Jumat, 07 Oktober 2016

Kegesitan si Ulat Bulu


Kegesitan si Ulat Bulu
Mati Ketawa Gaya Korea 6

D

ari seluruh anggota team CRDC Indonesia yang ada di Korea ini, pasti tidak ada yang bisa mengalahkan kehebatan engineer master kita yang satu ini. Dia ini memang sudah membekali diri dengan ilmu dari berbagai sumber ilmu. Sejak kecil dia telah menempa diri untuk menyambut tantangan kesulitan hidup yang mungkin akan datang di kemudian hari. Semasa kanak di Kediri, barangkali sungai Brantas menjadi media outboud dia setiap hari. Mengejar lori untuk mendapatkan sebatang tebu, tentu menjadi semacam tantangan tersendiri. Akhir masa remajanya dia habiskan menuntut ilmu di "Padepokan Sukolilo Surabaya", mengambil jurusan Teknik Kimia. Merasa sudah cukup ilmu dari padepokan itu, petualangan dia berlanjut di bidang olah keprajuritan, dengan bergabung dalam pasukan perisai langit di Malang.

Dia yang sejak kecil sudah menempa diri dengan olah fisik yang cukup maka semua urusan di pasukan perisai langit ini terlewati dengan tanpa kesulitan. Hingga akhirnya angin membawanya ke Bandung. Di Bandung dia merasa masih perlu menimba ilmu lagi, dan pilihannya jatuh di Institut Teknologi Bandung.

Dia bisa belajar apa saja, karena memang dia dianugerahi kecemerlangan otak untuk mudah menyerap ilmu apalagi bahasa. Dia pernah belajar bahasa Inggris sejak SMP hingga SMA. Dia menyerap bahasa Perancis, siapa tahu ada yang bisa membawanya sekolah di Perancis. Namun, takdir membawanya ke Korea, karena tante Olivia, teteh Yuna, Dr.Sin dan Ibu Wonmie sudah menunggu.

Sejak kecil dia dididik tanpa "ibu atau mama", karena yang dia punya "embok", dan gizi terbaik yang dia tidak pernah lewatkan adalah sambel yang berbahan dasar tempe, "Sambel Tumpang" karya emboknya itu. Barangkali gizi sambel tumpang inilah yang membentuk engineer kita ini menjadi pribadi yang tangguh, lincah dan gesit. Kelincahan dan kegesitannya inilah yang nantinya menjadi modal penting dalam meniti hari harinya.

Awalnya dia diberitugus untuk menyiapkan segala hal yang berhubungan dengan senjata, namun kalau akhirnya dia dipindah tugaskan untuk mengurusi International Collaboration, tidak ada keluhan sedikitpun darinya bahkan dia merasa Oke oke saja karena dia selalu merasa beruntung. Di posisi barunya itu dia bisa intens berkomunikasi langsung dengan kolega nya yang dari Korea dengan lebih leluasa, sementara teman, senior atau bahkan komandannya cuma bisa mengiba kepadanya untuk memberikan kesempatan mengenalkannya. Harap maklum, Korea juga tidak ingin mempermalukan diri mereka sebagai Negara dengan menunjuk staf International collaboration orang yang biasa-biasa saja. Pasti dipilihnya yang cantik, segar dan berpenampilan diatas rata rata. Oleh karena itu, kalau sering kita lihat anggota tim yang merasa masih bujang atau “bujang lokal” hadir di meja engineer kita ini maka semua hanya makluminya. Oleh karena itu, kalimat berupa ,"kamu atur donk untuk kita-kita", sudah sering dia dengar. Sebagai anggota atau staff yang berurusan dengan colaborasi maka dia akan patuh dan patuh, meskipun dalam hati, "ah itu terserah gua kan?". Hal hal seperti inilah yang kadang dirasa menjengkelkannya bagi “bujangan” yang sudah sangat mengarapkan bantuannya. Kegagalan demi kegagalan inilah yang akhirnya menimbulkan kecurigaan dan dugaan hingga dia dipanggil "si ulat bulu". Kok ulat bulu?  "Iya seperti apel itu, kulit luarnya masih mulus, tapi dalamnya sudah keropos kau makan duluan", keluh dan ledekan teman temannya sambil tertawa. Tentu saja dia tersenyum bangga penuh kemenangan.

Kelincahan, keluwesannya bergaul, kelancarannya berbahasa Korea menjadikan siapa saja merasa kalah set dengannya. Tidak peduli itu CE nya, seniornya ataupun komandannya sekalipun. Manghadapi kecerdikannya, kelincahannya dan keunggulan setting posisinya maka hanya ada satu cara untuk mengalahkan dia, yaitu mesti dengan ancaman. Seperti yang terjadi diperjalanan ketika dia sedang mengantar tamu tamu agung dari CRDC ke hotel. Meskipun hanya lewat telephon, suara dan nadanya sangat jelas dan tegas,"Pilih saya tempeleng atau kamu turunkan disitu !!" Perintah yang getarannya dia rasakan seperti sedang berhadapan malaikat maut pencabut nyawa. Oleh karena itu dia nggak akan berani mengambil inisiatif untuk ngakali. Patuh tuh tuh......”Siap..Siap..!”

 Daejeon, Mei 18 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar