Jumat, 07 Oktober 2016

You are a driver, aren’t you?


You are a driver, aren’t you?
Mati Ketawa Gaya Korea 21

P

enugasan di luar negeri dengan komunitas banyak serta dalam bilangan waktu yang tidak sedikit memerlukan sarana transportasi yang efektif. Kebetulan sekali dalam program ini tersedia dua kendaraan yang memungkinkan untuk digunakan kapan saja bila diperlukan dan tentu dengan sedikit syarat, cukup koordinasi dari pengelola mobil itu. Dengan ketersediaan Starek dan sedan Sonata maka keleluasaan para engineer dalam mengisi waktu untuk menjelajahi Korea apalagi di waktu libur dapat dikatakan hampir tak terbatas. Sekali diketahui ada tempat yang pantas dikunjungi maka tidak ada alasan untuk tidak dapat dikunjungi. Konsekuensi dari ini maka jangan heran bila pada beberapa orang pertanyaannya bukan tempat mana saja yang sudah dikunjungi tetapi sebaliknya tempat mana saja belum dikunjungi.

Jawaban pertanyaan kedua ini mungkin lebih mudah karena jauh lebih sedikit dibanding jawaban pertanyaan pertama. Mulai pantai, gunung, kota, kampung, danau, rumah makan, pasar, museum, pertokoan, dll sudah pernah semua dijelajahi, bahkan ada beberapa diantaranya sudah dikunjungi lebih dari sekali. Semua itu dapat terjadi atas jasa Starek dan Sedan sonata dan tentu tidak lupa jasa jasa ketersediaan relawan relawan yang meluangkan diri untuk mengemudi mengantar kemana saja. Tidak semua orang memiliki Driver licence, oleh karena itu untuk hal tertentu maka mau nggak mau para relawan ini mesti mengantar atau menemani kemanapun tujuannya. Untunglah relawan relawan ini memiliki sikap hati yang serupa, semuanya ringan tangan dan rendah hati.

Apalagi untuk urusan penting dan mendesak ketika musibah meninggalnya almarhum Bapak Untung Widjojono di Incheon Airport beberapa saat yang lalu. Urusan sepenting dan mendesak seperti ini mau nggak mau kehadiran CE selaku pimpinan di Korea sangat diperlukan. Jarak antara Incheon dan Daejeon yang tidak dapat dianggap dekat sehingga kehadiran CE mau nggak mau harus ditemani oleh seseorang yang kebetulan juga memiliki drive licence, agar bila selama di Incheon dituntut untuk wira wiri atau harus kesana kemari maka urusan menjadi tidak terkendala. Kebetulan pemilik drive licence yang paling senior dan dianggap paling mengenal medan (tahu cara menggunakan GPS) yang dipilih oleh CE untuk menemani. Pilihan yang tepat.

Urusan jenazah almarhum pak Untung ternyata tidak bisa sederhana. Meskipun seluruh enginner dan keluarga mengharapkan agar jenazah segera dipulangkan secepat mungkin tetapi polisi Korea tidak mengijinkan sebelum dilakukan pemeriksaan untuk memastikan bahwa kasus ini bukanlah kasus kriminal. Bagi seluruh anggota tim baik yang datang bersamaan dengan pak Untung saat itu ataupun anggota tim yang telah berada di Korea sebelumnya, hampir semua menyakini bahwa tidak ada unsur kriminal dalam kasus meninggalnya almarhum pak Untung ini, tetapi polisi punya hak khusus untuk tetap curiga. Tidak ada pilihan lain maka investigasi harus dilakukan.

Logika polisi, kalau ada unsur kriminal maka yang paling dekat dengan TKP yang pantas dicurigai pertama kali, yaitu teman temannya yang datang bareng bersamanya atau yang berhubungan dengan itu. Semua dipanggil polisi satu persatu untuk dimintai keterangan. Tidak cukup hanya itu, polisi memerlukan keterangan dari saudara deket pak Untung untuk memastikan keadaan dan latarbelakang pak Untung. Misal apakah pak Untung punya musuh, punya masalah pribadi dengan orang lain, ada perjanjian bisnis yang mungkin beresiko, atau memegang informasi sangat penting, dll, dll. Singkat kata polisi tidak akan melewatkan satu kemungkinan sekecil apapun sebelum memastikannya dengan cara memeriksanya. Mau nggak mau, saudara pak Untung harus dihadirkan untuk memberi keterangan pada polisi dan kehadiran saudara pak Untung ini mau nggak mau harus dijemput dan diantar kemanapun untuk mendukung investigasi polisi. Lagi lagi diperlukan seorang  untuk menjemput dan membantu segala sesuatunya bahkan mengantar dan menemaninya saat memberi keterangan dihadapan polisi. Tentu engineer pemegang drive licence senior yang harus menghadle urusan ini.

Namun demikian meskipun ada saudara pak Untung yang telah datang, sesungguhnya pengetahuannya tentang pak Untung apalagi tentang kejadian ini sangatlah minim, kalau tidak mau disebut sebagai nggak tahu sama sekali. Hal ini dipahami karena saudara pak Untung ini bukanlah orang yang sehari harinya dekat dengan beliau. Bagi keluarga pak Untung, orang ini dipilih karena laki laki, yang diharapkan lebih tangguh dan dapat membereskan masalah dengan cepat, khususnya untuk mempercepat proses pengurusan jenazah pak Untung agar dapat segera dikirim ke Indonesia dan bukan untuk membantu investigasi polisi.

Maka wajar saja kalau dia tidak banyak tahu urusan ini, sehingga tidak banyak info yang dapat diberikan kepada polisi saat investigasi. Tentu akhirnya justru banyak info tergali dari engineer pengantar itu, yang kebetulan memang lebih tahu dari saudara pak Untung itu. Akhirnya justru beberapa pertanyaan polisi bukan lagi ke saudara pak Untung tetapi berbelok ke arah engineer senior pengantar itu. Masalahnya menjadi sedikit rumit karena tentu sebelumnya si engineer harus memperkenalkan saudara pak Untung itu kepada polisi, dan menjadi prosedur standar pula bila si engineer juga ditanya,”anda sendiri siapa?”.

Tidak di Indonesia dan tidak pula di Korea bahwa hampir semua orang sepakat kalau bisa, menghindar jauh dari berurusan polisi. Bahwa keadaan memaksa harus berurusan dengan polisi meskipun hanya sebagai pengantar maka tetap saja harus pandai pandai memilih kata dalam menjawab pertanyaan polisi bila diperlukan. Atas pertanyaan itu maka terjadi sedikit kebimbangan. Mau dijawab sebagai engineer yang dalam logika polisi dianggap satu kepentingan dengan pak Untung maka ntar urusannya jadi rumit karena pasti akan dinterogasi lebih detail. Itu yang ingin dihindari, maka dia rela merendahkan diri dengan menyembunyikan keahlian keinsinyuran-nya dengan cukup menjawab, “saya hanya pengantar”.

Awalnya sangat melegakan hati karena terbebas dari ikut ditanya-tanya tentang peristiwa kematian pak Untung. Namun demikian bahwa faktanya dia memang tahu beberapa hal maka maka diapun tergelitik untuk ikut menjelaskan sedikit sedikit kebenaran kejadiannya menurut versi yang dia ketahui dengan niat membantu saudara pak Untung yang nampaknya memang harus dibantu. Tanpa terasa intensitas komunikasi polisi, saudara pak Untung dan engineer senior ini justru membangkitkan kecurigaan polisi.

Bagi polisi, menjadi sangat aneh kalau orang yang dikenalkan sebagai saudara pak Untung tetapi tidak tahu seluk beluk tentang saudaranya, sementara orang yang mengenalkan diri sebagai pengantar malah tahu banyak. Tentu menjadi kecurigaan yang wajar. Bagi polisi, “ada apa ini?”. “siapa sedang menyembunyikan apa?”.

Kecurigaan polisi ini akhirnya ternyatakan juga ketika polisi menunjukkan keheranannya atas kejelasan pengetahuan si engineer senior atas latar belakang pak Untung dan juga atas kejadian kematian pak Untung ini.

Begitu ditanya, “sebenarnya anda ini siapa sich? Kok anda malah tahu banyak urusan ini?.” Tentu ini pertanyaan yang sungguh tak terduga bagi si engineer.

Awalnya dia mau jujur bahwa dia adalah engineer ahli pesawat terbang, tetapi kebayang kerepotannya karena harus menjelaskan banyak hal lagi yang salah salah bisa lebih rumit situasinya. Tapi terus mau dijawab apa?. Polisi seperti tahu bahwa dia kebingungan, maka ditegaskan saja oleh polisi, “you are driver, aren’t you?”.  Translater yang ada di memorinya langung bekerja menterjemahkan pertanyaan itu, dan tidak ada arti lain yang lebih halus dari kalimat itu selain “kamu sopir kan?”. Dia adalah engineer senior, specialist engineer, dia adalah leader engineer, bahkan dia pernah menjadi CE. Bukan gelar, jabatan dan keahlian yang sembarangan. Dan pertanyaan itu benar benar sangat merendahkan harkat dan martabatnya sebagai specialist engineer, sebagai leader engineer.

Namun dia juga tidak bisa menyalahkan polisi itu karena diawal pertemuan dia memang memperkenalkan diri sebagai pengantar yang oleh polisi diterjemahkan sebagai “sopir”. Sempat terjadi kegalauan didalam menjawab pertanyaan ini, namun sepertinya secara intuitif polisi juga tahu bahwa si “sopir” ini memang tidak terlibat apa apa. Barangkali kebetulan saja dia yang mengantar kesana kemari sehingga dia bisa menyerap info lebih banyak. Bahwa bisa jadi juga sampai akhir investigasi polisi tetap tidak tahu bahwa si “sopir” ini adalah seorang specialist engineer, itu sudah tidak penting lagi.

Begitu urusan selesai, ada perasaan lega, meskipun dihadapan polisi dia kehilangan “gelar keahliannya”. Dianggap sebagai “sopir” tidak apa apalah, asal urusan segera selesai. Sungguh penyikapan yang sangat mulia.

“You are driver, aren’t you?”.

 Daejeon, Oktober 29 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar