Eforia Pulang-1
Mati Ketawa Gaya Korea 30
Pulang, menjadi kata indah yang
ditunggu bagi siapapun yang sudah meninggalkan tanah leluhurnya beberapa bulan
lamanya, tanah kecintaannya, dan tempat segala kerinduan yang menunggunya.
Tidak terkecuali bagi para engineer yang sudah bertugas paling tidak selama
hampir 18 bulan ini. Meskipun dalam kurun waktu itu telah diselingi dengan
beberapa kali “pulang” namun kepulangan kali ini tetap saja memiliki nilai
makna yang berbeda dari pulang-pulang sebelumnya. Pulang karena “telah selesai
mengemban tugas”, pulang karena memang “jadwalnya cuma sampai disitu”, jelas
berbeda makna dan nilai dengan kata “dipulangkan”. Karena makna pulang kali ini
adalah “selesai tugas” maka yang terjadi seperti “pulang masal”, atau “bedhol
desa”. Kalau akhirnya mereka dibagi dalam beberapa kelompok kepulangan, ini
hanya sekedar teknis dan tidak mengubah makna dan hakikat pulang. Yang pulang 4
hari lebih awal mungkin berbahagia karena akan lebih awal melepas kejenuhan dan
berganti dengan sambutan bahagia keluarga dan seluruh kecintaannya di tanah
air, sementara yang pulang berikutnya tetap berbahagia karena semakin akhir
kepulangan yang artinya semakin mendekati ujung kesempurnaan kata “selesai
tugas”.
Begitu indah dan magisnya kata pulang
sehingga ketika kata itu benar benar datang setelah menunggu 18 bulan maka ada
semacam eforia kecil bagi engineer yang akan pulang kali ini. Eforia,
kebahagiaan yang sedikit berlebihan (yang mungkin tidak disadari) sehingga
berdampak pada tidakan yang kadang irrasional, suatu tindakan atau sikap konyol
yang mestinya tidak akan begitu mudahnya terjadi untuk hal yang sangat sepele.
Rombongan kepulangan kali ini terdiri
dari 8 orang engineer. Atas nama solidaritas alias kesetiakawanan maka
kepulangan rombongan 8 orang ini dijemput dan diantar sekaligus dilepas oleh CE
(Palsu) di Eungubi ro 155 Beonan Gil lingungan Jijok. 8 orang tetapi dengan
barang bawaan yang tidak kurang dari 24 paket bawaan yang berupa koper besar,
koper sedang, tas punggung, tas makanan, hingga biola dan Kardus besar ukuran
40x50x60 centi meter kubik. Begitu banyaknya barang yang dibawa pulang anggota
tersebut yang tentu mengindikasikan
“keaktifan” engineer tersebut selama di Korea. Aktif mengoleksi “barang antik”.
Begitu banyaknya barang yang harus
dibawa maka hingga bahkan memerlukan paling tidak 2 mobil untuk proses
pengantaran ini. Minibus Starek dan sedan Sonata berikut supir tembaknya sudah
standby ditempat. Dengan suka cita para engineer menarik koper bawaan sekaligus
memasukkannya ke dalam bagasi mobil Starek yang memang cukup besar. Hampir
separo mobil itu terisi untuk barang bawaan, sementara orangnya di setup
seperti naik angkot jurusan Cicaheum-Ciroyom. Padat, asal separo bokong ada
sedikit tempat berpijak, angkut saja. Bahwa kaki mesti ketekuk, badan sedikit
membungkuk, atas nama kata pulang, semua dijalani dengan gembira. Dengan
kepadatan barang dan penumpang seperti itu maka harus dioptimasi sesuai dengan
volume badan dan prosentile dari engineer yang akan pulang ini, mana dan siapa
yang mesti naik Starek dan siapa yang mesti naik Sonata. Dengan sigap
diputuskan, “Kamu naik Sonata. Tuch masih kosong satu kursi”, perintah bagi
engineer yang memang berbadan lebih besar dari engineer lainnya. Kepatuhan akan
mempercepat proses. Dengan sigap dan gembira si engineer langsung meluncur ke
mobil Sonata yang terparkir beberapa meter di belakang Starek. Meskipun
perintahnya jelas untuk naik di mobil Sonata, namun hiruk pikuk yang sesaat itu
menyebabkan tidak tahu siapa saja yang sudah ada di dalam mobil Sonata
tersebut, karena kaca mobil itu seperti dilapisi oleh pelapis kaca pelindung
panas matahari sekaligus pelindung cahaya. Sesampai di mobil Sonata itu, si
engineer seperti terlihat kebingungan mau masuk dari pintu mana karena dia
tidak dapat melihat kursi mana yang masih kosong. Maka sesaat dia terlihat
seperti Thowaf, berputar-putar mengelilingi mobil Sonata untuk dapat memastikan
kursi mana yang masih kosong. Meskipun sudah berputar beberapa kali namun tetep
saja tidak ada celah untuk memastikan dimana kursi kosong itu, sementara yang
didalam Sonata sudah mulai cekikian sambil berkomentar, “mau ngapain anak ini
kok hanya berputar putas saja?”. Karena memang dia tidak dapat melihat kursi
mana yang masih kosong maka segera saja dia putuskan untuk membuka pintu kiri
depan, dengan harapan duduk di samping sopir. Dia berasumsi bahwa
rekan-rekannya telah duduk di kursi belakang. Begitu pintu dibuka, nampaknya
dugaan dia tidak meleset. 2 orang temannya sudah duduk di kursi belakang,
segera saja dia mau masuk dan duduk dikursi kosong yang dia duga. Kepala
melongok dan kaki sebelah melangkah kedalam mobil. Sapaan dan tertawaan dari 2
orang yang sudah ada di dalam Sonata itu menyebabkan si engineer langsung
membalas sapaan 2 rekannya itu. Tak ada perasaan salah dan aneh sama sekali
yang dirasakan si engineer,sampai ada pertanyaan dari rekan yang sudah duduk di
belakang yang pertanyaan itu menyadarkan si engineer bahwa dia melakukan
kesalahan. “Mau nyopir mas?”, dibarengi dengan tertawaan yang lebih keras.
Tentu saja jawabanya tidak, karena dia tidak memiliki SIM Korea, tetapi
tertawaan rekan-rekan yang sudah duduk di dalam Sonata itu menjadikan logika
berpikirnya menjadi semakin kacau. Seharusnya selama 18 bulan di Korea dia tahu
bahwa mobil Korea diracang dengan konsep stir kiri, yang artinya kemudi dan
sopir ditempatkan di sisi kiri. Barangkali dampak eforia pulang yang tidak
disadarinya.
Lagi dan lagi, kesalahan engineer ini
semata-mata itu kesalahan orientasi, sebagai dampak implikasi dari kata pulang
yang magis itu. Mengnyadari kesalahannya, pintu ditutup kembali, namun yang
terjadi selanjutnya adalah kebingungan yang kedua sehingga berdampak pada
putaran thowaf berikutnya dan berikutnya. Dengan pintu dan kaca tertutup dia
masih nggak tahu kursi mana yang kosong, sementara ketika dia masuk dari pintu
yang salah tadi, barangkali rasa malunya akibat kesalahannya yang menyebabkan
dia nggak sempat mengamati kursi mana yang masih kosong. Berputar-putar
mengelilingi Sonata dengan sedikit mengintip ke dalam sama sekali tidak
membantu untuk mendapatkan info yang dia cari, mana kursi yang kosong. Maka
segera saja diputuskan untuk membuka pintu kanan belakang. Dan ternyata salah
lagi karena kedua rekannya telah duduk rapat berjejer di sisi itu. Tentu bonus
tambahan tawa muncul kembali. Namun demikian paling tidak dari sini menjadi
jelas mana kursi yang kosong yang bisa diisinya. Maka dia berputar lagi
setengah putaran menuju kursi kosong lewat pintu sisi kiri belakang. Kali ini
pasti tidak salah lagi. Pintu segera dibuka, kaki mulai melangkah ke dalam mobil,
dan segera membayangkan duduk manis meluncur menuju “Jong Bu Cong Sa” alias
“Government Complex Bus Terminal”, sebagai tanda ritual pulang telah dimulai.
Ternyata urusan belum selesai dan bayangannya kabur. Perintah mendadak muncul
tiba-tiba, “Hay,…kamu jangan di mobil itu. Itu biar untuk Agung yang masih di
belakang !.”. “Wah salah lagi nich”, itu yang sempat terlintas. Dan bagi
rekan-rekannya yang sudah duduk manis di dalam Sonata, yang sudah mengamati si
engineer thowah mengelilingi Sonata berkali-kali dan diakhiri dengan pindah
mobil lagi, maka panggilan ini hanya menjadikan bahan tertawaan saja. “Wooalah.
mau naik mobil saja kok repot banget…”, komentar sesudahnya.
GoGo Hotel, Incheon 30 Nov 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar