Except You and You, stay here… !!!
Mati Ketawa Gaya Korea 11
|
D
|
r.Sin sebagai
Doktor bidang sistem engineering terbilang sangat sibuk. Disamping kesibukan
sebagai karyawan ADD, tetapi sekaligus juga punya kegiatan rutin mengajar
sistem Engineering di Universitas. Namun demikian Dr.Sin masih peduli untuk
mengorbankan waktunya dengan mengajar bahasa Korea untuk engineer Indonesia
sekali dalam seminggu selama 3 jam sepulang kerja. Membayangkan mengajar murid
untuk bisa baca dan bicara tak ubahnya seperti mengajar murid SD atau TK. Yang
menjadikan istimewa adalah gurunya seorang doktor dan muridnya adalah doktor,
engineer, dan perwira. Tentu sebagian besar sudah tidak muda. Barangkali
mengajar bahasa anak SD atau TK lebih mudah karena lidahnya masih belum
terkontaminasi oleh kata-kata asing kecuali kata kata yang memang akan
diajarkannya.
Namun murid
Dr.Sin kali ini adalah murid istimewa. Murid yang lidahnya sudah terikat oleh
dialek bahasa ibunya. Murid yang lidahnya sudah kaku karena bahasa sehari
harinya. Murid yang memorinya sudah penuh dengan angan dan harapan seumur hidupnya.
Murid yang pendengarannya sudah sulit untuk bedakan warna suara. Atas semua
itu, bukannya Dr.Sin tidak tahu. Beliau sangat paham situasinya. Barangkali
memang hal ini beliau jadikan tatangan yang akan ditaklukkannya. Mengajar
bahasa korea bagi orang-orang yang sudah tidak muda.
Mempelajari
sesuatu yang baru selalu menarik, apalagi ini mempelajari bahasa yang menjadi
akar budaya sebuah bangsa. Apalagi cara Doktor Sin mengajar sangat menarik dan komunikatif. Bahkan tak
jarang sangat meriah karena ada saja hal hal yang memantik urat saraf untuk
tertawa. Seperti misalnya, dalam bahasa korea membedakan bunyi "E"
yang ada pada kata "EKOR" dengan "E" yang ada pada kata
"BEBEK" saja begitu sulitnya. Namun, sebut saja misal Mas S, dia
punya cara cerdas untuk membedakan bunyi kedua huruf E tersebut dengan
menghubungkan kata "NENEN" untuk bunyi E yang seperti BEBEK. Dr.Sin
yang awalnya nggak tahu apa “NENEN” itu mau nggak mau juga ikut ketawa setelah
tahu artinya. Dan untuk mas S alias "Mr.Nenen" selalu memerlukan
waktu untuk berhenti tertawa setiap kali ditunjuk oleh Dr.Sin. Kata “Nenen”
nampaknya sudah terpaku di memorinya.
Maka dari itu
tidak aneh kalau di hari hari awal pelajaran, seluruh murid hadir dengan
antusias, meskipun mungkin dengan motivasi yang berbeda beda. Ada yang sekedar
sungkan dengan Dr.Sin atau Pak CE. Ada yang hanya buang waktu saja dari pada
kesepian di rumah. Ada yang ingin menghibur diri dengan mengetawai
kekonyolan-kekonyolan di kelas. Atau ada yang memang ingin belajar, sungguh
sungguh karena ada misi "khusus".
Dengan
berjalannya waktu seleksi alam dalam kelas ini terjadi. Ada yang patah arang
nggak mau datang lagi karena merasa tidak perlu dan malu setiap kali
diketawain. Ada yang merasa nggak menarik belajar bahasa yang hanya dipakai oleh
bangsa itu sendiri. Ada yang merasa capek kalau pulang kerja masih harus duduk
selama 3 jam, meskipun setelah didiskon menjadi 2 jam tetep saja absen. Ada
yang teguh pada keyakinan, merasa ditugaskan di Korea bukan untuk belajar
bahasa tapi merancang pesawat terbang. Ada pula yang berdalih masuk angin, atau
batuk yang selalu kumat setiap jadwal bahasa korea tiba, apapun harinya.
Dr.Sin memiliki
dedikasi yang tinggi dalam mengajar, maka jangan kaget bila beliau selalu
mengingatkan murid-muridnya untuk tidak melewatkan kelasnya. Selagi Dr.Sin ada,
jangan harap kelas libur. Bagi yang sudah patah semangat atau kehilangan
motivasi maka ketidak sanggupan menolak akan berbuah upaya berlari atau
sembunyi. Oleh karena itu bagi beberapa orang perlu merancang cara menghindar
yang baik, meskipun adakalanya gagal juga karena kepergok Dr.Sin, "you
will come, or we stop our friendship", ancam Dr.Sin.
Ada pula yang
merasa perlu pulang lebih cepat, dari pada ntar ktemu Dr.Sin. Jadinya sosok
Dr.Sin malah menjadi seperti Dewa pencabut nyawa. Mesti sembunyi, lari atau
dihindari. Ada sesosok banyangan, karena nggak jelas wajahnya yang tersembunyi
dibalik topi jaket. Dengan setengah berlari sambil menyelinap dan agak
sembunyi, hingga teriakan temanpun "Hooiii... mau kemanaaa...?" tak
digubris lagi. Begitulah saking takutnya ketemu Dr.Sin.
Kelas tetep
berjalan dengan murid "tertangguh" yang tersisa. Tangguh karena tahan
malu dan tetep mau belajar meskipun kemajuan yang diperoleh sangat minimal.
Untuk mengefektifkan proses belajar Dr.Sin merasa perlu untuk membagi kelas
sesuai kemajuan dan capaian murid muridnya, yang kira kira artinya seperti
"kenaikan kelas". Suatu rencana yang tidak disukai oleh murid karena
dua hal, kelas baru, guru baru yang mungkin akan sangat serius, disamping juga
kelas tsb akan tidak berada di CRDC lagi, sesuatu yang dirasa merepotkan.
Dr.Sin teguh pada pendiriannya. Kelas harus dibagi.
Beberapa orang
mulai disebut namanya dan dikelompokkan ke kelas baru. Kelompok pertama adalah
kelas Advance. Dari namanya jelas kelompok ini terdiri dari murid-murid yang
paling cakap berbahasa korea, meskipun masih kategori sangat sederhana. Selagi
pembagian kelas dimulai “pembangkangan kecil” mulai terjadi, alias menolak
dimasukkan di kelas baru. "I want to be here with you, because I love
you", itu argumen yang digunakan untuk menolak dipindah dikelas lain.
Beberapa orang berhasil, namun beberpa yang lain ditolak dengan jawaban,
"I don't like you, so next week you have to go to new class". Kita
tahu jawaban Dr.Sin ini hanya joke sekedar untuk mendorong agar kemajuan
muridnya tidak terpaku oleh dirinya saja. Kelas ini dikenal sebagai kelas
"Buangan".
Setelah sebagian
sudah "dinaik kelaskan" maka yang tersisa menjadi jauh lebih sedikit
dan tetep diajar langsung oleh Dr.Sin. Hal yang menarik ternyata setelah
dicacah jiwa, murid yang tersisa adalah murid yang mayoritas
"senior", bahkan para leader. Bagaimana mungkin para leader tidak
naik kelas. Atau hanya segitukah kemampuan "intelektual" para leader
proyek nasional ini? Ledekan yang muncul bagi murid-murid
"kesayangan" Dr.Sin ini.
Meskipun para
leader itu adalah murid "kesayangan" Dr.Sin namun beliau tetep tanpa
pandang bulu dan bersikap adil dalam mengajar. Siapa yang pantas di apresiasi
maka akan beliau puji "Excelent", demikian pula sebaliknya. Hampir
seluruh murid sudah memiliki kecakapan yang cukup dalam melafalkan huruf
Hanggul ini, kecuali dua murid tersayang. Yang satu sangat senior karena memang
mengemban amanah memimpin proyek ini dan satu lagi senior karena dia mengepalai
kelompok engine dan propulsi. Dua posisi yang hebat dalam proses design. Namun
demikian di kelas bahasa ini, posisi yang hebat itu tidak dapat membantu untuk
membebaskan diri hukuman Dr.Sin. Ketika murid-murid lainnya dengan mudah
melafalkan huruf Hanggul yang ditunjuk, dua orang senior yang biasanya sangat
lancar justru hari itu gagal berulang ulang. “Gha” kata Dr.Sin “Ka” kata murid
“tersayang”. “Gha”, “Ka”, Gha”,”Ka” bersaut sautan berulang ulang. Hingga
Dr.Sin berhenti meminta. “Enough”. Atas kejadian itu maka tak ada pilihan lain
bagi Dr.Sin. Ketika saat istirahat tiba, seperti biasanya Dr.Sin memberi
kesempatan untuk istirahat berupa, "OK kalian boleh istirahat sepuluh menit”. Tetapi yang mengejutkan adalah buntut
dari kalimat itu, “EXCEPT YOU AND YOU, STAY HERE !!!!!", sambil menunjuk
kedua sahabat senior tadi. Murid-murid keluar ruangan dengan tertawa tak ada
habisnya, sementara "terhukum" hanya senyum kecut karena kehilangan
kesempatan untuk menghisap tembakau yang sudah disiapkan. Ah gara-gara “Gha”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar