konsep kebijakan ketahanan, dan lain lain dan lain lain. Demikian juga di Korea. Beberapa engineer PTDI yang berkesempatan terlibat program KF-X/IF-x di fase TD di kota Daejeon tahun 2012, dapat bercerita bahwa di sana air kran yang ada di apartemen dapat langsung diminum tanpa haus di masak. Tetapi bagaimana di Sacheon? Apakah kebijakan tentang air rumah tangga sama?. Tidak ada engineer Indonesia yang dapat memastikannya, artinya harus ditanyakan ke orang Korea yang tinggal di sini. Karena orang Korea pertama yang ditemui dan berhubungan dengan urusan apartemen adalah agen bernama Mr.Haij maka ketika ditanyakan apakah air kran di apartemen bisa diminum, dia menjawab langsung,

“Yes, you can drink”, jawabnya.

Jawaban yang melegakan karena mengurangi sedikit beban kalau tiap hari atau tiap minggu harus menggotong air dari supermarket ke apartemen. Bahkan mengkonfirmasi kesamaan dengan apa yang terjadi di Daejeon. Belum lagi kelegaan berakhir, ternyata jawaban agen tadi belum selesai, dia masih melanjutkan jawabannya tanpa diminta dengan bahasa Inggris dialek korea,

“after boiled”.

“Haaaalah, sama saja ternyata.”
Tapi OK lah, paling tidak engineer tahu posisinya dan tahu cara menyikapinya. Beli dan menggotong atau masak sendiri.

Sejak saat itu pola penyelesaian urusan air minum ini berbeda-beda untuk tiap engineer, dengan latar belakang dan pertimbangannya masing-masing. Yang paling primitif adalah yang masak sendiri. Asal kran ngocor, dan gas ada maka tidak pernah ada masalah urusan air minum. Ada juga yang beli paket air kemasan botol di BI Mart yang berjarak sekitar 1 km dari apartement. Format ini juga nggak sulit, cukup duit 2650 won sudah dapat 6 botol @2 liter air. Kasulitannya barangkali hanya bagaimana mengangkutnya dari BI mart ke apartement, karena menggotong paket 6 kali 2 liter sekaligus dalam jarak sekitar 1 km agak lumayan menyita tenaga dan butuh jari, tangan dan kaki yang agak berotot.

Problem jarak ini dapat di atasi oleh engineer yang kebetulan di dekat apartemennya ada minimarket sekelas Alfa atau Indomart tetapi sedikit lebih kecil, yaitu GS25. Hanya harganya sekitar 350 won lebih mahal. 350 won lebih mahal ini signifikan atau tidak tergantung cara pandang orang itu terhadap uang dan nilai uang. Bagi yang rasional, 350 won lebih mahal tetapi tidak capek harus menggotong dari BI mart ke apartemen adalah perbedaan yang wajar.

“Ya, anggap saja ongkos becak atau ojek lah...”, argumen yang digunakan untuk meyakinkan teman lainnya. Bahwa tetep saja ada yang beli di BI mart, mungkin memang urusan berat itu tidak menjadi masalah atau sekedar sekalian beli barang lainnya.

“Urusan angkut beras, atau tebu berkilo-kilo juga nggak masalah kok, tambah kuat dan sehaaatttt...”, kilahnya.

Karena sudah terbukti di GS25 harga air cuma beda 350 won, maka engineer ini langsung memutuskan beli air di GS25 yang terletak di apartemen Hanju.

“Wah kebetulan tinggal satu nich”, katanya dalam hati sambil mengangkat 6 botol air tersebut ke meja kasir. Dia sudah tahu kalau harganya sekitar 3.000 won, maka dia tidak perlu berkata-kata lagi dengan yakin dia serahkan uang pecahan 3 lembar 1.000 won.

Tapi penjaga kasir menolak uang itu,

“Ande...ande .....”, ucap kasir sambil menyilangkan tangan tanda bahwa ini tidak bisa.

Engineer yang kebetulan baru pertama ke Korea ini, tidak dapat bertanya lebih lanjut karena dia tidak dapat berbahasa Korea dan penjualnya tidak dapat berbahasa Inggris. Namun, karena engineer ini berpandangan jangan terlalu melihat harga atau uang maka dia segera tarik uang 3.000 won yang sudah diserahkan dan menggantinya menjadi lembaran 5.000 won.

“Ah mungkin sudah naik harganya,....”, kesimpulan yang wajar. Namun, dengan uang 5.000 won itu, kasir tetap menolak dengan cara yang sama, “Ande,...ande....”.

Bingung engineer ini. Mau bertanya nggak tahu caranya, apalagi dijawab bahasa Korea tambah bingung dia. Mau berdebat nggak nyambung, mau batalin malu dan faktanya dia memang butuh air, sementara di belakangnya sudah ada beberapa orang yang ngantri mau bayar juga.

Sebagai engineer PTDI yang sudah dibekali oleh pak Dirum agar engineer duta bangsa harus bisa menjaga marwah atau kehormatan negara dan perusahaan, maka pesan Dirum tersebut diterjemahkan dengan sangat sederhana, yaitu jangan sampai memalukan, jangan sampai urusan air saja jadi masalah dan apalagi jadi tontonan orang.

“Jangan sampai bikin malu negara dan perusahaan”, begitu pikirnya. Maka segera saja dia keluarkan uang Korea lembar hijau senilai manon atau 10.000 won. Dan benar saja, ternyata uang itu langsung diambil oleh kasir, dan segera diberi 1.000 won kembalian. Paham dia sekarang, artinya harga air itu adalah 9.000 won.

Sambil jalan ke apartemen dalam hati dia yakinkan dirinya sendiri,

“Sudah, apa-apa jangan lihat uangnya......”. Kalimat itu cukup untuk mensugesti dirinya sendiri hingga air seberat tidak kurang dari 12 kg itu jadi terasa ringan dan sekaligus memberikan ketenangan batinnya.

Beberapa hari kemudian, di depan gedung KAI sambil menunggu datangnya Bus Suyang yang mengantarkan para enginner pulang, sudah biasa engineer berkumpul membahas apa saja sekedar untuk mengisi kekosongan, dan membunuh kejenuhan. Tidak jelas siapa yang memulai, hingga diskusi ringan berbelok membandingkan harga air minum.

“Kalau beli di BI mart berat dan sulit bawanya, beli aja di GS25 yang deket. Bedanya cuma 350 won kok”, seorang engineer mencoba meyakinkan temannya.

“Beda 350 won apa pak, saya kemarin beli di GS25 harganya 9000 won”. Kata engineer setengah agak sewot menyanggah penjelasan engineer sebelumnya. Beberapa orang yang kebetulan juga pernah beli air minum di GS25 serentak membantah,

“Ach masak, ....saya baru beli 2 minggu yang lalu harganya 3000 won kok !!!”, argumen yang juga didukung oleh rekan engineer lain yang juga membeli disitu.

Namun karena dia merasa membeli dengan 9000 won, maka “keukeuh” dia mengatakan bahwa harganya 9000 won. Bahkan dia ceritakan detail apa yang terjadi dan bagaimana dia membayar dikasir yang sempat ditolak karena uangnya kurang.

Mendengar ini, tidak terlalu jelas apakah niatnya benar-benar ingin menjelaskan rasionalitas harga air 9000 own ini, bahwa harga 9000 won itu wajar atau sekedar meledek.

“Ach...., mungkin merek nya beda pak, sehingga air merek yang sudah dibeli itu memang lebih mahal”, yang langsung dibantah dengan,

“Emang yang itu mereknya apa? Aku juga nggak apal merek apa yang aku beli kemarin, kayaknya sama deh”, dia masih perlu melanjutkan argumennya.

“Katakanlah beda merek, masuk akalkah harga air beda hampir 3 kali lipat?”, argumen yang tepat.

Diskusi ringan itu semakin berkembang karena semakin banyak yang ikut menimpali atau sekedar meledek.

“Kayaknya harga yang benar itu ya yang 9000 won itu. Itu air mineral yang asli buatan pabrik. Kalau yang 3000 won itu mungkin tidak asli, atau bahkan mungkin itu refill pak”, kalimat yang diucapkan sabil tersenyum. Dengan cepat dibantah,

“Halllaaaah,.... kaya di Indonesia aja.....”.

Diskusi menjadi hangat karena semua orang mencoba ikut masuk dalam topik pembicaraan air minum itu. Dengan meyakinkan, seorang enginer menyampaikan,

“Ach ya nggak mungkinlah harga air saja kok sampai segitu mahalnya, harga air yang wajar ya memang sekitar 3.000 an won itu Pak. Dimana mana di Korea juga segitu. Kalau sampek harga air kok 9000 won, .....jangan-jangan .........itu air aki pak”.

Tidak ada yang dapat membantah, tidak ada yang membenarkan atau menyalahkan penjelasan terakhir itu karena Bus Suyang sudah keburu datang. Cuma dalam hati barangkali berpikir,
“masak sich yang aku minum selama ini air aki?”.

“Aaach,.... ya nggak mungkiiiinnnn “.

Ucapnya dalam hati sambil terseyum sendiri.

Sacheon, 15 Oktober 2016.

Jumat, 14 Oktober 2016

Rindu Sambel Goreng Kentang.

Rindu Sambel Goreng Kentang.
Mati Ketawa Gaya Korea (6)

Sambel goreng kentang, siapa sih orang Indonesia yang tidak kenal dengan jenis makanan ini. Meskipun tidak populer, makanan ini hampir tidak pernah absen dalam acara hajatan-hajatan khususnya di wilayah Jawa. Dalam perjalanannya, sesuai selera dan citarasa, penampilan sambel goreng ini juga berkembang menjadi beberapa varian dengan hanya menambahkan beberapa bahan, seperti hati ampela, atau “krecek” yang menjadi sebutan orang Jogja untuk olahan kulit lembu, atau petai dan kacang kapri sebagi pemanis penampilan. Namun tetap saja, apapun tambahan aksesorisnya, namanya tidak berubah yaitu tetap sambel goreng kentang.
Makanan ini berbahan dasar kentang yang diiris iris menjadi sebentuk balok-balok kecil dengan bumbu cabe merah, bawang putih, bawang merah, merica, dan tidak lupa santan. Seringnya makanan ini disajikan dalam kondisi agak kesat alias kuah santannya yang sudah tinggal sedikit karena menguap saat proses pemasakan.

Sebagai makanan utama saat hajatan, sambel goreng kentang sudah biasa disajikan berdampingan dengan empal daging, sop atau soto, rolade, oseng jagung muda, dan krupuk udang. Ketika sambel goreng kentang disajikan masih hangat maka kombinasi warna merah kekuningan dengan taburan irisan petai atau kacang kapri sungguh merangsang selera untuk tidak melewatkannya. Gurih pedas sedang, dan lembut saat dikunyah, rasa yang sudah melekat dalam memori siapapun. Sambel goreng kentang, tak mungkin lupa wujud dan rasanya.

Karena makanan ini memang khas Indonesia, maka sungguh tidak mudah mendapatkannya ketika kita sudah berada di luar negeri. Indonesia, meskipun kaya akan berbagai jenis makanan yang beraneka ragam, namun Indonesia bukanlah negara expansif dalam hal kuliner. Kalaupun ada mungkin hanya satu dua restoran yang menjual makanan Indonesia di kota-kota besar di luar negeri. Sebut saja sate, rendang padang, atau nasi goreng dan bukan sambel goreng kentang.
Sungguh berbeda dengan negara lain seperti Jepang lewat Hokka Bento atau Hanamasa dengan Teppanyaki dan Terriyaki, China lewat Bakpao, Bakcang, Ifumie, Phuyunghai, dan Bebek Peking, sementara Itali lewat Pizza nya. Terlepas terkenal atau tidak, sambel goreng kentang sudah terlanjur melekat dalam memori lidah setiap orang Indonesia, sehingga siapapun sulit untuk tidak merindukannya.

Engineer-engineer perancang pesawat tempur Indonesia ini belumlah genap satu bulan di Korea. Untuk menjamin kesehatan asupan makanan mereka, perusahaan telah mengupayakan agar mereka diberi fasilitas makan 3 kali sehari dengan kualitas sama persis dengan counter part mereka engineer dari KAI. Dengan menu yang sama, dari kantin yang sama, juru masak yang sama maka dipastikan apa yang engineer Indonesia makan akan sama kualitas dan tingkat gizinya dengan apa yang dimakan engineer KAI. Kantin ini berada di lokasi KAI, dan mayoritas orang yang makan di kantin itu tentu saja orang KAI, maka wajar saja bila yang disajikan adalah menu dan citarasa Korea. Untuk memberikan keleluasaan engineer memilih, kantin selalu menyediakan 2 paket pilihan menu, atau bahkan dalam beberapa hari tertentu ada menu pilihan ke 3 dengan jumlah yang sangat terbatas.

Pagi hari mulai jam 07.00 WK sudah disiapkan sarapan dengan salah satu menu misalnya sandwich, sup cream, salad dan susu sebagai penyempurna sarapan. Kemudian siang dan sore disajikan secara bergantian paket-paket menu seperti, nasi, sayur, tahu, dengan lauk ikan atau ayam goreng atau daging cincang atau dwaeji gogi alias “daging enak” alias daging babi. Sebagai pelengkapnya aneka sup, rumpu laut cincang plus kimchi. Tentu saja, semua itu disajikan dalam cita rasa Korea, misal sup yang flat alias kurang asin, sayur yang cenderung asam, dan kimci sebagai ”stempel” bahwa itu menu style Korea. Untuk mencegah agar engineer muslim tidak menyantap dwaeji gogi, maka KAI dengan bijaksana memberi tanda berupa huruf berwarna merah dengan background kuning yang kontras atau menempelkan tulisan jelas “PORK” pada menu yang mengandung dwaejigogi. Namun demikian, bagi engineer Indonesia yang bukan muslim, seringnya justru yang bertanda merah itulah yang dicari, “Habis enak sich..”, begitu kilahnya.
Sehari dua hari engineer Indonesia bergembira 3 kali sehari lidah mereka bersentuhan dengan menu Korea. Kebetulan juga engineer Indonesia ini adalah engineer yang tangguh yang sudah digembleng untuk siap survive dalam menghadapi aneka makanan yang mungkin sangat asing di lidah sekalipun. Apapun yang disajikan akan habis tandas dilahap demi kepatuhan dan kewajiban menjaga kesehatan. Ya demi kesehatan, tidak lebih dan tidak kurang. Tidak ada alasan mereka makan untuk memanjakan lidah karena engineer-engineer ini sejak dari Bandung memang “disetup” untuk berjuang, bukan bertamasya.

Kepatuhan akan kewajiban menjaga kesehatan demi berhasilnya tugas dan tercapainya misi adalah sesuatu yang dilakukan dengan sadar, sehingga perasaan, atau rasa apapun atas makanan itu enak tidak enak, suka nggak suka maka tetap saja harus dimakan. Meskipun disadari bahwa makan biar sehat demi tugas dan misi, namun hal itu tetap saja tidak mampu menghapus memori dan kerinduan akan makanan Indonesia.
“Makan sich makan, karena kan harus makan, tapi kapan bisa makan rawon, gule dan nasi Padang lagi”. Perasaan rindu akan makanan-makanan ini adalah kerinduan yang serupa dengan kerinduan kepada orang-orang yang kita cintai. Sebuah rasa rindu yang semakin lama ditinggalkan semakin kuat dirindukan.

Ketika jam makan telah tiba, kantin KAI menerapkan aturan tepat waktu, artinya semua engineer siapapun juga diijinkan makan setelah waktunya tiba. Tanpa pemberitahuan sebelumnya atau tanpa agenda khusus, jangan harap bisa dilayani kalau belum jam 12.00 WK. Semua harus menunggu jadwal jamnya, yaitu jam 12.00 WK Tet.
Atas nama tertib makan, tidak pernah terlihat sekalipun ada engineer bergerombol menunggu di depan pintu kantin untuk makan siang. Jadi selama belum lewat jam 12.00 WK, kantin terlihat begitu lengang dengan kursi hijau dan meja berderet-deret tertata rapi. Yang terlihat hanyalah beberapa orang koki dan staf restaurant yang berlalu lalang menyiapkan menu ke dalam "angkringan" yang telah disediakan.  Namun ketika jam makan tiba, secara bergelombang engineer akan berbaris rapi dalam dua jalur sesuai menu pilihan. Dalam hitungan menit, ruangan yang tadinya lengang langsung penuh dengan riuh rendah engineer-engineer yang makan.

Urusan tertib dan patuh aturan, orang Indonesia lah jagonya. Dimanapun orang Indonesia berada di luar negeri, mereka pasti menjadi warga teladan dalam kepatuhan, baik ketepatan waktu, ketertiban lalulintas maupun sosial. Demikian pula saat akan makan, tidak ada sekalipun terlihat engineer Indonesia bergerombol menunggu di depan kantin. Kalaupun terjadi, paling beberapa orang berhenti sejenak di depan papan menu sekedar memastikan mana menu merah yang mengandung “daging enak” alias dwaeji gogi dan mana yang bukan. Tidak terlalu penting membaca menunya apa, karena terjemahan bahasa Korea ke bahasa Inggris seringnya terdengar meleset dan aneh, sehingga kurang berguna juga untuk membacanya. “Pokoknya yang halal..”, begitu argumennya.
Sambil berbaris tertib sesuai jalur mengikuti antrean yang panjang, dari kejauhan sudah terlihat makanan yang disajikan sesuai menu hari itu. Beberapa orang bahkan dari jauh sudah mengamati dengan sungguh-sungguh makanan apa yang telah tersaji saat itu. Menu hari itu sepertinya agak berbeda. Engineer Indonesia ini nampak sumringah karena ada obat rindu tanah air yang disajikan, sambel goreng kentang.

“Wah,...Sambel goreng kentang...”, engineer yang kebetulan berada di depan setengah berbisik sambil menoleh ke rekan-rekan yang mengikutinya. Kata sambel goreng kentang yang diucapkan ini seakan seperti tetes air dimusim kemarau. Begitu indah, begitu dirindukan, sehingga begitu mendengar sambil ditunjuk fakta sambel goreng kentang di depan mata maka yang ada hanya perasaan yang gembira, perasaan untuk segera mencicipinya.
Tak berapa lama satu persatu engineer ini sudah berhadapan dengan menu yang dirindui. Nasi hangat diambil secukupnya, sambel goreng kentang diambil melebihi porsi dari yang biasanya, kimci tak lupa sebagai pelengkap, rumput laut cincang, dan mengambil semangkok sup sambil jalan menuju meja. Tentu saja sambel goreng kentang ini menjadi obyek pertama yang akan disantap.

Dan benar saja, sendok langsung bergerak menyusup pada sambel goreng kentang yang teronggok seperti gunung kecil di atas nampan. Dengan cepat, sambel goreng kentang sudah berpindah di depan mulut yang sudah siap untuk melahap. Dengan sungguh-sungguh coba diresapi nikmatnya sambel goreng kentang yang sudah dirindukan. Kalau ada sedikit keraguan paling hanya perasaan, “apakah rasanya akan seperti aslinya yang di Indonesia ya?”.
Euforia menyantap sambal goreng kentang hanya bertahan sesaat. Yang terjadi maka terjadilah, kunyahan pertama memberikan kekagetan luar biasa. Imaginasi rasa lembut gurih sambel goreng kentang telah berubah menjadi rasa kres dan asem. Kerongkongan seperti tercekat, rahang seperti kaku, akibat kekagetan dan kebingungan yang bersatu di dalam mulut.

“Asem tenan,..... apa ini..?”, keluhnya dalam hati. Namun dia tidak sendiri karena teman sebelahnya juga merasakan kekagetan yang sama. Tidak sopan memuntahkan apa yang sudah masuk di mulut, maka dengan sangat terpaksa “sambel goreng kentang” kres rasa asam itu harus terus dikunyah dan dikunyah untuk secepatnya ditelan. Sambil mata mengernyit karena asamnya “sambel goreng kentang” kres itu, naluri rasa penasarannya menuntun tangan untuk meneliti lebih detil apa dan kenapa “sambel goreng kentang” ini kok berasa kres dan asam.
Tidak lama untuk tahu jawabannya. “Sambel goreng kentang” yang tersaji hari itu bukanlah sambel goreng kentang seperti yang dibayangkan. Makanan itu adalah sejenis kimci berbahan dasar lobak segar yang dipotong seukuran kubik kecil dan dibumbui cabe, bawang putih dan lain-lain. Bagi orang Indonesia yang belum pernah melihat makanan ini, apalagi ditambah “penyakit rindu” maka pasti akan benar-benar menyangka bahwa itu adalah sambel goreng kentang.

Kalau sudah begitu, terus gimana urusan atas “sambel goreng kentang” yang sudah terlanjur diambil segunung kecil ini?
Dengan wajah kecut kecewa dijawab dengan singkat, “buang saja”.

Sacheon, 14 Oktober 2016

Minggu, 09 Oktober 2016

Pak RT dan Raja.

Pak RT dan Raja.
Mati Ketawa Gaya Korea (5)

Ketua RT dan Raja adalah dua entitas yang berbeda yang tidak saling terkait karena yang satu produk sistem administrasi negara demokrasi sedang yang lainnya merupakan produk sistem negara monarki. Bagaimana hubungan ketua RT dan Raja ini, mari kita lihat fakta dan harmoninya.
Jabatan ketua RT adalah jabatan struktural administratif terendah yang paling mulia dalam sistem negara demokrasi, karena jabatan ini bersentuhan langsung dengan segala” thethek mbengek” problematika warga atau masyarakat di lingkungan ke RT an itu. Mulai urusan, kemiskinan, sampah, jalan berlubang, gorong-gorong, pernikahan, perceraian, persengketaan keluarga atau antar tetangga, KB, kesehatan, kesejahteraan, keamanan, pencurian, perampokan, pembunuhan dan lain-lainnya yang hampir tidak sanggup untuk dituliskan semuanya selalu bermuara ke ketua RT. Seperti dapat dilihat, semua problematika hidup warga ke RT an itu kalau akhirnya jadi masalah, ujung-ujungnya pak RT lah yang harus turun tangan memberesinya, pak RT lah yang menghadapinya, bahkan dalam hal-hal tertentu pak RT lah yang harus berurusan dengan Polisi atau pengadilan untuk sebagai saksi. Jadi, ketua RT lah satu satunya jabatan yang tidak pernah diperebutkan karena begitu besar beban, tanggung jawab meskipun ada janji balasan kemuliaanNya.

Sementara itu, sebagian warga secara tidak adil meletakkan definisi ideal kepada seorang ketua RT, misal ketua RT sebagai pemimpin harus melindungi, mengayomi, menyejahterakan, menyehatkan dan melayani, tanpa mereka tahu bahwa ketua RT tidak digaji, ketua RT juga punya tanggung jawab pribadi dan keluarga. Terkadang, warga seakan tutup mata bahwa ketua RT harus berkorban waktu, tenaga, pikiran, perasaan dan bahkan kadang biaya atau resiko nyawa. Dengan segudang pengorbanan dan amalan itulah sebabnya mengapa jabatan ketua RT begitu mulia, karena dengan modal keiklasannya insyaalloh jaminannya adalah surga. Bahwa capek, kesel, kadang dongkol, itu tiketnya pak RT ke surga. (yang iklas ya pak RT.)
Dengan psikologi yang sama, urusan “bedol kampung” PTDI dari Bandung ke Sacheon Korea ini juga harus dikelola administrasi ke warga annya, agar urusan setiap warga yang ada di dalamnya terayomi, terlindungi, tersehatkan dan terlayani karena di tempat yang baru yang namanya Sacheon ini benar-benar wilayah asing yang belum pernah dikenal sebelumnya oleh warga “bedol kampung” ini. Kebetulan kloter pertama ini diberangkatkan sejumlah 62 orang, apalagi nanti dari kloter-kloter berikutnya akan berkembang menjadi 150 atau bahkan 200 orang, maka sangat perlu ditunjuk ketua-ketua RT untuk memudahkan segala urusan administrasi ke warga annya, agar tidak mengganggu tujuan pokok dari “bedol kampung” ini. Ketua-ketua RT ini lah yang akan “memantau, mengkoordinasikan dan memastikan” bahwa “warga nya” tidak sakit, tidak kesasar, tidak hilang di negeri orang, dan tidak terlambat ke kantor, disamping memastikan sekaligus mengkomunikasikan dengan agen bila ada urusan sampah, gas tidak ngalir, listrik atau lampu mati, internet macet, saluran mampet dan fasilitas lainnya. Tuh, tidak ada bedanya dengan pak RT di kampung asal kan?. Jadi, pak RT pak RT ini benar-benar mewataki ketua RT di Indonesia yang selama ini telah dikenali bersama.

Beruntung, begitu pesawat mendarat di bandara Incheon Korea, beberapa orang sudah kejatuhan “pulung atau wahyu” jabatan ketua RT. Tanpa pelantikan, mereka sudah langsung bekerja. Itulah sifat dari “pulung atau wahyu” jatuh dari langit menyusup begitu saja ke dalam hati dan tidak menunggu juklak atau sertijab, langsung melekat. Karena untuk kloter 1 ini warga disebar di 5 apartemen, maka sebanyak apartemen itulah Ketua RT nya, yaitu :

Apartemen Hae Song Vill                             Robie Tawakkal
Apartemen Woojoo Vill                               Aman Surachman
Apartemen Modern House                         Sudarto
Apartemen Jangwon Vill C                          Jufi Wisapada
Apartemen Myungpoom A/B                     Bambang Sumantri Dwi Kartika
 
Kalau Raja?
Menurut konsep negara monarki, Raja adalah penguasa dan rakyat mengakui kekuasaannya itu. Rakyat mengakui bahwa Raja lah pemilik segala sesuatu di kerajaan itu, baik wilayah, harta benda maupun manusia. Oleh karena itu terhadap Raja, rakyat dengan rela menjawab “ndherek karsa dalem” (terserah kepada kehendak raja), bahkan diamnya, tatapan matanya, senyumnya, hingga terlambat nya Raja adalah kehendak Raja yang harus dipahami. Dalam konsep ini, keagungan Raja memang dijaga untuk mempersatukan rakyat sekaligus untuk wibawa dan kehormatan kerajaan. Sebagai Raja yang besar, yang agung maka rakyat merasa perlu merawat ke agungan itu dengan cara menghormati dan melayaninya.

Di alam demokrasi yang sudah berkembang ini, keberadaan Raja lebih ditempatkan sebagai simbol ke agungan dan bukan lagi penguasa, sehingga konteks kepemilikan wilayahnya seakan hilang tetapi konteks pelayanan untuk Raja masih terus terjaga hingga sekarang. Namun demikian, di Sacheon ini ke agungan Raja juga seperti sudah hilang atau bahkan tidak diperlukan lagi, tetapi konteks pelayanannya yang tersisa dan masih dijaga. Padahal bukan maunya Raja untuk dilayani, tetapi pak RT merasa perlu melayaninya sebagai bentuk tanggung jawabnya.
Kebetulan pulalah di apartemen Myungpoom A ini tinggal seorang Raja. Sebagai Raja dia memang memiliki pesona seorang Raja, badan besar lambang kemakmuran, aura kuat sehingga siapapun tidak kuasa untuk menghindar, cara bertutur yang santun hingga semuanya tidak dapat menolak mengakui bahwa dia adalah Raja. Dia memang pantas dipanggil Raja, karena dia memang Raja. Raja sebagai pribadi yang supel, tidak mau menjaga jarak dengan sesamanya. Dia justru perlu lebih dekat apalagi dengan yang sebayanya, sehingga sebagai bentuk kerendah hatiannya maka untuk bergaul dengannya tidak perlu lagi lewat aturan atau protokol khusus.

Meskipun begitu, Raja adalah Raja, dan pak RT adalah penguasa Administratif sekaligus pengemban amanah pelayan masyarakat dimana Raja berada. Ketika waktu sudah mendekati pukul 07.00, maka sungguh terasa siapa pak RT dan siapa Raja. Sudah menjadi agenda rutin bagi pak RT untuk ngecek satu persatu siapa saja warganya yang belum turun dari apatemen, satu persatu di cek, siapa yang tidak atau belum membawa ID crad. Cukup dengan menghitung kepala, pak RT tahu lengkap tidaknya. Khusus untuk Raja, pak RT sudah meminta kepada semua warga untuk menyapa Raja dengan cara mengetuk pintunya.
Ketika Bus Suyeong merah penjemput sudah menampakkan diri dari kejauhan, pak RT selalu saja mondar mandir sambil melongok ke arah Myungpoom A. Nampak jelas kegelisahannya yang barangkali expresi dari bentuk tanggung jawabnya. Dan sebagai bentuk kesetia kawanan warga, dalam situasi seperti itu biasanya pak RT akan ditanya, “Siapa yang belum kelihatan pak?”. Dan seperti sudah hapal juga, tanpa melihatpun semua tahu yang belum datang adalah Raja. Yang terlambat adalah Raja. Dan karena yang terlambat adalah Raja, maka pak RT sebagai pelayan hanya bisa maklum, dengan sabar menunggunya, karena begitulah Raja. Namun tidak demikian dimata teman sebayanya, Raja adalah Raja, Raja adalah teman, Raja adalah sahabat. Diantara mereka sudah luntur protokol ke Raja an nya, sehingga ketika tahu bahwa Raja terlambat, tidak seperti pak RT yang hanya menunggu dengan sabar, tetapi mereka berteriak :

“Raja, Ayo Cepeeettttt ....”
Mendengar itu Raja hanya tersenyum, dan sedikit mempercepat langkah.
Begitu kaki Raja mulai di depan pintu masuk Bus, sopir bus malah membentak, “Pali Pali, pali pali...!!!.”
Seluruh warga yang sudah menunggu di dalam bus hanya bisa bersorak, “Hidup Raja....Hidup Raja....Hidup Raja...”

Sacheon, 9 Oktober 2016.

Jumat, 07 Oktober 2016

Pita biru, Cliiing !!!


Pita biru, Cliiing !!!

Mati Ketawa Gaya Korea (4)

Cliiing !!!,....sebuah bunyi ikonik denting atau semburat suara yang memberi kesan warna suara nyaring, ceria, gembira, yang menandakan keberhasilan. Dengan karakter seperti itu bunyi Cliiing ini sering kali dipakai pada beberapa iklan TV untuk merangsang pembeli, seperti iklan sabun colek jaman dulu yang dengan satu colekan berhasil membuat baju kotor jadi putih bersih, Cliiing !!. Atau iklan mobil yang untuk mempromosikan kehebatannya dalam hemat bahan bakar maka ikon yang digunakan adalah menjatuhkan koin receh disertai bunyi ikonik Cliiing, cliiing, cliiing telah sanggup membawa mobil dari Jakarta ke Bali. Atau yang lebih terkini, adalah iklan susu anak yang dapat membuat anak jadi cerdas, dimana dalam iklan ditampilkan seorang anak setelah minum susu tersebut tiba-tiba muncul suara ikonik, Cliiing !!!! disertai bintang-bintang di atas kepalanya yang menandai munculnya ide cemerlang akan sesuatu hal. Demikian pula Bank BNI, menggunakan bunyi ikonik Cliiing itu juga untuk mengabarkan berita gembira bagi nasabahnya yang menggunakan mobile banking sebagai penanda telah terjadi transaksi uang masuk di rekeningnya. Tidak peduli berapa nilai yang masuk, pokoknya Cliiing !!!.

Sebagai engineer yang telah disiapkan untuk ditugaskan ke Korea sekaligus nasabah Bank BNI, mereka telah mengalami penundaan keberangkatan beberapa kali, yang tentu saja berpengaruh pada persiapan pribadi para engineer, bukan saja urusan sambel pecel, rendang, dan abon, tetapi juga semangat tim. Penundaan berkali kali ini sedikit banyak telah mengganggu pikiran engineer. “Jadi nggak sih ini?”. Awalnya memang dipahami oleh engineer bahwa penundaan ini disebabkan oleh hal hal teknis administratif yang memang harus dilakukan seperti agenda screening oleh BAIS atau pembekalan oleh Menhan atau urusan Visa, meskipun berita positifnya uang saku sudah siap dan tinggal menunggu perintah trasfer. Namun karena setelah itu ternyata tetap masih berlarut larut, maka wajar saja bila engineer menduga bahwa penundaan ini pasti disebabkan oleh hal prinsip yang wilayahnya bukan di level PTDI atau KAI. Dan benar saja ternyata bukan “hanya” sekedar urusan visa, tetapi syarat untuk diterbitkannya Visa e-3 inilah yang menyebabkan penundaan itu. Untuk menjaga semangat tim, CE dengan sabar terus menginformasikan setiap update perkembangan status segala hal yang berhubungan dengan recana keberangkatan tim, sekecil apapun.

Akhirnya satu persatu syarat-syarat tersebut dapat diselesaikan alias urusan visa dijamin akan beres, meskipun secara fisik visa belum ditangan alias masih dalam proses di Kedutan Korea, dan tiket masih di agen yang semoga masih ada kursi untuk keberangkatan 62 orang. CE meyakinkan para engineer bahwa visa dan tiket akan beres 1 hari sebelum keberangkatan tanggal 21 September 2016. Begitu yakinnya akan jadwal keberangkatan maka koper dan isinya juga sudah mulai disiapkan. Untuk mencegah kemungkinan total loss engineer dan juga mungkin karena ketersediaan tiket maka rombongan dibagi menjadi dua kloter yaitu kloter jalur Garuda Jakarta-Incheon, dan kloter Garuda Jakarta-Bali-Incheon. Sembari menyiapkan koper dan isinya, tidak terlalu jelas asbabul nuzulnya, tiba-tiba saja datang usulan penting melalui WA untuk alasan keamanan koper.

“Pak Gatot, karena banyaknya koper tim IF-X yang masuk ke bagasi pesawat, sebaiknya tiap koper diberi tanda pengenal misal pakai pita atau apalah. Dan juga untuk keamanan”

Disusuli lagi dengan,

“Warna pita merah dan putih atau pita biru saja sesuai lambang PTDI, jadi kita tahu kalau koper ada pita tersebut pasti milik tim IFX”

Kemudian ditanggapi oleh engineer lainnya sambil tersenyum,

“Pita Biru,...lambang bobotoh Persib Cak ? JJ

Nampaknya usulan ini bak gayung bersambut,

“In case koper kita tersesat ke tujuan lain, apa perlu kita pasang name tag yang ada alamat kita di Korea?”

Ditimpali dengan komentar engineer air combat sambil tertawa,

“Kasian cak Loyani kalau bumbu pecelnya nyasar ke Korea Utara, ... J J J

Atau komentar enginer konfigurasi dengan dialek jawa yang kental,

“biyuh biyuh, ribetnya bisa ngalahin urusan naik haji J J J

Usulan pita biru itu untuk rombongan barangkali merepresentasikan kehati-hatian, namun sekaligus menambah kerepotan. Betapa tidak, Garuda tentu saja sudah terbukti mempunyai sistem bagasi terstandard yang baik yang sedemikian rupa sehingga bagasi penumpang dapat dibawa dengan selamat sampai tujuan seiring dengan perjalanan penumpangnya. Dan tentu saja pita biru itu tidak akan dapat mencegah kalau memang akan nyasar alias ada kesalahan management bagasi. Kalaulah koper rombongan haji jumlahnya ratusan ribu yang memiliki warna, ukuran dan tanda yang sama, maka masih bisa dipahami diberi pita pembeda, tali atau apapun sebagai penanda sekedar agar memudahkan mengambil ketika bagasi sudah dibongkar dari badan pesawat.

Seiring dengan diskusi tentang pita biru, engineer masih menunggu satu syarat keberangkatan karena berhubungan langsung dengan hajat hidup para engineer itu selama di Korea, yaitu kerinduan mendengar denting suara Cliiing !!! dari HP mereka. Bisa dibayangkan bila HP 62 orang ini berbunyi serentak maka suara gemerincing yang salingbersaut “Cling.... Cling.... Cling....” akan benar-benar menjadi penanda keberangkatan tim ini ke Korea. Namun apa boleh buat, rindu biarlah rindu, semua harus bersabar menunggu. Berkali kali CE harus menyabarkan anggota timnya.

Kerinduan yang hebat untuk segera diberangkatkan, bayangan indah tentang rekening yang tumpah, serta keheningan menunggu denting Cliiing yang tak kunjung tiba, membawa perasaan “nglangut” hingga larut, hanyut terbawa lamunan melayang menembus jarak dan waktu, yang tiba-tiba saja telah mendudukkannya di kursi ruang rapat KAI berbaur bersama engineer KAI di Korea. Tidak terlalu jelas juga sebab musababnya tiba-tiba saja dia merasa duduk sebarisan dengan Kim, Park dan Lee, terlibat rapat serius membahas weapon system. Rapat itu kebetulan membahas bagaimana caranya agar weapon system yang akan diinstall di KF-X/IF-X ini berfungsi dan tepat sasaran alias tidak nyasar. Rapat ini begitu serius dan masing-masing pihak mencoba mempertahankan argumennya. Perdebatan yang tak kunjung selesai ini hanya membawa pada kebuntuan, hingga masing-masing pihak seperti sudah putus asa. Dalam suasana putus asa dan sudah lelah karena berdabat tanpa solusi, engineer PTDI ini mencoba berfikir untuk bisa berkontribusi, agar weapon2 itu tidak nyasar. Setelah merenung beberapa saat, tiba-tiba saja engineer ini tersenyum seindah senyumnya anak pengiklan susu di TV. Bersamaan senyum itu muncul suara denting gemerincing “Cling...Cling...Cling” di kepalanya sebagai tanda bahwa dia punya ide cemerlang. Dengan keyakinan tinggi akhirnya dia beranikan diri untuk meyampaikan ide cemerlangnya. Dengan bahasa Inggris yang jelas dia menyampaikan gagasannya.

“Mr. Kim, Mr. Park and Mr.Lee,....”

“Saya rasa tidak sulit untuk memastikan agar weapon-weapon yang akan diinstall ini tidak nyasar”.

Mendengar engineer weapon system PTDI menjelaskan, semua yang hadir menyimak dengan penuh harap.

Mr. Park tidak sabar menunggu. “Bagaimana caranya?”

Setelah menghela nafas beberapa tarikan, engineer PTDI ini menjelaskan,

“Ya, Saya rasa agar weapon-weapon ini tidak nyasar, di sirip kendali weapon weapon itu perlu di pasang pita biru”. Tentu saja engineer Korea itu pada bengong mendengar usulan aneh itu.

“Ya, tempelkan atau ikatkan pita biru di weapon itu, saya jamin tidak akan nyasar”.

Sambil menunggu respon dari orang-orang Korea ini, tiba-tiba saja engineer PTDI ini dikagetkan oleh sesuatu yang menyentuh pundaknya.

“Pak ayo cepet......”

“tuh sudah ditunggu oleh pak Sukat untuk segera tanda tangan Surat Perjanjian dan pakta Integritas di GPM !”

“Cliiing !”. Dia tersadar.

Dengan sedikit tergeragap, dia mencoba melangkahkan kaki menuju GPM mengikuti langkah temannya yang sudah mulai meninggalkannya.

Sacheon, 4 Oktober 2016

Prambanan, ibukota DCI


Prambanan, ibukota DCI

Mati Ketawa Gaya Korea (3)

Dalam persiapan pelaksanaan SRR IF-X ke 2 di PTDI tahun 2016, para penyaji sempat mengernyitkan alis mata ketika membaca undangan rehearsal yang menyebutkan tempat di Ruang Prambanan DCI, gedung GPT LT 2 PTDI. Para penyaji yang umumnya senior sangat paham seluk beluk GPT Lt2, tetapi ketika disebutkan nama Ruang Prambanan maka sempat memunculkan sedikit keraguaan. “Ruang mana ini?”, demikian gumamnya. Memang munculnya ruang Prambanan ini tidak lepas pergeseran pusat kegiatan DCI yang kebetulan serupa dengan sejarah kecamatan Prambanan yang terletak di perbatasan Jogja dan Jawa Tengah itu.

Prambanan adalah candi Hindu terbesar dan termegah yang pernah dibangun di Jawa. Pembangunan candi Hindu ini dimulai oleh Rakai Pikatan sekitar tahun 850 Masehi dimana pada masa itu telah berdiri tegak candi Buddha Borobudur di Magelang dan juga candi Sewu yang tak jauh dari Prambanan. Secara berkelanjutan pembangunan disempurnakan dan diperluas oleh Raja Lokapala dan raja Balitung Maha Sambu. Sementara para sejarawan menduga bahwa ibukota atau keraton kerajaan Mataram Hindu ini terletak disuatu tempat di dekat Prambanan di Dataran Kewu.

Disamping sebagai pusat pemerintahan, Prambanan juga menjadi pusat kegiatan agama Hindu, budaya dan ekonomi. Ditandai dengan banyak digelarnya upacara-upacara penting kerajaan di masa itu dimana melibatkan banyak pendeta brahmana. Sebagai pusat budaya dan ekonomi, maka dapat dibayangkan tingkat kemakmuran masyarakatnya pada masa itu dibanding tempat lain. Sikap religius dan kemakmuran ini yang memungkinkan tumbuhnya tidak kurang dari 25 candi di sekitar Prambanan, seperti Candi Kalasan, Candi Plaosan, Candi Sari, Candi Sambisari dll. Membayangkan kemakmuran Prambanan pada masa sebagai ibukota, maka membayangkan masyarakat yang aktif, candi2 yang ramai dikunjungi, pasar-pasar yang hidup, makanan dan minuman yang tersedia cukup, transportasi yang lancar, dan kesan ramainya sebuah kehidupan ibukota.

Sekitar tahun 930-an, ibu kota kerajaan Mataram hindu ini dipindah ke Jawa Timur oleh Mpu Sindok, yang mendirikan Wangsa Isyana. Penyebab kepindahan pusat kekuasaan ini tidak diketahui secara pasti. Bisa karena dampak letusan hebat gunung Merapi, tetapi juga tidak tertutup kemungkinan karena peperangan dan perebutan kekuasaan. Setelah perpindahan ibu kota itu, Prambanan mulai telantar dan tidak terawat. Tidak terkecuali Candi Candinya dan masyarakatnya, sehingga seiring waktu Prambanan menjadi semakin terpinggirkan dan pelan-pelan namun pasti candi candi yang megah sebagai simbol kejayaan dan kemakmuran masa itu ini mulai rusak dan runtuh.

Mencoba membayangkan kemunduran kemakmuran masyarakat Prambanan yang terjadi sekitar 1000 tahun yang lalu sebagai akibat berpindahnya ibu kota, barangkali dapat dirasakan atau dianalogikan seperti yang terjadi di gedung lama GPT LT 2, khususnya di ruang Design Center Indonesia (DCI). Ruang DCI ini dibangun dengan kemegahan dan kenyamanan tersendiri. Dinding kusam dan pilar beton disulap menjadi dinding tekstur kayu, lantai ubin retak atau pecah diganti dengan lantai kayu parquet, dinding pembantas dibangun berbasis kaca, untuk dapat masuk harus lolos dari screening finger print, ruang kerja disekat dalam skala kubikal dimana komputer kerja tersedia berlebih lengkap denga meja kursinya, udara gerah digelontor dengan AC penyejuk yang sangat memadai, dan tak lupa kopi, teh siap seduh dan gula diruang-ruang rapat disajikan berlebih serta tak pernah absen kehadirannya. Belum lagi kalau ada tamu-tamu agung yang hadir untuk berkunjung, maka dapat dipastikan sajian makanan, minuman dan buah-buahan yang melimpah pasti akan ikut dirasakan oleh penghuninya. Bagi penghuni ruangan ini, kemakmuran DCI ini hanya dilihat dari aspek yang tak jauh dari itu, dan sesederhana itulah yang dirasakan oleh engineer perancang pesawat tempur canggih ini.

Tidak kurang dari 2 tahun ruang DCI gedung lama itu menjadi “ibukota” managemen dan kegiatan percancangan pesawat tempur IF-X, dan tentu selama itu pulalah kemakmuran atas nama kopi, teh,  gula, lain2 disupply dan disajikan tanpa perlu menunggu tamu agung datang.

Waktu terus berjalan, dan memang dirasakan tidak cukup memadai ruangan sekecil itu disiapkan untuk mengelola proyek bernilai trilyunan, apalagi harus digabung dengan kegiatan engineer yang memang ruhnya berbeda dengan ruh management. Oleh karena itu, harus disiapkan ruang baru khusus untuk managemen, yang itu artinya “ibukota” kegiatan proyek KF-X/IF-X ini harus segera disiapkan yang baru dan dipindah.

Kepindahan “ibukota” DCI ini tentu menggembirakan karena ruangan “ibu kota” yang baru lebih lega, ruang rapatnya lebih lengkap, serta ruangan-ruangan para “mentri” nya juga jauh lebih baik dari yang ada sebelumnya. Konsekuensi kepindahan “ibukota” ini maka secara otomatis pusat kegiatan ceremonial atau upacara kalau ada tamu agung juga ikut berpindah. Singkat kata pusat keramaian ikut berbindah. Seiring dengan bergesernya pusat keramaian ini maka secara perlahan namun pasti juga ikut bergeser kemakmuran yang dirasakan engineer DCI gedung lama. Kalaulah sebelumnya sungguh tidak sulit mencari sekedar teh atau kopi untuk melawan kantuk, maka untuk sekarang sekedar mencari air putihpun kadang tidak tersedia.

Ini hanya sekedar cerita tentang kopi, teh dan gula yang menjadi ukuran kemakmuran engineer DCI, namun dari cerita kopi teh dan gula ini sepertinya kita dapat merasakan bagaimana dan apa yang dirasakan oleh masyarakat Prambanan masa itu akibat ditinggal karena berpindah “ibu kota”.

Oh Prambanan, nasibmu.

Bandung, 7 September 2016

Fatwa Haram Sambel Pecel (Kyai Jajag Banyuwangi)


FATWA HARAM SAMBEL PECEL (KYAI JAJAG BANYUWANGI)

Mati Ketawa Gaya Korea (2)

Puncak kebahagiaan seorang penari adalah ketika diundang untuk menari disuatu acara resmi, puncak kebahagiaan seorang pendekar adalah ketika datang perintah raja untuk menangkap perampok pengacau kerajaan, dan puncak kebahagiaan prajurit sejati adalah ketika datang panggilan tugas negara untuk berperang melawan musuh. Demikian pula barangkali pancaran kebahagiaan seorang insinyur perancang pesawat terbang. Mata berbinar dan suara renyah yang pecah setelah mendengarkan penjelasan dari KADIV Management Program tentang “kepastian” keberangkatan penugasan mereka, apalagi uang saku yang akan diterima juga sudah didefinitifkan. “Wah, sudah berani bayar DP Sienta nich”, bisik seseorang yang duduk dari baris belakang.

Lengkap sudah info yang ditunggu.

Dengan pengumuman itu artinya hanya tersedia waktu yang sangat terbatas untuk persiapan segala sesuatunya. Meskipun uang saku belum diberikan tetapi seluruh perlengkapan dan perbekalan pribadi harus disiapkan seawal mungkin demi kelancaran selama penugasan di Korea, agar jangan mengecewakan, agar jangan sampai dirotasi sebelum jadwal.

Koper perlu dipilih yang cukup besar, baju hangat perlu disiapkan untuk menyambut musim semi dan winter yang sangat dingin, mie instant sebagai solusi cepat obat rindu tidak boleh sampai lupa, aneka bumbu dan lauk juga perlu disiapkan sebanyak yang bisa dibawa. Tidak lupa sambel pecel dan rendang harus disiapkan sebanyak yang bisa dibuat dan dibawa demi mencegah munculnya penyakit rindu tanah air yang bisa bikin berabe.

Waktu terus berjalan dan agenda yang sudah direncanakan harus dilaksanakan, yaitu Pembekalan Engineer oleh Mentri Pertahanan di gedung Urip Sumohardjo Kemenhan Jakarta. Tanggal 3 Agustus 2016 dan jam sudah mendekati pukul 14.00, untuk efektifitas waktu beberapa orang setelah makan siang di PKSN malah sudah langsung standby dan tidak balik ke GPT. Ketika 2 Bus yang akan mengangkut engineer sudah terlihat standby on position, pada pukul 13.15 wib tiba-tiba ada pesan muncul di WA : “Rekan2 ysh, Mohon standby dulu di tempat masing2. Ada perkembangan baru yang bisa berpengaruh untuk acara kita besok. Mohon pengertian dan kesabarannya. Wassalam.”

Dalam kurun waktu sekitar setengah jam sesudahnya seakan semua diam. Tidak ada pesan saling bersahut yang muncul di WA seperti biasanya. Masing-masing engineer mencoba menterjemahkan makna dari pesan WA itu.

Pada pukul 13.44 melalui WA juga muncul lagi pesan definitif bahwa agenda pembekalan di Kemhan tetep jalan sesuai rencana.

“Insya Alloh kita berangkat ke Kemhan Jkt hari ini jam 15.00. Rekan2 kumpul didepan Jam 14.30.”

Sepertinya berita susulannya yang muncul sesudah itu yang nampaknya makna dari pesan pertama yang sedari tadi dicoba diraba oleh para engineer.

“Keberangkatan ke Korea hampir dipastikan mundur, karena proses VISA E-3 tidak bisa dipercepat.”

Jelas sudah, rencana berangkan tanggal 9 Agustus akan lewat, dan engineer akan menyikapi dengan caranya masing-masing.

“Standby di warung dulu deh ...”, komentar engineer senior air combat system.

Ada juga yang tetep positif seperti, “Yg penting ke Jakartanya gak diundur kan?”

Namun ada juga yang mengkonfirmasi persiapan bekal, “Saya tadi pagi ambil rendang. Sudah terlanjur dipesan.”

Disahut dengan ledekan, “Baju putih, dasi hitam dan rendang bisa di reinburse kok mbak J”.

Bagi senior engineer ataupun engineer yang senior, berita seperti ini tidak lagi mengejutkan, bahkan yang lebih dari itupun sudah biasa didengar atau dialami. Mereka semua tangguh, tidak terlalu terpengaruh dengan keputusan semacam ini. Karena, sudah sampai bandara tetapi disuruh balik karena penugasan yang bersangkutan dibatalkan/ditunda karena alasan apapun sudah pernah terjadi dan engineer menyikapinya dengan biasa biasa saja. Jadi, hanya ketika yang bersangkutan sudah duduk di seat pesawatlah ukuran penugasan seseorang benar2 akan terjadi alias tidak ditunda atau dibatalkan.

Pembatalan ataupun penundaan penugasan dalam suatu intitusi apapun dan dengan alasan apapun adalah hal biasa dan normal. Tetapi implikasinya yang nampaknya bisa jadi sangat serius bagi engineer khususnya urusan rendang dan sambel pecel.

Rendang dan sambel pecel sungguh harum sedap aromanya, namun ketika aroma rendang dan sambel pecel itu gagal ikut terbang sesuai jadwal maka urusan expired date nya bisa jadi masalah. Belum lagi volumenya yang sangat mungkin tidak sedikit. Yang pasti harus dicari solusinya. Urusan rendang dan sambel pecel ini sempat menjadi isu hot di beberapa pertemuan persiapan KF-X/IF-X. Saran-saran pun muncul,

“dah, dibagi dikantor aja. Pasti habis deh..”,

atau saran lain, “tuk botram dikantor juga ok kok...”.

Saran seperti ini adalah baik dan wajar untuk agar menjadi “berkah” dan sekaligus mencegah “dosa”, karena pengalaman serupa tetapi dalam kisah yang berbeda pernah terjadi di Korea. Ketika dalam satu apartemen seseorang membawa sambel pecel yang cukup banyak, karena dipakai untuk sendiri maka bisa dibayangkan sambel pecel itu akan sangat lama habisnya. Namun, disisi lainya, tetangganya sesama engineer yang kebetulan “seorang kyai” (hanya karena sering mendalilkan ayat) lebih sering hanya mendengar cerita tentang betapa nikmatnya sambel pecel dan disertai godaan harumnya sambel pecel yang menyelinap lewat celah pintu kamar apartemen. Cerita yang terus berulang karena selagi sambel pecel itu masih ada maka cerita harum aroma sambel pecel pun juga pasti masih akan terus terdengar. Untuk mencegah “dosa” yang berlanjut maka dalam satu forum diskusi informal “sang kyai” menyampaikan sebuah dalil tentang haramnya sambel pecel.

“sambel pecel itu terbuat dari bahan2 yang saya yakin halal, prosesnyapun saya yakin halal, dan hingga jadipun pasti tidak akan terkontaminasi dengan bahan bahan yang dapat membuatnya menjadi haram. Namun demikian........”, sesaat kyai Jajag menghela nafas, sementara yang lain menunggu, apa yang akan diucapkan selanjutnya.

“Namun demikian, kalaulah seseorang memiliki sambel pecel cukup banyak untuk ukuran dirinya sendiri, sementara tetangganya hanya kebagian aromanya saja, maka sambel pecel yang halal itu akan bisa berubah menjadi HARAM “, fatwa Kyai Jajag sambil tersenyum.

Semua yang hadir hanya bisa tertawa tanpa mampu membantah dalil itu, sementara si empunya sambel pecel hanya tersenyum yang mungkin sebagai tanda bahwa tergerak hatinya untuk segera berbagi sambel pecelnya.

Berkaca pada pengalaman itu maka perlu direnungkan oleh pemilik Rendang dan sambel pecel, sebelum benar-benar expired. Sebab kalau kemudian terdengar berita bahwa rendang dan sambel pecel itu akan expired maka patut diyakini bahwa akan keluar “fatwa kyai Jajag” edisi Agustus 2016, “Adalah “Haram” bagi siapa saja yang membiarkan rendang dan Sambel pecelnya expired, tanpa sempat membagikannya, padahal teman-temannya sudah mengingatkannya.”

Sanggupkah anda menanggungnya?

Bandung, 17 Agustus 2016

Umat Nabi Musa


Umat Nabi Musa
Mati Ketawa Gaya Korea (1)

Mengikuti rapat atau diskusi para cedekia dan orang2 pintar di PTDI yang akan di kirim ke KOREA, seakan mangajak kita untuk mengambil pelajaran akan kisah nabi Musa ribuan tahun yang lalu dalam menghadapi umatnya. Sudah biasa dan wajar bahwa orang2 pintar itu kritis dan teliti dalam menghadapi sesuatu sehingga mereka masih merasa perlu untuk bertanya. Bahwa itu berdampak mempersulit diri, nah itu yang barangkali tidak difikirkan.

Alkisah.

Pada zaman zaman Bani Israil hiduplah sorang hartawan yang kekayaannya luar biasa berlimpah. Namun, ia tak satu pun memiliki anak yang akan mewarisi harta tersebut. Alhasil, banyak kerabat yang menginginkan dan menanti kematiannya untuk mendapatkan warisan. Pada suatu ketika sang hartawan ditemukan tewas di depan sebuah rumah penduduk.

Asumsi-asumsi pun bermunculan. Ada yang bilang, sang kerabat yang menemukanlah yang membunuhnya. Yang lain mengatakan, si pemilik rumah yang didepannya ditemukan jasad si hartawanlah pelakunya. Di tengah keributan tersebut, datang seorang salih yang cerdas. Ia pun menengahi warga. “Mengapa kalian berkelahi? Bukankah di antara kita ada Musa, sang rasul Allah? Mari kita tanyakan perihal ini kepada beliau,” ujarnya. Maka, mereka pun segera berbondong-bondong menemui Musa.

Mendengar kisah dari penduduk desa, Nabi Musa segera memanjatkan doa. Ia memohon wahyu dari Allah agar menunjukkan rahasia di balik kematian sang hartawan. Maka, Allah pun memerintahkan Musa agar menyuruh umatnya menyembelih seekor sapi.

Mendengar perintah itu mereka berujar, “Hai Musa, apakah kau ingin menjadikan kami bahan ejekan?”.

Nabi Musa pun dengan sabar menjawab, “Aku berlindung dari Allah agar aku tak termasuk orang-orang yang bodoh. Aku berlindung kepada Allah untuk tidak mengatakan sesuatu yang bukan firman-Nya,” ujar Musa. Belum lagi umat nabi musa menyembelih korban malah bertanya lagi kepada nabi Musa, “Beri kami spesifikasi, berapa usia sapi itu?”.

Musa pun menjawab, “Tidak muda, tidak pula tua, melainkan pertengahan saja. Kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepada kalian,” .

Kemudian mereka bertanya lagi, “Apa warna sapi itu?”.

Dijawab nabi Musa, “Warnanya kuning tua, setiap kali orang memandangnya maka akan senang melihatnya,”

Kemudian mereka bertanya lagi dan lagi, “Beri tahu kami bagaimana kondisi sapi itu sehingga kami dapat mencarinya,”

“Sapi itu tak pernah digunakan untuk membajak sawah atau memberi air bagi tanaman. Sapi itu pun sangat bersih, tidak memiliki cacat,” ujar Musa.

Semakin banyak bertanya, mereka justru semakin sulit mendapatkan sapi itu. Andai mereka menurut saat perintah pertama, mereka bebas memilih sapi manapun. Semakin mereka bertanya, makin sulit mendapatkan sapi yang dimaksud.

Situasi yang dihadapi nabi Musa seakan berulang ribuan tahun sesudahnya di PTDI, tentu dengan intensitas yang jauh lebih rendah misal untuk urusan rekening, token, bus, kursi bus, dan baju.

Sebut saja urusan baju, ketika sudah ditetapkan pakai baju putih dan dasi, ada saja yang bertanya, “lengan pendek atau panjang”. Dengan sabar dijawab, “lengan panjang”. Ditanya lagi,” dasinya warna apa”, dijawab, “warna hitam”. Ditanya lagi, “Boleh nggak dasi kupu2?” “Boleh nggak dasi hitam tapi bercorak?”

Beruntung CE yang bertanggung jawab menjawab cukup bijaksana sehingga tidak harus menjawab semua pertanyaan-pertanyaan tersebut. Coba kalau semua pertanyaan tersebut dijawab dan hasilnya adalah “baju putih, lengan panjang, dasi panjang, hitam dan tidak bercorak”, apa yang terjadi. Yang punya baju putih tapi lengan pendek maka harus beli lagi lengan panjang. Yang belum punya dasi hitam harus beli lagi dasi hitam. Yang sudah punya hitam bercorak, harus beli lagi yang polos. Dan tentu semua itu menjadi semakin menyulitkan. Kesulitan ini tentu tidak akan terjadi bila tidak ada pertanyaan2 itu.

Dan beruntungnya lagi ternyata yang ditetapkan bukan baju putih, lengan panjang, dasi panjang, hitam dan tidak bercorak, tetapi BAJU BATIK.

Mendengar penjelasan bahwa diputuskan pakai baju batik, mari kita membayangkan pertanyaan2 apa lagi yang muncul. Jangan-jangan, “Pakai Kopiah nggak ?”.

Bandung, 2 Agustus 2016

Eforia Pulang 5


Eforia Pulang 5

Mati Ketawa Gaya Korea 34

Pengalaman 17 bulan di Korea sungguh memberikan kenangan yang sulit dilupakan. Kombinasi kesibukan melaksanakan tugas mulai Senin sampai dengan Jum’at, berbelanja di pasar tradisional di hari Sabtu seperti ibu-ibu, atau bertualang dari gunung ke gunung, dari kota ke kota di hari Minggu sungguh meninggalkan berkas kenangan yang mungkin tidak akan pernah hilang. Berinteraksi dengan sesama engineer, doktor engineer, mayor engineer, letkol engineer hingga, kolonel engineer baik yang dari Indonesia maupun Korea menjadikan kehidupan yang lengkap penuh warna.

Dengan lamanya waktu penugasan memungkinkan setiap orang berusaha menyimpan memorinya lewat koleksi barang-barang yang menarik untuk disimpan yang bisa jadi masing-masing orang memiliki interest yang berbeda. Apapun yang menjadi interestnya maka tujuan akhir dari barang barang tersebut adalah untuk dibawa pulang ke Indonesia. Apakah hanya untuk di pajang di ruang tamu, dipakai sendiri sehari-hari, atau dibagikan ke sanak saudara sebagai oleh-oleh, itu akan sepenuhnya menjadi hak prerogative dari masing-masing orang. Oleh karena itu tidaklah mengherankan meskipun di Korea hidup sebagai “bujangan” alias tanpa keluarga tetapi memiliki barang yang cukup banyak sehingga sedikit memerlukan perhatian khusus dalam membawanya ke Indonesia, dan itu menjadi kenyataan yang ada di tengah hiruk pikuk persiapan pulang ke Indonesia.

Ada yang dapat dikatakan sangat jarang berbelanja atau berburu “barang antik” di hari Sabtu karena dia lebih tertarik untuk merekam obyek obyek tertentu lewat jepretan maut kameranya, tetapi barang yang harus dibawa pulang hampir melebihi milik engineer lainnya pada umumnya. “Itu souvenir semua Mas “, dalihnya.

Secara umum barang-barang milik para engineer ini kalau harus dimasukkan ke dalam koper ukuran sedang maka masing-masing orang akan memerlukan paling tidak 6 sampai 7 koper, padahal “awalnya” dulu saat datang cuma bawa 1 koper. Itupun setelah beberapa barang yang dianggap tidak relevan sudah di iklaskan untuk dihibahkan atau dibuang. Beruntung ada fasilitas Korean Pos Office yang memungkinkan untuk membereskan urusan pengiriman barang ini apalagi karton berbagai ukuran mulai dari yang kecil hingga yang besar berikut lakban juga disediakan dengan harga yang relatif murah, 1600 Won untuk karton ukuran terbesar. Dengan fasilitas pos ini paling tidak engineer dapat mengurangi bebannya yang harus dibawa sendiri saat terbang. Ada paling tidak sekitar 3 atau 4 karton barang yang dikirim oleh tiap engineer. Begitu banyaknya engineer Indonesia yang harus mengirimkan barang lewat pos hingga suasana di kantor Pos dalam beberapa hari itu seperti berubah menjadi Kantor Pos rasa Indonesia, karena tawa dan celoteh khas orang Indonesia.

Setelah sebagian barang dikirim lewat pos maka yang tersisa harus dioptimasi untuk masuk ke dalam koper yang nanti akan dijinjing untuk dibawa bersama saat terbang pulang. Meskipun sudah dikurangi 3 atau 4 karton, tetap saja barang yang tersisa masih cukup banyak. Memerlukan ketrampilan khusus agar seluruh barang “penting” yang tersisa dapat masuk ke dalam Koper besar, koper kabin, dan tas pungung dengan batasan maximum baggage weight yang diijinkan. Aturan maximum baggage weight ini sangat jelas, apalagi sebagai engineer perancang pesawat terbang maka pasti para engineer sangat paham artinya over weight. Menyadari batasan berat ini maka proses pengepakan barang hampir pasti terjadi seperti bermain bongkar pasang untuk mendapatkan konfigurasi optimum. Begitu selesai ditata kemudian ditimbang dan timbangan menunjukkan angka yang masih jauh dari batasan maksimalnya maka yang terjadi adalah siklus bongkar pasang periode berikutnya yang bisa jadi berulang-ulang. Belum lagi suvenier-suvenier yang tidak terlalu berat tetapi memerlukan ruang yang besar itu. “Dimasukkan koper bagasi hanya menghabiskan ruang, mau masuk kabin terlalu besar, mau dikirim pakai Pos tapi sampainya kelamaan hingga mengurangi lengkapnya rasa bahagia saat ketemu keluarga”. Barang apa dan harus dimasukkan ke koper yang mana menjadi dasar pertimbangan yang berulang ulang menuntut untuk diperhatikan. Akumulasi dari semua itu adalah koper bagasi yang seperti hamil 6 bulan, koper kabin dipress padat agar volumenya tidak mencolok, dan tas punggung yang mestinya dialokasikan untuk laptop dipaksa menerima beban tambahan demi terangkutnya semua barang dalam sekali angkut, dengan tanpa ongkos tambahan lagi.

Perjalanan pulang rombongan tanggal 26 menyisakan catatan tersendiri. Melihat salah seorang engineer menggendong tas punggung yang sudah diextend hingga menggelembung seperti “hamil 9 bulan dengan isi bayi kembar 4”, merangsang rasa kasihannya hingga menyarankannya untuk memindahkan barangnya ke dalam bagasi atau mengirimkannya lewat pos yang tentu akan jauh lebih murah dibanding resikonya meskipun mungkin akan memerlukan sedikit lebih lama waktunya. Tidak terlalu jelas kenapa dia memaksakan membawanya dengan memasukkan ke tas punggung hingga over size seperti itu. Apakah koper bagasinya terlalu kecil, atau tas bagasinya sudah over weight, tidak ada yang tahu. Yang pasti, sepertinya saran itu tidak terlalu diperhatikan karena mungkin isinya sangat “penting” dan harus segera sampai di tanah air bersamanya, apalagi beberapa temannya sudah pernah mengalami situasi seperti itu dan urusannya lancar-lancar saja.

Ketika tiba gilirannya untuk checkin, koper bagasi langsung didaftarkan dan ditimbang. Meskipun beratnya sudah sedikit diatas limit weightnya namun petugas tidak mempermasalahkannya karena sepertinya ada margin weight tertentu yang memang disediakan untuk calon penumpang yang sedikit kelebihan berat. Seperti biasanya, petugas checkin juga akan menanyakan,”apakah ada barang lainnya yang akan dicheckin kan?”. Ada sedikit keraguan untuk menjawab pertanyaan itu. “Kalau saya jawab ya, artinya tas punggung atau tas kabin harus saya checkin kan ke dalam bagasi. Padahal berat bagasiku sebelumnya sudah melebihi batasnya. Wah berapa aku harus bayar untuk kelebihan beratnya yang sangat jelas ini?”. Dengan sedikit ragu akhirnya pertanyaan inipun dijawab juga,”tidak ada”, padahal jelas dia masih membawa tas punggung yang menggelembung itu dan belum lagi tas koper kabin. Dengan selesainya urusan bagasi maka petugas segera memberikan boarding pass, dan itu menjadi akhir proses checkin di counter SQ yang terjadi pagi itu. “Beres !”, ada perasaan lega ketika proses checkin berjalan lancar.

Setelah seluruh rekannya juga telah menyelesaikan proses checkinnya maka segera saja mereka menuju gerbang masuk yang dijaga oleh petugas imigrasi. Dengan antrian yang teratur rapi, satu per satu calon penumpang di amati dan dicocokan antara data yang di passport dengan data fisiknya. Tidak terlalu lama proses itu dan calon penumpang itu dipersilakan masuk sebagai tanda bahwa data yang di passport cocok dengan data fisiknya. Proses itu terjadi kepada setiap penumpang yang akan masuk. Tidak terkecuali engineer kita ini. Dengan tas punggung menggelembung, memang sangat sulit untuk membantah bahwa tas punggung itu tidak berat, apalagi bahasa tubuh saat membawa beban itu sungguh sulit untuk mengelabuhi bahwa yang dia bawa tidak berat. Dari bahasa tubuh dan pengamatan visual, petugas imigrasi di gerbang masuk itu segera saja memanggil engineer kita dan meminta untuk menimbang berat tas punggungnya yang memang menggelembung gemuk itu. Benar saja ternyata berat beban tas punggung itu adalah 17 kg, padahal batasan barang yang diijinkan masuk ke kabin adalah 1 unit dengan berat maksimum 7 kg dan dimensi ukuran tertentu. Melihat kenyataan ini maka tak ada lagi alasan untuk dapat menolak atau membantah karena kenyataannya memang pelanggaran. Secara tegas petugas imigrasi mempersilakan engineer kita untuk kembali ke checkin counter SQ dan meminta agar tas punggung beserta isinya dimasukkan ke dalam bagasi saja. Tidak terlalu lama proses baggage checkin di counter SQ, meskipun harus bernegosiasi, kenyataannya dia harus membayar 220 ribu won dan kali ini dia benar benar nggak bisa menolak. Barangkali memang isinya adalah barang barang yang sedemikian pentingnya. Setelah tas punggung akhirnya dipaksa masuk ke bagasi, memang langkah terasa sangat ringan karena beban 17 kg telah berpindah. Namun agak sulit untuk membantah bahwa ternyata beban berat itu tidak hanya berpindah ke bagasi tetapi juga di hati sehingga senyumpun juga terasa agak berat. Maklum senyum kali ini seberat 17 kg atau senilai 220 ribu Won alias 1.98 Juta rupiah.

Serupa tapi berbeda nasib terjadi di rombongan tanggal 30 November. Kali ini koper bagasi seberat 26.5 kg berhasil checkin dengan lancar, sementara di tangan masih ada tas punggung seberat 11 kg, koper kabin seberat 16 kg, dan tas kamera berikut isinya NIKON 5100D yang counternya baru menandakan 280 jepretan. Engineer ini cukup berpengalaman menghadapi situasi seperti ini sehingga dia cukup pede. Sebenarnya ada juga sebersit keraguan dihatinya setelah mendengar kejadian 220 ribu won pada rombongan 26 November, namun sepertinya hatinya telah diteguhkan untuk menyiapkan segala resiko yang mungkin terjadi termasuk kalau harus membayar ongkos tambahan untuk bagasi. Salah satu trick yang dia gunakan adalah jangan sekali kali menampakkan sedang membawa barang yang berat. Maka langkah setenang mungkin, badan diatur setegak mungkin yang tujuannya untuk menghidari kecurigaan petugas imigrasi. Hobinya berolahraga bulutangkis sangat membantunya untuk memainkan sandiwara ini sehingga gerbang pertama imigrasi berhasil dilewati dengan mulus meskipun punggung menggendong tas, tangan kanan menggandeng koper kabin dan tangan kiri menenteng tas kamera standar. “Ach..legaaaa….”. Setelah lolos dari tahapan ini maka tidak ada hal yang perlu ditakutkan lagi karena selanjutnya praktis tidak akan ada pemeriksaan yang berarti kecuali cuma dokumen dan scaning check yang objek pemeriksaannya bukan lagi masalah urusan berat bagasi melainkan masalah konten. Urusan konten atau isi rasa rasanya semua engineer sangat paham bahwa barang berbahaya berupa narkoba, benda tajam, dan cairan dengan volume tertentu pasti tidak akan diijinkan lewat, oleh karena itu pastilah engineer ini tidaklah bertindak bodoh dengan menempatkan benda benda itu ke dalam koper dan tas yang masuk kabin. Merasa tidak memiliki benda-benda yang berbahaya itu maka dengan yakin laptop, kamera, HP, Dompet dan pasport dikeluarkan dan ditempatkan di nampan khusus untuk dilewatkan lorong skaner. Demikian juga koper kabin dan tas punggungnya, sementara badan diperiksa secara khusus dengan metal detector. Badan dan semua barang yang lewat skaner lolos dengan mudah seperti yang diduga kecuali koper kabin yang masih ditahan untuk diperiksa lebih teliti dengan cara di skan ulang. Sambil mengumpulkan kembali laptop, kamera, passport dan dompet yang telah keluar dari sarangnya masing-masing, petugas skaning masih menahan dan memerlukan waktu untuk memeriksa koper kabin. Banyaknya penumpang pagi itu membuat situasi menjadi sedikit agak panik karena 3 orang rekan serombongannya telah lolos beberapa menit sebelumnya. Tiba-tiba saja putugas meminta ijin dengan bahasa Inggris versi Korea untuk membuka koper kabin yang sudah dilakukan skan berulang ulang itu.

“Ini koper anda kan?”

“Ya tentu saja!, ada masalah ?” responya cepat.

“Ya, petugas skaner kami melihat ada sesuatu yang perlu saya pastikan bahwa itu bukan benda yang dilarang”. Tanpa menjelaskan benda apa yang dicari petugas wanita itu meneruskan permintaan berikutnya,

“Boleh saya buka ?”

Merasa tidak ada benda yang berbahaya atau yang dilarang maka tidak ada alasan atau ketakutan untuk dilakukan pemeriksaan lebih detail.

“OK, no problem !, silakan aja!”.

Koper kabin yang isi dan konfigurasinya merupakan hasil proses optimasi bongkar pasang semalaman terpaksa dibongkar dan diacak acak. Tidak sulit membayangkan bagaimana berantakan dan berhamburannya barang barang tersebut ketika petugas mencari benda yang dicurigainya. Semua benda yang tertutup atau terbungkus harus dibuka untuk dipastikan bahwa benda itu tidak berbahaya. Hingga hampir semua benda yang ada di dalam koper itu telah dikeluarkan sepertinya dia tidak menemukan benda yang dicurigainya, maka tas yang hampir kosong itu dilakukan skan ulang untuk kesekian kalinya.

“Saya harus check lagi”, katanya dengan sungguh sungguh sambil mengangkat koper itu.

Dari komunikasi dengan koleganya sepertinya benda yang dicurigai petugas itu masih ada, hanya karena dia tidak dapat menemukannya maka engineer itupun memberanikan diri untuk bertanya,

“Sebenarnya apa sich yang anda cari?”

“Waktu di skan saya melihat ada sesuatu yang dicurigai tetapi saya belum menemukannya”, begitu petugas itu menjelaskan.

“OK, kira-kira di sebelah mana benda itu”, pertanyaan engineer itu setengah agak jengkel karena waktu boarding yang semakin mepet.

“Kalau dilihat dari layar skaner, kira kira di tengah sini, makanya saya harus lihat lagi lebih teliti”.

Melihat koper yang hampir kosong dan petugas menunjukkan lokasi benda yang dicurigainya maka engineer itu segera paham apa yang mungkin dicurigai. Karena dia merasa tidak membawa benda logam maka satu satunya kemungkinanan yang pantas dicurigai adalah “sabu-sabu” atau paling tidak benda yang kalau di skan “lebih mirip seperti sabu-sabu”. Segera saja engineer itu ingat dan menunjelaskan.

“Mungkin yang sedang anda cari ada di saku belakang koper ini”.

Mendapat pejelasan itu, petugas itu seakan terkejut dan mungkin juga agak kesal karena koper itu ternyata memiliki saku belakang yang sama sekali dia tidak menduga. Tanpa buang waktu segera saja saku luar yang ada di belakang koper itu dibuka, dan apa yang dia curigai segera dia temukan, sebungkus bubuk sekitar 4-5 ons warna kuning agak oranye. Tanpa ragu-ragu dia ambil bubuk itu dan bertanya,

“Apa ini?”.

Sipemilik yang memang merasa tidak melanggar larangan tentang barang bawaan maka dengan enteng menjelaskan “itu bumbu nasi goreng, fried rice”. Tentu dia tidak kenal dengan nasi goreng, bahkan mungkin dianggap istilah yang aneh bagi orang Korea. Namun sebagai petugas yang cerdas dia segera mencari kata analoginya.

“Is it for rameyon?”, pertanyaan konfirmatif yang mengindikasikan bahwa bubuk itu adalah bumbu untuk memasak Mie di Korea.

Tanpa pikir panjang, engineer itupun meng iya kan, “Yes”, meskipun sebenarnya ada perbedaan yang mendasar antara bumbu nasi goreng dan bumbu mie.

Setelah beberapa saat petugas itu mengamati sambil mem baui bubuk itu, jawaban “Yes” yang diucapkan dengan tegas oleh engineer itu berhasil mengakhiri kecurigaan itu.

Kecurigaan selesai, barang-barang yang berantakan segera diangkat ke meja khusus untuk ditata kembali. Sungguh sulit mengulangi proses pengepakan hingga diperoleh konfigurasi optimum yang telah diperoleh semalaman dapat diulangi lagi dalam suasana agak panik karena waktu yang mepet serta lalu lalang calon penumpang yang kebetulan pagi itu cukup banyak.

Beruntung ketiga rekannya bersabar menunggu engineer yang kena “musibah” ini. Dengan sedikit dipaksakan maka semua benda berhasil masuk meskipun jangan ditanya posisi dan penempatan benda benda itu. “Pokoknya asal masuk aja”, ucapnya dalam hati. Dengan pengepakan yang asal asalan maka koper yang mestinya tidak perlu membuka resleting extension maka kali ini terpaksa resleting itu harus dibuka biar semua benda dapat masuk. “Ach legaaaa”, sambil melangkah menuju boarding area.

Jadwal boarding telah tiba beberapa menit sebelumnya, antrian calon penumpang SQ telah memanjang tanda pintu pesawat sudah dibuka. Beberapa rekannya telah melewati pintu petugas untuk masuk badan pesawat dengan lancar, sementara untuk engineer kita ini, ternyata cobaan belum selesai. Langkahnya tertahan lagi kali ini oleh petugas boarding. Dia diberhentikan oleh hal yang dia sudah duga sebelumnya, yaitu urusan koper itu. Kelegaan lolos dari gerbang imigrasi seakan sirna, sementara rekannya hanya bisa berkomenter pendek, “Wah akhirnya kena juga dia !”. Merasa sudah melakukan upaya maksimal kalau di gerbang boarding ini akhirnya tertahan lagi maka dalam hatinya diapun sudah pasrah. “Kalau harus bayar saya akan bayar”, ucapnya dalam hati untuk menentramkan hatinya.

“Anda tahu, 1 orang penumpang hanya diijinkan membawa 1 paket barang dengan ukuran dan berat seperti itu”, penjelasan petugas itu sambil menunjuk poster peringatan yang berdiri disamping gerbang boarding itu. Tentu saja dia sangat paham kalau dia dianggap melanggar karena memang dia membawa barang terlalu banyak, ada koper kabin, tas punggung dan tas kamera Nikon standar.

“Yes, so?”, engineer ini bertanya meminta penjelasan.

“Koper anda harus saya checkin kan agar masuk bagasi”, kata petugas itu sambil menarik koper dari tangan engineer itu. Dalam hitungan detik resi bagasi koper itu diberikan dan langsung ditempelkan di passport, sementara engineer kita ini masih berdiri terpaku seperti menunggu instruksi selanjutnya. Dalam hatinya terlintas, “Berapa aku mesti bayar untuk koper bagasi itu?”. Belum selesai dia berfikir, petugas itu menghampirinya karena melihat dia masih berdiri seperti menunggu. Petugas bording segera saja memintanya untuk segera masuk. “Urusan anda beres, silakan segera masuk”. Dengan sedikit agak terkejut campur heran karena urusannya selesai begitu cepat dan mudah, maka dia balik bertanya, “Ooo, beres ?.”. dengan melompat dan setengah berteriak “Woookeeee…beres…”, maka dia segera berlari menuju pintu pesawat. Tidak dihiraukannya lagi jaket, rambut dan sall nya yang berantakan. Nampaknya keberuntungan ada di pihaknya. Karena untuk kasus yang serupa dengan temannya dia tidak harus bayar se sen pun, padahal dompetnya sudah disiapkan untuk membayar, hatinya sudah disiapkan untuk iklas. Dengan tetap berlari segera dia menyusul teman temannya, sementara aroma cita rasa udara Indonesia sudah langsung menyergap alam pikirnya.

Sebenarnya dia ingin berteriak “YES, Indonesiaaaaa, Aku Pulaaaang”, sebagai bentuk puncak kepuasan batinnya setelah seluruh kesulitan yang menderanya berhasil dilewati dengan selamat tanpa harus membayar pinalti se sen pun. Hanya takut terlihat berlebihan sehingga memungkinkan muncul masalah baru maka dia hanya berteriak lirih dalam hati, “ Indonesia,…aku pulang”.