Minggu, 15 Januari 2017

여보세요 (Yeoboseyo)


여보세요 (Yeoboseyo)
Mati Ketawa Gaya Korea (13) 
 
Ketika dering panggilan telepon HP berbunyi dari nomor yang tidak dikenal, tak biasanya terjadi kepanikan kecil. Kali ini terjadi di kubik Air Vehicle Design. Panik karena tidak tahu dari siapa, apa yang akan ditanyakan apalagi harus menjawab. Dan lagi, sungguh takut untuk diabaikan kalau kalau itu telpon penting. Berbagai kemungkinan bisa saja terjadi karena setelah beberapa bulan berada di Korea, data pribadi alias nomor HP sudah mulai bertebaran misal ke Kantor Imigrasi dan Woori bank. Dalam situasi seperti ini, solusi cepat dan cerdas segera dipilih yaitu memberikan ke temen Korea yang kebetulan menjadi perwakilan di kubik yang ada. Setelah menunggu sesaat komunikasi engineer Korea dengan si penelepon, segera saja berondongan pertanyaan muncul dari si empunya HP.
“What happen?”
“Where is the call from?” Atau
“What he asked?”
Kali ini dijawab sederhana,
“It is no problem”.
Dijawab begitu si pemilik HP juga tidak terlalu memaksa untuk minta penjelasan lebih jauh. Dengan berjalannya waktu, aktifitas engineer Indonesia di Korea juga semakin luas. Misal sudah memiliki akun Woori bank, sudah menjadi member G Market, sudah bisa order Taxi, sudah berani beli barang secara online, dan lain sebagainya. Kemajuan yang sewajarnya. Ketika pada kesempatan lain ada panggilan telepon HP berdering lagi, kepanikan kecil berulang. Situasi kepanikan yang sama. Hanya sayangnya kali ini tidak ada engineer Korea yang stanby di tempat. Maka harus dicari siapa yang paling pas dimandati untuk menjawab telepon itu. Kebetulan, dari pengamatan keseharian, yang dianggap paling intens telah belajar bahasa Korea, telah mempraktekkan bahasa Korea hingga dialek dan cengkok cengkoknya secara pas adalah engineer configuration design. Kalau kita hanya mendengar suaranya, pasti kita tidak tahu bahwa itu diucapkan oleh gadis periang asal Palembang, bukan orang Korea. Maka ketika HP itu diberikan, tanpa canggung segera saja terjadi komunikasi dalam bahasa Korea dengan dialek yang sungguh Korea.
“Yeoboseyo ?”, begitu gadis itu memulai komunikasi.
Sesaat kemudian, dia mendengarkan dengan sungguh sungguh apa yang diucapkan oleh si penelepon sambil sesekali mengucapkan
“Ne...” “Ne ...” “Ne...”
Setelah mendengarkan dengan seksama, sesaat kemudian segera saja dibalas,
“Jonen, hanggug mal jalmo teo.”
Mendengar jawaban itu, sepertinya si penelepon masih berusaha untuk menjelaskan maksudnya, sementara si penerima hanya “Ne...”, “Ne....”, “Ne .....” dan diikuti dengan kalimat serupa dengan sedikit penegasan,
“Jonen, hanggug mal jalmo teo”
Sesaat kemudian,
“Gamsa hamnida”, tanda bahwa komunikasi itu berakhir.
Segera saja pemilik HP menghampiri sambil bertanya,
“Siapa tadi?, apa yang ditanyakan?”
Namun, engineer gadis itu dengan enteng menjawab,
“Nggak tau pak?. Wong saya juga nggak ngerti dia ngomong apa.”
“Halah...begitu?”, Si pemilik HP hanya bisa maklum dan mahfum. Ternyata baru segitu level bahasa Koreanya. Meskipun begitu, itu tetep sebuah prestasi karena bermodalkan Yeoboseyo sudah berani menjawab telepon.
Nampaknya itu bukan hal yang terakhir terjadi, dan selalu saja gadis periang itulah yang menjadi pilihan untuk membantu menjawab setiap ada telopon tak dikenal yang masuk ke HP. Begitu seringnya, hingga engineer dari kubik lain seakan hafal kalimat dialog yang diucapkan,
“1. Yeoboseyo...”
“2. Ne...ne..ne...”
“3. Jonen Hanggug mal jalmo teo”
“4. Gamsahamnida”
Empat kalimat dialog yang gampang diingat oleh engineer dari kubik lain.
Waktu berjalan, kejadian serupa terjadi, tetapi sepertinya kali ini adalah panggilan telepon untuk engineer gadis itu sendiri. Ketika komunikasi akan dimulai, engineer kubik lain sudah mulai menghitung dan menebak kalimat dialog,
Kalimat pertama, “1. Yeoboseyo...”, “nah benarkan? “
Berikutnya, “2. Ne... ne...ne....”, “hehehe tuh kan? “
Begitu kalimat dialog ke 3, semua menduga akan muncul “Jonen hanggug mal jalmo teo.”, tetapi ternyata bukan.
“Wah ada kemajuan nich...”, semua mencoba membatin. Kelimat berikutnya yang muncul adalah,
“pekeji?... pekeji?...”
Dibarengi dengan, “Ne..Ne..Ne..”
Disambut komentar tak terucap dari para penguping,
“Wah sudah bisa bertanya, berarti sudah tau apa yang diomongkan si penelepon ya?”, para penguping segera mengekstrapolasi situasi komunikasi kemampuan berbahasa Korea gadis engineer ini. Tidak berhenti disitu dialognya, dilanjutkan dengan,
“Muni codenen yug gong gong pal ibnida”, kalimat yang dialeknya diucapkan dalam bahasa Korea yang sungguh pas ditelinga.
Terus,
“Ne..ne..ne..”
“Gamsa hamnida”.
Penasaaran akan kalimat baru yang muncul dalam kalimat dialog, segera saja ditanyakan langsung.
“Wah kok beda?, Muni kodenen dan seterusnya tadi apa artinya?”
Seperti biasa, gadis periang ini menjawab seperti gemericik air pancuran, segar,
“Ooo itu lho pak...”
“Saya order barang, dan dia mau ngirim paketnya”
Langsung disambar dengan pertanyaan berikutnya,
“Kok tau kalau itu mau kirim paket?”
Dijelaskan, “Makanya saya tanya ke dia, pekeji, pekeji?”
Masih agak bingung, “kok pekeji jadi paket?”
Dengan tertawa dijelaskan lagi
“Itu dari bahasa Inggris pak, mereka dikit dikit juga tahu bahasa Inggris meskipun bunyi beda dengan yang kita kenal selama ini. Pekeji itu packedge paaaaaakkk...”
“Woalah.....lha kalau muni kodenen?”
Dengan enteng dijawab, “Kita kan sering pakai lift pak, begitu kita dengar kata ‘muni’ di lift, ternyata pintu mbuka atau nutup. Ya aku kira-kira aja bahwa muni itu pintu”,
Masih penasaran, “trus...?”
“kalau kodenen itu kode, jadi pokoknya aku ngarang aja. Karena mau ngomong kode pintu, ya bgitu itu keluarnya, muni kodenen”
“terus pokoknya harus ditutup dengan kata ibnida, ...hehehehe”, logika bahasa yang sungguh sedrhana.
“yang penting dia ngertikan, pak?”
“ya..ya..ya betul”, komentar si penanya.
“lha terus Jonen hanggug mal jalmo teo itu apa?”
“Aku nggak bisa ngomong bahasa Korea”
Woalah.....
Sacheon, 15 Januari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar