Jumat, 07 Oktober 2016

Pak Mansur dan Pak Letkol


Pak Mansur dan Pak Letkol
Mati Ketawa Gaya Korea 16

Y

ang ini tidak ada hubungannya dengan Mansur S, si penyanyi ndangdut itu, tetapi sudah menjadi takdirnya bila kehadirannya menjadi insprasi bagi orang lain untuk membuat suasana menjadi begitu hidup dan dinamis. Dengan wajah bulat, rambut tipis dengan sebagian yang sudah mulai erosi, badan kekar dan senyum nya itu lho yang begitu fotogenik menjadikan dia sering kali menjadi obyek bidikan bagi para paparazzi.  Makanya tidaklah mengherankan bila ada paparazzi yang mengekspose hasil bidikannya apakah lewat facebook, Skydrive atau media lainnya maka hampir dapat dipastikan wajah pak Mansur ini tidak akan terlewatkan.

Dengan kepribadian yang kalem, ketidak canggungannya untuk berada dalam komunitas apapun serta bermodalkan cara bicara yang santun khas Sunda memudahkannya untuk masuk bergaul di semua kalangan mulai kelas sopir hingga direktur, kopral hingga jendral, engineer hingga doktor. Tidak ada yang tahu jimat atau mantra apa yang dimilikinya sehingga sesuatau yang bagi orang lain dirasa sulit namun baginya menjadi sangat mudah. Tidak ada yang tahu aji-aji atau amalan apa yang dijalankannya sehingga dia memiliki pesona yang luar biasa. Saking kuatnya aji dan mantranya (barangkali?) bahkan hingga isu rotasi untuknya yang sudah digulirkan beberapa kali pun akhirnya hilang, lenyap, menguap, tak berbekas hingga akhirnya.

Bagi teman temannya yang sudah berinteraksi lama di PT DI, pesona ini sudah tidak dapat dirasakan lagi karena saking seringnya ketemu sehingga susah membedakan. Namun sejak kehadiran seorang letnan kolonel penerbang tempur di likungan CRDC inilah kekuatan pesonanya menjadi begitu bersinar dan seakan hidup lagi. Dirasakan, disaat awal kehadiran engineer Indonesia di CRDC ini, dari hari ke hari selalu saja didera hal hal yang melelahkan tapi bukan urusan teknis pesawat tempur. Karena hal hal non teknis ini menyangkut hajat hidup orang banyak maka dampaknya sangat dirasakan oleh seluruh enginer yang ada. Namun kehadiran rekan letkol penerbang ini mampu mencairkan suasana yang kaku, apalagi dikombinasikan dengan sosok pak Mansur yang begitu penuh pesona. Ada hubungannya atau tidak menjadi tidak penting lagi toh masalah hajat hidup orang banyak akhirnya selesai juga.

Sebenarnya rekan letkol penerbang ini sendiri pesonanya sungguh luar biasa bahkan mungkin tidak ada yang sanggup mengalahkannya. Dia datang membawa pesonanya sendiri. Dengan wajah ganteng, perawakan tinggi, dada bidang, tegap, tegas ditambah kemampuan komunikasi serta kecakapan memainkan musik, maka pesona apa lagi yang bisa mengalahkannya. Pada saat yang sama dia sanggup merendahkan diri dengan rela mengunjungi dari kubik ke kubik enginer hanya sekedar untuk mengucapkan Selamat pagi, atau Anyeong Haseo. Itu dilakukannya setiap pagi. Tidaklah mengherankan bila setiap kali ada acara bersama maka dia selalu menjadi bintang nya, karena memang kenyataannya dialah yang mampu menghidupkan suasana. Begitu pandainya dia menghidupkan suasana dengan kejadian sehari hari yang sebenarnya sangat biasa, namun melalui dia kejadian yang amat sangat biasa dan sederhana ini berubah menjadi cerita yang penuh warna dan tawa. Salah satunya adalah cara dia memanggil pak Mansur ini. Cara dia memanggil pak Mansur memang berbeda, sangat khas dan berwarna. Begitu merdu, menggelitik dan mendayu mengikuti lagu irama tertentu seperti cara anak kecil memanggil temannya yang masih berada di dalam rumahnya. “Pak MansUUUuuUUUrrrrr”. Begitu khas dan indahnya sehingga agak sulit mengekpresikannya dengan kata-kata.

Panggilan indah itu dilakukannya setiap pagi sehingga saking sering dan rutinnya mendengar lagu panggilan itu maka panggilan itu serasa menjadi penanda dimulainya jam kerja. Dan tentu yang dipanggil akan menoleh, melongok dengan senyumnya yang khas dan juga memiliki kekuatan pesona yang sama, maka jadilah kombinasi pesona yang menghidupkan suasana. “Pak MansUUUuuuuUUUUrrr”

Waktu berjalan dan masa tugas sang letkol penerbang habis, sehingga dia harus pulang ke pangkuan istrinya. Jelas terasa ada yang hilang atas kepulangannya karena tidak terdengar lagi penanda dimulainya kerja. Pak Mansur nggak kemana mana, tetapi lagu indah panggilan itu ikut pulang bersama si pemilik pesonanya. Ada semacam kerinduan untuk mendengar panggilan khas dan indah itu lagi, hanya sayangnya nggak ada yang sepandai dia cara mengekspresikannya. “Pak MansUUUuuuuUUrrrr”


Daejeon, Juli 5 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar