"Nanen Guninida…!!!"
Mati Ketawa Gaya Korea 5
|
M
|
emenuhi
panggilan dengan judul tugas negara tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi
siapa saja. Apalagi judul tugas ini adalah membangun alat pertahanan negara.
Semua instansi dilibatkan, semua potensi digerakkan dan disinergikan.
Orang-orang pintar dipanggil untuk mensuskeskan program ini. Maka jangan heran
bila para cedekia dari Institusi Teknologi besar dipanggil, doktor doktornya
dikerahkan. Tidak lupa intitusi tentara penjaga langit mutlak tidak bisa
ditinggalkan, harus diikutkan karena merekalah yang nantinya akan menggunakan
perisai langit yang akan dibangun ini. Oleh karena itu agar bangunan perisai
langit ini tidak salah, maka perwira perwira terbaiknya yang disertakan
mengawal tugas ini. Bisa dibayangan kepintaran
dan kegagahan dari perwira perwira ini.
Berkumpul
pertama kali dengan para doktor doktor yang ahli di bidangnya masing-masing,
para perwira ganteng dan gagah perkasa yang sangat menguasai medannya ini hanya
membangkitkan perasaan kecil, kerdil, remeh dan minder dalam diri yang tidak
bergelar doktor maupun berpangkat. Terasa dalam setiap forum tanya jawab
setelah tamu menyajikan paparannya, terlihat batapa bapak-bapak doktor itu
begitu enak bertanya atau berkomentar, begitu menguasai masalahnya, sedangkan
para perwira gagah itu begitu lugas menyampaikan gagasannya. Bagi yang lainnya,
seakan tidak ada ruang untuk unjuk kebisaannya.
Orang bijak
berkata bahwa dalam setiap kehebatan pasti ada kelemahan, karena tidak ada yang
sempurna. Tapi apa?
Ternyata,
jawaban dan penjelasan orang bijak itu ada di kelas bahasa korea. Hanya di
kelas ini para engineer merasa lebih baik. Bagimana tidak gembira dan merasa
lebih baik, hanya di kelas bahasa korea para enginer yang bukan doctor dan
perwira itu leluasa, melihat dan mentertawakan para doktor dan perwira yang
bersusah payah menirukan kata kata aneh ucapan gurunya. Bagaimana tidak tertawa
ketika misalnya melihat bapak Doktor yang kebetulan duduk di samping bekas
mahasiswanya, dan setiap kali selalu bertanya, "Kalau ini gimana
Bal", atau "yang ini Ga, Ka, atau kha, Iqbal?", sambil membolak
balik lembar tulisan yang penuh huruf seperti bambu itu. Kalau sudah gitu
biasanya terus mendesah "ah lieur", sambil komat kamit yang tidak
jelas bedanya antara berdoa atau mengeja.
Beda lagi bapak
Doktor lainnya yang tidak kalah ganteng dan selalu berpakain dan bersisir rapi,
karena memang masih muda mestinya memorinya masih fresh sehingga lebih mudah
menyerap pelajaran ini. Namun yang terjadi tidak ada bedanya. Bagaimana tidak,
setiap kali bapak doktor ini diminta membaca maka yang terjadi seperti sedang
menghadapi wanita cantik. Kalimat dieja dengan lirikan dan kerdipan mata
ditambah komat kamit doa yang tidak ada suaranya. Huuuhhh sungguh menggemaskan.
Namun, sikap dan cara bapak mengeja seperti sedekah kebahagiaan bagi yang lainnya karena jadi
nggak bisa menahan tawa.
Puncaknya adalah
perwiraku yang ganteng dan gagah perkasa yang biasanya dia tampil begitu mantab
dan meyakinkan, karena memang begitulah seharusnya perwira bersikap. Dengan memainkan dialek, penekanan kata,
pengucapan yang cepat dan patah patah menjadikannya seperti sudah mahir
berbahasa. Barangkali dia memang sudah mahir berbahasa karena di sekolah
komando mungkin memang sudah diajarkan. Namun kejadian hari itu sungguh
berbeda. Ketika akhirnya dia ditunjuk agak mendadak, keterkejutan sangat jelas
dimatanya.
Nampaknya dia
memang tidak menyimak karena ngobrol dengan teman dekatnya. Ketika tunjukan
Dr.Sin yang tiba-tiba itu datang maka pantang perwira mundur ke belakang. Maju
terus. Tampil berdiri dengan tegapnya, posisi siap membaca. Namun karena tidak
menyimak maka dia tidak tahu kalimat apa atau yang mana yang mesti dibaca, atau
bahkan kalaupun tahu mungkin akan terbata-bata. Pantang perwira mengucap
terbata-bata. Sesaat mencoba mencerna, sambil menunggu pertolongan tiba,
terdengar suara bisikan dari kursi sebelahnya, seakan pertolongan itu tiba.
Tanpa berpikir duakali maka dengan suara yang mantab dan jelas diulangnya suara
bisikan itu, "NANEN GUNINIDA". Sontak seluruh kelas bersorak tertawa.
Bagaimana tidak tertawa, wong yang dibaca mestinya "Nanen Miguginida"
karena dipapan tulis tidak ada kalimat yang bunyinya "Nanen
guninida".
Dan suara
bisikan itu adalah celotehan yang menjerumuskan yang ternyata dimakan oleh yang
lagi lapar menunggu bantuan jawaban.
"Kurang
ajar", hanya ucapan itu yang akhirnya lirih terdengar.
Daejeon,
Mei 17 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar