Pak Mansur dan Pak Letkol
Mati Ketawa Gaya Korea 16
|
Y
|
ang ini tidak
ada hubungannya dengan Mansur S, si penyanyi ndangdut itu, tetapi sudah menjadi
takdirnya bila kehadirannya menjadi insprasi bagi orang lain untuk membuat
suasana menjadi begitu hidup dan dinamis. Dengan wajah bulat, rambut tipis
dengan sebagian yang sudah mulai erosi, badan kekar dan senyum nya itu lho yang
begitu fotogenik menjadikan dia sering kali menjadi obyek bidikan bagi para
paparazzi. Makanya tidaklah mengherankan bila ada paparazzi yang
mengekspose hasil bidikannya apakah lewat facebook, Skydrive atau media lainnya
maka hampir dapat dipastikan wajah pak Mansur ini tidak akan terlewatkan.
Dengan
kepribadian yang kalem, ketidak canggungannya untuk berada dalam komunitas
apapun serta bermodalkan cara bicara yang santun khas Sunda memudahkannya untuk
masuk bergaul di semua kalangan mulai kelas sopir hingga direktur, kopral
hingga jendral, engineer hingga doktor. Tidak ada yang tahu jimat atau mantra
apa yang dimilikinya sehingga sesuatau yang bagi orang lain dirasa sulit namun
baginya menjadi sangat mudah. Tidak ada yang tahu aji-aji atau amalan apa yang
dijalankannya sehingga dia memiliki pesona yang luar biasa. Saking kuatnya aji
dan mantranya (barangkali?) bahkan hingga isu rotasi untuknya yang sudah
digulirkan beberapa kali pun akhirnya hilang, lenyap, menguap, tak berbekas
hingga akhirnya.
Bagi teman
temannya yang sudah berinteraksi lama di PT DI, pesona ini sudah tidak dapat
dirasakan lagi karena saking seringnya ketemu sehingga susah membedakan. Namun
sejak kehadiran seorang letnan kolonel penerbang tempur di likungan CRDC inilah
kekuatan pesonanya menjadi begitu bersinar dan seakan hidup lagi. Dirasakan,
disaat awal kehadiran engineer Indonesia di CRDC ini, dari hari ke hari selalu
saja didera hal hal yang melelahkan tapi bukan urusan teknis pesawat tempur.
Karena hal hal non teknis ini menyangkut hajat hidup orang banyak maka
dampaknya sangat dirasakan oleh seluruh enginer yang ada. Namun kehadiran rekan
letkol penerbang ini mampu mencairkan suasana yang kaku, apalagi dikombinasikan
dengan sosok pak Mansur yang begitu penuh pesona. Ada hubungannya atau tidak
menjadi tidak penting lagi toh masalah hajat hidup orang banyak akhirnya
selesai juga.
Sebenarnya rekan
letkol penerbang ini sendiri pesonanya sungguh luar biasa bahkan mungkin tidak
ada yang sanggup mengalahkannya. Dia datang membawa pesonanya sendiri. Dengan
wajah ganteng, perawakan tinggi, dada bidang, tegap, tegas ditambah kemampuan
komunikasi serta kecakapan memainkan musik, maka pesona apa lagi yang bisa
mengalahkannya. Pada saat yang sama dia sanggup merendahkan diri dengan rela
mengunjungi dari kubik ke kubik enginer hanya sekedar untuk mengucapkan Selamat
pagi, atau Anyeong Haseo. Itu dilakukannya setiap pagi. Tidaklah mengherankan
bila setiap kali ada acara bersama maka dia selalu menjadi bintang nya, karena
memang kenyataannya dialah yang mampu menghidupkan suasana. Begitu pandainya
dia menghidupkan suasana dengan kejadian sehari hari yang sebenarnya sangat
biasa, namun melalui dia kejadian yang amat sangat biasa dan sederhana ini
berubah menjadi cerita yang penuh warna dan tawa. Salah satunya adalah cara dia
memanggil pak Mansur ini. Cara dia memanggil pak Mansur memang berbeda, sangat
khas dan berwarna. Begitu merdu, menggelitik dan mendayu mengikuti lagu irama
tertentu seperti cara anak kecil memanggil temannya yang masih berada di dalam
rumahnya. “Pak MansUUUuuUUUrrrrr”. Begitu khas dan indahnya sehingga agak sulit
mengekpresikannya dengan kata-kata.
Panggilan indah
itu dilakukannya setiap pagi sehingga saking sering dan rutinnya mendengar lagu
panggilan itu maka panggilan itu serasa menjadi penanda dimulainya jam kerja.
Dan tentu yang dipanggil akan menoleh, melongok dengan senyumnya yang khas dan
juga memiliki kekuatan pesona yang sama, maka jadilah kombinasi pesona yang
menghidupkan suasana. “Pak MansUUUuuuuUUUUrrr”
Waktu berjalan
dan masa tugas sang letkol penerbang habis, sehingga dia harus pulang ke
pangkuan istrinya. Jelas terasa ada yang hilang atas kepulangannya karena tidak
terdengar lagi penanda dimulainya kerja. Pak Mansur nggak kemana mana, tetapi
lagu indah panggilan itu ikut pulang bersama si pemilik pesonanya. Ada semacam
kerinduan untuk mendengar panggilan khas dan indah itu lagi, hanya sayangnya
nggak ada yang sepandai dia cara mengekspresikannya. “Pak MansUUUuuuuUUrrrr”
Daejeon,
Juli 5 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar