Kegesitan si Ulat Bulu
Mati Ketawa Gaya Korea 6
|
D
|
ari seluruh
anggota team CRDC Indonesia yang ada di Korea ini, pasti tidak ada yang bisa
mengalahkan kehebatan engineer master kita yang satu ini. Dia ini memang sudah
membekali diri dengan ilmu dari berbagai sumber ilmu. Sejak kecil dia telah
menempa diri untuk menyambut tantangan kesulitan hidup yang mungkin akan datang
di kemudian hari. Semasa kanak di Kediri, barangkali sungai Brantas menjadi
media outboud dia setiap hari. Mengejar lori untuk mendapatkan sebatang tebu,
tentu menjadi semacam tantangan tersendiri. Akhir masa remajanya dia habiskan
menuntut ilmu di "Padepokan Sukolilo Surabaya", mengambil jurusan
Teknik Kimia. Merasa sudah cukup ilmu dari padepokan itu, petualangan dia
berlanjut di bidang olah keprajuritan, dengan bergabung dalam pasukan perisai
langit di Malang.
Dia yang sejak
kecil sudah menempa diri dengan olah fisik yang cukup maka semua urusan di
pasukan perisai langit ini terlewati dengan tanpa kesulitan. Hingga akhirnya
angin membawanya ke Bandung. Di Bandung dia merasa masih perlu menimba ilmu
lagi, dan pilihannya jatuh di Institut Teknologi Bandung.
Dia bisa belajar
apa saja, karena memang dia dianugerahi kecemerlangan otak untuk mudah menyerap
ilmu apalagi bahasa. Dia pernah belajar bahasa Inggris sejak SMP hingga SMA.
Dia menyerap bahasa Perancis, siapa tahu ada yang bisa membawanya sekolah di
Perancis. Namun, takdir membawanya ke Korea, karena tante Olivia, teteh Yuna,
Dr.Sin dan Ibu Wonmie sudah menunggu.
Sejak kecil dia
dididik tanpa "ibu atau mama", karena yang dia punya
"embok", dan gizi terbaik yang dia tidak pernah lewatkan adalah
sambel yang berbahan dasar tempe, "Sambel Tumpang" karya emboknya
itu. Barangkali gizi sambel tumpang inilah yang membentuk engineer kita ini
menjadi pribadi yang tangguh, lincah dan gesit. Kelincahan dan kegesitannya
inilah yang nantinya menjadi modal penting dalam meniti hari harinya.
Awalnya dia
diberitugus untuk menyiapkan segala hal yang berhubungan dengan senjata, namun
kalau akhirnya dia dipindah tugaskan untuk mengurusi International Collaboration,
tidak ada keluhan sedikitpun darinya bahkan dia merasa Oke oke saja karena dia
selalu merasa beruntung. Di posisi barunya itu dia bisa intens berkomunikasi
langsung dengan kolega nya yang dari Korea dengan lebih leluasa, sementara
teman, senior atau bahkan komandannya cuma bisa mengiba kepadanya untuk
memberikan kesempatan mengenalkannya. Harap maklum, Korea juga tidak ingin
mempermalukan diri mereka sebagai Negara dengan menunjuk staf International
collaboration orang yang biasa-biasa saja. Pasti dipilihnya yang cantik, segar
dan berpenampilan diatas rata rata. Oleh karena itu, kalau sering kita lihat
anggota tim yang merasa masih bujang atau “bujang lokal” hadir di meja engineer
kita ini maka semua hanya makluminya. Oleh karena itu, kalimat berupa ,"kamu
atur donk untuk kita-kita", sudah sering dia dengar. Sebagai anggota atau
staff yang berurusan dengan colaborasi maka dia akan patuh dan patuh, meskipun
dalam hati, "ah itu terserah gua kan?". Hal hal seperti inilah yang
kadang dirasa menjengkelkannya bagi “bujangan” yang sudah sangat mengarapkan
bantuannya. Kegagalan demi kegagalan inilah yang akhirnya menimbulkan
kecurigaan dan dugaan hingga dia dipanggil "si ulat bulu". Kok ulat
bulu? "Iya seperti apel itu, kulit
luarnya masih mulus, tapi dalamnya sudah keropos kau makan duluan", keluh
dan ledekan teman temannya sambil tertawa. Tentu saja dia tersenyum bangga
penuh kemenangan.
Kelincahan,
keluwesannya bergaul, kelancarannya berbahasa Korea menjadikan siapa saja
merasa kalah set dengannya. Tidak peduli itu CE nya, seniornya ataupun
komandannya sekalipun. Manghadapi kecerdikannya, kelincahannya dan keunggulan
setting posisinya maka hanya ada satu cara untuk mengalahkan dia, yaitu mesti
dengan ancaman. Seperti yang terjadi diperjalanan ketika dia sedang mengantar
tamu tamu agung dari CRDC ke hotel. Meskipun hanya lewat telephon, suara dan
nadanya sangat jelas dan tegas,"Pilih saya tempeleng atau kamu turunkan
disitu !!" Perintah yang getarannya dia rasakan seperti sedang berhadapan
malaikat maut pencabut nyawa. Oleh karena itu dia nggak akan berani mengambil
inisiatif untuk ngakali. Patuh tuh tuh......”Siap..Siap..!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar