Jumat, 07 Oktober 2016

Bening…


Bening…
Mati Ketawa Gaya Korea 20

M

encuci pakaian adalah kegiatan rutin normal yang dilakukan siapa saja dan dimana saja agar pakaian yang dikenakannya bersih. Namun kegiatan mencuci bagi para engineer yang hidup di Korea ini menjadi berbeda. Justru perbedaannya terletak pada ketersediaan alat yang mestinya dapat memudahkannya, yaitu mesin cuci. “Apa sich sulitnya mencuci dengan mesin cuci?”, barang kali itu yang terpikir diawalnya. Dari aspek tekonologi juga akan terasa sangat aneh kalau para engineer perancang pesawat tempur kok nggak bisa mengoperasikan “hanya” sebuah teknologi mesin cuci.

Dalam perjalanannya ternyata kecanggihan kemampuan para engineer ini dengan sangat mudah takluk oleh kendala “buta aksara”. Bagaimana tidak, semua mesin cuci yang sudah disiapkan oleh pemilik apartemen berbahasa Korea, manual yang ada berbahasa korea, sehingga praktis hanya bisa meng “ON” kan tanpa tahu apa yang bisa dilakukan selanjutnya. Mau coba coba nggak berani, karena ada perasaan takut salah yang bisa berakibat fatal. Maklum, mesin cuci nya lumayan canggih dibanding dengan yang ada di rumah ketika masih di Indonesia sehingga kalau sampai rusak karena salah pemakaian maka urusannya jadi rumit. Ketidaksanggupan mengoperasikan mesin cuci ini berlangsung hingga beberapa minggu. Ada yang mencoba mencari manual berbahasa Inggris di internet, namun gagal karena seri dan model di masing masing negara memang sengaja dibedakan meskipun merk nya sama. Ada yang malu bertanya dan cerita karena gengsi, “masak sich engineer kok nggak bisa mengoperasikan mesin cuci?” Mungkin itu pikirnya, sehingga ada yang memilih bertahan dengan mencuci cara primitif yaitu cara dikucek pakai tangan langsung.

Bagi sebagian lainnya yang tidak merasa gengsi atau malu untuk bertanya maka dia tanyakan langsung ke partnernya yang Korea. Solusi praktis untuk bertanya adalah dengan memotret langsung option dan tombol tombol yang ada untuk selanjutnya ditunjukkan dan ditanyakan ke temannya yang Korea. Dengan cara ini biasanya problem langsung solved.

Namun demikian di minggu minggu awal kehadirannya di Korea tidak semua orang memiliki keberanian atau mempertaruhkan harga diri dengan bertanya hal remeh urusan cuci mencuci. Apalagi saat itu intensitas keakraban dengan karibnya yang Korea belumlah semuanya terbangun dengan baik.

Dengan berjalannya waktu problem cuci mencuci ini akhirnya terkuak juga. Entah terpaksa atau memang sudah saatnya akhirnya cerita tentang cuci mencuci ini mengemuka. Tentu Beberapa mesin cuci dari berbagai apartemen kebetulan memiliki seri atau merk yang sama sehingga sekali seseorang sudah mengetahui arti dari simbol-simbol option yang ada maka akan sangat mudah menularkannya ke teman lainnya. Cukup pahami fungsi satu simbol, gunakan selamanya, titik.

Sekali ketemu cara menggunakan mesin cuci maka aktifitas mencuci menjadi lebih intensif. Baju, jaket, celana, kaos, selimut, dll dll. Kotor dikit langsung cuci. Seperti terjadi pada salah satu engineer yang tinggal jalan Eungubi-ro 155beonan gil. Segala pakaian, celana dan apa saja yang sudah masuk kategori kotor langsung diangkut bersama sama dan dimasukkan ke dalam mesin cuci dengan begitu bersemangatnya. Cukup dengan memasukkan beberapa sendok ditergent maka mesin akan bekerja dengan sendirinya dalam waktu yang sudah ditentukan hingga bersih dan siap jemur. Cara berpikir yang wajar. Untuk mesin cuci tipe front loading alias pintu bukaan depan maka memang agak sulit mengatur keseimbangan beban cucian karena memang beban cucian diputar dengan bidang putar vertikal. Dengan design seperti itu maka wajar saja kalau sering kali kita mendengar getaran hebat karena ketidak seimbangan beban. Bahwa kenyataannya yang terdengar ada tambahan suara “glodhak glodhak”, seperti benda keras jatuh maka untuk sementara hal itu dicuekin aja, “ach paling mesin cuci front loading emang kerjanya begitu”.

Selagi mesin bekerja, maka paralel dengan itu waktu yang ada dapat digunakan untuk melakukan aktifitas lainnya misal memasak, mononton TV, baca buku, internet ataupun harus berkomunikasi dengan teman lainnya. Terlintas di pikiran untuk menghubungi teman lain, maka sekaligus teringat dimana dia menyimpan HP nya. Beberapa tempat telah dia chek berkali kali dan dia tidak dapat menemukan HP yang dicari, maka pikiran dipaksa mundur untuk mengingat beberapa aktifitas sebelumnya yang berhubungan dengan HP. Sesaat agak terkejut karena akhirnya dia menemukan kecurigaan dimana saat terakhir dia menyimpan HP, dan keterkejutan menjadi hebat karena memori ingatan tentang HP ini langsung tersambung dengan bunyi “glodhak glodhak” di dalam mesin cuci. “Waduh”, hanya itu yang dapat diucapkan, karena memang nggak ada hal lain yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan HP yang ikut tercuci di dalam mesin cuci. Pasrah menjadi kata pamungkas yang dapat menentramkan.

Mesin cuci selesai beroperasi, dengan harap harap cemas semua pakaian yang ada di keluarkan satu persatu. Dia masih berharap dan berdoa agar HP yang sudah dibanting banting di dalam mesin cuci selama kurang lebih 60 menit tadi paling tidak jangan hancur berantakan. Harapan yang wajar dan sederhana. Berharap untuk HP bisa dipakai lagi barangkali terlalu berlebihan, maka hatipun telah diletakkan pada tingkat keiklasan tertinggi. Dengan sedikit berdebar dia pilah pilah cuciannya untuk segera menemukan HPnya. Nampaknya keiklasan dan doanya dibayar kontan oleh Sang Pengendali Takdir. HP yang sudah dibanting mungkin ribuan kali di dalam mesin cuci selama satu jam tersebut tidak hancur berantakan. Masih utuh tersimpan dalam saku celana dalam kondisi OFF, dan basah kuyup. 100% doanya terkabul, “tidak hancur berantakan”. Nah, selanjutnya apa yang dapat diharapkan dari alat electronik yang sudah terendam dalam air dalam waktu yang tidak sebentar ini. Tidak ada. Sekali lagi, meskipun hati telah ditempatkan pada tingkat keiklasan yang tinggi, namun ketika melihat kondisi fisik HP setelah keluar dari mesin cuci dan tidak hancur berantakan maka tetep saja menggoda dan menimbulkan harapan baru. “Semoga airnya nggak sempat masuk ya !!” dan “ semoga masih bisa dipakai yaaaa!!!”. Dalam kondisi yang masih basah maka dia nggak berani mencoba langsung. Dia bersabar. Dia coba buka tutup nya, dan dia keringkan satu persatu. Sehari, dua hari hingga seminggu dia sabar menunggu. Tetapi masih ada keraguan apakah sudah kering atau belum. Takutnya kalau masih ada air yang terjebak akan membuat fatal, padahal kalaupun akhirnya tetap nggak bisa dipakai sebenarnya hatinya sudah siap menerima. Itulah dilema antara harapan dan kenyataan. Satu sandaran terakhir yang dia mintai tolong adalah mengajukan permohonan lagi kepada Sang Penentu Takdir lewat doa doa. Memang hanya itu yang bisa dilakukan.

Hari berikutnya mau nggak mau dia memberanikan diri untuk mengaktifkan HPnya. Ditetapkan hatinya untuk mencoba dengan resiko yang memang dia sudah siapkan. Dengan menyebut nama Tuhannya, dia pencet tombol pengaktifan. Beberapa saat menunggu, dia sendiri akhirnya terkejut karena HP nya masih bisa diaktifkan dan tetap memberikan tampilan seperti biasanya. Belum cukup lega hatinya meskipun sebagian doanya telah dikabulkan sebelum memfungsikan HP tsb untuk menelepon atau kirim sms. Tenyata kedua fungsi inipun berjalan dengan baik. Maka ucap syukur kepada Tuhannya dia ucapkan berkali kali atas dikabulkannya doanya.

Kegiatan engineering berjalan seperti biasanya, dan komunikasi antar teman berjalan seperti sedia kala. Tetapi ada sedikit keluhan dari beberpa teman lain karena merasa agak sulit menghubunginya lewat telepon. “Saya coba sms tapi nggak dibalas, saya coba telepon, nadanya sich ada tapi nggak diangkat”. Kira kira begitulah keluhan yang ada. Mau nggak mau hal tersebut harus dikonfirmasikan ke yang bersangkutan untuk mencegah salah pengertian. Setelah saling ketemu, tentu akhirnya diceritakanlah kisah tentang HP yang ikut tercuci itu, dengan ditutup kata penegas ,”maaf ya, sejak saya cuci itu memang suara HP ku jadi bening, sehingga nyaris tak terdengar”. Jawaban tersebut hanya menjadikan tawa semua yang mendengar kisahnya.

Beberapa bulan kemudian kisah HP ini berlanjut. Ketika HP itu ikut terendam dan tercuci, sepertinya HP itu terendam terlalu lama sehingga ukurannya melar dan membesar, dan ditergentnya juga mengandung clorin pemutih serta sedikit kebanyakan. Dampaknya baru terasa sekarang. HP itu kini berubah manjadi lebih besar, warna menjadi putih, dan tetap bening. Bahkan tulisan yang ada di dalam monitor ikut berhamburan keluar, berbaris berjejer dan menyusun diri sehingga terbaca menjadi “Samsung Galaxy S II LTE.”

 
Daejeon, Oktober 28 2012
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar