This is the only one one nya..?
Mati Ketawa Gaya Korea 26
|
B
|
angsa Indonesia
memang pantas berbangga dan tidak seharusnya merasa kecil bila dibandingkan
dengan Negara manapun juga. Dari segi teritori saja sudah jelas terlihat betapa
Negara ini sangat besar. Disamping kekayaan alam, Indonesia juga memiliki
kekayaan budaya yang tidak ada pembandingnya di dunia, dimana di dalamnya
melekat keragaman bahasa daerah. Ada bahasa Jawa, Sunda, Tegal, Madura, Aceh,
Padang, Batak, Makasar, Papua, Maluku, Makasar dan masih banyak lagi.
Dengan kekayaan
dan keragaman bahasa yang seperti itu maka tidak aneh kalau orang Indonesia
apalagi engineer tidak pernah takut, atau ragu ketika ditugaskan di luar negeri
manapun meskipun bekal bahasa internasionalnya mungkin tidak memadai, apalagi
kemampuan bahasa lokal dari negeri yang dituju, nol besar. Kalau dirunut lebih
jauh, keberanian atau kenekadan ini tidak lepas dari modal dasar kekayaan dan
keragaman bahasa yang dimiliki tiap pribadi bangsa Indonesia. Untuk yang dari
Jawa atau Batak misalnya, barang kali berfikirnya, “Ah paling seperti ketika
datang ke Madura atau Sunda”. “Toh yang penting dia tahu apa yang saya
maksudkan”. Nampaknya statement terakhir ini adalah kunci komunikasi dengan
bahasa apapun. Dengan konsep ini maka tuntutan untuk harus dapat menggunakan
grammer dan kosa kata yang benar menjadi tidak mutlak lagi. Meskipun dengan
modal kosa kata seadanya, komunikasi tetap dapat dilakukan. Tentu bahasa tubuh
atau bahasa isyarat menjadi bahasa pelengkap yang paling sempurna. Kalau tidak
percaya, coba saja amati engineer kita yang asli dari Batak ini. Dia begitu
lugas dan tidak canggung meskipun baru seminggu tiba di Korea membeli jajanan
atau makanan lainnya yang dijual di gerai gerai di jalan pertokoan JungangNo.
Dia ambil ini dan itu, dia makan dengan santai, sementara si penjual menerocos
ngomong dengan bahsa Korea, yang selalu dia jawab dengan iya dan iya saja.
Setelah semuanya selesei, dia dengan tenang memilih menggunakan bahasa Sunda
ditambah isyarat tangannya untuk menjelaskan apa saja yang dia makan, ”Abdi
makan ieu 2 hiji, ieu hiji, ieu hiji. Sabaraha ibu?”, ucapnya tenang. Tanpa
perdebatan yang panjang, si penjual juga menjawab dengan jelas dan tegas
“ICHONON”, sambil mengacungkan dua jari. Langsung dibayar dengan uang 2 lembar
seribuan won, urusan selesai.
Begitu cair dan
mudahnya orang Indonesia berkomunikasi maka apapun dan dalam situasi
bagaimanapun tidak ada alasan untuk tidak berani berkomunikasi. Hal ini juga
ditunjukkan oleh engineer yang membidangi urusan persiapan flight test program
KFX/IFX ini. Penugasan dia memang terbilang paling pendek. Alih alih bisa
belajar bahasa Korea, untuk mengenali hurufnya saja serasa tidak cukup waktu.
Maka kembali lagi dia menggunakan konsep dasar komunikasi, “yang penting dia
tau maksud gue, itu sudah cukup”. Ketika akhirnya dia terbawa oleh rombongan
teman temannya ke Pasar Namdaemun Seoul, maka dia mencoba memanfaatkannya untuk
berbelanja oleh-oleh atau suvenir. Kebetulan pasar NamDaemun adalah pasar yang
terkenal dan lengkap yang menyediakan berbagai suvenir khas Korea. Perhatiannya
tertuju pada satu benda yang sangat menarik, “Wah ini bagus untuk dipajang di
kamar tamu”. Tertarik dengan itu, maka dia mencoba mengambil dan mengamati nya.
Ada rasa penasaran di hatinya, sambil matanya mencoba melihat-lihat sekeliling
tempat benda itu sekedar untuk memilih benda yang terbaik. Nampaknya dia tidak
melihat apa yang dia cari. “Tinggal inikah? Atau masih ada lainnya ya?”,
pertanyaan yang melintas di hatinya. Dari pada menyesal kemudian maka mau nggak
mau dia bertanya ke penjualnya dengan kemampuan bahasa Inggris yang
dimilikinya. “I interest to buy this, but I need another. I want to select one.
Do you have another?”. Kalimat dalam bahasa Inggris dengan grammer yang benar
dan panjang ini hanya membingungkan pedagang untuk menjawab, karena tidak semua
pedagang Korea di pasar ini mengerti bahasa Inggris. Malah yang muncul adalah
jawaban dengan bahasa Korea berkepanjangan yang juga tidak dimengerti oleh
engineer kita ini. Namun engineer kita tidak menyerah. Kalau dengan bahasa
Inggris formal malah membingungkan, agar komunikasi jalan maka dia harus
berfikir dan berdialog dalam level yang setara dengan kemampuan bahasa Inggris
si pedagang itu, alias bahasa Inggris pasar. Tanpa disengaja tiba tiba saja
engineer kita bisa merumuskan kalimat pendek Inggris pasar, “This is the only
one one nya?” dengan ditimpali bahasa isyarat tangan, wajah dan bahasa tubuh
lainnya. Tentu saja pertanyaan ini menjadikan bahan tertawaan teman teman nya
yang kebetulan juga berada disitu. Tidak jelas si pedagang ngerti atau tidak,
yang jelas dia datang lagi membawa beberapa model lain dari barang yang ingin
dia beli tadi. Tentu saja si engineer bangga, “Tuch kan, dia malah ngerti !!”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar