Jumat, 18 November 2016

Khotib dan Muazzin sholat Jum’at (2)

Khotib dan Muazzin sholat Jum’at (2)
Mati Ketawa Gaya Korea (11)

Setelah step awal ritual solat Jum’at yang namanya adzan berhasil dilewati dengan lancar, berikutnya adalah agenda pokok sholat Jum’at yaitu Khotbah. Kotbah ini menjadi salah satu dari rukun sholat Jum’at, yang begitu pokok dan penting sehingga sewajarnya Kotbah ini semestinya diisi oleh orang yang memang mumpuni di bidang itu. Meskipun penting namun agama ini tidak ingin hal penting ini menjadi menyulitkan umatnya dalam pelaksanaannya. Maka syarat fisiknya pun dimudahkan, yaitu cukup, khotib harus laki laki yg sudah dewasa/baligh dan mampu serta dipercaya menjadi khotib oleh para jamaahnya. Begitu mudahnya sehingga hampir dipastikan semua engineer laki-laki di program IF-X di KAI ini memenuhi syarat untuk menjadi seorang Khatib sholat Jum’at, kecuali beberapa orang yang memang memiliki kebebasan lebih saat memilih makanan di kantin termasuk memilih menu yang mengandung “daging enak” alias dwejigogi.
Atas dasar keyakinan akan kemudahan syarat itulah maka kothib hari itu menyiapkan diri, karena begitu ditunjuk dia juga tidak menemukan lagi alasan untuk dapat menolak. Dalam konteks lahiriah, bagi yang pernah belajar ilmu drama atau teater, berdiri menjadi khotib menyampaikan kotbah di depan jamaah, tak ubahnya sedang berperan menjadi aktor sebagai tokoh itu. Artinya, dengan menyiapkan dan membaca naskah secukupnya, pilih sendiri temanya, penuhi syarat dan rukun sebuah materi kotbah kemudian lafalkan, dan hafalkan monolog atau dialognya, kemudian praktekkan di depan jamaah seakan-akan sedang benar-benar menjadi tokoh itu. Semudah itu itu berperan sebagai khotib.

Namun sayangnya, kotbah Jum’at bukanlah sebuah representasi kegiatan teater atau drama. Kotbah Jum’at adalah sebuah ritual Agung bagi muslim dalam melaksanakan kepatuhannya kepada Alloh Tuhannya, sehingga meskipun sulit maka diupayakan semaksimal mungkin untuk dilaksanakan. Sebagai sebuah ritual ibadah agama, makanya pelaksanaan Kotbah tidak boleh direpresentasikan sebagai seperti sebuah kegiatan teater atau drama, yang hanya bermuara kepada kepuasan seni rasa dan keindahan saja. Dalam kotbah melekat inheren kelurusan niat akan ketundukan, kepatuhan, keiklasan untuk melaksanakan perintah Tuhan, juga berisi ajakan dan nasihat kebaikan yang tentu saja sekali ajakan atau nasihat itu diucapkan maka sekaligus melekat dan mengikat tangan, kaki dan leher khotib yang mengucapkan. Hanya itu beratnya menjadi khotib, yaitu tuntutan ke dalam diri sendiri untuk satunya kata dan perbuatan. Oleh karena itu sangat dipahami kenapa ada beberapa orang yang begitu mudah menasihati, atau “berkotbah” di grup WA (meskipun cuma copy paste), namun ketika tiba giliran untuk menjadi khotib, seribu alasan dikeluarkan agar dapat menghindari tugas mulia keagamaan itu.
Meskipun begitu, bagi khotib yang ditunjuk di hari itu, karena sedari awal memang juga sudah disadari bahwa di dalam manusialah tempat nya salah dan lupa, maka kotbah itu terjadilah. Atas segala cacat, ketidak tepatan, ketidak konsistenan, ketidak mampuan dan ketidak sanggupannya semoga saja Tuhan mengampuni, karana hanya permohonan maaf itulah yang pantas dilakukan. 

“Toh yang diukur dari kita adalah kelurusan niat serta kesungguhan kita untuk agar kotbah itu benar-benar terjadi. Kalau masih salah? Memang siapa yang memberikan kemampuan kepadaku”, katanya dalam hati untuk memotivasi diri.
Ayat demi ayat dibaca, makna, tafsir dan pesan moral dari ayat coba dijelaskan, begitu berhati-hatinya karena takut salah maka kalimat apalagi bacaan ayat sama sekali tidak mampu dilagukan. Semua dibaca datar, flat dan mungkin membosankan. Bagi sebagian jamaah yang biasanya langsung tertidur saat kotbah Jum’at dibacakan karena terhanyut dalam keindahan bacaan khotib, maka sangat mungkin jamaah hari itu tidak dapat tidur karena tidak ditemukan rangkaian indah kalimat kotbahnya apalagi lagu bacaan ayatnya yang mampu mengantarkannya untuk mengantuk. 

Membaca doa di akhir kotbah juga menjadi hal yang tidak mudah. Agar sebuah doa dapat diamini secara serentak oleh jamaah maka doa harus dilantunkan dengan lagu dan jeda yang pas. Tanpa itu maka memahaminya saja menjadi sulit, apalagi mengamininya, juga menjadi tidak mudah. Kalau doa hari itu jamaah juga tidak dapat mengamini secara bersama sama, itulah kesulitan khotib yang tidak biasa memimpin doa. Kalaulah akhirnya jamaah tidak dapat meng amini bersama-sama, semoga saja amin nya jamaah secara siri lebih meresap dalam hati dan mengkristal menjadi energi yang lebih mampu menembus langit untuk menggoyang Singgasana Pemilik Langit demi terkabulnya doa.
Akhirnya, dengan ditutup sholat Jum’at 2 rakaat berjamaah, selesailah rangkaian ibadah Jum’at hari itu. Ada perasaan lega, karena kewajiban telah ditunaikan. Ada perasaan bahagia karena pengalaman pertama berhasil dilewati, ada perasaan kecewa karena lidah seperti kaku dan gagu ketika membaca ayat dan melantunkan doa. 

“Namun semua itu kuserahkan padaMu wahai Sang Pemberi Ilmu dan Penakar Kemampuanku. Yang pasti aku sudah upayakan yang terbaik yang bisa aku lakukan”, renungan khotib dalam hati saat kembali duduk kursi kubiknya setelah acara selesai.
Tak terlalu lama khotib dapat merenung, karena beberapa orang tiba-tiba saja datang memberi jabat tangan dan ucapan selamat kepada paket Khotib dan muazzinnya. Yang terjadi suasana hiruk pikuk kegembiraan di kubik aerodinamika.

“Selamat, alhamdulillah selesai”,
“Selamat, sudah lulus... cumlaude”,

Tak lengkap rasanya kalau nggak ada ucapan ledekan yang membuat suasana lebih gembira,

“Wah selamat, untung muazzinnya nggak harus bertanya.”
Semua gembira, ucapan selamat sebagai tanda bahwa tugas telah terlaksana, bahwa yang awalnya diragukan akhirnya dilewati, bahkan yang ditakuti akhirnya tidak terjadi, yaitu pertanyaan :

“Yang ini Hayya ‘alas-shalaah atau hayya ‘alal-falaah ?”.
Sacheon, 19 November 2016

Minggu, 13 November 2016

Khotib dan Muazzin sholat Jumat (1)

Khotib dan Muazzin sholat Jumat (1)
Mati Ketawa Gaya Korea (10)
Ting Tung
“Assalamu ‘alaikum Wr.Wb.”
“Bersama ini kami sampaikan kepada bapak-bapak kaum muslimin”
“bahwa jadwal sholat Jumat, 11 November 2016 dilaksanakan di KAI jam .......................”
“Sebagai Kotib dan Imam adalah Bpk ...........”
“Muazzin Bpk ................................................”
Dan seterusnya hingga,
“Demikian disampaikan, atas perhatiannya diucapkan jazakumullah khairan katsira.”

Pagi itu Kamis, 10 November 2016 jam 06.00 waktu Korea, notifikasi WA berbunyi di Grup mengabarkan pesan pengumuman tentang persiapan sholat Jum’at bagi engineer IF-X muslim di KAI Sacheon untuk keesokan harinya. Pesan itu tak lain dan tak bukan dari datang dari “Ketua DKM IF-X KAI”, sebutan untuk engineer yang diembani masalah kegiatan keagama Islam an ini. Sebagai ketua DKM di lingkungan engineer IF-X di KAI, dia tidak dipilih melalui mekanisme demokrasi, tetapi tidak ada yang dapat membantah bahwa Tuhan telah menggerakkan hati setiap engineer untuk menyetujui, mengakui dan menisbatkan dia bahwa dialah yang paling pas dan pantas mengemban amanah mulia itu, yaitu “menjaga akidah umat”.
Dan baginya, hal itu bukanlah seperti jabatan dalam pengertian organisasi modern, tetapi ini adalah pengorbanan, pengabdian, ladang amal, dan jihad dalam pengertian panggilan hati untuk memperjuangkan terpenuhinya kesempatan beribadah bagi seluruh muslim dan muslimat engineeer IF-X di KAI dalam lingkungan yang sangat sulit untuk dapat terlaksana dengan sempurna. Oleh karena itu tanpa disadari, dia bukan lagi hanya sebagai “ketua DKM”, tetapi lebih seperti Kyai, sebutan ulama di tanah Jawa.
Kyai tidak pernah ada skepnya, tidak pernah ada pelantikannya, dan seorang kyai memang lahir begitu saja di masyarakat, karena titel kyai yang melekat kepada seseorang adalah pengakuan masyarakat atas tingkat kualitas tertentu yang telah dicapai seseorang dalam menjawab, membela, bersikap dan berpihak atas segala suatu yang ada di masyarakat, dengan merujuk pada kemampuannya menterjemahkan makna kandungan kitab suci melalui contoh-contoh Rasulnya. Kyai yakni seseorang yang mumpuni amaliah dhohir dan batinnya. Begitu tingginya karisma seorang kyai maka wajar saja kalau ucapannya diikuti, nasihatnya dituruti, tafsir hukumnya dipatuhi dan keputusannya diakui. Semua patuh, tak ada yang menolak, tak ada yang perlu dibantah.
Demikian pulalah yang terjadi di KAI, ketika umat agak bingung mencari rujukan pelaksanaan ibadah wajib dalam menyikapi aturan kerja di KAI yang ketat serta ruang ibadah yang sempit, maka dia tampil memenuhi harapan umat. Jika Kyai pada umumnya dikenali dengan gelungan Imamah yang tersemat dikepala, maka Kyai IF-X ini dikenali dari rasa manfaat & keberadaanya dengan menyampaikan hukum yang ditunggu umat dalam menyikapi keterbatasan tempat dan waktu, beserta dalil dan rujukannya.

“...................................................................”
“Oleh karena itu, karena Rasul membenarkan apa yang dilakukan sahabat ketika sedang musafir yang bahkan diriwayatkan menjamak untuk waktu 6 bulan maka menjamak sholat kita ini dibenarkan. Ada dasarnya dan hadits nya shohih”, begitu DKM menjelaskan suatu ketika.
Semua lega, karena ada dalil yang dirujuk shahih alias benar. Dan begitulah ciri kyai, karenanya memang pantas disebut kyai.
Ketika pengumuman itu akhirnya di release (di WA) maka hal itu dapat dipandang sebagai sebuah keputusan. Karena sudah diputuskan, artinya menjadi tidak elok untuk atas nama persatuan umat kalau keputusan itu harus ditentang. Padahal, tidak ada yang tahu calon khotib yang diumumkan itu sudah ditanya atau belum kesanggupannya, mampu atau tidak, ada halangan atau tidak, dan lain-lain. Dan “ketua DKM” juga tidak tahu betapa takutnya calon khotib ini untuk menyampaikan kotbah agama, karena calon khotib ini sangat sadar akan keterbatasannya, yang bahkan belum pernah sekalipun berdiri di mimbar untuk berkotbah masalah agama.
“Iqro 3 aja belum lulus lho, kok disuruh jadi Khotib”, begitu keluhnya dalam hati.
“Kalau disuruh ngomong masalah aerodinamika pesawat terbang, atau ngomong tentang raket dan teknologi raket badminton, 2 atau 3 jam ayoo aja, nopoblem, tapi ini disuruh ngomong masalah nilai kandungan kitab suci yang aku sendiri mungkin mungkin belum sanggup melakukannya, apalagi mengajak orang lain. Dan harus memimpin doa lagi. Jadi gimana ini?”. Begitu, calon khotib merenungi pengumuman di WA pagi itu.
Memang suatu ketika calon khotib ini pernah menyampaikan ke DKM,
“kalau sekiranya memang sudah tidak ada lagi yang mau untuk menjadi khotib sholat Jum’at, bolehlah saya ditunjuk, demi tetap terselenggarakannya sholat Jum’at. Tapi coba cari lainnya dululah, carilah sampai bener bener sudah nggak ada yang mau dengan alasan apapun. Kalau itu terjadi maka bolehlah saya.”. Kesanggupan yang didasari keadaan dimana kalau memang ini sudah menjadi pilihan terakhir atau tidak ada pilihan lain lagi, maka prasyarat kemampuan dan kesempurnaan menjadi tidak terlalu penting alias asal syarat dan rukunnya terpenuhi maka itu cukup dan syah sholat Jum’at itu. Dengan demikian, tak ada rotan akarpun jadilah dan yang terjadi maka terjadilah. Kenyataannya dia sudah ditunjuk hari itu. Demi terlaksananya kegiatan wajib umat Islam ini, sekaligus bentuk penghormatan kepada DKM yang telah berikhtiar sekuat tenaga hingga memutuskan, menunjuk dan menganggap mampu untuk calon khotib ini, maka calon khotib ini tidak menolak pengumuman itu. Dia pun berikhtiar, sekuat tenaga dan tentu berdoa semoga Alloh juga ridlo.
Ketika jam nya tiba, barangkali yang paling tegang di hari Jum’at itu adalah ketua DKM ini, karena dialah yang paling bertanggung jawab atas kelancaran pelaksanaan ibadah sholat Jum’at hari itu. Semua jamaah tahunya beres aja. Mereka tidak tahu betapa sulitnya DKM menyiapkan agenda sholat Jum’at dalam konteks perangkatnya. Kalau kegiatan sholat Jum’at minggu-minggu sebelumnya DKM cukup tenang, itu karena perangkat yang telah disiapkan yaitu khotib dan muazin nya memang sudah terbukti mumpuni untuk mengisi posisi itu. Tetapi hari Jum’at ini agak berbeda. DKM menunjuknya tanpa konfirmasi kesanggupan dari yang ditunjuk. Kalau hari itu DKM mungkin terlihat agak tegang dan gelisah saat khotib mulai duduk dikursi, mohon itu dipahami sebagai bentuk pertanggung jawaban dia, demi keberlangsungan dan kelancarannya.
Waktu berjalan, hari sudah semakin siang, jam menunjukkan waktu untuk melaksanakan kewajiban sholat dzuhur sudah memasuki kota Sacheon. Kegelisahan pertama adalah ketika muazzin mulai berdiri dan menyerukan kumandang adzan tanda dimulainya ibadah Jum’at. Sambil sedikit menahan nafas, DKM melirik muazzin yang sedang berdiri.
Ibadah sholat Ju'mat selalu diawali dengan kumandang seruan adzan oleh muazzin. Sebenarnya tidak sulit menghafalkan kalimat adzan ini, tetapi dalam kondisi tertentu apalagi bila tidak fokus maka kemampuan dan ingatan seseorang bisa berubah 180 derajat saat pengumandangan berlangsung. Demam panggung kata banyak orang.
“Allohu Akbar Allohu Akbar”
Dua kali seruan awal adzan berhasil berkumandang di ruang terbatas gedung KAI lt 4 dengan lancar.
“Asyhadu an laa illaaha illallaah.”
“Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.”
Menginjak kalimat seruan kedua, alhamdulillah tidak salah, demikian juga kalimat seruan yang ke tiga, alhamdulillah lancar. Masing-masing kalimat itu berhasil diseru ulangkan dua kali. Tetapi problemnya bukan di situ. Menginjak pada kalimat seruan yang ke 4 ini jantung DKM mulai relatif berdegub lebih cepat. DKM yang telah berpengalaman dengan berbagai macam kalangan, tidak ingin kesalahan serupa terjadi lagi di wilayah yang menjadi tanggung jawabnya saat ini kala penyeruan kalimat adzan yang ke 4 ini, karena bagaimanapun dialah yang telah menunjuk muazzin kelahiran Surabaya ini.
Dalam keadaan tidak fokus (misal sambil mikir, sudah mau jadi muazin gini apa akan berpengaruh terhadap skenario rotasi ya J ) dan ditambah demam panggung, maka kalimat adzan ke 4 bisa kebalik balik dengan kalimat yang ke 5. Oleh karena itu untuk antisipasi, DKM mesti menyempatkan mengangkat wajah sedikit sambil mencoba menatap wajah muazzin dari samping, sekedar berjaga-jaga, menyiapkan diri menyambut pertanyaan kalau-kalau, sekali lagi kalau-kalau muazzin harus bertanya karena terjadi mis orientasi, kehilangan fokus atau apapun alasannya sehingga ketika akan masuk ke kalimat adzan yang ke 4, informasi dari otak ke lidah macet cet. Ketika macet, pengalaman DKM biasanya muazzin akan bertanya,
“Yang ini Hayya ......., Hayya ..... Hayya ‘alas-shalaah atau hayya ‘alal-falaah ?”.
Semakin lama jeda antar kalimat ini, semakin keras degub jantung DKM karena muazzin tidak segera mengumandangkan kalimat ke 4 ini. Sampai disini, DKM memikirkan kemungkinan-kemungkinan apa yang akan ia lakukan jika hal itu terjadi, demi adzan yang dikumandangkan tetap sesuai tatanan Figh atau hukum Islam.
Dan beruntung, berkat doa DKM, ketakutannya tidak terjadi. Lafal adzan ke 4 ke 5 hingga akhir dapat diselesaikan muazzin dengan lancar dan tartil. Muazzin tidak sampai harus bertanya,
“Ini hayya ‘alas shallah atau hayya ‘alal-fallah”. DKM lega.

Alhamdulillah, satu step terlewati dengan lancar. Paling tidak, degub jantung DKM dapat kembali normal.
Hanya saja urusannya belum selesai.
“Khotibnya gimana nich ?”, bisiknya dalam hati.

Sacheon, 13 November 2016

Minggu, 06 November 2016

Ikan Buntal

Ikan Buntal
Mati Ketawa Gaya Korea (9)

Sebuah kebijakan dibuat oleh managemen tujuan utamanya adalah untuk tercapainya target yang ingin dicapai. Termasuk di dalam kebijakan itu adalah komponen SDM pendukung yang menjadi komponen penting mencapai target yang diinginkan. Untuk SDM sebagai komponen dasar maka gaji diamankan, uang saku dicukupkan, apartemen dinyamankan, transport disediakan dan karena akan lama bertugas maka keluarga dipertimbangkan untuk dihadirkan. Sungguh kebijakan yang menjadi impian engineer-engineer PTDI dalam bertugas.

Oya, bagaimana dengan makan,
“Jangan khawatir, untuk kalian akan disediakan makan 3 kali sehari yaitu makan pagi, makan siang dan makan malam”, begitu Kadiv Managemen Program meyakinkan para engineer yang akan berangkat waktu itu.

“Kalian akan makan dengan kualitas yang sama dengan engineer KAI mulai Senin hingga Jumat”. Penjelasan yang disambut senyuman seluruh engineer sambil berbisik-bisik,
“lha, terus uang sakunya bisa utuh donk ?”. Bisikan yang tidak perlu jawaban karena masing-masing engineer sudah larut angan-angan atas penjelasan pak Kadiv.

“Ya, tentu makanan menu Korea?”, begitu penegasan pak Kadiv.
Mendengar bahwa 3 kali sehari disediakan makan dinas oleh KAI, tentu yang terbayang adalah kimci. Sebagian besar hanya penasaran, “seperti apa sich rasanya kimci?”, atau “Bahannya apa?”.

Sebagai engineer tangguh, mereka sudah siap melaksanakan tugas dengan resiko apapun. Bahwa nanti akan harus makan menu asing yang belum pernah dilihat sekalipun pokoknya tugas siap dilaksanakan.
“Sehari 3 kali, makan menu Korea terus?, ya noproblem. Siap laksanakan”. Jawaban tegas tanda kesiapan yang mantab.
Hanya beberapa orang yang kebetulan juga punya kemampuan masak sendiri, meskipun sekedar masak mie instant, menu sambel pecel, abon atau rendang, sedikit berlagak,
“wah, kreatifitasku memasak menjadi nggak berguna donk, kecuali hanya untuk Sabtu dan Minggu”. Namun demikian ternyata bagi yang tidak pandai atau tidak hobie memasak juga memiliki keluhan lain meskipun sudah disediakan makan 3 kali sehari dan uang saku yang cukup.

“Dulu waktu di Daejeon, semua engineernya laki-laki dan sering ada undangan makan, tapi sekarang, ada banyak ibu-ibu nya tapi nggak pernah sekalipun ada yang ngundang makan.... heeeeuuuuhhh “, begitu keluhnya.
Meskipun uang saku disediakan cukup, makan disiapkan cukup, bahwa ada yang di hari libur masih memancing ikan di sungai atau pantai Sacheon atau Samcheonpo, itu jangan dilihat sebagai upaya penghematan. Lebih tepatnya itu sekedar hobie untuk membunuh waktu. Bahwa dapat ikan yang dapat dimasak, itu alhamdulillah.

Memancing memang hobie yang menarik dan memerlukan ketrampilan khusus dan kesabaran luar biasa. Duduk berlama-lama sambil menunggu ikan-ikan untuk memakan cacing atau umpan yang di dalamnya diselipkan mata kail membutuhkan keahlian khusus dan kesabaran ekstra. Meskipun udara musim gugur yang dingin, duduk berlama-lama di bibir pantai dilakukan demi sebuah hobie, sambil mengamati keindahan pantai Samcheonpo dan berharap agar ikan-ikan itu tidak terlalu pintar sehingga segara melahap umpan yang dipasang. Dan benar, para ahli mancing maniak itu memang jauh lebih pintar dari ikan-ikan itu. Ikan-ikan itu ketipu. Mereka mengira bahwa umpan itu adalah makanan yang diciptakan Tuhan untuk mereka yang memang hanya bisa makan dari sesuatu yang tergenang air itu. Dia tidak punya pilihan lain, dia tidak dapat memilih menu, dia hanya makan apa yang dia temukan. Bahwa ketika dia menemukan makanan kemudian di dalam ada mata kailnya, sungguh dia tidak pernah diberi tahu tentang itu, dia tidak mungkin berfikir untuk itu. Jadi pemancing maniak itu benar, dengan modal kesabaran pasti akan dapat ikan.
Tengah hari, beberapa hobies pemancing maniak sudah unjuk kebolehan dalam keahliannya memancing ikan, di luar negeri lagi. 1 ikan di dapat. Kebahagiaannya atas umpannya yang disantap ikan dia tunjukkan ke sahabat-sahabat nya melalui media sosial WhatsAap. Tiba-tiba saja muncul notifikasi WA tanda ada sesuatu yang masuk via WA,

“ting tung”, munculah foto engineer muda dengan hasil tangkapan ikan yang difoto nampak seakan besar dan panjang yang setara dengan besar dan panjang lengannya si pemancing. Tak berselang lama setelah itu, muncul lagi notifikasi yang mengindikasikan bahwa dia seperti berlomba dengan rekannya sesama pemancing.
“Kalah eui 3-0”.
Bagi yang tidak hobi memancing, dipamerin keberhasilan seperti ini hanya bisa meledek,
“Ikan teri juga bisa gede lho kalo kameranya bagus”, atau
“Panjangnya berapa mm?”, pertanyaan menggelikan pertanda bahwa mereka meragukan ikan yang diperoleh sebesar seperti foto yang ditunjukkan.
“Sepertinya 100 mm”, ledekan lain yang menduga bahwa ikan yg diperoleh cuma kecil.
Seiring dengan itu, foto-foto lain bermunculan untuk perolehan ikan-ikan berikutnya.
“Skor 4-0”
“Sudah ahli sich, jadi 5-0 deh”
“Skor 5-1”
Ledekan bertubi-tubi pun bermuculan silih berganti,
“Tangannya tukang mancing pada kuat-kuat, eeeee”, atau
“Bawa ikan segede itu kayak ringan sekali ya..... :) “, atau
“Mata pancingnya kok guuedeee banget yaaaa ?”, ledekan yang intinya menandakan bahwa besarnya ikan hanya karena efek kamera, ukuran yang di foto tidak menggambarkan ukuran sebenarnya.

Si pemancing tidak mau bertubi-tubi jadi bahan ledekan, dan akhirnya membela diri,
“Buat nangkap ikan gede pancingnya juga harus gede paaakkk...”

Tiba-tiba saja ketika mereka selesai, skor memancing sudah lompat menjadi
“Skor akhir 16-5”, tanda bahwa perolehan mereka hari ini cukup banyak.

Melihat sahabatnya kalah, bukan dibantu dibelain malah diledek skalian,
“Ojo wani kalah...”
“Gampang, .. beli di passar Sacheon”
“Se keranjang... dijamin menang”

Ledekan yang sebenarnya menandakan bahwa dia nggak paham filosofi memancing. Kebahagiaan ahli mancing bukan terletak pada ikannya yang dibawa pulang, tetapi kepuasannya terletak pada kebahagiaannya saat umpannya dimakan oleh ikan, saat matakailnya ditarik kuat oleh ikan, saat ikan-ikan itu tertipu oleh rekayasa yang dia ciptakan. Itulah filosofi pemancing. Jadi kalau ikan hanya dapat dari beli di pasar, apa hebatnya. Tidak ada sama sekali pikiran itu bagi ahli memancing sejati.
Ledek meledek tidak berhenti disitu.
“Percuma,... Mancing dapat banyak  tapi gak dimasak”
“Percuma, sudah dimasak banyak tapi tidak dibagi, haram kalau tetangganya cuma dapat bau asapnya saja #fatwa kyai Jajag”.

Selang beberapa saat, muncul video yang menunjukkan penampakan ikan buntal yang sedang menggembungkan perutnya, disertai pesan,
“buntal lagi buntal lagi..”, pertanda bahwa dari sekian banyak ikan yang ditangkap hari ini, kebanyakan dari mereka adalah ikan buntal atau orang Jepang menyebut ikan fugu.

Ikan buntal yang dalam bahasa Jepang disebut ikan fugu yang artinya babi sungai adalah jenis ikan khas Jepang yang dikenal sangat beracun dan mematikan. Ikan fugu merupakan jenis hewan vertebrata paling mematikan di dunia setelah golden poison frog (kodok emas beracun). Karena racunnya yang sangat berbahaya, ikan fugu ini hanya boleh diolah oleh koki profesional yang telah memiliki sertifikat dari Departemen Kesehatan Jepang serta telah mengikuti pelatihan khusus kaitannya dengan pengolahan ikan fugu.
Bagian ikan fugu yang paling beracun adalah hati, telur serta saluran pencernaanya. Tapi bahkan bagian daging pun bisa beracun jika dalam pengolahannya tidak benar dan terkontaminasi oleh bagian organ dalam. Daging fugu yang terkontaminasi akan berakibat kematian bagi yang mengkonsumsinya. Zat racun yang terkandung dalam ikan fugu ini bernama Tetrodotoksin. Dosis tetrodotoksin sebanyak 2 mg sudah mampu untuk membunuh manusia. Tetrodotoksin pada ikan fugu akan bereaksi dalam tubuh sekitar kurang dari setengah jam. Oleh karenanya, di restoran Jepang, untuk menjamin keamanan sajian yang dihidangkan, koki yang mengolah ikan fugu akan mencicipinya masakannya terlebih dahulu setengah jam sebelum disajikan pada konsumen.

Sayangnya, racun pada ikan fugu belum ada penangkalnya (antidote) dan lagi daging ikan fugu yang tercemar racun tidak akan hilang meskipun sudah dimasak.

Melihat begitu bahayanya mengkonsumsi ikan buntal mestinya tidak semudah itu bagi engineer PTDI untuk memakannya. Sepertinya si pemancing sudah tahu bahwa ikan buntal ini berbahaya, karena dia menantang keberanian rekan lainya sekedar untuk dijadikan test case,

“Bapak serius mau makan?. Kebetulan ini kita butuh voluntier nich. Kalau setelah bapak makan dan beberapa hari gak apa-apa, baru berikutnya kita yang makan”
Tidak hanya ikan buntal yang didapat hari ini ternyata, ada ikan purba juga, meskipun ternyata para engineer lebih suka mengkonsumsi, ikan tempe, dan ikan tahu.

Diujung akhir tentang postingan mancing memancing mucul foto, ikan yang sudah digoreng, tidak dijelaskan ikan apa itu, disertai pesan di bawahnya ,
“Sudah testimoni dari bapak-bapak tetangga sebelah. Enak katanya !!!”

Tetapi si pemberi ikan masih memberi catatan tambahan,
“Tinggal nunggu reaksinya, lihat besok masih ngantor atau nggak J

Waaahh, ikan buntal telah mendapat calon korban.

Mestinya sebelum memberikan ikan itu, kepada bapak-bapak voluntir itu diberikan kertas untuk menuliskan surat wasiat dulu, karena makan ikan itu memang berbahaya.
Semoga saja yang digoreng dan dimakan itu bukan ikan buntal atau ikan fugu. Atau, semoga saja mereka tidak tahu bahwa itu sebenarnya bukan ikan buntal alias  hanya ikan yang mirip ikan buntal.
Dan semoga, besok pagi masih bisa berjabat tangan dengan bapak-bapak voluntir pemakan “ikan buntal” , karena tandanya mereka telah selamat.

아침 식사를가요

Sacheon, 6 Oktober 2016

Kamis, 03 November 2016

Simulasi ke Gimhae International Airport, Busan.

Simulasi ke Gimhae International Airport, Busan.

Simulasi ini dilakukan semata untuk menyambut atau menjemput keluarga yang mungkin akan berkunjung ke Korea via Gimhae International Airport. Penerbangan Air Asia dari Indonesia atau Kuala lumpur kebetulan jadwal kedatangan umumnya sekita jam 8.30 WK kecuali ada satu hari dalam seminggu jadwal kedatangan jam 6.10. Katakanlah pesawat landing jam 8.30, dengan asumsi proses keimigrasian dan bagasi sekitar 1 jam maka keluarga akan sudah keluar dari gerbang kedatangan sekitar jam 9.30. Agar keluarga tidak terlalu lama menunggu, maka penjemputan harus disesuaikan. Bagi kita yang tinggal di Sacheon, ada beberapa pilihan :

1.       Carter Taxi. Belum di coba, tetapi ada info bahwa pemilik Warung Indonesia (Mbak Ana) di Samcheonpo memiliki pelanggan sopir taxi yang lumayan dapat berkomuniksi  dengan bahasa Indonesia. Ini nomor kontak Bu ana : +821044421295. Berapa ongkosnya, silakan kontak sendiri.

2.       Menginap semalam di Busan agar esok harinya pagi-pagi sekali sudah standby di Gimhae Airport. Di sekitar terminal Sasang atau di sekitar rumah makan “Rindu Kampung” banyak penginapan yang dapat dipakai. Melalui AGODA internet dapat dilihat banyak hotel dengan tarip dibawah 50.000 KRW per orang permalam di sekitar Sasang, atau kalau jeli mungkin dapat diperoleh hotel atau guesthouse dengan tarip di bawah 25.000 KRW per orang per malam.

3.       Pilihan ketiga naik bus dari Sacheon pakai trip pertama dari terminal Sacheon.

Nah option ketiga inilah yang akan kami share dengan teman-teman yang kebetulan tinggal di Sacheon.

Berangkat dari apartement Myeong Poom A habis subuh, jam 5.30 WK. Udara sangat dingin tentu, tapi niat yang kuat untuk menjemput keluarga mengalahkan suhu dingin yang menusuk tulang. Perjalanan pertama menuju ke terminal Sacheon. Jam segitu tentu belum ada Bus kota yang lewat. Kalau nggak mau capek cukup panggil taxi pakai program aplikasi android. Tapi, kalau gaptek memakai jasa teknologi android, pilihannya adalah jalan kaki sebelum mobil dinas disediakan.

Berangkat jam 5.30 pagi, masih gelap, 9 orang berangkat dari apartemen Myeong Poom A menuju terminal Sacheon. Dengan langkah cepat, seperti lomba jalan cepat, perjalanan dapat ditempuh dalam waktu sekitar 35-40 menit. Dengan demikian sampai di terminal Sacheon masih sempat naik bus trip pertama ke Busan yaitu Jam 6.25 WK. Kalau jadwal jam 6.25 tidak terkejar maka dapat menunggu jadwal berikutnya yaitu jam 7.10 WK.

Beli tiket langsung di loket terminal, dan siapkan uang 8000 KRW untuk menebus tiketnya.

Karena capek, tidak dapat cerita perjalanan dari Sacheon ke Busan, tau-tau bus sudah siap-siap masuk terminal Sasang, Busan. Karena tidak macet, Sacheon Sasang ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam 20 menit. Jalan sebentar untuk orientasi lingkungan terminal, kemudian keluar terminal menuju perempatan jalan, diseberang jalan sudah akan kelihatan stasiun atau halte LRT (Light Rail Transit), demikian pula rail way nya yang berada di atas. Dari terminal Sasang, untuk mencapai halte LRT Sasang dengan jalan kaki butuh waktu tidak lebih dari 5 menit. Cukup dekat kok.

Karena hari itu ada festival maka sebelum naik ke halte LRT disempatkan dulu mejeng, sekedar menghargai panitia yang sudah bersusah payah menyiapkan aneka bunga berbagai bentuk yang bagus itu.

 


Festival di sebelah terminal Sasang

 


Festival di sebelah terminal Sasang, di belakang terlihat Halte LRT

 
Festival di sebelah terminal Sasang, di belakang terlihat Halte LRT
 
 
Perempatan Terminal Sasang dan di belakang terlihat Halte LRT Sasang

Untuk naik ke lantai atas halte LRT cukup menyiapkan T-Money (1200 KRW), atau uang Cash 1200 KRW. Tidak perlu takut salah naik karena begitu masuk halte sudah akan disambut petunjuk arah menuju Gimhae airport

 


Mejeng dulu di Halte LRT Sasang

Gerbong LRT setara dengan 3 bus kota yang dijejer kebelakang dengan kursi yang menempel di jedela, sementara bagian tengah kosong disiapkan untuk penumpang berdiri. Rel LRT disediakan ganda sehingga dapat melayani  arah bolak balik. LRT dioperasikan secara otomatis, kaarena selama perjalanan tidak terlihat masinis atau sopir yang mengendalikan. Cuma ada satu orang perempuan yang bertugas seperti mengontrol atau mambantu penumpang yang memerlukan bantuan.

 

Orang Korea paham bahwa kursi itu memang disiapkan untuk para senior citizen. Maka kalau dua orang ini duduk di situ maka tidak akan diprotes.

Frequensi LRT lewat Sasang menuju Gimhae airport lumayan sering (setiap 6 menit) sehingga tidak perlu khawatir. Naik LRT menuju arah Gwaebeop Renecite setelah melewati 2 halte dalam waktu kurang dari 10 menit sudah akan sampai di airport.


Light Rail Transit Map jurusan Gimhae airport.

Keluar halte LRT Gimhae airport sudah akan langsung terlihat pesawat berjejer. Jalan sedikit menyusuri trotoar akan ketemu gerbang airport baik untuk kedatangan maupun keberangkatan.

Airport Sasang tidak sebesar Soekarno Hatta, Changi ataupun Incheon sehingga begitu masuk gerbang Gimhae International Airport tidak sulit mencari pintu kedatangan maupun keberangakatan. Juga untuk orang Indonesia yang barangkali mencari Checkin counter Airasia juga tidak sulit. Hanya saja bandara ini lumayan padat oleh calon penumpang. Di sekeliling pintu kedatangan atau keberangkatan juga ada beberapa toko sekelas GS25 ataupun toko makanan, sehingga barangkali saja kita agak terlambat menjemput maka sambil menunggu saudara kita yang akan dijemput dapat saja membeli makanan yang dijual disitu.

Apabila terpaksanya kita tidak dapat menjemput dengan alasan apapun, maka dengan panduan sederhana juga tidak terlalu sulit untuk perjalanan dari Gimhae menuju terminal Sasang. Keluar bandara sudah ada petunjuk untuk menuju Sasang atau kota lain. Untuk menuju Sasang terminal bus, paling tidak ada 3 cara yaitu :

Naik LRT, rasanya ini yang paling mudah. Cukup mengikuti petunjuk arah menuju halte LRT dengan jalan kaki, bayar tiket masuk halte LRT dengan T-Money atao uang cash 1200 KRW.

 

Keluar bandara Gimhae, petunjuk arah naik LRT atau Bus.

Mangkuti petunjuk tersebut untuk menuju halte LRT maka akan ditemui gerbang LRT Gimhae airport seperti ini.

Option kedua menggunakan Bus dan option ketiga menggunakan taxi.

 


Pintu masuk Halte LRT Gimhae

 

 Pintu masuk LRT Gimhae.

Menuju Sasang Bus terminal dengan LRT, maka LRT akan bergerak ke arah halte Seobusan Yutogjigu.

Seperti halnya saat berangkat menuju bandara, maka perjalanan balik ini juga memerlukan waktu kurang dari 10 menit. Setelah sampai Sasang, kalau langsung mau ke Sacheon Sacheon dapat segera langsung masuk terminal. Ada petunjuk dalam bahasa Korea loket untuk tujuan Sacheon. Kalau kesulitan, disitu ada bagian informasi yang dapat berbahas Inggris. Namun kalau langsung mau jalan-jalan ke pusat kota Busan misalnya maka lewat terminal atau dapat juga langsung lewat jalan penyeberangan bawah tanah yang ada di perempatan Sasang ada petunjuk arah menuju kereta bawah tanah Line 2.



Map subway Busan Line 1, 2 dan 3.

Dari Sasang untuk menuju Line 2 dapat bertanya kepada petugas yang ada atau kadang kala ada volunter (anak sekolah semacam kegiatan pramuka kali) yang dapat membantu menunjukkan. Untuk menuju pusat kota, Busan Station, maka harus berganti dari Line 2 ke Line 1. Dari Sasang, dengan Line 2 melewati 7 stasion dan turun di stasiun Seomyeon. Dari Seomyeon berpindah kereta Line 1. Dari Line 2 untuk berganti ke Line 1, maka harus berjalan melewati beberapa puluh buah anak tangga. Berpindah Line ini tidak ada biaya tambahan apalagi bila menggunakan T-Money. Pastikan naik Line 1 yang menuju arah Beonaegol karena kereta yang bergerak ke arah itulah yang menuju ke Busan Stasion. Untuk sampai di Busan Stasiun dari Seomyeon harus meliwati 5 stasiun. Sesampai di Busan Stasiun maka begitu keluar akan langsung berada di tempat terbuka semacam alun-alun.

Dari alun-alun Busan barangkali akan berwisata menyusuri Busan menggunakan City Tour Bus maka di samping alun-alun inilah Bus City tour menunggu penumpang.

Selamat menyusuri Busan.

 


Airmancur tanpa kolam

 


Mejeng dulu di depan Busan Yog (Stasiun Busan), stasiun untuk KTX

 


Busan City Tour Bus

 
 

Busan City Tour Bus