Bening…
Mati Ketawa Gaya Korea 20
|
M
|
encuci pakaian
adalah kegiatan rutin normal yang dilakukan siapa saja dan dimana saja agar
pakaian yang dikenakannya bersih. Namun kegiatan mencuci bagi para engineer
yang hidup di Korea ini menjadi berbeda. Justru perbedaannya terletak pada
ketersediaan alat yang mestinya dapat memudahkannya, yaitu mesin cuci. “Apa
sich sulitnya mencuci dengan mesin cuci?”, barang kali itu yang terpikir
diawalnya. Dari aspek tekonologi juga akan terasa sangat aneh kalau para
engineer perancang pesawat tempur kok nggak bisa mengoperasikan “hanya” sebuah
teknologi mesin cuci.
Dalam
perjalanannya ternyata kecanggihan kemampuan para engineer ini dengan sangat
mudah takluk oleh kendala “buta aksara”. Bagaimana tidak, semua mesin cuci yang
sudah disiapkan oleh pemilik apartemen berbahasa Korea, manual yang ada
berbahasa korea, sehingga praktis hanya bisa meng “ON” kan tanpa tahu apa yang
bisa dilakukan selanjutnya. Mau coba coba nggak berani, karena ada perasaan
takut salah yang bisa berakibat fatal. Maklum, mesin cuci nya lumayan canggih
dibanding dengan yang ada di rumah ketika masih di Indonesia sehingga kalau
sampai rusak karena salah pemakaian maka urusannya jadi rumit. Ketidaksanggupan
mengoperasikan mesin cuci ini berlangsung hingga beberapa minggu. Ada yang
mencoba mencari manual berbahasa Inggris di internet, namun gagal karena seri
dan model di masing masing negara memang sengaja dibedakan meskipun merk nya
sama. Ada yang malu bertanya dan cerita karena gengsi, “masak sich engineer kok
nggak bisa mengoperasikan mesin cuci?” Mungkin itu pikirnya, sehingga ada yang
memilih bertahan dengan mencuci cara primitif yaitu cara dikucek pakai tangan
langsung.
Bagi sebagian
lainnya yang tidak merasa gengsi atau
malu untuk bertanya maka dia tanyakan langsung ke partnernya yang Korea. Solusi
praktis untuk bertanya adalah dengan memotret langsung option dan tombol tombol
yang ada untuk selanjutnya ditunjukkan dan ditanyakan ke temannya yang Korea.
Dengan cara ini biasanya problem langsung solved.
Namun demikian di minggu minggu awal kehadirannya di Korea tidak semua
orang memiliki keberanian atau mempertaruhkan harga diri dengan bertanya hal
remeh urusan cuci mencuci. Apalagi saat itu intensitas keakraban dengan
karibnya yang Korea belumlah semuanya terbangun dengan baik.
Dengan berjalannya waktu problem cuci mencuci ini akhirnya terkuak juga.
Entah terpaksa atau memang sudah saatnya akhirnya cerita tentang cuci mencuci
ini mengemuka. Tentu Beberapa mesin cuci dari berbagai apartemen kebetulan
memiliki seri atau merk yang sama sehingga sekali seseorang sudah mengetahui
arti dari simbol-simbol option yang ada maka akan sangat mudah menularkannya ke
teman lainnya. Cukup pahami fungsi satu simbol, gunakan selamanya, titik.
Sekali ketemu cara menggunakan mesin cuci maka aktifitas mencuci menjadi
lebih intensif. Baju, jaket, celana, kaos, selimut, dll dll. Kotor dikit
langsung cuci. Seperti terjadi pada salah satu engineer yang tinggal jalan
Eungubi-ro 155beonan gil. Segala pakaian, celana dan apa saja yang sudah masuk
kategori kotor langsung diangkut bersama sama dan dimasukkan ke dalam mesin
cuci dengan begitu bersemangatnya. Cukup dengan memasukkan beberapa sendok
ditergent maka mesin akan bekerja dengan sendirinya dalam waktu yang sudah
ditentukan hingga bersih dan siap jemur. Cara berpikir yang wajar. Untuk mesin
cuci tipe front loading alias pintu bukaan depan maka memang agak sulit
mengatur keseimbangan beban cucian karena memang beban cucian diputar dengan
bidang putar vertikal. Dengan design seperti itu maka wajar saja kalau sering
kali kita mendengar getaran hebat karena ketidak seimbangan beban. Bahwa
kenyataannya yang terdengar ada tambahan suara “glodhak glodhak”, seperti benda
keras jatuh maka untuk sementara hal itu dicuekin aja, “ach paling mesin cuci
front loading emang kerjanya begitu”.
Selagi mesin bekerja, maka paralel dengan itu waktu yang ada dapat
digunakan untuk melakukan aktifitas lainnya misal memasak, mononton TV, baca
buku, internet ataupun harus berkomunikasi dengan teman lainnya. Terlintas di
pikiran untuk menghubungi teman lain, maka sekaligus teringat dimana dia
menyimpan HP nya. Beberapa tempat telah dia chek berkali kali dan dia tidak
dapat menemukan HP yang dicari, maka pikiran dipaksa mundur untuk mengingat
beberapa aktifitas sebelumnya yang berhubungan dengan HP. Sesaat agak terkejut
karena akhirnya dia menemukan kecurigaan dimana saat terakhir dia menyimpan HP,
dan keterkejutan menjadi hebat karena memori ingatan tentang HP ini langsung
tersambung dengan bunyi “glodhak glodhak” di dalam mesin cuci. “Waduh”, hanya
itu yang dapat diucapkan, karena memang nggak ada hal lain yang bisa dilakukan
untuk menyelamatkan HP yang ikut tercuci di dalam mesin cuci. Pasrah menjadi
kata pamungkas yang dapat menentramkan.
Mesin cuci selesai beroperasi, dengan harap harap cemas semua pakaian
yang ada di keluarkan satu persatu. Dia masih berharap dan berdoa agar HP yang
sudah dibanting banting di dalam mesin cuci selama kurang lebih 60 menit tadi
paling tidak jangan hancur berantakan. Harapan yang wajar dan sederhana. Berharap
untuk HP bisa dipakai lagi barangkali terlalu berlebihan, maka hatipun telah
diletakkan pada tingkat keiklasan tertinggi. Dengan sedikit berdebar dia pilah
pilah cuciannya untuk segera menemukan HPnya. Nampaknya keiklasan dan doanya
dibayar kontan oleh Sang Pengendali Takdir. HP yang sudah dibanting mungkin
ribuan kali di dalam mesin cuci selama satu jam tersebut tidak hancur
berantakan. Masih utuh tersimpan dalam saku celana dalam kondisi OFF, dan basah
kuyup. 100% doanya terkabul, “tidak hancur berantakan”. Nah, selanjutnya apa
yang dapat diharapkan dari alat electronik yang sudah terendam dalam air dalam
waktu yang tidak sebentar ini. Tidak ada. Sekali lagi, meskipun hati telah
ditempatkan pada tingkat keiklasan yang tinggi, namun ketika melihat kondisi
fisik HP setelah keluar dari mesin cuci dan tidak hancur berantakan maka tetep
saja menggoda dan menimbulkan harapan baru. “Semoga airnya nggak sempat masuk
ya !!” dan “ semoga masih bisa dipakai yaaaa!!!”. Dalam kondisi yang masih
basah maka dia nggak berani mencoba langsung. Dia bersabar. Dia coba buka tutup
nya, dan dia keringkan satu persatu. Sehari, dua hari hingga seminggu dia sabar
menunggu. Tetapi masih ada keraguan apakah sudah kering atau belum. Takutnya
kalau masih ada air yang terjebak akan membuat fatal, padahal kalaupun akhirnya
tetap nggak bisa dipakai sebenarnya hatinya sudah siap menerima. Itulah dilema
antara harapan dan kenyataan. Satu sandaran terakhir yang dia mintai tolong
adalah mengajukan permohonan lagi kepada Sang Penentu Takdir lewat doa doa.
Memang hanya itu yang bisa dilakukan.
Hari berikutnya mau nggak mau dia memberanikan diri untuk mengaktifkan
HPnya. Ditetapkan hatinya untuk mencoba dengan resiko yang memang dia sudah
siapkan. Dengan menyebut nama Tuhannya, dia pencet tombol pengaktifan. Beberapa
saat menunggu, dia sendiri akhirnya terkejut karena HP nya masih bisa
diaktifkan dan tetap memberikan tampilan seperti biasanya. Belum cukup lega
hatinya meskipun sebagian doanya telah dikabulkan sebelum memfungsikan HP tsb
untuk menelepon atau kirim sms. Tenyata kedua fungsi inipun berjalan dengan
baik. Maka ucap syukur kepada Tuhannya dia ucapkan berkali kali atas
dikabulkannya doanya.
Kegiatan engineering berjalan seperti biasanya, dan komunikasi antar
teman berjalan seperti sedia kala. Tetapi ada sedikit keluhan dari beberpa
teman lain karena merasa agak sulit menghubunginya lewat telepon. “Saya coba
sms tapi nggak dibalas, saya coba telepon, nadanya sich ada tapi nggak
diangkat”. Kira kira begitulah keluhan yang ada. Mau nggak mau hal tersebut
harus dikonfirmasikan ke yang bersangkutan untuk mencegah salah pengertian.
Setelah saling ketemu, tentu akhirnya diceritakanlah kisah tentang HP yang ikut
tercuci itu, dengan ditutup kata penegas ,”maaf ya, sejak saya cuci itu memang suara
HP ku jadi bening, sehingga nyaris tak terdengar”. Jawaban tersebut hanya
menjadikan tawa semua yang mendengar kisahnya.
Beberapa bulan kemudian kisah HP ini berlanjut. Ketika HP itu ikut
terendam dan tercuci, sepertinya HP itu terendam terlalu lama sehingga
ukurannya melar dan membesar, dan ditergentnya juga mengandung clorin pemutih
serta sedikit kebanyakan. Dampaknya baru terasa sekarang. HP itu kini berubah
manjadi lebih besar, warna menjadi putih, dan tetap bening. Bahkan tulisan yang
ada di dalam monitor ikut berhamburan keluar, berbaris berjejer dan menyusun
diri sehingga terbaca menjadi “Samsung Galaxy S II LTE.”
Daejeon, Oktober 28 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar