Jumat, 07 Oktober 2016

Eforia Pulang-1


Eforia Pulang-1

Mati Ketawa Gaya Korea 30

Pulang, menjadi kata indah yang ditunggu bagi siapapun yang sudah meninggalkan tanah leluhurnya beberapa bulan lamanya, tanah kecintaannya, dan tempat segala kerinduan yang menunggunya. Tidak terkecuali bagi para engineer yang sudah bertugas paling tidak selama hampir 18 bulan ini. Meskipun dalam kurun waktu itu telah diselingi dengan beberapa kali “pulang” namun kepulangan kali ini tetap saja memiliki nilai makna yang berbeda dari pulang-pulang sebelumnya. Pulang karena “telah selesai mengemban tugas”, pulang karena memang “jadwalnya cuma sampai disitu”, jelas berbeda makna dan nilai dengan kata “dipulangkan”. Karena makna pulang kali ini adalah “selesai tugas” maka yang terjadi seperti “pulang masal”, atau “bedhol desa”. Kalau akhirnya mereka dibagi dalam beberapa kelompok kepulangan, ini hanya sekedar teknis dan tidak mengubah makna dan hakikat pulang. Yang pulang 4 hari lebih awal mungkin berbahagia karena akan lebih awal melepas kejenuhan dan berganti dengan sambutan bahagia keluarga dan seluruh kecintaannya di tanah air, sementara yang pulang berikutnya tetap berbahagia karena semakin akhir kepulangan yang artinya semakin mendekati ujung kesempurnaan kata “selesai tugas”.

Begitu indah dan magisnya kata pulang sehingga ketika kata itu benar benar datang setelah menunggu 18 bulan maka ada semacam eforia kecil bagi engineer yang akan pulang kali ini. Eforia, kebahagiaan yang sedikit berlebihan (yang mungkin tidak disadari) sehingga berdampak pada tidakan yang kadang irrasional, suatu tindakan atau sikap konyol yang mestinya tidak akan begitu mudahnya terjadi untuk hal yang sangat sepele.

Rombongan kepulangan kali ini terdiri dari 8 orang engineer. Atas nama solidaritas alias kesetiakawanan maka kepulangan rombongan 8 orang ini dijemput dan diantar sekaligus dilepas oleh CE (Palsu) di Eungubi ro 155 Beonan Gil lingungan Jijok. 8 orang tetapi dengan barang bawaan yang tidak kurang dari 24 paket bawaan yang berupa koper besar, koper sedang, tas punggung, tas makanan, hingga biola dan Kardus besar ukuran 40x50x60 centi meter kubik. Begitu banyaknya barang yang dibawa pulang anggota tersebut  yang tentu mengindikasikan “keaktifan” engineer tersebut selama di Korea. Aktif mengoleksi “barang antik”.

Begitu banyaknya barang yang harus dibawa maka hingga bahkan memerlukan paling tidak 2 mobil untuk proses pengantaran ini. Minibus Starek dan sedan Sonata berikut supir tembaknya sudah standby ditempat. Dengan suka cita para engineer menarik koper bawaan sekaligus memasukkannya ke dalam bagasi mobil Starek yang memang cukup besar. Hampir separo mobil itu terisi untuk barang bawaan, sementara orangnya di setup seperti naik angkot jurusan Cicaheum-Ciroyom. Padat, asal separo bokong ada sedikit tempat berpijak, angkut saja. Bahwa kaki mesti ketekuk, badan sedikit membungkuk, atas nama kata pulang, semua dijalani dengan gembira. Dengan kepadatan barang dan penumpang seperti itu maka harus dioptimasi sesuai dengan volume badan dan prosentile dari engineer yang akan pulang ini, mana dan siapa yang mesti naik Starek dan siapa yang mesti naik Sonata. Dengan sigap diputuskan, “Kamu naik Sonata. Tuch masih kosong satu kursi”, perintah bagi engineer yang memang berbadan lebih besar dari engineer lainnya. Kepatuhan akan mempercepat proses. Dengan sigap dan gembira si engineer langsung meluncur ke mobil Sonata yang terparkir beberapa meter di belakang Starek. Meskipun perintahnya jelas untuk naik di mobil Sonata, namun hiruk pikuk yang sesaat itu menyebabkan tidak tahu siapa saja yang sudah ada di dalam mobil Sonata tersebut, karena kaca mobil itu seperti dilapisi oleh pelapis kaca pelindung panas matahari sekaligus pelindung cahaya. Sesampai di mobil Sonata itu, si engineer seperti terlihat kebingungan mau masuk dari pintu mana karena dia tidak dapat melihat kursi mana yang masih kosong. Maka sesaat dia terlihat seperti Thowaf, berputar-putar mengelilingi mobil Sonata untuk dapat memastikan kursi mana yang masih kosong. Meskipun sudah berputar beberapa kali namun tetep saja tidak ada celah untuk memastikan dimana kursi kosong itu, sementara yang didalam Sonata sudah mulai cekikian sambil berkomentar, “mau ngapain anak ini kok hanya berputar putas saja?”. Karena memang dia tidak dapat melihat kursi mana yang masih kosong maka segera saja dia putuskan untuk membuka pintu kiri depan, dengan harapan duduk di samping sopir. Dia berasumsi bahwa rekan-rekannya telah duduk di kursi belakang. Begitu pintu dibuka, nampaknya dugaan dia tidak meleset. 2 orang temannya sudah duduk di kursi belakang, segera saja dia mau masuk dan duduk dikursi kosong yang dia duga. Kepala melongok dan kaki sebelah melangkah kedalam mobil. Sapaan dan tertawaan dari 2 orang yang sudah ada di dalam Sonata itu menyebabkan si engineer langsung membalas sapaan 2 rekannya itu. Tak ada perasaan salah dan aneh sama sekali yang dirasakan si engineer,sampai ada pertanyaan dari rekan yang sudah duduk di belakang yang pertanyaan itu menyadarkan si engineer bahwa dia melakukan kesalahan. “Mau nyopir mas?”, dibarengi dengan tertawaan yang lebih keras. Tentu saja jawabanya tidak, karena dia tidak memiliki SIM Korea, tetapi tertawaan rekan-rekan yang sudah duduk di dalam Sonata itu menjadikan logika berpikirnya menjadi semakin kacau. Seharusnya selama 18 bulan di Korea dia tahu bahwa mobil Korea diracang dengan konsep stir kiri, yang artinya kemudi dan sopir ditempatkan di sisi kiri. Barangkali dampak eforia pulang yang tidak disadarinya.

Lagi dan lagi, kesalahan engineer ini semata-mata itu kesalahan orientasi, sebagai dampak implikasi dari kata pulang yang magis itu. Mengnyadari kesalahannya, pintu ditutup kembali, namun yang terjadi selanjutnya adalah kebingungan yang kedua sehingga berdampak pada putaran thowaf berikutnya dan berikutnya. Dengan pintu dan kaca tertutup dia masih nggak tahu kursi mana yang kosong, sementara ketika dia masuk dari pintu yang salah tadi, barangkali rasa malunya akibat kesalahannya yang menyebabkan dia nggak sempat mengamati kursi mana yang masih kosong. Berputar-putar mengelilingi Sonata dengan sedikit mengintip ke dalam sama sekali tidak membantu untuk mendapatkan info yang dia cari, mana kursi yang kosong. Maka segera saja diputuskan untuk membuka pintu kanan belakang. Dan ternyata salah lagi karena kedua rekannya telah duduk rapat berjejer di sisi itu. Tentu bonus tambahan tawa muncul kembali. Namun demikian paling tidak dari sini menjadi jelas mana kursi yang kosong yang bisa diisinya. Maka dia berputar lagi setengah putaran menuju kursi kosong lewat pintu sisi kiri belakang. Kali ini pasti tidak salah lagi. Pintu segera dibuka, kaki mulai melangkah ke dalam mobil, dan segera membayangkan duduk manis meluncur menuju “Jong Bu Cong Sa” alias “Government Complex Bus Terminal”, sebagai tanda ritual pulang telah dimulai. Ternyata urusan belum selesai dan bayangannya kabur. Perintah mendadak muncul tiba-tiba, “Hay,…kamu jangan di mobil itu. Itu biar untuk Agung yang masih di belakang !.”. “Wah salah lagi nich”, itu yang sempat terlintas. Dan bagi rekan-rekannya yang sudah duduk manis di dalam Sonata, yang sudah mengamati si engineer thowah mengelilingi Sonata berkali-kali dan diakhiri dengan pindah mobil lagi, maka panggilan ini hanya menjadikan bahan tertawaan saja. “Wooalah. mau naik mobil saja kok repot banget…”, komentar sesudahnya.

GoGo Hotel, Incheon 30 Nov 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar