Mati Ketawa Gaya Korea (14).
Minak Jinggo, yang bagi masyarakat sekarang lebih dikenal hanya sebagai merek rokok kretek, padahal sebenarnya Minak Jinggo adalah nama tokoh besar sejarah awal Majapahit untuk wilayah ujung Jawa timur, yaitu Blambangan atau sekarang lebih dikenal sebagai kota Banyuwangi. Di wilayah Banyuwangi, hampir tidak ada yang tidak kenal nama ini. Menurut berbagai sumber Minak Jinggo adalah pemuda tampan yang sekaligus Adipati Blambangan yang memiliki nama asli Brewirabumi. Sebagai adipati dia sangat piawai menggerakkan rakyatnya, karena tanpa itu mustahil rakyatnya menyokong kepemimpinannya. Sebelum menjadi adipati, ketokohan Brewirabumi bersinar ketika berhasil memenangi sayembara dari Ratu Majapahit saat itu yaitu membunuh pemberotak yang sakti mandra guna yang bernama Kebo Marcuet. Sayangnya keberhasilan Brewirabumi ini harus dibayar mahal dengan kerusakan wajah dan hilangnya ketampanannya tapi tidak ketegasan dan keberaniannya. Kalau akhirnya dia dicatat sejarah sebagai pemberontak, hal ini lebih disebabkan oleh ingkarnya Ratu Majapahit untuk memenuhi janjinya menerima pinangan Brewirabumi ketika dia berhasil memenagi sayembara.
Ketika Brewirabumi sebagai adipati, dan berhasil mengalahkan
Kebo Marcuet yang sakti, maka dapat dibayangkan bahwa dia pastilah pemuda yang
gagah, tegap, trampil dan tegas serta lugas ketika berbicara. Bahkan ketika dia
berhadapan langsung dengan Kebo Marcuet, barangkali kemampuan komunikasi dan
diplomasinya menjadi salah satu faktor keberhasilan meruntuhkan keyakinan dan
semangat Kebo Marcuet sehingga bisa dikalahkan.
Membayangkan tokoh Brewirabumi yang hidup di jaman Majapahit
tentulah sungguh tidak mudah. Ketika waktu telah berjalan cukup lama dan
dinamika budaya bergeser, namun tidak berlebihan bila karakteristik suatu kaum
dapat diraba dengan kaum yang tertinggal saat ini, meskipun tentu ada distorsi
disana sini. Melihat watak-wataknya, karakteristiknya, atau fisiknya,
barangkali, sekali lagi barangkali Brewirabumi akan mirip seperti pemuda
Banyuwangi saat ini yaitu memiliki wajah dengan karakter keras, kumis lebat dan
mata bersinar, dan tentu cerdas dan tegas.
Karakter kepemimpinan tegas dan lugas Brewirabumi ini
sepertinya terbawa hingga ke Sacheon Korea. Meskipun dalam hal-hal tertentu
nampak muncul seperti karakter pemberontak, padahal sama sekali tidak. Semua
itu dilakukan Brewirabumi karena membela hak yang mestinya dia dapatkan. Bahkan
ditimbang dengan seksama, apa yang dilakukan di Sacheon ini semata mata
memperjuangkan hak rakyatnya, hak warganya atas segala apa yang sudah dijanjikan.
Dan semua ini adalah amanah yang melekat di pundaknya. Bahwa sebenarnya memang
ada kepentingan dia juga, maka itu sungguh tidak nampak dalam pidatonya saat
diberi kesempatan menyampaikan uneg-unegnya dalam suatu kesempatan.
Sebut saja urusan HP. Tidak terbantahkan bahwa dalam
penugasan ke Korea ini perusahaan merasa perlu untuk membuat perjanjian dengan
karyawannya sendiri demi agar dapat dipegang komitmentnya. Dan untuk itu
perusahaan juga berjanji akan memberikan beberapa fasilitas demi kelancaran
pelaksanaan tugas, salah satunya adalah HP.
Dikarenakan satu dan lain hal ternyata eksekusi masalah HP ini tidak
sesuai seperti yang diharapkan. Karena ini akan berdampak pada kesejahteraan
rakyatnya maka dalam forum dewan perwakilan rakyat di Sacheon ini, engineer
yang memiliki jiwa, ruh dan semangat Brewirabumi ini seperti mendapat
kesempatan untuk memperjuangkan kepentingan warganya sekaligus meneguhkan ke
Brewirabumi annya. Dalam forum perwakilan yang terhormat itu, pihak managemen
telah mencoba menjelaskan situasi dan berbagai alternatif solusinya, namun
sepertinya tidak cocok dengan harapan. Ruh Bewirabumi yang melekat pada
perwakilan Apartemen Modern House ini seakan bangkit, berargumentasi panjang
lebar, jelas dan tegas menyampaikan yang intinya adalah mohon warga diijinkan
untuk tidak mengambil hak atas HP itu karena berdampak pada kewajiban iuran
atas pemakaian HP itu. Bahkan diyakinkan oleh dia bahwa kalau warga tidak
mengambil hak atas HP itu akan membantu mengurangi pengeluaran perusahaan.
Namun tidak demikian logika managemen. Anggaran yang sudah
direncanakan harus dibelanjakan sesuai dengan rencana, bahwa akhirnya kurang
maka perlu dicari sulusinya dengan tetap berpedoman pada kuantitas dan kualitas
yang disebutkan dalam surat keputusan perusahaan. Alasan lainnya adalah karena
ini menyangkut faktor keamanan yang harus dipenuhi oleh setiap karyawan yang
masuk di KAI dimana untuk itu memerlukan HP dengan spesifikasi yang dapat
diinstall software pengatur keamanan (MDM). Penjelasan manageman ini tidak
cukup dapat melunakkan hati engineer titisan Minak Jinggo ini.
“Coba dibayangkan, saya sudah punya 3 buah HP meskipun
second tapi ini sudah memenuhi syarat untuk dapat di install MDM karena saya
belinya juga di Korea. Masak saya harus punya 4 buah?”, begitu dia memulai
argumennya.
“Dan lagian kalau iuran bulanan untuk pulsanya segitu, itu
kalau dihitung-hitung dalam setahun sudah bisa tuk beli HP baru”
“Lha ini gimana, sudah iuranannya segitu, eeee...Hpnya gak
bis dimiliki. Capek deh....” Argumen wakil Apartemen Modern House ini sebenarnya masuk akal dan jelas, sejelas seperti Minak Jinggo menuntut janji Ratu Suhita (Kencono Wungu), tetapi tetap saja managemen memohon dengan sangat pengertian seluruh warga demi kelangsungan program yang masih akan lama berjalan. Mendengarkan penjelasan ini dia hanya bergumam,
“Wong ide ini untuk mengurangi beban perusahaan kok malah
ditolak...”
Perdebatan masalah HP ini terus saling bersahut dan memang hati
titisan Minak Jinggo ini tidak gampang luruh. Dalam situasi setengah deadlock
itu munculah ide triki tingkat tinggi, barangkali seperti trik diplomasi
Damarwulan ketika mengalahkan dan mematahkan perlawanan Brewirabumi ini
terhadap Majapahit. Tiba-tiba salah seorang yang hadir angkat tangan untuk urun
bicara,
“Bapak-bapak, kalau kita perhatikan dengan sungguh-sungguh,
sebenarnya argumen dari rekan perwakilan Apartemen Modern House ini sungguh
baik dan perlu dipertimbangkan. Karena sungguh mulia niatan warga Apartemen
Modern House untuk membantu meringankan beban perusahaan”
Sesaat wakil Apartemen Modern House ini sumringah karena
mendapat sokongan pendapat yang sesuai dengan usulannya.
“Bahwa wakil Apartemen Modern House mengusulkan untuk tidak
mengambil hak atas HP yang disediakan perusahaan, saya kira itu bisa dibenarkan
dan sebaiknya dipenuhi saja. Toh hanya itu yang dituntutnya kan?. Dengan
demikian dia bahagia, karena harapannya dipenuhi”.
Semua terdiam sambil melirik respon bapak managemen atas
sokongan pendapat ini. Sebelum akhir, argumen ini dipertegas lagi.
“Jadi menurut saya, penuhi saja usulannya, biarkan HP untuk
beliau tidak diambil kalau memang beliau nggak mau ambil ........”
Seakan semua diam karena mencoba menebak apa akhir
kalimatnya.
“Hanya,......... kalau iurannya ya tetep harus dibayar” “Kan beliau hanya tidak ingin ambil HP nya tho?.”
“Gimana bapak-bapak, semua setuju kan ?”
Sontak semua tertawa tanda setuju, kecuali satu orang terdiam karena sepertinya ruh Brewirabumi yang sudah pergi entah kemana.
Sacheon, 18 Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar