Rabu, 18 Januari 2017

Semangat Ruh Brewirabumi

Semangat Ruh Brewirabumi
Mati Ketawa Gaya Korea (14).

Minak Jinggo, yang bagi masyarakat sekarang lebih dikenal hanya sebagai merek rokok kretek, padahal sebenarnya Minak Jinggo adalah nama tokoh besar sejarah awal Majapahit untuk wilayah ujung Jawa timur, yaitu Blambangan atau sekarang lebih dikenal sebagai kota Banyuwangi. Di wilayah Banyuwangi, hampir tidak ada yang tidak kenal nama ini. Menurut berbagai sumber Minak Jinggo adalah pemuda tampan yang sekaligus Adipati Blambangan yang memiliki nama asli Brewirabumi. Sebagai adipati dia sangat piawai menggerakkan rakyatnya, karena tanpa itu mustahil rakyatnya menyokong kepemimpinannya. Sebelum menjadi adipati, ketokohan Brewirabumi bersinar ketika berhasil memenangi sayembara dari Ratu Majapahit saat itu yaitu membunuh pemberotak yang sakti mandra guna yang bernama Kebo Marcuet. Sayangnya keberhasilan Brewirabumi ini harus dibayar mahal dengan kerusakan wajah dan hilangnya ketampanannya tapi tidak ketegasan dan keberaniannya. Kalau akhirnya dia dicatat sejarah sebagai pemberontak, hal ini lebih disebabkan oleh ingkarnya Ratu Majapahit untuk memenuhi janjinya menerima pinangan Brewirabumi ketika dia berhasil memenagi sayembara.

Ketika Brewirabumi sebagai adipati, dan berhasil mengalahkan Kebo Marcuet yang sakti, maka dapat dibayangkan bahwa dia pastilah pemuda yang gagah, tegap, trampil dan tegas serta lugas ketika berbicara. Bahkan ketika dia berhadapan langsung dengan Kebo Marcuet, barangkali kemampuan komunikasi dan diplomasinya menjadi salah satu faktor keberhasilan meruntuhkan keyakinan dan semangat Kebo Marcuet sehingga bisa dikalahkan.
Membayangkan tokoh Brewirabumi yang hidup di jaman Majapahit tentulah sungguh tidak mudah. Ketika waktu telah berjalan cukup lama dan dinamika budaya bergeser, namun tidak berlebihan bila karakteristik suatu kaum dapat diraba dengan kaum yang tertinggal saat ini, meskipun tentu ada distorsi disana sini. Melihat watak-wataknya, karakteristiknya, atau fisiknya, barangkali, sekali lagi barangkali Brewirabumi akan mirip seperti pemuda Banyuwangi saat ini yaitu memiliki wajah dengan karakter keras, kumis lebat dan mata bersinar, dan tentu cerdas dan tegas.

Karakter kepemimpinan tegas dan lugas Brewirabumi ini sepertinya terbawa hingga ke Sacheon Korea. Meskipun dalam hal-hal tertentu nampak muncul seperti karakter pemberontak, padahal sama sekali tidak. Semua itu dilakukan Brewirabumi karena membela hak yang mestinya dia dapatkan. Bahkan ditimbang dengan seksama, apa yang dilakukan di Sacheon ini semata mata memperjuangkan hak rakyatnya, hak warganya atas segala apa yang sudah dijanjikan. Dan semua ini adalah amanah yang melekat di pundaknya. Bahwa sebenarnya memang ada kepentingan dia juga, maka itu sungguh tidak nampak dalam pidatonya saat diberi kesempatan menyampaikan uneg-unegnya dalam suatu kesempatan.
Sebut saja urusan HP. Tidak terbantahkan bahwa dalam penugasan ke Korea ini perusahaan merasa perlu untuk membuat perjanjian dengan karyawannya sendiri demi agar dapat dipegang komitmentnya. Dan untuk itu perusahaan juga berjanji akan memberikan beberapa fasilitas demi kelancaran pelaksanaan tugas, salah satunya adalah HP.  Dikarenakan satu dan lain hal ternyata eksekusi masalah HP ini tidak sesuai seperti yang diharapkan. Karena ini akan berdampak pada kesejahteraan rakyatnya maka dalam forum dewan perwakilan rakyat di Sacheon ini, engineer yang memiliki jiwa, ruh dan semangat Brewirabumi ini seperti mendapat kesempatan untuk memperjuangkan kepentingan warganya sekaligus meneguhkan ke Brewirabumi annya. Dalam forum perwakilan yang terhormat itu, pihak managemen telah mencoba menjelaskan situasi dan berbagai alternatif solusinya, namun sepertinya tidak cocok dengan harapan. Ruh Bewirabumi yang melekat pada perwakilan Apartemen Modern House ini seakan bangkit, berargumentasi panjang lebar, jelas dan tegas menyampaikan yang intinya adalah mohon warga diijinkan untuk tidak mengambil hak atas HP itu karena berdampak pada kewajiban iuran atas pemakaian HP itu. Bahkan diyakinkan oleh dia bahwa kalau warga tidak mengambil hak atas HP itu akan membantu mengurangi pengeluaran perusahaan.  

Namun tidak demikian logika managemen. Anggaran yang sudah direncanakan harus dibelanjakan sesuai dengan rencana, bahwa akhirnya kurang maka perlu dicari sulusinya dengan tetap berpedoman pada kuantitas dan kualitas yang disebutkan dalam surat keputusan perusahaan. Alasan lainnya adalah karena ini menyangkut faktor keamanan yang harus dipenuhi oleh setiap karyawan yang masuk di KAI dimana untuk itu memerlukan HP dengan spesifikasi yang dapat diinstall software pengatur keamanan (MDM). Penjelasan manageman ini tidak cukup dapat melunakkan hati engineer titisan Minak Jinggo ini.
“Coba dibayangkan, saya sudah punya 3 buah HP meskipun second tapi ini sudah memenuhi syarat untuk dapat di install MDM karena saya belinya juga di Korea. Masak saya harus punya 4 buah?”, begitu dia memulai argumennya.

“Dan lagian kalau iuran bulanan untuk pulsanya segitu, itu kalau dihitung-hitung dalam setahun sudah bisa tuk beli HP baru”
“Lha ini gimana, sudah iuranannya segitu, eeee...Hpnya gak bis dimiliki. Capek deh....”
Argumen wakil Apartemen Modern House ini sebenarnya masuk akal dan jelas, sejelas seperti Minak Jinggo menuntut janji Ratu Suhita (Kencono Wungu), tetapi tetap saja managemen memohon dengan sangat pengertian seluruh warga demi kelangsungan program yang masih akan lama berjalan. Mendengarkan penjelasan ini dia hanya bergumam,

“Wong ide ini untuk mengurangi beban perusahaan kok malah ditolak...”
Perdebatan masalah HP ini terus saling bersahut dan memang hati titisan Minak Jinggo ini tidak gampang luruh. Dalam situasi setengah deadlock itu munculah ide triki tingkat tinggi, barangkali seperti trik diplomasi Damarwulan ketika mengalahkan dan mematahkan perlawanan Brewirabumi ini terhadap Majapahit. Tiba-tiba salah seorang yang hadir angkat tangan untuk urun bicara,
“Bapak-bapak, kalau kita perhatikan dengan sungguh-sungguh, sebenarnya argumen dari rekan perwakilan Apartemen Modern House ini sungguh baik dan perlu dipertimbangkan. Karena sungguh mulia niatan warga Apartemen Modern House untuk membantu meringankan beban perusahaan”

Sesaat wakil Apartemen Modern House ini sumringah karena mendapat sokongan pendapat yang sesuai dengan usulannya.
“Bahwa wakil Apartemen Modern House mengusulkan untuk tidak mengambil hak atas HP yang disediakan perusahaan, saya kira itu bisa dibenarkan dan sebaiknya dipenuhi saja. Toh hanya itu yang dituntutnya kan?. Dengan demikian dia bahagia, karena harapannya dipenuhi”.

Semua terdiam sambil melirik respon bapak managemen atas sokongan pendapat ini. Sebelum akhir, argumen ini dipertegas lagi.
“Jadi menurut saya, penuhi saja usulannya, biarkan HP untuk beliau tidak diambil kalau memang beliau nggak mau ambil ........”

Seakan semua diam karena mencoba menebak apa akhir kalimatnya.
“Hanya,......... kalau iurannya ya tetep harus dibayar”
“Kan beliau hanya tidak ingin ambil HP nya tho?.” 
“Gimana bapak-bapak, semua setuju kan ?”
Sontak semua tertawa tanda setuju, kecuali satu orang terdiam karena sepertinya ruh Brewirabumi yang sudah pergi entah kemana. 

Sacheon, 18 Januari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar