Jumat, 07 Oktober 2016

"Nanen Guninida…!!!"


"Nanen Guninida…!!!"
Mati Ketawa Gaya Korea 5

M

emenuhi panggilan dengan judul tugas negara tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi siapa saja. Apalagi judul tugas ini adalah membangun alat pertahanan negara. Semua instansi dilibatkan, semua potensi digerakkan dan disinergikan. Orang-orang pintar dipanggil untuk mensuskeskan program ini. Maka jangan heran bila para cedekia dari Institusi Teknologi besar dipanggil, doktor doktornya dikerahkan. Tidak lupa intitusi tentara penjaga langit mutlak tidak bisa ditinggalkan, harus diikutkan karena merekalah yang nantinya akan menggunakan perisai langit yang akan dibangun ini. Oleh karena itu agar bangunan perisai langit ini tidak salah, maka perwira perwira terbaiknya yang disertakan mengawal  tugas ini. Bisa dibayangan kepintaran dan kegagahan dari perwira perwira ini.

Berkumpul pertama kali dengan para doktor doktor yang ahli di bidangnya masing-masing, para perwira ganteng dan gagah perkasa yang sangat menguasai medannya ini hanya membangkitkan perasaan kecil, kerdil, remeh dan minder dalam diri yang tidak bergelar doktor maupun berpangkat. Terasa dalam setiap forum tanya jawab setelah tamu menyajikan paparannya, terlihat batapa bapak-bapak doktor itu begitu enak bertanya atau berkomentar, begitu menguasai masalahnya, sedangkan para perwira gagah itu begitu lugas menyampaikan gagasannya. Bagi yang lainnya, seakan tidak ada ruang untuk unjuk kebisaannya.

Orang bijak berkata bahwa dalam setiap kehebatan pasti ada kelemahan, karena tidak ada yang sempurna. Tapi apa?

Ternyata, jawaban dan penjelasan orang bijak itu ada di kelas bahasa korea. Hanya di kelas ini para engineer merasa lebih baik. Bagimana tidak gembira dan merasa lebih baik, hanya di kelas bahasa korea para enginer yang bukan doctor dan perwira itu leluasa, melihat dan mentertawakan para doktor dan perwira yang bersusah payah menirukan kata kata aneh ucapan gurunya. Bagaimana tidak tertawa ketika misalnya melihat bapak Doktor yang kebetulan duduk di samping bekas mahasiswanya, dan setiap kali selalu bertanya, "Kalau ini gimana Bal", atau "yang ini Ga, Ka, atau kha, Iqbal?", sambil membolak balik lembar tulisan yang penuh huruf seperti bambu itu. Kalau sudah gitu biasanya terus mendesah "ah lieur", sambil komat kamit yang tidak jelas bedanya antara berdoa atau mengeja.

Beda lagi bapak Doktor lainnya yang tidak kalah ganteng dan selalu berpakain dan bersisir rapi, karena memang masih muda mestinya memorinya masih fresh sehingga lebih mudah menyerap pelajaran ini. Namun yang terjadi tidak ada bedanya. Bagaimana tidak, setiap kali bapak doktor ini diminta membaca maka yang terjadi seperti sedang menghadapi wanita cantik. Kalimat dieja dengan lirikan dan kerdipan mata ditambah komat kamit doa yang tidak ada suaranya. Huuuhhh sungguh menggemaskan. Namun, sikap dan cara bapak mengeja seperti sedekah  kebahagiaan bagi yang lainnya karena jadi nggak bisa menahan tawa.

Puncaknya adalah perwiraku yang ganteng dan gagah perkasa yang biasanya dia tampil begitu mantab dan meyakinkan, karena memang begitulah seharusnya perwira bersikap.  Dengan memainkan dialek, penekanan kata, pengucapan yang cepat dan patah patah menjadikannya seperti sudah mahir berbahasa. Barangkali dia memang sudah mahir berbahasa karena di sekolah komando mungkin memang sudah diajarkan. Namun kejadian hari itu sungguh berbeda. Ketika akhirnya dia ditunjuk agak mendadak, keterkejutan sangat jelas dimatanya.

Nampaknya dia memang tidak menyimak karena ngobrol dengan teman dekatnya. Ketika tunjukan Dr.Sin yang tiba-tiba itu datang maka pantang perwira mundur ke belakang. Maju terus. Tampil berdiri dengan tegapnya, posisi siap membaca. Namun karena tidak menyimak maka dia tidak tahu kalimat apa atau yang mana yang mesti dibaca, atau bahkan kalaupun tahu mungkin akan terbata-bata. Pantang perwira mengucap terbata-bata. Sesaat mencoba mencerna, sambil menunggu pertolongan tiba, terdengar suara bisikan dari kursi sebelahnya, seakan pertolongan itu tiba. Tanpa berpikir duakali maka dengan suara yang mantab dan jelas diulangnya suara bisikan itu, "NANEN GUNINIDA". Sontak seluruh kelas bersorak tertawa. Bagaimana tidak tertawa, wong yang dibaca mestinya "Nanen Miguginida" karena dipapan tulis tidak ada kalimat yang bunyinya "Nanen guninida".

Dan suara bisikan itu adalah celotehan yang menjerumuskan yang ternyata dimakan oleh yang lagi lapar menunggu bantuan jawaban.

"Kurang ajar", hanya ucapan itu yang akhirnya lirih terdengar.


Daejeon, Mei 17 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar