Jumat, 07 Oktober 2016

Except You and You, stay here… !!!


Except You and You, stay here… !!!
Mati Ketawa Gaya Korea 11

D

r.Sin sebagai Doktor bidang sistem engineering terbilang sangat sibuk. Disamping kesibukan sebagai karyawan ADD, tetapi sekaligus juga punya kegiatan rutin mengajar sistem Engineering di Universitas. Namun demikian Dr.Sin masih peduli untuk mengorbankan waktunya dengan mengajar bahasa Korea untuk engineer Indonesia sekali dalam seminggu selama 3 jam sepulang kerja. Membayangkan mengajar murid untuk bisa baca dan bicara tak ubahnya seperti mengajar murid SD atau TK. Yang menjadikan istimewa adalah gurunya seorang doktor dan muridnya adalah doktor, engineer, dan perwira. Tentu sebagian besar sudah tidak muda. Barangkali mengajar bahasa anak SD atau TK lebih mudah karena lidahnya masih belum terkontaminasi oleh kata-kata asing kecuali kata kata yang memang akan diajarkannya.

Namun murid Dr.Sin kali ini adalah murid istimewa. Murid yang lidahnya sudah terikat oleh dialek bahasa ibunya. Murid yang lidahnya sudah kaku karena bahasa sehari harinya. Murid yang memorinya sudah penuh dengan angan dan harapan seumur hidupnya. Murid yang pendengarannya sudah sulit untuk bedakan warna suara. Atas semua itu, bukannya Dr.Sin tidak tahu. Beliau sangat paham situasinya. Barangkali memang hal ini beliau jadikan tatangan yang akan ditaklukkannya. Mengajar bahasa korea bagi orang-orang yang sudah tidak muda.

Mempelajari sesuatu yang baru selalu menarik, apalagi ini mempelajari bahasa yang menjadi akar budaya sebuah bangsa. Apalagi cara Doktor Sin mengajar  sangat menarik dan komunikatif. Bahkan tak jarang sangat meriah karena ada saja hal hal yang memantik urat saraf untuk tertawa. Seperti misalnya, dalam bahasa korea membedakan bunyi "E" yang ada pada kata "EKOR" dengan "E" yang ada pada kata "BEBEK" saja begitu sulitnya. Namun, sebut saja misal Mas S, dia punya cara cerdas untuk membedakan bunyi kedua huruf E tersebut dengan menghubungkan kata "NENEN" untuk bunyi E yang seperti BEBEK. Dr.Sin yang awalnya nggak tahu apa “NENEN” itu mau nggak mau juga ikut ketawa setelah tahu artinya. Dan untuk mas S alias "Mr.Nenen" selalu memerlukan waktu untuk berhenti tertawa setiap kali ditunjuk oleh Dr.Sin. Kata “Nenen” nampaknya sudah terpaku di memorinya.

Maka dari itu tidak aneh kalau di hari hari awal pelajaran, seluruh murid hadir dengan antusias, meskipun mungkin dengan motivasi yang berbeda beda. Ada yang sekedar sungkan dengan Dr.Sin atau Pak CE. Ada yang hanya buang waktu saja dari pada kesepian di rumah. Ada yang ingin menghibur diri dengan mengetawai kekonyolan-kekonyolan di kelas. Atau ada yang memang ingin belajar, sungguh sungguh karena ada misi "khusus".

Dengan berjalannya waktu seleksi alam dalam kelas ini terjadi. Ada yang patah arang nggak mau datang lagi karena merasa tidak perlu dan malu setiap kali diketawain. Ada yang merasa nggak menarik belajar bahasa yang hanya dipakai oleh bangsa itu sendiri. Ada yang merasa capek kalau pulang kerja masih harus duduk selama 3 jam, meskipun setelah didiskon menjadi 2 jam tetep saja absen. Ada yang teguh pada keyakinan, merasa ditugaskan di Korea bukan untuk belajar bahasa tapi merancang pesawat terbang. Ada pula yang berdalih masuk angin, atau batuk yang selalu kumat setiap jadwal bahasa korea tiba, apapun harinya.

Dr.Sin memiliki dedikasi yang tinggi dalam mengajar, maka jangan kaget bila beliau selalu mengingatkan murid-muridnya untuk tidak melewatkan kelasnya. Selagi Dr.Sin ada, jangan harap kelas libur. Bagi yang sudah patah semangat atau kehilangan motivasi maka ketidak sanggupan menolak akan berbuah upaya berlari atau sembunyi. Oleh karena itu bagi beberapa orang perlu merancang cara menghindar yang baik, meskipun adakalanya gagal juga karena kepergok Dr.Sin, "you will come, or we stop our friendship", ancam Dr.Sin.

Ada pula yang merasa perlu pulang lebih cepat, dari pada ntar ktemu Dr.Sin. Jadinya sosok Dr.Sin malah menjadi seperti Dewa pencabut nyawa. Mesti sembunyi, lari atau dihindari. Ada sesosok banyangan, karena nggak jelas wajahnya yang tersembunyi dibalik topi jaket. Dengan setengah berlari sambil menyelinap dan agak sembunyi, hingga teriakan temanpun "Hooiii... mau kemanaaa...?" tak digubris lagi. Begitulah saking takutnya ketemu Dr.Sin.

Kelas tetep berjalan dengan murid "tertangguh" yang tersisa. Tangguh karena tahan malu dan tetep mau belajar meskipun kemajuan yang diperoleh sangat minimal. Untuk mengefektifkan proses belajar Dr.Sin merasa perlu untuk membagi kelas sesuai kemajuan dan capaian murid muridnya, yang kira kira artinya seperti "kenaikan kelas". Suatu rencana yang tidak disukai oleh murid karena dua hal, kelas baru, guru baru yang mungkin akan sangat serius, disamping juga kelas tsb akan tidak berada di CRDC lagi, sesuatu yang dirasa merepotkan. Dr.Sin teguh pada pendiriannya. Kelas harus dibagi.

Beberapa orang mulai disebut namanya dan dikelompokkan ke kelas baru. Kelompok pertama adalah kelas Advance. Dari namanya jelas kelompok ini terdiri dari murid-murid yang paling cakap berbahasa korea, meskipun masih kategori sangat sederhana. Selagi pembagian kelas dimulai “pembangkangan kecil” mulai terjadi, alias menolak dimasukkan di kelas baru. "I want to be here with you, because I love you", itu argumen yang digunakan untuk menolak dipindah dikelas lain. Beberapa orang berhasil, namun beberpa yang lain ditolak dengan jawaban, "I don't like you, so next week you have to go to new class". Kita tahu jawaban Dr.Sin ini hanya joke sekedar untuk mendorong agar kemajuan muridnya tidak terpaku oleh dirinya saja. Kelas ini dikenal sebagai kelas "Buangan".

Setelah sebagian sudah "dinaik kelaskan" maka yang tersisa menjadi jauh lebih sedikit dan tetep diajar langsung oleh Dr.Sin. Hal yang menarik ternyata setelah dicacah jiwa, murid yang tersisa adalah murid yang mayoritas "senior", bahkan para leader. Bagaimana mungkin para leader tidak naik kelas. Atau hanya segitukah kemampuan "intelektual" para leader proyek nasional ini? Ledekan yang muncul bagi murid-murid "kesayangan" Dr.Sin ini.

Meskipun para leader itu adalah murid "kesayangan" Dr.Sin namun beliau tetep tanpa pandang bulu dan bersikap adil dalam mengajar. Siapa yang pantas di apresiasi maka akan beliau puji "Excelent", demikian pula sebaliknya. Hampir seluruh murid sudah memiliki kecakapan yang cukup dalam melafalkan huruf Hanggul ini, kecuali dua murid tersayang. Yang satu sangat senior karena memang mengemban amanah memimpin proyek ini dan satu lagi senior karena dia mengepalai kelompok engine dan propulsi. Dua posisi yang hebat dalam proses design. Namun demikian di kelas bahasa ini, posisi yang hebat itu tidak dapat membantu untuk membebaskan diri hukuman Dr.Sin. Ketika murid-murid lainnya dengan mudah melafalkan huruf Hanggul yang ditunjuk, dua orang senior yang biasanya sangat lancar justru hari itu gagal berulang ulang. “Gha” kata Dr.Sin “Ka” kata murid “tersayang”. “Gha”, “Ka”, Gha”,”Ka” bersaut sautan berulang ulang. Hingga Dr.Sin berhenti meminta. “Enough”. Atas kejadian itu maka tak ada pilihan lain bagi Dr.Sin. Ketika saat istirahat tiba, seperti biasanya Dr.Sin memberi kesempatan untuk istirahat berupa, "OK kalian boleh istirahat sepuluh  menit”. Tetapi yang mengejutkan adalah buntut dari kalimat itu, “EXCEPT YOU AND YOU, STAY HERE !!!!!", sambil menunjuk kedua sahabat senior tadi. Murid-murid keluar ruangan dengan tertawa tak ada habisnya, sementara "terhukum" hanya senyum kecut karena kehilangan kesempatan untuk menghisap tembakau yang sudah disiapkan. Ah gara-gara “Gha”.

 Daejeon, Mei 25 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar