You are a driver, aren’t you?
Mati Ketawa Gaya Korea 21
|
P
|
enugasan di luar negeri dengan komunitas banyak
serta dalam bilangan waktu yang tidak sedikit memerlukan sarana transportasi
yang efektif. Kebetulan sekali dalam program ini tersedia dua kendaraan yang
memungkinkan untuk digunakan kapan saja bila diperlukan dan tentu dengan
sedikit syarat, cukup koordinasi dari pengelola mobil itu. Dengan ketersediaan
Starek dan sedan Sonata maka keleluasaan para engineer dalam mengisi waktu
untuk menjelajahi Korea apalagi di waktu libur dapat dikatakan hampir tak
terbatas. Sekali diketahui ada tempat yang pantas dikunjungi maka tidak ada
alasan untuk tidak dapat dikunjungi. Konsekuensi dari ini maka jangan heran
bila pada beberapa orang pertanyaannya bukan tempat mana saja yang sudah
dikunjungi tetapi sebaliknya tempat mana saja belum dikunjungi.
Jawaban pertanyaan kedua ini mungkin lebih mudah
karena jauh lebih sedikit dibanding jawaban pertanyaan pertama. Mulai pantai,
gunung, kota, kampung, danau, rumah makan, pasar, museum, pertokoan, dll sudah
pernah semua dijelajahi, bahkan ada beberapa diantaranya sudah dikunjungi lebih
dari sekali. Semua itu dapat terjadi atas jasa Starek dan Sedan sonata dan
tentu tidak lupa jasa jasa ketersediaan relawan relawan yang meluangkan diri
untuk mengemudi mengantar kemana saja. Tidak semua orang memiliki Driver
licence, oleh karena itu untuk hal tertentu maka mau nggak mau para relawan ini
mesti mengantar atau menemani kemanapun tujuannya. Untunglah relawan relawan
ini memiliki sikap hati yang serupa, semuanya ringan tangan dan rendah hati.
Apalagi untuk urusan penting dan mendesak ketika
musibah meninggalnya almarhum Bapak Untung Widjojono di Incheon Airport
beberapa saat yang lalu. Urusan sepenting dan mendesak seperti ini mau nggak
mau kehadiran CE selaku pimpinan di Korea sangat diperlukan. Jarak antara
Incheon dan Daejeon yang tidak dapat dianggap dekat sehingga kehadiran CE mau
nggak mau harus ditemani oleh seseorang yang kebetulan juga memiliki drive
licence, agar bila selama di Incheon dituntut untuk wira wiri atau harus kesana
kemari maka urusan menjadi tidak terkendala. Kebetulan pemilik drive licence
yang paling senior dan dianggap paling mengenal medan (tahu cara menggunakan
GPS) yang dipilih oleh CE untuk menemani. Pilihan yang tepat.
Urusan jenazah almarhum pak Untung ternyata tidak
bisa sederhana. Meskipun seluruh enginner dan keluarga mengharapkan agar
jenazah segera dipulangkan secepat mungkin tetapi polisi Korea tidak
mengijinkan sebelum dilakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa kasus ini
bukanlah kasus kriminal. Bagi seluruh anggota tim baik yang datang bersamaan
dengan pak Untung saat itu ataupun anggota tim yang telah berada di Korea
sebelumnya, hampir semua menyakini bahwa tidak ada unsur kriminal dalam kasus
meninggalnya almarhum pak Untung ini, tetapi polisi punya hak khusus untuk
tetap curiga. Tidak ada pilihan lain maka investigasi harus dilakukan.
Logika polisi, kalau ada unsur kriminal maka yang
paling dekat dengan TKP yang pantas dicurigai pertama kali, yaitu teman
temannya yang datang bareng bersamanya atau yang berhubungan dengan itu. Semua
dipanggil polisi satu persatu untuk dimintai keterangan. Tidak cukup hanya itu,
polisi memerlukan keterangan dari saudara deket pak Untung untuk memastikan
keadaan dan latarbelakang pak Untung. Misal apakah pak Untung punya musuh,
punya masalah pribadi dengan orang lain, ada perjanjian bisnis yang mungkin
beresiko, atau memegang informasi sangat penting, dll, dll. Singkat kata polisi
tidak akan melewatkan satu kemungkinan sekecil apapun sebelum memastikannya
dengan cara memeriksanya. Mau nggak mau, saudara pak Untung harus dihadirkan
untuk memberi keterangan pada polisi dan kehadiran saudara pak Untung ini mau
nggak mau harus dijemput dan diantar kemanapun untuk mendukung investigasi
polisi. Lagi lagi diperlukan seorang
untuk menjemput dan membantu segala sesuatunya bahkan mengantar dan
menemaninya saat memberi keterangan dihadapan polisi. Tentu engineer pemegang
drive licence senior yang harus menghadle urusan ini.
Namun demikian meskipun ada saudara pak Untung yang
telah datang, sesungguhnya pengetahuannya tentang pak Untung apalagi tentang
kejadian ini sangatlah minim, kalau tidak mau disebut sebagai nggak tahu sama
sekali. Hal ini dipahami karena saudara pak Untung ini bukanlah orang yang
sehari harinya dekat dengan beliau. Bagi keluarga pak Untung, orang ini dipilih
karena laki laki, yang diharapkan lebih tangguh dan dapat membereskan masalah
dengan cepat, khususnya untuk mempercepat proses pengurusan jenazah pak Untung
agar dapat segera dikirim ke Indonesia dan bukan untuk membantu investigasi
polisi.
Maka wajar saja kalau dia tidak banyak tahu urusan
ini, sehingga tidak banyak info yang dapat diberikan kepada polisi saat
investigasi. Tentu akhirnya justru banyak info tergali dari engineer pengantar
itu, yang kebetulan memang lebih tahu dari saudara pak Untung itu. Akhirnya
justru beberapa pertanyaan polisi bukan lagi ke saudara pak Untung tetapi
berbelok ke arah engineer senior pengantar itu. Masalahnya menjadi sedikit
rumit karena tentu sebelumnya si engineer harus memperkenalkan saudara pak
Untung itu kepada polisi, dan menjadi prosedur standar pula bila si engineer
juga ditanya,”anda sendiri siapa?”.
Tidak di Indonesia dan tidak pula di Korea bahwa
hampir semua orang sepakat kalau bisa, menghindar jauh dari berurusan polisi.
Bahwa keadaan memaksa harus berurusan dengan polisi meskipun hanya sebagai
pengantar maka tetap saja harus pandai pandai memilih kata dalam menjawab
pertanyaan polisi bila diperlukan. Atas pertanyaan itu maka terjadi sedikit
kebimbangan. Mau dijawab sebagai engineer yang dalam logika polisi dianggap
satu kepentingan dengan pak Untung maka ntar urusannya jadi rumit karena pasti
akan dinterogasi lebih detail. Itu yang ingin dihindari, maka dia rela
merendahkan diri dengan menyembunyikan keahlian keinsinyuran-nya dengan cukup
menjawab, “saya hanya pengantar”.
Awalnya sangat melegakan hati karena terbebas dari
ikut ditanya-tanya tentang peristiwa kematian pak Untung. Namun demikian bahwa
faktanya dia memang tahu beberapa hal maka maka diapun tergelitik untuk ikut
menjelaskan sedikit sedikit kebenaran kejadiannya menurut versi yang dia
ketahui dengan niat membantu saudara pak Untung yang nampaknya memang harus
dibantu. Tanpa terasa intensitas komunikasi polisi, saudara pak Untung dan
engineer senior ini justru membangkitkan kecurigaan polisi.
Bagi polisi, menjadi sangat aneh kalau orang yang
dikenalkan sebagai saudara pak Untung tetapi tidak tahu seluk beluk tentang
saudaranya, sementara orang yang mengenalkan diri sebagai pengantar malah tahu
banyak. Tentu menjadi kecurigaan yang wajar. Bagi polisi, “ada apa ini?”.
“siapa sedang menyembunyikan apa?”.
Kecurigaan polisi ini akhirnya ternyatakan juga
ketika polisi menunjukkan keheranannya atas kejelasan pengetahuan si engineer
senior atas latar belakang pak Untung dan juga atas kejadian kematian pak
Untung ini.
Begitu ditanya, “sebenarnya anda ini siapa sich? Kok
anda malah tahu banyak urusan ini?.” Tentu ini pertanyaan yang sungguh tak
terduga bagi si engineer.
Awalnya dia mau jujur bahwa dia adalah engineer ahli
pesawat terbang, tetapi kebayang kerepotannya karena harus menjelaskan banyak
hal lagi yang salah salah bisa lebih rumit situasinya. Tapi terus mau dijawab
apa?. Polisi seperti tahu bahwa dia kebingungan, maka ditegaskan saja oleh
polisi, “you are driver, aren’t you?”.
Translater yang ada di memorinya langung bekerja menterjemahkan
pertanyaan itu, dan tidak ada arti lain yang lebih halus dari kalimat itu
selain “kamu sopir kan?”. Dia adalah engineer senior, specialist engineer, dia
adalah leader engineer, bahkan dia pernah menjadi CE. Bukan gelar, jabatan dan
keahlian yang sembarangan. Dan pertanyaan itu benar benar sangat merendahkan
harkat dan martabatnya sebagai specialist engineer, sebagai leader engineer.
Namun dia juga tidak bisa menyalahkan polisi itu
karena diawal pertemuan dia memang memperkenalkan diri sebagai pengantar yang
oleh polisi diterjemahkan sebagai “sopir”. Sempat terjadi kegalauan didalam
menjawab pertanyaan ini, namun sepertinya secara intuitif polisi juga tahu
bahwa si “sopir” ini memang tidak terlibat apa apa. Barangkali kebetulan saja
dia yang mengantar kesana kemari sehingga dia bisa menyerap info lebih banyak.
Bahwa bisa jadi juga sampai akhir investigasi polisi tetap tidak tahu bahwa si
“sopir” ini adalah seorang specialist engineer, itu sudah tidak penting lagi.
Begitu urusan selesai, ada perasaan lega, meskipun
dihadapan polisi dia kehilangan “gelar keahliannya”. Dianggap sebagai “sopir”
tidak apa apalah, asal urusan segera selesai. Sungguh penyikapan yang sangat
mulia.
“You are driver, aren’t you?”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar