Minggu, 06 November 2016

Ikan Buntal

Ikan Buntal
Mati Ketawa Gaya Korea (9)

Sebuah kebijakan dibuat oleh managemen tujuan utamanya adalah untuk tercapainya target yang ingin dicapai. Termasuk di dalam kebijakan itu adalah komponen SDM pendukung yang menjadi komponen penting mencapai target yang diinginkan. Untuk SDM sebagai komponen dasar maka gaji diamankan, uang saku dicukupkan, apartemen dinyamankan, transport disediakan dan karena akan lama bertugas maka keluarga dipertimbangkan untuk dihadirkan. Sungguh kebijakan yang menjadi impian engineer-engineer PTDI dalam bertugas.

Oya, bagaimana dengan makan,
“Jangan khawatir, untuk kalian akan disediakan makan 3 kali sehari yaitu makan pagi, makan siang dan makan malam”, begitu Kadiv Managemen Program meyakinkan para engineer yang akan berangkat waktu itu.

“Kalian akan makan dengan kualitas yang sama dengan engineer KAI mulai Senin hingga Jumat”. Penjelasan yang disambut senyuman seluruh engineer sambil berbisik-bisik,
“lha, terus uang sakunya bisa utuh donk ?”. Bisikan yang tidak perlu jawaban karena masing-masing engineer sudah larut angan-angan atas penjelasan pak Kadiv.

“Ya, tentu makanan menu Korea?”, begitu penegasan pak Kadiv.
Mendengar bahwa 3 kali sehari disediakan makan dinas oleh KAI, tentu yang terbayang adalah kimci. Sebagian besar hanya penasaran, “seperti apa sich rasanya kimci?”, atau “Bahannya apa?”.

Sebagai engineer tangguh, mereka sudah siap melaksanakan tugas dengan resiko apapun. Bahwa nanti akan harus makan menu asing yang belum pernah dilihat sekalipun pokoknya tugas siap dilaksanakan.
“Sehari 3 kali, makan menu Korea terus?, ya noproblem. Siap laksanakan”. Jawaban tegas tanda kesiapan yang mantab.
Hanya beberapa orang yang kebetulan juga punya kemampuan masak sendiri, meskipun sekedar masak mie instant, menu sambel pecel, abon atau rendang, sedikit berlagak,
“wah, kreatifitasku memasak menjadi nggak berguna donk, kecuali hanya untuk Sabtu dan Minggu”. Namun demikian ternyata bagi yang tidak pandai atau tidak hobie memasak juga memiliki keluhan lain meskipun sudah disediakan makan 3 kali sehari dan uang saku yang cukup.

“Dulu waktu di Daejeon, semua engineernya laki-laki dan sering ada undangan makan, tapi sekarang, ada banyak ibu-ibu nya tapi nggak pernah sekalipun ada yang ngundang makan.... heeeeuuuuhhh “, begitu keluhnya.
Meskipun uang saku disediakan cukup, makan disiapkan cukup, bahwa ada yang di hari libur masih memancing ikan di sungai atau pantai Sacheon atau Samcheonpo, itu jangan dilihat sebagai upaya penghematan. Lebih tepatnya itu sekedar hobie untuk membunuh waktu. Bahwa dapat ikan yang dapat dimasak, itu alhamdulillah.

Memancing memang hobie yang menarik dan memerlukan ketrampilan khusus dan kesabaran luar biasa. Duduk berlama-lama sambil menunggu ikan-ikan untuk memakan cacing atau umpan yang di dalamnya diselipkan mata kail membutuhkan keahlian khusus dan kesabaran ekstra. Meskipun udara musim gugur yang dingin, duduk berlama-lama di bibir pantai dilakukan demi sebuah hobie, sambil mengamati keindahan pantai Samcheonpo dan berharap agar ikan-ikan itu tidak terlalu pintar sehingga segara melahap umpan yang dipasang. Dan benar, para ahli mancing maniak itu memang jauh lebih pintar dari ikan-ikan itu. Ikan-ikan itu ketipu. Mereka mengira bahwa umpan itu adalah makanan yang diciptakan Tuhan untuk mereka yang memang hanya bisa makan dari sesuatu yang tergenang air itu. Dia tidak punya pilihan lain, dia tidak dapat memilih menu, dia hanya makan apa yang dia temukan. Bahwa ketika dia menemukan makanan kemudian di dalam ada mata kailnya, sungguh dia tidak pernah diberi tahu tentang itu, dia tidak mungkin berfikir untuk itu. Jadi pemancing maniak itu benar, dengan modal kesabaran pasti akan dapat ikan.
Tengah hari, beberapa hobies pemancing maniak sudah unjuk kebolehan dalam keahliannya memancing ikan, di luar negeri lagi. 1 ikan di dapat. Kebahagiaannya atas umpannya yang disantap ikan dia tunjukkan ke sahabat-sahabat nya melalui media sosial WhatsAap. Tiba-tiba saja muncul notifikasi WA tanda ada sesuatu yang masuk via WA,

“ting tung”, munculah foto engineer muda dengan hasil tangkapan ikan yang difoto nampak seakan besar dan panjang yang setara dengan besar dan panjang lengannya si pemancing. Tak berselang lama setelah itu, muncul lagi notifikasi yang mengindikasikan bahwa dia seperti berlomba dengan rekannya sesama pemancing.
“Kalah eui 3-0”.
Bagi yang tidak hobi memancing, dipamerin keberhasilan seperti ini hanya bisa meledek,
“Ikan teri juga bisa gede lho kalo kameranya bagus”, atau
“Panjangnya berapa mm?”, pertanyaan menggelikan pertanda bahwa mereka meragukan ikan yang diperoleh sebesar seperti foto yang ditunjukkan.
“Sepertinya 100 mm”, ledekan lain yang menduga bahwa ikan yg diperoleh cuma kecil.
Seiring dengan itu, foto-foto lain bermunculan untuk perolehan ikan-ikan berikutnya.
“Skor 4-0”
“Sudah ahli sich, jadi 5-0 deh”
“Skor 5-1”
Ledekan bertubi-tubi pun bermuculan silih berganti,
“Tangannya tukang mancing pada kuat-kuat, eeeee”, atau
“Bawa ikan segede itu kayak ringan sekali ya..... :) “, atau
“Mata pancingnya kok guuedeee banget yaaaa ?”, ledekan yang intinya menandakan bahwa besarnya ikan hanya karena efek kamera, ukuran yang di foto tidak menggambarkan ukuran sebenarnya.

Si pemancing tidak mau bertubi-tubi jadi bahan ledekan, dan akhirnya membela diri,
“Buat nangkap ikan gede pancingnya juga harus gede paaakkk...”

Tiba-tiba saja ketika mereka selesai, skor memancing sudah lompat menjadi
“Skor akhir 16-5”, tanda bahwa perolehan mereka hari ini cukup banyak.

Melihat sahabatnya kalah, bukan dibantu dibelain malah diledek skalian,
“Ojo wani kalah...”
“Gampang, .. beli di passar Sacheon”
“Se keranjang... dijamin menang”

Ledekan yang sebenarnya menandakan bahwa dia nggak paham filosofi memancing. Kebahagiaan ahli mancing bukan terletak pada ikannya yang dibawa pulang, tetapi kepuasannya terletak pada kebahagiaannya saat umpannya dimakan oleh ikan, saat matakailnya ditarik kuat oleh ikan, saat ikan-ikan itu tertipu oleh rekayasa yang dia ciptakan. Itulah filosofi pemancing. Jadi kalau ikan hanya dapat dari beli di pasar, apa hebatnya. Tidak ada sama sekali pikiran itu bagi ahli memancing sejati.
Ledek meledek tidak berhenti disitu.
“Percuma,... Mancing dapat banyak  tapi gak dimasak”
“Percuma, sudah dimasak banyak tapi tidak dibagi, haram kalau tetangganya cuma dapat bau asapnya saja #fatwa kyai Jajag”.

Selang beberapa saat, muncul video yang menunjukkan penampakan ikan buntal yang sedang menggembungkan perutnya, disertai pesan,
“buntal lagi buntal lagi..”, pertanda bahwa dari sekian banyak ikan yang ditangkap hari ini, kebanyakan dari mereka adalah ikan buntal atau orang Jepang menyebut ikan fugu.

Ikan buntal yang dalam bahasa Jepang disebut ikan fugu yang artinya babi sungai adalah jenis ikan khas Jepang yang dikenal sangat beracun dan mematikan. Ikan fugu merupakan jenis hewan vertebrata paling mematikan di dunia setelah golden poison frog (kodok emas beracun). Karena racunnya yang sangat berbahaya, ikan fugu ini hanya boleh diolah oleh koki profesional yang telah memiliki sertifikat dari Departemen Kesehatan Jepang serta telah mengikuti pelatihan khusus kaitannya dengan pengolahan ikan fugu.
Bagian ikan fugu yang paling beracun adalah hati, telur serta saluran pencernaanya. Tapi bahkan bagian daging pun bisa beracun jika dalam pengolahannya tidak benar dan terkontaminasi oleh bagian organ dalam. Daging fugu yang terkontaminasi akan berakibat kematian bagi yang mengkonsumsinya. Zat racun yang terkandung dalam ikan fugu ini bernama Tetrodotoksin. Dosis tetrodotoksin sebanyak 2 mg sudah mampu untuk membunuh manusia. Tetrodotoksin pada ikan fugu akan bereaksi dalam tubuh sekitar kurang dari setengah jam. Oleh karenanya, di restoran Jepang, untuk menjamin keamanan sajian yang dihidangkan, koki yang mengolah ikan fugu akan mencicipinya masakannya terlebih dahulu setengah jam sebelum disajikan pada konsumen.

Sayangnya, racun pada ikan fugu belum ada penangkalnya (antidote) dan lagi daging ikan fugu yang tercemar racun tidak akan hilang meskipun sudah dimasak.

Melihat begitu bahayanya mengkonsumsi ikan buntal mestinya tidak semudah itu bagi engineer PTDI untuk memakannya. Sepertinya si pemancing sudah tahu bahwa ikan buntal ini berbahaya, karena dia menantang keberanian rekan lainya sekedar untuk dijadikan test case,

“Bapak serius mau makan?. Kebetulan ini kita butuh voluntier nich. Kalau setelah bapak makan dan beberapa hari gak apa-apa, baru berikutnya kita yang makan”
Tidak hanya ikan buntal yang didapat hari ini ternyata, ada ikan purba juga, meskipun ternyata para engineer lebih suka mengkonsumsi, ikan tempe, dan ikan tahu.

Diujung akhir tentang postingan mancing memancing mucul foto, ikan yang sudah digoreng, tidak dijelaskan ikan apa itu, disertai pesan di bawahnya ,
“Sudah testimoni dari bapak-bapak tetangga sebelah. Enak katanya !!!”

Tetapi si pemberi ikan masih memberi catatan tambahan,
“Tinggal nunggu reaksinya, lihat besok masih ngantor atau nggak J

Waaahh, ikan buntal telah mendapat calon korban.

Mestinya sebelum memberikan ikan itu, kepada bapak-bapak voluntir itu diberikan kertas untuk menuliskan surat wasiat dulu, karena makan ikan itu memang berbahaya.
Semoga saja yang digoreng dan dimakan itu bukan ikan buntal atau ikan fugu. Atau, semoga saja mereka tidak tahu bahwa itu sebenarnya bukan ikan buntal alias  hanya ikan yang mirip ikan buntal.
Dan semoga, besok pagi masih bisa berjabat tangan dengan bapak-bapak voluntir pemakan “ikan buntal” , karena tandanya mereka telah selamat.

아침 식사를가요

Sacheon, 6 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar